Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Sistem pernafasan mencakup saluran pernapasan yang berjalan ke paru, paru itu sendiri, dan struktur-struktur toraks (dada) yang terlibat menimbulkan gerakan udara masuk keluar paru melalui saluran pernafasan. Saluran pernafasan adalah saluran yang mengangkut udara antara atmosfer dan alveolus, tempat terakhir yang merupakan satu-satunya tempat pertukaran gas-gas antara udara dan darah dapat berlangsung. Saluran pernapasan berawal di saluran hidung (nasal). Saluran hidung berjalan ke faring (tenggorokan), yang berfungsi sebagai saluran bersama bagi sistem pernapasan maupun sistem pencernaan. Terdapat dua saluran yang berjalan di faring, yaitu trakea (windepipe), tempat lewatnya udara ke paru, dan esofagus, saluran tempat lewatnya makanan ke lambung. Trakea terbagi menjadi dua cabang utama, bronkus kanan dan kiri. Di dalam setiap paru, bronkus terus bercabang menjadi saluran pernafasan yang semakin sempit, pendek, dan banyak. Cabang terkecil dikenal dengan bronkiolus. Di ujung-ujung bronkiolus terkumpul alveolus, kantung udara kecil tempat terjadinya pertukaran gas-gas antara udara dan darah.

BAB II ISI
Saluran pernafasan dibagi menjadi dua, yaitu saluran pernafasan atas dan bawah dengan perbatasannya adalah laring.

A. Saluran Pernapasan Atas

1.

Hidung Di dalam hidung (nasus) terdapat organum olfactorium perifer. Fungsi hidung dan cavitas

nasi berhubungan dengan: a. Fungsi penghidu b. Pernafasan c. Penyaringan debu

d. Pelembapan udara pernapasan e. Penampungan sekret dari sinus paranasales dan ductus nasolacrimalis Bentuk luar hidung sangat bervariasi dalam hal ukuran dan bentuk, terutama karena perbedaan pada tulang rawan hidung. Punggung hidung yang meluas dari akar hidung di wajah ke puncaknya (ujung hidung) Hidung meliputi bagian eksternal yang menonjol dari wajah dan bagian internal berupa rongga hidung sebagai alat penyalur udara. Hidung bagian luar tertutup oleh kulit dan disupport oleh sepasang tulang hidung. Rongga hidung terdiri atas :

Vestibulum yang dilapisi oleh sel submukosa sebagai proteksi Dalam rongga hidung terdapat rambut yang berperan sebagai penapis udara Struktur konka yang berfungsi sebagai proteksi terhadap udara luar karena strukturnya yang berlapis

Sel silia yang berperan untuk mlemparkan benda asing ke luar dalam usaha untuk membersihkan jalan napas (Seeley,2004)

Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum. Masing-masing rongga hidung dibagi menjadi 3 saluran oleh penonjolan turbinasi atau konka dari dinding lateral. Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Lendir di sekresi secara terus-menerus oleh sel-sel goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia. (Seeley,2004)

Rongga hidung dimulai dari Vestibulum, yakni pada bagian anterior ke bagian posterior yang berbatasan dengan nasofaring. Rongga hidung terbagi atas 2 bagian, yakni secara longitudinal oleh septum hidung dan secara transversal oleh konka superior, medialis, dan inferior. (Seeley,2004) Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru. Jalan napas ini berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirupkan ke dalam paru-paru. Hidung bertanggung jawab terhadap olfaktori atau penghidu karena reseptor olfaksi terletak dalam mukosa hidung. Fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia. (Seeley,2004)

Batas- batas cavitas nasi Atap cavitas nasi berbentuk lengkung dan sempit, kecuali pada ujungnya di sebelah posterior; di sini dapat dibedakan tiga bagian (frontonasal, etmoideal, dan sfenoideal) yang dinamakan sesuai dengan nama tulang-tulang pembatasnya. Dasar cavitas nasi yang lebih luas daripada atapnya, dibentuk oleh processus palatinum maxillae dan lamina horizontalis ossis palatini Dinding medial cavitas nasi dibentuk oleh septum nasi Dinding lateral cavitas nasi berwujud tidak rata karena adanya tiga tonjolan yang berbentuk seperti gulungan, yakni concha nasalis. Vaskularisasi dan Persarafan Pendarahan dinding medial dan lateral cavitas nasi terjadi melalui cabang arteria spheno palatina, arteria ethmoidalis anterior dan arteria ethmoidalis posterior, arteri palatina mayor, arteri labialis superior, dan rami lateralis arteria facialis. Plexus venosus menyalurkan darah kembali ke dalam vena sphenopalatina, vena facialis, dan vena ophtalmica. Persarafan bagian dua pertiga inferior membran mukosa hidung terutama terjadi melalui nervus nasopalatinus, cabang nervus cranialis V2. Bagian anterior dipersarafi oleh nervus ethmoidalis anteior, cabang nervus nasociliaris yang merupakan cabang nervus cranialis V1. Dinding lateral cavitas nasi memperoleh persarafan melalui rami nasales maxilaris (nervus cranialis V2), nervus palatinus major, dan nervus ethmoidalis anterior. Fungsi Rongga Hidung Terdapat 3 fungsi Rongga Hidung, antara lain : a. Dalam hal pernafasan, udara yang diinspirasi melalui rongga hidung akan menjalani tigs proses yaitu penyaringan (filtrasi), penghangatan, dan pelembaban. Penyaringan dilakukan oleh membran mukosa pada rongga hidung yang sangat kaya akan pembuluh darah dan glandula serosa yang mensekresikan mukus cair untuk membersihkan udara sebelum masuk ke Oropharynx. Penghangatan dilakukan oleh jaringan pembuluh darah yang sangat kaya

pada ephitel nasal dan menutupi area yang sangat luas dari rongga hidung. Dan pelembaban dilakukan oleh concha, yaitu suatu area penonjolan tulang yang dilapisi oleh mukosa. (Seeley,2004) b. Epithellium olfactory pada bagian meial rongga hidung memiliki fungsi dalam penerimaan sensasi bau. (Seeley,2004) c. Rongga hidung juga berhubungan dengan pembentukkan suara-suara fenotik dimana ia berfungsi sebagai ruang resonansi. (Seeley,2004)

2. Faring
Faring merupakan saluran yang memiliki panjang kurang lebih 13 cm yang menghubungkan nasal dan rongga mulut kepada larynx pada dasar tengkorak. Faring meluas dari dasar cranium sampai tepi bawah cartilago cricoidea di sebelah anterior dan sampai tepi bawah vertebra cervicalis VI di sebelah posterior. Bagian faring yang terlebar (kira-kira 5 cm) terdapat setinggi os hyoideum dan bagian paling sempit (kira-kira 1,5 cm) pada ujung bawahnya, yakni pada peralihan ke esofagus. Dinding faring terutama dibentuk oleh dua lapis otot-otot faring. Lapisan otot sirkular di sebelah luar terdiri dari tiga otot konstriktor. Lapisan otot internal yang terutama teratur longitudinal, terdiri dari muskulus palatopharyngeus, musculus stylopharingeus, dan musculus salphingopharingeus. Otot-otot ini mengangkat faring dan laring sewaktu menelan dan berbicara. Bagian dalam Faring dan Fungsinya nasofaring

ada saluran penghubung antara nasopharinx dengan telinga bagian tengah, yaitu Tuba Eustachius dan Tuba Auditory

ada Phariyngeal tonsil (adenoids), terletak pada bagian posterior nasopharinx, merupakan bagian dari jaringan Lymphatic pada permukaan posterior lidah

Mempunyai fungsi respiratorik.

orofaring

Merupakan bagian tengah faring antara palatum lunak dan tulang hyoid. Refleks menelan berawal dari orofaring menimbulkan dua perubahan, makanan terdorong masuk ke saluran pencernaan (oesephagus) dan secara simultan katup menutup laring untuk mencegah makanan masuk ke dalam saluran pernapasan (Seeley,2004)

laringofaring

Mempunyai fungsi pencernaan makanan Merupakan posisi terendah dari faring. Pada bagian bawahnya, sistem respirasi menjadi terpisah dari sistem digestil. Makanan masuk ke bagian belakang, oesephagus dan udara masuk ke arah depan masuk ke laring.

Vaskularisasi Arteria tonsillaris, cabang arteria facialis melintas lewat musculus constrictor pharyng superior dan masuk ke kutub bawah tonsil. Tonsila palatina juga menerima ranting-ranting arterial dari arteria palatina ascendens, arteria lingualis, arteria palatina descendens, dan arteria pharyngea ascendens. Persyarafan Ketiga muskulus konstriktor faring dipersyarafi oleh plexus pharyngealis (nervus glossopharyngeus) yang terletak pada dinding lateral faring, terutama pada muskulus konstriktor faringealis medius. Susunan secara bertumpang tindih muskulus konstriktor menyisakan empat celah pada otot-otot tersebut untuk struktur yang memasuki faring.

B. Saluran Pernapasan Bawah


1. Laring

Laring tersusun atas 9 Cartilago ( 6 Cartilago kecil dan 3 Cartilago besar ). Terbesar adalah Cartilago thyroid yang berbentuk seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan membentuk adams apple, dan di dalam cartilago ini ada pita suara. Sedikit di bawah cartilago thyroid terdapat cartilago cricoid. Laring menghubungkan Laringopharynx dengan trachea, terletak pada garis tengah anterior dari leher pada vertebrata cervical 4 sampai 6. (Seeley,2004) Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk. Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas: Epiglotis daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan Glotis Kartilago Thyroid ostium antara pita suara dalam laring kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun ( Adams Apple ) Kartilago Krikoid satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago thyroid )

Kartilago Aritenoid Pita suara

digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago thyroid ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara; pita suara melekat pada lumen laring. (Seeley,2004)

Ada 2 fungsi lebih penting selain sebagai produksi suara, yaitu : a. Laring sebagai katup, menutup selama menelan untuk mencegah aspirasi cairan atau benda padat masuk ke dalam tracheobroncial b. Laring sebagai katup selama batuk 2. . Trakea

Trakea merupakan suatu saluran rigid yang memeiliki panjang 11-12 cm dengan diametel sekitar 2,5 cm. Trake mulai dari ujung bawah laring setinggi vertebra cervicalis VI dan berakhir pada angulus sterni setinggi vertebrae thoraciae V-VI. Trakea terdapat pada bagian oesephagus yang terentang mulai dari cartilago cricoid masuk ke dalam rongga thorax. Tersusun dari 16 20

cincin tulang rawan berbentuk huruf C yang terbuka pada bagian belakangnya. Didalamnya mengandung pseudostratified ciliated columnar epithelium yang memiliki sel goblet yang mensekresikan mukus. Terdapat juga cilia yang memicu terjadinya refleks batuk/bersin. Trakea mengalami percabangan pada carina membentuk bronchus kiri dan kanan. Di sebelah lateral trakea terdapat arteria carotis communis dan lobus-lobus glandulae thyroideae. Inferior dari isthmus glandula thyroidea terdapat arcus venosus jugularis dan vena thyroidea inferior (Seeley,2004). 3. Bronchial Tree Right principal bronchus Lebih pendek, lebar, dan lebih vertical dibanding kiri, panjang 2.5cm, sudut : 22 - 25o dari garis tengah Lebih banyak benda asing masuk ke Bronchus kanan. (ECA, 2002)

Left principal bronchus Lebih sempit, Lebih panjang, dan lebih horizontal dibanding kanan, panjang 5cm, Sudut : 35 - 36o dari garis tengah. (ECA, 2002) Bronchus Principalis Dexter & Sinister Setinggi Corpus Vertebra Th 5. Masing-masing principal bronchus bercabang menjadi lobar bronchi (2 kiri, 3 kanan), sesuai lobus paru. Masing-masing lobar bronchus akan bercabang menjadi segmental bronchi, sesuai dengan segmental paru. (ECA, 2002)

Di semua bagian trakea dan bronkus yang tidak terdapat tulang rawan (kartilago), dindingnya terutama terbentuk oleh otot polos. Dinding bronkiolus juga hampir seluruhnya merupakan otot polos, kecuali bronkiolus terminalis, yang disebut bronkiolus respiratorius, yang terutama terdiri dari epitel-epitel paru. Jaringan fibrosa dan beberapa serabut otot polos. Banyak penyakit obstruksi paru yang disebabkan oleh penyempitan bronkus yang lebih kecil dan bronkiolus yang lebih besar, seringkali karena kontraksi yang berlebihan dari otot polos itu sendiri. Pada keadaan pernafasan normal, udara dapat dengan sangat mudah mengalir melalui jalan pernapasan, sehingga dengan gradient dari alveolus ke atmosfer kurang dari 1 sentimeter tekanan air saja sudah cukup untuk menyebabkan sejumlah aliran udara guna pernapasan yang tenang. Jumlah tahanan terbesar untuk aliran udara tidak terjadi pada jalan udara kecil pada bronkiolus terminalis, tetapi pada beberapa bronkiolus dan bronkus yang lebih besar di dekat trakea. Penyebab tahanan yang besar ini adalah karena jumlah bronkus besar relatif lebih sedikit

dibandingkan dengan sekitar 65.000 bronkiolus terminalis parallel yang setiap bronkiolus hanya dilalui oleh sedikit udara. Namun dalam keadaan sakit, bronkiolus yang lebih kecil seringkali mempunyai peran yang lebih besar dalam menentukan resistensi aliran udara karena ukurannya yang lebih kecil dan karena bronkiolus mudah tersumbat akibat (1) kontraksi otot pada dindingnya, (2) terjadinya edema pada dinding bronkiolus, atau (3) pengumpulan mucus di dalam lumen bronkiolus. Pengaturan langsung bronkiolus oleh serabut saraf simpatis sifatnya relative lemah karena beberapa serabut ini menembus masuk ke bagian pusat dari paru. Namun, cabang bronkus sangat terpapar dengan norepinefrine dan epinefrine , yang dilepaskan ke dalam darah oleh perangsangan simpatis dari medulla kelenjar adrenal. Kedua hormon ini, terutama epinefrin, karena rangsangannya yang lebih besar pada reseptor beta-adrenergik, menyebabkan dilatasi cabang bronkus. Beberapa serabut saraf parasimpatis yang berasal dari nervus vagus menembus parenkim paru. Saraf ini mensekresikan asetilkolin dan bila diaktivasi, akan menyebabkan konstriksi ringan sampai sedang pada bronkiolus. Bila proses penyakit seperti asma telah menyebabkan beberapa konstriksi pada bronkiolus, maka adanya perangsangan saraf parasimpatis berikutnya seringkali memperburuk keadaan. Bila hal ini terjadi, maka pemberian obat-obatan yang menghambat efek asetilkolin, seperti atropine kadang-kadang dapat merelaksasikan jalan pernapasan sehingga cukup untuk mengatasi obstruksi. Kadang-kadang parasimpatis diaktivasi oleh reflex yang berasal dari paru. Sebagian berawal dari iritasi pada membrane epitel dari jalan napas itu sendiri, yang dicetuskan oleh gas-gas beracun, debu, asap rokok, atau infeksi bronchial. Reflex konstriktor bronkiolar juga sering terjadi bila mikroemboli menyumbat arteri paru yang kecil. Beberapa substansi yang terbentuk dalam paru itu sendiri seringkali sangat aktif menyebabkan konstriksi bronkiolus. Dua diantaranya yang paling penting adalah histamine dan substansi anafilaksis yang bereaksi lambat. Keduanya dilepaskan dalam jaringan paru oleh sel mast selama reaksi alergi, terutama yang disebabkan oleh adanya serbuk sari dalam udara. Oleh karena itu, kedua substansi tersebut memegang peranan penting sebagai penyebab obstruksi

saluran napas yang terjadi pada asma alergika; terutama substansi anafilaksis yang bereaksi lambat. Seluruh saluran napas, dari hidung sampai bronkiolus terminalis, dipertahankan agar tetap lembab oleh lapisan mucus yang melapisi seluruh permukaan. Mukus ini disekresikan sebagian oleh sel goblet mukosa dalam lapisan epitel saluran napas, dan sebagian lagi oleh kelenjar submukosa kecil. Selain untuk mempertahankan kelembaban permukaan, mucus juga menangkap partikel-partikel kecil dari udara inspirasi dan menahannya agar tidak sampai ke alveoli. Mukus itu sendiri dikeluarkan dari saluran napas dengan cara sebagai berikut. Seluruh permukaan saluran napas, baik dalam hidung maupun dalam saluran napas bagian bawah sampai bronkiolus terminalis, dilapisi oleh epitel bersilia, dengan kira-kira 200 silia pada setiap epitel. Silia ini terus menerus memukul dengan kecepatan 10-20 kali per detik. Dengan demikian, silia dalam paru memukul kea rah atas, sedangkan silia dalm hidung memukul kea rah bawah. Pukulan yang terus menerus ini menyebabkan selubung mucus ini mengalir dengan lambat, pada kecepatan beberapa millimeter per menit, kea rah faring. Kemudian mucus dan partikel-partikel yang dijeratnya ditelan atau dibatukkan ke luar. Pembuluh darah bronchial Darah juga mengalir ke paru melalui beberapa arteri bronkial kecil yang berasal dari sirkulasi sistemik, berjumlah sekitar 1sampai 2 persen curah jantung total. Darah arteri bronchial ini merupakan darah teroksigenasi, berbeda dengan darah dalam arteri paru yang terdeoksigenasi sebagian. Darah ini menyuplai jaringan penunjang paru, termasuk jaringan ikat, septa, dan bronki besar maupun kecil. Sesudah darah arteri bronchial melewati jaringan penunjang, darah masuk ke dalam vena-vena paru dan masuk ke atrium kiri, dan bukan kembali ke atrium kanan. Karena itu, aliram ke dalam atrium kiri dan curah ventrikel kiri kira-kira 1 sampai 2 persen lebih besar daripada curah ventrikel kanan. Saluran limfe Pembuluh limfe terdapat di semua jaringan penunjang paru, dimulai pada ruang jaringan ikat yang mengelilingi bronkiolus terminalis, berjalan ke hilus paru, dan kemudian terutama masuk ke dalam duktus limfatik torasikus kanan. Partikel kecil yang memasuki alveoli sebagian

diangkut melalui saluran-saluran ini, dan protein plasma yang keluar dari kapiler paru juga diangkut dari jaringan paru, dengan demikian membantu untuk mencegah edema paru. Refleks Batuk
merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk membersihkan trakeobronkial dari sekresi mucus dan benda asing. Ketika batuk menjadi berlebihan dan mengganggu, ia menjadi suatu gejala umum dari penyakit yang nantinya memerlukan pengobatan. (Braunwald, 2008) bronkus dan trakea merupakan daerah sensitive terhadap sentuhan halus (laring dan karina merupakan daerah paling sensitive) impuls aferen yang berasal dari saluran napas terutama berjalan melalui n.vagus ke medula, dan mengaktifkan lintasan neuronal medula yang menimbulkan batuk itu sendiri sebagai berikut:

Benda asing atau secret berlebihan pada saluran napas Merangsang saluran napas yang sensitif Menimbulkan impuls aferen yang berjalan melalui n.vagus, trigeminal, glossopharyngeal, dan superior laryngeal

Menuju medula dan mengaktifkan lintasan neural medula, menimbulkan impuls efferren melalui n.layngeal &spinal

2,5 L udara diinspirasi Epiglottis & pita suara menutup erat-erat untuk menjerat udara dalm paru

Otot-otot perut berkontraksi dengan kuat mendorong diafragma, sedangkan otot-otot ekspirasi lain (intercostals internus) juga berkontraksi dengan kuat Tekanan dalam paru sampai 100 mmHg

Pita suara dan epiglottis terbuka lebar

Udara bertekanan tinggi dalam paru meledak keluar (75100 mL/jam) Penekanan kuat pada paru Bronkus &trakea menjadi kolaps sehingga bagian yang tidak berkatilago berinvaginasi ke dalam

Udara yang meledak tersebut benar-benar mengalir melalui celah-celah bronkus &trakea Timbul refleks batuk membawa benda asing dalam bronkus dan trakea keluar

Iritan atau infeksi menetap dalam saluran napas

Batuk kronis

C. Perbedaan Saluran Nafas Anak dan Dewasa

1. Tuba Eustachius
Tuba eutachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Fungsi tuba ini adalah untuk ventilasi, drenase secret dan menghalangi masuknya secret dari nasofaring ke telinga tengah. Bila tuba terbuka maka terasa udara masuk ke dalam rongga telinga tengah yang menekan membran timpani ke arah lateral. (Rusmarjono, Soepardi, 2007). Tuba biasanya dalam keadaan tertutup dan baru terbuka apabila oksigen diperlukan masuk ke telinga tengah atau pada saat mengunyah, menelan dan menguap.gangguann fungsi

tuba dapat terjadi oleh beberapa hal, seperti tuba terbuka abnormal yang memungkinkan infeksius bisa masuk. (Rusmarjono, Soepardi, 2007). Pada anak tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukannya lebih horizotal dari tuba orang dewasa. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah 9 bulan adalah 17,5 mm. Perbedaan inilah yang memungkinkan lebih cepat terjadinya infeksi pada anak dibawah 9 bulan karena secret lebih cepat masuk ke tuba eutachius dari hidung sehingga kemungkinan anak untuk terkena infeksi telinga lebih besar seperti otitis media. (Rusmarjono, Soepardi, 2007). 2. Laring Ukuran laring bayi sama pada laki-laki dan perempuan. Akan tetapi lebih kecil perbandingannya dengan ukuran tubuh daripada laring dewasa. Pada bayi, kerangka tulang rawang laring lebih lunak, dan ligamen yang menyangganya lebih longgar, membuat laring lebih mudah mengempis jika mendapat tekanan negatif di bagian dalam. (Ballenger,1994)

Bagian laring

Anak

Pubertas

Dewasa Pria Wanita

Pita suara Panjang Bag. Membran Bag. Kartilago 6-8 mm 3-4 mm 3-4 mm 12-15 mm 17-23 mm 7-8 mm 5-7 mm 12,5-17 mm

11,5-16 mm 8-11,5 mm 5,5-7 mm 4,5-5,5 mm

Glotis Lebar istirahat Maksimum 3 mm 6 mm 5 mm 12 mm 8 mm 19 6 mm 13 mm

Infraglotis Sagital Transversal 5-7 mm 5-7 mm 15 mm 15 mm 25 mm 24 mm 18 mm 17 mm

Jaringan epithel krang padat, lebih banyak dan lebih bervaskuler pada bayi, yang cendrung mengakumulasi cairan jaringan. Hal ini merupakan faktor penting penyebabterjadinya

obstruksi daerah infraglotik dan supraglotik akibat edem inflamasi pada anak kecil. (Ballenger,1994) Beberapa struktur laring mempunyai perbedaan bentuk pada bayi. Epiglotis cendrung berbentuk huruf omega, maka akan cendrung lebih besar untuk menutup vestibulum bila terjadi edema. Tepi epiglotis yang berbentuk huruf omega kurang menopang plika ariepiglotik

dibandingkan tepi epiglotis yang rata pada orang dewasa yang dapat membantumenahan plikaariepiglotik tersebut pada posisi lateral. (Ballenger,1994)

BAB III KESIMPULAN

Saluran pernafasan, baik saluran pernafasan atas dan saluran pernafasan bawah memiliki fungsi mendistribusikan udara ke dalam paru. Salah satu masalah terpenting pada seluruh bagian saluran pernapasan adalah menjaga saluran tetap terbuka agar dapat keluar dan masuk alveoli dengan mudah. Untuk mempertahankan trakea agar tidak kolaps, terdapat cincin kartilago multipel yang mengelilingi trakea pada kira-kira lima perenam panjang trakea. Pada dinding bronkus, terdapat lempeng kartilago yang kecil dan melengkung, yang mempertahankan rigiditas namun tetap memungkinkan pergerakan yang cukup agar paru-paru dapat mengembang dan mengempis. Namun, bronkioli dilebarkan oleh tekanan transpulmonal yang sama yang mengembangkan alveoli. Dengan demikian, bila alveoli melebar, bronkiolus juga melebar, tetapi tidak selebar alveoli.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A.C. & Hall, J.E., 2005. Textbook of Medical Physiology 11th ed., Saunders. Sherwood Lauralee, 2001, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, Jakarta:EGC

Philadelphia:

Seeley, Stephens,Tate, 2004, Anatomy and Physiology,Sixth Edition, The McGrawHill Companies, available in server.fkunram.edu/anatomy fisiologi.