Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG A.1.

STRUKTUR SEL Sel merupakan segumpal protoplasma yang berinti, mengalami deferensiasi sehingga berubah bentuk sesuai dengan fungsinya, misalnya ada yang menjadi epidermis, pembentuk organ organ tubuh dan lain lain. Ada persamaan dan perbedaan antara sel tumbuhan dan sel pada hewan, tetapi secara umum sel tersusun dari membran sel, sitoplasma, mitokondria, retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, plastida, kloroplas, sentrosom, ribosom, vakuola, inti sel, membran sel, membran inti, mikrofilamen, dan dinding sel. Untuk dapat memahami fungsi organ dan struktur lainnyadalam tubuh kita, terlrbih dahulu kita harus memahami susunan dasar dari sel dan fungsi komponen penyusun sel tersebut. A.2. GOLONGAN DARAH Sebuah gen umumnya memiliki sebuah alel saja, tetapi dalam kenyataannya dapat memiliki lebih dari sebuah alel, peristiwa ini dinamakan alel ganda. Pada manusia dikenal beberapa sifat yang menentukan alel ganda misalnya fenotif golongan darah ( ABO, Rh ). Golongan darah manusia ada 4 macam yaitu A,B,AB, dan O. sistem ini ditemukan oleh Landsteiner tahun 1990. Keempat golongan darah tersebut ditentukan oleh tiga macam alel. Gen asli bersimbol I, merupakan singkatan dari Isoagglutinogen yang berarti mengumpulkan sesamanya. Akibat mutasi, gen asli berubah menjadi tiga alel IA,IB,dan I.

A.3. SIKLUS EKSTRUS Hormon pituitari anterior - gonadal axis mengatur perubahan perubahan siklik pada sistem reproduksi. Hormon kelamin dikontrol langsung oleh hormon gonadal dan pada akhirnya tergantung pada gonadotropin pituitary. Dalam praktek akan kita pelajari perubahan perubahan secara fisiologis dan psikologis pada hewan wanita yang siap dikawin oleh hewan jantan. A.4. PREPARAT APUSAN DARAH Darah merupakan jaringan cair yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian interseluler yaitu cairan plasma dan unsur padat yaitu sel darah. Dari pemeriksaan apusan darah dapat diketahui kondisi patologi tertentu sehingga sangat penting untuk mempelajari fungsi fungsi darah dan mengenal lebih jauh dengan melihat sel sel darah itu sendiri. B. TUJUAN 1. Mampu mengamati bentuk bentuk sel yang menyusun jaringan. 2. Mengenal sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh alel ganda 3. Mencoba menentukan genotip diri sendiri berdasarkan golongan darah ABO. 4. Mengamati dan melihat sel dinding vagina mencit sebagai indikator siklus ekstrus. 5. Mempelajari uji kehamilan ( galli Mainini ) dengan menggunakan katak bufo Vulgaris jantan. 6. Mengamati sel sel darah.

BAB II DASAR TEORI A.1. STRUKTUR SEL Istilah sel pertama kali digunakan oleh Robert Hooke ( 1635 1703 ), seorang ilmuwan inggris, untuk menjelaskan struktur potongan tipis gabus dibawah mikroskop. Setelah beberapa abad kemudian istilah sel tersebut digunakan untuk menyatakan satuan dasar minimum suatu jasad hidup yang mampu melakukan perbanyakan sendiri. Semua sel tersusun atas protein, asam nukleat, lemak, air, ion, dan polisakarida. Sel merupakan suatu satuan yang dinamis karena selalu mengalami perubahan. Perubahan sel dapat berupa pertumbuhan ukuran dan volume. Sel berisi inti atau nukleus yang dibungkus oleh membran sel. Sel memiliki kemampuan zat hidup, termasuk pertahanan dan perkembangbiakan. Sel terdiri membran sel ( disebut juga membran plasma ) yang menyelubungi sel, sitoplasma dan organelnya, retikulum endoplasma, ribosom dan retikulum endoplasma bergranula, aparatus golgi,lisosom, mitokondria, dan nukleus. A.2. GOLONGAN DARAH Golongan darah tergantung pada antigen antigen yang terdapat pada permukaan sel sel darah merah. Pada manusia terdapat paling sedikit 30 antigen yang ditemukan dan ratusan lagi antigen yang jarang ditemukan, antigen antigen ini dapat menimbulkan reaksi antigen antibody, terutama pada permukaan membran sel. Golongan darah O A B Dua antigen tipe A dan tipe B terdapat pada permukaan sel darah merah pada sejumlah besar manusia. Antigen antigen ini sering disebut aglutinogen karena sering menyebabkan aglutinasi sel darah yang menyebabkan reaksi tranfusi. Antigen akan bereaksi dengan antibodi yang sesuai, antibodi yang sesuai itu muncul secara alamiah, ada sedikit perkecualian ialah mereka yang tidak memiliki antigen A pada sel darah merahnya tetapi memiliki anti A dalam serum dan mereka yang tidak memiliki atigen B tetapi mempunyai anti B. sel darah merah

yang mempunyai golongan darah A dimasukkan kedalam tubuh orang dengan golongan darah O atau B akan dirusak dengan cepat, dengan semua akibat yang terjadi , hal yang sama juga terjadi pada sel sel darah merah yang mempunyai golongan darah B diberikan pada orang bergolongan darah O atau A; atau sel dari golongan AB ke dalam tubuh orang bergolongan darah lain.Jadi sistem ini merupakan kunci utama pada tranfusi darah. Penentuan genetik terhadap Aglutinogen Dua gen, salah satunya terdapat di setiap kromosom dari dua kromosom yang berpasangan, menentukan golongan darah O A B. gen gen tersebut bisa mengandung salah satu dari ketiga antigen, namun hanya satu tipe saja yang terdapat di setiap kromosom dari dua kromosom: tipe O, tipe A, atau tipe B. Gen tipe O tidak berfungsi atau hampir tidak berfungsi, sehingga gen tipe ini menghasilkan aglutinogen tipe O yang tidak bermakna pada sel. Sebaliknya gen tipe A dan B menghasilkan aglutinogen yang kuat pada sel. Enam kombinasi dari gen dapat dilihat pada tabel GENOTIPE OO OA atau AA OB atau BB AB GOLONGAN ARAH OO A B AB AGLUTINOGEN A B A dan B AGLUTININ Anti A dan Anti - B Anti B Anti A -

Tabel . Golongan darah engan genotip dan unsur pokok aglutinogen serta aglutininnya

A.3. SIKLUS EKSTRUS Perubahan perubahan siklik pada sistem reproduksi diatur oleh hormon hormon aksi pituitari anterior gonad. Tikus, mencit, hamster dan marmut laboraturium merupakan spesies poliestrus yang mengulang siklus siklusnya sepanjang tahun tanpa banyak variasi, apabila tidak diganggu oleh kebuntingan atau bunting semu. Siklus ekstrus tikus selesai dalam empat sampai enam hari, dan dipengaruhi oleh faktor faktor eksteroseptif seperti cahaya, suhu, status nutrisi dan hubungan sosial. Siklus secara kasar dibagi empat stadium :

3.1. ESTRUS Merupakan periode birahi, dan kopulasi terjadi saat ini. Kondisi ini berakhir 8 15 jam dengan ciri ciri aktivitas berlari lari yang sangat tinggi. Dipengaruhi FSH, selusin atau lebih folikel ovari tumbuh dengan cepat; estrus dengan demikian merupakan periode ekskresi estrogen yang meninggi. Uterus menjadi kembung karena akumulasi cairan lumen. Banyaknya mitosis pada mukosa vagina, lapisan permukaan menjadi squamous dan bertanduk. Sel sel menanduk ini dikelupas ke dalam lumen vagina, dan terdapatnya sel sel ini di dalam preparat apus vagina dipakai sebagai petunjuk ekstrus. Menjelang ekstrus berakhir terdapat massa seperti keju terdiri dari sel sel menanduk dengan inti berdegenerasi, namun ditemukan sedikit lekosit atau tidak sama sekali. Ovulasi terjadi selama estrus didahului dengan perubahan histologi di dalam folikel yang menunjukkan luteinisasi awal. Banyak cairan lumen di dalam uterus hilang sebelum ovulasi. 3.2. METESTRUS Stadium ini terjadi sesudah ovulasi, dan merupakan saat antara estrus dan diestrus. Periodenya 10 14 jam dan perkawinan biasanya tidak dimungkinkan. Ovari mengandung korpus luteum dan folikel folikel kecil; uterus vaskularisasi dan kontraktilitasnya berkurang. Banyak uterus muncul didalam lumen vagina bersama dengan sedikit sel menanduk. 3.3. DIESTRUS Stadium ini berakhir 60 70 jam , pada masa ini terjadi regresi fungsional korpus luteum. Uterus kecil, anemik dan hanya agak kontraktil. Mukosa vagina tipis, dan lekosit bermigrasi melintasinya, memberikan preparat apus vagina hampir semata mata terdiri atas sel sel.

3.4. PROESTRUS Stadium ini menandakan datangnya birahi kemudian dan merinci dengan involusi fungsional korpus luteum serta pembengkakan praovulasi folikel. Cairan terkumpul dalam uterus dan uterus sangat kontraktil. Preparat vagina didominasi oleh sel sel epitel berinti, yang muncul secara tunggal atau berbentuk lapisan. Apabila terjadi kebuntingan, siklus terganggu selama masa gestasi, yang berakhir 20 22 hari pada tikus. Hewan menjadi estrus pada akhir kebuntingannya, namun estrus sekali lagi tertunda sampai berakhir laktasi. A.4. PREPARAT APUSAN DARAH Merupakan pewarnaan, pada setetes darah yang diletakkan diatas kaca obyek dan ditambahkan dua macam pewarnaan untuk menghitung jenis sel sel darah, maka sel darah putih ini dikenal menurut sifatnya dalam pewarnaan. Sel netrofil paling banyak dijumpai. Sel golongan ini mewarnai dirinya dengan pewarna netral, atau campuran pewarna asam dan basa, dan tampak berwarna ungu. Sel eosinofil, sel golongan ini hanya sedikit dijumpai. Sel ini menyerap pewarna yang bersifat asam ( eosin ) dan kelihatan merah. Sel basofil menyerap pewarna basa dan menjadi biru Limfosit, intinya hampir memenuhi sitoplasma, kromatid lebih jelas selnya lebih kecil dari monosit Monosit , merupakan sel terbesar, sitoplasmanya agranuler, fungsinya fagosit Trombosit, merupakan sel kecil sepertiga ukuran sel darah merah, perannya penting dalam penggumpalan darah.

BAB III METODE 1. STRUKTUR SEL a. Alat Mikroskop Obyek glass Skalpel Netral red Tissu Aquades Alat bakar : sel epitel

b. Bahan

c.

Cara Usap dengan skalpel pipi bagian dalam, sampai terambil cairan kental Oleskan pada preparat Kemudian panaskan preparat sampai kering selama 1 2 menit Kemudian ditetesi dengan cairan netral red Kemudian preparat dicuci sampai netral red larut dalam air Bagian yang masih basah usap dengan tisu, tetapi jangan sampai menghapus sel epitel. Kemudian amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 4 x 10 dan 10 x 10

2. GENETIKA GOLONGAN DARAH a. Alat Jarum lancet steril Alkohol 70% Antiserum Kertas : darah

b. Bahan

c.

Cara Sebelum menusuk jari dengan lancet dilakukan tindakan antiseptik dengan diusap alkohol. Darah diteteskan pada kertas berlabel pada tiga tempat Kemudian ditetesi dengan anti serum A dan anti serum B Kemudian diamati reaksinya

3. STRUKTUR SEL DARAH a. Alat b. Bahan c. Cara : mikroskop : apusan darah basah : mengamati preparat melalui mikroskop

4. REPRODUKSI SISTEM ESTRUS a. Alat b. Bahan c. Cara : mikroskop : apusan vagina basah : mengamati preparat melalui mikroskop

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Struktur sel Dari hasil pengamatan didapatkan gambaran yang sangat jelas membran sel, sitoplasma dan inti sel.

2. Genetika golongan darah BILA DITETESKAN ANTI SERUM A Menggumpal Tidak Tidak Menggumpal ANTI SERUM B Tidak Menggumpal Tidak Menggumpal A B O AB GOLONGAN DARAH

GOLONGAN DARAH I IA IB

ALEL DALAM KROMOSOM Ii I1Ii

GENOTIP

GOL O GOL A GOL B GOL AB Misalnya

IA IA I i IA I i IBIB IiIB IA IB

IA DAN IB

1. Seorang laki laki dengan golongan darah A genotip I iIA menikahi perempuan dengan golongan darah A genotip IAIA, maka kemungkinan anak yang lahir dengan genotip sebagai berikut : a. IiIA b. IiIA c. IA IA dengan golongan darah A genotip IiIA menikahi laki laki

2. Seorang perempuan

dengan golongan darah A genotip IiIA, maka kemungkinan anak yang lahir dengan genotip sebagai berikut : a. IAIA b. IAIA c. I iI i d. IAIA e. IiIA

3. Struktur sel darah

Sumber

http://www.google.com/imgres?q=trombosit&um=1&hl=en&biw=1143&bih=526&tbm=isch&tbnid=R40ns-

FqHtKehM:&imgrefurl=http://radenbeletz.com/biologi-darah-manusia.html&docid=Dw9yNT5DF_ZVjM&imgurl=http://radenbeletz.com/wpcontent/uploads/2010/03/Sel-Darah-Manusia.jpg&w=375&h=215&ei=qX4zTqeF4eHrAewof26DA&zoom=1&iact=hc&vpx=291&vpy=243&dur=103&hovh=170&hovw=297&tx=131&ty=172&sig=101430997683644749317&pag e=1&tbnh=115&tbnw=200&start=0&ndsp=10&ved=1t:429,r:6,s:0

Melakukan pengamatan dengan mikroskop sel sel darah didapat

Eritrosit Mengandung hemoglobin Monosit Merupakan sel terbesar, sitoplasma agranuler, nukleus berbentuk sepeerti tapal kuda / ginjal, kromatin tidak terlalu padat, terlihat ada rongga dan berfungsi sebagai fagosit. Lymfosit Intinya hampir memenuhi sitoplasma, kromatid lebih gelap, selnya lebih kecil dari monosit. Basofil Ada 1% didalam darah, sitoplasmanya bergranula besar, kasar, tidak rata, sering menutupi inti.

Eosinofil Pada sitoplasma terdapat granula besar, rata, sifat pengecetan granula menyerap warna merah, besifat eosinofilik. Netrofil Pada sitoplasma terdapat granula halus dan rata, nukleus berlobus / bersegmen 3 5.
4. Reproduksi sistem estrus Hormon yang mempengaruhi siklus reproduksi adalah LH dan FSH

Sumber : http://blog.uin-malang.ac.id/bettie/files/2011/03/siklus-reproduksi.jpg

Mengamati secret vagina mencit dengan mikroskop didapati sel epitel berinti.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan yang didapat adalah dengan mempelajari bagian bagian sel, golongan darah dan mengamati sel sel darah, akan menambah pengetahuan dan meningkatkan pemahaman tentang materi yang disampaikan dan selama mengikuti kegiatan praktikum tidak terlihat petugas dan mahasiswa tidak dilengkapi dengan alat perlindungan diri misalnya masker dan melaksanakan prosedur cuci tangan dengan

benar, dan pemakaian sarung tangan, padahal di dalam laboraturium juga menggunakan media berbagai macam jaringan. DAFTAR PUSTAKA