Anda di halaman 1dari 3

TPI Ajukan Kontra Memori PK

PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) resmi mengajukan kontra memori peninjauan kembali (PK). Kontra memori tersebut merupakan sebagai bentuk jawaban atas memori PK yang dilayangkan Crown Capital Global Limited. "Ya hari ini kita mengajukan kontra memori PK sebagaimana pelayangan PK oleh Crown Capital," kata Moses, kuasa hukum TPI saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 21 Januari 2010. Lebih lanjut Moses mengatakan, dalam berkas kontra memori PK tersebut, pihaknya melampirkan beberapa bukti baru, ialah 215 lembar surat berharga bodong yang belum sempat dijual belikan. Menurut dia surat bodong tersebut ditandatangani oleh pemegang TPI sebelumnya. Surat berharga itu terdiri dari pecahan dollar dengan total nilai US$ 170 juta dan pecahan rupiah Rp 45 miliar. Namun surat berharga bodong tersebut belum sempat diperjualbelikan oleh pemegang saham lama. "Karena pemegang saham baru mengambilalihnya," ujarnya. Selain itu pihak TPI juga membawa bukti berupa surat penetapan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, terkait izin penyitaan atas 53 lembar Sub Bond yang saat itu ditangan Crown Capital Global Limited. Sebelumnya Mahkamah Agung telah mengabulkan permohonan kasasi PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Mahkamah berpendapat perkara pailit TPI terlalu rumit, sehingga tidak tepat diajukan ke kepailitan. Alasan MA itu didasarkan pada Pasal 8 Ayat 4 UU nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan yang menyatakan perkara kepailitan harus sederhana. "Pada intinya mengabulkan permohonan kasasi dengan alasan bahwa permohonan pailit yang sudah diputus Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak sederhana," kata Juru Bicara MA, Hatta Ali. PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dimohonkan pailit di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) karena dinilai belum membayar surat utang (obligasi) senilai 53 juta USD kepada PT Crown Capital Global Limited selaku pemegang hak tagih piutang tersebut. Menurut PT Crown, TPI memiliki surat utang yang diterbitkan pada tahun 1996 dengan masa berlaku 10 tanun sehingga sudah jatuh tempo pada 24 Desember 2006, namun tidak kunjung dibayarkan.

Atas tuntutan tersebut, majelis hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan PT Crown Capital Global terbukti sebagai kreditur dari PT TPI yang memiliki hak tagih atas surat utang obligasi jangka panjang senilai 53 juta USD yang tidak terbayarkan hingga saat ini, terhitung saat jatuh tempo pada tanggal 24 Desember 2006. Pihak TPI dinilai tidak dapat membuktikan bukti transfer dana, berdasarkan catatan pada rekening koran BNI senilai 53 juta USD sebagai bentuk pelunasan utang terhadap obligasi dimaksud. Selain itu, majelis menyatakan PT TPI telah terbukti memiliki utang kepada beberapa kreditur lainnya yang jatuh tempo dan belum terbayarkan, yakni Asian Venture Finance Limited senilai 10,325 juta USD, serta utang kepada beberapa perusahaan lainnya, diantaranya kepada TVRI dan PT Media Nusantara Citra (MNC). Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/123338-tpi_ajukan_kontra_memori_pk

Komentar Menurut saya, PT Crown Capital Global berhak mengajukan pailit kepada PT TPI. PT TPI dikatakan pailit karena sebagai debitur tidak mampu atau berhenti membayar utangutangnya dan harus dinyatakan dengan putusan pengadilan. PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dimohonkan pailit di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) karena dinilai belum membayar surat utang (obligasi) senilai 53 juta USD kepada PT Crown Capital Global Limited selaku pemegang hak tagih piutang tersebut. Menurut PT Crown, TPI memiliki surat utang yang diterbitkan pada tahun 1996 dengan masa berlaku 10 tanun sehingga sudah jatuh tempo pada 24 Desember 2006, namun tidak kunjung dibayarkan. PT TPI juga terbukti mempunyai utang-utang kepada beberapa kreditur lainnya yang jatuh tempo dan belum terbayarkan, yakni Asian Venture Finance Limited senilai 10,325 juta USD, serta utang kepada beberapa perusahaan lainnya, diantaranya kepada TVRI dan PT Media Nusantara Citra (MNC). Akibat dari hukum pailit tersebut yaitu PT TPI kehilangan hak menguasai atau mengatur kekayaaannya sendiri, semua perjanjian yang dibuat setelah pernyataan pailit tidak dapat dibayarkan dari harta pailit, pembatalan semua perbuatan hukum yang dilakukan meliputi seluruh harta kekayaan debitur dan diperoleh selama kepailitan.