Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 1897 J.

J Thomson menamakan partikel bemuatan negatif dan


31 bermasa ini dengan sebutan elektron. Dengan nilai me = 9,1 10 kg dan

muatannya e = 1,9 10 19 C . Electron sering menjadi pokok bahasan dan digunakan pada berbagai penelitian. Salah satu cara untuk menentukan nilai dari faktor lande dari sebuah elektron adalah dengan melakukan percobaan Electron Spin Resonance (ESR). Dalam percobaan ESR (lektron Spin Resonance) ini kita akan membahas tentang suatu fenomena yang penting yang bisa terjadi didalam rangkaian yang mengandung induktor dan kapasitor, fenomena ini disebut resonansi. Dan ini bisa secara bebas diterangkan sebagai kondisi yang terdapat didalam setiap sistim fisis bila fungsi pemaksa sinusoida yang mempunyai amplitudo yang tetap menghasilkan sebuah respon dengan amplitudo maksimum. Akan tetapi kita sering kali berbicara bahwa terjadi resonansi walaupun bila fungsi pemaksa bukan sinusoida. Untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut tentang ESR, maka dilaksanakanlah praktikum kali ini yang berjudul Elektron Spin Resonance (ESR). 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 4 1. Berapakah medan magnet B dengan rumus B = 0 5 setiap nilai I (arus), untuk masing-masing Probe RF? 2. Bagaimanakah persamaan garis lurus yang menyatakan hubungan antara v dan B ? 3. Berapakah nilai g electron dari persamaan garis lurus tersebut ?
3 2

N I untuk r

4. Berapakah keseksamaan dari perhitungan data yang diperoleh saat eksperimen? 1.3 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Menentukan faktor g elektron 2. Mempelajari karakteristik serapan resonans bahan DPPH 1.4 Manfaat Manfaat yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu praktikan mengetahui cara menentukan besarnya medan magnet dari suatu Probe RF dan mendapatkan pemahaman lebih tentang Elektron Spin Resonance (ESR).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Rangkaian yang mengandung Q0 lebih tinggi atau kurva respon yang lebih tajam,mempunyai lebar pita yang sangat sempit ini mempunyai selektivita frekuensi yang lebih tinggi atau faktor kualitas yang le dibuat dengan sengaja untuk mempunyai Q0 yang besar untuk mengambil keuntungan dari lebar pita yang sempit dan selektivitas frekuensi yang diasosiasikan. Rangkaian resonansi seri diberi ciri oleh impedansi rendah pada resonansi, sedangkan pada rangkaian resonan paralel menghasilkan impedansi resonan tinggi, rangkaian seri memberi perbesaran tegangan pada resonansi. Rangkaian RLC seri dan paralel menggambarkan rangkaian resonan ideal, ini tidak lebih dari pada representasi aproksimasi sebuah rangkaian fisis yang dapat dibuat dengan mengkombinasikan sebuah kumparan kawat, tahanan karbon dan kapasitor tantalum dalam paralel atau seri. Derajat ketelitian dengan mana model ideal cocok dengan rangkaian sebenarnya tergantung pada daerah frekuensi operasi dari rangkaian bahan yang terdapat dalam elemen fisis atau pun ukuran elemen. Rancangan dasar percobaan ESR seperti pada gambar 7.4. Sebuah bahan uji ditempatkan di tengah-tengah antara kedua koil sejajar Helmholtz pada garis yang menghubungkan titik pusat lingkaran kedua koil helmholtz. bih tinggi. Banyak rangkaian resonansi Catatan penting: Arus masing-masing koil tidak boleh lebih dan 3A. Jika kedua koil di sejajarkan maka total anus untuk Koil Helmholtz tidak boleh lebih dari 6 A

Gambar 7.4 Rancangan dasar ESR Kita tinjau untuk sebuah elektron dalam bahan uji. Elektron tersebut mempunyai momen dipol magnet Pc yang mempunyai kaitan dengan momentum sudut intrinsik atau spin melalui persamaan vektor:

S = GS b

S h

(7.2) eh = 5,788 x 10-9 eVIG, 2me

dengan gs = factor-g elektron B = inagneton Bohr =

S= Spin elektron dan h = tetapan Planck = 6,582 x 10-16 eV.det. Momen dipol magnet elektron ini akan berinteraksi dengan medan magnet seragam. Menurut prinsip mekanika kuantum , elektron dapat menempatkan dirinya dalam hanya salah satu dan dua state yang memiliki energi E = E0 g B B / 2 dimana E0 adalah energi elektron tanpa pengaruh medan luar. Perbedaan energi antara dua orentasi yang mungkin ini sama dengan adalah besarnya medan magnet yang diberikan. Resonansi terjadi manakala osilator RF di atur (tune) pada frekuensi v sedemikian hingga energi foton yang diradiasikan sama dengan selisih energi dua state elektron yang mungkin di atas. Elektron yang berada pada state energi yang lebih rendah dapat menyerap energi foton dan RF osilator untuk naik ke state dengan energi lebih tinggi. Energi absorbsi ini mempengaruhi permeabilitas bahan uji yang mempengaruhi induktasi koil dan dengan demikian osilasi dan osilator RF. Hasilnya adalah perubahan yang dapat diamati pada arus yang mengalir melalui osilator. g s B B dengan B

Syarat resonansi oleh karena itu adalah energi foton yang dipancarkan oleh osilator RI tepat sama (match) dengan selisih energi di antara dua state elektron di dalam bahan uji. Secara matematik dapat kita nyatakan dengan, percobaan ini.

Unit Probe ESR merupakan bagian terpenting dan peralatan ESR yang mengandung osilator RF (MHz) terangkai dengan penguat sinyal. Frekuensi dan amplitudo sinyal RF dapat dikontrol dengan tombol-tombol path unit probe ESR seperti pada gambar 7.1. Range frekuensi yang dihasilkan osilator bergantung pada jenis RF Probe (ada tiga) yang secara keseluruhan berada dalain range 13 130 MHz. Tegangan RF Probe mencapai 6 Volt (peak to peak) pada 13 MHz dengan amplitudo maksimum. Sinyal ESR yang dihasilkan berada dalam range 1 6 V bergantung pada frekuensi.

Gambar 7.2 Unit Kontrol Unit Kontrol memberikan banyak hal yang diperlukan ESR Probe Unit, dan mempunyai tiga fungsi umum: a. Memberikan tegangan untuk menggerakkan ESR Pprobe Unit dan Koil Helmholz, b. Memberikan pembacaan digital sinyal frekuensi RF dan ESR Probe Unit. c. Membenikan output untuk ditampilkan pada Dual Trace Oscilloscope sehingga pola serapan energi bahan (resonansi) dapat diamati. Koil Helmholtz berfungsi untuk menghasilkan medan magnet yang sangat seragam, seperti gambar 7.3. Koil Helmholtz terdiri dan sepasang kumparan yang ditempatkan sejajar (perhatikan letak masing -masing kumparan terhadap yang lain). Bahan uji DPPH untuk percobaan pengukuran ESR di letakkan di antara sepasang kumparan Koil Helmholtz, yang dipisah sejauh R. Medan magnet yang sangat seragam berada di tengah kumparan

7.3 Sepasang Koil Helmholtz yang menghasilkan inedan magnet seragarn

Medan magnet yang dihasilkan oleh Koil Helmholtz dapat dihitung dengan nmius: 4 B= 0 5
3/ 2

I r

(7.1)

dengan 0 = 1,256 x I 0 V.det/A.m, N =jumlah lilitan koil = 320 buah, I = arus yang melalui koil. Bahan uji yang akan digunakan dalam percobaan ini adalah DPPH (Diphenyl Piciyl..Hydrazyl) yang merupakan bahan yang Iazim digunakan pada eksperimen ESR Bahan ji mempunyai momentum sudut orbital nol dan hanya mempunyai sebuah elektron elektron tak berpasangan. Oleh karena itu untuk sebuah nilai medan magnet luar yang diberikan kepada bahan akan hanya ada sebuah frekuensi resonans tunggal. Hal ini memungkinkan kita melakukan investigasi beberapa prinsip dasar dan ESR tanpa (sebelum) memerlukan analisis ESR yang Iebih kompleks.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam eksperimen kali ini adalah sebagai berikut : a. Unit control b. ESR Probe Unit c. Koil Helmholtz dengan holder d. Kabel penghubung arus e. RF Probe (3 jenis frekuensi): 13-30 MHz, 30-75 MHz dan 75-130 MHz f. Bahan uji DPPH g. Stavolt h. Dual Trace Osiloskop i. Multimeter digital. Keterangan alat:

ESR Probe Unit

Unit Probe ESR merupakan bagian terpenting dari peralatan ESR yang mengandung osilator RF (MHz) terangkai dengan penguat sinyal. Frekuensi dan amplitudo sinyal RF dapat dikontrol dengan tombol-tombol pasa unit probe ESR seperti pada gambar 7.1. Range frekuensi yang dihasilkan osilator bergantung pada jenis RF probe (ada tiga) yang secara keseluruhan berada dalam range 13-130 MHz. Tegangan RF Probe mencapai 6 Volt (peak to peak) pasa 13 MHz dengan amplitude maksimium. Sinyal ESR yang dihasilkan berada dalam range 1-6 Volt bergantung pada ferkuensi.

Unit Kontrol Pasco

Gambar 7.2 Unit Kontrol Unit control memberikan banyak hal yang diperlukan ESR Probe Unit, dan mempunyai tiga fungsi umum:

a. Memberikan tegangan untuk menggerakkan ESR Probe Unit dan Koil Helmholt, b. Memberikan pembacan digital sinyal frekuensi RF dari ESR Probe Unit, c. Memberikan diamati. output untuk ditampilkan pada Dual Trace Oscilloscope sehingga pola serapan energi bahan (resonansi) dapat

Koil Helmholtz
Koil Helmholtz berfungsi untuk menghasilkan medan magnet yang sangat seragam, seperti gambar 7.3. Koil Helmholtz terdiri dari sepasang kumparan yang ditempatkan sejajar (perhatikan letak masing-masing kumparan terhadap yang lain). Bahan uji DPPH untuk percobaan pengukuran ESR diletakkan diantra sepasang kumparan Koil Helmholtz, yang dipisah sejauh R. Medan magnet yang sangat seragam berada di tengah kumparan.

Gambar 7.3 Sepasang Koil Helmholtz yang menghasilkan medan magnet seragam Medan magnet yang dihasilakn oleh Koil Helmholtz dapat dihitung dengan rumus: 4 B = o 5
3/ 2

I r

(7.1) N = jumlah lili tan koil = 320 buah,

6 dengan o = 1,256 10 V.det/A.m,

I = arus yang melalui koil.

10

Catatan penting: Arus dari tiap masing-masing koil tidak boleh lebih dari 3A. Jika kedua koil tersebut disejajarkan maka total arus untuk Koil Helmholtz tidak boleh lebih dari 6 A.

Bahan Uji
Bahan uji yang akan digunakan dalam proses ini adalah DPPH (Diphenyl Picry-Hydrazyl) yang merupakan bahan yang lazim digunakan pada eksperimen ESR. Bahan ini mempunyai sebuah electron tak berpasangan. Oleh karena itu untuk sebuah nilai medan magnet luar yang diberikan kepada bahan akan hanya ada sebuah ferkuensi resonans tunggal. Hal ini memungkinkan kita melakukan investigasi beberapa prinsip dasar dari ESR tanpa (sebelum) memerlukan analisis ESR yang lebih kompleks.

3.2 Cara Kerja Langkah 1: 1. Hubungkan koil Helmholtz dengan Unit Kontrol seperti pada gambar (1.6). Koil seharusnya terhubung sejajar yaitu terminal A dengan terminal A dan Z dengan Z. Hubungkan secara seri Ammeter seperti pada gambar untuk mengukur arus yang menuju koil Helmholtz. 2. Tempatkan Koil Helmholtz sejajar satu sama lain dengan menghadap pada arah yang sama, terpisah kira-kira setengah diameternya. 3. Hubungkan output X Unit Kontrol ke CH 1 dari Dual Trace Osciloskope. Atur set-up osiloskop sesuai berikut: Sensitivitas Sweep Rate Coupling : 1 atau 2 V/div : 2 atau 5 ms/div : DC

4. Atur Umod pada Unit Kontrol ke posisi nol, kemudian variasi secara perlahan dari 0 ke 10 V sambil mengamati tampilan pada osiloskop. Pada keadaan ini seharusnya osiloskop hanya memperlihatkan gambar garis lurus yang bersih

11

yang berarti bahwa komponen DC arus ke koil Helmholtz adalah konstan (U0 mengontrol arus DC yang akan pergi ke koil Helmholtz). 5. Atur U0 kira-kira pada posisi tengah kemudian putarlah Umod searah jarum jam untuk menambah komponen AC arus ke koil Helmholtz. Jejak osiloskop seharusnya sekarang menunjukkan grafik sinus seperti gambar (1.7) yang berhubungan dengan medan magnet AC bersuperposisi dengan medan magnet konstan DC. 6. Hubungan output Y Unit Kontrol dengan CH2 dari Dual Trace Oscilloskop. Aturlah CH-2 dengan ketentuan sebagai berikut: Sensitivitas Coupling DPPH ke dalam Koil Probe. 8. Nyalakan Unit Probe ESR dengan mengatur tombol On/Off pada posisi keatas. Kemudian putarlah tombol amplitude pada Unit Probe ESR pada posisi medium. 9. Pada keadaan ini layar frekuensi pada Unit Kontrol seharusnya menunjukkan frekuensi RF yang berosilasi. Aturlah tombol control frekuensi RF pada Unit Probe ESR untuk menghasilkan output kira-kira 50 MHz. 10. Aturlah Umod sekitar posisi ke empat di atas nol (sekitar posisi jam 11). 11. Naikkan U0 dari nol ke nilai medium, sehingga arus koil Helmholtz berada sekitar 1,0 A. Jejak CH-1 menunjukkan arus ke koil Helmholtz yang sebanding dengan medan magnet yang dihasilkan oleh Koil. Jejak CH-2 menunjukkan envelop tegangan yang melalui osilator RF dengan pulsa-pulsa yang menunjukkan titik-titik resonansi serapan resonans. Jika tidak terlihat pulsa resonans maka variasi secara perlahan Umod atau tombol RF frequency sampai dapat diperoleh kurva resonans tersebut. 13. Jejak osiloskop yang terlihat mungkin tidak simetris, seperti gambar 1.8. ini dapat diperbaiki dengan mengatur tombol Phase Shift pada Unit Kontrol. : 0,5 atau 1 V/div : DC

7. Hubungan Unit Probe ESR dengan Unit Kontrol seperti pada gambar 1.6.

12

Langkah II: 1. ESR sering diamati dengan osiloskop menggunakan mode X-Y. untuk pengamatan mode ini hubungan output X dan output Y Unit kontrol dengan masing-masing input X dan Y osiloskop. Dalam mode ini maka pergeseran Helmholtz. Pergeseran vertikal menunjukkan sinyal dari Unit Probe.Untuk mode ini maka kurva resonans.

3.3 Metode Analisa Data 3.3.1 Tabel Pngamatan


No 1 2 3 4 5 probe RF 13 - 30 MHz V (volt) I (A) v (MHz) No 1 2 3 4 5 probe RF 30 - 75 MHz V (volt) I (A) v (MHz)

3.3.2 Pengolahan Data 4 2 NI B = 0 5 r v v B B


3

h B gs g s = gs h min = , = max B 2 gs =

v hv = g s B B B g B v= s B h v = B g = s B h

13

max min

Titik Sentroid

max = min

v B v = B

I=

gs 100% g s

K = 100% I Hp = ( g s g s ) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil


probe RF 13-30 MHz No 1 2 3 4 5 V (volt) 3,4 2,8 2,4 1,6 1,4 I (A) 1,83 1,72 1,88 1,95 1,98 v (MHz) 29,8 28,5 27,9 22,9 16,9 B

( Tesla )

v (perhitungan) 0,017613 0,016554 0,018094 0,018768 0,019056

0,009754 0,009168 0,01002 0,010393 0,010553

gs = 8743211 gs = 14223,85

I = 0,162685 % K = 99,83732 % Hp = ( 8743221 14223,85) satuan

( perhitungan) = 7688,5
= 12,508

probe RF 30 - 75 MHz No 1 2 3 4 5 V (volt) 3,8 2,4 1,4 1 0,8 I (A) 1,73 1 1,95 1,92 1,68 v (MHz) 33,4 32,6 32,1 32,4 31,6 B

( Tesla )

v (perhitungan) 0,480592 0,277799 0,541708 0,533374 0,466703

0,009221 0,00533 0,010393 0,010234 0,008954

14

gs = 59269,84 gs = 42671,56

( perhitungan) = 52,12
= 37,524 I = 71,9954 % K = 28,0046 % Hp = ( 59269,84 42671,56 ) satuan

15

4.2 Pembahasan Salah satu cara untuk menentukan nilai dari faktor lande dari sebuah elektron adalah dengan melakukan percobaan Electron Spin Resonance (ESR). Pada percobaan ini kami melakukan dua kali perlakuan yaitu untuk RF unit probe dengan rentang frekuensi antara 13-30 MHz dan unit probe RF untuk rentang antara 30-75 MHz. Setelah mengeset alat seperti yang ditunjukkan pada gambar diatas dan memasukkan bahan uji DPPH, maka kami mendapatkan nilai V (Tegangan), I (Arus) dan v (Frekuensi) dengan lima kali pengulangan. Setelah data yang kami peroleh selesai kami olah dengan cara perhitungan, maka kami dapat menemukan nilai Medan magnet (B), nilai g, v (perhitungan) , (perhitungan), dari nilai B dan v, Kemudian kami buat grafik hubungan B dan v serta hubungan B dan v (perhitungan). Nilai B untuk probe RF 13 0,009754; 30 MHz 0,009168; dengan 0,01002; menggunakan 0,010393 persamaan (7.1) adalah v dan 0,010553. Untuk

(perhitungannya) kami dapatkan 0,017613; 0,016554; 0,018094; 0,018768 dan 0,019056 dan v (data yang diperoleh saat eksperimen) adalah 29,8; 28,5; 27,9; 22,9; 16,9. Dapat kita lihat bahwa nilai v pada percobaan dan pada perhitungan sangat jauh berbeda. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh data yang kurang akurat karena kerusakan alat. Namun keseksamaan (K) yang kami peroleh sebesar 99,83732 % . Kemudian grafik hubungan B dan v mempunyai

persamaan garis lurus sebesar y = 7688 x + 101,91 dengan nilai alpha -7688 yang sama dengan nilai alpha pada perhitungan bila dimutlakkan. dan untuk grafik yang kedua kami menggunakan hubungan B dan v (perhitungan) seperti yang terpapar pada lembar grafik. Untuk selanjutnya kami mencari nilai

max

dan min pada grafik hubungan hubungan B dan v (perhitungan). .

Sedangkan untuk factor g atau faktor lande, kami memperoleh hasil gs sebesar 8743211. Nilai B untuk probe RF 30 75 MHz adalah: 0,009221; 0,00533; 0,010393; 0,010234 dan 0,008954 dan untuk v (perhitungan) adalah 0,480592; 0,277799; 0,541708; 0,533374 dan 0,466703. Nilai v dari data yang diperoleh saat

eksperimen yaitu: 33,4; 32,6; 32,1; 32,4; 31,6. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa nilai v dari data yang diperoleh saat eksperimen dan nilai v perhitungan sangat jauh berbeda. Grafik yang kami dapatkan memiliki persamaan garis lurus y = 52,12 x + 32,88 . Nilai faktor landenya sebesar 59269,84 dengan keseksamaan sebesar 28,0046 % . Dari hasil di atas, dapat dilihat bahwa nilai keseksamaan buruk dan nilai g tidak sesuai dengan teori yang ada. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh kerusakan alat.

BAB V

PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan pembahasan diatas maka dapat kami ambil kesimpulan bahwa nilai factor lande (g) electron untuk probe RF 13 30 MHz adalah 8743211 dan untuk probe RF 30 75 MHz sebesar 59269,84 . dan dari percobaan dapat dikatakan bahwa dalam uji serapan resonans bahan uji DPPH adalh bahan yang baik. 5.2 Saran Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sebaiknya diadakan pemeriksaan alat dan bila ada kerusakan alat sebaiknya dilakukan perbaikan atau penggantian alat percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Beiser, Arthur ,1987. Konsep Fisika Modern Edisi Keempat. Erlangga: Jakarta Reitz, R.John,.Milford, J,Frederick,.Christy, W.Robert, 1993. Dasar Teori Listrik Magnet, edisi ketiga, ITB: Bandung Soedojo,P, 1992, Azaz-Azas Ilmu Fisika, Gadjah Mada University press; Yogyakarta. Tim Penyusun Panduan, 2006, Buku Panduan Eksperimen Fisika II, Laboratorium Optoelektronika &Fisika Modern ; Jember. Yarif, A., Theory and Application of Quantum Mechanic.c. John Wiley and Sons, 1992.

LAMPIRAN

A. Lembar Perhitungan : Probe RF 13 30 4 B = o 5


3 2

MHz :
3

NI 4 2 320 1,83 = 0,000001257 = 0,009754 r 0,054 5


2

4 B = o 5 4 B = o 5 4 B = o 5 4 B = o 5

NI 4 2 320 1,72 = 0,000001257 = 0,009168 r 0,054 5 NI 4 2 320 1,88 = 0,000001257 = 0,01002 r 0,054 5 NI 4 2 320 1,95 = 0,000001257 = 0,010393 r 0,054 5 NI 4 2 320 1,98 = 0,000001257 = 0,010553 r 0,054 5
3 3 3

v = B = 7688,5 0,009754 = 0,017613 v = B = 7688,5 0,009168 = 0,016554 v = B = 7688,5 0,01002 = 0,018094 v = B = 7688,5 0,010393 = 0,018768 v = B = 7688,5 0,010553 = 0,019056 h 0,000006582 = 7688,5 = 8743211 B 5,788 10 9 gs 8743211 B = 5,788 10 9 = 7688,5 h 0,000006582

gs = =

= g s =

max min 14,314 ( 10,702 ) = = 12,508 2 2


h 0,000006582 = 12,508 = 14223,85 B 5,788 10 9

I =

g s 14223,85 100 % = 100 % = 0,162685 % gs 8743211

K = 100 % I = 100 % 0,162685 % = 99,83732 % Probe RF 30 75 MHz : 4 B = o 5


3 2

NI 4 2 320 1,73 = 0,000001257 = 0,009221 r 0,054 5


2

4 B = o 5 4 B = o 5 4 B = o 5 4 B = o 5

NI 4 2 320 1 = 0,000001257 = 0,00533 r 5 0,054 NI 4 2 320 1,95 = 0,000001257 = 0,010393 r 0,054 5 NI 4 2 320 1,92 = 0,000001257 = 0,010234 r 0,054 5 NI 4 2 320 1,68 = 0,000001257 = 0,008954 r 0,054 5
3 3 3

v = B = 52,12 0,009221 = 0,480592 v = B = 52,12 0,00533 = 0,277799 v = B = 52,12 0,010393 = 0,541708 v = B = 52,12 0,010234 = 0,533374 v = B = 52,12 0,008954 = 0,466703 h 0,000006582 = 52,12 = 59269,84 B 5,788 10 9 gs 59269,84 B = 5,788 10 9 = 52,12 h 0,000006582

gs = =

= g s =

max min 89,644 14,596 = = 37,524 2 2


h 0,000006582 = 37,524 = 42671,56 B 5,788 10 9

I =

g s 42671,56 100 % = 100 % = 71,9954 % gs 59269 ,84

K = 100 % I = 100 % 71,9954 % = 28,0046 %

B. Lembar Grafik Probe RF 13 30 MHz :

Hubungan frekuensi dan Medan magnet


35 30 25 v (MHz) 20 15 10 5 0 0,009 0,0092 0,0094 0,0096 0,0098 0,01 0,0102 0,0104 0,0106 0,0108 y = -7688,5x + 101,91 Series1 Linear (Series1)

B (Tesla)

Grafik Hubungan B dan v (perhitungan)


0,035 v (perhitungan) 0,03 0,025 0,02 0,015 0,01 0,005 0 0,009 0,0092 0,0094 0,0096 0,0098 0,01 0,0102 0,0104 0,0106 0,0108 B

yA= 1,8057x yB = 14,314x - 0,127 yC= -10,702x + 0,127

A B C Linear (A) Linear (B) Linear (C)

Probe RF 30 - 75 MHz :

Grafik hubungan B dan v (MHz)


33,5 33 v (MHz) 32,5 32 31,5 0 0,002 0,004 0,006 B 0,008 0,01 0,012 y = -52,12x + 32,88 Series1 Linear (Series1)

Grafik hubungan B dan v (perhitungan)


0,7 v (perhitungan) 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0 0,002 0,004 0,006 B 0,008 0,01 0,012

yA= 52,12x yB= 14,596x + 0,341 yC= 89,644x - 0,341

A B C Linear (C) Linear (A) Linear (B)