Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH ILMIAH Tugas dengan pendekatan antomi klinis PTERIGIUM

OLEH : NOOR DHIAN MAHARJANTI / J 500 090 077

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011

DAFTAR ISTILAH

bFGF EGF HB-EGF HPV HSV IGF-BP IL MMP PDGF TGF- TNF VEGF

: basic fibroblast growth factor : epidermal growth factor : heparin-binding EGF : human papilloma virus : herpes simplex virus : insulin-like growth factor binding proteins : interleukin : matrix metalloproteinase : platelet-derived growth factor : transforming growth factor- : tumor necrosis factor : vascular endothelial growth factor

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pterigium merupakan salah satu penyakit oftalmik yang biasa dan merupakan masalah kesehatan yang penting (Liang, 2010). Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Diduga bahwa paparan ultraviolet merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterigium (Detoraks, 2009). Pterigium biasanya berkembang pada pasien yang hidup di iklim tropis dan bisa juga merupakan suatu respon dari kekeringan mata yang kronik dan paparan sinar matahari (Kanskii, 2007). Pterigium juga berpotensi penyebab kebutaan pada pertumbuhan pterigium yang lanjut, sehingga memerlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki penglihatan. Pterigium merupakan penyakit permukaan mata yang

dikarakteristikan dengan adanya lesi di limbus kornea. Lesi-lesi stem sel dari limbus kornea yang diinduksi oleh konjungtivitis, trakoma, dan radiasi sinar UV yang mengambil peran pada peningkatan jumlah pterigium yang ada. Pterigium ini dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti usia, gender, paparan radiasi sinar UV, dan kuantitas waktu di luar ruangan (Liang, 2010). Suatu kondisi yang disebut sebagai pterygium zone (zona pterigium) diartikan sebagai suatu daerah geografis dengan garis lintang 40 ke utara dan selatan dari garis khatulistiwa. Berdasarkan hasil laporan, negara-negara yang terletak di daerah ini, prevalensinya bisa mencapai 22%. Sedangkan negara-negara di luar daerah geografis di atas, prevalensinya hanya kurang dari 2% dari populasi umum. Lesi pterigium ini kebanyakan menyerang pasien-pasien yang terkena paparan sinar matahari, seperti orang yang bekerja di luar rumah. Dan insidensi pria lebih banyak daripada wanita karena adanya perbedaan gaya hidup diantara gender di kebanyakan negara (Detoraks, 2009). Penyakit ini terjadi di seluruh belahan bumi dan rata-rata prevalensinya sangat luas yaitu 1,2 % sampai 23,4 % (Anonim, 2008). Berdasarkan Beijing Municipal Health Bureau, prevalensi penyakit mata di 198 desa dari 13 area perkotaan Beijing telah diperiksa dari Juni 2008 sampai Agustus 2009 terdapat sejumlah 37.067 (84%) orang yang bekerja sebagai petani, terdiri atas pria 11.293 orang dan wanita 25.774 orang. Dari 37.067 petani tersebut telah ditemukan sebanyak 1.395 individu (579 pria dan 816 wanita) dengan rata-rata usia 69,85 8,43 tahun telah mengalami pterigium (Liang, 2010). Sedangkan pada Amerika Serikat, prevalensi pterigium mencapai 2 7 % (Donnenfeld, 2003). Penyakit mata ini juga sangat tidak biasa bila terjadi pada pasien yang berusia sebelum 20 tahun. Prevalensi pterigium tertinggi terjadi pada pasien yang berusia 40
3

tahun ke atas sedangkan insidensi pterigium tertinggi dialami oleh pasien berusia 20 40 tahun (Rasool, 2010). Pterigium bukanlah penyakit yang berbahaya (tidak mengancam jiwa), tapi secara estetika tampak terlihat kurang indah dilihat dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penderita serta dapat mengancam pekerjaan penderita akibat kebutaan yang ditimbulkan pterigium. Masalah yang penting dari pterigium ialah jika penyakit ini tumbuh sampai ke kornea, lalu menyilang di kornea, maka dapat mengganggu fungsi penglihatan. Jika pterigium tumbuh sampai bagian tengah dari kornea (pupil), maka akan terjadi kebutaan akibat tidak bisa masuknya cahaya ke dalam mata lewat pupil (Anonim, .). Perlu diketahui juga bahwa kelainan degeneratif pada konjungtiva ini, masih menempati urutan utama morbiditas penyakit di klinik-klinik mata di negara tropis (Suhardjo, 2007). Pterigium yang berbentuk sayap dan terletak di nasal dengan apeks mengarah ke kornea di mana terjadi perluasan secara progresif ini dapat menyebabkan iritasi dan, jika luas, dapat mencapai aksis visual. Dapat dieksisi namun bisa berulang kembali (James, 2006). Dari keseluruhan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk menulis tentang pterigium. Meskipun pterigium bukanlah penyakit yang dapat membahayakan jiwa si penderita, namun perlu diketahui bahwa penyebab terjadinya pterigium ini sangatlah dekat dalam kehidupan sehari-hari, seperti paparan sinar matahari, debu, dan angin. Untuk itu, diperlukan suatu pemahaman kepada masyarakat umum terutama yang bertempat tinggal di daerah tropis tentang pterigium ini. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, perumusan masalah yang dapat disusun adalah : 1. Bagaimana mekanisme terjadinya pterigium terutama pada populasi yang bertempat tinggal di daerah tropis dan dampak yang diakibatkan secara komprehensif ? 2. Bagaimana sudut pandang anatomi melihat pterigium sebagai salah satu penyebab kebutaan ? C. Maksud dan Tujuan Penulisan Maksud dan Tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Mengetahui mekanisme keterkaitan kondisi lingkungan dan letak geografis terhadap kejadian pterigium. 2. Mengetahui pterigium sebagai salah satu penyebab kebutaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Anatomi Mata dan Fisiologi Penglihatan A.1. Orbita Untuk menciptakan suatu keadaan struktural yang mampu melindungi mata dari jejas tanpa mengurangi dan bahkan mengoptimalkan fungsinya, maka bola mata terletak di dalam suatu rongga skeletal yang disebut orbita. Secara kasar orbita memiliki bentuk seperti piramida empat sisi dengan dasarnya (margo orbitalis) menghadap ke depan luar dan agak ke bawah, sedang puncaknya adalah foramen optikum
(7,12)

. Orbita merupakan lekuk untuk

menempatkan bola mata, tetapi di dalamnya juga terdapat otot-otot ekstraokular, saraf, pembuluh darah, jaringan lemak, dan jaringan ikat; semuanya berguna untuk berfungsinya mata secara optimal (7). A.2. Palpebra dan Konjungtiva Fungsi palpebra antara lain untuk melindungi dari segala trauma, mencegah penguapan air mata, menjaga kelembaban mata, dan sebagai estetika. Pada tepi palpebra terdapat bulu mata (silia) yang berguna untuk proteksi mata terhadap sinar, di samping juga terhadap traumatrauma minor. Di dalam palpebra terdapat tarsus, yaitu jaringan ikat padat bersama dengan jaringan elastik
(7)

. Bagian belakang palpebra ditutupi oleh konjungtiva. Konjungtiva

merupakan lapisan mukosa (selaput lendir) yang melapisi palpebra bagian dalam dan sklera. Konjungtiva dibagi menjadi konjungtiva bulbi, palpebra, dan forniks. Konjungtiva bulbi melapisi bagian depan berupa lapisan tipis, transparan, dan pembuluh darahnya tampak. Konjungtiva palpebra melapisi bagian dalam palpebra dan melekat erat pada tarsus sehingga tidak dapat digerakkan
(7,12)

. Konjungtiva forniks terletak di antara konjungtiva bulbi dan

palpebra, dan berada pada forniks. Kelopak mata berperan sebagai pelindung dengan adanya refleks menutup kelopak akibat rangsangan di kornea, adanya cahaya yang menyilaukan, maupun akibat adanya obyek yang bergerak ke arah mata (7). A.3. Kornea Bola mata dapat dipandang sebagai suatu sistem dua bola yang berlainan volume, di mana bola yang lebih kecil terletak di dalam bola yang lebih besar. Kornea merupakan dinding depan bola mata, berupa jaringan transparan dan avaskular. Sepertiga radius tengah disebut zona optik dan lebih cembung. Kornea melenjutkan diri sebagai sklera ke arah belakang, dan perbatasan antara keduanya disebut limbus. Kornea terdiri atas lima lapisan dari lapisan terluar ke lapisan dalam, yaitu epitel, membran Bowman, stroma, membran Descement, dan endotel. Epitel (kira-kira 6 lapis) tidak mengandung lapisan tanduk sehingga sangat peka
5

terhadap trauma kecil. Membran Bowman merupakan selaput tipis jaringan ikat fibrosa. Stroma merupakan lapisan yang paling tebal, yang terdiri atas serabut kolagen yang tersusun teratur dan padat dan dilanjutkan dengan membran Descement. Lapisan terdalam kornea ialah endotel yang terdiri atas satu lapis endotel yang sel-selnya tidak bisa membelah B. Pterigium B.1. Definisi Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterigium tumbuh berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi (1,8,9). B.2. Etiologi dan Faktor Risiko Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas. Tetapi penyakit ini lebih sering pada orang yang tinggal di daerah iklim panas. Oleh karena itu gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap matahari (sinar UV), daerah kering, inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. Pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang disebabkan kelainan tear film menimbulkan pertumbuhan fibroplastik baru merupakan salah satu teori (1). B.3. Patogenesis Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan patogenesis terjadinya pterigium. Teori pertama mengatakan perkembangan pterigium dihubungkan dengan gaya hidup, seperti bekerja di luar rumah atau terpapar sinar matahari atau debu memunculkan sebuah pemikiran bahwa iritasi kronik permukaan mata oleh faktor-faktor lingkungan tadi, bisa menyebabkan pterigium. Kedua, konsep keturunan, pada suatu kasus telah ditemukan adanya kemungkinan pterigium diturunkan secara autosom dominan, meskipun belum diketahui pasti apakah pterigium ini murni keturunan atau ada hubungannya dengan sinar UV. Dengan ditemukannya keterlibatan tumor suppressor gene, memunculkan mekanisme two hit (teori Knudson). Teori ini mengatakan bahwa mekanisme first hit-nya ialah proses deaktivasi tumor suppressor gene dan second hit-nya ialah faktor lingkungan, seperti infeksi virus atau radiasi UV. Korelasi epidemiologi antara pterigium dengan paparan sinar matahari, memunculkan asumsi bahwa radiasi sinar UV berperan dalam patogenesis pterigium. Ketiga, Korelasi epidemiologi antara pterigium dengan paparan sinar matahari, memunculkan asumsi bahwa radiasi sinar UV berperan dalam patogenesis pterigium. Radiasi UV dihubungkan dengan radikal bebas yang menyerang dan mendeaktivasi beberapa makromolekul. Radikal bebas bisa mengubah protein tear film, termasuk laktoferin dan survivin. Dengan munculnya Stockers line di bagian kepala pterigium (epitel kornea), menunjukkan adanya metabolisme abnormal besi (deposit besi). Besi ini dihubungkan dengan peningkatan pembentukan radikal
6
(7)

bebas lewat reaksi biokimia. Keempat, Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa faktor inisiasi patogenesis pterigium ialah adanya perubahan limbal stem cells yang disebabkan oleh paparan radiasi UV kronik. Dalam penelitian itu dipostulasikan bahwa kerusakan barier limbus korneosklera menyebabkan proses konjungtivalisasi kornea yang menghasilkan pterigium. Pada keadaan normal, konjungtiva, limbus, dan sel kornea mengekspresikan MMP-1. Sedangkan pada limbal basal epithelial cells (sel pterigium) ditemukan ekspresi MMP yang abnormal. Sel pterigium ini mengekspresikan beberapa macam MMP (MMP-1, MMP-2, MMP-3, MMP9, membrane MMP tipe 1 dan 2). Perubahan ekspresi MMP pada sel pterigium memungkinkannya untuk menginvasi dan menyebuk ke Lapisan Bowman dan menyebabkan adhesi lesi pada permukaan kornea. Kelima, Virus yang telah diketahui dapat menyebabkan infeksi oculodermal, yaitu HSV dan HPV. Hasil dari beberapa studi mengatakan bahwa ada keterlibatan HPV dalam pterigium, meskipun ada perbedaan pada ras dan daerah lainnya. Teori selanjutnya mengatakan bahwa trauma genetik yang dimediasi oleh radiasi UV dapat menyebabkan ekspresi beberapa sitokin, growth factors, dan growth factor receptors. Radiasi UV menginduksi sitokin seperti IL-1 yang bekerjasama dengan TNF, dan menyebabkan keratosit kornea. Selain itu, ada IL-6 (menyebabkan migrasi sel epitel lewat induksi reseptor integrin) dan IL-8 (menunjukkan aktivitas mitogenik dan angiogenik). Growth factors yang dimaksud di atas ialah EGF dan HB-EGF, VEGF, bFGF, PDGF, TGF- dan IGF-BP. VEGF terlibat dalam angiogenesis dan diproduksi oleh corneal fibroblasts sebagai respon dari inflamasi atau stimuli berbahaya, termasuk UVR. VEGF dideteksi pada peningkatan jumlah epitel pterigium. Sedangkan bFGF dilibatkan dalam proses penyembuhan kornea sebagai neovascularisasi dan diekspresikan secara berlebihan pada pterygium (4). B.4. Gambaran Klinis Pterigium bisa unilateral atau bilateral. Kira-kira 90% terletak di daerah nasal. Pterigium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi secara bersamaan walaupun pterigium di daerah temporal jarang ditemukan. Kedua mata sering terlibat, tetapi jarang simetris. Perluasan pterigium dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu penglihatan, menyebabkan penglihatan kabur (8). Secara klinis pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fisura interpalpebra. Pterigium dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : body, apex (head) dan cap. Bagian segitiga yang meninggi pada dasarnya ke arah kantus disebut body, sedangkan membentuk batas pinggir pterigium (8).
7

pterigium dengan

bagian atasnya disebut apex dan ke

belakang disebut cap. Sebuah subepithelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan

Pembagian pterygium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi atas 2 tipe, yaitu : a. Progresif pterygium : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di depan kepala pterygium (disebut cap pterygium). b. Regresif pterygium : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya membentuk membran tetapi tidak pernah hilang (6). Pada fase awal pterygium tanpa gejala, hanya keluhan kosmetik. Gangguan terjadi ketika pterigium mencapai daerah pupil atau menyebabkan astigmatisme karena pertumbuhan fibrosis pada tahap regresi. Kadang terjadi diplopia sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan mata (1,6). B.5. Pterigium Dengan Pendekatan Anatomi Menurut Suhardjo et all, pterigium dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu : a. tipe 1 : pterigium kecil, di mana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja. b. tipe 2 : pterygium primer advanced atau pterigium rekuren tanpa keterlibatan zona optis. Pada bentuk ini kepala pterigium terangkat dan menginvasi kornea sampai dengan zona optis. Pada tubuh pterigium sering membesar. c. tipe 3 : pterygium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona optis, merupakan pterigium yang paling berat. Keterlibatan zona optis membedakan grup ini dari yang lain. Pterigium tipe ini dapat mengancam kebutaan (13). Anatomi periorbita, termasuk adanya eyebrows dan keistimewaan bentuk hidung menunjukkan bahwa mata terlindungi dari sinar langsung dari atas. Sebaliknya bahwa mata tidak terlindungi dari sinar arah samping maupun bawah (gambar 1). Pterigium ini menjadi penyebab gangguan mata ketika sudah mencapai optic zone. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perluasan pterigium ke medial dan lateral limbus dapat menutupi sumbu penglihatan, sehingga menyebabkan penglihatan kabur (gambar 2). Gangguan penglihatan yang dimaksud di atas bukanlah disebabkan akibat kerusakan saraf, tetapi kerusakan mekanik. Hal ini dikarenakan zona optik telah tertutup pterigium. Sewaktu menuju ke retina, gelombang cahaya melewati media pembias mata : kornea, humor aquosus, lensa, dan humor vitreus. Sehingga cahaya yang secara normal bisa masuk ke dalam mata, dengan adanya pterigium ini, cahaya tidak bisa memasuki mata (pembiasan cahaya yang memasuki mata terutama terjadi pada kornea).
Gambar 1 Gambar 2 8

nampak kapiler-kapiler yang

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterigium yang tumbuh dan berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi ini bisa menyebabkan kebutaan ketika mencapai optic zone. 2. Etiologi pterigium secara umum dapat disebabkan oleh radiasi sinar UV dan infeksi virus. 3. Secara gambaran klinis yang didapatkan pada penderita pterigium, baik dari segi estetika, kenyamanan penderita, hubungan sosio-masyarakat, dan sebagainya merupakan hal-hal yang seharusnya bisa dihindari sejak dini. 4. Secara arsitektur anatomi mata, hidung, dan periorbita memiliki kekhasan sendiri dan mengambil peran yang penting pada pterigium anatomical approach.

B. Saran Pterigium bukanlah penyakit yang dapat mengancam jiwa penderitanya. Meskipun demikian, mengingat kelainan ini bisa menyebabkan kebutaan, seharusnya ada tindakan pencegahan (preventif) yang dapat dilakukan secara komprehensif terutama bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah tropis agar kualitas hidupnya dapat meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology. External Disease and Cornea. BSSC.(cited 2007 2008). section 8. 2. Anonim. Available from : http://www.eyesbunbury.com.au/_content/documents/PDF_Products/Pterygium.pdf 3. Bruce James, Chris Chew, Anthony Bron. Lecture Notes oftalmologi edisi kesembilan. 2006. Erlangga : Jakarta. 4. Detoraks ET, Spandidos DA. Pathogenetic Mechanisms and Treatment Options for Ophthalmic Pterygium: Trends and Perspectives (Review). International Journal of Molecular Medicine.(cited 2009).23.p.439-447. Available from www.spandidospublications.com/var/spand/publication_497.pdf 5. Donnenfeld ED, Henry D. Perry. Fromer S. Doshi S, Solomon R, Biser S. Subconjunctival Mitomycin C as Adjunctive Therapy before Pterygium Excision. The American Academy of Ophthalmology.(cited 2003). Published by Elsevier Science Inc.p.1012-1016. 6. Edward J H, Mark JM. Ocular Surface Disease, Medical Surgical management, 2002. 7. Hartono, Hernowo AT, Sasongko MB. ANATOMI MATA DAN FISIOLOGI PENGLIHATAN. SU Suhardjo, Hartono, editors. ILMU KESEHATAN MATA. Edisi pertama. Yogyakarta: Bagian Ilmi Penyakit Mata FK UGM, 2007.p.1-18. 8. Kanskii JJ. Pterygium in Clinical Ophthalmology A Systematic Approach. 6 ed, 2007. 9. Khurana AK. Community Ophthalmology in Comprehensif Ophthalmology. 4 ed. New Delhi: New Age International (P) Limited, 2007. chapter 20. 10. LIANG QF, XU L, JIN XY, YOU QS, YANG XH and CUI TT. Epidemiology of Pterygium in Aged Rural Population of Beijing, China. Chinese Medical Journal.(cited 2010).123(13).p.1699-1701. Available from : www.cmj.org. 11. Rasool AU, Ahmed CN. Khan AA. Recurrence of Pterygium in Patients Having Conjunctival Autograft and Bare Sclera Surgery. Annals.(cited 2010 October 4). vol.16. available from : www.annalskemu.org/journal/index.php/annals/article/download/238/197 12. Riordan, Paul-Eva, Whitcher, John P. Vaugh & Asbury Oftalmologi Umum. Jakarta: EGC, 2009. 13. SU Suhardjo, Sundari S, Sasongko MB. KELANAN PALPEBRA, KONJUNGTIVA, KORNEA, SKLERA, DAN SISTEM LAKRIMAL. In SU Suhardjo, Hartono, editors. ILMU KESEHATAN MATA. Edisi pertama. Yogyakarta: Bagian Ilmi Penyakit Mata FK UGM, 2007.p.40-41.
10
th th