Anda di halaman 1dari 42

BAB 1 SEJARAH DAN PENTINGNYA ENTREPREURSHIP

Setelah menyelesaikan bab ini, Anda diharapkan mampu 1. Menjelaskan sejarah perkembangan konsep dan pendidikan

entrepreneurship, 2. Memahami berbagai aliran pemikiran entrepreneurship, 3. Memahami pentingnya entrepreneurship bagi suatu negara, dan 4. Memahami proses entrepreneurial 1.1 Sejarah Perkembangan Konsep dan Pendidikan Entrepreneurship Minat terhadap kewirausahaan (entrepreneurship) berkembang pesat sepuluh tahun terakhir ini. Selain karena entrepreneurship memang penting untuk semua aspek kehidupan juga terdapat dorongan yang kuat dari pemerintah untuk mempertimbangkan dampak positif entrepreneurship bagi perkembangan perekonomian suatu negara. Hal ini tidak terlepas dari peran entrepreneurship yang dalam sejarahnya telah terbukti sebagai sumber pekerjaan bagi segala lapisan masyarakat. Pemahaman terhadap entrepreneurship perlu memperhatikan sejarah perkembangan konsep entrepreneurship. Frederick, Kuratko & Hodgetts (2006) menjelaskan bahwa entrepreneurship sebenarnya telah

berkembang sejak abad ke-11 sebelum Masehi di Phoenicia kuno. Pada saat itu telah terjadi arus perdagangan dari Syria sampai Spanyol yang dilakukan oleh orang-orang yang telah berani mengambil risiko, menghadapi ketidakpastian, dan mengeksplorasi sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Istilah entrepreneurship baru mulai terkenal dalam kosakata bisnis pada tahun 1980-an, walaupun istilah entrepreneurship telah muncul pada abad ke-18 ketika ekonom Prancis Richard Cantillon mengaitkan entrepreneur dengan aktivitas menanggung risiko dalam perekonomian. Pada tahun 1800-an, J.B. Say memperkenalkan istilah entrepreneurship dalam diskusi entrepreneur sebagai orang yang memindahkan sumber daya ekonomi dari area yang produktivitasnya rendah ke area yang 1

produktivitasnya tinggi (Zimmerer, Scarborough, & Wilson, 2008) Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, entre berarti 'antara' dan prendre berarti 'mengambil'. Kata ini pada dasarnya digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang berani mengambil risiko dan memulai sesuatu yang baru. Selanjutnya, pengertian entrepreneurship diperluas hingga mencakup inovasi. Melalui inovasi munculah kebaharuan yang dapat berbentuk produk baru hingga sistem distribusi baru. Produk baru misalnya, tidak mesti terkait dengan teknologi canggih karena produk yang sederhana juga dapat menyajikan kebaharuan, contohnya rasa baru pada produk makanan. Kemampuan inovasi dapat diamati dari sejarah suatu bangsa. Bangsa Indonesia telah mampu mendirikan bangunan tinggi seperti Candi Borobudur pada tahun 825. Kemampuan inovasi tetap dimiliki bangsa Indonesia hingga kini, misalnya dapat dilihat dari kemampuan untuk menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura melalui Jembatan Suramadu pada tahun 2009. 1.1.1 Definisi Entrepreneurship Dari uraian tentang sejarah perkembangan entrepreneurship tersebut, terlihat bahwa entrepreneurship dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menciptakan sesuatu yang baru. Bird (1989) memberikan definisi sederhana dari entrepreneurship sebagai penciptaan nilai melalui penciptaan organisasi. Sejauh ini, juga telah terdapat definisi mengenai entrepreneurship yang mempertimbangkan perspektif bisnis manajerial dan personal. Stevenson, Roberts, dan Grousbeck (1994) memandang entrepreneurship sebagai suatu pendekatan manajemen dan mendefinisikannya sebagai "pengejaran peluang tanpa memperhatikan sumber daya yang

dikendalikan saat ini". Schraam (2006) mendefinisikan entrepreneurship sebagai proses seseorang atau sekelompok orang memikul risiko ekonomi untuk menciptakan organisasi baru yang akan mengeksploitasi teknologi baru atau proses inovasi yang menghasilkan nilai untuk orang lain. Baringer&lreland (2008) mendefinisikan entrepreneurship sebagai proses 2

seorang individu mengejar peluang tanpa memperhatikan sumberdaya yang dimiliki saat ini. Hisrich, Peters, dan Shepherd (2008) memberikan definisi entrepreneurship sebagai "proses penciptaan kekayaan

incremental. Karena entrepreneurship ditemui di semua profesi, definisi di atas dipandang terbatas. Hisrich et al (2008) memberikan definisi yang telah mengakomodir semua tipe perilaku entrepreneurship sebagai "proses menciptakan sesuatu yang baru, yang bernilai, dengan memanfaatkan usaha dan waktu yang diperlukan, dengan memperhatikan risiko sosial, fisik, dan keuangan, dan menerima imbalan dalam bentuk uang dan kepuasan personal serta independensi". Definisi entrepreneurship oleh Hisrich et al (2008) di atas menekankan empat aspek dasar bagi seorang entrepreneur, yakni (1) entrepreneurship melibatkan proses penciptaan, ialah menciptakan sesuatu yang baru. Penciptaan harus memiliki nilai baik "untuk entrepreneur maupun audiensnya. (2) entrepreneurship memerlukan waktu dan usaha. Hanya mereka yang melalui proses entrepreneurship menghargai waktu dan usaha yang mereka gunakan untuk menciptakan sesuatu yang baru. (3) entrepreneurship memiliki risiko tertentu. Risiko ini mengambil berbagai bentuk pada area keuangan, psikologi, dan sosial. (4) entrepreneurship melibatkan imbalan sebagai entrepreneur, imbalan yang paling penting adalah independensi, diikuti oleh kepuasan pribadi. Jadi secara singkat entrepreneurship adalah suatu proses inovatif yang menghasilkan sesuatu yang baru. Entrepreneurship selanjutnya menjadi salah satu istilah bisnis yang "seksi". Tokoh-tokoh bisnis populer seperti Steven Jobs, pendiri Apple Computer; Frederick Smith, pendiri Federal Express; Ted Turner, pendiri Turner Broadcasting; An Wang, pendiri Wang Laboratories, adalah entrepreneur yang memberikan perhatian yang besar kepada entrepreneurship (Bird, 1989). Lalu, siapakah yang dapat disebut sebagai entrepreneur?

Schumpeter (1934) menyatakan bahwa entrepreneur adalah seseorang yang melaksanakan kombinasi-kombinasi baru. Entrepreneur adalah

seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat dan mengevaluasi peluang bisnis, memperoleh sumber daya yang diperlukan untuk mengambil keunggulan darinya dan berinisiatif mengambil tindakan yang tepat untuk menjamin sukses. Zimmerer et al (2008) menggambarkan entrepreneur sebagai seseorang yang menciptakan usaha baru dengan menghadapi ketidakpastian dan risiko dengan maksud untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan usaha melalui pengidentifikasian peluang yang signifikan dan penggunaan sumber daya yang diperlukan. Frederick et al (2006) memandang entrepreneur sebagai agen perubahan yang melakukan pencarian secara sengaja, perencanaan yang hati-hati, dan pertimbangan yang seksama ketika melakukan proses entrepreneurial. Jadi entrepreneur adalah seseorang yang berani mengambil risiko, mampu mencium adanya peluang bisnis, mampu mendayagunakan sumber daya secara efektif dan efisien untuk memperoleh profit. Ciri-ciri entrepreneur sukses selanjutnya akan dibahas pada Bab 2. 1.1.2 Sejarah Pendidikan Entrepreneurship Pendidikan entrepreneurship mulai berkembang sekitar 60-an tahun yang lalu di Amerika Serikat. Studi yang dilakukan Katz (2003) memperlihatkan bahwa mata kuliah entrepreneurship pertama diberikan di Harvard Business School pada 1947. Setelah itu, beberapa universitas besar di sana juga memberikan mata kuliah yang sama pada tahun 1950-an, misalnya New York University menawarkan mata kuliah Entrepreneurship and Innovation, University of Illinois menyelenggarakan mata kuliah Small Business or Entrepreneurship Development dan Stanford University memberikan mata kuliah Small Business Management. Pada tahun 1975 telah lebih dari seratus perguruan tinggi di Amerika Serikat yang menawarkan mata kuliah enrepreneurship. Saat ini telah lebih dari 2000 perguruan tinggi di Amerika Serikat menawarkan mata kuliah entrepreneurship. Adapun konsentrasi / peminatan entrepreneurship di sekolah bisnis dimulai pertama kali pada 1968 di Babson College yang kemudian diikuti oleh University of Southern California pada tahun 1972. Saat ini berbagai universitas besar di Amerika Serikat umumnya memiliki 4

program studi/konsentrasi entrepreneurship. Di Indonesia, pendidikan entrepreneurship mulai bermunculan pada tahun 1980-an. Pada tahun 2000-an pendidikan entrepreneurship semakin digalakkan di Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di mendorong antaranya berkembangnya melalui pendanaan pendidikan kegiatan

entrepreneurship,

kemahasiswaan dalam bidang entrepreneurship. 1.1.3 Berbagai Aliran Pemikiran Entrepreneurship Selain sejarah tentang entrepreneurship, pemahaman terhadap entrepreneurship perlu memperhatikan aliran pemikiran yang muncul dalam entrepreneurship. Aliran pemikiran ini membagi entrepreneurship menjadi aktivitas tertentu. Aktivitas ini mungkin berada pada pandangan makro atau pandangan mikro dalam entrepreneurship sehingga pada dasarnya aliran pemikiran entrepreneurship dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Pandangan Makro dan Pandangan Mikro seperti disajikan pada Gambar 1.1 (Barringer & Ireland, 2008). Gambar 1.1 Aliran Pemikiran Entrepreneurship 1. Pemikiran lingkungan Pandangan makro 2. Pemikiran finansial/kapital 3. Pemikiran displacement 4. Pemikiran trait (ciri) entrepreneurial 5. Pemikiran peluang perusahaan 6. Pemikiran formulasi strategis
Sumber: Howard H. Frederick, Donald F. Kuratko, & Richard M. Hodgetts. (2006). Entrepreneurship: Theory, Process, and Practice, 1st Asia Pacific Edition, Australia: Cengage Learning Australia Pty Limited, hal 32.

Pandangan mikro

a. Pandangan Makro Pandangan Makro menjabarkan faktor-faktor yang mem-pengaruhi sukses gagalnya suatu perusahaan entrepreneurial. Faktor-faktor ini umumnya merupakan kondisi eksternal yang berada di luar kontrol seorang

entrepreneur. Terdapat tiga aliran pemikiran dalam pandangan makro yaitu aliran pemikiran lingkungan, finansial/kapital, displacement. Aliran Pemikiran Lingkungan: aliran pemikiran ini berkaitan dengan faktor eksternal yang mempengaruhi gaya hidup entrepreneur. Faktor eksternal ini misalnya lingkungan sosial politik yang mempengaruhi pengembangan entrepreneur dan kelompok sosial seperti teman dan kerabat yang mempengaruhi keinginan untuk menjadi entrepreneur. Aliran Pemikiran Finansial/Kapital: dasar dan fokus dari aliran pemikiran ini adalah proses pencarian kapital. Aliran pemikiran ini memandang keseluruhan perusahaan entrepreneurial dari sudut pandang manajemen finansial. Keputusan finansial terjadi pada setiap tahapan daur hidup perusahaan. Aliran Pemikiran Displacement: aliran pemikiran ini berfokus pada fenomena kelompok. Seorang individu dipandang tidak akan mendirikan perusahaan kecuali individu tersebut dihambat untuk melakukan aktivitas lain. Contoh sederhana adalah seorang individu yang kehilangan pekerjaan karena adanya hambatan untuk terus bekerja di suatu perusahaan maka individu tersebut beralih menjadi entrepreneur. b. Pandangan Mikro Pandangan Mikro mengevaluasi faktor-faktor spesifik pada

entrepreneurship. Entrepreneur potensial memiliki kemampuan atau kontrol untuk mengarahkan atau menyesuaikan keluaran dari setiap pengaruh dalam pandangan ini. Tidak seperti Pandangan Makro yang berfokus pada kejadian dari pandangan luar, Pendekatan Mikro berfokus pada sesuatu dengan memandang dari dalam ke luar. Terdapat tiga aliran pemikiran pada Pandangan Mikro, yaitu aliran pemikiran trait (ciri) entrepreneurial, peluang perusahaan, dan formulasi strategis. a) Aliran Pemikiran Trait Entrepreneurial: pendekatan ini berdasarkan pada pandangan bahwa terdapat ciri-ciri umum dari entrepreneur sukses seperti kreatif, rasa percaya diri tinggi, keinginan untuk maju, dan berani menempuh risiko. Ciri-ciri ini apabila dapat ditumbuhkan akan memberikan kemungkinan keberhasilan yang tinggi dari seorang

entrepreneur. b) Aliran Pemikiran Peluang Perusahaan: aliran pemikiran ini berfokus pada aspek peluang dari pengembangan suatu perusahaan.

Pengembangan ide yang tepat pada waktu yang tepat untuk pasar yang tepat dipandang merupakan kunci suksesnya perusahaan. c) Aliran Pemikiran Formulasi Strategis: aliran pemikiran ini berpendapat bahwa proses perencanaan merupakan bagian terpenting dalam pengembangan suatu perusahaan. Formulasi strategis merupakan hasil dari gabungan elemen unik yang terdiri dari pasar, orang, produk, dan sumber daya unik. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, perkembangan entrepreneurship dapat ditelusuri mulai dari pendekatan classical, neoclassical sampai dengan Austrian Market Process (AMP) movement (Murphy, Liao, & Welsch, 2006). a) Classical Cantillon, seorang bankir yang bekerja di Prancis, pada tahun 1700-an memperkenalkan konsep formal entrepreneurship ke dalam literatur ekonomi dan bisnis. Dia menggambarkan perbedaan antara pasokan dan permintaan sebagai opsi untuk membeli dengan harga murah dan menjual dengan harga yang lebih tinggi. Entrepreneur memahami kondisi ini, membeli input pada tingkat harga tertentu dan menjual output pada tingkat harga yang belum pasti, membawa sistem pasarmenuju stabilitas. Pendekatan classical menekankan pentingnya ketidakpastian dan risiko. Kepemilikan dan status tidak dilihat sebagai sesuatu yang mutlak diperlukan entrepreneur. Inovasi dan koordinasi merupakan aspek dominan dalam aktivitas entrepreneurial. Inti dari pendekatan classical adalah pasokan, permintaan, dan harga jangka pendek. b) Neoclassical Pendekatan neoclassical muncul sebagai respon kelemahan pendekatan classical yang mengasumsikan adanya keseimbangan. Pendukung pendekatan neoclassical berpendapat bahwa asumsi

keseimbangan tidak kompatibel dengan harga jangka pendek dan biaya

produksi relatif. Konsep utilitas marginal yang menurun (diminishing marginal utility) muncul sebagai penjelasan dari aktivitas ekonomi. Fokusnya bukan pada akumulasi kapital namun lebih pada kombinasi baru dari sumber daya yang dimiliki. Entrepreneur berperan dalam

menyesuaikan alokasi sumber daya karena perubahan seperti peningkatan pasokan, penurunan permintaan, dan kondisi keseimbangan. Pada masa ini muncul istilah creative destruction-nya Schumpeter yang

menggambarkan keterlibatan entrepreneur dalam inovasi. Entrepreneur menciptakan produk baru, metode produksi baru, memperkenalkan sumber daya baru, atau bentuk organisasi baru yang kemudian menyebabkan kondisi lama menjadi usang. Entrepreneur melakukan perubahan dalam lingkungan dan memberikan respon terhadap perubahan tersebut. c) Austrian Market Process Pendekatan ini menekankan pada aktivitas manusia dan memberikan rerangka konseptual yang lebih kaya pada entrepreneurship.

Penekanannya adalah pada bagaimana menumbuhkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menemukan peluang dan membuat keputusan yang tepat. Pendekatan ini menjelaskan apabila pengetahuan dikomunikasikan dalam sistem pasar, misalnya melalui infomasi harga, maka inovasi akan muncul dan entrepreneur akan memuaskan kebutuhan pasar. Apabila entrepreneur mengetahui bagaimana menghasilkan produk baru atau cara yang lebih efektif untuk menghasilkan produk baru, maka manfaat dapat diperoleh dari pengetahuan ini. Pendekatan neoclassical tidak menjelaskan aktivitas ini. Austrian market process memandang lingkungan tidak dapat diulangi atau tidak selalu memberikan keluaran yang sama dalam sistem ekonomi. Enterpeneur memperoleh insentif dengan menggunakan

pengetahuan untuk menghasilkan nilai. Dibangun berdasarkan ide neoclassical, Austrian market process mendudukkan entrepreneurship sebagai pendorong sistem pasar.

1.2 Pentingnya Entrepreneurship bagi Suatu Negara Entrepreneurship memiliki dampak positif bagi suatu perekonomian dan masyarakat. Salah satu penjelasannya adalah konsep creative destruction-nya Schumpeter. Dia menjelaskan bahwa entrepreneur mengembangkan produk baru dan teknologi baru yang kemudian membuat produk dan teknologi saat ini menjadi usang. Karena produk dan teknologi baru memiliki kinerja yang lebih baik daripada produk dan teknologi lama, dan keberadaan produk dan teknologi baru meningkatkan permintaan konsumen, maka proses creative destruction menstimulasi aktivitas ekonomi. Produk dan teknologi baru juga dapat meningkatkan produktivitas dari semua elemen dalam masyarakat. Proses creative destruction tidak hanya terbatas pada produk dan teknologi baru namun juga termasuk teknik penetapan harga baru, sistem distribusi baru, atau format ritel (retail) yang baru. Barringerdan Ireland (2006) mengemukakan tiga alasan mengapa perilaku entrepreneurial memiliki efek positif terhadap kekuatan dan stabilitas ekonomi. Salah satu dampak terpenting dari entrepreneurship adalah penyediaan lapangan pekerjaan. Entrepreneurship telah terbukti mampu mengatasi tingkat pengangguran melalui penciptaan lapangan pekerjaan oleh entrepreneur. Selain diri entrepreneur sendiri yang tidak menambah angka pengangguran karena entrepreneur menciptakan pekerjaan dan bukan mencari pekerjaan, entrepreneur marnpu

menciptakan pekerjaan mulai dari untuk beberapa tenaga kerja saja sampai dengan ribuan pekerjaan. Inovasi merupakan alasan kedua yang memberikan dampak positif bagi kekuatan ekonomi dan masyarakat. Inovasi berkaitan dengan proses menciptakan sesuatu yang baru, dan merupakan isu utama dalam proses entrepreneurial. Inovasi membantu individu dan bisnis untuk bekerja secara lebih efekif dan efisien. Alasan ketiga adalah globalisasi. Fenomena ini sangat vital bagi perekonomian karena menyediakan outlet untuk memasarkan produk ke luar negeri.

Zimmerer et al (2008) menyatakan bahwa peran entrepreneurship dalam pembangunan ekonomi tidak hanya terbatas pada peningkatan output per kapita dan pendapatan namun juga sebagai inisiator perubahan dalam struktur bisnis dan masyarakat. Perubahan ini diikuti oleh pertumbuhan dan peningkatan output yang memungkinkan kesejahteraan dibagi ke seluruh partisipan. Inovasi merupakan kunci yang memfasilitasi perlunya perubahan dan pengembangan, inovasi bukan hanya berperan dalam pengembangan produk baru untuk suatu pasar namun juga menstimulasi minat investasi pada suatu bisnis. Investasi dan inovasi berperan penting dalam pembangunan ekonomi suatu area. Proses inilah yang selanjutnya menstimulasi pertumbuhan ekonomi Andretsch & Keilbach (2004) mengatakan bahwa entrepreneurship merupakan mekanisme penting yang mendorong proses seleksi yaitu menciptakan keragaman pengetahuan yang kemudian berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi. Yang menarik adalah adanya kenyataan bahwa bisnis baru memberikan kontribusi terhadap keragaman (diversity). Keragaman ini merupakan driving force pertumbuhan ekonomi.

Pengetahuan saja tidak cukup mampu untuk menghasilkan keragaman. Entrepreneurship berperan dalam mentransformasikan pengetahuan menjadi keragaman. Entrepreneurship juga berperan dalam menjembatani ke-senjangan antara pengetahuan dan pasar, menciptakan bisnis baru, dan membawa produk baru ke pasar. Aktivitas entrepreneurial mempengaruhi ekonomi dengan membangun dasar ekonomi dan menyediakan lapangan

pekerjaan. Berbagai penelitian juga memperlihatkan peran entrepreneurship dalam peningkatan perekonomian suatu negara. Van Stel, Carree & Thurik (2005) memperlihatkan bahwa aktivitas entrepreneurial mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. Aktivitas entrepreneurial diukur melalui TEA (total entrepreneurial activity) yang datanya diperoleh melalui GEM (global entrepreneurship monitor). GEM memberikan data empiris tentang pengaruh aktivitas entrepreneurial terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi

10

di berbagai negara. TEA merupakan proporsi orang dewasa dalam usia kerja di suatu negara yang terlibat dalam proses memulai bisnis baru atau aktif sebagai manajer pemilik dari perusahaan-perusahaan yang berumur kurang dari 42 bulan. Frankel (2005) memperlihatkan bahwa entrepreneurship

mengakselerasi pertumbuhan ekonomi karena entrepreneur menciptakan pekerjaan, memfasilitasi mobilitas sosial, dan memunculkan berbagai kemungkinan positif. Entrepreneurship mempengaruhi secara positif tingkat produktivitas. Output yang meningkat ini kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam konteks Indonesia, Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan, dalam disertasinya memperlihatkan bahwa entrepreneurship dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah. Pemerintah daerah disarankan untuk tidak mengutamakan sistem dan prosedur namun lebih berorientasi pada kinerja dan hasil kerja dengan mengutamakan jiwa dan semangat kewirausahaan. Kinerja yang baik ini kemudian dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan perekonomian daerah. (Kompas, 28 Oktober 2007) Begitu pentingnya entrepreneurship bagi suatu negara sehingga membuat Serian (2009) mengemukakan pendapat mengenai penting dan perlunya presiden yang mampu membangun entrepreneurship (Boks 1.1 Mencari Presiden yang Mampu Membangun Entrepreneurship - Seputar Indonesia, 16 Juni 2009).

1.3 Proses Entrepreneurial Proses entrepreneurial mencakup empat fase yang berbeda di mana proses ini mencakup lebih dari sekadar pemecahan masalah dalam manajemen umum. Seorang entrepreneur harus mencari, mengevaluasi, dan mengembangkan peluang dengan mengatasi kekuatan-kekuatan yang menghalangi proses kreasi sesuatu yang baru. Adapun keempat fase dalam proses entrepreneurial adalah (Hisrich ef al 2008): (1) identifikasi dan evaluasi peluang, (2) pengembangan rencana bisnis, (3) penentuan

11

sumber daya yang dibutuhkan, dan (4) pengelolaan perusahaan yang dibentuk, seperti disajikan pada Gambar 2.1. Fase pertama adalah identifikasi dan evaluasi peluang. Fase ini merupakan fase yang tersulit karena peluang bisnis yang bagus tidak muncul begitu saja namun merupakan kejelian entrepreneur terhadap lingkungannya. Peluang ini kemudian perlu dievaluasi. Kegiatan evaluasi merupakan elemen paling kritis dalam proses entrepreneurial karena melalui kegiatan ini entrepreneur dapat menilai apakah produk tertentu akan memberikan hasil yang memadai dibandingkan dengan sumber daya yang diperlukan. Peluang ini juga harus sesuai dengan keterampilan personal dan tujuan seorang entrepreneur. Fase kedua adalah mengembangkan rencana bisnis dalam rangka memanfaatkan peluang. Suatu rencana bisnis diperlukan untuk

memanfaatkan peluang dan menetapkan sumber daya yang diperlukan, memperoleh sumber daya tersebut, dan mengelola dengan baik usaha yang terbentuk. Fase ketiga adalah menentukan sumber daya yang diperlukan dalam rangka memanfaatkan peluang yang ada. Proses ini dimulai dengan menilai sumber daya yang dimiliki seorang entrepreneur. Langkah selanjutnya adalah berusaha memperoleh sumber daya yang diperlukan. Fase terakhir adalah mengevaluasi usaha yang terbentuk. Setelah memperoleh sumber daya, entrepreneur menggunakan sumber daya ini untuk mengimplementasikan rencana bisnisnya.

12

Gambar 2.1 Proses Entrepreneurial Identifikasi dan evaluasi peluang

Pengembangan rencana bisnis

Penentuan sumber daya yang dibutuhkan

Pengelolaan perusahaan yangdibentuk


Sumber: Robert D. Hisrich, Michael P. Peter, & Dean A. Shepherd. (2008). Entrepreneurship, 7th ed. Boston: McGraw Hill, hal 38.

Boks 1.1 Mencari Presiden yang Mampu Membangun Entrepreneurship Pemilihan presiden tinggal menghitung hari. Tiga pasang calon presiden dan wakil presiden sudah diumumkan dan mulai kampanye dengan menjual konsep ekonominya. Ketiga pasang kandidat, yakni Megawati- Prabowo, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto telah banyak memrogramkan strategi dan konsep

ekonominya untuk menopang pertumbuhan ekonomi serta mengurangi pengangguran. Secara umum, mereka punya visi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Walaupun konsep pembangunan ekonomi sudah banyak dilontarkan di berbagai kesempatan, penting untuk menyinggung bagaimana

membangun semangat kewirausahaan (entrepreneurship). Terkait dengan itu, siapa pun prestden yang terpilih nanti perlu terus mendorong pembangunan dunia usaha.iklim usaha,dan memberi tempat bagi lahirnya semangat entrepreneurship guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang

13

berkualitas dan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Menurut pandangan Dr. Ir. Ciputra, jika menggunakan perkiraan dari Me Clelland dengan jumlah penduduk mencapai 225 juta, maka Indonesia membutuhkan 4,5 juta atau 2% entrepreneur atau pengusaha. Nah, dengan jumlah pengusaha yang hanya 400.000, masih dibutuhkan setidaknya 4 juta pengusaha untuk menopang jumlah penduduk yang besar itu. Tidak mudah menciptakan pengusaha dalam waktu singkat. Meski demikian, momentum pemilihan presiden diharapkan bisa mengubah fondasi pembangunan ekonomi Indonesia agar tidak goyah oleh guncangan-guncangan yang terjadi. Kuda-kuda ekonomi yang kuat dengan pengusaha sebagai kelas menengah akan dapat mengurangi beban pengangguran yang angkanya relatif tinggi. Prof. Dr. Djokosantoso Moeljono dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar Universitas Muhamadiyah Surakarta mengungkapkan

pentingnya pengembangan entrepreneurship untuk membangun Indonesia yang berdaya saing unggul. Karena itu, tak ada jalan lain kecuali mencetak sebanyak-banyaknya pengusaha, baik skala kecii, menengah, maupun besar dalam suatu kerangka pembangunan ekonomi Indonesia. Krisis keuangan global yang menjalar ke berbagai dunia, tidak terkecuali Indonesia, tentu tidak ringan. Kendati demikian, krisis yang menimpa banyak negara, terutama Amerika Serikat, itu tidak membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif. Pada kuartal 1/2009,

pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,4%, yang mengindikasikan negara ini relatif tahan terhadap deraan krisis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bisa dikalahkan oleh China yang tumbuh 7,1% dan India 5,6%. Sementara negara-negara di Asia, misalnya Singapura, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan mengalami pertumbuhan negatif. Pertumbuhan ekonoml Malaysia bahkan setengah dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang positif itu patut disyukuri. Sayangnya, pertumbuhan yang sebesar itu belum mampu mencetak lapangan kerja

14

bagi angkatan kerja Indonesia yang pertumbuhannya mencapai 9%. Ada tiga isu utama dalam pembangunan ekonomi saat ini. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang masih positif ini lebih banyak ditentukan oleh konsumsi, kendati peran investasi sudah menemukan akselerasinya. Kedua, pembangunan ekonomi untuk mengurangi kemiskinan relatif masih besar, kendati pada akhir 2008 pendapatan per kapita Indonesia melampaui USD 2.000, meningkat 1,8 kali dibandingkan 2004. Ketiga, peningkatan jumlah angka pengangguran. Berdasarkan catatan,

pemerintah telah memperkirakan angka pengangguran pada tahun ini pada kisaran 8,3-8,4%. Kenaikan itu berdasarkan asumsi adanya angkatan kerja yang tidak terserap dan pekerja yang terkena PHK Problem ini memang tak hanya milik Indonesia. Negara sekaliber AS pun mengalaminya. Angka pengangguran di negara adidaya tersebut pada Mei 2009 tercatat melebihi 9%, tertinggi sejak lebih dari 25 tahun terakhir. Bahkan, Kepala Organisasi Buruh Internasional (International Labor Organization / ILO) Juan Somavia dalam konferensi tahunan di Jenewa pekan lalu mengakui bahwa krisis pekerjaan masih menghantui dunia. Badan buruh dunia itu memprediksi kebutuhan 300 juta lapangan kerja bam hingga 2015. Kenyataan itu jelas menunjukkan bahwa masalah konsistensi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas -pertumbuhan ekonomi yang dapat menyerap tenaga kerja- menjadi sangat penting. Pemiiihan presiden yang akan berlangsung juga menjadi sangat strategis karena peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas akan mendorong peningkatan pendapatan masyarakat, mengurangi kemiskinan sekaligus menyerap tenaga kerja baru yang jumlahnya tidaklah kecil. Krisis keuangan global dapat menjadi pelajaran yang menarik, apalagi ekonomi Indonesia mudah terguncang. Tidak beralasan jika Indonesia yang punya sumber daya alam berlimpah dan penduduk yang banyak dengan potensi pasar yang besar selalu tertinggal oleh negara-negara lain. Contohnya, sebagai negara penghasil minyak, dengan adanya kenaikan harga minyak, Indonesia tetap tidak bisa menikmati

15

kenaikan tersebut. Begitu juga di sektor komoditas dan pertambangan. Apakah ada yang salah dalam mengelola kekayaan alam kita? Yang diyakini banyak pihak selama ini, ada tiga pilar penting dalam pembangunan sebuah negara. Pertama, pemerintah yang mempunyai kemampuan dalam pelayanan dengan biaya yang sama kepada setiap orang. Kedua, dunia bisnis atau entrepreneurship untuk mengembangkan modal dan mengembangkan perekonomian. Ketiga, lembaga

kemasyarakatan atau organisasi niriaba guna pemberdayaan yang berskala mikro. Jadi, tanpa dunia usaha yang kuat, tak ada negara yang kuat. Sebab, seperti di negara-negara maju, pengusaha yang mempunyai kemampuan terbesar untuk mengembangkan perekonomian suatu negara. Dunia usaha dapat mengembangkan modal dan mengembangkan perekonomian yang pada akhirnya dapat mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat Untuk mewujudkan hal itu, tentu bangsa ini sangat membutuhkan political will sang pemimpin. Siapa pun presidennya kelak, dia diharapkan mampu mengubah pola pikir rakyatnya untuk tidak sekadar menjadi pekerja, tapi melahirkan motivasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Sikap mendorong dunia usaha dan menciptakan iklim dunia usaha yang baik merupakan tugas pemerintah.(*)

Serian Wijatno, S.E., M.M. Ketua Yayasan Tarumanagara (Seputar Indonesia, 16 Juni 2009) Rangkuman Entrepreneurship telah berkembang sejak abad ke-11 sebelum Masehi di Phoenicia kuno namun entrepreneurship sebagai istilah bisnis baru mulai dikenal pada tahun 1980-an, walaupun istilah entrepreneurship telah muncul pada abad ke-18 ketika ekonom Perancis Richard Cantillon mengaitkan entrepreneur dengan aktivitas menanggung risiko dalam perekonomian. 16

Kata entrepreneur berasal dari bahasa Prancis, entre berarti 'antara' dan prendre berarti 'mengambil'. Istilah ini menggambarkan orang-orang yang menciptakan usaha baru dengan menghadapi ketidakpastian dan risiko dengan maksud untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan usaha melalui pengidentifikasian peluang yang signifikan dan penggunaan sumber daya yang diperlukan. Pendidikan entrepreneurship mulai berkembang sekitar 60-an tahun yang lalu di Amerika Serikat yang dimulai dengan mata kuliah entrepreneurship pertama yang diberikan di Harvard Business School pada 1947. Di Indonesia, pendidikan entrepreneurship mulai bermunculan pada tahun 1980-an dan pada tahun 2000-an pendidikan entrepreneurship semakin digalakkan di Indonesia. Aliran pemikiran dalam entrepreneurship dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Pandangan Makro dan Pandangan Mikro. Pandangan Makro menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi sukses gagalnya suatu perusahaan entrepreneurial sedangkan Pandangan Mikro mengevaluasi faktor-faktor spesifik pada entrepreneurship. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, perkembangan entrepreneurship dapat ditelusuri mulai dari pendekatan classical, neoclassical sampai dengan Austrian Market Process (AMP) movement. Entrepreneurship memiliki dampak positif bagi suatu perekonomian dan masyarakat terutama terhadap kekuatan dan stabilitas ekonomi. Salah satu dampak terpenting dari entreprenership adalah penyediaan lapangan pekerjaan. Entrepreneurship telah terbukti mampu mengatasi tingkat pengangguran melalui penciptaan lapangan pekerjaan oleh entrepreneur. Selain itu, entrepreneurship juga dikenal sebagai inisiator perubahan dalam struktur bisnis dan masyarakat. Entrepreneurship juga berperan dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan pasar, menciptakan bisnis baru, dan membawa produk baru ke pasar. Aktivitas entrepreneurial memengaruhi ekonomi dengan membangun dasar ekonomi dan menyediakan lapangan pekerjaan. Proses

entrepreneurial mencakup empat fase yang berbeda, yaitu identifikasi dan

17

evaluasi peluang, pengembangan rencana bisnis, penentuan sumber daya yang dibutuhkan, dan pengelolaan perusahaan yang dibentuk.

Pertanyaan Diskusi 1. Jelaskan pengertian entrepreneurship dan entrepreneur!. 2. Bandingkan aliran pemikiran makro dan mikro dalam entrepreneurship! 3. Jelaskan mengapa entrepreneurship penting bagi suatu negara! 4. Uraikanlah aktivitas dalam proses entrepreneurial.

Tugas di Luar Kelas Kunjungilah website GEM (Global Entrepreneurship Monitor), kemudian ceritakanlah aktivitas GEM dan bagaimana peran GEM dalam mendorong entrepreneurship terutama di negara-negara sedang berkembang.

18

BAB 2 KEPUTUSAN MENJADI ENTREPRENEUR

Setelah menyelesaikan bab ini, Anda diharapkan mampu 1. menjelaskan mitos tentang entrepreneur, 2. menguraikan karakteristik entrepreneur sukses, 3. menjelaskan keuntungan dan kerugian menjadi entrepreneur, dan 4. memahami waktu yang tepat untuk menjadi entrepreneur.

2.1 Entrepreneur : Dapatkah Diciptakan? Pertanyaan yang sering mengemuka dan masih cukup relevan dengan kondisi terkini adalah apakah entrepreneur dapat diciptakan atau memang sudah dilahirkan. Pihak yang meyakini bahwa entrepreneur dapat diciptakan memiliki alasan bahwa entrepreneurship dapat diajarkan seperti ilmu-ilmu lainnya. Berbagai studi memang menunjukkan bahwa tidak semua aspek dalam entrepreneurship dapat diajarkan. Seperti dikemukakan Miller (1987), aspek self confidence, persistence dan high energy levels yang merupakan karakteristik entrepreneur tidak dapat diajarkan dengan metode konvensional di dalam kelas. Menurutnya, pengajar tidak dapat menciptakan entrepreneur tetapi dapat menghasilkan formula mengenai langkah-langkah sukses entrepreneurship. Pendapat Miller diperkuat oleh Jack dan Anderson (1998) yang mengatakan bahwa proses entrepreneurship merupakan seni dan ilmu. Bagian ilmu melibatkan fungsi bisnis dan manajemen yang dapat diajarkan dengan menggunakan pendekatan konvensional. Bagian seni yang menyangkut aspek kreatif dan inovatif tidak dapat diajarkan dengan cara yang sama. Program entrepreneurship dalam rangka menciptakan entrepreneur mengajarkan kecakapan yang diperlukan dalam membangun usaha bisnis baru. Hisrich, Peters, & Shepherd (2008) membagi kecakapan tersebut ke dalam tiga kategori, yaitu: kecakapan teknikal, kecakapan manajemen

19

bisnis, dan kecakapan pribadi entrepreneur. Kecakapan teknikal meliputi keterampilan komunikasi oral dan tertulis, teknik manajemen dan keterampilan berorganisasi. Kecakapan manajemen bisnis meliputi aspek perencanaan, pengambilan keputusan, pemasaran dan akuntansi.

Kecakapan pribadi entrepreneur berkaitan dengan kontrol diri, inovasi dan pengambilan keputusan. Gibb (1987) menyatakan bahwa pengajaran entrepreneurship difokuskan pada masa lalu dengan pemahaman, umpan balik dan analisis informasi dalam jumlah besar. Kenyataannya adalah entrepreneur berfokus pada masa kini dengan sedikit waktu. Seorang entrepreneur menghabiskan waktu dengan masalah dan belajar melalui

pengalamannya. Hal ini menegaskan apa yang disampaikan Timmons, Muzyka, Stevenson & Bygrave (1987) bahwa terdapat keterbatasan mengenal apa yang dapat diajarkan dalam program entrepreneurship. Menurutnya, satu-satunya cara belajar yang paling efektif adalah melalui pengalaman pribadi dari para entrepreneur yang sesungguhnya. la menilai bahwa kualitas business plan (rencana bisnis) yang dihasilkan dari banyak program entrepreneurship merupakan kunci pembelajaran yang efektif. Pendapat berbeda dikemukakan oleh Hills (1988) yang justru mempertanyakan program entrepreneurship yang menghasilkan business plan meskipun fakta menunjukkan bahwa pengembangan business plan menjadi elemen yang biasa dibahas dalam hampir seluruh program entrepreneurship. Menurutnya fokus yang berlebihan pada business plan sebagai output mungkin menghalangi respon entrepreneurship terhadap berbagai pembaruan dalam lingkungan. Business plan lebih bermanfaat bagi manajer bank atau institusi pemberi dana daripada bagi entrepreneur itu sendiri Gorman, Hanlon & King (1997) melaporkan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah studi empiris mengenai proses dan struktur pendidikan entrepreneurship. la juga melaporkan bahwa entrepreneurship dapat diajarkan atau bila tidak dapat diajarkan, paling tidak bisa dikembangkan melalui pendidikan entrepreneurship. Pandangan tersebut sejalan dengan

20

Kantor

(1988)

yang

meyakini

bahwa

ciri-ciri

dan

kemampuan

entrepreneurship dapat diajarkan di mana kemampuan entrepreneur lebih dapat diajarkan dibandingkan ciri-cirinya. Boussouara & Deakins (1998) menyarankan bahwa entrepreneur belajar tidak melalui pengajaran yang terstruktur tetapi melalui pengalaman dan trial and error. Saee (1996) juga membandingkan pengajaran entrepreneurship ke dalam bentuk seni dan menyarankan bahwa beberapa individu memiliki bakat alam menjadi entrepreneur dan yang lainnya harus bekerja keras untuk mencapai hasil yang sama. Pada akhirnya, entrepreneur dapat diciptakan karena

entrepreneurship dapat diajarkan meskipun berbagai program tersebut tidak menjamin seratus persen. Kurikulum program yang dikembangkan dapat mendemonstrasikan proses yang mesti dilalui seseorang agar dapat menjadi entrepreneur yang sukses. Dengan demikian, pendapat bahwa entrepreneur dilahirkan adalah mitos. Frederick, Kuratko & Hodgetts, 2006) menjabarkan mitos lainnya mengenai entrepreneur sebagai berikut (lihat Tabel 2.1). 1. Entrepreneur adalah pelaku bukan pemikir. Untuk menjadi entrepreneur sukses diperlukan keahlian untuk berpikir sistematis dan lugas, serta melakukan perencanaan secara hati-hati. Tindakan yang membawa sukses entrepreneur dilakukan berdasarkan pemikiran yang matang. 2. Entrepreneur selalu penemu. Tidak semua penemu (inventor) adalah entrepreneur dan tidak semua entrepreneur adalah penemu. Syarat utama untuk menjadi

entrepreneur adalah kreativitas dan inovatif. 3. Entrepreneur adalah korban PHK (pemutusan hubungan kerja) dan drop out sekolah. Mungkin terdapat beberapa entrepreneur yang merupakan korban PHK atau putus sekolah. Entrepreneur sukses merupakan hasil dari keseriusan, ketekunan, keuletan, kreativitas, dan inovatif, yang tidak ada kaitannya dengan apakah seseorang menjadi korban PHK atau putus sekolah.

21

4. Entrepreneur harus cocok dengan profil seseorang. Profil seseorang tidak menentukan apakah dirinya akan pasti menjadi entrepreneur. Terdapat banyak faktor lain yang menentukan apakah seseorang akan menjadi entrepreneur seperti faktor lingkungan, jenis usaha, dan minat. 5. Semua entrepreneur memerlukan uang. Bisnis yang gagal bisa jadi karena pendanaan yang kurang memadai. Entrepreneur dapat memulai bisnisnya dengan tanpa dana. Modal utama entrepreneur adalah kreativitas dan inovasi dalam menjalankan bisnis di samping faktor keuletan dan hasrat yang kuat untuk sukses. 6. Seluruh entrepreneur memerlukan keberuntungan. Kesuksesan entrepreneur diperoleh dari kerja keras. Keberuntungan tidak datang dengan sendirinya. Peluang dan kesiapan entrepreneur yang menentukan kesuksesan. 7. Terlalu menekankan pada perencanaan dan evaluasi akan

menimbulkan masalah. Dalam bisnis, entepreneur tetap memerlukan perencanaan dan analisis yang seksama untuk meminimalkan masalah yang timbul. Kelalaian pada aspek ini justru akan membawa kegagalan pada bisnis entrepreneur. 8. Untuk menjadi sukses harus melalui kegagalan. Kegagalan memang merupakan salah satu aspek pembelajaran yang dapat memberikan manfaat positif di kemudian hari. Untuk menjadi sukses tidak mesti harus melalui kegagalan. 9. Entrepreneur adalah pengambil risiko ekstrem. Salah satu karakteristik entrepreneur sukses adalah berani mengambil risiko. Entrepreneur mengkalkulasi risiko yang dihadapinya. Dengan demikian, entrepreneur bekerja pada risiko yang moderat.

22

Tabel 2.1 Sepuluh Mitos Entrepreneur Mitos Entrepreneur 1. Entrepreneur dilahirkan. 2. Entrepreneur adalah pelaku bukan pemikir. 3. Entrepreneur selalu penemu. 4. Entrepreneur adalah korban PHK (pemutusan hubungan kerja) dan drop out sekolah. 5. Entrepreneur harus cocok dengan profil seseorang. 6. Semua entrepreneur memerlukan uang. 7. Seluruh entrepreneur memerlukan keberuntungan. 8. Terlalu menekankan pada perencanaan dan evaluasi akan menimbulkan masalah. 9. Untuk menjadi sukses harus melalui kegagalan. 10. Entrepreneur adalah pengambil risiko ekstrem.
Sumber: diadaptasi dari Howard H. Frederick, Donald F. Kuratko& Richard M. Hodgetts. (2006). Entrepreneurship: Theory, Process, and Practice, 1st Asia Pacific Edition, Australia: Cengage Learning Australia Pty. Limited, hal 2931.

2.2 Karakteristik Entrepreneur Kini, menjadi entrepreneur merupakan cita-cita sebagian anak muda yang kreatif dan inovatif. Entrepreneur menjadi satu pilihan profesi yang sangat rnenarik. Berbagai peluang usaha tersedia dan menawarkan berbagai manfaat yang menggiurkan. Menurut Frederick et al (2006) 17 karakteristik yang melekat pada diri entrepreneur adalah sebagai berikut. 1. Komitmen total, determinasi dan keuletan hati Entrepreneur adalah mereka yang memiliki komitmen total dan determinasi untuk maju sehingga dapat mengatasi berbagai hambatan. Kesulitan yang timbul tidak memadamkan semangat entrepreneur untuk terus berkreasi dan berinovasi. 2. Dorongan kuat untuk berprestasi Entrepreneur adalah orang yang berani memulai sendiri, tidak terlalu

23

bergantung pada orang lain, yang digerakkan oieh keinginan kuat untuk berkompetisi, melampaui standar yang ada dan mencapai sasaran. 3. Berorientasi pada kesempatan dan tujuan Entrepreneur yang sukses adalah mereka yang fokus pada peluang yang ada. Mereka memulai usaha dari peluang, memanfaatkan sumber daya yang ada serta menerapkan struktur dan strategi secara tepat. Mereka menetapkan standar yang tinggi untuk tujuan tetapi masih dapat dicapai. 4. Inisiatif dan tanggung jawab Entrepreneur adalah pribadi yang independen, bergantung pada dirinya sendiri dan secara aktif mengambil inisiatif. Mereka suka mengambil inisiatif untuk memecahkan masalah. 5. Pengambilan keputusan yang persisten Entrepreneur adalah mereka yang tidak mudah terintimidasi oleh situasi yang sulit. Mereka adalah pribadi yang percaya diri dan optimistis. 6. Mencari umpan balik Entrepreneur yang efektif adalah pembelajar yang cepat. Tidak seperti kebanyakan orang, mereka memiliki keinginan kuat untuk mengetahui bagaimana mereka bertindak dengan benar dan memperbaiki kinerjanya. Umpan balik adalah sentral dari pembelajaran seorang entrepreneur. 7. Internal locus of control Entrepreneur yang sukses meyakini diri mereka sendiri. Mereka tidak percaya bahwa keberhasilan atau kegagalan dipengaruhi oleh takdir, keberuntungan dan kekuatan serupa lainnya. Mereka percaya bahwa pencapaian yang diperoleh merupakan hasil pengendalian dan pengaruh diri. Entrepreneur juga meyakini bahwa mereka dapat mengendalikan lingkungan melalui berbagai aktivitas yang dilakukan. 8. Toleransi terhadap ambiguitas Entrepreneur selalu menghadapi kondisi ketidakpastian. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi yang diperlukan untuk memetakan situasi. Entrepreneur dengan toleransi yang tinggi terhadap ambiguitas akan

24

menanggapi kondisi tersebut dengan upaya-upaya terbaik untuk mengatasinya. 9. Pengambilan risiko yang terkalkulasi Entrepreneur bukanlah penjudi. Ketika mereka terlibat dalam suatu bisnis, mereka telah memperhitungkan dengan pemikiran yang matang. Mereka selalu menghindari untuk mengambil risiko yang tidak perlu. 10. Integritas dan reliabilitas Karakteristik ini merupakan kunci kesuksesan relasi antara pribadi dan bisnis yang membuat entrepreneur dapat bertahan lama. 11. Toleransi terhadap kegagalan Kegagalan adalah hal yang biasa bagi entrepreneur. Hal ini merupakan bagian dari pengalaman pembelajaran. Entrepreneur yang efektif adalah mereka yang cukup realistis dalam menghadapi kesulitan. Mereka tidak menjadi kecewa, terpukul atau depresi ketika mengalami kegagalan. Sebaliknya, mereka terus mencari kesempatan karena mereka menyadari bahwa banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kegagalan daripada keberhasilan. 12. Energi tingkat tinggi Entrepreneur sering menghadapi beban kerja yang berat dan tingkat stres yang tinggi. Hal ini merupakan hal biasa. Entrepreneur selalu memiliki energi tinggi untuk menghadapinya. 13. Kreatif dan inovatif Entrepreneur yang sukses adalah mereka yang kreatif dan inovatif. Kreatifitas dapat dipelajari dan dilatih serta merupakan kunci sukses dalam struktur ekonomi masa kini. 14. Visi Entrepreneur mengetahui arah bisnis yang akan dijalani. Visi dikembangkan sepanjang waktu yang menentukan eksistensi bisnis mereka di masa depan. 15. Independen Entrepreneur menginginkan kebebasan dalam mengembangkan bisnis. Mereka tidak menginginkan birokrasi yang membelenggu yang dapat

25

menghambat aktivitasnya. 16. Percaya diri dan optimis Entrepreneur selalu menghadapi berbagai tantangan tetapi hal itu tidak membuat kehilangan kepercayaan diri dan pesimis. Entrepreneur selalu percaya diri dan optimis bahwa mereka dapat mengatasi berbagai kesulitan yang menghadang. 17. Membangun tim Meskipun entrepreneur selalu menginginkan otonomi tetapi tidak membatasi keinginannya untuk membangun tim entrepreneurship yang kuat. Entrepreneur yang sukses membutuhkan tim yang handal yang dapat menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha. Sementara itu, Barringer dan Ireland (2008) mendeskripsikan empat karakteristik utama yang dimiliki entrepreneur sukses. Keempat karakter tersebut adalah 1. Hasrat yang kuat terhadap bisnis. Karakteristik ini mendeskripsikan kepercayaan entrepreneur bahwa bisnis secara positif akan mempengaruhi kehidupan manusia dan menjadikan dunia lebih baik untuk ditinggali. Hal ini juga menjelaskan mengapa banyak eksekutif yang telah mapan meninggalkan

pekerjaannya dan memulai bisnisnya sendiri. 2. Fokus pada produk dan pelanggan. Karakteristik ini menekankan betapa pentingnya seorang entrepreneur untuk memahami dua elemen penting dalam bisnis yaitu produk dan pelanggan. Entrepreneur memiliki obsesi untuk menawarkan produk yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan. 3. Keuletan meskipun menghadapi kegagalan. Kegagalan adalah hal yang biasa dalam berbisnis, apalagi jika entrepreneur memulai bisnisnya yang baru. Beberapa jenis usaha membutuhkan serangkaian eksperimentasi sebelum sukses diraih. Kegagalan dan kemunduran menjadi bagian dari proses yang mesti dihadapi. Entrepreneur sukses memiliki keuletan dan kegigihan untuk menghadapi situasi tersebut.

26

4. Kepandaian dalam eksekusi. Bisnis yang sukses tak lepas dari kepandaian entrepreneur

mengimplementasikan berbagai rencananya ketika usaha mulai berjalan. Pepatah China kuno menyatakan bahwa "membuka sebuah bisnis adalah mudah, tapi untuk membuatnya terus buka, adalah sulit. Entrepreneur harus dapat memadukan berbagai aktivitas:

mengeksekusi ide menjadi model bisnis yang riil, membangun kebersamaan tim, membangun kemitraan, mengelola keuangan, memimpin, memotivasi karyawan dan sebagainya. Jadi selain 17 karakteristik yang disampaikan Frederick et al (2006), entrepreneur sukses juga perlu memperhatikan keinginan pasar dan memiliki kemampuan dalam mengimplementasikan rencana bisnisnya. Tabel 2.2 merangkum seluruh karakteristik entrepreneur sukses. Tabel 2.2 Karakteristik Entrepreneur Sukses Karakteristik Entrepreneur Sukses 1. Komitmen total, determinasi dan keuletan hati 2. Dorongan kuat untuk berprestasi 3. Berorientasi pada kesempatan dan tujuan 4. Inisiatif dan tanggung jawab 5. Pengambilan keputusan yang persisten 6. Mencari umpan balik 7. Internal locus of control 8. Toleransi terhadap ambiguitas 9. Pengambilan risiko yang terkalkulasi 10. Integritas dan reliabilitas 11. Toleransi terhadap kegagalan 12. Energi tingkat tinggi 13. Kreatif dan inovatif 14. Visi 15. Independen 16. Percaya diri dan optimis 17. Membangun tim 18. Fokus pada produk dan pelanggan 19. Kepandaian dalam eksekusi
Sumber: diadaptasi dari Frederick et ai (2006), hal 29-31. Bruce R. Barringer & R. Duane Ireland. (2008). Entrepreneurship: Successfully Launching New Ventures, 2nd edition, Upper Saddle River, New Jersey: Pearson/Prentice Hall, hal 8-12.

27

2.3 Keuntungan dan Kerugian Menjadi Entrepreneur Tidak ada satu pun pilihan profesi di dunia ini yang hanya menawarkan segenap keuntungan tanpa diimbangi adanya kerugian, tak terkecuali pilihan untuk menjadi entrepreneur. Ada potensi keutungan yang dapat diraih, tapi ada pula kerugian yang mungkin tidak terhindari. Zimmerer, Scarborough, dan Wilson (2008) mengemukakan enam peluang keuntungan dengan menjadi entrepreneur. Enam peluang tersebut adalah sebagai berikut. 1. Peluang menentukan nasib sendiri. Dengan memiliki usaha sendiri, seseorang dapat menentukan nasibnya sendiri dan tidak bergantung pada keberadaan orang lain selaku pemilik usaha. Entrepreneur dapat mengembangkan diri sesuai dengan minat dan kemampuan, sehingga membuat dirinya lebih berarti bagi masyarakat. 2. Peluang melakukan perubahan. Entrepreneur dapat melakukan perubahan dengan usaha yang dilakukan. Perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat dan negara. Sesuatu yang sulit dilakukan jika masih bekerja sebagai karyawan biasa. 3. Peluang untuk mencapai potensi sepenuhnya Jika masih bekerja sebagai karyawan, seseorang dapat merasakan kebosanan, kejenuhan, kurang memperoleh tantangan dan merasa tidak dapat mengembangkan potensi diri yang dimiliki. Entrepreneur dapat mengaktualisasikan diri sepenuh hati dengan usaha yang dijalankannya. 4. Peluang untuk memperoleh keuntungan yang menakjubkan. Dengan hanya menjadi karyawan yang berpenghasilan tetap tiap bulan, seseorang merasa bahwa itu belum cukup untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginan hidup. Makin berkembangnya zaman, tuntutan gaya hidup mau tidak mau harus dapat dipenuhi. Entrepreneur dengan kemungkinan memperoleh penghasilan tanpa batas

memberikan peluang bagi setiap orang untuk memenuhi segala yang

28

diinginkannya. Uang memang tidak menjadi faktor utama seseorang menjadi entrepreneur, tetapi dengan menjadi entrepreneur seseorang dapat menjadi makmur dan tercukupi segala kebutuhan hidupnya. Orang-orang yang bekerja bagi dirinya sendiri memiliki peluang empat kali lebih besar untuk menjadi kaya daripada orang-orang yang bekerja untuk orang lain. 5. Peluang untuk berperan besar dalam masyarakat dan memperoleh pengakuan. Entrepreneur yang merupakan pemilik bisnis dapat menjadi warga masyarakat yang dihormati karena perannya yang berarti bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara. Mereka dapat menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup warga sekitar. 6. Peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan bersenang-senang dalam mengerjakannya. Seseorang yang bekerja sebagai karyawan sering merasa terpaksa untuk melakukan tugasnya. Entrepreneur melakukan apa yang ia suka sehingga apa yang dilakukan tidak dirasa sebagai kerja, tetapi sebagai aktivitas "senang-senang". Selanjutnya Zimmerer ef al (2008) juga mengemukakan tujuh potensi kerugian dengan menjadi entrepreneur. Ketujuh potensi kerugian tersebut adalah sebagai berikut. 1. Ketidakpastian pendapatan Seseorang yang bekerja sebagai karyawan suatu perusahaan akan memperoleh gaji tetap setiap bulan. Kondisi yang sama tidak akan dialami seorang entrepreneur. Bahkan kondisi akan lebih buruk jika bisnis baru saja dimulai. Suatu saat penghasilan dapat membumbung tinggi, tapi ketika kondisi sedang tidak menguntungkan, entrepreneur harus siap merugi, memperoleh pendapatan jauh di bawah seorang pegawai perusahaan. 2. Risiko kehilangan seluruh investasi Ketika seseorang memulai bisnis, tidak ada jaminan bahwa investasi yang ditanamkan akan menuai hasil. Selalu ada kemungkinan untuk

29

berhasil demikian pula untuk kehilangan seluruh investasi. Batas antara kegagalan dan keberhasilan begitu tipis. 3. Kerja lama dan kerja keras Tidak ada keberhasilan usaha sejati yang datang seketika, instan, tanpa proses, kerja lama dan kerja keras. Entrepreneur dituntut bekerja keras, sepanjang waktu agar usaha yang dijalankan dapat eksis. Jam kerja bisa tidak terbatas. Durasi kerja karyawan yang menghabiskan waktu sekitar delapan jam sehari tentu tidak dapat diterapkan seorang entrepreneur. Entrepreneur tidak mengenal kata kapan harus berhenti bekerja. Dua puluh empat jam sehari mungkin bisa jadi terasa kurang. 4. Kualitas hidup yang rendah sampai bisnis mapan Seorang entrepreneur harus rela menjadi "miskin" dan "menderita" sebelum sukses datang. Tidak ada rasa gengsi dan malu karena entrepreneur harus menjalani proses yang berliku sebelum bisnis mapan. 5. Tingkat stres yang tinggi Dengan tantangan usaha yang makin keras, tidaklah mengherankan jika entrepreneur mengalami tingkat stres yang tinggi. Jauh lebih tinggi jika hanya menjadi pegawai biasa. 6. Tanggung jawab penuh Jika seorang karyawan bekerja di perusahaan, tanggung jawabnya terbatas pada tugas yang penuh dikerjakan. terhadap Seorang entrepreneur bisnis.

bertanggung

jawab

semua

aktivitas

Keberhasilan dan kegagalan usaha sepenuhnya ada di tangan entrepreneur. 7. Keputusasaan Kesuksesan tidak datang begitu saja, jatuh dari langit. Kegagalan juga tidak begitu saja menjauh, karena menjadi bagian dari proses menuju sukses. Entrepreneur harus siap untuk berhasil, dan siap untuk gagal. Kesuksesan tentu menjadi harapan, menimbulkan spirit yang luar biasa bagi entrepreneur untuk terus maju dan berkembang. Sebaliknya, kegagalan tidak jarang membuat entrepreneur frustrasi dan putus asa.

30

Tabel entrepreneur.

2.3

merangkum

keuntungan

dan

kerugian

menjadi

Tabel 2.3 Keuntungan dan Kerugian menjadi Entrepreneur Keuntungan


1. Peluang menentukan nasib sendiri. 2. Peluang melakukan perubahan. 3. Peluang untuk mencapai potensi sepenuhnya. 4. Peluang untuk memperoleh keuntungan yang menakjubkan. 5. Peluang untuk berperan besardalam masyarakat dan memperoleh pengakuan. 6. Peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan bersenang-senang dalam mengerjakannya.

Kerugian
1. Ketidakpastian pendapatan 2. Risiko kehilangan seluruh investasi 3. Kerja lama dan kerja keras 4. Kualitas hidup yang rendah sampai bisnis mapan 5. Tingkat stres yang tinggi 6. Tanggungjawab penuh 7. Keputusasaan

Sumber: diadaptasi dari Thomas W. Zimmerer, Norman M. Scarborough, & Dough Wilson. (2008). Essentials of Entrepreneurship and Small Business Management (5th Ed.). New Jersey: Pearson/Prentice Hall, hal 8-15.

2.4 Waktu yang Tepat Menjadi Entrepreneur Menjadi entrepreneur adalah salah satu pilihan hidup. Tidak semua orang ingin menjadi entrepreneur dengan berbagai alasan. Tidak sedikit pula yang dengan penuh kesadaran memilih menjadi entrepreneur. Keputusan seseorang untuk menjadi entrepreneur memang tidak mudah dan beragam. Banyak contoh entrepreneur muda yang memulai bisnisnya ketika masih kuliah. Mark Zuckerberg, pemilik situs jejaring sosial Facebook adalah salah satunya. Facebook saat ini dikenal di seluruh dunia dan merupakan salah satu jaringan sosial yang paling diminati dan paling banyak dikunjungi di dunia (Lihat Boks 2.1) Boks 2.1 Mark Zuckerberg dan Facebook Mark Zuckenberg belum berusia 25 tahun tetapi ia membuktikan bahwa menjadi entrepreneur sukses bahkan milyuner dapat terwujud atas hasil kerja keras dan keringat sendiri. la merintisnya sejak bangku kuliah bersama rekan-rekan kuliahnya.

31

Mark Zuckenberg besar di pinggiran New York yaitu Dobbs Fery dan bersekolah di Phillips Exeter Academy di New Hampshire. Ayahnya adalah seorang dokter gigi, ibunya seorang psikiater. la memiliki tiga saudara perempuan. la belajar sendiri memprogram komputer sejak bangku SMA. ia dan rekannya hacker-programmer Adam D'Angeto tertarik dengan AOL dan Microsoft dengan menciptakan plug-in Winamp yang dapat

membangun ptaylist customized. Keduanya menolak tawaran kerja demi kuliah. Zuckerberg berkuliah di Harvard dan D'Angelo di Caltech. Semasa kuliah ia tidak hanya belajar programing, ia menciptakan situs rating foto yang disebut Facemash yaitu sejenis situs foto online milik sekolah (sebuah publikasi mirip buku tahunan sekolah) menggunakan foto-foto dari mahasiswa Harvard yang lain, la menciptakan program sendiri dengan meng-hack data-data mahasiswa dan menggunakan foto-foto tersebut tanpa izin. Teguran dari bagian administrasi pun ia terima. Mark tidak ciut. ia bahkan menyelesaikan platform untuk Facebook, mengkombinasikan konsep dari buku tahunan tradisional dengan situs-situs jejaring sosial berskala besar seperti Friendster dan Myspace. Pada Februari 2004, Zuckerberg meluncurkan program tersebut dari kamar asramanya dengan sesama pendiri Dustin Moskovitz, Chris Hughes dan Eduardo Saverin. Dalam beberapa minggu saja, lebih dari setengah sekolah telah membuka account dan melebar lagf ke lebih banyak universitas dan kampus. Pada musim semi, Zuckerberg dan timnya pindah ke Palo Alto, California, menyewa sebuah kontrakan dan bercengkerama dengan investor-investor seperti salah satu pendiri Paypal, Peter Thiel dan salah satu pendiri Napster, Sean Parker. Pada Agustus 2005, Mark secara resmi mengganti nama perusahaan menjadi Facebook, dan setelah berhasil meraup $12,7 juta, siap untuk memindahkan perusahaan ke tingkat lebih tinggi. Situs tersebut pun berkembang dari jaringan kampus termasuk sekolah-sekolah menengah atas, ke grup-grup lingkungan kerja, Pada September 2006, setiap orang yang memiliki alamat email

32

dapat bergabung. Sekarang, ada lebih dari 110 juta pengguna aktif, dan menurut comScore Media Metrtx, yang mencatat aktivitas Web, Facebook tercatat sebagai top situs sharing foto di jaringan internet. Situs peringkat empat yang paling banyak dikunjungi di dunia. Pada 2006, Mark membuat dunia terheran dengan menolak tawaran Yahoo! untuk membeli Facebook seharga 1 juta dolar. Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya membuktikan bahwa membangun bisnis dapat dirintis sejak bangku kuliah dan basis bisnis yang dikembangkan berdasarkan bidang ilmu yang sedang digeluti. Keuletan dan ketekunan tentu menjadi syarat mutlak bagi entrepreneur untuk sukses.
Sumber: Yuliana, http://renungan-harian-kita.blogspot.com/2009/03/kisah- sukses - mark-zuckerberg-pendiri.html

Mark Zuckerberg merintis bisnis karena kegemarannya pada programming komputer. Ada juga entrepreneur yang membangun bisnis karena motif lain. Menurut Barringer dan Ireland (2008) terdapat kejadian yang memicu seseorang sampai pada pilihan tersebut. Kejadian pemicu tersebut misalnya: 1. Seseorang yang kehilangan pekerjaannya. Salah satu pilihan bagi seseorang yang kehilangan pekerjaan entah karena pensiun atau diberhentikan dengan berbagai alasan, adalah mencari nafkah dengan menjadi entrepreneur. Ketika krisis ekonomi, banyak perusahaan gulung tikar karena mengalami kesulitan finansial, berbisnis sendiri justru menyediakan peluang keberhasilan yang begitu besar. 2. Seseorang yang memperoleh harta warisan. Modal sering menjadi penghalang utama seseorang untuk memulai bisnis. Dengan alasan tidak memiliki atau kekurangan modal, upaya entrepreneurship menemui jalan buntu. Harta warisan seperti menjadi "berkah" bagi mereka yang menjadikan modal sebagai penghalang usaha. 3. Gaya hidup Dewasa ini entrepreneur wanita telah menjadi bagian dari tren gaya

33

hidup yang menyebar di berbagai negara. Dengan menjalankan fungsi ganda, sebagai ibu rumah tangga dan pebisnis, seorang wanita mungkin menunggu sampai anaknya bersekolah sebelum ia mulai berbisnis. Boks 2.2 dan Boks 2.3 mengilustrasikan pemicu dan aspek utama yang mendorong seseorang menjadi entrepreneur. Boks 2.2 Dicari : Wirausaha! Gerakan entrepreneurship di berbagai negara menjadi lokomotif dalam penciptaan lapangan kerja, inovasi dan kreasi. Bisnis kecii (small business) dalam entrepreneurship memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi perekonomian. Data Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menunjukkan, pada 2005 usaha kecil menyumbang 39,36% terhadap PDB nasional menurut harga konstan dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 89%. Bisa diajarkan Berbagai studi melaporkan bahwa entrepreneurship bisa diajarkan. Memang tidak semua aspek dalam entrepreneurship bisa diajarkan. Miller (1987) mengemukakan bahwa aspek self-confidence, persistence dan high energy levels yang merupakan karakteristik wirausaha tidak bisa diajarkan di dalam kelas. Menurutnya, instruktur tidak bisa menciptakan wirausaha alias entrepreneur tapi hanya bisa menghasilkan formula mengenai iangkah-langkah sukses entrepreneurship. Hal tersebut diperkuat oleh Jack dan Anderson (1998). Mereka menyebut proses entrepreneurship sebagai seni dan ilmu. Bagian ilmu melibatkan keterampilan fungsi bisnis dan manajemen yang bisa diajarkan dengan menggunakan pendekatan konvensional. Tapi, bagian seni yang menyangkut aspek kreatif dan inovatif tampaknya tidak bisa diajarkan dengan cara yang sama.

34

Apa yang diajarkan dalam program entrepreneurship merupakan skill yang diperlukan dalam usaha bisnis baru. Hisrich dan Peters (1998) membagi skill dalam tiga kategori: technical skills, business management skills dan personal entrepreneur skills. Technical skills meliputi keterampiian komunikasi oral dan tertulis, teknik manajemen dan keterampilan berorganisasi. Business management skills menyangkut aspek perencanaan, pengambilan keputusan,

pemasaran dan akuntansi. Personal entrepreneurial skills berkait dengan inner control, inovasi dan pengambilan risiko. Kurikulum yang dikembangkan University of Tasmania dalam program entrepreneurship dan memihki dua aspek utama: personal

development

enterprise

development.

Personal

development

menempatkan entrepreneurship ke dalam perspektif mahasiswa mengenai peran wirausaha terkait dengan skill dan perilaku yang mereka miliki. Enterprise development berfokus pada pengetahuan dan skill yang digunakan untuk mengembangkan sebuah usaha baru. Mengenai metode pengajaran apa yang sebaiknya digunakan dalam program

entrepreneurship, tentu membutuhkan kajian yang mendalam. Hal yang perlu ditekankan bahwa pendekatan konvensional tidak bisa diterapkan bila calon wirausaha diarahkan untuk memperoleh experience dan practical skills. Pendekatan "agak konvensional" seperti studi kasus, role play, simulasi dan metode pengajaran pemecahan masalah di dalam kelas, yang panduannya telah disediakan dan jawaban telah diketahui, hanya bisa meningkatkan logika daripada pemikiran kreatif dan inovatif. Metode kasus efektif untuk mengembangkan kemampuan analisis dan mensintesis informasi. Pelatihan berdasarkan metode proyek (project method) digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan

pengetahuan serta pemahaman seperti kemampuan untuk mengevaluasi. Untuk kawasan regional Asia Tenggara, National University of Singapore (NUS) menjadi pelopor dalam pendidikan entrepreneurship. Universitas ini menerapkan pendekatan learning-by-doing melalui aktivitas

35

di luar kelas seperti magang dan menjalankan usaha kecil di kampus serta bekerja dalam konsultan kecil. Pengajaran di kelas menggunakan pendekatan experiential learning yaitu siswa menggunakan komputer untuk mentransfer simulasi strategi ke situasi kehidupan nyata. Seluruh program di NUS menempatkan pengembangan business plan sebagai sentral dalam pendidikan entrepreneurship. Persiapan hingga penyelesaian business plan dilakukan ofeh sekelompok siswa yang lalu dipresentasikan pada sebuah panel yang terdiri atas staf fakultas, pemilik modal dan wirausaha. Metode ini sejalan dengan pendekatan

learning-by-doing. Mendemonstrasikan Proses Di China, Tsinghua University merupakan universitas pertama yang menyelenggarakan program entrepreneurship dengan menyelenggarakan kompetisi business plan bagi siswa pada 1998. Sejak pertama kali digulirkan dan menjadi kompetisi tahunan, kegiatan ini teiah menjadi perhelatan besar dan telah menarik peminat serius dari kalangan siswa maupun pebisnis lokal. Model yang dikembangkan tersebut merupakan terobosan baru terhadap sistem pendidikan di China yang lebih mengutamakan pada akuisisi pengetahuan ketimbang aspek aplikasi kreatif dan praktis. Gibb (1987) menyatakan bahwa sekarang ini pengajaran

entrepreneurship difokuskan pada masa lalu dengan pemahaman, umpan balik (feed back) dan anaiisis informasi dalam jumlah besar. Kenyataannya wirausaha berfokus pada masa kini dengan sedikit waktu. Seorang wirausaha menghabiskan waktu dengan masalah dan belajar melalui pengalamannya. Hal ini menegaskan apa yang disampaikan Timmons (1987) bahwa terdapat keterbatasan mengenai apa yang bisa diajarkan dalam program entrepreneurship. Menurutnya, satu-satunya cara belajar entrepreneurship adalah melaiui pengalaman personal dari para wirausaha yang

sesungguhnya. la melihat kualitas dari business plan yang dihasilkan dari banyak program entrepreneurship merupakan kunci pembelajaran yang 36

efektif. Sebaliknya Hills (1997) mempertanyakan program entrepreneurship yang menghasilkan business plan. Menurutnya fokus yang berlebih pada business plan sebagai output mungkin menghalangi respon

entrepreneurship terhadap pembaruan-pembaruan dalam lingkungan. Business plan lebih bermanfaat bagi manajer bank atau badan pemberi dana daripada bagi wirausaha itu sendiri. Pada akhirnya berbagai metode belajar yang dikembangkan tersebut tidak menjamin bisa menciptakan seorang wirausaha. Kurikulum yang dikembangkan hanya bisa mendemonstrasikan proses yang mesti dilalui seseorang agar bisa menjadt wirausaha yang sukses.
Sumber: Franky Slamet,"Dicari: Wirausaha!", Harian Kontan, No 394, Tahun 21 Juni 2008.

Boks 2.3 Gideon Hartono, Pemifik Apotek K-24: Gagal Jadi Dokter Mata, Sukses Jadi Juragan Obat Hidup susah di masa lalu malah menginspirasi Gideon Hartono untuk mengubah nasib. Terbukti, setelah jadi dokter puskesmas, kini Gideon jadi juragan obat. Di mana ada, pasti ada jalan. Tamsil kuno inilah yang mengantarkan kesuksesan bagi Gideon Hartono, pemilik Apotek K-24. Gideon lahir sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara dari keluarga tidak mampu. Kedua orang tuanya adalah penjaja kue moci dan tepung beras merah keliling dari Yogyakarta hingga Klaten, yang berjarak 45 km. "Untuk makan sehari-hari pun kami sulit. Yang bisa kami lakukan adalah berdoa tiap malam agar bisa makan besok," kenang Gideon, getir. Keseharian Gideon kecil adalah menimbang komposisi kue moci. Ini karena bahan baku kue mod sering naik turun. Supaya harga kue moci tidak ikut melambung, komposisinya perlu diatur.

37

Ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Gideon bahkan terjun langsung membantu orang tua menjual tepung beras merah keliling Klaten. Setelah masuk SMA Kolese de Britto, Yogyakarta, Gideon tanpa segan mengoordinasi teman-temannya menjual makanan ke calon siswa baru. Pahitnya kehidupan di masa muda itulah yang membuat Gideon ingin menjadi dokter. Harapannya, dengan menjadi dokter, dia akan bisa membantu ekonomi keluarganya. Gideon sebenarnya ingin masuk fakultas kedokteran di Jakarta atau di Bandung. Namun niat itu terhalang biaya. Orangtuanya tak sanggup kalau harus membiayai hidup Gideon di kota besar. "Jadi, saya memilih kuliah kedokteran di Yogyakarta saja," ujar Gideon. Tekadnya sudah kuat, dalam formulir seleksi ia hanya mengisi satu jenis jurusan saja. "Dua pilihan jurusan saya biarkan kosong dan hanya jurusan kedokteran yang saya pilih," tutur Gideon, "saat itulah air mata saya mengalir." Setelah lulus kuliah pada 1990, ia tertarik menjadi dokter spesialis mata. Sayang, pemerintah Orde Baru "memangkas" kesempatan bagi warga keturunan China untuk berkembang. "Saat itu warga keturunan dihambat untuk memiliki keahlian khusus. Saya gagal dua kali ujian," kenang dia. Gideon pun akhirnya hanya menjadi dokter di Puskesmas Gondokusuman II, Yogyakarta. "Saya melayani pengemis, pengasong, tukang becak," ujar dia. Nan, ide mendirikan apotek muncul ketika suatu malam ia kesulitan mencari obat karena tak ada apotek yang buka. Dari situ, Gideon ingin memiliki apotek yang buka 24 jam sehari dengan obat yang komplet. "Modalnya sekitar Rp 400 juta. Sebagian dari tabungan hasil lomba fotografi yang pernah saya ikuti," kata dia. Sebelum membuka apotek pertamanya, Gideon sama sekali tidak melakukan riset pasar. la juga tidak arnbil pusing apakah apoteknya nanti diterima atau tidak oleh konsumen. la hanya mengandalkan tekad,"Saya

38

tidak punya latar belakang pendidikan ekonorni. Manajemen bisnis saya pelajari dari buku-buku," ujar Gideon. Maka, beroperasi jugalah apotek yang bernama Komplet-24 (K-24) pada 2002. Komplet artinya lengkap dan 24 adalah waktu buka. Dia membuat logo apotek dengan tiga warna yang mewakili keragaman suku dan budaya di tanah air. "Hijau menandakan masyarakat dominan muslim, merah berarti kaum nasrani dan kuning untuk kaum Tionghoa," papar Gideon. Ternyata dalam perjalanannya, masyarakat menerima kehadiran Apotek K-24. Sejak buka pertama kali pada 24 Oktober 2002 di Jalan Magelang, Yogyakarta, jumlah pengunjung terus meningkat. Keberhasilan apotek pertama itu memacu semangat Gideon untuk membuka apotek baru di tempat lain. Pada 2003, Gideon pun menambah dua outlet K-24 lagi di Jalan Gejayan dan Jalan Kaliurang. Dua tahun kemudian, persisnya pada 24 Februari 2005, ia mulai melebarkan sayap ke Semarang. "Saat itu semua sudah diwaralabakan," kata dia. Gideon mengaku tidak mengira jika potensi pasar apotek di Yogyakarta dan Semarang begitu besar. Ini terlihat dari omzet setiap outlet terus meningkat. Saat ini, setiap gerai berhasil mencatat transaksi antara 350-500 item obat setiap bulan dengan nilai penjualan antara Rp 250 juta-Rp 300 juta. Sudah 115 Outlet Tapi, saat itu Gideon tidak mau serakah mengambil keputusan dari obat yang dijualnya. Padahal kalau mau ia bisa melahap margin hingga 40% dari omzet. "Saya hanya mengambil sekitar 17% sampai 25% saja. Sisanya biar konsumen yang menikmati," cetus Gideon. Gideon bilang, tempat usaha sebagian apotek K-24 masih berstatus kontrak tiga tahun sampai enam tahun dengan harga sewa antara Rp 17 juta hingga Rp 40 juta per tahun. Namun, ia benar-benar selektif. Paling tidak ia harus kenal secara pribadi dengan pemilik.

39

Dalam perjanjian, ia menerapkan klausul, jika kontrak tidak bisa diperpanjang, tempat itu tidak boleh untuk usaha yang sama. "Kalau mereka tidak mau dengan klausul ini, kami mundur. ini gelagat tidak baik," tandas Gideon. Untuk menjadi terwaralaba K-24, investor harus investasi sebesar Rp 300 juta-Rp 600 juta. Calon terwaralaba yang sudah mempunyai bisnis apotek, tapi gagal, bisa bergabung jaringan K-24. Tentu, kebutuhan dana mereka lebih sedikit ketimbang yang baru memulai. Saat ini Apotek K-24 sudah mencapai 115 gerai di seluruh Indonesia dan sekitar 80 calon investor punya rencana bergabung. Karena itu sampai akhir 2009, Gideon menargetkan gerai K-24 bertambah hingga 150 outlet. Bagi Gideon, kesuksesan ini tidak turun dari langit. Sosok Gideon yang memiliki latar belakang ilrnu alam secara unik merumuskan sebuah teori sukses. "Rumus sukses itu adalah f(x) = d.c.b.a. D artinya doa, c artinya cita-cita, b artinya berusaha, a artinya alat atau modal. Kalau salah satu unsur tersebut tidak ada, coba saja kalikan, pasti hasilnya nol," ujar dia sambil tersenyum.
Sumber: Yuko Widianto,"Gideon, Pemilik Apotek K-24: Gagal Jadi Dokter Mata, Sukses Jadi Juragan Obat", Kontan Edisi Khusus, Mei-Juni 2009.

Rangkuman Entrepreneur dapat diciptakan karena entrepreneurship dapat diajarkan. Berbagai program pengajaran memang tidak menjamin seratus persen tetapi meialui program tersebut dapat mendemonstrasikan proses yang mesti dilalui seseorang agar sukses menjadi entrepreneur. Secara umum karakteristik entrepreneur yang sukses adalah sebagai berikut: komitmen total, determinasi dan keuletan hati; dorongan yang kuat untuk berprestasi; berorientasi pada kesempatan dan tujuan; inisiatif dan tanggung jawab; pengambilan keputusan yang persisten; mencari umpan balik; internal locus of control; toleransi terhadap ambiguitas; pengambilan risiko yang terkalkulasi; integritas dan reliabilitas; toleransi terhadap kegagalan; energi tingkat tinggi; kreatif dan inovatif; visi;

40

independen; percaya diri dan optimis; membangun tim; fokus pada produk dan pelanggan; kepandaian dalam eksekusi. Sebagamana profesi bisnis lainnya, pilihan menjadi entrepreneur menawarkan keuntungan dan kerugian. Enam potensi keuntungan dengan menjadi entrepreneur, yaitu peluang menentukan nasib sendiri; peluang melakukan perubahan; peluang mencapai potensi sepenuhnya; peluang mencapai keuntungan yang menakjubkan; peluang untuk berperan besar dalam masyarakat dan memperoleh pengakuan; peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan bersenang-senang dalam mengerjakannya. Adapun potensi kerugiannya adalah ketidakpastian pendapatan; risiko kehilangan seluruh investasi; kerja lama dan kerja keras; kualitas hidup yang rendah sampai bisnis mapan; tingkat stres yang tinggi; tanggung jawab penuh; keputusasaan. Beberapa dorongan yang memicu seseorang untuk mengambil keputusan menjadi entrepreneur antara lain karena kondisi seperti berikut: ketika seseorang kehilangan pekerjaannya; seseorang memperoleh harta warisan; dan gaya hidup. Pertanyaan Diskusi 1. Jelaskan mengapa mitos yang menyatakan bahwa entrepreneur dilahirkan bukan diciptakan sudah tidak tepat lagi dengan kondisi sekarang? 2. Jelaskanlah mitos-mitos yang lain mengenai entrepreneur. Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda setuju dengan berbagai mitos tersebut? 3. Jelaskan pengertian entrepreneur dan jelaskan keterkaitannya dengan entrepreneurship. 4. Jelaskan karakteristik entrepreneur sukses yang tidak ditemukan pada diri seorang pegawai biasa. 5. Sebutkan dan jelaskanlah keuntungan dan kerugian menjadi

entrepreneur. 6. Kapankah saat yang tepat untuk menjadi entrepreneur?

41

Tugas di Luar Kelas Temukanlah sosok entrepreneur yang terbilang sukses di sekitar lingkungan Anda. Lakukanlah pengamatan, bila perlu mintalah waktu untuk mendampingi aktivitasnya sepanjang hari, kemudian catatlah karakteristik yang Anda temukan dalam diri entrepreneur tersebut. Apa saja yang menjadi kelebihannya? Apakah karakter tersebut Anda temukan juga pada diri seseorang yang bukan entrepreneur? Apakah Anda juga memiliki karakteristik tersebut?

42