Anda di halaman 1dari 4

Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk melatih mahasiswa melakukan persilangan dan penyerbukan sendiri.

Bahan dan Metode Alat persilangan

1. Seperangkat alat kastrasi yang terdiri dari gunting, pinset, label, alat tulis, keertas, dan benang 2. Kantong kertas (sungkup) Bahan tanaman

1. Cabai varietas Titi Super 2. Cabai genotip F8009019-3-1 Secara umum, tahapan hibridisasi adalah persiapan, kastrasi, emaskulasi atau pengibirian, isolasi, pengumpulan serbuk sari, pollenisasi (penyerbukan), dan labelisasi (pelabelan). Pada teknik hibridisasi buatan hal pertama yang dilakukan adalah pemilihan tetua. Pemilihan tetua tergantung pada karakter apa yang dibutuhkan oleh pemulia tanaman. Pemilihan karakter kualitatif jauh lebih mudah dibandingkan dengan karakter kuantitatif, karena perbedaan fenotip belum tentu disebabkan oleh genotip yang berbeda. Emaskulasi merupakan langkah kedua setelah pemilihan tetua. Emaskulasi adalah pembuangan alat kelamin jantan pada tetua yang ditujukan sebagai tetua betina. Emaskulasi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu; secara mekanis, fisika, dan kimia. Pada praktikum kali ini emaskulasi dilakukan secara mekanis. Penyungkupan dan pelabelan dilakukan setelah emaskulasi selesai dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari penyerbukan yang tidak diinginkan dan untuk menghindari kesalahan. Setelah emaskulasi selesai, dilanjutkan dengan kegiatan penyerbukan. Penyerbukan dilakukan tergantung kepada serbuksari matang dan kepala putik reseptif. Waktu yang diperlukan untuk emaskulasi sampai penyerbukan cukup bervariasi pada beberapa jenis tanaman (Nasir, 2001).

Tahapan hibridisasi cabai adalah sebagai berikut: 1. Memilih bunga yang digunakan sebagai tetua betina dan tetua jantan 2. Melakukan proses kastrasi bunga betina ketika serbuk sari belum tersebar , tanpa merusak putiknya dengan menggunakan pinset . Saat kastrasi terbaik adalah ketika bunga menjelang mekar. Kastrasi adalah membersihkan bagian tanaman yang ada di sekitar bunga yang akan diemaskulasi dari kotoran, serangga, dan kuncup-kuncup bunga yang tidak dipakai. Termasuk juga dalam kegiatan kastrasi adalah membunga mahkota dan kelopak bunga. 3. Mengambil tepung sari dari bunga jantan dengan menggunakan pinset. 4. Menyerbuki kepala putik bunga betina dengan cara mengoleskan serbuk sari secara merata ke seluruh permukaan kepala putik. Pada hibridisasi padi, serbuk sari diperoleh dengan cara menepuk-nepukan malai tetua jantan yang serbuk sarinya sudah masak ke arah malai tetua betina yang telah dikastrasi sebelumnya agar serbuk sari dari tetua jantan jatuh ke kepala putik tetua betina. 5. Memberi label yang berisi tanggal, identitas tetua, dan nama penyerbuk.

Pembahasan Cabai merupakan salah satu jenis tanaman yang menyerbuk sendiri karena pollen berasal dari bunga yang sama atau bunga berbeda pada tanaman yang sama. Penyerbukan terjadi pada saat bunga masih menutup atau belum mekar. Menurut Nasir (2001), penyerbukan atau polinasi adalah menempelnya bulir serbuk sari yang berasal dari anther di kepala putik yang terdapat pada stigma. Penyerbukan meliputi pengangkutan pollen dan jatuhnya pollen di kepala putik . Polinasi terjadi setelah pollen mengalami anthesis. Sistem penyerbukan dipengaruhi oleh kelengkapan organ reproduksi pada status bunga. Sistem penyerbukan tanaman dikelompokkan menjadi sistem penyerbukan sendiri dan sistem penyerbukan silang. Umumnya penyerbukan terjadi karena bantuan angin dan serangga. Teknik persilangan cabai diawali dengan kastrasi pada bunga, yaitu membersihkan bagian tanaman yang ada di sekitar bunga yang akan diemaskulasi dari kotoran, serangga, dan kuncup-kuncup bunga yang tidak dipakai. Termasuk juga yang termasuk dalam kegiatan kastrasi adalah membuang mahkota dan kelopak bunga. Setelah itu diambil benang sari dari varietas atau genotipe lain dan dan diserbuki ke bunga betina. Setelah dilakukan kastrasi kemudian dilakukan proses emaskulasi. Emaskulasi adalah pembuangan alat kelamin jantan pada tetua betina sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Setelah emaskulasi selesai, dilanjutkan dengan kegiatan penyerbukan. Penyerbukan dilakukan tergantung kepada serbuk sari matang dan kepala putik reseptif. Waktu yang diperlukan untuk emaskulasi sampai penyerbukan cukup bervariasi pada beberapa jenis tanaman. Tanaman serealia seperti padi, penyerbukan harus selesai setelah satu sampai lima hari setelah emaskulasi (Nasir, 2001). Setelah dilakukan proses diatas, yang kemudian harus dilakukan adalah pengumpulan serbuk sari dan penyerbukan. Serbuk sari dari varietas atau

genotipe lain yang berperan sebagai tetua jantan diserbuki ke bunga betina. Penyungkupan dan pelabelan dilakukan setelah emaskulasi selesai dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari penyerbukan yang tidak diinginkan dan untuk

menghindari kesalahan (Nasir, 2001). Penyungkupan pada cabai dilakukan dengan menutup putik pada tetua betina dengan menggunakan isolasi. Setelah itu pada bunga yang sudah dilakukan penyerbukan diberikan label, pelabelan dilakukan dengan cara menggantungkan kertas/plastik label dengan benang. Kertas/plastik label terbuat bahan yang tidak mudah hancur, kemudian ditulisi nama tetua betina yang ditulis terlebih dahulu dan tetua jantan yang ditulis terakhir, tanggal penyilangan, dan nama penyilang. Alat tulis yang digunakan adalah spidol permanen agar tidak mudah terhapus. Pada praktikum ini genotipe tetua betina cabai yang digunakan adalah genotipe (F8009019-3-1), sedangkan tetua betina pada kacang panjang adalah varietas Titi Super. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan persilangan terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari tanamn itu sendiri, antara lain kesiapan putik untuk dibuahi dan kematangan serbuk sari untuk membuahi putik. Penyerbukan buatan sebaiknya dialakukan pada serbuk sari (pollen) sudah masak tetapi belem mati dan putik siap untuk dibuahi (resptif) . Faktor eksternal yang mempengaruhi penyerbukan antara lain cuaca yang cerah dan tidak adanya angin. Pada bunga yang penyerbukannya dibantu oleh angin maka kekuatan angin sangat menentukan keberhasilan penyerbukan. Angin yang bertiup terlalu kencang atau terlalu lambat dapat menyebabkan gagalnya penyerbukan. Demikian pula dengan arah angin. Keadaan cuaca juga mementukan keberhasilan penyerbukan. Pollen dapat mekar/anthesis dengan baik pada saat cuaca panas. Tingkat persentase keberhasilan diperoleh dari jumlah persilangan yang berhasil dibagi jumlah total persilangan yang dilakukan, dikali seratus persen. Pada praktikum ini, tingkat keberhasilan persilangan cabai yang diperoleh adalah 29,1% karena dari 24 jumlah total persilangan yang dilakukan hanya 7 bunga yang berkembang dengan baik. Rendahnya angka keberhasilan dari hasil percobaan persilangan yang telah dilakukan disebabkan oleh banyak hal misalnya tetua betina yang belum siap dibuahi,kurang melekatnya serbuk sari di kepala putik, terbawa angin, kertas label yang hilang karena tangkai patah.