Anda di halaman 1dari 5

Dalam kegiatan pengukuran situasi (pemetaan topografi daerah/lokasi) diperlukan adanya suatu jaringan kerangka dasar pemetaan yang

terdiri kerangka dasar horisontal maupun kerangka dasar vertikal sebagai titik referensi/ikat/ kontrol/acuan bagi pengukuran titik-titik detail. Dari kondisi ini terlihat ada tiga bagian penting/utama yang harus dilakukan dalam rangka pengukuran situasi, yaitu :

1. 2.

Penentuan dan pengukuran posisi horisontal untuk kerangka dasar pemetaan (sebagai contoh menggunakan poligon tertutup). Penentuan dan pengukuran posisi vertikal (elevasi) untuk kerangka dasar pemetaan (sebagai contoh menggunakan matode sipat datar).

3.

Penentuan dan pengukuran posisi horisontal dan vertikal untuk titik-titik detail atau objek daerah/lokasi yang dipetakan menggunakan metode tacheometry. Penentuan dan pengukuran posisi horisontal dengan metode poligon tertutup telah di pelajari dan di peraktikan sebelum materi ini dibahas. Sedangkan untuk penentuan dan pengukuran posisi vertikal telah dipelajari pada Surveying Camp.

Pada pertemuan ini akan dibahas dan mempelajari penentuan dan pengukuran titik-titik detail dilapangan dengan metode tacheometry, berikut merupakan tahapan yang umum dilakukan dalam pelaksanaan pengukuran situasi. (S, Ferry. 2005) Dalam kegiatan pengukuran situasi (pemetaan topografi daerah/lokasi) diperlukan adanya suatu jaringan kerangka dasar pemetaan yang terdiri kerangka dasar horisontal maupun kerangka dasar vertikal sebagai titik referensi/ikat/ kontrol/acuan bagi pengukuran titik-titik detail. Dari kondisi ini terlihat ada tiga bagian penting/utama yang harus dilakukan dalam rangka pengukuran situasi, yaitu :

1. 2.

Penentuan dan pengukuran posisi horisontal untuk kerangka dasar pemetaan (sebagai contoh menggunakan poligon tertutup). Penentuan dan pengukuran posisi vertikal (elevasi) untuk kerangka dasar pemetaan (sebagai contoh menggunakan matode sipat datar).

3.

Penentuan dan pengukuran posisi horisontal dan vertikal untuk titik-titik detail atau objek daerah/lokasi yang dipetakan menggunakan metode tacheometry. Penentuan dan pengukuran posisi horisontal dengan metode poligon tertutup telah di pelajari dan di peraktikan sebelum materi ini dibahas. Sedangkan untuk penentuan dan pengukuran posisi vertikal telah dipelajari pada Surveying Camp.

Pada pertemuan ini akan dibahas dan mempelajari penentuan dan pengukuran titik-titik detail dilapangan dengan metode tacheometry, berikut merupakan tahapan yang umum dilakukan dalam pelaksanaan pengukuran situasi. (S, Ferry. 2005)

Metode Pengukuran Detail


Pengukuran Detail Situasi

Titik-titik detail situasi dapat dibedakan atas titik detail buatan, seperti : gedung, jembatan, jalan dan lain sebagainya serta titik detail alam, seperti : sungai, gunung, serta bentuk alam lainnya. Dengan adanya berbagai bentuk detail dari yang teratur hingga bentuk yang tidak beraturan serta faktor kesulitan medan, sehingga kita harus jeli dan tangkas dalam memilih metode pengukuran detail agar kita dalam melaksanakan pengukuran tersebut bisa efisien dan optimal mungkin sehingga tidak banyak menguras tenaga.

Metode Pengukuran titik detail di lapangan dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

1. Pengukuran detail dengan Metode Ekstrapolasi 2. Pengukuran detail dengan Metode Interpolasi 3. Pengukuran detail dengan Metode Pemotongan

Pengukuran Detail dengan Metode Ekstrapolasi Pengukuran dengan metode ekstrapolasi ini ada dua sisitm yaitu :

a. Ekstrapolasi koordinat ortogonal ( lihat gambar 1.)

Keterangan gambar : A, B, ......, K = titik-titik poligon AB, AK = sisi-sisi poligon P, Q, R, S, T..= proyeksi titik sudut gedung ke sisi poligon

Pada sistim ini gambar detail ( gedung ) didapat dengan cara memproyeksikan titik-titik sudut (bagian) dari detail ke sisi poligon yang terdekat dengan pertolongan prisma. Jarak proyeksi titik detail ke sisi poligon diukur dengan pegas ukur.

b. Ekstrapolasi koordinat kutub ( lihat gambar 2. )

Keterangan gambar : A, B : titik poligon K, L, M, N : titik sudut detail (gedung) AK, AL, AM : azimut titik detail K, L, M terhadap A BL, BM, BN : azimut titik detail L, M, N terhadap titik B

Pada sistim ini gambar detail diperoleh dengan cara mengukur besarnya azimut dari titik-titik detail terhadap salah satu titik poligon dan jarakna diukur secara optis.

Pengukuran Detail dengan Metode Interpolasi

Pada sistim ini pengukurannya adalah dengan cara menarik titik potong pelurusan titik detail terhadap sisi poligon (potongan sisi poligon) tersebut diukur panjangannya dengan pegas ukur. Jadi pada sistim ini titik detail seolah-olah digantungkan pada dua buah sisi poligon (Lihat gambar 3).

Keterangan gambar : A, B, C, D : titik-titik poligon a, b, c, d : titik potong pelurusan detail dengan sisi poligon

Pengukuran Detail dengan Metode Pemotongan

Metode ini menggunakan dasar bahwa perpotongan antara dua buah garis arah akan menentukan satu titik tertentu.( lihat gambar 4.).

Keterangan gambar : A, B, C, D : titik-titik poligon 1, 2, 3, 4, : titik-titik detail A1, A2, A3 : azimut titik-titik detail yang diukur dari A B1, B2, B3 : azimut titik-titik detail yang diukur dari B

Pada gambar 4 di atas titik detail yang berada di tepi sungai menentukan bentuk sungai tersebut. Terhadap titik detail 1. 2. 3 tersebut diukur azimut masing-masing dari dua titik poligon terdekat, sehingga garis arah dari kedua titik poligon ini saling berpotongan pada titik-titik detail tersebut.