Anda di halaman 1dari 15

KONSTRUKSI PABRIK PELEBURAN TIMAH (SMELTER) DITINJAU DARI STUDI AMDAL PADA PT.

LABA-LABA MULTINDO PANGKALPINANG PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG


Benny Syahputra *

ABSTRAK
Di dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 18 ayat 1, menyatakan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yamg mempunyai dampak besar dan penting wajib dilakukan kajian AMDAL. Kajian AMDAL tersebut perlu dilakukan guna mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan pada tahap konstruksi terutama pencemaran udara yang diperkirakan punya pengaruh buruk terhadap kesehatan bagi masyarakat dan pekerja. Telaah studi AMDAL yang dilakukan pada pabrik peleburan timah (smelter) PT. Labalaba Multindo Pangkalpinang Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ini mempunyai tujuan antara lain (a). Identifikasi komponen lingkungan yang diperkirakan terkena dampak pabrik peleburan timah; (b). Prakiraan dampak terhadap komponen lingkungan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting; dan (c).Evaluasi terhadap komponen llingkungan yang terkena dampak besar dan penting. Kegiatan pada tahap konstruksi pabrik peleburan timah adalah berupa : mobilisasi material atau bahan baku, pembersihan lahan, pembangunan sarana dan prasarana serta penerimaan tenaga kerja. Berdasarkan kegiatan pada tahap konstruksi tersebut, maka diketahui isu-isu pokok berupa : penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan serta perubahan sikap/ persepsi masyarakat. Analisis kualitas udara dilakukan dengan cara membandingkan hasil pengukuran dengan baku mutu lingkungan udara ambien. Sedangkan untuk mengetahui tingkat pencemaran udara diwilayah studi dilakukan dengan pendekatan model Bivariate Gaussian; Analisis kebisingan dilakukan dengan dua pendekatan yaitu : analisis kebisingan sumber bergerak dihitung dengan menggunakan rumus dari Rau and Woote, dan analisis kebisingan sumber tidak bergerak. Hasil analisis kebisingan berpedoman kepada baku mutu tingkat kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor Kep-48/MenLH/10/1996 tentang Baku Tingkat kebisingan. Sedangkan sikap/persepsi masyarakat dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Hasil telaah didapatkan hasil identifikasi dampak besar dan penting sebagai berikut : (a). Penurunan kualitas udara berasal dari aktifitas mobilisasi material /bahan baku dan pembangunan sarana dan prasarana pabrik mempunyai dampak negatif (-) dengan potensi besaran dampak sangat kecil; (b). Peningkatan kebisingan mempunyai dampak negatif (-) dengan besaran dampak tergolong kecil; (c). Sedangkan sikap/ persepsi masyarakat mempunyai dampak posititif (+) cukup penting dengan besaran dampak kecil. Kata kunci : AMDAL, tahap konstruksi, pabrik peleburan timah.

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 18 ayat 1, menyatakan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yamg mempunyai
*

Dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang

dampak besar dan penting wajib dilakukan kajian AMDAL. Kajian AMDAL tersebut perlu dilakukan guna mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari operasional kegiatan terutama pencemaran udara yang diperkirakan punya pengaruh buruk terhadap kesehatan. Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan berprikemanusiaan. Ketersediaan sumberdaya alam dalam meningkatkan pembangunan sangat terbatas dan tidak merata, sedangkan permintaan sumberdaya alam terus meningkat, akibat peningkatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Dalam rangka upaya mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat pembangunan maka, perlu dilakukan perencanaan pembangunan yang dilandasi prinsip pembangunan berkelanjutan. Prinsip pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan memadukan kemampuan lingkungan, sumber daya alam dan teknologi ke dalam proses pembangunan untuk menjamin generasi masa ini dan generasi masa mendatang. Dalam melaksanakan operasional PT. Laba-Laba Multindo menggunakan pasir timah, antrasit dan kapur sebagai bahan baku utama dengan produksi per tahun 5000 ton. Kegiatan operasional pabrik smelter ini diperkirakan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan terutama pencemaran udara. 1.2. Tujuan Penelitian a. Identifikasi komponen lingkungan yang diperkirakan terkena dampak pabrik peleburan timah b. Prakiraan dampak terhadap komponen lingkungan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting c. Evaluasi terhadap komponen llingkungan yang terkena dampak besar dan penting.

1.3. Manfaat Penelitian a. Bagi Pemrakarsa 1). Masukan dalam melakukan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan 2). Informasi kondisi lingkungan awal di sekitar lokasi kegiatan b. Bagi Masyarakat 1). Sumber informasi bagi masyarakat tentang rencana pabrik peleburan timah 2). Ikut berperan serta dalam melakukan upaya pemantauan lingkungan yang dilaksanakan oleh pemrakarsa kegiatan. c. Bagi Pemerintah 1). Sebagai masukan bagi perencanaan dan pembangunan wilayah 2). Integrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan pembangunan 3). Sebagai Pedoman pemerintah dalam melakukan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.

II.

LINGKUP RENCANA USAHA YANG DITELAAH Kegiatan konstruksi merupakan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pabrik

2.1. Tahap konstruksi peleburan biji timah (smelter). Kegiatan ini meliputi penerimaan tenaga kerja, mobilisasi peralatan dan material, pembersihan lahan, pembangunan sarana dan prasarana pabrik. Lebih jelasnya diuraiakan sebagai berikut: 1). Penerimaan tenaga kerja Pekerjaan konstruksi membutuhkan tenaga kerja terutama tenaga kerja buruh harian. Namun tenaga kerja yang dibutuhkan jumlahnya relatif kecil yaitu berkisar 20 orang tenaga kerja. Penerimaan tenaga kerja yang ditelaah adalah dampak positif dan negatif terhadap masyarakat yang berada disekitar lokasi kegiatan. 2). Mobilisasi peralatan dan material Peralatan yang dipergunakan untuk pembangunan fisik berupa dumptruk, genset, mesin las, dll, sedangkan material yang dibutuhkan berupa semen, pasir, kerikil, besi, batu bata, batu tahan api, seng, kayu balok, papan, dan lain-lain. Kegiatan yang ditelaah adalah berupa kebisingan, persebaran debu sekitar lokasi dan jalan yang dilalui oleh kendaraan. 3). Pembersihan lahan Lahan yang digunakan sebagian besar berupa semak belukar, sehingga diperlukan upaya pembersihan guna memperlancar pelaksanaan tahap pembangunan dan operasional. Kegiatan yang ditelaah adalah hilangnya flora dan fauna baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi. 4). Pembangunan sarana dan prasarana Pembangunan sarana dan prasarana berkenaan terhadap fasilitas-fasilitas yang akan mendukung kegiatan proses peleburan pasir timah (smelter) seperti pembangunan pabrik, kantor, gudang, ruang genset, ruang jaga dan mess karyawan. Dampak yang ditelaah adalah dampak positif dan negatif terhadap pembangunan sarana dan prasarana pabrik peleburan timah terutama berkaitan dengan penerimaan tenaga kerja dan kebisingan. III. METODE PENELITIAN 3.1. Kualitas udara dan kebisingan Kualitas udara di tapak proyek dan sekitarnya, dilakukan pengukuran langsung dilapangan (data primer) kemudian dibawah langsung ke laboratorium. Untuk pelaksanakan uji sampel bekerja sama dengan laboratorium BTKL Palembang yang peralatan dan prosedur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Parameter kualitas udara yang dianalisis meliputi sulfur dioksida, carbon monoksida, Nitrogen dioksida, hidrokarbon, partikel suspensi debu dan Pb. Jumlah titik sampel kualitas udara di wilayah tapak proyek dan sekitar proyek berjumlah 3 titik sampel. Kebisingan dikumpulkan dengan pengukuran langsung dengan menggunakan sound level meter. Untuk lebih jelasnya data kualitas udara yang akan diukur dan lokasi pengukuran, disajikan pada Tabel III.1. berikut :

TABEL III.1. PARAMETER KUALITAS UDARA DAN KEBISINGAN

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Parameter NO2 SO2 CO HC TSP Pb Kebisingan

Metode Analisis Saltzman Pararosandi NDIR Flame Ionization Gravimetri Gravimetri

Peralatan Spectrofotometer Spectrofotometer NDIR Analyzer Gas Chromatografi Hi Vol Hi Vol Sound Level Meter

TABEL III.2 LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL KUALITAS UDARA No. 1. 2. 3. Lokasi Kegiatan Komplek PT. Laba-Laba Multindo Jln. Ketapang Jln. Air Mawar (Perumahan RT.08.RW.03 Air Mawar) Kode Sampel U-1 U-2 U-3

Analisis kualitas udara dilakukan dengan cara membandingkan hasil pengukuran dengan baku mutu lingkungan udara ambien. Sedangkan untuk mengetahui tingkat pencemaran udara diwilayah studi dilakukan dengan pendekatan model Bivariate Gaussian yang rumusnya sebagai berikut :

Q C (x,o,o,h) = y z U x exp

-H2 2 z2

C Q U H z y X,y y

= Konsentrasi konsentarsi pada jarak x meter dari stack. = Laju emisi konstan (g/detik). = Kecepatan angin (m/detik) = Ketinggian emisi efektif dari cerobong (m) = Koefisien dispersi horizontal (m). = Koefisien dispersi vertikal (m). = Jarak horizontal dari sumber emisi (m). = Tinggi permukaan di atas tanah. = 3,14

y dan z ditentukan oleh keadaan cuaca yaitu stabilitas udara yang dipengaruhi oleh kecepatan angin, penerimaan radiasi surya pada siang hari dan penutupan awan pada malam hari. TABEL III.3. STANDAR KUALITAS UDARA No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Parameter NO2 SO2 CO HC TSP Pb Baku Mutu Waktu Pengukuran (pg/Nm3) 1 Jam 24 Jam 1 Tahun 400 150 100 900 365 60 30.000 10.000 160 / 3 jam 230 90 2 1

Sumber : PP No. 41 Tahun 1999

Analisis kebisingan dilakukan dengan dua pendekatan yaitu : a. Analisis kebisingan sumber bergerak Untuk analisis kebisingan sumber bergerak dihitung dengan menggunakan rumus dari Rau dan Wooten (1990) sebagai berikut :

Leg = Loi + 10 Log ( Ni / Si ) + 10 Log ( 15 / d ) + O, s - 13


Keterangan : Loi = Tingkat kebisingan kendaraan tipe i Ni = Jumlah kendaraan yang lewat per jam Si = Kecepatan rata-rata truk D = Jarak sumber bising terhadap titik pengukuran S = Shielding faktor untuk daerah terbuka dengan tanaman agak jarang = S dBA. b. Analisis kebisingan sumber tidak bergerak Metode analisis untuk kebisingan sumber tidak bergerak, digunakan rumus : L2 = L1 10 Log R2/R1, dimana : L2 = tingkat kebisingan pada jarak R2 (dBA)

L1 = tingkat kebisingan pada jarak R1 (dBA) R2 = jarak pendengar dari sumber bising (meter) R1 = jarak bising dari sumbernya (meter) Analisis kebisingan berpedoman kepada baku mutu tingkat kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor Kep-48/MenLH/10/1996 tentang Baku Tingkat kebisingan. 3.2. Sikap / Persepsi Masyarakat Sikap/persepsi dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan alat bantu kuesioner 3.3.Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting Dalam evaluasi dampak penting digunakan metode diagram alir untuk hubungan kausatif konfiks dan matrik evaluasi dampak untuk mengerjakan interaksi antara komponen kegiatan dan komponen lingkungan. Untuk mempermudah evaluasi dampak perlu ditetapkan besarnya dampak, dengan menetapkan kriteria sebagai berikut : a. 1). 2). 3). 4). 5). b. Pentingnya dampak Kurang penting Cukup penting Penting Lebih Penting Sangat Penting Besarnya dampak 1). Dampak sangat kecil 2). Dampak kecil 3). Dampak sedang 4). Dampak besar 5). Dampak sangat besar Bahasan besar dampak yang diperoleh dari prakiraan dampak penting, untuk menetapkan jenis dampak besar dan penting, dilakukan evaluasi dampak penting. Tahap evaluasi di dasarkan pada Keputusan kepala Bapedal Nomor Kep-056 Tahun 1994 mengenai 6 (enam) Kriteria dampak penting dilakukan dengan menghubungkan setiap dampak penting sehingga dapat ditentukan penting tidaknya dampak : a. Jumlah manusia yang terkena dampak b. Luas wilayah persebaran dampak c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung d. Banyaknya komponen lingkungan lain yang akan terkena dampak e. Sifat kumulatif dampak f. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.

Evaluasi dampak penting merupakan proses penelusuran prilaku dampak dan keterkaitan antar masing-masing dampak tersebut. IV. HASIL TELAAH PADA TAHAP KONSTRUKSI 4.1. Identifikasi Dampak Besar dan Penting Metode pendekatan identifikasi dampak besar dan penting dilakukan dengan dua pendekatan yaitu a) metode pendekatan matrik interaksi antara kegiatan dengan komponen lingkungan, dan b) metode pendekatan matrik evaluasi dampak. a. Metode pendekatan matrik interaksi antara kegiatan dengan komponen lingkungan Metode pendekatan matrik interaksi ini memadukan tahapan kegiatan pelaksanaan pembangunan pabrik smelter dengan komponen lingkungan yang potensial menerima dampak. Selanjutnya metode ini disajikan pada Tabel IV.1. berikut : TABEL IV.1. MATRIK IDENTIFIKASI DAMPAK
Kosntruksi No. Komponen/Sub Komponen Lingkungan Penerimaan Tenaga Kerja Mobilisasi Peralatan dan Bahan X X Pembangunan Sarana dan Prasarana X X X

A.

Fisik Kimia 1. Kualitas Udara 2. Kualitas Air 3. Kebisingan 4. Lahan/Ruang Biologi 1. Flora 2. Fauna 3. Biota Air Sosekbud Kesmas 1. Peluang Kerja 2. Peningkatan Pendapatan 3. Keresahan Masyarakat 4. Sikap dan persepsi 5. Kesehatan Masyarakat 6. Konflik Sosial X X X X X

B.

X X X

C.

X X

Sumber : Hasil analisis, 2005

b. Metode Pendekatan Matrik Evaluasi Prakiraan Dampak dengan Komponen Lingkungan Metode ini mengarah kepada pemberian nilai/skore yang berhubungan antara komponen lingkungan yang terkena dampak dengan tahap-tahap kegiatan. Selanjutnya disajikan pada Tabel IV.2. berikut ini :

TABEL IV.2. MATRIK EVALUASI PRAKIRAAN DAMPAK


Komponen/Sub Komponen Lingkungan Kosntruksi Penerimaan Tenaga Kerja Mobilisasi Peralatan dan Bahan -2/1 -2/2 Pembangunan Sarana dan Prasarana -1/1 -1/1 -1/2

No

A. Fisik Kimia 1. Kualitas Udara 2. Kualitas Air 3. Kebisingan 4. Lahan/Ruang B. Biologi 1. Flora 2. Fauna 3. Biota Air C. Sosekbud Kesmas 1. Peluang Kerja 2. Peningkatan Pendapatan 3. Keresahan Masyarakat 4. Sikap dan persepsi 5. Kesehatan Masyarakat 6. Konflik Sosial Sumber : Hasil analisis, 2005 2/2 -1/2 -1/1 -2/2 -1/1

-1/1 -1/1 -1/1

-1/1 -2/1

-1/1

4.2.

Prakiraan dan Penentuan Dampak Besar dan Penting Penurunan kualitas udara pada tahap konstruksi secara umum disebabkan oleh beberapa

4.2.1. Penurunan Kualitas Udara tahap kegiatan yaitu : a. Mobilisasi peralatan dan bahan Penggunaan kendaraan roda empat dalam melakukan mobilisasi peralatan dan bahan pembangunan pabrik smelter berpengaruh terhadap penurunan kualitas udara di musim kemarau terutama jalan-jalan yang dilalui seperti Jalan Air Mangkok, Jalan Air Mawar dan Jalan Ketapang. Jalan-jalan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut material dan bahan sebagian wilayahnya terdapat pemukiman seperti di jalan Air Mangkok dan Jalan Air Mawar, namun untuk jalan ketapang penduduk yang tinggal di sepanjang jalan tersebut masih jarang, secara tidak langsung untuk jalan yang dilalui terdapat pemukiman penduduk, maka mobilisasi tersebut dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama debu yang berasal dari jalan yang dilalui kendaraan terutama pada saat di musim kemarau. Hasil pengukuran kualitas udara dijalan Air Mawar Kelurahan Bacang parameter NO 2 sebesar 215 g/m3/1 jam, SO2 sebesar 285 g/m3/1 jam, CO sebesar 11 g/m3/1 jam , HC sebesar 73 g/m3/3 jam, TSP sebesar 499 g/m3/24 jam dan Pb sebesar 0 g/m3/24 jam. Sedangkan di Jalan Ketapang parameter NO2 sebesar 310 g/m3/1 jam, SO2 sebesar 321 g/m3/1 jam, CO sebesar 10 g/m3/1 jam , HC sebesar 68 g/m3/3 jam, TSP sebesar 593 g/m3/24 jam dan Pb sebesar 0 g/m3/24 jam.

Dengan adanya aktifitas kegiatan pengangkutan peralatan dan bahan serta lalu lintas kendaraan pengangkut secara langsung akan meningkatkan kandungan gas buang dan peningkatan kadar debu, sehingga dapat menimbulkan penurunan kualitas udara di sepanjang lokasi kegiatan dan menyebar ke lingkungan pemukiman. Secara langsung penurunan kualitas udara terutama kandungan debu (TSP) akan mempengaruhi ketidak nyamanan masyarakat. Penyebaran gas buang dan debu ini akan meningkat dan meluas pada saat kegiatan dilakukan pada musim kering/kemarau. Penurunan kualitas udara yang berasal dari kendaraan pengangkut bahan meterial dan bahan bersifat temporer dengan perkiraan dampak bersifat lokal yaitu lokasi jalan yang dilalui oleh kendaraan. Berdasarkan analisis diatas, maka mobilisasi peralatan dan bahan mempunyai dampak negatif cukup penting (-2) dengan potensi besarnya dampak sangat kecil (1). b. Pembangunan sarana dan prasarana pabrik Dari hasil pengukuran kualitas udara di lokasi pabrik parameter NO2 sebesar 275 g/m /1 jam, SO2 sebesar 389 g/m3/1 jam, CO sebesar 140 g/m3/1 jam, HC sebesar 84
3

g/m3/3 jam, TSP sebesar 660 g/m3/24 jam dan Pb sebesar 0,02 g/m3/24 jam. Pembangunan sarana dan prasarana ini berakibat kepada penurunan kualitas udara udara secara mikro. Keluar masuknya kendaraan yang digunakan dalam pembangunan pabrik, secara tidak langsung kendaraan tersebut telah menurunkan kualitas udara. Guna memperkirakan dampak yang terjadi akibat adanya pembangunan sarana dan prasarana akan dilakukan pembandingan dengan penelitian yang telah dilakukan, sehingga dampak yang diperkirakan akan timbul dapat dianalisis. Parameter polutan udara yang diperkirakan akan mengalami peningkatan yaitu gas CO, NO2, SO2 dan debu, besar emisi untuk masing-masing peralatan dan sumber daya disajikan pada Tabel IV.3. berikut ini : TABEL IV.3. EMISI POLUTAN UDARA DARI PEMAKAIAN ALAT BERAT
Fostur Emisi lb/Jam No. Bulan CO 1. 2. 3. 4. Buldozer Motor Grader Truck Tractor 0,793 4,215 1,340 2,150 NO2 5,050 1,050 7,630 0,994 SO2 0,304 0,086 0,454 0,690 Partikel Debu 0,165 0,061 0,256 0,165

Sumber : Environmental Data Book, 1992.

Dengan adanya kegiatan konstruksi dapat berakibat terjadinya penurunan kualitas udara terutama partikel debu. Penurunan kualitas udara pada lokasi kegiatan sifatnya sesaat dan

hanya bersifat lokal yaitu di sekitar lokasi kegiatan pembersihan lahan. Komponen lingkungan yang terkena dampak relatif kecil sehingga pentingnya dampak negatif cukup penting (-2) dengan potensi dampak sangat kecil (1). 4.2.2. Peningkatan Kebisingan Sumber kebisingan adalah aktifitas lalu lintas kendaraan pengangkut alat-alat material dan bahan pada pelaksanaan konstruksi atau pembangunan pabrik peleburan biji timah (smelter) PT. Laba-Laba Multindo selama kegiatan pembangunan berlangsung. Hasil pengukuran menunjukkan di lokasi pada lokasi 1 (Jalan Ketapang) sebesar 41,9 dBA, dan lokasi 3 (Jalan Air Mawar) sebesar 61,0 dBA. Apabila dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sesuai KepMenLH Nomor 48/MenLH/10/1996 tentang baku mutu tingkat kebisingan yaitu sebesar 55 dBA, maka pada lokasi 1 memenuhi baku mutu sedangkan lokasi 2 melebihi baku mutu. Menurut Zeans (1976), tingkat kebisingan yang dihasilkan oleh alat-alat berat sebagai berikut seperti disajikan pada Tabel IV.4. berikut : TABEL IV.4. TINGKAT KEBISINGAN YANG DITIMBULKAN DARI KENDARAAN ALAT-ALAT BERAT
Tingkat Kebisingan pada Jarak (dBA) 10 m 1. 2. 3. 4. Generator Yanmar 5 KVA Truck Isuzu Buldozer Loader 68 78 80 70 20 m 62 74 70 68 30 m 58 71 69 61 40 m 50 68 65 61 50 m 45 64 60 58

No.

Bulan

Sumber : Zeans, 1976.

Peningkatan kebisingan secara tidak langsung akan mempengaruhi kenyamanan warga, biarpun kebisingan hanya bersifat temporer yaitu pada saat dilakukan kegiatan pengangkutan bahan dan material selama + 3 bulan. Komponen lingkungan yang terkena dampak juga bersifat lokal yaitu jalan yang dilewati oleh kendaraan. Berdasarkan uraian di atas, maka mobilisasi peralatan dan bahan pada tahap konstruksi mempunyai dampak negatif cukup penting (-2) dengan besaran dampak tergolong kecil (2). 4.2.3. Sikap dan Persepsi Masyarakat Berdasarkan prakiraan jumlah tenaga kerja pada tahap konstruksi berjumlah 20 orang. Kebutuhan tenaga kerja ini relatif kecil, namun kesempatan warga untuk bekerja pada tahap ini masih terbuka. Jumlah penduduk di Kelurahan Bacang sebesar 5.081 jiwa dengan tingkat

10

ketergantungan penduduk pada umur yang produktif sebesar 66,5 %, berarti beban tanggungan umur yang produktif sebesar 33,5 %. Angka ketergantungan di Kelurahan Bacang relatif besar , maka tingkat pengangguran di wilayah studi cukup besar. Pada tahap konstruksi diprakirakan akan menimbulkan dampak peluang kerja terhadap masyarakat yang berada di sekitar lokasi kegiatan namun peluang kerja ini bersifat sementara, hal ini disebabkan waktu pelaksanaan tahap konstruksi terbatas pada lama pelaksanaan konstruksi yaitu lebih kurang 3 bulan. Berdasarkan hal tersebut maka peluang kerja ini pentingnya dampak positif cukup penting (+2) dengan besaran dampak kecil (2). 4.3. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 4.3.1. Pengelolaan Kualitas Udara Pengelolaan lingkungan kualitas udara dapat dilakukan dengan berdasarkan pendekatan teknologi dan sosial ekonomi. a. Pendekatan teknologi Pendekatan teknologi dilakukan dengan memasang alat treatment udara sebelum asap dibuang melalui cerobong asap. Sistem kerja alat yaitu debu timah yang terbawa oleh gas hasil pembakaran (flue gas) diperkirakan mengandung + 70% Sn sebagai timah oksida. GAMBAR 4.1. SISTEM PENGOLAHAN PENCEMARAN UDARA

Dari Tungku Bakar

Regenerator

Exhousevan Dust Collecting Diresirkulasi

Debu yang berasal dari tungku bakar, kemudian disedot menggunakan ekshousvan, kemudian disalurkan melalui filter, setelah debu disaring, maka dialirkan ke dalam bag terlebih dahulu kemudian didinginkan. Agar filter bag tidak cepat rusak terbakar (suhu maksimum yang diperbolehkan 150 0C), maka sebelum memasuki filter bag suhu dari dust collecting diturunkan dari 500 0C menjadi

11

100-1200C dengan mendinginkannya melalui cooling tower. Di pihak lain suhu flue gas jangan dibiarkan kurang dari 1000C agar jangan sampai terjadi pengembunan asam sulfat (sebagai hasil reaksi antara gas SOx dengan uap air, yang akan menyerang filter bag secara kimiawi. b. Pendekatan sosial ekonomi dan budaya 1). Penyediaan tabung pemadam kebakaran 2). Pemakaian baju tahan api 3). Pemakaian perlengkapan K3 sepeti sarung tangan, helm, kaca mata, dll 4). Membagikan penutup hidung (masker) kepada karyawan masyarakat yang berada disekitar lokasi kegiatan. 5). Memberikan pengarahan dan peringatan dini tentang gejala penurunan kualitas udara 6). Memberikan penyuluhan tentang tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengantisipasi gejala yang tidak diinginkan. 7). Check up kesehatan pekerja ke Dokter atau rumah sakit 4.3.2. Pengelolaan Kebisingan Pengelolaan lingkungan dilakukan berdasarkan pendekatan teknologi dan sosial ekonomi. a. Pendekatan teknologi Pendekatan pengelolaan lingkungan peningkatan kebisingan dilakukan dengan Pembuatan ruangan kedap suara Penggunaa mesin kedap suara seperti merk Yanmar Pemakaian ear plug b. Pendekatan sosial ekonomi 1). Penerapan pelaksanaan pendekatan keselamatan, kesehatan kerja (K3) 2). Pembuatan kawasan hijau Pendekatan pemanfatan sebagian areal lahan (dalam lokasi) untuk dijadikan kawasan penghijauan dengan melakukan penanaman pohon pelindung seperti angsana, cemara laut, bambu dan lain sebagainya. 3). Penerapan sanksi terhadap pekerja yang tidak menggunakan peralatan kesehatan keselamatan kerja (K3) 4.3.3. Pengelolaan Sikap dan Persepsi Masyarakat Upaya pengelolaan lingkungan terhadap sikap dan persepsi masyarakat dilakukan berdasarkan pendekatan sosial ekonomi dengan pendekatan sebagai berikut : a. Pengelolaan penerimaan tenaga kerja dilakukan dengan : 1). Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang maksud dan tujuan pembangunan pabrik smelter PT. Laba-Laba Multindo Pangkalpinang.

12

2). Memasang pengumuman penerimaan tenaga kerja melalui media massa lokal (Bangka Pos, Babel Pos, Rakyat Pos) maupun pengumuman resmi dipapan pengumuman Dinas Tenaga Kerja ataupun di Kantor Kelurahan Bacang. 3). Memberikan prioritas penerimaan tenaga kerja lokal sesuai dengan keahlian. 4). Memberikan bantuan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana sosial kemasyarakatan. b. Untuk pengelolaan PHK dilakukan dengan : 1). Memberikan pelatihan keterampilan kepada para tenaga kerja yang akan terkena PHK seperti kerajinan tangan 2). Pelaksanaan PHK dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan tenaga kerja dan dilaksanakan secara bertahap. 3). Mengarahakan tenaga yang di PHK ke lapangan pekerjaan lain sesuai dengan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki. 4.4. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 4.4.1. Pemantauan Kualitas Udara Pemantauan kualitas udara dapat dilakukan dengan metode pengumpulan dan analisis a. Metode pengumpulan Metode pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan dengan menggunakan gas sampler dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. b. Metode analisis Metode analisis dilakukan membandingkan hasil pemeriksaan dengan PP No. 41 Tahun 1999 tentang Baku Mutu Udara Ambien. 4.4.2. Pemantauan Peningkatan Kebisingan Pemantauan peningkatan kebisingan dapat dilakukan dengan metode pengumpulan dan analisis a. Metode pengumpulan Metode pengumpulan dilakukan dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan dengan menggunakan sound level meter.

b. Metode Analisis Metode analisis dilakukan dengan tabulasi, kemudian membandingkan dengan baku mutu tingkat kebisingan berdasarkan KepMenLH Nomor 48/MenLH/II/1996.

13

4.4.3. Pemantauan Sikap dan Persepsi Masyarakat Pemantauan sikap dan persepsi masyarakat dapat dilakukan dengan metode pengumpulan dan analisis a. Metode pengumpulan 1). Melakukan wawancara dan observasi langsung ke masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Wawancara dilakukan dengan mewancarai masyarakat sebanyak 40 orang yang dipilih secara acak, terutama terhadap tokoh masyarakat dan pemuka masyarakat. 2). Mendata langsung jumlah tenaga kerja yang diterima di PT. Laba-Laba Multindo 3). Mewancarai masyarakat terhadap jumlah dana yang disalurkan langsung guna pembangunan sarana dan prasarana 4). Mewancarai masyarakat yang terkena PHK b. Metode analisis Metode analisis dilakukan dengan melakukan inventarisasi dan tabulasi selanjutnya dianalisis secara kuantitatif deskriftif. V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan Hasil telaah didapatkan identifikasi dampak besar dan penting sebagai berikut : a. Penurunan kualitas udara berasal dari aktifitas mobilisasi material /bahan baku potensi besaran dampak sangat kecil; b. Peningkatan kebisingan tergolong kecil; c. Sedangkan sikap/ persepsi masyarakat mempunyai dampak posititif (+) cukup penting dengan besaran dampak kecil. 5.2. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka perlu adanya beberapa saran rencana pengelolaan sebagai berikut : mempunyai dampak negatif (-) dengan besaran dampak dan pembangunan sarana dan prasarana pabrik mempunyai dampak negatif (-) dengan

a. Pengelolaan lingkungan kualitas udara dapat dilakukan dengan berdasarkan pendekatan


teknologi dan sosial ekonomi. Pendekatan teknologi dilakukan dengan memasang alat treatment udara sebelum asap dibuang melalui cerobong asap. Sedangkan pendekatan sosial ekonomi dapat berupa pemberian alat proteksi diri serta penyuluhan. b. Pengelolaan lingkungan peningkatan kebisingan dilakukan berdasarkan pendekatan teknologi dan sosial ekonomi. Pendekatan pengelolaan lingkungan peningkatan kebisingan

14

dilakukan dengan : (1). Pembuatan ruangan kedap suara; (2).Penggunaa mesin kedap suara seperti merk Yanmar; dan (3). Pemakaian ear plug . Sedangkan Pendekatan sosial ekonomi dapat berupa : (1). Penerapan pelaksanaan pendekatan keselamatan, kesehatan kerja (K3); (2). Pembuatan kawasan hijau dengan pemanfatan sebagian areal lahan (dalam lokasi) untuk dijadikan kawasan penghijauan dengan melakukan penanaman pohon pelindung seperti angsana, cemara laut, bambu dan lain sebagainya; (3). Penerapan sanksi terhadap pekerja yang tidak menggunakan peralatan kesehatan keselamatan kerja (K3) c. Upaya pengelolaan lingkungan terhadap sikap dan persepsi masyarakat dilakukan berdasarkan pendekatan sosial ekonomi dengan pendekatan sebagai berikut : 1). Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang maksud dan tujuan pembangunan pabrik smelter PT. Laba-Laba Multindo Pangkalpinang. 2). Memasang pengumuman penerimaan tenaga kerja melalui media massa lokal (Bangka Pos, Babel Pos, Rakyat Pos) maupun pengumuman resmi dipapan pengumuman Dinas Tenaga Kerja ataupun di Kantor Kelurahan Bacang. 3). Memberikan prioritas penerimaan tenaga kerja lokal sesuai dengan keahlian. 4). Memberikan bantuan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana sosial kemasyarakatan. DAFTAR PUSTAKA Fandeli, C. 2000, AMDAL Prinsip Dasar dan Pemapanannya dalam Pembangunan, Liberty, Yogyakarta. Marzali, A. 2002, Pengelolaan Lingkungan Sosial, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Bekerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Salim, E. 1987, Pembangunan Berwawasan Lingkungan, LP3ES, Jakarta. Sastrawijaya,T. 2000, Pencemaran Lingkungan, Reksa Cipta, Jakarta. Soeratmo, 1990, Analisis Dampak Lingkungan, Gajah Mada University, Yogyakarta. Sugarimbun, 1985, Metode Penelitian Survey, LP3ES, PT. Matahari Tokatri, Jakarta. Sumarwoto, 1987, Analisis Dampak Lingkungan, Gadjah Mada University, Yogyakarta. Suriawara, U. 2003, Mikrobiologi Air, Alumni, Bandung

15