Anda di halaman 1dari 16

MASALAH PADA BIDAN KOMUNITAS DAN PENANGANANNYA (TUGAS ASKEB V KOMUNITAS)

D I S U S U N OLEH : KELOMPOK III

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NANI HASANUDDIN MAKASSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

ANGGOTA KELOMPOK III ESTER MADUS FAHIMA SAID FARIDAH FASRIANI FATMAWATI FATMAWATI IDRIS TIKO FIRAWATI FITRI DAHRI FITRIANI FITRIANI J FITRIANI L FITRIANI SANUSI FITRIANI SAENI FRUDENSIA MEZA GUSNIARTI HAJERAH HANNISA NURMALA HARDIANA HARIANTI AKIS HARMAWATI HASLINDA HASLINDA PALIMBUNGA HASMAR AB

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas segala rahmat ALLAH SWT yang melimpahkan berkat rahmat dan hidayahnya, sehingga akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas dengan judul MASALAH PADA BIDAN KOMUNITAS DAN PENANGANANNYA Tugas ini kami susun dengan tujuan agar mahasiswi mampu dan mengerti tentang endometritis pada pelayanan kebidanan dan untuk memenuhi tugas mata kuliah ASKEB V (KOMUNITAS) khususnya. Sehingga para mahasiswi menjadi mampu terjun ke masyarakat dan kompeten dalam memberi asuhan kebidanan. Terima kasih saya sampaikan kepada dosen pembimbing yaitu ibu Uli arta yang telah membimbing kami serta pihak-pihak yang terlibat dalam dalam pembuatan tugas ini sehingga kami bisa menyelesaikanya. Kami sadar bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna, apabila ada salah kami mohon maaf sebesar-besarnya, kritik dan saran yang membangun sangat di harapkan untuk penyempurnaan tugas ini.

Makassar , 7 mei 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyakit Menular Seksual adalah penyakit infeksi yang kebanyakan ditulari melalui hubungan seksual melalui (oral,anal,lewat vagina). PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin . jenis PMS yg sering ditemui yaitu gonorhoe, hiv/aids, herpes, klamidia, sifilis, hepatitis B, dll. Ada beberapa akibat negative yang dapat ditimbulkan PMS yaitu Kemandulan, Keguguran, Kanker Rahim, Merusak penglihatan,otak dan hati, Menular kepada bayi,melalui air susu ibu, Rentan terhadap penyakit AIDS dan hepatitis B.

1.2 Tujuan Agar penulis dapat mengerti dan paham tentang masalah masalah yang biasa terjadi di bidan komunitas, khususnya tentang PMS beserta dengan penanganannya.

BAB II PEMBAHASAN

Penyakit Menular Seksual

Penyakit Menular Seksual adalah penyakit infeksi yang kebanyakan ditulari melalui hubungan seksual melalui (oral,anal,lewat vagina). PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin . harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin,tapi gejalahnya dapat muncul dan menyerang mata,mulut,saluran penceraanaan ,hati,otak dan organ tubuh lainnya contohnya: HIV/AIDS dan Hepatitis B dapat ditularkan melalui hubungan seksual ,tetapi keuanya tidak terlalu menyerang alat kelamin. Pada umumnya PMS membahayakan organ-organ reproduksi,pada wanita, PMS menghancurkan tanda infeksi. Ada beberapa akibat negative yang dapat ditimbulkan PMS yaitu 1. Kemandulan 2. Keguguran 3. Kanker rahim 4. Merusak penglihatan,otak dan hati 5. Menular kepada bayi,melalui air susu ibu 6. Rentan terhadap penyakit AIDS dan hepatitis B dinding vagina atau leher rahim,biasanya tanpa tanda-

Ada beberpa jenis PMS ,tetapi yang paling umum dan yang paling penting untuk diperhaitikan adalah 1. Gonorea;menyebabkan kemandulan Gonorrhea biasa disebut GO disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Masa inkubasi pada pria : 3-30 hari sedangkan pada wanita 3 sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Pada pria diagnosa ditentukan dengan adanya gram ( gram +) pada pemeriksaan smear terhadap pengeluaran melalui penis. Untuk menentukan diagnosa GO pada wanita, selanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan kultur dari serviks, uretra, tenggorokan dan anus. Tanda dan gejala: Pria : Pengeluaran cairan purulen melalui uretra, disuria, epididymitis dan prostatitis. Wanita : Pada tahap dini asimptomatis selanjutnya servisitis dengan pengeluaran yang purulen, gartolinitis. Terapi pada GO: Procaine penicillin G (IM) dan Progenetid (PO) atau Ampicilline dan probenecide (PO).Sebelum pemberian terapi ini,kita perlu untuk melakukan tes terlebih dahulu, karena dapat menyebabkan syok anapilaksis setelah 30 menit injeksi penicilline.

2. Klamidia;menyebabkan kemandulan

Sampai 75% kasus pada perempuan dan 25% kasus pada laki-laki tidak menunjukkan gejala. Gejala yang ada meliputi keputihan yang abnormal, dan rasa

nyeri saat kencing baik pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan juga dapat mengalami rasa nyeri pada perut bagian bawah atau nyeri saat hubungan seksual, pada laki-laki mungkin akan mengalami pembengkakan atau nyeri pada testis.

Pengobatan: Infeksi dapat diobati dengan antibiotik. Namun pengobatan tersebut tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan.

Konsekuensi yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan, jika tidak diobati, sampai 30% akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) yang pada gilirannya dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul kronis. Pada laki-laki, jika tidak diobati, klamidia akan menyebabkan epididymitis, yaitu sebuah peradangan pada testis (tempat di mana sperma disimpan), yang mungkin dapat menyebabkan kemandulan. Individu yang terinfeksi akan berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut.

Konsekuensi yang mungkin terjadi pada janin dan bayi baru lahir: lahir premature, pneumonia pada bayi dan infeksi mata pada bayi baru lahir yang dapat terjadi karena penularan penyakit ini saat proses persalinan.

Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual secara vaginal maupun anal dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko tertular penyakit ini.

3. Herpes kelamin;menyebabkan gejalah yang biasa muncul dan hilang seumur hidup Herpes genitalis disebabkan karena terinfeksi oleh: Herpes virus hominis tipe 2(HVH-2). Tanda dan gejala: - Adanya rupture vesicle - Ulserasi nyeri serta pembengkakan pada kelenjar limpe inguinal - Disuria serta merasakan gejala flu. Terapi simtomatik Untuk lesi dicuci dengan cairan Burows, H2O2, atau sabun dan air selamjutnya keringkan dengan baik. Pencegahan dan Pengawasan Pencagahan terhadap STD mencangkup 3 tingkatan pencegahan yaitu: 1. Pencegahan primer, ditujukan untuk mencegah penyakit mencangkup hal-hal sebagai berikut: - Memberikan pendidikan kepada individu-individu yang tidak terinfeksi sehingga dapat menghindar dari individu yang terinfeksi. - Identifikasi dan mengobati individu yang terinfeksi tanpa gejala. - Wawancara pasien yang terinfeksi untuk identifikasi kontak. - Melakukan pemeriksaan dan pengobatan pencegahanpada individu yang kontak. - Anjurkan untuk berpatisipasi pada program pengawasan. 2. Pencegahan sekunder yaitu: untuk mencegah terjadinya komplikasi STD seperti : PID pada waktu dengan GO.

3. Pencegahan tersier, berfokus untuk menurunkan efek dari komplikasi seperti : steril atau mandul. Pendidikan Kesehatan Pendidikan kesehatan terhadap individu yang tidak terinfeksi sangat efektif dilakukan melalui sekolah-sekolah dan kelompok masyarakat remaja dan dewasa muda Di klinik, untuk pasien yang pertama kali mengalami STD akan merasa takut, berdosa dan tidak aman, sehingga perlu pendekatan psikologis sosial. Pendidikan kesehatan yang diberikan di klinik mencangkup : cara kerja obat, durasi, efektif, efek samping, keuntungan dan kunjungan ulang, kegagalan pengobatan akan menyebabkan remfeksi juga diberi informasi tentang : cara transmisi penyakit, proses reinfeksi, hentikan hubungan seksual jika mungkin, jika tidak bisa mengamankan kondom. Untuk perawatan diri perlu diinformasikan tentang hal-hal sebagai berikut: 1. cuci tangan dan mandi dalam frekuensi sering. 2. Jangan lakukan (kotraindikasi) douching kecuali untuk pemberian obat-pbatan. 3. Pergunakan pakaian dalam dari katun. 4. Jangan mempergunakan lotion, cream, minyak pada luka kecuali diprogramkan.

4. Sifilis;menyebababkan kerusakan erat pada kelamin jika tidak diobati Syipilis disebabkan oleh Spirochete treponema pallidum yamg masuk kedalam tubuh melalui membrane mukosa atau kulit selama melakukan hub seksual. Tanda dan gejala:

Tahap primer :adanya luka pada vulva atau penis sangata nyeri, ulkus primer baik tunggal maupun kelompok, mungkin terjadi juga pada bibir, lidah tangan, rectum atau putting susu. Tahap sekunder :yaitu 2-4 minggu setelah timbulnya ulkus sampai 2-4 tahun. Pasien merasa demam, sakit kepala, tidak nafsu makan, hilang berat badan, anemia, sakit pada tenggorokan, kemerahan dan sakit pada mata, kuning dengan atau tanpa hepatitis, sakit pada otot persendian dan tulang panjang. Pada umumnya tubuh lemah, kemerahan serta adanya condylomata pada rectum dan genitalia. Pada tahap laten :5-20 tahun tidak ada tanda-tanda klinik, sedangkan pada tahap lanjut yaitu terminal tidak diobati akan terlihat tumor/massa/gumma pada bagian tubuh, kerusakan pada katup jantung dan pembuluh-pembuluh darah, meningitis, paralysis, kurang koordinasi, parese, insomnia, binggung, dilusi, gangguan pikir dan bicara tidak jelas. Terapi pada sipilis Yaitu semua jenis Penicillin, dianjurkan penicillin G benzathine karena jenis long acting. 5. Hepatitis B menyebabkan kerusakan pada hati.

Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; memakai jarum suntik bergantian; perlukaan kulit karena alat-alat medis dan kedokteran gigi; melalui transfusi darah.

Gejala: Sekitar sepertiga penderita HBV tidak menunjukkan gejala. Gejala yang muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, lemah, kehilangan nafsu makan,

muntah dan diare. Gejala-gejala yang ditimbulkan karena gangguan di hati meliputi air kencing berwarna gelap, nyeri perut, kulit menguning dan mata pucat.

Pengobatan: Belum ada pengobatan. Kebanyakan infeksi bersih dengan sendirinya dalam 4-8 minggu. Beberapa orang menjadi terinfeksi secara kronis.

Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Untuk orang-orang yang terinfeksi secara kronis, penyakit ini dapat berkembang menjadi cirrhosis, kanker hati dan kerusakan sistem kekebalan.

Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Perempuan hamil dapat menularkan penyakit ini pada janin yang dikandungnya. 90% bayi yang terinfeksi pada saat lahir menjadi karier kronik dan berisiko untuk tejadinya penyakit hati dan kanker hati. Mereka juga dapat menularkan virus tersebut. Bayi dari seorang ibu yang terinfeksi dapat diberi immunoglobulin dan divaksinasi pada saat lahir, ini berpotensi untuk menghilangkan risiko infeksi kronis.

Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks dengan orang yang terinfeksi khususnya seks anal, di mana cairan tubuh, darah, air mani dan secret vagina paling mungkin dipertukarkan adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan virus hepatitis B melalui hubungan seks. Kondom dapat menurunkan risiko tetapi tidak dapat sama sekali menghilangkan risiko untuk tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Hindari pemakaian narkoba suntik dan memakai jarum suntik bergantian. Bicarakan dengan petugas kesehatan kewaspadaan yang harus diambil untuk mencegah penularan Hepatitis B,

khususnya ketika akan menerima tranfusi produk darah atau darah. Vaksin sudah tersedia dan disarankan untuk orang-orang yang berisiko terkena infeksi Hepatitis B. Sebagai tambahan, vaksinasi Hepatitis B sudah dilakukan secara rutin pada imunisasi anak-anak sebagaimana direkomendasikan oleh the American Academy of Pediatrics.

6. HIV/AIDS menghancurkan system kekebalan tubuh bahkan meninggal AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yaitu HIV (Human Immunodeficiency Virus) ditandai dengan sindroma menurunnya sistem kekebalan tubuh.Penyebab utama AIDS adalah HIV. HIV dapat ditransmisi melalui kontak seksual, darah atau produk darah dari ibu kepada bayinya. HIV tidak dapat ditransmisi melalui kontak didalam rumah, sekolah atau tempat kerja. Gejala pertama AIDS muncul rata-rata 10 tahun dari saat terinfeksi HIV, yang selanjutnya menunjukan gejala berbagai penyakit dan menyebabkan kematian dalam waktu 1-3 tahun. Dalam masa 10 tahun dari saat terinfeksi HIV, sipengidap tampak sehat namun berkemampuan untuk menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan seksual (berganit-ganti pasangan),melalui darah atau produk darahnya(secara suntikan, tranfusi dan transplantasi organ dari sipengidap HIV) dan melalui proses melahirkan dari ibu sipengidap HIV kepada janin atau bayinya.

Gejala-gejala AIDS Gejala Mayor a. Pada prang dewasa terdiri dari: 1. Penurunan berat badan lebih dari 10% 2. Diare kronik lebih dari satu bulan. 3. Demam lebih dari satu bulan (kontinyu atau intermiten) b. Pada anak terdiri dari: 1. Penurunan berat badan atau pertumbuhan lambat yang abnormal. 2. Diare kronik lebih dari satu bulan. 3. Demam lebih dari satu bulan.

Gejala Minor a. Pada orang dewasa terdiri dari: 1. Batuk lebih dari satu tahun. 2. Dermatitis pruritus umum. 3. Herpes Zoster rekurens. 4. Candidiasis orofarings. b. Pada anak terdiri dari: 1. Limfadenopati umum. 2. Candidiasis oroforings. 3. Infeksi umum yang terulang (otitis, faringitis)

PENANGANAN
Solusi sementara untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah penyuluhan kesehatan terutama tentang PMS, oleh Bidan Komunitas dapat dilakukan test darah dan pemeriksaan kesehatan terutama pada wanita dan remaja ,dengan tujuan masyarakat sadar akan akibat yang diderita jika sudah menderita PMS. Berikan atau sediakan kondom bagi mereka yang sex aktif dan selalu bergonta ganti pasangan agar tidak tertular dan menularkan penyakit PMS ke pasangan.

Bila telah terlanjur terkena penyakit menular seks (PMS) dapat dilakukan penanganan atau pengobatan dengan :

Lakukan pemeriksaan serologi (STS). Bersihkan lesi dengan larutan antiseptic dan kompres dengan air hangat. Keringkan dan oleskan acyclovir 5% topikal setelah nyeri berkurang. Berikan acyclovir tablet 200 mg tiap 4 jam. Rawat inap bila terjadi demam tinggi, nyeri hebat, retensi urin, konvulsi, neurosis, reaksi neurologik lokal, ketuban pecah dini maupun partus prematurus.

Berikan pengobatan pada pasangan berupa acyclovir oral selama 7 hari. Bila terpaksa partus pervaginam, hindari transmisi ke bayi atau penolong.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN

Penyakit Menular Seksual adalah penyakit infeksi yang kebanyakan ditulari melalui hubungan seksual melalui (oral,anal,lewat vagina). PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin . jenis PMS yg sering ditemui yaitu gonorhoe, hiv/aids, herpes, klamidia, sifilis, hepatitis B, dll. Untuk penanganannya berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang PMS dan bahaya bagi tubuh dan lingkungan sekitar, lakukan pemeriksaan darah dan bila PMS telah menjangkiti berikan pengobatan untuk menyembuhkan mau pun hanya memperlambat penyakit memburuk.

DAFTAR PUSTAKA Bagian Obstetri dan Genekologi, 1981. Genekologi. Bandung: fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung Bobak, 2005. Buku ajar Keperawatan Maternitas, Jakarta: EGC Doengoes, Marilyn. E. 2001.bidan komunitas. Jakarta. EGC www.google.co.id