Anda di halaman 1dari 19

1

Santosa, Mislaini R., dan Fadlan Ari Sandy. 2011. Perencanaan Optimasi Keuntungan pada Pengeringan Kakao (Theobroma cocoa L.) di P.T. Inang Sari. Makalah Disampaikan pada Seminar Nasional PERTETA 2011 di Jember, pada tanggal 21-22 Juli 2011(Prosiding SEMINAR NASIONAL PERTETA 2011, Jember, 21-22 Juli 2011, hal. 957-970). Perencanaan Optimasi Keuntungan pada Pengeringan Kakao (Theobroma cocoa L.) di P.T. Inang Sari (Optimization of Profit in Dried Cacao (Theobroma cocoa L.) in P.T. Inang Sari) Santosa1), Mislaini R.1), dan Fadlan Ari Sandy2) 1) Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Telp. / Fax. 0751-777413 , Kampus Limau Manis, Padang 25163 e-mail : santosa764@yahoo.co.id 2) Laboratorium Komputer, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang ABSTRACT Research was conducted at the Laboratory of Computer in Agricultural Engineering department, Faculty of Agricultural Technology Faculty, Andalas University in August to September 2008. This study aims to provide planning information on the use of cocoa dryers P.T. Inang Sari, namely: the para-para and mechanical dryers. Research using LINDO (Linear Interactife Discreate Optimizer). The result of running the LINDO program shows that the scenario of rising production costs 0%, 50%, and 100% without fulfilling the market demand on the variables X1, X2 and X3 have value except in January and February the variable X3 is 0 because they do not have the resources. In the scenario of rising production costs 0%, 50%, and 100% to meet market demand in the variables X1 and X6 has a value while the other variable is 0. This is because the resources are owned by the company have been used up. Loft has a large capacity and relatively low cost of goods when compared with the mechanical. But the constraints that are owned by the more-than by using mechanical. Utilization LINDO package will assist in making decisions in the process of drying cocoa. Appropriate decision-making will provide a greater benefit. Key words: optimization, drying, cocoa

19

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Komputer Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas pada bulan Agustus sampai dengan September 2008. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi perencanaan pemakaian alat pengering kakao di P.T. Inang Sari, yaitu : para-para dan pengering mekanis. Penelitian menggunakan program LINDO (Linear Interactife Discreate Optimizer). Hasil running program LINDO menunjukkan bahwa skenario biaya produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar pada variabel X1, X2 dan X3 memiliki nilai kecuali pada Bulan Januari dan Februari variabel X3 bernilai 0 karena tidak memiliki sumberdaya. Pada skenario biaya produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar pada variabel X1 dan X6 memiliki nilai sedangkan variabel lain bernilai 0. Hal tersebut disebabkan karena sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan telah habis terpakai. Para-para memiliki kapasitas yang besar dan biaya pokok yang relative rendah jika dibanding dengan mekanis. Namun kendala yang dimiliki para-para lebih banyak dibanding dengan menggunakan mekanis. Pemanfaatan paket LINDO akan membantu dalam pengambilan keputusan pada proses pengeringan kakao. Pengambilan keputusan yang tepat akan memberikan keuntungan yang lebih besar. Kata kunci : Optimasi, pengeringan, kakao

PENDAHULUAN Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman

19

perkebunan untuk komoditi ekspor non-migas. Produk utama tanaman ini berupa biji yang dapat dijadikan sebagai bahan baku industri. Sebagian besar kakao dihasilkan oleh perkebunan rakyat, namun ada juga yang dengan skala besar, seperti perkebunan. Untuk meningkatkan mutu dan citarasa biji kakao, faktor yang paling dominan adalah fermentasi yang sempurna dan tingkat kadar air biji kakao. Secara umum pengeringan biji kakao dilakukan dengan cara sederhana, yaitu menjemur langsung di bawah sinar matahari seperti di atas para-para yang telah dialas tikar atau jaring. Keadaan ini disebabkan produksi yang rendah. Namun jika produksi tinggi tentu akan banyak kakao yang dihasilkan, sementara itu peningkatan produksi dan perbaikan mutu kakao mutlak diperlukan. Sebagian besar industri pengolahan hasil pertanian memiliki masalah dalam manajemen produksi dan operasi.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat diterapkan manajemen produksi dan operasi. Dengan diterapkannya manajemen maka dapat diatur dan dikoordinir terutama dalam hal penggunaan sumberdaya, seperti sumberdaya manusia, alat, waktu, dan dana secara efektif dan efisien untuk meningkatkan keuntungan. P.T. Inang Sari merupakan perkebunan swasta yang memproduksi kakao. Perusahaan ini memiliki dua alat pengering, yaitu : para-para menggunakan sinar matahari dan mekanis menggunakan bahan bakar. Kedua alat pengering tersebut memiliki biaya operasional yang berbeda. Perbedaan biaya operasional membuat pihak manajeman kesulitan dalam mengambil keputusan, sementara kakao yang telah mengalami proses fermentasi harus segera dikeringkan. Hal tersebut memaksa pihak manajemen menggunakan dua alat pengering sekaligus. Berkaitan dengan hal di atas, maka dilakukan penelitian yang membahas mengenai perencanaan keuntungan produksi pada pengeringan kakao di P.T. Inang Sari. Dalam penyelesaiaan masalah dapat dilakukan dengan mengaplikasikan program linear (linear progamming). Kakao yang dihasilkan berupa kakao mutu A, mutu B, dan mutu C. P.T. Inang Sari belum melakukan perencanaan dalam menentukan pemakaian alat pengering. Penggunaan alat pengering dilakukan berdasarkan keputusan pimpinan. Selain itu ada juga faktor yang paling berpengaruh yaitu daya tampung alat pengering dan batas waktu pengeringan untuk dapat mengeringkan kakao kembali yang telah difermentasi. Dalam setiap usaha, khususnya P.T. Inang Sari mempunyai tujuan untuk memperoleh keuntungan yang maksimum dengan modal yang minimum. Oleh sebab itu P.T. Inang Sari perlu melakukan perencanaan produksi yang baik. Penyelesaikan masalah perencanaan pemakaiaan alat pengering dapat digunakan alat analisis yaitu program linear dengan memanfaatkan paket LINDO (Linear Interactife Discreate Optimizer). Penelitiaan ini bertujuan untuk merencanakan keuntungan maksimum dengan memperhatikan hasil panen kakao, permintaan pasar, dan sumberdaya yang ada dalam memprediksi pemakaian alat pengering.

19

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang memproduksi kakao yaitu P.T. Inang Sari, terletak di Desa Padang Mardani Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam pada Bulan April sampai dengan Mei 2008. Data yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari pengamatan dan wawancara langsung dengan pimpinan dan pekerja untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, sedangkan data skunder diperoleh dari pembukuan P.T. Inang Sari. Penyusunan Model Fungsi Tujuan Fungsi tujuan dalam penelitian adalah untuk menentukan kombinasi alat pengering kakao di P.T. Inang Sari yang dapat memaksimumkan keuntungan produksi pada penggunaan alat pengeringan kakao. Penyusunan model dilakukan dalam 6 tahapan, yaitu : (a) Penyusunan model dengan biaya produksi naik 0 % dan tanpa memenuhi permintaan pasar, (b) penyusunan model dengan biaya produksi naik 50 % dan tanpa memenuhi permintaan pasar, (c) penyusunan model dengan biaya produksi naik 100 % dan tanpa memenuhi permintaan pasar, (d) penyusunan model dengan biaya produksi naik 0 % dan dengan memenuhi permintaan pasar, (e) penyusunan model dengan biaya produksi naik 50 % dan dengan memenuhi permintaan pasar, dan (f) penyusunan model dengan biaya produksi naik 100 % dan dengan memenuhi permintaan pasar. Fungsi tujuan : Memaksimumkan: Z = c1x1+c2x2+c3x3+c4x4+ c5x5+c6x6 ......(1) dengan : Z = keuntungan pengeringan kakao yang akan dimaksimumkan (Rp/bulan) c1 = keuntungan kakao mutu A hasil pengeringan pada para-para (Rp/ton) x1 = jumlah kakao mutu A yang dikeringkan dengan para-para (ton/ bulan) c2 = keuntungan kakao mutu B hasil pengeringan pada para-para (Rp/ton) x2 = jumlah kakao mutu B yang dikeringkan dengan para-para (ton/ bulan)

19

= keuntungan kakao mutu C hasil pengeringan pada para-para (Rp/ton) x3 = jumlah kakao mutu C yang dikeringkan dengan para-para (ton/ bulan) c4 = keuntungan kakao mutu A hasil pengeringan mekanis bahan bakar solar (Rp/ton) x4 = jumlah kakao mutu A yang dikeringkan dengan pengering mekanis bahan bakar solar (ton/ bulan) c5 = keuntungan kakao mutu B hasil pengeringan mekanis bahan bakar solar (Rp/ton) x5 = jumlah kakao mutu B yang dikeringkan dengan pengering mekanis bahan bakar solar (ton/ bulan) c6 = keuntungan kakao mutu C hasil pengeringan mekanis bahan bakar solar (Rp/ton) x6 = jumlah kakao mutu C yang dikeringkan dengan pengering mekanis bahan bakar solar (ton/ bulan) Keuntungan penjualan diperoleh dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : c = Hj Bp ..............................................................................................(2) dengan : c = keuntungan penjualan kakao kering (rupiah per ton) Hj = harga jual kakao kering (rupiah per ton) Bp = biaya pokok pengeringan kakao (rupiah per ton) Nilai x1, x2, x3, x4, x5, dan x6 adalah massa kakao kering, sehingga untuk memperoleh nilainya dengan persamaan sebagai berikut :

c3

= b ......(3)
19
dengan : = rendemen pengeringan kakao = massa kakao kering (ton) b = massa kakao basah sebelum dikeringkan (ton) Fungsi Kendala Fungsi kendala yang diperhitungkan adalah (a) Kendala ketersediaan modal, (b) Kendala jam kerja produksi, (c) Kendala proses pengeringan kakao, (d) Kendala daya tampung pengeringan, (e) Kendala tenaga kerja, dan (f) Kendala bahan baku. a. Kendala Ketersediaan Modal Biaya yang ditanggung oleh P.T. Inang Sari adalah input produksi masingmasing jenis mutu kakao. Biaya tersebut adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya penyusutan alat, biaya bahan bakar, dan biaya pajak. Fungsi kendala modal usaha dirumuskan sebagai berikut :

m1x1+m2x2+m3x3+m 4x4+m5x5+m6x6 M ......(4) dengan : M = ketersediaan modal pengeringan (rupiah per bulan) m1 = biaya pokok pengeringan kakao mutu A dengan para-para (rupiah/ton) m2 = biaya pokok pengeringnan kakao mutu B dengan para-para (rupiah/ton) m3 = biaya pokok pengeringan kakao mutu C dengan para-para (rupiah/ton) m4 = biaya pokok pengeringan kakao mutu A dengan pengering mekanis bahan bakar solar (rupiah/ton) m5 = biaya pokok pengeringan kakao mutu B dengan pengering mekanis bahan bakar solar (rupiah/ton) m6 = biaya pokok pengeringan kakao mutu C dengan pengering mekanis bahan bakar solar (rupiah/ton) Biaya pokok pengeringan didapat dengan rumus : B T +B T T jp t B = P K p ......................................................................(5)

dengan : BP = biaya pengeringan (rupiah per ton) BT = biaya tetap (rupiah per tahun) BTT = biaya tidak tetap (rupiah per jam) jpt = jam kerja (jam per tahun) Kp = x .....................................................................................................(6) t

dengan : Kp = kapasitas pengeringan (ton per jam) x = massa kakao hasil pengeringan (ton) t = lama pengeringan (jam) i. Biaya Tetap Biaya tetap pada kedua alat pengering yaitu para-para dan mekanis meliputi penyusutan dan bunga modal. Penyusutan alat pengering dapat dihitung menggunakan metode garis lurus (straight line method) dengan persamaan sebagai berikut : D= PS ................................................................................................(7) N

19

dengan : D = penyusutan alat pengering (rupiah per tahun) P = biaya awal alat pengering (rupiah) S = nilai akhir alat pengering (rupiah)

= umur ekonomis alat pengering (tahun)

Biaya Bunga Modal Biaya bunga modal dihitung dengan persamaan sebagai berikut : I = i ( P + S ) ....................................................................................(8) 2

dengan : I = biaya bunga modal (rupiah per tahun) i = suku bunga bank (% per tahun) P = biaya awal alat pengering (rupiah) S = nilai akhir alat pengering (rupiah) ii. Biaya Tidak Tetap Biaya tidak tetap meliputi biaya pemeliharaan, biaya operator, biaya bahan bakar, dan biaya listrik. Biaya pemeliharaan diperoleh dengan rumus : Q = 2% ( P S ) ..........................................................................(9) 100

dengan : Q = biaya pemeliharaan (rupiah per jam) Biaya operator diperoleh dengan rumus : L= Wo p ................................................................................................(10) Wp

dengan : L = biaya operator (rupiah per jam) Wop = upah operator setiap hari (rupiah per hari) Wp = jam kerja opertor setiap hari (jam per hari) Biaya listrik untuk memutar blower dan Patner. Listrik yang digunakan untuk memutar blower dan patner adalah listrik milik PLN. Biaya listrik dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : F = P K ........................................................................................(11) dengan : F = keperluan listrik untuk memutar dinamo (rupiah per jam) P = daya listrik (kW) K = harga listrik (Rupiah per kW jam) Biaya solar untuk alat pengering mekanis. Biaya bahan bakar diperoleh dengan mengalikan volume bahan bakar yang terpakai setiap jam dengan harga bahan bakar yang berlaku.

19

O =V h ..........................................................................................(12)

dengan : O = biaya solar (rupiah per jam) V = volume solar yang terpakai selama proses pengeringan (liter per jam) h = harga solar yang berlaku (rupiah per liter) Pada alat pengeringan para-para, BTT (Biaya Tidak Tetap) meliputi biaya pemeliharaan dan biaya operator saja. b. Kendala Jam Kerja Produksi Koefisien ruas kiri merupakan jam tenaga kerja yang dibutuhkan untuk peroses pengeringan kakao ketika dalam proses pengeringan setiap harinya dengan satuan jam per hari. Nilai ruas kanan (T) merupakan jumlah jam operator yang tersedia setiap bulan dikalikan dengan jumlah operator alat pengering di P.T. Inang Sari. Jam operator t adalah kebutuhan jam kerja untuk proses pengeringan. Perumusan kendala jam tenaga kerja adalah : t1x1+ t2x2+ t3x3 T1 ...............................................................................(13) t4x4+ t5x5+ t6x6 T2 ...............................................................................(14) dengan : T1 = ketersediaan waktu pengeringan dengan para-para (jam/bulan) T2 = ketersediaan waktu pengering mekanis bahan bakar solar (jam/bulan) t1 = jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu A dengan para-para (jam/ton) t2 = jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu B dengan para-para (jam/ton) t3 = jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu C dengan para-para (jam/ton) t4 = jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu A dengan pengering mekanis bahan bakar solar (jam/ton) t5 = jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu B dengan pengering mekanis bahan bakar solar (jam/ton) t6 = jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu C dengan pengering mekanis bahan bakar solar (jam/ton) Nilai t1, t2, t3, t4, t5, dan t6 didapat dari persamaan sebagai berikut : g= 1 ...................................................................................................(15) Kp

19

dengan : g = lama pengeringan (jam per ton) Kp = kapasitas pengeringan (ton per jam) Nilai T1, T2, dan T3 didapat dari persamaan sebagai berikut :

T = t Op H .......................................................................................(16) dengan : T = waktu yang tersedia dalam satu bulan (jam per bulan) t = waktu operator dalam sehari (jam per hari per orang) Op = jumlah operator (orang) H c. = jumlah hari kerja dalam sebulan (hari per bulan) Kendala Proses Pengeringan Kakao Dalam proses pengeringan dengan para-para diperlukan panas matahari. Bila panas matahari tidak ada maka proses pengeringan tidak dapat dilakukan. Perumusan fungsi kendalanya adalah : h1x1+ h2x2+ h3x3 H ...............................................................................(17) dengan : H = waktu yang tersedia dalam proses pengeringan (hari/bulan) h1 = waktu yang diperlukan untuk pengeringan kakao mutu A (hari/ton) h2 = waktu yang diperlukan untuk pengeringan kakao mutu B (hari/ ton) h3 = waktu yang diperlukan untuk pengeringan kakao mutu C (hari/ ton) d. Kendala Daya Tampung Pengeringan Kendala daya tampung pengeringan dapat dituliskan sebagai berikut : d1x1+ d2x2+ d3x3 D1 ....(18) d4x4+ d5x5+ d6 x6 D2 ...(19) dengan : D1 = daya tampung para-para (m2/bulan) D2 = daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar (m3/bulan) d1 = daya tampung para-para untuk mengeringkan kakao mutu A (m2 /ton) d2 = daya tampung para-para untuk mengeringkan kakao mutu B (m2 /ton) d3 = daya tampung para-para untuk mengeringkan kakao mutu C (m2 /ton) d4= daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar untuk mengeringkan kakao mutu A (m3/ton) d5= daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar untuk mengeringkan kakao mutu B (m3/ton) d6 = daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar untuk mengeringkan kakao mutu C (m3/ton) Nilai d dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Para-para
m d = .....................................................................................(20) L l

19

dengan : d = daya tampung para-para (kg) m = massa kakao (kg) l = luas para-para (1 m2)

10

= luas para-para keseluruhan (m2)

Pengering mekanis
m d = ....................................................................................(21) V v

dengan : d m v V e.

= daya tampung pengering mekanis (kg) = massa kakao (kg) = volume pengering mekanis (m3) = volume pengering mekanis keseluruhan (m3)

Kendala Tenaga Kerja Perumusan kendala dari tenaga kerja adalah sebagai berikut : k1(x1+x2+ x3) + k2(x4+x5+x6) K ..............................................................(22) dengan : K = jumlah tenaga kerja yang tersedia dalam satu alat pengering (orang/bulan) k1 = jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada para-para (orang/ton) k2 = jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada pengering mekanis bahan bakar solar (orang/ton) Kendala Bahan Baku Kendala ketersediaan bahan baku dapat dituliskan sebagai berikut : x1+x2+ x3 + x4+x5+x6 BB .....................................................................(23) dengan : BB = Bahan baku Nilai x1, x2, x3, x4, x5, dan x6 diperoleh dari hasil panen kebun kakao.

f.

19

g.

Break Event Point (BEP) Titik impas atau BEP merupakan suatu usaha dalam keadaan impas atau

balik modal. Analisis BEP digunakan untuk menentukan pada tingkat produksi berapa penggunaan alat bisa menguntungkan. Nilai BEP dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : . (24)

dengan : BEP = Break Event Point (kg per tahun) BT = Biaya Tetap (rupiah per tahun) BTT = Biaya Tidak Tetap (rupiah per jam) Kp = Kapasitas (ton per jam)

11

Analisis Data Data-data yang diperoleh berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Pengolahan data kualitatif disajikan dalam bentuk uraian untuk menggambarkan keadaan perusahaan, sarana, dan proses pengeringan, sedangkan data kuantitatif yang diperoleh diolah, diedit, dan ditabulasikan. Analisis Dual Analisis dual dilakukan untuk mengetahui penilaian terhadap sumberdaya yang ada dan menilai keputusan sumberdaya mana yang masih memungkinkan perusahaan untuk melakukan pembelian. Nilai dual menunjukkan perubahan satu satuan. Sumberdaya yang berlebih dan berkurang dapat dilihat berdasarkan nilai slack atau surplus. Nilai dual dapat dilihat berdasarkan harga bayangan atau shadow price. Analisis Sensitifitas Analisis sensitifitas diperlukan untuk mengetahui perubahan parameter program linear terhadap pemecahan yang optimum. Perubahan ini dapat terjadi karena perubahan nilai sebelah kanan model, penambahan fungsi kendala, dan adanya tambahan variabel keputusan. Analisis sensitifitas bertujuan untuk mempelajari pengaruh perubahan parameter model linear terhadap pemecahan optimum dan untuk memperoleh dan untuk memperoleh infomasi tentang pemecahan optimum yang baru dan yang memungkinkan sesuai dengan perhitungan tambahan yang minimal (Taha, 1980). Analisis Pascaoptimal Analisis pascaoptimal diperlukan untuk mengetahui sejauh mana jawaban optimal dapat diterapkan apabila terjadi perubahan parameter yang membangun model. Perubahan tersebut dapat terjadi karena perubahan koefisien fungsi tujuan dan perubahan koefisien fungsi kendala. Perubahan nilai sebelah kanan model, serta adanya tambahan variabel keputusan. Tujuan ini berguna untuk memperoleh informasi mengenai pemecahan optimum baru yang memungkinkan yang sesuai dengan parameter perhitungan tambahan yang minimal (Siswanto, 2007).

19

12

Masalah khusus dalam penyelesaian suatu program linear adalah (1) solusi optimal alternatif, terdapat lebih dari satu solusi yang memberikan nilai optimal pada fungsi tujuan, (2) ketidaklayakan, terjadi jika tidak terdapat solusi untuk masalah pemrograman linear yang memenuhi semua kendala, termasuk kendala non negatif, dan (3) ketidakterbatasan, berapapun nilai solusinya tidak akan melanggar salah satu kendala dan fungsi tujuannya dapat meningkat atau menurun secara tidak terbatas (Soekartawi, 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN Sekenario Model Perumusan Fungsi Tujuan Fungsi tujuan dapat dirumuskan sebagai berikut : Memaksimumkan : Z =23.973.024,6x1+17.973.024,6x2+14.973.024,6x3+23.853.782,94x4+17.853.782,94x5
+14.857.782,94x6 ..(25)

Perumusan Fungsi Kendala Kendala dalam program linier meliputi : (a) Kendala ketersediaan modal, (b) Kendala jam kerja produksi, (c) Kendala proses pengeringan kakao, (d) Kendala daya tampung pengeringan, dan (e) Kendala tenaga kerja. Kendala Ketersediaan Modal Fungsi kendala modal usaha dapat dirumuskan sebagai berikut :
M =26.975,408x1+26.975,408x2+26.975,408x3+146.217,065x4+146.217,065x5
+146.217,06x6 .....(26) Kendala jam kerja produksi

19

Fungsi kendala jam kerja produksi dapat dirumuskan sebagai berikut :


0,208x1+0,208x2+0,208x3 <= 1.050 jam/bulan ...(27) 0,643x4+ 0,643x5+0,643x6 <= 420 jam/bulan ......(28)

Kendala proses pengeringan kakao Lama penyinaran matahari menurut Badan Metorologi dan Geofisika dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Lama Penyinaran Matahari per Bulan Lama Penyinaran Lama Penyinaran Matahari Bulan Matahari (%/bulan) (Hari/bulan)

13

Januari 51,00 Februari 53,00 Maret 26,00 April 35,00 Mei 54,00 Juni 62,00 Juli 69,00 Agustus 50,00 September 11,00 Oktober 8,10 November 33,00 Desember 42,30 Sumber : Badan Met. dan Geof. Sicincin (2007)

15,3 15,9 7,8 10,5 16,2 18,6 20,7 15 3,3 2,43 9,9 12,69

Peroses pengeringan dilakukan selama 7 hari maka, fungsi kendala proses pengeringan kakao dengan para-para dapat dirumuskan sebagai berikut : 1,4594 x1+1,4594 x2+1,4594 x3<=H .(29) Kendala daya tampung pengering Daya tampung para-para secara keseluruhan adalah sedangkan volume bak persamaan dapat ditulis :
174,3x1+ 174,3x2+ 174,3x3 3.583,26 m2/ bulan

8.360.950 cm2,

pengering mekanis adalah 15.217.125 cm3 maka, ..(30) ....(31)

1,2681 x4+ 1,2681 x5+ 1,2681 x6 202,90 m3/ bulan

19

Kendala tenaga kerja Operator untuk para-para 5 orang per bulan dan untuk pengering mekanis adalah 2 orang, maka fungsi kendalanya dapat dituliskan sebagai berikut : 0,2432x1+0,2432x2+ 0,2432x3 5 orang/bulan ........................................(32) 0,012 x4+0,012 x5+0,012 x6 2 orang/bulan ............................................(33) Kendala Ketersediaan Bahan Baku Rumus fungsi kendala untuk ketersediaan bahan baku adalah : x1 <=2,647 .(34) x2<=6,135 ..(35) x3<=0 .(36)

14

Perencanaan Pemakaiaan Pengering Mekanis Data hujan dapat memberikan informasi dalam pengambilan keputusan pemakaiaan alat pengering mekanis. Berdasarkan Tabel 2 dapat dianalisis banyak hari kemungkinan alat pengering mekanis digunakan. Tabel 2. Data Hujan (hari) per Bulan Tahun Rata2005* 2006* 2007* Bulan rata Januari 10 7 12 9.7 Februari 2 6 6 4.7 Maret 9 9 10 9.3 April 6 6 10 7.3 Mei 6 2 5 4.3 Juni 3 5 4 4 Juli 8 5 13 8.7 Agustus 10 5 4 6.3 September 10 9 10 9.7 Oktober 12 5 13 10 November 7 8 5 6.7 Desember 7 17 15 13 * ) hari per bulan Sumber : Badan Met. dan Geof. Sicincin (2008) Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa pemakaiaan alat pengering mekanis dapat digunakan sebanyak hari dalam sebulan dikurang dengan rata-rata jumlah hari hujan yang tertera pada Tabel 2. Titik Impas (BEP, Break Event Point) Titik Impas Para-Para Titik Impas (BEP, Break Event Point) diperlukan untuk memberikan informasi penggunaan alat pengering dalam ton per tahun agar menemui titik infas dalam penggunaannya. Hasil perhitungan para-para adalah 2,458 ton per tahun dan mekanis adalah 19,443 ton per tahun.

19

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

15

a. Januari Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 17.372.110. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 17.360.260. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 17.348.420., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A dan Mutu B dengan para-para. b. Februari Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 7.333.381. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 7.328.327. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 7.323.363., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A dan Mutu B dengan para-para. c. Maret Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.026.420. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.021.884. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.017.290., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. d. April

19

16

Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 7.638.900. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 7.633.350. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 7.627.800., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. e. Mei Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.014.590. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.015.572. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.011.164., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. f. Juni Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 2.860.589. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 2.858.533. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 2.856.478., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. g. Juli Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 3.476.092. Untuk

19

17

kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 3.473.838. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 3.471.585., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. h. Agustus Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 27.638.220. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 27.621.930. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 27.605.640., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A dan Mutu B dengan para-para. i. September Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 58.344.600. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 58.294.570. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 58.244.900., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. j. Oktober Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 59.912.530. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 59.820.840. Untuk kenaikan

19

18

biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 59.729.520., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. k. November Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 67.929.040. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 63.095.900. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 63.057.370., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. l. Desember Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 38.862.520. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 38.836.680. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 38.810.840., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para. Saran 1. Bila inngin melakukan penelitian optimasi keuntungan produksi, disarankan agar lebih teliti lagi dalam menentukan kendala atau batasan dalam suatu kegiatan karena sangat berpengaruh pada hasil optimal yang diperoleh. 2. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan berbagai sekenario atau asumsi untuk memberikan alternatif pilihan bagi usaha ini.

19

19

DAFTAR PUSTAKA Dimyati, T.T. dan Dimyati, A. 1999. Operation Research. Model-Model Pengambilan Keputusan. Penerbit P.T. Sinar Baru Algensindo. Bandung. Herjanto, E. 1999. Manajemen Operasi dan Produksi. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta. Hendrawan, Dudi S. 2001. Aplikasi Komputer, LINDO. Magister Manajemen Agribisnis IPB. Bogor. Mulyono, S. 1999. Operation Reasearch. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Nofalia, W. 2006. Perencanaan Produksi Optimal Pembuatan Makanan Tradisional (Studi Kasus pada Unit Usaha Pusako Minang, Payalumbuh). [Skripsi]. Padang. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang. Hiller, R.S. dan Liberman, G.J. 2005. Introduction to Operation Research. Library of Congres Cataloging-in-Publication Data. USA. Soekarwati. 1995. Linear Progamming. Teori dan Aplikasinya, Khususnya dalam Bidang Pertanian. Rajawali Perss. Jakarta. Siswanto. 1990. LINDO. Ed. Pertama. Penerbit P.T. Elex Media Komputindo. Jakarta. Taha, H.A. 1980. Operation Research. MacMillan Publishing Co., Inc., New York.

19