Anda di halaman 1dari 63

Santosa, Mislaini R.

, dan Fadlan Ari Sandy Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas

PENDAHULUAN
Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) tanaman

perkebunan untuk komoditi ekspor non-migas Produk utama biji : bahan baku industri Faktor yang paling dominan : fermentasi kadar air biji kakao Pengeringan biji kakao : menjemur langsung di bawah sinar matahari seperti di atas para-para yang telah dialas tikar atau jaring

PENDAHULUAN
P.T. Inang Sari : perkebunan swasta yang

memproduksi kakao Dua alat pengering : para-para menggunakan sinar matahari mekanis menggunakan bahan bakar Kedua alat pengering tersebut memiliki biaya operasional yang berbeda Perlu dilakukan penelitian : perencanaan keuntungan produksi pada pengeringan kakao program linear (linear progamming)

METODOLOGI
Tempat dan Waktu
P.T. Inang Sari, terletak di Desa Padang Mardani

Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam pada Bulan April sampai dengan Mei 2008. Penyusunan Model Fungsi Tujuan Memaksimumkan: Z= c1x1+c2x2+c3x3+c4x4+ c5x5+c6x6 ......[1]

Z = keuntungan pengeringan kakao yang akan dimaksimumkan (Rp/bulan) c1 = keuntungan kakao mutu A hasil pengeringan pada para-para (Rp/ton) x1 = jumlah kakao mutu A yang dikeringkan dengan para-para (ton/ bulan) c2 = keuntungan kakao mutu B hasil pengeringan pada para-para (Rp/ton) x2 = jumlah kakao mutu B yang dikeringkan dengan para-para (ton/ bulan) c3 = keuntungan kakao mutu C hasil pengeringan pada para-para (Rp/ton) x3 = jumlah kakao mutu C yang dikeringkan dengan para-para (ton/ bulan)

c4

= keuntungan kakao mutu A hasil pengeringan mekanis bahan bakar solar (Rp/ton) x4 = jumlah kakao mutu A yang dikeringkan dengan pengering mekanis bahan bakar solar (ton/ bulan) c5 = keuntungan kakao mutu B hasil pengeringan mekanis bahan bakar solar (Rp/ton) x5 = jumlah kakao mutu B yang dikeringkan dengan pengering mekanis bahan bakar solar (ton/ bulan) c6 = keuntungan kakao mutu C hasil pengeringan mekanis bahan bakar solar (Rp/ton) x6 = jumlah kakao mutu C yang dikeringkan dengan pengering mekanis bahan bakar solar (ton/ bulan)

Keuntungan penjualan diperoleh dengan

menggunakan persamaan sebagai berikut : c= Hj - Bp................................................................[2] dengan : c = keuntungan penjualan kakao kering (rupiah per ton) Hj = harga jual kakao kering (rupiah per ton) Bp = biaya pokok pengeringan kakao (rupiah per ton)

Nilai x1, x2, x3, x4, x5, dan x6 adalah massa kakao kering,

sehingga untuk memperoleh nilainya dengan persamaan sebagai berikut : = . b ......[3] dengan : = rendemen pengeringan kakao = massa kakao kering (ton) = massa kakao basah sebelum dikeringkan (ton)

Fungsi Kendala
Fungsi kendala yang diperhitungkan adalah (a)

Kendala ketersediaan modal, (b) Kendala jam kerja produksi, (c) Kendala proses pengeringan kakao, (d) Kendala daya tampung pengeringan, (e) Kendala tenaga kerja, dan (f) Kendala bahan baku. Kendala Ketersediaan Modal Biaya yang ditanggung oleh P.T. Inang Sari adalah input produksi masing-masing jenis mutu kakao. Biaya tersebut adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya penyusutan alat, biaya bahan bakar, dan biaya pajak. Fungsi kendala modal usaha dirumuskan sebagai berikut :

m1x1+m2x2+m3x3+m 4x4+m5x5+m6x6 M ....[4] dengan : M=ketersediaan modal pengeringan (rupiah per bulan) m1 = biaya pokok pengeringan kakao mutu A dengan parapara (rupiah/ton) m2 biaya pokok pengeringnan kakao mutu B dengan parapara (rupiah/ton) m3= biaya pokok pengeringan kakao mut u C dengan parapara (rupiah/ton) m4= biaya pokok pengeringan kakao mutu A dengan pengering mekanis bahan bakar solar (rupiah/ton) m5=biaya pokok pengeringan kakao mutu B dengan pengering mekanis bahan bakar solar (rupiah/ton) m6=biaya pokok pengeringan kakao mutu C dengan pengering mekanis bahan bakar solar (rupiah/ton)

Biaya pokok pengeringan didapat dengan rumus :

BP=[(BT/jpt)+BTT]/Kp ...................................[5] dengan : BP = biaya pengeringan (rupiah per ton) BT = biaya tetap (rupiah per tahun) BTT = biaya tidak tetap (rupiah per jam) jpt = jam kerja (jam per tahun) Kp = kapasitas pengeringan (ton per jam)

Kp = x / t ....................................................[6]

dengan : Kp = kapasitas pengeringan (ton per jam) x = massa kakao hasil pengeringan (ton) t = lama pengeringan (jam)

Biaya tetap = penyusutan + bunga modal Penyusutan alat pengering dapat dihitung

menggunakan metode garis lurus (straight line method) dengan persamaan sebagai berikut : D = ( P S ) / N..................................[7] dengan : D = penyusutan alat pengering (rupiah per tahun) P = biaya awal alat pengering (rupiah) S = nilai akhir alat pengering (rupiah) N = umur ekonomis alat pengering (tahun)

Bunga modal dihitung dengan persamaan sebagai

berikut : I = i . ( P + S ) / 2 ............................................[8] dengan : I = biaya bunga modal (rupiah per tahun) i = suku bunga bank (% per tahun) P = biaya awal alat pengering (rupiah) S = nilai akhir alat pengering (rupiah)

Biaya tidak tetap meliputi biaya pemeliharaan, biaya

operator, biaya bahan bakar, dan biaya listrik Biaya pemeliharaan diperoleh dengan rumus : Q= 2 % (P S) / 100 ..........................................[9] dengan : Q = biaya pemeliharaan (rupiah per jam)

Biaya operator diperoleh dengan rumus :


L = Wop / Wp

.................................................[10]

dengan : L = biaya operator (rupiah per jam) Wop = upah operator setiap hari (rupiah per hari) Wp = jam kerja opertor setiap hari (jam per hari)

Biaya listrik dapat dihitung dengan rumus sebagai

berikut : F = P . K .....................................................................[11] dengan : F = keperluan listrik untuk memutar dinamo (rupiah per jam) P = daya listrik (kW) K = harga listrik (Rupiah per kW jam)

Biaya bahan bakar diperoleh dengan mengalikan

volume bahan bakar yang terpakai setiap jam dengan harga bahan bakar yang berlaku. O = V . h......................................................................[12] dengan : O = biaya solar (rupiah per jam) V = volume solar yang terpakai selama proses pengeringan (liter per jam) h = harga solar yang berlaku (rupiah per liter)

Kendala Jam Kerja Produksi Nilai ruas kanan (T) merupakan jumlah jam operator

yang tersedia setiap bulan dikalikan dengan jumlah operator alat pengering di P.T. Inang Sari. Jam operator t adalah kebutuhan jam kerja untuk proses pengeringan. Perumusan kendala jam tenaga kerja adalah : t1x1+ t2x2+ t3x3 T1 ...............................................................................[13] t4x4+ t5x5+ t6x6 T2 ...............................................................................[14]

T1= ketersediaan waktu pengeringan dengan para-para

(jam/bulan) T2 = ketersediaan waktu pengering mekanis bahan bakar solar (jam/bulan) t1 = jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu A dengan para-para (jam/ton) t2=jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu B dengan para-para (jam/ton) t3=jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu C dengan para-para (jam/ton) t4=jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu A dengan pengering mekanis bahan bakar solar (jam/ton) t5=jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu B dengan pengering mekanis bahan bakar solar (jam/ton) t6=jam operator yang diperlukan untuk mengeringkan kakao mutu C dengan pengering mekanis bahan bakar solar (jam/ton)

Nilai t1, t2, t3, t4, t5, dan t6 didapat dari persamaan

sebagai berikut : g = 1 / Kp ....................................................................[15] dengan : g = lama pengeringan (jam per ton) Kp = kapasitas pengeringan (ton per jam)

Nilai T1, T2, dan T3 didapat dari persamaan sebagai

berikut : T=t x Op x H .............................................................[16] dengan : T = waktu yang tersedia dalam satu bulan (jam per bulan) t = waktu operator dalam sehari (jam per hari per orang) Op = jumlah operator (orang) H = jumlah hari kerja dalam sebulan (hari per bulan)

Kendala Proses Pengeringan Kakao Dalam proses pengeringan dengan para-para diperlukan

panas matahari. Bila panas matahari tidak ada maka proses pengeringan tidak dapat dilakukan. Perumusan fungsi kendalanya adalah : h1x1+ h2x2+ h3x3 H .......................................................[17] dengan : H = waktu yang tersedia dalam proses pengeringan (hari/bulan) h1 = waktu yang diperlukan untuk pengeringan kakao mutu A (hari/ton) h2 = waktu yang diperlukan untuk pengeringan kakao mutu B (hari/ ton) h3 = waktu yang diperlukan untuk pengeringan kakao mutu C (hari/ ton)

Kendala Daya Tampung Pengeringan d1x1+ d2x2+ d3x3 D1 ....[18] d4x4+ d5x5+ d6 x6 D2 ...[19] dengan : D1=daya tampung para-para (m2/bulan) D2=daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar (m3/bulan) d1 =daya tampung para-para untuk mengeringkan kakao mutu A (m2 /ton) d2=daya tampung para-para untuk mengeringkan kakao mutu B (m2 /ton) d3=daya tampung para-para untuk mengeringkan kakao mutu C (m2 /ton) d4=daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar untuk mengeringkan kakao mutu A (m3/ton) d5=daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar untuk mengeringkan kakao mutu B (m3/ton) d6 =daya tampung pengering mekanis bahan bakar solar untuk mengeringkan kakao mutu C (m3/ton)

Nilai d dapat diperoleh dengan menggunakan rumus

sebagai berikut : Para-para d = m/l . L .................................................................[20] dengan : d = daya tampung para-para (kg) m = massa kakao (kg) l = luas para-para (1 m2) L = luas para-para keseluruhan (m2)

Pengering mekanis

d=m/v . V ................................................................[21] dengan : d = daya tampung pengering mekanis (kg) m = massa kakao (kg) v = volume pengering mekanis (m3) V = volume pengering mekanis keseluruhan (m3)

Kendala Tenaga Kerja

k1(x1+x2+ x3) + k2(x4+x5+x6) K ................................[22] dengan : K= jumlah tenaga kerja yang tersedia dalam satu alat pengering (orang/bulan) k1=jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada parapara (orang/ton) k2=jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pada pengering mekanis bahan bakar solar (orang/ton)

Kendala Bahan Baku


Kendala ketersediaan bahan baku dapat dituliskan

sebagai berikut : x1+x2+ x3 + x4+x5+x6 BB .....................................................................[23] dengan : BB = Bahan baku Nilai x1, x2, x3, x4, x5, dan x6 diperoleh dari hasil panen kebun kakao

Break Event Point (BEP)


BEP=BT/[SEWA-(BTT/Kp)] .[24] dengan : BEP = Break Event Point (kg per tahun) BT = Biaya Tetap (rupiah per tahun) BTT = Biaya Tidak Tetap (rupiah per jam) Kp = Kapasitas (kg per jam)

Analisis Dual
Analisis dual dilakukan untuk mengetahui penilaian

terhadap sumberdaya yang ada dan menilai keputusan sumberdaya mana yang masih memungkinkan perusahaan untuk melakukan pembelian. Nilai dual menunjukkan perubahan satu satuan. Sumberdaya yang berlebih dan berkurang dapat dilihat berdasarkan nilai slack atau surplus. Nilai dual dapat dilihat berdasarkan harga bayangan atau shadow price.

Analisis Sensitifitas
Analisis sensitifitas bertujuan untuk mempelajari

pengaruh perubahan parameter model linear terhadap pemecahan optimum dan untuk memperoleh dan untuk memperoleh infomasi tentang pemecahan optimum yang baru dan yang memungkinkan sesuai dengan perhitungan tambahan yang minimal

Analisis Pascaoptimal
Analisis pascaoptimal diperlukan untuk mengetahui

sejauh mana jawaban optimal dapat diterapkan apabila terjadi perubahan parameter yang membangun model. Perubahan tersebut dapat terjadi karena perubahan koefisien fungsi tujuan dan perubahan koefisien fungsi kendala.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Skenario Model
Perumusan Fungsi Tujuan Fungsi tujuan dapat dirumuskan sebagai berikut : Memaksimumkan : Z=23.973.024,6x1+17.973.024,6x2+14.973.024,6x3+23.853

.782,94x4+17.853.782,94x5 +14.857.782,94x6 ...[25]

Perumusan Fungsi Kendala Kendala dalam program linier meliputi : (a) Kendala

ketersediaan modal, (b) Kendala jam kera produksi, (c) Kendala proses pengeringan kakao, (d) Kendala daya tampung pengeringan, dan (e) Kendala tenaga kerja. Kendala Ketersediaan Modal Fungsi kendala modal usaha dapat dirumuskan sebagai berikut : M =26.975,408x1+26.975,408x2+26.975,408x3+146.217,065 x4+146.217,065x5 +146.217,06x6 .....[26]

Kendala jam kerja produksi Fungsi kendala jam kerja produksi dapat dirumuskan

sebagai berikut : 0,208x1+0,208x2+0,208x3 <= 1.050 jam/bulan [27] 0,643x4+ 0,643x5+0,643x6 <= 420 jam/bulan ....[28]

Proses pengeringan dilakukan selama 7 hari maka,

fungsi kendala proses pengeringan kakao dengan para-para dapat dirumuskan sebagai berikut : 1,4594 x1+1,4594 x2+1,4594 x3<=H .[29]

Kendala daya tampung pengering Daya tampung para-para secara keseluruhan adalah

8.360.950 cm2, sedangkan volume bak pengering mekanis adalah 15.217.125 cm3 maka, persamaan dapat ditulis : 174,3x1+ 174,3x2+ 174,3x3 3.583,26 m2/ bulan ...[30] 1,2681 x4+ 1,2681 x5+ 1,2681 x6 202,90 m3/ bulan ....[31]

Kendala tenaga kerja Operator untuk para-para 5 orang per bulan dan untuk

pengering mekanis adalah 2 orang, maka fungsi kendalanya dapat dituliskan sebagai berikut : 0,2432x1+0,2432x2+ 0,2432x3 5 orang/bulan ................................................................................[32] 0,012 x4+0,012 x5+0,012 x6 2 orang/bulan ................................................................................[33]

Kendala Ketersediaan Bahan Baku Rumus fungsi kendala untuk ketersediaan bahan baku

adalah : x1 <=2,647 .[34] x2<=6,135 ..[35] x3<=0 ..[36]

Perencanaan Pemakaiaan Pengering Mekanis

Titik Impas (BEP, Break Event Point)


Para-Para Titik Impas (BEP, Break Event Point) diperlukan untuk memberikan informasi penggunaan alat pengering dalam ton per tahun agar menemui titik infas dalam penggunaannya. Hasil perhitungan parapara adalah 2,458 ton per tahun dan mekanis adalah 19,443 ton per tahun.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan Januari Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 17.372.110. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 17.360.260. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 17.348.420., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A dan Mutu B dengan parapara.

Februari Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 7.333.381. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 7.328.327. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 7.323.363., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A dan Mutu B dengan para-para.

Maret Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.026.420. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.021.884. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.017.290., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

April
Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 7.638.900. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 7.633.350. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 7.627.800., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

Mei Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.014.590. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.015.572. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 6.011.164., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

Juni Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 2.860.589. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 2.858.533. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 2.856.478., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

Juli
Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 3.476.092. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 3.473.838. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 3.471.585., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

Agustus Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa

memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 27.638.220. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 27.621.930. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1 dan X2 dengan keuntungan Rp 27.605.640., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A dan Mutu B dengan para-para.

September
Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 58.344.600. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 58.294.570. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 58.244.900., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

Oktober
Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 59.912.530. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 59.820.840. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 59.729.520., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

November Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 67.929.040. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 63.095.900. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 63.057.370., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

Desember
Untuk kenaikan biaya produksi naik 0 % tanpa memenuhi

permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 38.862.520. Untuk kenaikan biaya produksi naik 50 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 38.836.680. Untuk kenaikan biaya produksi naik 100 % tanpa memenuhi permintaan pasar titik optimum adalah X1, X2 dan X3 dengan keuntungan Rp 38.810.840., sedangkan untuk produksi naik 0 %, 50 %, dan 100 % dengan memenuhi permintaan pasar tidak dapat digunakan karena memiliki nilai slack and surplus negatif, sebaiknya dilakukan pengeringan kakao Mutu A, Mutu B dan Mutu C dengan para-para.

TERIMA KASIH

CATATAN