Anda di halaman 1dari 3

Tujuan

pengobatan

multiple

personality

disorder

menghilangkan

gejala

dan

mengembalikan identitas asli penderita dari identitas-identitas lain.

Meskipun pasien

mempunyai berbagai kepribadian, perlu diingat bahwa pasien bukan merupakan kumpulan manusia dalam satu tubuh sehingga dalam penanganan multiple personality disorder harus melihat pasien sebagai satu kesatuan yang utuh. Kepribadian-kepribadian yang muncul merupakan perwujudan proses koping selama menghadapi situasi yang traumatik. Terapi yang digunakan adalah psikoterapi dengan model terapi berdasarkan fase pengobatan. Secara global terapi ini membatu pasien mengembangkan rasa aman, stabilitas dan adaptasi aktivitas seharihari. Pada fase stabilisasi, focus pengobatan adalah penganganan memori traumatik. Tahap terakhir adalah integrasi dari berbagai kepribadian dan rehabilitasi (International Society for the Study of Trauma and Dissociation, 2011). Fase awal pengobatan pasien perlu mendapat edukasi mengenai diagnosis, tanda dan gejala, serta proses pengobatan. Tujuan fase ini adalah mengatur rasa aman pasien, mengontrol gejala, memodulasi afek, membangun toleransi stress, serta meningkatkan kemampuan dasar hidup. Masalah rasa aman dan menejemen gejala perlu mendapat perhatian. Pasien multiple personality disorder biasanya mempunyai riwayat kejadian traumatic yang mengancam rasa aman yang menyebabkan timbulnya agresi dan ketakutan yang dapat memicu tindakan yang melukai diri sendiri. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah safety agreement antara dokter dan pasien. Proses ini membantu pasien memahami tentang keamanan diri dan kesadaran pasien untuk mengatur keamana dirinya melalui diskusi tentang pengontrolan perilaku yang tidak aman. Salah satu bagian terpenting pada fase ini adalah pemahaman mengenai berbagai kepribadian yang ada pada diri pasien. Pasien harus mulai memahami, menerima dan mengakses berbagai kepribadian yang sedang mereka alami. Peningkatan komunikasi internal dapat mendorong negosiasi antar kepribadian untuk memastikan berbagai kepribadian tidak akan melakukan tindakan yang bersifat merusak (International Society for the Study of Trauma and Dissociation, 2011). Fase selanjutnya fokus pada penganganan trauma. Prosesnya meliputi mengingat, mentoleransi, mengolah, dan mengintegrasikan kejadian traumatik pada masa lalu. Harus ada kesepakatan kejadian apa saja yang digali serta kepribadian mana yang terlibat, sehingga pasien dapat memahami kejadian traumatiknya pada masa lalu dan dampak pada hidupnya. Proses ini dapat membantu pasien menghilangkan trauma pada masa lalu dan membantu fusi dari berbagai

kepribadian. Jika fusi kepribadian belum terjadi, jangan dipaksakan karena fusi premature dapat menyebabkan distress pada pasien (International Society for the Study of Trauma and Dissociation, 2011). Fase ketiga adalah integrasi dan rehabilitasi, pada fase ini terjadi kelanjutan dari fusi kepribadian. Pasien menjadi kurang terfragmentasi dan semakin tenang. Pasien akan mampu meninjau trauma masa lalu dari perspektif yang terpadu dan mulai menganggap trauma tersebut sebagai kenangan. Pasien mulai kurang terfokus pada trauma masa lalu dan mengarahkan energinya untuk hidup yang lebih baik di masa depan. Pengobatan fase ini berakhir jika pasien sudah dapat menjalankan fungsi personal dan interpersonal dengan baik (International Society for the Study of Trauma and Dissociation, 2011). Apabila pasien multiple personality disorder berusaha melukai diri sendiri, hendaknya psikoterapi dilakukan dengan rawat inap di rumah sakit. Perlu dievaluasi komorbiditas lain yang biasanya menyertai pada saat gejala sulit dikontrol, misalnya multiple personality disorder yang disertai episode depresi berat. Depresi sebagai komorbiditas yang juga perlu mendapatkan penanganan segera. Pada pasien multiple personality disorder yang menjalani rawat jalan,

frekuensi dan durasi treatmen dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tujuan pengubatan, status fungsional pasien, karakteristik pasien, kemampuan dokter, kemampuan terapis, kemampuan finansial. Waktu yang dibutuhkan untuk psikoterapi tidak cukup dalam hitungan minggu atau bulan, terkadang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Idealnya sesi psikoterapi dilakukan 1 kali per minggu dengan durasi 45-50 menit. Tipe psikoterapi yang dapat dilakukan antara lain
cognitive-behavioral therapy untuk mengubah persepsi tentang pengalaman buruk yang menimbulkan stress. Dapat pula dilakukan hypnosis agar pasien lebih tenang (International Society for the Study of

Trauma and Dissociation, 2011). Tidak ada terapi farmakologi khusus untuk mengobati multiple personality disorder. Pengobatan farmakologi diberikan untuk menangani komorbiditi seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur. Anti depresan trisiklik kini mulai digantikan dengan anti depresan yang selektif terhadap inhibitor reuptake serotonin seperti fluoksetin. Selain mengatasi depresi, fluoksetin juga mengatasi kecemasan. Penggunakan benzodiazepine dengan waktu paruh singkat seperti xananax bersifat adiktif, sehingga benzodiazepine dengan waktu paruh yang lama seperti lorazepam lebih aman untuk mengatasi kecemasan. Obat-obatan neuroleptik dapat digunakan untuk mengatasi depresi, kecemasan, dan gangguan tidur seperti clozaril dan quetiapin. Mood

stabilizer kurang efektif karena hanya sedikit pasien multiple personality disorder yang mempunyai komorbiditas gangguan bipolar (International Society for the Study of Trauma and Dissociation, 2011). Terapi keluarga juga perlu dilakukan. Terapi ini bertujuan untuk mengedukasi keliuarga pasien mengenai penyakit, penyebab, dan gejala. Sehingga keluarga dapat mengenali jika terjadi rekurensi (International Society for the Study of Trauma and Dissociation, 2011).

International Society for the Study of Trauma and Dissociation. 2011. Guidelines for Treating Dissociative Identity Disorder in Adults, Third Revision, Journal of Trauma & Dissociation, 12:2, 115-187