Anda di halaman 1dari 132

REDESAIN PASAR BURUNG

REDESIGN OF
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Teknik
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
i
REDESAIN PASAR BURUNG
KOTA PASURUAN
REDESIGN OF THE BIRD MARKET IN PASURUAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Teknik
Disusun oleh :
ARYO WILDAN
0410650012 - 65
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2012
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
REDESAIN PASAR BURUNG
REDESIGN OF
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Teknik
DOSEN PEMBIMBING
DR. Agung Murti Nugroho, ST.
NIP. 197409152000121001
ii
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
REDESAIN PASAR BURUNG
KOTA PASURUAN
REDESIGN OF THE BIRD MARKET IN PASURUAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
memperoleh gelar Sarjana Teknik
Disusun oleh :
ARYO WILDAN
0410650012 - 65
DOSEN PEMBIMBING
ugroho, ST. MT. Ir. Rinawati P. Handajani, MT.
197409152000121001 NIP. 196608141991032002
Ir. Rinawati P. Handajani, MT.
196608141991032002
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PENGUJI
REDESAIN PASAR BURUNG
Skripsi ini telah diuji dan dinyatakan lulus pada
Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
DR. Agung Murti N
NIP.
Beta Suryokusumo, ST. MT.
NIP. 197121172000121001
iii
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PENGUJI
REDESAIN PASAR BURUNG
KOTA PASURUAN
Disusun oleh :
Aryo Wildan
NIM. 0410650012-65
Skripsi ini telah diuji dan dinyatakan lulus pada
tanggal 10 Februari 2012
DOSEN PENGUJI
Mengetahui
Ketua Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
. Agung Murti Nugroho, ST. MT.
NIP. 197409152000121001
Beta Suryokusumo, ST. MT.
NIP. 197121172000121001
Tito Haripradianto, ST. MT.
NIP. 197610132005011003
Tito Haripradianto, ST. MT.
197610132005011003
iv
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI DESAIN
Saya, yang tersebut dibawah ini:
Nama : ARYO WILDAN
NIM : 0410650012-65
Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik,
Universitas Brawijaya, Malang.
Judul Skripsi Desain : REDESAIN PASAR BURUNG KOTA PASURUAN
Menyatakan dengan sebenar-benarnya, bahwa sepanjang sepengetahuan saya, di
dalam hasil karya Skripsi Desain saya, baik berupa naskah maupun gambar tidak
terdapat unsur-unsur penjiplakan karya Skripsi yang pernah diajukan oleh orang lain
untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, serta tidak terdapat karya
atau pendapat orang lain yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali
yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan
daftar pustaka.
Apabila ternyata di dalam naskah Skripsi Desain ini dapat dibuktikan terdapat
unsur-unsur penjiplakan, saya bersedia Skripsi Desain dan gelar Sarjana Teknik yang
telah diperoleh dibatalkan serta diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku (UU.No.20 Tahun 2003 Pasal 25 Ayat 2 dan Pasal 70).
Malang, 9 Maret02012
Yang membuat pernyataan,
ARYO WILDAN
NIM. 0410650012-65
Tembusan:
1. Kepala Laboratorium Studio Tugas Akhir Jurusan Arsitektur FTUB.
2. Dosen Pembimbing Skripsi Desain yang bersangkutan.
3. Dosen penasehat akademik yang bersangkutan.
v
LEMBAR PERSEMBAHAN
Didedikasikan kepada Ayah dan Ibu yang saya cintai,
Karya ini hanya mewakili sebagian kecil dari buah jerih payah didikan kalian.
Sesuatu yang tidak pantas dan tidak ingin untuk dibanggakan,
Hanya berharap untuk tetap dikenang
Kebanggaan akan mudah luntur oleh kekecewaan,
Tapi kenangan takkan mudah dilupakan
Karena akan selalu menjadi bahan pembicaraan
Untuk perempuanku: Retno Palupi dan Bundanya terkasih
Kembang Kesabaran dan Ketabahan telah menunjukkan tanda akan bermekaran,
Bukti bahwa Gusti Ora Sare
Sekali lagi, Allah SWT masih sayang kepada kita semua
Kepada Adikku, Adly Rahmada
Melalui karya ini tersirat makna dan pesan bahwa ber-ilmu itu beban,
Karena pasti akan dipertanggungjawabkan
Namun hikmah dibalik itu semua adalah kemuliaan,
Karena Martabat lebih berharga daripada derajat dan pangkat
Dan teruntuk kawan-kawan seperjuangan di Arsitektur dan Teknik,
Yang takkan cukup disebutkan satu persatu
Yang takkan lekang oleh waktu dan terpencar ke segala penjuru
Semoga api silaturahmi tak sedetikpun padam
Dan semangat juang tidak pernah berhenti berkobar
Kita mantan mahasiswa, penjaga martabat bangsa,
Harapan bagi peradaban, bukan sampah masa depan
Mimpi akan tetap menjadi mimpi bagi para pemimpi,
Tapi mimpi akan menjadi kenyataan bagi para pejuang
Tidak mudah menjadi anak bangsa yang merefleksikan nilai Pancasila
Bukan berarti kita kaum pemuda tidak bisa saling membantu sesama
Mari tetap berkarya tanpa tipu daya dan rekayasa
(Aryo, 2012)
vi
RINGKASAN
ARYO WILDAN, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Februari
2012, Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan, Pembimbing : Dr. Agung Murti
Nugroho, ST. MT. dan Ir. Rinawati P. Handajani, MT.
Pasar Burung pada dasarnya merupakan fungsi pasar yang terbentuk dan
berkembang berdasarkan permintaan pasar. Permintaan atas komoditas burung
peliharaan menjadi latar belakang munculnya fungsi pasar ini, dimana kedua komoditas
tersebut merupakan dampak kebutuhan yang muncul akibat fenomena maraknya hobi
memelihara burung di Indonesia.
Pasar burung memiliki peran sebagai wadah aktifitas perekonomian yang mampu
menunjang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Selain itu, pasar burung
memiliki fungsi yang lebih berperan di sektor sosial, yaitu sebagai sentra komunikasi
dan wadah bagi komunitas pecinta burung peliharaan yang mampu memicu
perkembangan seputar hobi memelihara burung ke arah yang lebih positif.
Sebagai fasilitas pelayanan publik yang dibangun ditengah-tengah kawasan
perkotaan, kenyamanan merupakan aspek yang harus dipertimbangkan di dalam
perancangan Pasar Burung. Beragam permasalahan pada Pasar Burung yang ada di
Indonesia sangat kompleks. Permasalahan utama yang dapat diketahui adalah mengenai
penataan fungsi ruang dan dampak lingkungan, yang pada perancangan ini penulis
mencoba untuk menjabarkan dalam sistematika perancangan secara komprehensif.
Arsitektur Lansekap sebagai pendekatan perancangan Pasar Burung diterapkan
sebagai solusi dari permasalahan yang ada, dengan mewujudkan lingkungan binaan
yang selaras dengan fungsi dan kondisi tapak. Rekonfigurasi karakter ruang Pasar
Burung, serta penataan ruang yang memprioritaskan ruang hijau untuk pendayagunaan
elemen vegetasi sebagai pengkondisian pasif terhadap iklim mikro tapakadalah garis
besar konsep perancangan yang diterapkan pada Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
ini.
vii
SUMMARY
ARYO WILDAN, Architecture Department, Faculty of Engineering, University of
Brawijaya Malang, February 2012, Redesign of Bird Market in Pasuruan, Mentors:
DR.Agung Murti Nugroho, ST. MT. and Ir. Rinawati P. Handajani, MT.
The Bird Market is basically a function of the market that are formed and evolve
based on market demand for bird as pet commodities, which are the impact of bird
keeping hobbies phenomenon in Indonesia.
Bird Market have a role as vessel capable of supporting economic activity and
accelerate regional economic growth. In addition, the market have more function in
social sector, as a center for communication and community forum for bird lovers,
where are able to trigger the developments around bird keeping hobbies to maintain a
more positive direction.
As a public service facility that was built in the middle of an urban area, the
comfort is an aspect that should be considered in the design of The Bird Market. Various
problems on Bird Market in Indonesia is very complex. The main problem is about the
function of space and environment, which the writer tries to describe in a comprehensive
systematic design.
Landscape Architecture as a design approach is applied as a solution of existing
problems, to achieve a built environment that is contextual with the function and site
conditions. Reconfiguring the Bird Market character of space, and spatial planning that
prioritizes green space for vegetation element as passive microclimate control, is the
outline of the design concept that applied in this Redesign of The Bird Market in
Pasuruan.
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Pencipta Semesta
Alam yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga setelah melalui proses
yang begitu panjang dengan segala halang-rintang-nya, penulis akhirnya dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul akhir Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan ini.
Karenanya kami selaku penulis dengan segala keterbatasannya ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Orang Tua dan Keluarga yang telah menunggu dan mendukung dengan begitu
sabarnya.
2. Bapak DR. Agung Murti Nugroho, ST. MT. dan Ibu Ir. Rinawati P. Handajani,
MT., dosen pembimbing dan guru yang telah dengan sabar membimbing,
memberi masukan semangat dan dorongan, serta memberi penulis pemahaman
ber-arsitektur sebuah arti yang berbeda;
3. Bapak Beta Suryokusumo, ST. MT., dan Tito Haripradianto, ST. MT., dosen
penguji yang telah menkoreksi desain penulis dengan seksama.
4. Bapak DR. Agung Murti Nugroho, ST. MT., dan Ibu Ir. Damayanti, MT., selaku
Ketua dan Sekretaris Jurusan yang dengan sepenuh hati telah memperjuangkan
kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi di almamater tercinta.
5. Segenap dosen, karyawan, dan civitas akademika Jurusan Arsitektur dan
Fakultas Teknik yang telah membantu dalam berproses selama masa studi.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini,
sehingga kritik, saran dan masukan akan sangat penulis harapkan melalui media email
aryowildan@yahoo.com. Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca khususnya, dan bagi arsitektur umumnya.
Malang, Maret 2012
Penulis
ix
DAFTAR ISI
Halaman Judul ..................................................................................................... i
Lembar Pengesahan Dosen Pembimbing .......................................................... ii
Lembar Pengesahan Dosen Penguji ................................................................... iii
Surat Pernyataan Orisinalitas Skripsi Desain .................................................. iv
Lembar Persembahan ......................................................................................... v
Ringkasan ............................................................................................................. vi
Summary ............................................................................................................... vii
Kata Pengantar .................................................................................................... viii
Daftar Isi ............................................................................................................... ix
Daftar Gambar ..................................................................................................... xiii
Daftar Tabel ......................................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................1
1.1.1. Perkembangan Pasar Burung di Indonesia ................................................1
1.1.2. Kebijakan Relokasi Pasar Burung di Kota Pasuruan .................................2
1.1.3. Konsep penataan kawasan pasar berbasis Arsitektur Lansekap ................5
1.2 Identifikasi Masalah ..........................................................................................6
1.3 Rumusan Masalah ............................................................................................6
1.4 Batasan Masalah ...............................................................................................7
1.5 Tujuan ...............................................................................................................7
1.6 Manfaat .............................................................................................................7
1.7 Alur Pemikiran ..................................................................................................9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan teori Pasar Burung .......................................................................... 10
2.1.1 Definisi Operasional ............................................................................... 10
2.1.2 Fungsi Pasar Burung .............................................................................. 10
2.1.3 Faktor yang mempengaruhi Pasar Burung ............................................. 10
2.1.3.1 Lokasi ............................................................................................... 11
2.1.3.2 Pelayanan ......................................................................................... 12
2.1.4 Uraian jenis dan fungsi ruang Pasar Burung .......................................... 12
x
2.2. Tinjauan Arsitektur Lansekap ....................................................................... 14
2.2.1. Definisi Operasional .............................................................................. 14
2.2.2. Aplikasi Teori Penataan Lansekap pada komparasi Pasar Satwa dan
Tanaman Hias Yogyakarta ................................................................... 15
2.2.2.1. Fungsi Lansekap pada Pasar Burung dan Tanaman Hias ................ 15
2.2.2.2. Karakter Penataan Lansekap ........................................................... 19
BAB III. METODE KAJIAN
3.1. Metode Umum ............................................................................................... 24
3.2. Tahapan Pengumpulan Data .......................................................................... 25
3.2.1. Literatur ................................................................................................... 25
3.2.2. Survey ..................................................................................................... 25
3.3. Tahapan Analisa ............................................................................................ 26
3.3.1. Tahap Analisa Tapak .............................................................................. 26
3.3.1.1. Analisa Klimatologi ........................................................................ 26
3.3.1.2. Analisa Bio-fisik (tanah, hidrologi, drainase) .................................. 27
3.3.1.3. Analisa Sirkulasi .............................................................................. 27
3.3.2. Tahap Analisa Fungsi ............................................................................. 27
3.3.2.1. Jenis dan Fungsi Ruang ................................................................... 27
3.3.2.2. Karakteristik Pola Ruang ................................................................. 27
3.4. Tahapan Perancangan Program Ruang Pasar Burung .................................. 28
3.4.1. Tabulasi Jenis dan Besaran Ruang Pasar Burung ................................... 28
3.4.2. Program Ruang Pasar Burung ................................................................. 28
3.4.3. Desain Tata Ruang .................................................................................. 28
3.5. Tahapan Perancangan Lansekap Pasar Burung ............................................ 28
3.5.1. Perancangan Elemen Softscape .............................................................. 29
3.5.2. Perancangan Elemen Hardscape ............................................................. 29
3.6. Tahapan Tabulasi Hasil Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan .................. 29
3.7. Tahapan Feedback Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan .......................... 29
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Tinjauan Lokasi .............................................................................................. 30
4.1.1. Lokasi Pasar Burung Kebonagung (eksisting) ......................................... 30
4.1.2. Lokasi Pasar Karangketug (lokasi baru terpilih) ..................................... 34
xi
4.2 Analisa Tapak .................................................................................................. 36
4.2.1. Analisa Iklim Tapak ................................................................................ 37
4.2.2. Analisa Tanah, Hidrologi, dan Drainase .................................................. 39
4.2.3. Analisa Sirkulasi ...................................................................................... 40
4.3 Eksisting Fungsi dan Ruang Pasar Burung Kebonagung ............................... 42
4.3.1. Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung Kebonagung ............................... 43
4.3.2. Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung Kebonagung ............................. 46
4.4 Studi Komparasi: Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) ...... 49
4.4.1. Jenis dan Fungsi Ruang PASTY .............................................................. 50
4.4.2. Karakteristik Pola Ruang PASTY ............................................................ 58
4.5. Analisa Perbandingan Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung....................... 63
4.6. Analisa Perbandingan Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung .................... 65
4.7. Konsep Program Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan .................................. 68
4.7.1 Penentuan Jenis dan Kebutuhan Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan ..... 68
4.7.2.Program Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan .......................................... 70
4.7.2.1. Diagram Organisasi Ruang............................................................... 70
4.7.2.2. Pola Sirkulasi .................................................................................... 73
4.8. Desain Pasar Burung kota Pasuruan .............................................................. 77
4.8.1. Desain Penataan Massa ............................................................................ 77
4.8.2. Desain Fisik Bangunan ............................................................................ 80
4.8.2.1. Desain Kios Pasar Burung ................................................................ 80
4.8.2.2. Desain Fasilitas Pasar Burung .......................................................... 84
4.8.2.3. Sistem Pengolahan Limbah .............................................................. 87
4.8.2.3.1. Sistem Pengomposan .................................................................. 87
4.8.2.3.2. Sistem Biopori ............................................................................ 88
4.9. Konsep Perancangan Lansekap ...................................................................... 90
4.9.1. Perancangan Elemen Softscape ............................................................... 90
4.9.1.1. Zona 1 dan Zona 7 ............................................................................ 92
4.9.1.2. Zona 2 + Zona 5 (tipikal) dan Zona 6 .............................................. 93
4.9.1.3. Zona 3 dan Zona 4 ............................................................................ 94
4.9.2. Perancangan Elemen Hardscape .............................................................. 96
4.9.2.1. Desain Perkerasan Jalan .................................................................. 96
4.9.2.2. Desain Elemen Penanda ................................................................... 97
4.9.2.3. Desain Perabot Lansekap ................................................................. 98
xii
4.10. Tabulasi Kesimpulan Hasil Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan ............ 100
4.11. Feedback Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan ........................................ 109
4.11.1. Feedback Permasalahan Fungsi Ruang .................................................. 109
4.11.2. Feedback Permasalahan Lansekap ......................................................... 112
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ................................................................................................... 113
5.2. Saran ............................................................................................................. 114
Daftar Pustaka .................................................................................................. 116
Lampiran ........................................................................................................... 117
xiii
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
Gambar 2.1. Tanaman Sebagai Penghalang Datangnya Sinar Matahari ................. 15
Gambar 2.2. Penggunaan Ruang Luar Yang Terhubung Langsung Dengan Kios ... 16
Gambar 2.3. Penataan Vegetasi Yang Menarik Pada Area Sirkulasi ...................... 16
Gambar 2.4. Penataan Vegetasi Penguat Visual Pada Elemen Penanda .................. 14
Gambar 2.5. Ruang Luar Sebagai Transisi Antar Kios ........................................... 17
Gambar 2.6. Pohon Peneduh Sebagai Pengontrol Suhu Udara ............................... 17
Gambar 2.7. Teduhan Tidak Penuh Pada Ruang Luar ............................................ 18
Gambar 2.8. Pohon Sebagai Kontrol Angin dan Filter Udara ................................. 18
Gambar 2.9. Elemen Lansekap Yang Estetis dan Menyatu Dengan Bangunan ...... 19
Gambar 2.10. Area Entrance ...................................................................................... 22
Gambar 2.11. Area Parkir .......................................................................................... 22
Gambar 2.12. Area Plaza dan Gazebo ....................................................................... 22
Gambar 2.13. Area Transisi Kios .............................................................................. 23
Gambar 2.14. Area Pedestrian ................................................................................... 23
Gambar 2.15. Area Kontes, Playground, dan Service ............................................... 23
Gambar 4.1. Peta Lokasi Pasar Kebonagung Pasuruan ............................................ 30
Gambar 4.2. Foto Satelit Lokas Pasar Kebonagung Pasuruan ................................. 31
Gambar 4.3. Foto Satelit Pasar Burung dalam Pasar Kebonagung ......................... 32
Gambar 4.4. Zona Pasar Burung .............................................................................. 33
Gambar 4.5. Foto Kondisi Pasar Burung Kebonagung ............................................ 33
Gambar 4.6. Foto Satelit Lokasi Pasar Karangketug Pasuruan ................................ 34
Gambar 4.7. Foto Kondisi Pasar Karangketug ......................................................... 35
Gambar 4.8. Foto Site Pasar Burung Terpilih .......................................................... 35
Gambar 4.9. Analisa Iklim Tapak ............................................................................ 38
Gambar 4.10. Foto Vegetasi Sekitar Tapak ............................................................... 39
Gambar 4.11. Foto Bangunan Pasar Baru .................................................................. 39
Gambar 4.12. Analisa Hidrologi Tapak ...................................................................... 40
Gambar 4.13. Analisa Sirkulasi Tapak ....................................................................... 41
Gambar 4.14. Jenis Ruang Pasar Burung Kebonagung ............................................. 42
Gambar 4.15. Jenis Kios Pasar Burung Kebonagung ................................................. 43
Gambar 4.16. Pendopo Pasar Burung Kebonagung ................................................... 45
xiv
Gambar 4.17. Kantin Pasar Burung Kebonagung ....................................................... 45
Gambar 4.18. Akses Masuk Pasar Burung Kebonagung ............................................ 46
Gambar 4.19. Kondisi Sirkulasi Primer Yang Digunakan Untuk Promosi ................ 47
Gambar 4.20. Kondisi Sirkulasi Primer Yang Digunakan Untuk Parkir Roda Dua ... 48
Gambar 4.21. Karakter Tata Ruang Pasar Burung Kebonagung ................................ 49
Gambar 4.22. Los PASTY .......................................................................................... 51
Gambar 4.23. Kios PASTY ........................................................................................ 51
Gambar 4.24. Zona Sangkar Burung, Ikan Hias, dan Pakan Burung ......................... 52
Gambar 4.25. Zona Burung Ocehan, Merpati, Satwa, Ayam Hias, dan Reptil .......... 52
Gambar 4.26. Saluran Pembuangan Untuk Service Kios/Los .................................... 53
Gambar 4.27. Area Yang Digunakan Untuk Menjemur Burung ................................ 53
Gambar 4.28. Sangkar Burung Yang Digantung Di Atas Area Sirkulasi................... 53
Gambar 4.29. Payon Sebagai Area Promosi Bersama ................................................ 53
Gambar 4.30. Ruang Publik Berupa Plaza Dengan Taman dan Air Minum .............. 54
Gambar 4.31. Panggung Hiburan di Plaza PASTY .................................................... 54
Gambar 4.32. Arena Kontes Burung PASTY ............................................................. 55
Gambar 4.33. Playground PASTY ............................................................................. 56
Gambar 4.34. Kantin PASTY ..................................................................................... 56
Gambar 4.35. Kantor Pengelola PASTY .................................................................... 56
Gambar 4.36. KM/WC PASTY .................................................................................. 57
Gambar 4.37. Komposter PASTY .............................................................................. 57
Gambar 4.38. Lokasi Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) ........... 58
Gambar 4.39. Gerbang PASTY .................................................................................. 59
Gambar 4.40. Area Parkir Dalam PASTY .................................................................. 59
Gambar 4.41. Sirkulasi Primer PASTY ...................................................................... 60
Gambar 4.42. Sirkulasi Sekunder PASTY.................................................................. 60
Gambar 4.43. Denah PASTY ..................................................................................... 61
Gambar 4.44. Ruang Hijau PASTY............................................................................ 62
Gambar 4.45. Diagram Organisasi Ruang Makro Tapak ........................................... 70
Gambar 4.46. Diagram Organisasi Ruang Makro Zona Kios..................................... 71
Gambar 4.47. Diagram Organisasi Ruang Makro Zona Fasilitas ............................... 71
Gambar 4.48. Diagram Organisasi Ruang Mikro Zona Kios ..................................... 72
Gambar 4.49. Konsep Sirkulasi Primer ...................................................................... 74
xv
Gambar 4.50. Konsep Sirkulasi Sekunder .................................................................. 75
Gambar 4.51. Konsep Sirkulasi Kendaraan Bermotor ............................................... 76
Gambar 4.52. Konsep Penataan Massa Pasar Burung Kota Pasuruan ........................ 78
Gambar 4.53. Site Plan Pasar Burung Kota Pasuruan ................................................ 79
Gambar 4.54. Layout Plan Pasar Burung Kota Pasuruan ........................................... 79
Gambar 4.55. Denah Kios Pasar Burung Kota Pasuruan ........................................... 80
Gambar 4.56. Desain Area Kios ................................................................................. 81
Gambar 4.57. Desain Kios dan Sarana Penggantung Sangkar Burung ...................... 81
Gambar 4.58. Potongan Kios ...................................................................................... 82
Gambar 4.59. Desain Sistem Utilitas Area Servis Kios ............................................. 83
Gambar 4.60. Desain Fasilitas Pendopo Pasar Burung Kota Pasuruan ...................... 84
Gambar 4.61. Pembagian Area Dalam Pendopo ........................................................ 85
Gambar 4.62. Ilusrasi Suasana Kontes Burung di Pendopo ....................................... 85
Gambar 4.63. Desain Fasilitas Pasar Burung Kota Pasuruan ..................................... 86
Gambar 4.64. Alur Sistem Pengomposan ................................................................... 87
Gambar 4.65. Rencana Peletakan Perangkat Sistem Pengomposan ........................... 88
Gambar 4.66. Rencana Sistem Saluran Pembuangan Air Kotor dan Biopori ............ 89
Gambar 4.67. Identifikasi Zona Lansekap .................................................................. 90
Gambar 4.68. Desain Lansekap Zona 1 dan 7 ............................................................ 92
Gambar 4.69. Desain Lansekap Zona 2,5, dan 6 ........................................................ 93
Gambar 4.70. Desain Lansekap Zona 3 dan 4 ............................................................ 94
Gambar 4.71. Rencana Peletakan dan Penataan Vegetasi Pohon ............................... 95
Gambar 4.72. Rencana Peletakan dan Penataan Vegetasi Semak dan Perdu ............. 95
Gambar 4.73. Hasil Desain Lansekap Pasar Burung Kota Pasuruan.......................... 95
Gambar 4.74. Desain Sirkulasi Primer Pasar Burung Kota Pasuruan ........................ 96
Gambar 4.75. Desain Sirkulasi Sekunder Pasar Burung Kota Pasuruan .................... 97
Gambar 4.76. Desain Elemen Penanda Entrance Pasar Burung Kota Pasuruan ........ 98
Gambar 4.77. Desain Pergola ..................................................................................... 98
Gambar 4.78. Desain Perabot Lansekap ..................................................................... 99
Gambar 4.79. Bird Eye View Pasar Burung Kota Pasuruan ..................................... 108
xvi
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
Tabel 1.1. Analisa Tata Guna Lahan Pasar Karangketug .......................................... 4
Tabel 2.1. Syarat Lahan Pasar .................................................................................. 11
Tabel 2.2. Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung .................................................... 14
Tabel 2.3. Klasifikasi Ukuran Pohon ....................................................................... 15
Tabel 2.4. Klasifikasi Karakter Penataan Lansekap Pada Tiap Lokasi ................... 21
Tabel 4.1. Analisa Tata Guna Lahan Pasar Karangketug ........................................ 36
Tabel 4.2. Analisa Perbandingan Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung ............... 63
Tabel 4.3. Analisa Perbandingan Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung ............. 65
Tabel 4.4. Jenis dan Besaran Kios Pasar Burung ..................................................... 68
Tabel 4.5. Kebutuhan Dasar Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan .......................... 69
Tabel 4.6. Analisa Klasifikasi Kios ......................................................................... 72
Tabel 4.7. Analisa Tipe Sirkulasi Pasar Burung ...................................................... 73
Tabel 4.8. Klasifikasi Vegetasi Zona Lansekap ....................................................... 91
Tabel 4.9. Evaluasi Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan........... 100
Tabel 4.10. Evaluasi Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan ........ 103
Tabel 4.11. Tabulasi Kesimpulan Hasil Redesain Paar Burung Kota Pasuruan ...... 106


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Perkembangan Pasar Burung di Indonesia
Pasar secara luas dapat diartikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli
serta mengadakan penawaran dan permintaan sampai terjadinya jual beli. Pasar merupakan
salah satu jenis fasilitas perdagangan, kebutuhan akan tersedianya pasar burung dengan
perkembangan perekonomian kota, pertumbuhan penduduk dan jumlah pengusaha
(penjual) yang semuanya akan menyebabkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jenis pasar dapat dikategorikan dalam beberapa macam menurut kriteria-kriteria
tertentu, salah satunya adalah pasar burung, yang merupakan bagian dari fungsi khusus,
yaitu sebagai tempat jual beli burung peliharaan (Soetandyo W, 1993:20-22).
Pasar Burung pada dasarnya merupakan fungsi pasar yang terbentuk dan berkembang
berdasarkan permintaan pasar. Permintaan atas komoditas burung peliharaan menjadi latar
belakang munculnya fungsi pasar ini, dimana kedua komoditas tersebut merupakan dampak
kebutuhan yang muncul akibat fenomena maraknya hobi memelihara burung di Indonesia.
Survey mengenai burung peliharaan dilaksanakan oleh Himpunan Pecinta Burung
Indonesia pada tahun 2008 melalui kuesioner dengan wawancara tatap muka langsung
dengan memilih 1781 sampel secara acak di enam kota besar di Jawa dan Bali. Survey
menunjukkan bahwa burung merupakan hewan peliharaan paling populer pada rumah
tangga di enam kota besar di Jawa dan Bali. Sebanyak 35.7% (636/1781) rumah tangga
yang disurvey memelihara burung (termasuk ayam) sementara 24.4% (434,1781)
memelihara ikan, 12.8% (228/1781) memelihara kucing, 10.1% (179/1781) memelihara
anjing, 5.6% (99/1781) memelihara mamalia kecil, 3.7% (66/1781) memelihara hewan
ternak, 2.5% (45/1781) memelihara reptil dan 0.7 (12/1781) memelihara monyet.
Saat ini sudah ada lebih dari 100 pasar burung di Indonesia, dan hampir 70
diantaranya berada di Pulau Jawa. Sebut saja Pasar Pramuka di daerah Matraman Jakarta,





yang merupakan pasar burung terbesar di Indonesia, ataupun Pasar Ngasem (sekarang
PASTY) di Jogja, Pasar Bratang di Surabaya, serta Pasar Splendid di Malang, yang
kesemuanya merupakan pasar burung yang menyimpan khasanah sejarah dan citra sosial-
budaya masyarakat di kawasannya.
Pasar burung memiliki peran sebagai wadah aktifitas perekonomian yang mampu
menunjang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan adanya pasar burung
sebagai sentra arus perdagangan komoditas burung peliharaan yang tergolong jenis barang
khusus dengan tingkat permintaan relatif tinggi dan stabil, mampu memicu geliat ekonomi
sektor perdagangan, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan PAD (Pendapatan Asli
Daerah) melalui retribusi lokal.
Tidak hanya di sektor perekonomian saja, pasar burung memiliki fungsi yang lebih
berperan di sektor sosial, yaitu sebagai sentra komunikasi dan wadah bagi komunitas
pecinta burung peliharaan. Dengan adanya pasar burung, akan mempermudah komunikasi
antar pecinta burung, mempermudah pertukaran informasi, dan menjadi sarana perbagai
aktifitas-aktifitas pendukung lainnya seperti bursa atau kontes, yang mampu memicu
perkembangan seputar hobi memelihara burung ke arah yang lebih positif dan progresif.
1.1.2 Kebijakan Relokasi Pasar Burung di Kota Pasuruan
Pertumbuhan ekonomi kota Pasuruan berdasarkan harga konstan dalam tiga tahun
terakhir ini (2007-2009), menunjukkan pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Bidang
perdagangan, industri, dan pariwisata memberikan kontribusi paling tinggi dalam
pertumbuhan ekonomi.
Kota Pasuruan sebagai kota yang masuk dalam Satuan Wilayah Pengembangan
(SWP) Gerbangkertosusila Plus, berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pasuruan
Tahun 2002-2012, memiliki fungsi pada sektor perdagangan sebagai simpul jasa yang
mencakup kegiatan pengumpulan, produksi, maupun pemasaran, serta berperan sebagai
tempat fungsi tertentu yang didasarkan pada suatu kegiatan dominan.
Pengembangan Kota Pasuruan pada sektor perdagangan dan jasa dipengaruhi oleh
faktor ketersediaan pasar. Kebutuhan akan tersedianya pasar dengan perkembangan


perekonomian kota, pertumbuhan penduduk dan jumlah pengusaha (penjual) yang
semuanya akan menyebabkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Pasuruan.
. Kegiatan perdagangan dan jasa komersial tidak ada kaitannya dengan batasan
administrasi, tetapi lebih kepada akses dan struktur jalan serta lokasi permukiman. Selain
itu, untuk skala tertentu juga dipengaruhi oleh pusat-pusat/kawasan dimana penduduk
bekerja, kegiatan perdagangan dengan skala pelayanan kota/regional akan diarahkan di
kawasan pusat kota yang saat ini memang sudah berkembang.
Pasar merupakan fasilitas umum yang bersifat komersial yang memiliki peranan
penting bagi pelayanan kebutuhan masyarakat. Kota Pasuruan sendiri memiliki 5 (lima)
unit pasar dengan skala pelayanan kota/regional yang letaknya tersebar di 3 kecamatan,
diantaranya Pasar Besar, Pasar Gadingrejo, Pasar Kebonagung, Pasar Karangketug dan
Pasar Bukir. Masing-masing pasar memiliki spesifikasi barang dagangan yang
beranekaragam untuk pasar Bukir merupakan pasar mebel, sedangkan pasar yang lainnya
merupakan pasar tradisional yang menjual kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lainnya.
Diantara kelima pasar tersebut, selain Pasar Bukir yang merupakan pasar mebel, Pasar
Kebonagung memiliki barang dagangan yang beragam, selain menjual kebutuhan sehari-
hari, pada bagian belakang pasar terdapat pasar burung.
Perkembangan Pasar Burung di Kota Pasuruan dinilai memiliki potensi dan prospek
yang signifikan di masa mendatang sehingga patut untuk dikembangkan. Hal ini didukung
oleh semakin meningkatnya populasi masyarakat penggemar burung di Kota Pasuruan yang
tergabung dalam Paguyuban Pasar Burung Pasuruan (PPBP). Selain itu di Pasuruan juga
kerap diselenggarakan kontes burung kicau baik skala lokal maupun skala nasional, yang
terakhir diadakan di Taman Candra Wilwatika Pasuruan, yang diikuti sekitar 200 peserta
dari berbagai daerah pada tahun 2004.
Pasar burung di Pasar Kebonagung, merupakan satu-satunya pasar burung yang ada di
Kota Pasuruan. Lokasi pasar burung tersebut berada di Pasar Kebonagung tepatnya di
bagian belakang pasar. Saat ini pasar burung tersebut sangat ramai dikunjungi, terutama
pada hari-hari libur, seperti pada hari Sabtu dan Minggu. Luas lahan dan jumlah kios yang
digunakan sebagai pasar burung, tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang ada,


sehingga pada waktu-waktu tertentu terlihat sangat ramai dan cukup padat. Selain itu di
Pasar Burung Kebonagung ini juga sering diadakan lomba burung berkicau, sehingga
diperlukan lahan yang lebih luas lagi yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.
Bappeda Kota Pasuruan, sebagai stakeholder Kota Pasuruan telah melakukan kajian
kelayakan (feasibility study) terhadap keberadaan Pasar Burung Kota Pasuruan yang ada di
Pasar Kebonagung sebagai upaya perencanaan pengembangan pasar burung, yang
disimpulkan dalam Studi Relokasi Pasar Burung Kota Pasuruan Tahun 2010, yaitu:
Tabel 1.1
STRENGTH WEAKNESS
a) Satu-satunya pasar burung yang ada
di Pasuruan, dan rujukan pehobi
burung daerah Pasuruan dan
sekitarnya.
b) Aktifitas pasar burung yang dinamis
c) Memiliki fasilitas yang menjadi
tempat ajang lomba burung.
a) Luas lahan yang tidak mendukung
untuk dikembangkan
b) Kondisi pasar yang kurang
memperhatikan aspek kenyamanan
dan kesehatan
c) Infrastruktur (parkir, listrik, air)
yang kurang memadai
d) Manajemen pasar yang kurang
terorganisir
OPPORTUNITY TREATH
a) Geliat pehobi burung di Kota
Pasuruan mampu memberikan nilai
citra positif
b) Pasar Burung mampu meningkatkan
perekonomian daerah pada sektor
perdagangan kecil dan menengah
c) Permintaan komoditas burung dari
luar dan dalam kota cukup
signifikan
a) Benturan antara pedagang dan
Disperindag yang dinilai tidak
kooperatif
b) Semakin gencarnya arus
perdagangan modern
c) Populasi burung liar yang semakin
sedikit
Sumber: Studi Relokasi Pasar Burung Kota Pasuruan Tahun 2010
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Pemerintah Kota Pasuruan berkeinginan untuk
merelokasi pasar burung yang ada di Pasar Kebonagung ke tempat yang lebih memadai lagi
untuk mendorong dan mengembangkan pasar penghobi yang dikhususkan bagi para
penggemar burung di Kota Pasuruan khususnya.


Dengan akan direncanakannya pasar burung tersebut, memiliki banyak keuntungan
yang didapat oleh Kota Pasuruan, yaitu dapat mempermudah masyarakat dalam
menyalurkan hobinya, terutama bagi pecinta burung, meningkatkan perekonomian,
meningkatkan PDRB Kota Pasuruan, dan dapat dijadikan sebagai tujuan wisata.
1.1.3 Konsep Penataan Kawasan Pasar Berbasis Arsitektur Lansekap
Pembangunan kota berwawasan lingkungan menuntut agar setiap kota di Indonesia
memiliki perencanaan pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan. Ancaman
kerusakan lingkungan akibat polusi, perubahan iklim, serta bencana alam menjadi
pertimbangan di dalam perencanaan pembangunan kota yang berkelanjutan (sustainable
urban development). Karena itulah, diupayakan pembangunan yang dilakukan tidak
mengesampingkan faktor lingkungan serta mampu meningkatkan mutu atau kualitas
lingkungannya.
Pasar Burung merupakan fasilitas pelayanan publik yang dibangun ditengah-tengah
kawasan perkotaan tentunya tidak lepas dari permasalahan dampak lingkungan yang
mungkin ditimbulkan, mengingat potensi polusi dari limbah kotoran burung, racun
pestisida, sampah, potensi bencana banjir akibat pengaturan drainase yang buruk,
berkurangnya areal hijau, serta berbagai potensi kerusakan lingkungan lainnya.
Pendekatan perancangan berbasis Arsitektur Lansekap merupakan upaya perancangan
yang bertujuan untuk mewujudkan lingkungan binaan yang selaras dengan lingkungan
(Frick, 1998). Sebagai pasar dengan barang dagangan yang bersifat khusus, Pasar Burung
memerlukan daya dukung lingkungan yang menunjang aktifitas maupun kebutuhan dari
fungsi pasar sebagai sentra perdagangan.
Dengan memadukan faktor kebutuhan pasar dan faktor kebutuhan lansekap tersebut,
diharapkan dapat menciptakan ruang gerak bagi penggiat hobi burung yang mampu
meningkatkan kualitas pembangunan untuk meningkatkan geliat perekonomian lokal serta
meningkatkan kualitas lingkungan di Kota Pasuruan.
Salah satu bentuk perpaduan fungsi pasar dengan konsep lansekap tersebut adalah
menata Pasar Burung melalui perancangan Arsitektur Lansekap.


1.2 Identifikasi Masalah
1. Perlunya pengembangan Pasar Burung di Kota Pasuruan sebagai sarana interaksi
pecinta burung, serta berpotensi sebagai sentra ekonomi yang mampu meningkatkan
geliat perekonomian Kota Pasuruan.
2. Adanya kebutuhan Relokasi Pasar Burung di Kota Pasuruan sebagai pengembangan
pasar lama yang sudah tidak representatif.
3. Kebutuhan terhadap konsep penataan Pasar Burung berbasis lansekap yang mampu
menyokong kebutuhan fungsi dan aktifitas pasar.
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diajukan dalam Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan ini
adalah :
1. Bagaimana merancang fungsi ruang Pasar Burung Kota Pasuruan yang
mampu mewadahi dan mengembangkan kebutuhan ruang dari eksisting Pasar
Burung Kebonagung ke dalam wujud baru yang lebih layak dan representatif.
2. Bagaimana merancang lansekap Pasar Burung Kota Pasuruan yang mampu
memberikan kenyamanan terhadap aktifitas dalam pasar burung dan
memberikan kontribusi positif terhadap kualitas lingkungan pasar.


1.4 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada perancangan Pasar Burung ini adalah:
1. Obyek perancangan berupa pasar burung yang direlokasi dan dirancang ulang.
2. Lokasi tapak berada di Kota Pasuruan yang ditentukan sesuai dengan
kebutuhan perancangan (telah ditentukan berdasarkan Studi Relokasi Pasar
Burung Kota Pasuruan 2010).
3. Hasil kajian berupa gagasan ide perancangan pada makro lansekap dan mikro
lansekap (building system) dengan pembahasan secara arsitektural.
1.5 Tujuan
Adapun tujuan dari perancangan Pasar Burung ini adalah untuk mempelajari aspek
keruangan secara arsitektural pada Pasar Burung dan menerapkan perancangan dengan
pendekatan Arsitektur Lansekap dalam desain Pasar Burung, sehingga mampu menjadi
pedoman perancangan pada konteks masalah yang sama selanjutnya.
1.6 Manfaat
Adapun manfaat dari pengembangan Pasar Burung Kota Pasuruan ini adalah:
1. Bagi akademisi
a) Memberikan sumbangan pemikiran mengenai perancangan Pasar Burung
dengan pendekatan desain Arsitektur Lansekap.
b) Memberikan referensi bagi mahasiswa arsitektur dalam perancangan dan
pengembangan Pasar Burung, terutama dengan pendekatan perancangan
Arsitektur Lansekap.
2. Bagi non akademisi


a) Memberikan wacana bagi masyarakat luas tentang pentingnya pengembangan
Pasar Burung yang kerap kurang mendapat perhatian publik dan institusi.
b) Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi Pemerintah dalam
pelaksanaan pengembangan Pasar Burung yang mempertimbangkan aspek
kualitas lingkungan dalam perencanaan dan perancangannya.


1.7 Alur Pemikiran
8 k
k 8
k








A L
8
8 k


8 k


8
8 k




k





8
8LuLSAln ASA8 8u8unC
kC1A ASu8uAn
W
>W


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori Pasar Burung
2.1.1 Definisi Operasional
Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik
yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plaza, pusat
perdagangan maupun sebutan lainnya. (Pepres RI No.112, 2007)
Pasar Burung merupakan pasar terpadu yang menggabungkan fungsi dagang khusus
(satwa burung dan tanaman hias) yang pada pengelolaannya tergolong pada jenis pasar
tradisional, yaitu pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Swasta, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama
dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los, dan tenda yang dimiliki/dikelola
oleh pedagang kecil , menengah, swadaya masyarakat, atau koperasi dengan usaha skala
kecil, modal kecil, dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.
(Anwar, 2001)
2.1.2 Fungsi Pasar Burung
a) Sebagai wadah atau tempat yang layak dan nyaman bagi pedagang untuk
mendatangkan dagangannya kepada calon pembeli atau masyarakat yang
membutuhkan atau yang memerlukan dagangan tersebut (burung, tanaman hias, dan
keperluan pendukungnya)
b) Sebagai sarana penunjang kemajuan perekonomian Kota Pasuruan
2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pasar Burung
Pasar Burung dan Tanaman Hias merupakan pasar fungsi khusus yang menjual burung
dan tanaman hias. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas dari pasar menurut
Kotler (1996) yang dibagi menjadi 3, yaitu:






2.1.3.1 Lahan
Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia No.112 Tahun 2007 mengenai
Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk pembangunan pasar, yaitu:
a) Lokasi pasar wajib mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota,
termasuk Peraturan Zonasinya.
b) Aksesibilitas wilayah yang berhubungan sebagai pencapaian (akses) dan sebagai
pertimbangan agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
c) Fasilitas sebagai tempat usaha pedagang, pengelola, dan fasilitas pendukung
menjadi pertimbangan untuk luasan yang akan dibangun (diatas 5000 m
2
).
d) Infrastruktur (air, listrik, pengelolaan sampah, dan jalan) guna mendukung fungsi
atau aktifitas pasar.
e) Kompatibilitas, yaitu keterpaduan dan keserasian antara kawasan dengan
lingkungannya untuk menciptakan suasana lingkungan pasar yang bersih, sehat,
aman, tertib, dan nyaman.
FAKTOR SYARAT PASAR
Lokasi a) Kesesuaian dengan Tata Guna Lahan
Aksesibilitas a) Kemudahan pencapaian dari public (strategis)
b) Tersedianya sarana transportasi publik
Fasilitas a) Luas lahan diatas 5000 m
2
b) Kondisi lahan memungkinkan untuk dibangun
Infrastruktur a) Memiliki jaringan air bersih dan saluran pembuangan (riol)
kota
b) Memiliki jaringan listrik dan telekomunikasi
Kompatibilitas a) Lingkungan bersih, sehat, aman, tertib, dan nyaman
1 S
S 8l n 1


2.1.3.2 Pelayanan
Pelayanan merupakan faktor penting di dalam sebuah pasar. Kualitas pelayanan
dapat ditinjau dari kemampuan pedagan dalam mengetahui produk, dan cara
memasarkannya (Kotler, 1996).
Di dalam aktifitas pasar burung dan tanaman hias, kemampuan pedagang di dalam
memahami produknya (burung atau tanaman hias) merupakan faktor yang penting untuk
menjalankan fungsi pasar dengan baik. Adapun kualitas pelayanan bergantung pada:
a) Kemampuan pedagang di dalam memilih burung kicauan dari distributor ataupun
penangkaran (Control).
b) Kemampuan pedagang dalam merawat burung atau tanaman hias dengan baik
sehingga mutu produk terjaga (Care).
c) Kemampuan pedagang di dalam menunjukkan nilai jual produk kepada pembeli,
dengan cara komunikasi yang baik dan jujur (Communication).
d) Kemampuan pedagang di dalam menjaga hubungan antar sesama penjual melalui
persaingan sehat dan nuansa kekeluargaan dalam pasar (Competition).
2.1.4 Uraian Jenis dan Fungsi Ruang pada Pasar Burung
Berdasarkan Perda Kota Pasuruan No.10 Tahun 2006 tentang Retribusi Pengelolaan
Pasar Daerah, jenis ruang atau tempat resmi yang diperuntukkan sebagai tempat usaha atau
dagang pada pasar diklasifikasi sebagai berikut:
1. Toko adalah bangunan yang didirikan di dalam pasar yang luasnya 12 (dua
belas) meter persegi atau lebih yang dilengkapi dengan instalasi listrik dan
digunakan untuk menjual barang dan lainnya untuk kebutuhan masyarakat.
2. Kios adalah bangunan tetap di dalam pasar dengan ukuran tertentu, berdinding
tembok, berpintu, berlantai, dan dilengkapi dengan instalasi listrik.


3. Los adalah bangunan berbentuk memanjang di dalam pasar yang beratap tanpa
dinding pemisah dan berlantai.
4. Bedak adalah bangunan yang didirikan di dalam los dengan ukuran tertentu,
berdinding, berpintu, berlantai, dan dilengkapi dengan instalasi listik.
5. Warung adalah bangunan yang didirikan di dalam pasar yang khusus
digunakan untuk menjual makanan dan minuman dengan ukuran tertentu, yang
dilengkapi instalasi listrik, air, dan limbah.
Selain sarana tempat usaha, pasar juga dilengkapi fasilitas penunjang yang terkait
dengan aktifitas dalam pasar, yaitu:
1. Fasilitas Pengelola, yaitu tempat yang diperuntukkan bagi dinas pengelola
pasar untuk melakukan monitoring dan manajemen kepengelolaan pasar.
2. Fasilitas Service, yaitu fasilitas yang berfungsi sebagai layanan pendukung
aktifitas dalam pasar, seperti: parkir, toilet, musholla, pos satpam
Dalam penataan pasar tidak memperkecualikan adanya penambahan fasilitas lain
untuk mendukung fungsi pasar selama tidak keluar dari koridor fungsi utama pasar sebagai
tempat jual-beli.
JENIS FUNGSI KRITERIA
Fasilitas Usaha:
a) Toko
b) Kios
c) Los
d) Bedak
e) Warung
Sebagai tempat untuk
menjalankan usaha
(berdagang), menaruh
barang dagangan,
merawat, dan
mengadakan tawar-
menawar
Luas sesuai dengan perda kota
Pasuruan No. 10 Tahun 2006
Jumlah dan penataan disesuaikan
dengan kebutuhan, kapasitas
lahan, dan konsep perancangan
Fasilitas Pengelola:
a) Kantor pengelola
Sebagai tempat bagi
dinas terkait yang
bertugas menjalankan
kepengelolaan pasar
Kebutuhan ruang disesuaikan
dengan struktur organisasi
kepengelolaan
Fasilitas Service:
a) Parkir
Sebagai prasarana
untuk melengkapi dan
menyokong aktifitas
Kelengkapan bangunan service
pasar disesuaikan dengan fungsi,
kebutuhan, kapasitas, dan konsep


b) Ruang publik (plaza)
c) Jalan kendaraan
d) Jalan pedestrian
e) Toilet
f) Musholla
g) Pos Satpam
di dalam pasar perancangan
Fasilitas Pendukung:
a) Tempat kontes
burung kicau
b) Tempat bursa atau
pameran
Sebagai prasarana
untuk melengkapi dan
menyokong aktifitas
di dalam pasar
Kebutuhan fasilitas pendukung
disesuaikan dengan kebutuhan
dan konsep perancangan
2.2 Tinjauan Arsitektur Lansekap
2.2.1. Definisi Operasional
Lansekap adalah wajah atau karakter bahan atau tapak bagian muka bumi dengan
segala kehidupan dan apa saja yang ada di dalamnya, baik yang bersifat alami maupun
buatan manusia yang merupakan bagian atau total lingkungan hidup manusia beserta
makhluk hidup lainnya, sejauh mata memandang, sejauh segenap indera kita dapat
membayangkan dan sejauh imajinasi kita dapat membayangkan.
Arsitektur Lansekap adalah Ilmu dan seni yang mempelajari pengorganisasian
ruang dan massa, dengan mengkomposisikan elemen-elemen lanskap alami dan buatan,
sehingga tercipta keselarasan lingkungan hidup dalam suatu ekosistem, secara fungsional
berguna, secara estetis indah dan memberi kenyamanan aktivitas (Hakim, 2003)
Lansekap merupakan bentuk interaksi antara manusia dan alam, dimana konsep
alam menjadi bagian dari manusia dan makhluk hidup lain (McHarg dalam Hakim, 2003).
Konsepsi hubungan manusia dengan alam inilah yang menjadi pertimbangan dalam
pendekatan perancangan Pasar Burung dan Tanaman Hias ini nantinya, yang diwujudkan
dalam penataan lansekap.
1 I I k 8
S k l 8 k


2.2.2. Aplikasi Teori Penataan Lansekap Pada Komparasi Pasar Satwa dan Tanaman
Hias Yogyakarta
Pada dasarnya, untuk pasar burung ataupun tanaman hias memang belum memiliki
aturan khusus yang mentautkan adanya elemen lansekap di dalamnya. Konsep penggunaan
lansekap pada pasar burung dan tanaman hias merupakan inovasi baru di dalam
mengoptimalkan fungsi pasar.
Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) merupakan pasar burung dan
tanaman hias yang dirancang dengan konsep Pasar Dalam Taman, dengan
menitikberatkan elemen lansekap untuk mendukung fungsi pasarnya. PASTY sebenarnya
merupakan pindahan dari Pasar Burung Ngasem, yang di-relokasi dan revitalisasi fungsi
serta keberadaannya agar lebih tertata dan optimal (sumber: wawancara Ka-UPT PASTY).
Komparasi digunakan untuk mengetahui karakter penataan lansekap yang akan
digunakan. Hal ini dilakukan dengan menginterpretasikan teori penataan lansekap di dalam
proses aplikasinya pada desain pasar burung dan tanaman hias untuk mengetahui karakter
lansekap pasar burung dan tanaman hias yang komprehensif.
2.2.2.1. Fungsi Lansekap Pada Pasar Burung dan Tanaman Hias
1. Visual Control:
a) Mengurangi intensitas silau cahaya matahari secara langsung pada burung dan
manusia. Dengan penggunaan pohon teduhan dapat mengurangi intensitas sinar
jatuh, serta penggunaan semak atau perdu untuk mengurangi adanya sinar pantul.
G 1
S P u


b) Memberi pemandangan visual di luar kios/los yang baik bagi satwa maupun
manusia dengan menciptakan integrasi ruang yang berhubungan pandang secara
langsung dengan ruang luar melalui penggunaan ruang luar sebagai transisi.
c) Memberi visual pada jalan untuk memberi kenyamanan bagi pejalan kaki, dengan
penataan vegetasi pembentuk ruang serta street furniture yang mendukung.
d) Penguat pandang pada elemen penanda dan bangunan untuk menarik visual
pengunjung
G
S P u
G
S u
G
S u


2. Physical Barrier:
Menciptakan pembatas ruang yang alami secara psikologi, seperti penggunaan
ruang luar sebagai transisi antar los/kios
3. Climate Control
a) Mengontrol suhu udara yang nyaman bagi aktifitas dalam pasar. Dengan
memanfaatkan pohon peneduh, suhu mampu turun 1,5-3%. Suhu udara yang
nyaman baik untuk kesehatan burung serta membuat pedagang dan pembeli menjadi
nyaman untuk beraktifitas.
b) Mengontrol radiasi matahari. Untuk mengurangi radiasi matahari secara langsung,
dipergunakan pohon peneduh yang mampu mengurangi radiasi matahari hingga
kurang dari 100 W/m2. Untuk kebutuhan cahaya di dalam ruang serta kebutuhan
jemur burung, maka digunakan penataan teduhan tidak penuh.
G k
S u
G
S P u

c) Mengontrol aliran angin dan filtrasi dari udara lua
merupakan satwa yang peka terhadap perubahan lingku
angin. Dibutuhkan adanya angin segar bagi burung un
berkicau. Penggunaan vegetasi pohon dan semak dapat
menyaring udara untuk memberikan kualitas udara yang
4. Erosion Control
Penggunaan ruang luar dengan memaksimalkan vegetasi
yang baik, mencegah adanya genangan air, serta memperkuat stru
5. Habitat:
a) Elemen lansekap menghadirkan nuansa alami dengan ad
yang dekat dengan habitat alam sehingga menjadikan lingk
bagi burung dan tanaman
b) Nuansa alam dengan adanya vegetasi dipadu suara kic
nuansa alam yang hidup, yang member kenyamanan seca
G
S
G
S
Mengontrol aliran angin dan filtrasi dari udara luar yang kotor
merupakan satwa yang peka terhadap perubahan lingkungan terutama suhu dan
angin. Dibutuhkan adanya angin segar bagi burung untuk tetap sehat dan dapat
berkicau. Penggunaan vegetasi pohon dan semak dapat mengontrol laju angin serta
untuk memberikan kualitas udara yang baik.
Penggunaan ruang luar dengan memaksimalkan vegetasi menjadi area resapan
mencegah adanya genangan air, serta memperkuat stru
Elemen lansekap menghadirkan nuansa alami dengan adanya vegetasi dan penataan
dekat dengan habitat alam sehingga menjadikan lingkungan pasar kondusif
bagi burung dan tanaman.
Nuansa alam dengan adanya vegetasi dipadu suara kicau burung memberikan
nuansa alam yang hidup, yang member kenyamanan secara psikis bagi pengunjung.
G 1
S u
G
S u

r yang kotor. Satwa burung
ngan terutama suhu dan
tuk tetap sehat dan dapat
mengontrol laju angin serta
menjadi area resapan
mencegah adanya genangan air, serta memperkuat struktur tanah.
anya vegetasi dan penataan
ungan pasar kondusif
au burung memberikan
ra psikis bagi pengunjung.



6. Estetika:
a) Elemen lansekap menambah nilai estetika yang menyatu pada bangunan dan
kawasan.
b) Paduan komposisi warna, tekstur, dalam prinsip desain menjadi kawasan tampak
asri dan indah
2.2.2.2. Karakter Penataan Lansekap (Planting Design)
Dalam kaitannya dengan perancangan lansekap, tata hijau atau planting design
merupakan suatu hal pokok yang menjadi dasar dalam pembentukan ruang luar. Penataan
lansekap pada dasarnya melibatkan elemen vegetasi (tanaman) sebagai pembentuk ruang
dalam desain, yaitu:
Strata dan ukuran tanaman:
Strata merupakan level kanopi dan ukuran tanaman yang dibagi menjadi 3, yaitu:
a) Strata Satu: rumput, pohon
b) Strata Dua: pohon&rumput, semak &rumput
c) Strata Banyak: pohon, perdu, semak, rumput
Ukuran tanaman (pohon), dibagi berdasarkan tinggi tanaman, dan lebar tajuk usia
dewasa, yang dibagi menjadi:
G L
S u

Klasifikasi Jenis Tanaman:
Rumput, Penutup Tanah (Ground Cover)
Kerapatan daun, ranting (tajuk):
Kerapatan Tinggi 75%
Pola Tanam:
1 k
S M

Klasifikasi Jenis Tanaman:


Penutup Tanah (Ground Cover), Semak, Perdu, Pohon
ranting (tajuk):
75% dan Kerapatan Rendah 75%
k
M








Berikut klasifikasi pengamatan karakter lansekap pada tiap lokasi di PASTY

LOKASI Fungsi Strata Jenis Tanaman Tajuk Pola
Entrance
(Gbr. 2.10)
1.2.3.4.6 Banyak
Aa, Ba, Cb
a. Pohon pengarah, peneduh
b. Semak variasi bentuk daun
dan warna
c. Rumput
75% a, d.g
Parkir
(Gbr. 2.11)
1,2,3 Dua
Bc
a. Pohon peneduh 75% a,b,e
Plaza, pendopo,
atau Gazebo
(Gbr. 2.12)
1,2,3,6 Banyak
Aa, Ba
a. Pohon peneduh
b. Perdu berbunga
c. Semak daun dan bunga
d. Rumput
75% d,f,g
Los/Kios
(Gbr. 2.13)
1.2.3.4.5.6 Banyak
Ab, Bb, Bc
a. Pohon peneduh
b. Variasi semak dan perdu
c. Rumput
75% a,d,e
Pedestrian
(Gbr. 2.14)
1.2.3.4.5,6 Banyak
Ab, Bb, Bc
a. Pohon peneduh
b. Variasi semak dan perdu
c. Rumput
75% a,e,
Area Kontes
(Gbr. 2.15)
1,2,3,4 Dua
Bb, Bc
a. Pohon peneduh
b. Rumput
75% d,f
Playground
(Gbr. 2.15)
1,2,3,4,5,6 Banyak
Aa, Ba
a. Pohon peneduh
b. Variasi semak dan perdu
c. Rumput
75% d,f,g,h
Kantor
(Gbr. 2.15)
1,2,3,4,6 Banyak
Ab,Bb,Bc
a. Pohon peneduh
b. Variasi semak dan perdu
c. Rumput
75% a,d,f
Service (KM,
Musholla, Pos)
(Gbr. 2.15)
1.2.3.4.6 Banyak
Aa, Ba
a. Pohon peneduh
b. Variasi semak dan perdu
c. Rumput
75% b,c
1 k
S A
k l
v C 8 C C L C P A
a) Square Grid
b) Square Grid Incomplete
c) Mengelompok 5
d) Radial Cingular
e) Jalur Zigzag
f) Consentric Cingular
g) Triangular
h) Multiple Circle
G k 1
S M
k
S SC l M 8 C Z C C 1 M C




























G A
S u
G A
S u
G A G
S u



























G A 1 Lk
S u
G A
S u
G A k
S u

BAB 3
METODE KAJIAN
3.1. Metode Umum
Metode umum yang digunakan pada kajian ini meliputi metode penelitian deskriptif-
analitik. Metode penelitian deskriptif merupakan metode yang tertuju pada pemecahan masalah
yang ada pada masa sekarang, yang menuturkan, menganalisa, dan mengklasifikasi;
penyelidikan dengan teknik survey, interview, angket, observasi, atau dengan teknik test; studi
kasus, studi komparatif, studi waktu dan gerak, analisa kuantitatif, studi koorperatif atau
operasional (Surakhmad, 1982).
Pelaksanaannya tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan data dan penyusunan
data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data itu. Ciri-ciri metode deskriptif,
antara lain:
a. Memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada
masalah-masalah yang aktual.
b. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa (oleh
karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik).
Kajian yang akan dilakukan adalah menganalisis karakter ruang pada Pasar Burung Kota
Pasuruan lama yang berada di Pasar Kebonagung, sebagai pedoman dasar pada perancangan
ruang yang baru (redesign).
Pada perancangan Pasar Burung Kota Pasuruan yang baru menerapkan Arsitektur
Lansekap sebagai aplikasi desain arsitektural perancangan pasar yang diharapkan mampu
menyelesaikan rumusan masalah yaitu bagaimana merancang pasar burung yang mewadahi
kebutuhan fungsi pasar secara layak dan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

3.2. Tahapan Pengumpulan Data


Tahapan ini merupakan tahap awal sebagai upaya pencarian karakteristik dan informasi
terkait pasar burung pada khususnya, untuk menunjang gagasan awal perancangan. Tahapan ini
memiliki fungsi sebagai pra-rancangan untuk memperoleh pedoman analisa perancangan yang
akan digunakan. Tahap evaluasi ini terdiri dari beberapa tahap, yakni pengumpulan data dan
analisa.
3.2.1. Literatur
Literatur yang berkaitan dengan operasional perancangan, sebagai acuan untuk pendekatan
perancangan, meliputi:
1. Tinjauan Mengenai Pasar, berupa definisi operasional, karakter pasar, kriteria pasar,
variable penunjang pasar.
2. Tinjauan Perancangan Arsitektur Lansekap, berupa penjabaran teori serta aplikasi
secara arsitektural yang berhubungan dengan perancangan pasar
Dari kajian literatur ini dapat dihasilkan variable terkait perancangan yang akan digunakan
sebagai pedoman dalam proses studi banding dan survei tapak
3.2.2. Survey
1. Studi Komparatif, sebagai komparasi untuk mencari permasalahan secara arsitektural
yang ada pada beberapa pasar burung yang sudah terbangun. Alternatif obyek yang akan
dijadikan studi adalah: Pasar Ngasem Jogja (PASTY). Pemilihan obyek studi berdasarkan
latar belakang obyek studi yang sama, yakni pasar burung yang dirancang ulang
(redesign) dengan lebih representatif.
Adapun variable kajian yang dilaksanakan pada studi banding ini ditinjau dari aspek teori
arsitektur lansekap yang sudah diterapkan pada PASTY, untuk dijadikan pertimbangan
dan perbandingan kualitas desain yang akan diterapkan nantinya pada Redesain Pasar
Burung Kota Pasuruan. Variabel tersebut adalah elemen dan prinsip arsitektur lansekap
yang diperoleh dari hasil kajian pada Tinjauan Pustaka..

2. Survey lokasi yang akan digunakan sebagai lokasi perancangan (tapak), yaitu berada di
dalam kawasan Pasar Karangketug, Kota Pasuruan. Lokasi ini telah ditentukan
berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Bappeda Kota Pasuruan dalam Studi
Relokasi Pasar Burung Kota Pasuruan Tahun 2010. Data yang diperlukan pada kajian
studi ini adalah:
a. Data fisik tapak (dimensi dan karakter kawasan)
b. Data klimatologi (iklim, curah hujan, karakter angin dan peredaran matahari)
c. Data bio-fisik tapak (karakter tanah, hidrologi, drainase)
3.3. Tahapan Analisa:
Setelah variabel kriteria pasar pada surevy komparasi dan lokasi tapak dari survey tapak
telah didapatkan, maka tahap selanjutnya adalah tahap perancangan. Pada tahap Analisa
Perancangan ini, dilakukan analisa yang terkait secara langsung dengan proses perancangan
nantinya. Hasil dari Tahap Analisa Perancangan ini merupakan pedoman perancangan yang
digunakan sebagai rujukan perancangan.
3.3.1. Tahap Analisa Tapak:
Adalah tahapan analisa faktor daya dukung lingkungan yang berpengaruh secara
langsung terhadap kebutuhan perancangan berbasis lansekap, yaitu:
3.3.1.1. Analisa Klimatologi
Penjelasan secara deskriptif karakter iklim dan cuaca di Kota Pasuruan. Variabel
analisanya yaitu letak secara geografis, suhu, curah hujan, pengaruh dan karakter
angin serta peredaran matahari pada tapak.
Hasil dari Analisa Klimatologi ini berupa arahan desain yang mampu menangkap
potensi dan kelemahan daya dukung lingkungan yang ada, seperti Tata Massa dan
Orientasi Ruang.

3.3.1.2. Analisa Bio-Fisik (Tanah, Hidrologi, Drainase)


Penjelasan secara deskriptif mengenai kondisi bio-fisik tapak, yakni karakteristik
tanah, potensi sumber air bersih, listrik, dan drainase. Dengan mengetahui kondisi
bio-fisik tapak, akan diketahui prinsip site engineering (rekayasa tapak) yang akan
diterapkan pada desain.
3.3.1.3. Analisa Sirkulasi
Penjelasan secara deskriptif mengenai karakteristik sirkulasi kawasan untuk
dijadikan pertimbangan sirkulasi dari dan menuju ke dalam lokasi tapak baik
secara makro maupun mikro.
3.3.2. Tahap Analisa Fungsi
Adalah tahapan analisa faktor fungsi yang akan diterapkan pada perancangan nanti.
Bahan analisa didapatkan dari pengamatan pada survey eksisting dan komparasi, yaitu
dengan membandingkan variabel fungsi pada Eksisting Pasar Burung Kebonagung
(lama) dengan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY). Adapun aspek
fungsi yang dijadikan bahan analisis adalah:
3.3.2.1. Jenis dan Fungsi Ruang
Untuk mengetahui jenis dan fungsi ruang yang ada pada pasar burung, diperlukan
tinjauan mengenai variabel yang secara garis besar terdapat dua fungsi ruang
utama, yaitu:
a. Kios, sebagai sarana ruang pasar (jual-beli) utama
b. Fasilitas, sebagai sarana pendukung fungsi pasar
3.3.2.2. Karakteristik Pola Ruang
Untuk mengetahui karakteristik pola ruang yang ada pada pasar burung secara
keseluruhan, dengan menggunakan variabel analisa:
a. Aksesibilitas
b. Sirkulasi
c. Pola Tata Ruang

3.4. Tahap Perancangan Program Ruang Pasar Burung


Adalah tahapan sintesa dari hasil analisa fungsi pasar burung yang telah dikaji. Langkah
ini untuk mengaplikasikan pedoman rancangan ruang yang didapat dari hasil Analisa
Fungsi terhadap hasil kajian Analisa Tapak, sehingga didapatkan konsep perancangan
ruang Pasar Burung Kota Pasuruan sebagai berikut:
3.4.1. Tabulasi Jenis dan Besaran Ruang Pasar Burung (dimensional)
Penentuan jenis dan besaran ruang yang didapat berdasarkan kajian kebutuhan ruang dari
hasil analisa jenis dan fungsi ruang.
3.4.2. Program Ruang Pasar Burung (diagramatik)
Setelah mendapatkan jenis dan besaran ruang, langkah berikutnya adalah melakukan
pengorganisasian ruang dalam bentuk programatik sehingga didapatkan konfigurasi
ruang baik secara mikro maupun makro.
3.4.3. Desain Tata Ruang (aplikatif)
Merupakan tahap perancangan dengan berpedoman dari hasil program ruang yang
kemudian diolah secara arsitektural untuk mendapatkan hasil desain pasar burung baru.
Langkah desain dilakukan secara mikro-makro perancangan arsitektur sebagai berikut:
a. Desain bangunan: bentuk bangunan, sistem konstruksi yang dipakai, serta elemen
bangunan
b. Desain tata massa: pola penataan massa, aksesibilitas, dan sirkulasi
c. Site Engineering: sistem utilitas tapak berupa SPAB/SPAK, listrik, instalasi
limbah
3.5. Tahap Perancangan Lansekap Pasar Burung
Setelah didapatkan desain tata ruang pasar burung secara keseluruhan, kemudian
dilakukan perancangan lansekap dengan mengkomposisikan elemen lansekap alami-
buatan, sehingga terjadi keselarasan lingkungan hidup dalam suatu ekosistem, secara
fungsional berguna, secara estetis indah, dan member kenyamanan aktivitas (Hakim,
2003).

3.5.1. Perancangan Elemen Softscape


Elemen softscape merupakan elemen utama pembentuk lansekap, berupa perencanaan
hingga penataa vegetasi unsure pembentuk lansekap yang dijabarkan melalui tahap
berikut:
a) Tahap identifikasi rencana penataan lansekap dengan penzoningan
perwilayah hijau untuk menentukan kebutuhan fungsi lansekap. Langkah
berikutnya adalah dengan menentukan modul strata penanaman tiap-tiap
zona.
b) Tahap klasifikasi jenis tanaman lokal yang ada di Pasuruan, yang sesuai
dengan kebutuhan fungsi dan strata penanaman untuk tiap-tiap zona.
c) Tahap perancangan dan penataan elemen lansekap untuk tiap-tiap zona
dengan memperhatikan pola tanam.
3.5.2. Perancangan Elemen Hardscape
Elemen hardscape adalah unsur pendukung fungsi serta estetika dari lansekap yang
berupa bentuk arsitektural seperti elemen perkerasan jalan, elemen penanda, maupun
elemen perabot lansekap (street furniture)
3.6. Tahap Tabulasi Hasil Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
Merupakan tahap pengkajian terhadap keseluruhan tahap perancangan yang telah dicapai,
baik dari perancangan fungsi ruang hingga perancangan lansekap yang ditabulasi dalam
satu kesatuan desain untuk mempermudah kesimpulan hasil desain baru Pasar Burung
Kota Pasuruan.
3.7. Tahap Feedback Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
Kesimpulan hasil desain yang telah ditabulasi, selanjutnya dapat dilakukan kajian
terhadap parameter-parameter desain yang dicapai sebagai feedback terhadap rumusan
masalah awal, yaitu mengenai permasalahan fungsi ruang dan lansekap. Hal ini dilakukan
untuk mencapai komprehensifitas dari keberhasilan kajian yang telah dilakukan sebagai
hasil rancangan secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan sistematikanya.

HASIL DAN
4.1 Tinjuan Lokasi
Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan proye
sebelumnya berada di Pasar Kebonagung dan rencanany
Karangketug, Kota Pasuruan.
4.1.1 Lokasi Pasar Kebonagung
Pasar Kebonagung termasuk kedalam pasar kelas I,
bangunan fisik permanen, terletak di lokasi yang st
jangkauan pelayanan meliputi seluruh kota.
pasar dan fasilitas perpakiran. Pasar Kebonagung di
terletak di Jl. Panglima Sudirman. Penggunaan lahan
areal pasar lagi. Penggunaan bangunan pada Pasar Kebon Agung terdiri
para pedagang dan fasilitas lain sebagai penunjang
Pasar burung yang terletak di dalam Pasar Kebonagun
burung yang ada di Kota Pasuruan.
pasar dengan Pasar Kebonagung
sub pusat perdagangan I menurut tata guna lahan pad
2011.
Gambar 4.
Su
LOKASI LOKASI LOKASI LOKASI
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan proyek relokasi pasar burung yang
sebelumnya berada di Pasar Kebonagung dan rencananya akan dipindahkan ke
Kebonagung (Lokasi Eksisting Pasar Burung Pasuruan)
Kebonagung termasuk kedalam pasar kelas I, Pasar kelas I merupakan pasar dengan
bangunan fisik permanen, terletak di lokasi yang strategis dan luas, barang dagangan lengkap,
meliputi seluruh kota. Tanah yang digunakan difungsikan sebagai lokasi
pasar dan fasilitas perpakiran. Pasar Kebonagung dibangun diatas lahan seluas 26.775 m2 yang
terletak di Jl. Panglima Sudirman. Penggunaan lahan sudah maksimal dan tidak ada perluasan
Penggunaan bangunan pada Pasar Kebon Agung terdiri atas tempat berjualan
para pedagang dan fasilitas lain sebagai penunjang aktivitas pasar.
Pasar burung yang terletak di dalam Pasar Kebonagung ini merupakan satu
ada di Kota Pasuruan. Pasar burung ini merupakan satu kesatuan unit pengel
yang terletak di Jl. Panglima Sudirman, yang merupa
sub pusat perdagangan I menurut tata guna lahan pada RDTRK Kota Pasuruan Tahun 2001

Gambar 4.1 Peta Lokasi Pasar Kebonagung Kota Pasuruan
Sumber : RDTRK Kota Pasuruan Tahun 2001


k relokasi pasar burung yang
a akan dipindahkan ke Pasar
(Lokasi Eksisting Pasar Burung Pasuruan)
Pasar kelas I merupakan pasar dengan
rategis dan luas, barang dagangan lengkap,
Tanah yang digunakan difungsikan sebagai lokasi
bangun diatas lahan seluas 26.775 m2 yang
sudah maksimal dan tidak ada perluasan
atas tempat berjualan
g ini merupakan satu-satunya pasar
asar burung ini merupakan satu kesatuan unit pengelolaan
yang terletak di Jl. Panglima Sudirman, yang merupakan daerah
a RDTRK Kota Pasuruan Tahun 2001-



Keterangan lokasi Pasar Kebonagung:
a. Lokasi Pasar:
Jl. Panglima Sudirman, Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan
b. Batas Lahan/Kapling:
Utara : SMAN 02 Pasuruan berbatasan dengan Jl. Jambangan - Gayaman
Timur : Permukiman warga kelurahan Purworejo, berbatasan dengan Jl. Kebonjaya
Selatan : Jalan Untung Suropati
Barat : Jalan Panglima Sudirman
c. Luas lahan yang tersedia sebesar 26.775 m
2
, dengan KDB sebesar 14.756 m
2
atau 55%
Gambar 4.2 Foto Satelit Lokasi Pasar Kebonagung Kota Pasuruan
Sumber : www.wikimapia.com

Pasar burung terletak dibagian dalam p
utama (barat). Di dalam pasar ini terdapat fungsi r
peruntukan bangunan pasar sesuai Perda Kota Pasurua
Pengelolaan Pasar Daerah dengan
umum dan ruang publik berupa pendopo ditengahnya.
Keterangan lokasi Pasar Kebonagung:
Batas Lahan/Kapling:
Utara : SMAN 02 Pasuruan berbatasan dengan Jl. Jambangan
Timur : Permukiman warga kelurahan Purworejo, berbatasan
Selatan : Zona Terminal Angkot Pasar Kebonagung
Barat : Zona Los Pasar Kebonagung
Gambar 4.3 Foto Satelit Lokasi Pasar Burung dalam Pasar Kebona
Pasar burung terletak dibagian dalam pasar sebelah timur, 200 meter dari pintu masuk
utama (barat). Di dalam pasar ini terdapat fungsi ruang yang telah diklasifikasi berdasarkan
peruntukan bangunan pasar sesuai Perda Kota Pasuruan Nomor 10 Tahun 2006, Tentang
Pengelolaan Pasar Daerah dengan disediakannya 45 buah kios, yang dilengkapi dengan
umum dan ruang publik berupa pendopo ditengahnya.
Keterangan lokasi Pasar Kebonagung:
: SMAN 02 Pasuruan berbatasan dengan Jl. Jambangan - Gayaman
: Permukiman warga kelurahan Purworejo, berbatasan dengan Jl.
: Zona Terminal Angkot Pasar Kebonagung
: Zona Los Pasar Kebonagung
Foto Satelit Lokasi Pasar Burung dalam Pasar Kebonagung
Sumber : www.wikimapia.com
Pasar
Kebonagung
Pasar burung

asar sebelah timur, 200 meter dari pintu masuk
uang yang telah diklasifikasi berdasarkan
n Nomor 10 Tahun 2006, Tentang
disediakannya 45 buah kios, yang dilengkapi dengan fasilitas
Gayaman
dengan Jl. Kebonjaya


Zona pasar burung pada Pasar Kebonagung ini memiliki luas lahan 2.500 m
2
. Pasar burung
ini memiliki 45 kios, yang diklasifikasikan menurut dimensi ruangnya, yaitu: kios ukuran 3x4,
dan 3x3. Fasilitas penunjang yang terdapat di zona pasar burung adalah: pendopo, kantin, toilet,
dan musholla. Pendopo yang terdapat di zona ini memiliki fungsi sebagai lapak bagi pedagang
tidak tetap, ruang interaksi, dan digunakan pula sebagai tempat perlombaan burung.
Gambar 4.4 Zona Pasar Burung
Sumber : Analisa
Gambar 4.5 Foto Kondisi Pasar Burung Kebonagung
Sumber : Dokumentasi 2010

4.1.2 Lokasi Pasar Karangketug
Lokasi tapak terpilih sebagai kajian rancangan meru
direncanakan sebagai lahan relokasi pasar burung ol
Pasar Burung Kota Pasuruan Tahun 2010, yang menghas
kawasan Pasar Karangketug, Pasuruan.
Lokasi Lokasi Lokasi Lokasi
Baru Baru Baru Baru
Lokasi Lokasi Lokasi Lokasi
Lama Lama Lama Lama
Gambar 4
arangketug (Lokasi Pasar Baru Terpilih)
Lokasi tapak terpilih sebagai kajian rancangan merupakan lokasi tapak yang sudah
direncanakan sebagai lahan relokasi pasar burung oleh Bappeda Pasuruan dalam Studi Relokasi
Pasar Burung Kota Pasuruan Tahun 2010, yang menghasilkan rekomendasi lahan relokasi
, Pasuruan.
Lokasi Lokasi Lokasi Lokasi

Gambar 4.6. Foto Satelit Lokasi Pasar Kebonagung Kota Pasuruan
Sumber : www.wikimapia.com

pakan lokasi tapak yang sudah
eh Bappeda Pasuruan dalam Studi Relokasi
ilkan rekomendasi lahan relokasi di


Keterangan lokasi Pasar Karangketug:
1) Lokasi Pasar:
Jl. Gatot Soebroto, Kecamatan Gadingrejo, Kelurahan Karangketug
737 LS 11252 BT, 6 meter dpl
2) Batas Lahan/kavling:
Utara: Kawasan Permukiman dan Perdagangan Jl. Soekarno Hatta
Timur: Permukiman warga Kelurahan Karangketug
Selatan: Areal Persawahan
Barat: Berbatasan dengan Jalan Gatot Soebroto
3) Luas Lahan:
Luas Tapak Rencana Relokasi Pasar Burung: 6560 m
2
Gambar 4.7 Foto Kondisi Pasar Keraton
Sumber : Dokumentasi 2010
Gambar 4.8 Foto Site Pasar Burung Terpilih
Sumber : Dokumentasi 2010


4.2 Analisa Tapak
Tapak terletak pada sebelah timur Pasar Karangketug, terdiri atas lahan kosong dengan
bentuk trapesium dengan luas 6560 m2, dengan keberadaan TPS yang masih aktif pada sisi
timur tapak. Tapak memiliki topografi yang relatif datar dengan dikelilingi saluran drainase yang
cukup baik. Tapak dikelilingi oleh zona permukiman, perdagangan dan jasa, serta persawahan,
dengan peruntukan lahan eksisting berupa perdagangan..
Berdasarkan RTRW Pasuruan Tahun 2002-2012, lokasi tapak yang secara administratif
berada pada wilayah Pasar Kraton ini tergolong dalam Bagian Wilayah Kota (BWK) Bagian
Barat yang memiliki orientasi fungsi kegiatan Jasa dan Perdagangan (skala sub regional dan
lokal) . Peruntukan lahan Pasar Karangketug merupakan daerah dalam kategori Sub Perdagangan
III, yang ditunjang dengan Jalan Soekarno Hatta sebagai jalan arteri primer Kota Pasuruan.
Secara historis, tapak ini dahulunya merupakan areal persawahan yang berstatus sebagai
aset dari Pemkot Pasuruan, yang kemudian pada tahun 2004 dikembangkan peruntukannya
menjadi Pasar Karangketug (relokasi Pasar Kraton) dan sub terminal Karangketug.
Berdasarkan Studi Relokasi Pasar Burung Kota Pasuruan Tahun 2010, Pasar Karangketug
sebagai kawasan perdagangan memiliki beberapa kriteria lokasi sebagai bangunan pasar menurut
Perpres RI No. 112 Tahun 2007, yaitu kesesuaian terhadap: Lahan, Aksesibilitas, dan Sarana
Prasarana, yang dijelaskan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.1 Analisa Tata Guna Lahan Pasar Karangketug
L A S
L



8 818W k


S




!

u

! C S

A

u



S




S

u k
k

1S

P
A
S
A
R


K
A
R
A
N
G
K
E
T
U
G




1
k
81P

k
L P





! C S







!

u !
S P


1


1




1

Sumber: Studi Relokasi Pasar Burung Kota Pasuruan, 2011
4.2.1 Analisa Iklim Tapak
Kota Pasuruan memiliki suhu yang berkisar antara 17-33C dengan kelembaban udara 48-
88 %. Orientasi bangunan sebaiknya ditempatkan diantara lintasan matahari dan angin sebagai
kompromi antara letak gedung berarah dari timur ke barat, dan yang terletak tegak lurus terhadap
arah angin. Bangunan sebaiknya berbentuk persegi panjang yang menguntungkan penerapan
ventilasi silang. Ruang di sekitar bangunan sebaiknya dilengkapi pohon peneduh tanpa
mengganggu gerak udara. Bukaan dinding (jendela dan pintu) didesain ke arah matahari terbit.
Bahan penutup halaman yang dapat memantulkan cahaya matahari dapat dipakai, seperti kaca,
keramik dengan permukaan halus dan cerah, atau tanaman perdu digunakan sebagai tameng.
Iklim Kota Pasuruan menurut peta Agroklimat Jawa Madura Oldeman termasuk tipe D2
(agak kering) dengan curah hujan rata-rata per tahun 1.059 mm/tahun (Data BMG Pasuruan
2008). Angin bergerak dari tempat bertekanan tingggi menuju ke daerah bertekanan rendah.
Tekanan udara dapat dimanipulasi dengan mengatur lokasi dan ukuran bukaan bangunan. Jika
kecepatan udara rendah, maka outlet diperbesar. Agar udara yang masuk dalam ruang sejuk dan
bersih, pohon ditanam di dekat bangunan.

U
C


!


L














Gambar 4.9 Analisa Iklim Tapak
Sumber : Analisa, 2011

C


!


L











Analisa Iklim Tapak
mber : Analisa, 2011


4.2.2 Analisa Tanah, Hidrologi dan Drainase
Karakteristik tapak eksisting yang relatif datar, ketersediaan saluran drainase, letaknya
yang strategis dan eksisting lahan yang belum digunakan (lahan kosong), serta kondisi tanah
yang cukup baik akan memudahkan pengerjaan pembangunan fungsi baru di atasnya. Tapak
derada pada ketinggian 7 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan karakter topografi relatif
datar.
Kondisi tanah bekas sawah yang diurug, membuat tapak memiliki potensi kesuburan yang
baik untuk vegetasi dan mampu mendukung beban bangunan apabila didirikan diatasnya. Hal ini
dapat dilihat dari adanya vegetasi pohon di sebelah timur dan adanya bangunan baru Pasar
Karangketug yang tidak memiliki masalah pada ketahanan tanah dalam menopang struktur
bangunan.
Topografi tapak relatif datar dengan sedikit kemiringan ke arah timur, hal ini dapat dilihat
dengan adanya saluran drainase di sekeliling tapak yang mengalir kearah timur tapak. Saluran ini
nantinya tidak akan dipergunakan sebagai saluran drainase pasar burung, karena dimensinya
disesuaikan dengan peruntukan bagi pasar karangketug. Kebutuhan suplai air bersih nantinya
menggunakan sumur artesis, yang disesuaikan kebutuhannya dengan kebutuhan suplai air bersih
untuk pasar burung.
Disisi timur tapak terdapat saluran irigasi bagi areal persawahan, yang dapat digunakan
sebagai saluran pembuangan limbah tapak yang sebelumnya harus diproses dahulu agar tidak
mencemari irigasi sawah.
Gambar 4.10 Foto Vegetasi Sekitar Tapak
Sumber : Dokumentasi 2010
Gambar 4.11 Foto Bangunan Pasar Baru
Sumber : Dokumentasi 2010

4.2.3 Analisa Sirkulasi
Kondisi fisik dan visual pintu masuk utama pasar me
upaya peningkatan kualitas visual mulai dari pintu masuk utama pasar, baik mel
penanda, serta pengaturan papan reklame dan kios ka
penambahan fungsi baru pada kawasan tapak Pasar Kar
lebih mudah dicapai dari jalan arteri. Hal ini dikarenakan letak tapak
dicapai dari pintu masuk utama Pasar Karangketug, s
menghindari konsentrasi simpul jalur keluar
akses manuju fungsi baru pada sebelah timur tapak dapat menga
yang juga akan meningkatkan aktivitas Pasar Karangk
pembentuk sirkulasi yang sudah cukup baik dengan le
dapat mendukung sirkulasi kendaraan pengunjung hing
pengangkut sampah, pengangkut barang, dan pemadam k
Gambar 4.12 Analisa Hidrologi Tapak
Sumber : Analisa, 2011
Kondisi fisik dan visual pintu masuk utama pasar memerlukan perhatian yang lebih dengan
visual mulai dari pintu masuk utama pasar, baik mel
penanda, serta pengaturan papan reklame dan kios kaki lima. Kemudian bila terdapat
penambahan fungsi baru pada kawasan tapak Pasar Karangketug, dapat ditambahkan akses yang
dari jalan arteri. Hal ini dikarenakan letak tapak yang cukup jauh untuk
dicapai dari pintu masuk utama Pasar Karangketug, serta untuk pemecahan akses untuk
menghindari konsentrasi simpul jalur keluar-masuk kendaraan. Di samping itu, penambahan
ju fungsi baru pada sebelah timur tapak dapat mengaktifkan kawasan timur tapak,
yang juga akan meningkatkan aktivitas Pasar Karangketug sebelah barat. Kondisi material
pembentuk sirkulasi yang sudah cukup baik dengan lebar jalan yang mencukupi (7 meter),
dapat mendukung sirkulasi kendaraan pengunjung hingga kendaraan servis seperti mobil
pengangkut sampah, pengangkut barang, dan pemadam kebakaran.
A



S




A



Analisa Hidrologi Tapak
mber : Analisa, 2011

merlukan perhatian yang lebih dengan
visual mulai dari pintu masuk utama pasar, baik melalui elemen
ki lima. Kemudian bila terdapat
angketug, dapat ditambahkan akses yang
yang cukup jauh untuk
erta untuk pemecahan akses untuk
masuk kendaraan. Di samping itu, penambahan
ktifkan kawasan timur tapak,
etug sebelah barat. Kondisi material
bar jalan yang mencukupi (7 meter),
ga kendaraan servis seperti mobil
A


S



A




Pintu masuk utama
pasar
Jalan masuk perumahan
3 meter
Jalan masuk
perumahan
3 meter
Jalan Soekarno Hatta
Jalan samping pasar
5 meter
Jalan samping pasar
3 meter
Jalan samping pasar
7 meter
Jalan Gatot Subroto
Alternatif
Tapak 1
Gambar 4.13 Analisa Sirkulasi Tapak
Sumber : Analisa, 2011

4.3 Eksisting Fungsi dan Ruang Pas
Secara umum, ruang yang terdapat pada Pasar Burung
Fasilitas penunjang (pendopo, musholla, kamar mandi
merupakan komponen fungsi pokok pasar burung yang harus dipenuhi seb
fungsi bangunan pasar (Perpres RI No. 112 Tahun 200
Mengenai Pendirian Pasar Tradisional).
Sirkulasi Fasilitas
Gambar 4.
Fungsi dan Ruang Pasar Burung Kebonagung
Secara umum, ruang yang terdapat pada Pasar Burung Kebonagung terdiri dari Kios,
Fasilitas penunjang (pendopo, musholla, kamar mandi, dan kantin), dan Sirkulasi. Ketiganya
n fungsi pokok pasar burung yang harus dipenuhi sebagai standar minimal
fungsi bangunan pasar (Perpres RI No. 112 Tahun 2007, Bab II Bagian 1 Pasal 2 Ayat 2,
Mengenai Pendirian Pasar Tradisional).
Fasilitas Kios
Gambar 4.14 Jenis Ruang Pasar Burung Karangketug
Sumber : Eksisting, 2011

Kebonagung terdiri dari Kios,
, dan kantin), dan Sirkulasi. Ketiganya
agai standar minimal
7, Bab II Bagian 1 Pasal 2 Ayat 2,


4.3.1 Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung Kebonagung
1. Kios
Menurut Perda Kota Pasuruan No. 10 Tahun 2006 Pasar Burung Kebonagung
menggunakan saran perdagangan berupa kios, yaitu: bangunan tetap dalam pasar dengan ukuran
tertentu, berdinding tembok, berpintu, dan berlantai. Pasar urung Kebonagung memiliki total 45
kios (hanya 40 kios yang aktif) yang berfungsi sebagai tempat melakukan aktifitas perdagangan
aneka komoditi burung, yang di klasifikasi menjadi 2 menurut ukurannya, yaitu Kios I (3x4 m
2
)
yang berjumlah 19 buah dan Kios II (3x3 m
2
) yang berjumlah 26 buah.
Kios Kios Burung Kios Burung
Gambar 4.15 Jenis Kios Pasar Burung Karangketug
Sumber : Eksisting, 2011


Ukuran kios merupakan klasifikasi untuk pemerataan dan kemudahan dalam tata kelola.
Perbedaan luasan kios didasarkan pada kemampuan finansial yang dimiliki pedagang dan nilai
strategis letaknya.
Tabel 4.5 Jenis dan Besaran Kios Pasar Burung Kebonagung
GOL Kios 3x3
Kios 3x4
A 8 8
B 8 4
C 4 2
D 4 2
Jml Total 24 16
L. Total 216 m
2
192 m
2
Sumber : Data eksisting, 2011

2. Fasilitas
Pasar Burung Kebonagung dilengkapi dengan fasilitas umum berupa kamar mandi dan
musholla, ruang publik (pendopo) dan kantin. Berikut penjelasan dari ketiga fasilitas umum
tersebut:
1. Musholla dan kamar mandi
Fasilitas musholla dan kamar mandi berada di sebelah utara area pasar
burung, yang merupakan area service dengan dilengkapi adanya tendon sebagai
suplai air bersih bagi area pasar burung. Namun saat ini prasarana ketersediaan air
sudah tidak berfungsi, sehingga menyebabkan musholla dan kamar mandi tidak
dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan menjadi area kumuh sebagai tempat
pembuangan sampah (kamar mandi) dan gudang (bekas mushola).

2. Ruang publik (pendopo)
Di tengah area Pasar Burung Kebonagung terdapat pen
sebagai ruang publik serb
sebagai lapak bagi pedagang tidak tetap. Disamping
sebagai tempat lomba burung kicau yang diadakan sec
tempat latihan bersama yang diadakan secara terjad
kamis, dan akhir pekan).
3. Kantin
Kantin disediakan di area pasar burung sebagai sent
ingin berjualan makanan dan
dengan kios pedagang burung. Konsep kantin yang ada
menyediakan 6 stand dan area makan yang jadi satu.
bermanfaat bagi pedagang yang sehari
pengunjung yang datang. Namun saat ini pedagang yan
cukup sedikit, dari 6 stand yang disediakan, hanya
pendapatan yang diperoleh tidak cukup signifikan da
Ruang publik (pendopo)
Di tengah area Pasar Burung Kebonagung terdapat pendopo yang berfungsi
sebagai ruang publik serbaguna. Dalam kesehariannya, pendopo ini berfungsi
sebagai lapak bagi pedagang tidak tetap. Disamping itu, pendopo ini berfungsi
sebagai tempat lomba burung kicau yang diadakan secara insidental (event) dan
tempat latihan bersama yang diadakan secara terjadwal rutin (tiap sore hari senin,
kamis, dan akhir pekan).
Kantin disediakan di area pasar burung sebagai sentra bagi pedagang yang
ingin berjualan makanan dan minuman, agar tidak terjadi kerancuan zona fungsi
dengan kios pedagang burung. Konsep kantin yang ada berupa pujasera, yang
menyediakan 6 stand dan area makan yang jadi satu. Keberadaan kantin ini
bermanfaat bagi pedagang yang sehari-harinya berada di area pasar burung dan bagi
pengunjung yang datang. Namun saat ini pedagang yang memanfaatkan kantin
cukup sedikit, dari 6 stand yang disediakan, hanya terisi 3 stand. Hal ini disebabkan
pendapatan yang diperoleh tidak cukup signifikan dan sulitnya mendapat air
Gambar 4.16 Pendopo Pasar Burung Kebonagung
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.17 Kantin Pasar Burung Kebonagung
Sumber : Dokumentasi, 2011

dopo yang berfungsi
aguna. Dalam kesehariannya, pendopo ini berfungsi
itu, pendopo ini berfungsi
ara insidental (event) dan
wal rutin (tiap sore hari senin,
ra bagi pedagang yang
minuman, agar tidak terjadi kerancuan zona fungsi
berupa pujasera, yang
Keberadaan kantin ini
pasar burung dan bagi
g memanfaatkan kantin
terisi 3 stand. Hal ini disebabkan
n sulitnya mendapat air bersih.

Tabel 4.5 Jenis dan Besaran Ruang Fasilitas Pasar Burung Kebo
Sumber : Data Eksisting, 2011
4.3.2 Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung Kebonagung
1. Aksesibilitas
Pasar Burung Kebonagung
sebelah utara dan selatan, seperti yang dapat dilih
Jenis Ruang Kapasitas
A Kamar Mandi 6 m
Tempat Wudlu
Musholla
Total Area
Musholla
B Pendopo
Total Area
Pendopo
C Kios Kantin
Area Makan
Total Area
Kantin
Gambar 4.
Jenis dan Besaran Ruang Fasilitas Pasar Burung Kebonagung
Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung Kebonagung
Pasar Burung Kebonagung dapat diakses melalui dua area masuk (double gate
sebelah utara dan selatan, seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut:
Kapasitas
6 m
2
x 2
16 m
2
45 m
2
73 m
2
128 m
2
128 m
2
36 m
2
91 m
2
127 m
2


Gambar 4.18 Akses Masuk Pasar Burung Kebonagung
Sumber : Eksisting, 2011

double gate), yaitu dari


Akses ke dalam Pasar Burung Kebonagung pada dasarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki,
dan bagi pedagang atau pengunjung yang membawa kendaraan bermotor diharapkan untuk
memarkir kendaraannya di luar area pasar burung. Namun pada kenyataannya masih banyak
pengunjung atau pedagang yang memarkir kendaraannya di dalam pasar burung dengan alasan
keamanan. Saat ini memang tidak ada area parkir khusus kendaraan bermotor bagi pedagang atau
pengunjung pasar burung yang menjamin keamanan dan kurangnya pengawasan terhadap
ketertiban kendaraan di sekitar area pasar burung.
2. Sirkulasi
Sirkulasi pada Pasar Burung Kebonagung merupakan penghubung antar ruang yang ada.
Sirkulasi dalam pasar burung ini ada dua jenis, yaitu:
1. Sirkulasi Primer
Sirkulasi Primer adalah sirkulasi utama pasar burung yang diperuntukkan
bagi pejalan kaki untuk dapat menjelajahi keseluruhan pasar burung, sekaligus
menghubungkan semua zona fungsi pasar yang ada. Sirkulasi primer merupakan
area perkerasan penuh dengan material paving yang memiliki dimensi lebar jalan 4-
6 meter yang dapat dilalui untuk 2 arah, hal ini dikarenakan aksesibilitas pasar
burung yang 2 arah dan destinasi pengunjung yang bebas.
Ruang sirkulasi primer juga dimanfaatkan pedagang sebagai area promosi.
Para pedagang memasarkan dagangannya dengan meletakkan barang dagangan di
area sirkulasi yang menyebabkan berkurangnya luasan sirkulasi primer.
Gambar 4.19 Kondisi Sirkulasi Primer Yang Digunakan Sebagai Tempat Promosi
Sumber : Dokumentasi, 2011


Selain itu, sirkulasi primer juga dimanfaatkan sebagai area parkir kendaraan
roda dua, yang disebabkan tidak adanya area parkir khusus bagi kawasan pasar
burung yang dapat menjamin keamanan kendaraan pribadi pedagang dan
pengunjung.
2. Sirkulasi Sekunder
Sirkulasi Sekunder merupakan sirkulasi penghubung antar ruang pada pasar
burung, yang memiliki dimensi lebar 1,5 meter dengan perbedaan level +00.30 dari
sirkulasi primer. Pedagang maupun pengunjung memanfaatkan sirkulasi sekunder
ini untuk berpindah / berinteraksi dari kios satu ke kios lainnya pada koridor yang
sama, namun saat ini sirkulasi sekunder ini lebih dimanfaatkan pedagang untuk
meletakkan barang dagangan, sehingga untuk berpindah dari satu kios ke kios
lainnya harus melalui sirkulasi primer. Fungsi sirkulasi sekunder saat ini hanya
merupakan area transisi dari sirkulasi primer ke dalam ruang.
Gambar 4.20 Kondisi Sirkulasi Primer Yang Digunakan Sebagai Tempat Parkir Roda Dua
Sumber : Dokumentasi, 2011


3. Pola Tata Ruang
Pola penataan pasar burung berupa pola yang berbentuk sentral-grid dengan system
terpusat (sentral) dan bersifat horizontal. Penataan kios berupa linier-grid mengikuti pola lahan
yang berorientasi pada ruang terbuka sebagai ruang sirkulasi, ditunjang dengan adanya fasilitas
publik berupa pendopo yang memperkuat karakter terpusat dengan menjadi pusat keramaian.
4.4 Studi Komparasi: Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY)
Standar mengenai perancangan bangunan pasar burung di Indonesia secara spesifik masih
belum ada, dan masih mengikuti dari aturan perencanaan yang dimuat dalam Perpres RI No. 112
Tahun 2007, yang hanya merupakan pedoman konstitusional tentang penataan dan pembinaan
pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern. Aturan-aturan teknis mengenai masalah
perancangan pasar, diserahkan langsung kepada pihak pemerintah melalui dinas terkait
(Disperindag) yang disesuaikan dengan pertimbangan lingkungan sekitarnya.
Perancangan Pasar Burung Kota Pasuruan yang baru, merupakan perancangan ulang
(redesign) dari pasar burung lama (Pasar Burung Kebonagung) yang direlokasi ke tapak baru
(Pasar Karangketug). Sebagai objek perancangan ulang tentunya kaidah yang harus diperhatikan
adalah bagaimana mentransformasikan komponen-komponen yang ada pada pasar lama ke
dalam wujud pasar baru yang lebih representatif, dengan melakukan menggunakan analisa
Gambar 4.21 Karakter Tata Ruang Pasar Burung Kebonagung
Sumber : Analisa, 2011


komparasi dengan objek pasar burung lain sebagai pembanding untuk mengidentifikasi
permasalahan yang ada pada Pasar Burung Kebonagung sebagai upaya pencarian penataan pasar
burung yang ideal.
PASTY merupakan satu-satunya sentra pasar burung dan tanaman hias di Yogyakarta,
yang merupakan obyek relokasi dari Pasar Burung Ngasem di Tamansari yang dipindahkan ke
Jalan Bantul Km 1 Dongkelan. Pasar ini secara resmi berfungsi pada bulan 22 Maret 2010, dan
memiliki luas tanah 15.605 meter persegi, dengan luas bangunan total 5.500 meter persegi. Pasar
ini menampung lebih dari 300 pedagang tetap dari Pasar Burung Ngasem, yang terwadahi dalam
16 Kios, dan 37 Los.
Kompleksitas PASTY merupakan transformasi dari konsep pasar burung yang dipadukan
dengan konsep wisata alternatif (kategori obyek wisata minat khusus) yang dikembangkan oleh
pemerintah Yogyakarta.
Konsep pasar - wisata khusus terpadu ini lantas dikembangkan dengan mengusung konsep
Pasar Dalam Taman untuk mendukung kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung melalui
penataan lansekap pasar yang hijau. Konsep ini diaplikasikan dalam wujud penataan ruang yang
didukung penataan vegetasi sebagai penyokong kebutuhan kenyamanan ruang. Selain itu, di
PASTY ini juga menggunakan teknologi komposter untuk mengolah sampah dan kotoran burung
sehingga pasar lebih bersih dan nyaman, sesuai dengan semboyan yang diusung PASTY, Pasare
Resik, Rejekine Apik.
4.4.1 Jenis dan Fungsi Ruang PASTY
PASTY memiliki 8 zona untuk area pasar burung, yaitu: zona Sangkar Burung, Ikan Hias,
Makanan Burung Basah, Burung Ocehan, Burung Merpati, Ayam Hias, Satwa, dan Reptil. Selain
itu, PASTY juga dilengkapi dengan Ruang Publik, Arena Kontes Burung, Playground, Kantin,
Ruang Informasi, Musholla, KM/WC.
1. Kios / Los
Tempat dagang / usaha pada PASTY berupa 13 Kios dan 222 petak yang dibagi dalam 37
Los. Kios pada PASTY merupakan jenis tempat dagang berukuran 3x4 m
2
yang memiliki


dinding, atap, pintu, dan lantai yang dilengkapi dengan instalasi listrik. Los adalah area
memanjang dengan lebar 2 meter dan panjang 12 meter yang dibagi menjadi beberapa petak
untuk dihuni pedagang dengan luasan minimal 2 m
2
dan maksimal 12 m
2
. Luasan petak Los tiap
pedagang berbeda-beda, sesuai dengan peruntukan bagi tiap-tiap pedagang yang disepakati
bersama antara pihak UPT PASTY dan paguyuban pedagang. Pasar Ngasem.
Los pada PASTY dibagi menjadi 8 zona peruntukan, yakni: zona Sangkar Burung, Ikan
Hias, Makanan Burung Basah, Burung Ocehan, Burung Merpati, Ayam Hias, Satwa, dan Reptil.
Adanya zonasi pada PASTY merupakan hal baru yang tidak ada di Pasar Ngasem sebelumnya.
Di Pasar Ngasem dulunya, para pedagang yang ada beraneka ragam komoditasnya, namun tidak
berada dalam satu zona yang khusus. Oleh karena itu, dalam desain PASTY sebagai relokasi
Pasar Ngasem, didesain dengan penataan zonasi fungsi dagang yang mengakomodir
keberagaman pedagang yang ada.
Gambar 4.23 Kios PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.22 Los PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011



Los merupakan bangunan panjang yang terdiri dari beberapa petak, dengan desain terbuka
(tidak memiliki pintu dan pembatas dinding) sebagai desain aslinya. Meski tanpa penutup los,
keamanan di lingkungan PASTY dijamin bersama oleh para pedagang. Selain itu dalam desain
satu pintu masuk dan satu pintu keluar pada PASTY ini, gangguan dari pihak luar yang tidak
bertanggung jawab dapat diminimalisir.
Para pedagang memiliki kebebasan dalam mengatur sendiri losnya, banyak cara dilakukan
mulai memasang penyekat ruang, pintu, hingga mendesain tampilan los yang menarik, namun
tetap memperhatikan kebersihan dan menjaga keasrian lingkungannya. Kreatifitas pedagang
dalam berbisnis, merupakan hal yang harus diperhatikan guna membangkitkan atmosfir fungsi
pasar yang kompetitif namun kooperatif.
Di dalam aktifitas pasar burung, hal yang penting yang harus diperhatikan adalah adanya
aktifitas pedagang untuk merawat burung dagangannya. Burung membutuhkan perawatan seperti
penjemuran dan pembersihan kandang, dimana dalam PASTY ini disediakan saluran
pembuangan air, tempat sampah untuk kotoran burung, dan juga air bersih.
Gambar 4.24 Zona Sangkar burung, ikan hias, dan pakan burung
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.25 Zona Burung ocehan, merpati, satwa, ayam hias, dan reptil
Sumber : Dokumentasi, 2011


Para pedagang PASTY dalam menaruh barang dagangan turut diperhatikan, agar tidak ada
pedagang yang menggunakan jalur sirkulasi untuk menaruh barang dagangannya. Dalam desain
jalur sirkulasi sekunder difungsikan sebagai jalur utama akses dari sirkulasi primer ke dalam los,
agar pedagang mengetahui pentingnya jalur sirkulasi. Untuk memenuhi kebutuhan pedagang
dalam menaruh barang dagangan dan promosi, di setiap los disediakan gantungan sangkar
burung di atas sirkulasi sekunder, dan tempat khusus promosi bersama berupa payon di
samping los.
Gambar 4.26 Saluran pembuangan untuk
memandikan dan pembersihan kandang
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.27 Area yang digunakan untuk menjemur burung
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.28 Sangkar burung yang digantung di atas
sirkulasi sekunder
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.29 Payon sebagai area promosi bersama
Sumber : Dokumentasi, 2011


2. Fasilitas
Fasilitas Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta dilengkapi dengan fasilitas penunjang
fungsi pasar yang kompleks berupa Ruang Publik, Arena Kontes Burung, Playground, Kantin,
Ruang Informasi, Musholla, KM/WC.
1. Ruang Publik
Ruang publik disediakan sebagai tempat berkumpul (kantung sirkulasi)
berupa plaza yang berbentuk linier lingkaran, yang dilengkapi atap sehingga
terlindung dari hujan dan terik panas. Di tengah plaza ini terdapat taman sebagai
point of view dan juga terdapat kran air siap minum PDAM yang disediakan untuk
pengunjung atau pedagang secara gratis.
Sebagai ruang public, plaza ini juga digunakan untuk melaksanakan acara-
acara yang bersifat insidental. PASTY sering mengadakan acara-acara tertentu yang
bertujuan baik untuk edukasi seperti penyuluhan, promosi, hingga untuk hiburan
publik seperti panggung hiburan.
Gambar 4.30 Ruang Publik berupa plaza yang dilengkapi taman dan air minum
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.31 Panggung hiburan di plaza PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011


2. Arena Kontes Burung
Di dalam PASTY terdapat arena kontes burung berupa lapangan terbuka
dengan ukuran 8 x 10 m
2
, yang mampu menampung 54 burung kontestan. Untuk
kesehariannya fasilitas ini digunakan untuk latihan bersama para pehobi burung di
sore hari. Pada saat diadakan lomba yang dilaksanakan terjadwal, fasilitas ini
dipasang atap peneduh agar kondisi burung peserta tetap terjaga.
Lomba yang diadakan di pasar ini dikhususkan untuk kelas lomba tingkat
regional II, yaitu lomba yang diadakan rutin yang bertujuan untuk latihan bersama
sekaligus ajang unjuk gigi. Untuk tingkat regional I atau tingkat nasional, lomba
burung kicau diadakan di luar PASTY. Tempat yang biasa menjadi ajang lomba
yakni di Gunung Gamping Sleman (regional 1), atau di Taman Wisata Candi
Prambanan (nasional).
3. Playground dan Kantin
PASTY pada konsepnya bertujuan untuk menjadi pasar burung sekaligus
wana wisata keluarga alternative. Untuk menunjang konsep wisata tersebut, dalam
PASTY dilengkapi dengan playground sebagai tempat bermain untuk anak-anak.
Tempat bermain ini berada di bagian selatan belakang pasar dekat dengan arena
kontes burung, kantin, yang merupakan area fungsi penunjang.
Kantin merupakan bangunan los yang difungsi khususkan untuk pedagang
atau pengunjung yang ingin membeli makanan dan minuman. Sistem penjualan
Gambar 4.32 Arena kontes burung PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011


yang digunakan pada kantin ini berupa pujasera, dimana terdapat pembedaan antara
stand penjualan dan area makan.
4. Ruang Informasi
Ruang informasi merupakan kantor UPT PASTY sebagai penanggung
jawab pelaksanaan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta dari Dinas
Perindustian dan Perdagangan Yogyakarta. Sebagai pengelola pasar, kantor ini
menampung tim kelola dengan struktur organisasi yang lengkap guna mengawasi,
memberdayakan, dan mengembangkan tata kelola PASTY. Kantor ini terletak di
bagian depan pasar, dekat dengan gerbang keluar pasar.
Gambar 4.33 Playground PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.34 Kantin PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.35 Kantor pengelola PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011


5. KM/WC
Kamar mandi merupakan fungsi yang krusial bagi pedagang mengingat
hamper sepanjang hari berada di dalam pasar, dan juga pengunjung. Untuk itu,
pasar ini dilengkapi dengan KM/WC yang berada di dua titik, yaitu di bagian utara
dan selatan pasar yang dibagi untuk menampung kebutuhan dua bagian pasar
tersebut.
6. Komposter
PASTY dilengkapi dengan komposter, sebagai pengolah limbah pasar yang
dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Pupuk hasil pengolahan ini lantas digunakan
untuk kebutuhan perawatan tanaman yang ada di taman pasar, dan juga digunakan
untuk suplai pupuk bagi pasar tanaman hias yang ada di bagian timur komplek
PASTY. Sistem pengolahan kompos ini, yaitu dengan memanfaatkan kotoran
burung yang didapat dari wadah kotoran burung yang disediakan di tiap komplek
los dan dedaunan kering atau sampah organik, yang kemudian diolah dengan
metode pengomposan aerob.
Gambar 4.36 KM/WC PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.37 Komposter PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011

4.4.2 Karakteristik Pola Ruang
1. .Aksesibilitas
PASTY terletak di Jalan Bantul km 1 Dongkelan, Yogy
protocol perbatasan Yogyakarta
Ngasem komplek Tamansari Yogyakarta, kemudian direlokasi d
lebih sesuai dengan Tata Guna Lahan Kota Yogyakarta
strategis.
Dengan lokasinya yang strategis,
pencapaian untuk menuju lokasinya sangat mudah. Pen
dengan kendaraan pribadi, kendaraan umum (busway, b
pariwisata. Hal ini menguntungkan pedagang karena dengan lokasi yang strateg
yang ada menjadi lebih ramai, serta kemudahan akses
kesulitan pada saat masih berada di Pasar Ngasem, T
Aksesibilitas PASTY menggunakan sistem
entrance dan exit. Dengan menggunakan sistem ini mampu meminimalisir
dan kepadatan kendaraan pada gerbang
traffic), mengingat letaknya yang berada di jalan p
Kabupaten Bantul) yang selalu ramai lalu lintasnya.
Gambar 4.38
Karakteristik Pola Ruang PASTY
PASTY terletak di Jalan Bantul km 1 Dongkelan, Yogyakarta, yang merupakan jalan
protocol perbatasan Yogyakarta Kabupaten Bantul. Pasar ini sebelumnya berada di
komplek Tamansari Yogyakarta, kemudian direlokasi dengan pengkajia
lebih sesuai dengan Tata Guna Lahan Kota Yogyakarta untuk menentukan lokasi yang lebih
Dengan lokasinya yang strategis, karena berada langsung pada muka Jalan Bantul, maka
pencapaian untuk menuju lokasinya sangat mudah. Pencapaian menuju lokasi dapat dijangkau
dengan kendaraan pribadi, kendaraan umum (busway, becak, angkutan kota), bahkan untuk bus
ntungkan pedagang karena dengan lokasi yang strateg
yang ada menjadi lebih ramai, serta kemudahan akses pedagang yang sebelumnya cukup
kesulitan pada saat masih berada di Pasar Ngasem, Tamansari.
Aksesibilitas PASTY menggunakan sistem double gate yang dibedakan
. Dengan menggunakan sistem ini mampu meminimalisir adanya kemacetan
dan kepadatan kendaraan pada gerbang dan jalan karena arus kendaraan berlawanan (
), mengingat letaknya yang berada di jalan protokol (penghubung Kota Yogyakarta
yang selalu ramai lalu lintasnya. Pada gerbang masuk terdapat elemen
38 Lokasi Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY)
Sumber : Dokumentasi, 2011

akarta, yang merupakan jalan
Kabupaten Bantul. Pasar ini sebelumnya berada di Pasar
engan pengkajian relokasi yang
untuk menentukan lokasi yang lebih
karena berada langsung pada muka Jalan Bantul, maka
capaian menuju lokasi dapat dijangkau
ecak, angkutan kota), bahkan untuk bus
ntungkan pedagang karena dengan lokasi yang strategis, pengunjung
pedagang yang sebelumnya cukup
yang dibedakan antara area
adanya kemacetan
karena arus kendaraan berlawanan (cross
(penghubung Kota Yogyakarta
Pada gerbang masuk terdapat elemen


penanda yang cukup besar untuk menunjukkan keberadaan PASTY, sehingga pengunjung tidak
kesulitan untuk mencari lokasinya.
Penyediaan sarana area parkir PASTY cukup luas untuk menampung baik kendaraan roda
dua dan roda empat (di dalam gerbang), hingga bus pariwisata (di luar gerbang). Area parkir
disediakan di dalam dan di luar gerbang, untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan saat puncak
kunjungan (peak season). Selain itu di luar gerbang PASTY juga terdapat halte busway dan
trotoar bagi pengunjung yang berjalan kaki.
Gambar 4.39 Gerbang (PASTY)
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.40 Areal Parkir Dalam PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011


2. Sirkulasi
Sirkulasi primer sebagai sirkulasi utama pejalan kaki berupa jalan linier yang
menghubungkan antar fungsi ruang dalam PASTY. Penataan ruang pasar yang berpola grid
dihubungkan dengan adanya jalan setapak melingkar yang menjangkau ke semua area pasar.
Jalur awal sirkulasi berada di plaza yang terletak di dekat gerbang masuk pasar, dan dapat di
akses pula melalui jalur yang berada di dekat gerbang keluar pasar.
Sebagai sirkulasi primer, jalan setapak disediakan agar dapat menampung sirkulasi dua
arus, yakni dengan dimensi lebar jalan 4-6 meter. Kelemahan jalur sirkulasi linier ini ketika
terjadi kepadatan pengguna jalan, sehingga memang sebisa mungkin disediakan luasan yang
cukup, atau dengan pengaturan pergerakan arus melalui hierarki arus jalan.
Sirkulasi sekunder pada PASTY merupakan area transisi yang menghubungkan antara
sirkulasi primer dengan fungsi ruang pasar. Sirkulasi sekunder ini berupa jalan setapak yang
berada di depan kios/los, yang dilalui untuk mengakses kios/los dari sirkulasi primer.
Gambar 4.41 Sirkulasi Primer PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011
Gambar 4.42 Sirkulasi Sekunder PASTY
Sumber : Dokumentasi, 2011

Sirkulasi sekunder ini sangatlah penting, karena fu
dalam los. Jika aksesibilitas terganggu dengan adan
ini, menyebabkan fungsi ruang yang ada tidak dapat
menjadi tidak laku. Oleh karena itu, dengan cara de
tertib dalam mengatur dagangannya agar tidak mengga
3. Tata Ruang
Penataan massa kios/los ataupun fasilitas yang ada
dimana kios/los ditata berdasarkan zona peruntukann
yang dihubungkan dengan sirkulasi primer yang berka
Sirkulasi sekunder ini sangatlah penting, karena fungsinya sebagai penghubung antar ruang
dalam los. Jika aksesibilitas terganggu dengan adanya barang dagangan yang ditumpuk pada area
ini, menyebabkan fungsi ruang yang ada tidak dapat diakses, sehingga mem
menjadi tidak laku. Oleh karena itu, dengan cara demikian dapat membuat pedagang untuk lebih
tertib dalam mengatur dagangannya agar tidak mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Penataan massa kios/los ataupun fasilitas yang ada pada PASTY berpola
dimana kios/los ditata berdasarkan zona peruntukannya sehingga berupa tatanan blok (grid)
yang dihubungkan dengan sirkulasi primer yang berkarakter linier.
Gambar 4.43 Denah PASTY
Sumber : Analisa, 2011

ngsinya sebagai penghubung antar ruang
ya barang dagangan yang ditumpuk pada area
diakses, sehingga membuat dagangan
mikian dapat membuat pedagang untuk lebih
nggu kenyamanan pengguna jalan.
a PASTY berpola linier grid,
sehingga berupa tatanan blok (grid),


Setiap fungsi ruang ataupun zona yang ada pada PASTY dihubungkan dengan sirkulasi
primer dan sirkulasi sekunder sebagai transisinya, dimana semua aspek fungsi (ruang dan
sirkulasi) memiliki orientasi terhadap ruang hijau (taman). Fungsi ruang hijau pada PASTY
adalah sebagai elemen lansekap yang menyokong kebutuhan kualitas ruang yang ada, seperti
sebagai barrier radiasi sinar matahari, penghawaan, kenyamanan visual, dan fungsi vegetasi
lainnya.
Gambar 4.44 Ruang hijau PASTY
Sumber : Analisa, 2011


4.5.Analisa Perbandingan Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung
Tabel 4.2 Analisis Perbandingan Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Burung
Variabel PASTY Pasar Burung
Kebonagung
Kesimpulan
Kios/Los a) Fungsi penjualan
berupa kios dan los
b) Kios berukuran 3x4
m
2
c) Los berukuran 2x12
m
2
dengan ukuran
petak bervariatif (2-
12 m
2
)
d) Los dibagi dalam 8
zona yang
disesuaikan dengan
komoditas
pedagang
e) Los dilengkapi
dengan prasarana
untuk perawatan
burung dan area
promosi
a) Fungsi penjualan
hanya berupa kios
b) Kios berukuran
3x4 m
2
dan 3x3
m
2
c) Tidak ada
pembagian zona
penjualan, karena
komoditas
pedagang yang
terbatas
d) Kios tidak
dilengkapi
dengan prasarana
penunjang
perawatan burung
dan juga tidak ada
area promosi
yang terwadahi
a) Fungsi penjualan
pasar ditentukan
sesuai dengan
kebutuhan
pedagang lama dan
meninjau
kemampuan
financial pedagang
(karena
berpengaruh pada
sistem retribusi)
b) Ukuran kios/los
disesuaikan
dengan luasan
kios/los yang
dimiliki pedagang
di tempat
sebelumnya, agar
tidak terdapat
kesenjangan antar
pedagang
c) Kios/los sebaiknya
dilengkapi dengan
prasarana yang
menunjang
perawatan burung
dan juga
disediakan area
promosi khusus
agar pedagang
lebih tertib
Fasilitas a) Memiliki fasilitas
yang lengkap, yang
disesuaikan dengan
kebutuhan service
pasar dan konsep
pasar wisata
b) Fasilitas meliputi:
Ruang public,
a) Fasilitas yang ada
terbatas untuk
kebutuhan service
pasar burung saja
b) Fasilitas meliputi:
musholla
,KM/WC, ruang
public, dan kantin
a) Kebutuhan
fasilitas pasar
harus disesuaikan
dengan klasifikasi
kelas pasar yang
digunakan, karena
sudah disesuaikan
dengan kebutuhan


Arena kontes
burung, kantin,
playground,
KM/WC, ruang
pengelola
c) Ruang publik
berupa plaza
sebagai kantung
sirkulasi dan
penyelenggaraan
acara incidental
d) Pasar dilengkapi
dengan komposter
untuk
memanfaatkan
limbah pasar
menjadi pupuk
yang bermanfaat
bagi lingkungan
(taman), sehinga
pasar tetap terjaga
kebersihan dan
kelestariannya.
c) Ruang public
berupa pendopo
(ruang terbuka
beratap), yang
memiliki fungsi
ganda yakni
sebagai tempat
berkumpul dan
arena kontes
burung. Selain itu
juga digunakan
untuk lapak
pedagang tidak
tetap
d) KM/WC tidak
berfungsi
sebagaimana
mestinya, karena
tidak ada air
e) Pasar tidak
dilengkapi
dengan kantor
pengelola, hingga
akhirnya timbul
kesenjangan
antara pedagang
dengan pihak
pengelola pasar
fasilitas minimal
bersyarat pasar
(peraturan
Disperindag
setempat)
b) Kebutuhan
fasilitas tidak
menutup
kemungkinan
untuk
dikembangkan
dengan konsep lain
(seperti konsep
wisata atau konsep
ekologis) selama
tidak melenceng
dengan fungsi
utama pasar
c) Pasar burung
memiliki
kebutuhan fasilitas
tertentu yang perlu
dipertimbangkan,
seperti arena
kontes burung
d) Arena kontes
burung bisa berupa
lapangan terbuka
atau tempat
terbuka beratap.
Fasilitas ini juga
dapat di mix use
dengan fungsi lain
seperti ruang
public, karena
penggunaannya
bersifat insidental
e) KM/WC
merupakan hal
penting, karena
aktifitas pedagang
berada dalam pasar
sepanjang hari
f) Kantor pengelola
juga disediakan


sebagai fasilitas
untuk kemudahan
pelaksanaan
tanggung jawab
pelaksanaan pasar
dan agar tidak
timbul
kesenjangan antara
pengelola pasar
dengan pedagang
g) Komposter
merupakan
penambahan
fasilias pasar yang
menunjang fungsi
ekologis yang bisa
dijadikan
pertimbangan
Sumber : Analisa, 2011
4.6.Analisa Perbandingan Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung
Tabel 4.3 Analisa Perbandingan Karakteristik Pola Ruang Pasar Burung
Variabel PASTY Pasar Burung
Kebonagung
Kesimpulan
Aksesibilitas a) Lokasi berada di
pinggir jalan
langsung, sehingga
mudah dicapai dari
dalam maupun luar
kota dengan
kendaraan pribadi
maupun umum
b) Akses kawasan
dibedakan antara
area masuk dan area
keluar
c) Terdapat elemen
penanda baik di
pintu masuk,
maupun di
sepanjang jalan
menuju lokasi.
d) Terdapat areal
a) Lokasi berada
di dalam kawasan
pasar
b) Akses masuk
kawasan terbagi
dua bagian yang
tidak dibedakan
jalur masuk dan
keluarnya
c) Tidak
memiliki elemen
penanda yang
menyatakan
keberadaan pasar,
baik dimuka Pasar
Kebonagung,
maupun di area
masuk pasar burung
d) Tidak
a) Lokasi pasar harus
mudah dijangkau
oleh kendaraan
pribadi
(mobil/motor),
kendaraan umum,
maupun pejalan
kaki dengan
disediakan fasilitas
yang memadai
berupa jalan atau
pedestrian yang
sesuai dengan
standar kebutuhan
b) Akses masuk ke
dalam dan keluar
kawasan dibedakan
untuk kelancaran
sirkulasi


parkir yang
mencukupi bagi
mobil, sepeda
motor, dan bus
pariwisata. Serta
terdapat halte untuk
kendaraan umum
(busway dan
angkot)
memiliki areal
parkir yang cukup
menampung
kendaraan pribadi,
serta jauh dari
akses pengunjung
yang menggunakan
kendaraan umum
(kendaraan dan
manusia) dan
kemudahan
pemantauan
keamanan
c) Elemen penanda
merupakan
komponen untuk
menunjukkan
eksistensi pasar
pasca relokasi,
serta media
promosi yang baik
d) Area parkir wajib
disediakan minimal
seluas kebutuhan
parkir 1 buah roda
empat per 100 m
2
luas lantai
penjualan pasar
Sirkulasi a) Sirkulasi primer
sebagai sirkulasi
utama pejalan kaki
berupa jalan linier
perkerasan dua lajur
dengan lebar yang
mampu
menampung 3
orang per lajur
b) Sirkulasi sekunder
berupa jalan
penghubung
sirkulasi primer
dengan los/kios,
dengan dimensi
yang mampu
menampung orang
berpapasan (2
meter)
c) Sirkulasi bebas dari
barang
dagangan/display
yang mengganggu
pejalan kaki
d) Dilengkapi saluran
a) Sirkulasi primer
berupa ruang
terbuka dengan
perkerasan yang
berfungsi sebagai
pusat sirkulasi
b) Sirkulasi sekunder
berupa area
transisi antara
sirkulasi primer
dengan los/kios
c) Sirkulasi primer
maupun sekunder
digunakan
pedagang untuk
area promosi dan
meletakkan barang
dagangannya, juga
digunakan sebagai
area parkir
kendaraan sehingga
mengganggu
sirkulasi pejalan
kaki
d) Tidak dilengkapi
a) Sirkulasi primer
pada dasarnya
merupakan
sirkulasi utama
yang
menghubungkan
antar fungsi ruang
yang ada.
Kelemahan dari
sistem sirkulasi
linier adalah
kapasitas,
sedangkan
kelemahan dari
sirkulasi pusat
adalah kerancuan
arus sirkulasi.
b) Sirkulasi sekunder
merupakan
penghubung
sekaligus area
transisi antara
sirkulasi primer
dengan los/kios
ataupun fungsi


drainase dengan saluran
drainase
ruang lainnya.
Sirkulasi sekunder
digunakan sebagai
perpindahan
(movement) yang
berkaitan dengan
aktifitas penawaran
pada pasar
c) Untuk kenyamanan
sirkulasi pejalan
kaki sebaiknya
area sirkulasi tidak
dimanfaatkan
sebagai tempat
promosi dan
meletakkan barang
dagangan
d) Saluran drainase
berfungsi sebagai
pencegah
timbulnya
genangan air
Pola Tata Ruang Karakter pola
penataan bersifat
linier-grid, dimana
los/kios ditata
secara grid yang
dihubungkan
dengan sirkulasi
primer yang bersifat
linier
Karakter pola
penataan bersifat
sentral-grid,
dimana kios ditata
secara grid, yang
dihubungkan
dengan sirkulasi
primer yang
bersifat
memusat/sentral
a) Pola linier-grid
memiliki
kelemahan dalam
masalah
pemerataan untuk
tiap pedagang
b) Pola sentra-grid
memiliki
kelemahan
pengaturan ruang
dan keterbatasan
lahan
Sumber : Analisa, 2011


4.7.Konsep Program Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan
4.7.1. Penentuan Jenis dan Kebutuhan Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan
Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan obyek relokasi dari Pasar Burung Kebonagung.
Sebagai obyek relokasi, prinsip yang akan dipenuhi pada perancangan adalah minimal
terpenuhinya kebutuhan pedagang lama dan perbaikan penataan fungsi pasar yang lebih baik.
Untuk memenuhi kebutuhan ruang pedagang lama dicapai dengan melakukan tinjauan
terhadap eksisting ruang yang ada pada Pasar Burung Kebonagung, seperti yang telah dibahas
sebelumnya pada Bab 4.3.1 mengenai Jenis dan Fungsi Ruang Pasar Kebonagung.
Dari hasil tinjauan eksisting Pasar Burung Kebonagung dapat diketahui bahwa sarana
penjualan yang digunakan adalah berupa kios yang disediakan untuk 45 pedagang, dengan
klasifikasi seperti berikut:
Tabel 4.4 Jenis dan Besaran Kios Pasar Burung Kebonagung
Sumber: Eksisting, 2011
Perencanaan kebutuhan fasilitas pasar disesuaikan dengan kebutuhan akan fasilitas pasar
burung yang didapatkan dari hasil komparasi terhadap PASTY, seperti yang ada pada Tabel
Analisa Komparasi Jenis dan Fungsi Ruang (Tabel 4.2). Dari tabel tersebut dapat disimpulkan
bahwa:
GOL Kios 3x3 Kios 3x4
A 8 8
B 8 4
C 4 2
D 4 2
Jml Total 24 16
L. Total 216 m
2
192 m
2


1. Kebutuhan fasilitas pasar harus disesuaikan dengan klasifikasi kelas pasar yang
digunakan, karena sudah disesuaikan dengan kebutuhan fasilitas minimal bersyarat
pasar (peraturan Disperindag setempat)
2. Kebutuhan fasilitas tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan dengan
konsep lain (seperti konsep wisata atau konsep ekologis) selama tidak melenceng
dengan fungsi utama pasar
3. Pasar burung memiliki kebutuhan fasilitas tertentu yang perlu dipertimbangkan,
seperti arena kontes burung
4. Arena kontes burung bisa berupa lapangan terbuka atau tempat terbuka beratap.
Fasilitas ini juga dapat di mix use dengan fungsi lain seperti ruang public, karena
penggunaannya bersifat insidental
5. KM/WC merupakan hal penting, karena aktifitas pedagang berada dalam pasar
sepanjang hari
6. Kantor pengelola juga disediakan sebagai fasilitas untuk kemudahan pelaksanaan
tanggung jawab pelaksanaan pasar dan agar tidak timbul kesenjangan antara
pengelola pasar dengan pedagang
7. Komposter merupakan penambahan fasilias pasar yang menunjang fungsi ekologis
yang bisa dijadikan pertimbangan
Dari kesimpulan di atas, maka dapat dirumuskan jenis dan kebutuhan fasilitas yang akan
diaplikasikan pada Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan adalah:
Tabel 4.5 Kebutuhan Dasar Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan
Jenis Ruang Fungsi Ruang Kapasitas Keterangan
Pendopo Ruang Publik
Arena Lomba Burung
20 x 12 x 1 m
2

(menampung 200 peserta)
Dalam keseharian aktifitas
pasar digunakan sebagai
ruang public, berupa
plaza.
Dapat digunakan sebagai
arena lomba burung
yang dilaksanakan
insidental, dengan


Total = 240 m
2
menyediakan prasarana
lomba burung (tiang
gantung)
Dapat menghemat
kebutuhan luasan ruang
Ruang pengelola Kantor UPT Dinas Ruang kepala (3x3x2)
Ruang staf (6x6)
Ruang rapat (6x6)
Kamar mandi (2x2)
Gudang (2x2)
Total = 98 m
2
Kantor sebagai sarana
pelaksanakan tugas UPT
sebagai stakeholder pasar,
dan mendekatkan antara
pedagang dengan birokrasi
Kantin Pujasera Stand [3 x 3 x (4)] m
2
Area Makan (12 x 4) m
2
Total = 84 m
2
Berupa los yang
disediakan untuk pedagang
penjual makanan dan
sebagai pemenuhan
kebutuhan konsumsi
pangan pedagang atau
pengunjung
KM/WC Service Bilik KM [2 x 1.5 x (6)]
Komposter (2 x 4)
Total = 26 m
2
KM/WC merupakan
fungsi yang vital,
mengingat aktifitas pasar
yang berlangsung seharian
penuh
Musholla Service Musholla (5 x 6)
Area wudlu [2 x 7 x (2)]
Total = 58 m
2
Sebagai sarana ibadah bagi
pedagang atau pengunjung
yang mayoritas Kota
Pasurun adalah muslim
Sumber: Analisa, 2011
4.7.2. Program Ruang Pasar Burung Kota Pasuruan
4.7.2.1.Diagram organisasi ruang
Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan ruang, maka dapat dibagi hirarki zona Pasar
Burung Pasuruan terdiri dari 2 zona utama, yaitu zona kios dan zona fasilitas pasar.
Makro Tapak
S


k
I
AKSES
Sirkulasi utama
penghubung fungsi
ruang
Sirkulasi
sekunder,
berfungsi
sebagai
penghubung
antara zona
utama dengan
sirkulasi
primer
S


Gambar 4.45 Diagram Organisasi Ruang Makro Tapak
Sumber : Analisa, 2011


Makro Zona Kios
Makro Zona Fasilitas
S


k
k
k
AKSES
Sirkulasi utama
penghubung fungsi
ruang
Penghubung
sirkulasi
primer dan
ruang (transisi)
Antar kios
dalam satu
blok
dihubungkan
dengan
sirkulasi
sekunder
S


k k k
Kios yang berbeda blok, pencapaian melalui
sirkulasi primer terlebih dahulu
Antar
fasilitas
dihubungkan
oleh sirkulasi
sekunder
S


k
M
kMWC
AKSES
Sirkulasi utama
penghubung fungsi
ruang
k
Penghubung
sirkulasi
primer dan
ruang (transisi)
Gambar 4.46 Diagram Organisasi Ruang Makro Zona Kios
Sumber : Analisa, 2011
Gambar 4.47 Diagram Organisasi Ruang Makro Zona Fasilitas
Sumber : Analisa, 2011


Mikro Zona Kios (Konfigurasi Kios)
Kios Pasar Burung Kota Pasuruan memiliki penggolongan berdasarkan kapasitas (dimensi
ruang) dan klasifikasi letaknya. Untuk menentukan letak kios tersebut dilakukan rekonfigurasi
kios yang ditinjau berdasarkan kedekatan terhadap gerbang (kedekatan), kedekatan terhadap
sirkulasi primer (kemudahan), dan daya jangkau visual (vision)
Tabel 4.6 Analisa Klasifikasi Kioz
Kelas Kios Kedekatan Kemudahan Vision
A (3x4) 5 4 9
B (3x4) 5 3 8
C (3x4) 4 2 6
D (3x4) 4 1 5
a (3x3) 3 4 7
b (3x3) 3 2 5
c (3x3) 2 2 4
d (3x3) 2 1 3
Sumber: Analisa, 2011
5 4 3 2 1
1 6 5 4 3 2
2 7 6 5 4 3
3 8 7 6 5 4
4 9 8 7 6 5

B D b d d
A C b c c
A B a a b
A A a a b
A A A 8 A 8 C D



A A A 8
S
S
A 8 C D
S
S
S
S

S
S

S
S

S
Gambar 4.48 Diagram Organisasi Ruang Mikro Kios
Sumber : Analisa, 2011


4.7.2.2.Pola Sirkulasi
Sirkulasi merupakan hal yang vital dalam sebuah pasar, karena fungsinya sebagai
penghubung (connector) antar fungsi ruang dalam pasar. Pada pemabahasan sebelumnya
mengenai studi komparasi untuk mengetahui karakter pola ruang pada pasar burung di Pasar
Burung Kebonagung dan PASTY, secara garis besar sirkulasi dalam pasar bisa dibedakan
menjadi dua, yakni Sirkulasi Primer dan Sirkulasi Sekunder.
Konsep Sirkulasi Primer
Pada pembahasan mengenai karakter sirkulasi primer Pasar Burung Kebonagung dan
PASTY, keduanya memiliki perbedaan yang terletak pada konsep arsitekturalnya. Pasar Burung
Kebonagung memiliki sirkulasi primer dengan konsep sentral, yaitu sebagai pusat sirkulasi yang
menghubungkan antar fungsi ruang dalam pasar, seperti layaknya plaza. Sedangkan pada
PASTY menggunakan konsep sirkulasi primer yang cenderung linier, yakni sirkulasi berupa
jalur yang menghubungkan antar fungsi ruang. Perbedaan dari kedua tipe sirkulasi tersebut
adalah:
Tabel 4.7 Analisa Tipe Sirkulasi Pasar Burung
SENTRAL LINIER
Pergerakan sirkulasi bersifat acak bebas Pergerakan sirkulasi dapat diarahkan
Membutuhkan ruang luas untuk menampung
pergerakan sirkulasi yang bebas
Hanya membutuhkan ruang yang cukup
menampung kebutuhan pergerakan yang
diinginkan
Dapat menjangkau ke semua arah, fungsi ruang
dan mempersingkat waktu tempuh
Untuk menjangkau semua ruang dibutuhkan
waktu dan jarak tempuh
Sumber: Analisa, 2011
Pasar merupakan objek bangunan komersial yang menjunjung prinsip adil dan merata,
untuk menghindari kesenjangan bisnis pada pelaku pasar. Konsep sirkulasi sentral, memiliki
kelebihan dalam kemampuannya untuk menjangkau semua fungsi ruang dalam satu kesatuan
tempat dan waktu, seperti pada Pasar Burung Kebonagung. Hal ini membuat pengunjung dapat
dengan mudah untuk mengakses ke semua kios yang ada dan mempermudah adanya interkasi
sosial.


Kelemahan pada konsep sirkulasi sentral adalah permasalahan pada pergerakan sirkulasi
dan aktifitas pelaku yang bersifat acak-bebas. Pergerakan sirkulasi tidak bisa diatur arah
pergerakannya karena sifatnya yang bebas, berbeda dengan sirkulasi linier yang berupa jalur,
yang dapat ditentukan arah pergerakan sirkulasinya. Akibatnya, dapat terjadi keruwetan (chaos)
dalam ruang sirkulasi seperti kemungkinan tumbukan arus dan kemungkinan adanya tindakan
kriminal karena susahnya pengawasan.
Pada redesain Pasar Burung Kota Pasuruan ini mencoba untuk menggabungkan konsep
sirkulasi sentral dari Pasar Burung Kebonagung dengan konsep sirkulasi linier dari PASTY.
Pergerakan sirkulasi diatur dengan menggunakan sirkulasi linier sebagai jalur penghubung antar
kios. Jalur sirkulasi primer berupa satu garis lurus sehingga semua kios dapat dijangkau pada
satu sequence.
Konsep sentral diterapkan berupa plaza sebagai simpul sirkulasi linier, yang menjadikan
area plaza ini sebagai pusat sirkulasi dalam pasar. Untuk menguatkan plaza ini sebagai sirkulasi
sentral, maka plaza ini didesain sebagai pusat orientasi view pasar dan pusat interaksi sosial (area
berkumpul).

Konsep Sirkulasi Sekunder
Sirkulasi sekunder pada kajian komparasi Pasar Burung Kebonagung dan PASTY tidak
memiliki perbedaan yang signifikan. Pada dasarnya keduanya pada hal sirkulasi sekunder
memiliki prinsip yang sama, yaitu sebagai area transisi dan penghubung antara sirkulasi primer
dan fungsi ruang pada pasar.



Gambar 4.49 Konsep Sirkulasi Primer
Sumber : Analisa, 2011


Sirkulasi sekunder pada redesain Pasar Burung Kota Pasuruan diterapkan sebagai branch
(percabangan) dari sirkulasi primer, dengan fungsi sebagai transisi dan penghubung sirkulasi
primer dengan fungsi ruang pasar seperti konsep sirkulasi sekunder pada kedua objek komparasi
yang telah dibahas sebelumnya.
Permasalahan yang paling menonjol pada sirkulasi Pasar Burung Kebonagung adalah
mengenai adanya kerancuan fungsi sirkulasi yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi akses
sirkulasi pejalan kaki, menjadi tempat untuk menaruh barang dagangan dan tempat parkir. Hal
ini menjadi pertimbangan dalam perancangan sirkulasi Pasar Burung Kota Pasuruan, karena
pasar ini merupakan peralihan dari Pasar Burung Kebonagung.
Adanya permasalahan ini tentu tidak lepas dari kebiasaan dan kebutuhan dari pedagang
yang tidak terpenuhi. Peletakan barang dagangan pada area sirkulasi merupakan kebutuhan
pedagang akan area promosi, karena dengan meletakkan barang dagangannya di area sirkulasi
dapat memudahkan pengunjung untuk melihat dagangan dan memudahkan pedagang untuk
berinteraksi dengan pengunjung (promosi). Di satu sisi lain, secara kaidah arsitektural, adanya
fungsi promosi yang menjadi satu dengan fungsi sirkulasi ini cukup mengganggu kenyamanan
bagi aktifitas sirkulasi. Ruang sirkulasi menjadi berkesan sumpek karena peletakan sangkar-
sangkar burung yang berada di atas pejalan kaki, serta disekitar muka kios yang menghalangi
jalan dan pandangan.
Gambar 4.50 Konsep Sirkulasi Sekunder
Sumber : Analisa, 2011








Sirkulasi Primer Sirkulasi Sekunder


Untuk mengatasi masalah sirkulasi namun tetap memperhatikan kebutuhan pedagang akan
area promosi, maka harus ada hierarki ruang antara fungsi sirkulasi dengan fungsi promosi,
sehingga pedagang tetap bisa meletakan barang dagangannya untuk promosi dan pengunjung
nyaman dalam berjalan kaki.
Konsep Sirkulasi Kendaraan Bermotor
Sikulasi di dalam kawasan Pasar Karangketug dipisah menjadi dua jalur, yakni jalur masuk
kawasan dan jalur keluar kawasan. Hal ini diberlakukan untuk pengaturan sirkulasi kendaraan di
dalam pasar agar teratur dan tidak mengganggu kenyamanan bagi pelaku dalam pasar.
Untuk pencapaian lokasi tapak Pasar Burung Kota Pasuruan yang berada paling ujung dari
kawasan Pasar Karangketug ini, utamanya hanya dapat diakses dengan melalui jalur masuk Pasar
Karangketug, yakni jalan di sisi utara pasar. Sedangkan untuk akses keluar dari tapak, melalui
jalur keluar yang ada di sisi selatan Pasar Karangketug. Selain itu, di sisi timur tapak terdapat
jalan kecil yang biasa digunakan warga sekitar, yang dapat digunakan sebagai jalan alternatif
khusus bagi pedagang yang menggunakan kendaraan roda dua, mengingat keterbatasan lebar
jalan dan fungsi jalan umum yang digunakan warga sekitar.
Pintu masuk utama
pasar
Jalan masuk perumahan
3 meter
Jalan masuk
perumahan
3 meter
Jalan Soekarno Hatta
Jalur keluar pasar
5 meter
Jalan samping pasar
3 meter
Jalur masuk pasar
7 meter
Jalan Gatot Subroto
Alternatif
Tapak 1
parkir
Gambar 4.51 Konsep Sirkulasi Kendaraan Bermotor
Sumber : Analisa, 2011


Konsep Parkir Kendaraan Bermotor
Lokasi tapak Pasar Burung Kota Pasuruan berbatasan dengan area pasar sandang, yang
dibatasi oleh adanya kantung parkir berupa area perkerasan yang memang diperuntukkan bagi
kebutuhan pasar burung. Luas lahan kantung parkir pasar burung ini adalah 500 m
2
. Jika
mengacu pada Permendag No. 53 Tahun 2011 mengenai persyaratan parkir pada pasar, yaitu
area parkir wajib disediakan minimal seluas kebutuhan parkir 1 buah roda empat per 100 m
2
luas
lantai penjualan pasar, maka luas lahan parkir ini sudah mencukupi; dimana luas lantai penjualan
Pasar Burung Kota Pasuruan adalah 45 kios = 408 m
2
yang berarti minimal mencukupi
kebutuhan 4 kendaraan roda empat (60 m
2
). Luasan lahan parkir yang tersedia pada tapak adalah
918 m
2
.
4.8.Desain Pasar Burung Kota Pasuruan
4.8.1. Desain Penataan Massa
Berdasarkan hasil kajian terhadap organisasi ruang serta pola sirkulasi yang telah dibahas
sebelumnya, maka dapat ditentukan pola tatanan massa dengan mengintegrasikan program ruang
yang didapat terhadap tapak.
parkir
k
k


k

M

Keterangan: Sirkulasi Primer Sirkulasi Sekunder


kios kios kios kios
kios kios kios kios





L


S




S

Gambar 4.52 Konsep Penataan Massa

kios kios kios kios
kios kios kios kios
kantin kantin kantin kantin
fasilitas fasilitas fasilitas fasilitas
kantor kantor kantor kantor
plaza plaza plaza plaza
S



k

M
kMWC
k






S



S

S



Konsep Penataan Massa Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Analisa, 2011

fasilitas fasilitas fasilitas fasilitas
M

kMWC










Dengan demikian telah di dapatkan penataan massa y
program ruang. Massa bangunan terletak membujur mengikuti bentuk t
penataan secara linier sesuai konsep sirkulasi yang telah dikaji sebelumny
sepanjang sirkulasi primer, dengan pola pembagian 4
kios. Pendopo yang berfungsi sebagai ruang publik,
sentra kegiatan publik yang didukung oleh adanya ar
musholla, dan toilet umum.
A
8 k 8
C
Gambar 4.
Gambar 4.
Dengan demikian telah di dapatkan penataan massa yang baru sebagai hasil rekonfigurasi
Massa bangunan terletak membujur mengikuti bentuk tapak yang ada
sesuai konsep sirkulasi yang telah dikaji sebelumnya. Kios berada di
sepanjang sirkulasi primer, dengan pola pembagian 4 kios tiap massa sehingga terdapat 10 massa
kios. Pendopo yang berfungsi sebagai ruang publik, berada di ujung sirkulasi primer dan menj
sentra kegiatan publik yang didukung oleh adanya area servis yaitu kantin, ruang pengelola,
u k
L 8 u1 8
l M
k 8
Gambar 4.53 Site Plan Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011
Gambar 4.54 Layout Plan Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011

ang baru sebagai hasil rekonfigurasi
apak yang ada, dengan
a. Kios berada di
kios tiap massa sehingga terdapat 10 massa
berada di ujung sirkulasi primer dan menjadi
ea servis yaitu kantin, ruang pengelola,
8 u1 8


4.8.2. Desain Fisik Bangunan
4.8.2.1.Desain Kios Pasar Burung
Kios Pasar Burung Kota Pasuruan memiliki luas 3x3 m
2
tiap buahnya sesuai dengan
kebutuhan dasar ruang yang telah ditentukan sebelumnya (tabel 4.4). Dalam penataannya, kios
yang berjumlah 40 buah ini dibagi di dalam 10 kelompok kios yang terdiri dari 4 kios tiap
masing-masingnya. Kios secara keruangan memiliki 4 area yaitu: area kios, sirkulasi, display,
dan servis.
Area kios berfungsi sebagai ruang utama aktifitas pasar yang dihuni oleh pedagang.
Sebagai area berdagang, kios pasar burung harus memperhatikan aspek keamanan dan
kenyamanan. Pasar burung ini dalam perencanaannya tidak beroperasi selama 24 jam, untuk itu
diperlukan desain kios yang mampu menyimpan barang dagangan dengan aman, baik dari
pencurian maupun kemungkinan serangan hewan liar. Solusi dari permasalahan tersebut adalah
melengkapi kios dengan 2 level keamanan berupa pintu penutup dan pengunci berupa tiang besi.
Gambar 4.55 Denah Kios Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011

Tiang besi yang digunakan sebagai pengunci pintu da
sangkar di area display. Tiang besi tersebut diletakkan pada kolom kayu pe
di depan kios untuk kemudian nantinya dipergunakan
pedagang. Dengan demikian pedagang dapat memajang b
oleh pengunjung yang datang. Peletakan barang dagangan (burung)
menjaga kondisi serta kesehatan burung, karena leta
sirkulasi udara dan cahaya yang cukup.


Gambar 4.57 Desain Kios dan Sarana Penggantung Sangkar Burung

1

1





Tiang besi yang digunakan sebagai pengunci pintu dapat digunakan sebagai penggantung
. Tiang besi tersebut diletakkan pada kolom kayu penyangga yang berada
di depan kios untuk kemudian nantinya dipergunakan menggantung sangkar burung milik
pedagang. Dengan demikian pedagang dapat memajang barang dagangannya agar mudah terlihat
ung yang datang. Peletakan barang dagangan (burung) di luar kios ini juga mampu
menjaga kondisi serta kesehatan burung, karena letaknya yang memungkinkan kelancaran
sirkulasi udara dan cahaya yang cukup.
Desain Kios dan Sarana Penggantung Sangkar Burung
Sumber : Desain, 2011

k



k


1


k

Gambar 4.56 Desain Area Kios
Sumber : Desain, 2011

pat digunakan sebagai penggantung
nyangga yang berada
menggantung sangkar burung milik
arang dagangannya agar mudah terlihat
di luar kios ini juga mampu
knya yang memungkinkan kelancaran

k




k



Tiang untuk menggantung sangkar burung pada area display di luar kios dirancang dengan
menyesuaikan sudut pandang dan jarak yang dapat dijangkau pengunjung dari area sirkulasi.
Area display mampu menampung 9 buah sangkar burung dengan penyusunan tiang
penggantung tiga tingkat. Untuk penyimpanan di dalam kios, disediakan pula penggantung
sebanyak lima baris pada plafon ruang dalam kios dengan ketinggian 3 meter, sehingga tidak
mengganggu sirkulasi di dalam kios.
Kios merupakan tempat pedagang dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari, dimana
terdapat kebutuhan untuk perawatan, pemeliharaan, dan penyimpanan. Untuk itu di dalam desain
kios ini disediakan area servis yang terletak di belakang tiap kelompok kios yang dilengkapi
dengan air bersih dan penampung kotoran burung sementara yang nantinya diolah komposter.
Di dalam memandikan burung dan mencuci sangkar, pedagang dapat mempergunakan
keran air yang terletak di tengah tiap kios. Pedagang dapat mencuci sangkar di atas selokan yang
juga berfungsi sebagai drainase air hujan. Selokan ini dilengkapi dengan bio-pori untuk
mempercepat proses penyerapan air ke dalam tanah. Komposter sebagai wadah penampung
kotoran burung disediakan untuk kebutuhan tiap 2 kios.
Gambar 4.58 Potongan Kios
Sumber : Desain, 2011
A 8 A A

Dalam memasarkan dagangannya, pedagang memiliki keb
peletakan barang yang berada di area
sirkulasi, juga dapat mengganggu kesehatan bagi pen
area promosi tidak bisa diabaikan begitu saja, untu
Burung Kota Pasuruan ini dengan membebaskan area sirkulasi terhadap s
dagangan dengan memfasilitasi kebutuhan area promos
kCMCS1L8
Gambar 4.
Dalam memasarkan dagangannya, pedagang memiliki kebiasaan dalam melakukan
peletakan barang yang berada di area sirkulasi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya
sirkulasi, juga dapat mengganggu kesehatan bagi pengunjung. Namun kebutuhan pedagang akan
area promosi tidak bisa diabaikan begitu saja, untuk itu penyelesaian dalam Redesain Pasar
an ini dengan membebaskan area sirkulasi terhadap sangkar
dagangan dengan memfasilitasi kebutuhan area promosi bagi pedagang.
k8An Al8 8L8SlP
Gambar 4.59 Desain Sistem Utilitas Area Servis Kios
Sumber : Desain, 2011

iasaan dalam melakukan
sirkulasi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya arus
gunjung. Namun kebutuhan pedagang akan
k itu penyelesaian dalam Redesain Pasar
angkar-sangkar burung
k8An Al8 8L8SlP

4.8.2.2.Desain Fasilitas Pasar Burung
Fasilitas pada Pasar Burung Kota Pasuruan, sesuai d
dari 5 fasilitas yaitu: pendopo, ruang pengelola, kantin,
Pendopo pada Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan r
area publik, yang dirancang untuk memenuhi kebutuha
pasar burung lama (Pasar Burung Kebonagung), pendop
berkumpulnya pedagang maupun pengunjung untuk salin
sebagai area untuk kebutuhan acara
burung, kumpul komunitas, atau lelang penjualan bur
fasilitas ini memiliki kekurangan dalam kapasitasny
sehingga ketika diselenggarakan acara besar seperti
mampu berjalan dengan efektif
ketidaklancaran sirkulasi.
Untuk itu pada Pasar Burung Kota Pasuruan ini, pend
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan penyesuaian terhadap kebu
sehingga area publik mampu menampung kapasitas yang cukup untuk keb
Gambar 4.
uN4n
Desain Fasilitas Pasar Burung
Fasilitas pada Pasar Burung Kota Pasuruan, sesuai dengan kebutuhan dasar ruang, terdiri
fasilitas yaitu: pendopo, ruang pengelola, kantin, mushola, dan toilet umum.
Pendopo pada Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan ruang yang difungsikan sebagai
area publik, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan tempat untuk interaksi sosial. Pada
pasar burung lama (Pasar Burung Kebonagung), pendopo yang ada berguna sebagai tempat
berkumpulnya pedagang maupun pengunjung untuk saling berinteraksi bersama
sebagai area untuk kebutuhan acara-acara yang berhubungan dengan hobi burung seperti k
burung, kumpul komunitas, atau lelang penjualan burung. Namun pada pasar burung yang lama,
fasilitas ini memiliki kekurangan dalam kapasitasnya untuk menampung acara
sehingga ketika diselenggarakan acara besar seperti kontes burung skala regional Pasuruan, tidak
mampu berjalan dengan efektif dan terjadi kepadatan pengguna yang berimbas pada
Untuk itu pada Pasar Burung Kota Pasuruan ini, pendopo dirancang dengan
kebutuhan tersebut dengan penyesuaian terhadap kebu
blik mampu menampung kapasitas yang cukup untuk keb
Gambar 4.60 Desain Fasilitas Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011
14MP4k 54MPlN6

engan kebutuhan dasar ruang, terdiri
mushola, dan toilet umum.
uang yang difungsikan sebagai
n tempat untuk interaksi sosial. Pada
berguna sebagai tempat
g berinteraksi bersama dan digunakan
acara yang berhubungan dengan hobi burung seperti kontes
g. Namun pada pasar burung yang lama,
a untuk menampung acara-acara tersebut,
kontes burung skala regional Pasuruan, tidak
dan terjadi kepadatan pengguna yang berimbas pada
opo dirancang dengan
kebutuhan tersebut dengan penyesuaian terhadap kebutuhan luas baru
blik mampu menampung kapasitas yang cukup untuk kebutuhan bersama
14MP4k Muk4

tersebut. Dengan demikian pendopo ini dirancang den
untuk kontes burung skala regional yang mampu menam
bersamaan. Area untuk kontes berada di tengah pendopo, dengan peruntu
dilengkapi dengan tiang penggantung sangkar burung.
pelaksanaan kontes burung, dialokasikan area untuk
dalam pendopo) sehingga tidak terjadi kepadatan yan
Pembagian area dalam pendopo dapat dilihat pada gam
Gambar 4.
Gambar 4.
tersebut. Dengan demikian pendopo ini dirancang dengan memperhatikan kebutuhan minimal
untuk kontes burung skala regional yang mampu menampung maksimal 54
tuk kontes berada di tengah pendopo, dengan peruntukan luas 4x12 m
dilengkapi dengan tiang penggantung sangkar burung. Untuk kelancaran sirkulasi pada saat
pelaksanaan kontes burung, dialokasikan area untuk pengunjung disekitar area kontes (masih di
dalam pendopo) sehingga tidak terjadi kepadatan yang mengganggu sirkulasi di luar pendopo.
Pembagian area dalam pendopo dapat dilihat pada gambar 4.61 berikut:
Gambar 4.61 Pembagian Area Dalam Pendopo
Sumber : Desain, 2011
AREA KONTES
AREA PENGUNJUNG
AKSES DAN SIRKULASI
5lkkuL45l P454k
Gambar 4.62 Ilustrasi Suasana Kontes Burung di Pendopo
Sumber : Desain, 2011

gan memperhatikan kebutuhan minimal
kontestan secara
kan luas 4x12 m
2
yang
Untuk kelancaran sirkulasi pada saat
pengunjung disekitar area kontes (masih di
g mengganggu sirkulasi di luar pendopo.

Fasilitas lain yang ada pada Pasar Burung Kota Pasu
toilet umum, dan musholla. Kantin merupakan area pasar yan
pedagang makanan dan minuman, sebagai pemenuhan keb
burung ataupun pengunjung. Kantin dirancang dengan
penjualan lengkap dengan area servis dan area makan terpadu.
Kantor pengelola dirancang sesuai dengan kebutuhan
nantinya. Ruang yang ada terdiri dari: Ruang Pertem
UPT, Gudang, dan Kamar Mandi.
Toilet umum berada pada satu area dengan Musholla, yakni be
Burung Kota Pasuruan. Musholla dan toilet umum merupakan bagian dari area
berfungsi menunjang aktfitas pedagang dan pengunjun
MUSHOLA & TOILET UMUM
KANTIN
Fasilitas lain yang ada pada Pasar Burung Kota Pasuruan ini ialah kantin, kantor pengelola,
umum, dan musholla. Kantin merupakan area pasar yang diperuntukkan khusus untuk
pedagang makanan dan minuman, sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi bagi pedagang
burung ataupun pengunjung. Kantin dirancang dengan sistem pujasera, yakni berupa stan
lengkap dengan area servis dan area makan terpadu.
Kantor pengelola dirancang sesuai dengan kebutuhan ruang bagi staff UPT Pasar Burung
nantinya. Ruang yang ada terdiri dari: Ruang Pertemuan, Ruang Staff, Ruang Kepala dan Wakil
i.
mum berada pada satu area dengan Musholla, yakni berada di ujung timur Pasar
Musholla dan toilet umum merupakan bagian dari area
berfungsi menunjang aktfitas pedagang dan pengunjung yang berada sepanjang hari dalam pasar.
Gambar 4.63 Desain Fasilitas Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011
MUSHOLA & TOILET UMUM
KANTOR PENGELOLA

ruan ini ialah kantin, kantor pengelola,
g diperuntukkan khusus untuk
utuhan konsumsi bagi pedagang
sistem pujasera, yakni berupa stan
ruang bagi staff UPT Pasar Burung
uan, Ruang Staff, Ruang Kepala dan Wakil
rada di ujung timur Pasar
Musholla dan toilet umum merupakan bagian dari area servis yang
g yang berada sepanjang hari dalam pasar.
Fasilitas Pasar Burung Kota Pasuruan
mber : Desain, 2011
KANTOR PENGELOLA


4.8.2.3.Sistem Pengolahan Limbah
Pasar burung pada umumnya memiliki permasalahan terhadap lingkungan terutama
masalah kebersihan dan limbah. Untuk itu dalam Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan ini
menerapkan sistem utilitas yang ramah lingkungan untuk menunjang segala aktifitas di
dalamnya.
Permasalahan utama yang perlu diselesaikan pada pasar burung adalah limbah tetap yang
dihasilkan oleh setiap pedagang yang ada. Kotoran burung dan sampah (basah dan kotor) selalu
dihasilkan setiap harinya, dan hal ini memerlukan upaya yang efektif untuk mengolah kembali
limbah tersebut menjadi sesuatu yang bisa digunakan.
4.8.2.3.1. Sistem Pengomposan
Dalam perancangan Pasar Burung Kota Pasuruan ini menggunakan konsep pengolahan
limbah dengan menggunakan bio engineering sistem pengomposan. Sistem pengolahan limbah
dengan menggunakan teknologi pengomposan ini diterapkan pada pengolahan limbah dengan
pemanfaatan kembali kotoran burung dan sampah menjadi produk pupuk kompos, yang bisa
digunakan sebagai perawatan vegetasi pada taman.
k

S




C k



S




k 8
8



u



S C
S






8

S








k





kCMCS1L8 l
kCMCS1L8 ll
Gambar 4.64 Alur Sistem Pengomposan
Sumber : Desain, 2011

4.8.2.3.2. Sistem Biopori
Sistem biopori digunakan sebagai upaya meningkatkan daya peresapan
mengingat kondisi tanah pada tapak yang berpotensi
daya resap yang lemah. Biopori adalah lubang di dalam tanah yang terbentuk
aktifitas organisme di dalamnya seperti cacing, perak
Lubang yang terbentuk ini akan berisi udara dan men
Bila lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah
untuk meresapkan air akan semakin meningkat.
Pada Pasar Burung Kota Pasuruan, lubang biopori dib
kedalaman 100 cm, untuk menampung 7,8 liter sampah
Sampah organik diambil dari sampah pasar yang telah disisihkan untu
baik itu sampah dari manusia, ataupun daun kering d
Lubang resapan biopori (LRB) dibuat
cm. Dengan demikian dapat memperk
daya dukung tanah sebagai media tumbuh tanaman.
1
Gambar 4.
digunakan sebagai upaya meningkatkan daya peresapan air ke dalam tanah,
mengingat kondisi tanah pada tapak yang berpotensi menimbulkan genangan dan banjir karena
Biopori adalah lubang di dalam tanah yang terbentuk
tifitas organisme di dalamnya seperti cacing, perakaran tanaman, rayap, dan fauna lainnya.
Lubang yang terbentuk ini akan berisi udara dan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
Bila lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan sebidang tanah
untuk meresapkan air akan semakin meningkat.
Pada Pasar Burung Kota Pasuruan, lubang biopori dibuat dengan diameter 10 cm dengan
kedalaman 100 cm, untuk menampung 7,8 liter sampah organik yang dapat diisi selama 2
iambil dari sampah pasar yang telah disisihkan untuk keperluan pengomposan,
baik itu sampah dari manusia, ataupun daun kering dari taman.
Lubang resapan biopori (LRB) dibuat pada batas taman, dengan jarak lubang setiap 100
Dengan demikian dapat memperkecil potensi meluapnya saluran drainase dan meningk
daya dukung tanah sebagai media tumbuh tanaman.
1 k l k ll
Gambar 4.65 Rencana Peletakan Perangkat Sistem Pengomposan
Sumber : Desain, 2011

air ke dalam tanah,
menimbulkan genangan dan banjir karena
Biopori adalah lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai
aran tanaman, rayap, dan fauna lainnya.
jadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
an sebidang tanah
uat dengan diameter 10 cm dengan
organik yang dapat diisi selama 2-3 hari.
k keperluan pengomposan,
, dengan jarak lubang setiap 100
ecil potensi meluapnya saluran drainase dan meningkatkan
1S

A

Gambar 4.66 Rencana Sistem Saluran Pembuangan Air Kotor dan Lub
S
L



L88
A

Rencana Sistem Saluran Pembuangan Air Kotor dan Lubang Resapan Biopori
Sumber : Desain, 2011
Gambar 4.66 Detail Lubang Resapan Biopori
Sumber : Desain, 2011
S L S 8 k


ang Resapan Biopori
S 8 k


4.9.Konsep Perancangan Lansekap
4.9.1. Perancangan Elemen Softscape
Prinsip penataan lansekap mengambil konsep yang menyesuaikan dengan kebutuhan
fungsi ruang yang dinaungi, misalnya pada beberapa tempat tidak menggunakan strata banyak
walaupun strata banyak merupakan strata yang paling baik untuk meningkatkan kualitas
lingkungan, namun cukup mengunakan strata 2 saja, hal tersebut agar kualitas visual ke arah
view-view menarik tidak terhalang, juga memudahkan untuk melakukan pergerakan bagi
pengunjung.
Dalam penerapan pada desain pasar burung ini, prinsip penataan lansekap diterapkan
dengan membagi tapak menjadi 8 area yang dibagi berdasarkan kebutuhan kualitas ruang dengan
menggunakan elemen lansekap untuk mendukung fungsi atau aktifitas yang ada.
Strata 3, pohon,
rumput dan semak,
memberi perlindungan
teduh untuk area
entrance dan parker ;
perdu sebagai view
interest
Strata 2, pohon dan
semak tinggi sebagai
barrier dan cover view
luar-dalam
Strata 3, pohon, perdu dan rumput,
tetap terlindungi dan nyaman, untuk
memberikan view ke dalam bagi
fasilitas publik
Strata 2, pohon dan rumput, tetap
terlindungi dan nyaman namun tidak
menghalanagi view pengunjung kea
rah kios
Sepanjang
jalan masuk
utama
mengunakan
strata 2, pohon
dan semak,
sehingga tetap
teduh
sekaligus
mengarahkan
pengunjung
Strata 2, pohon dan rumput sebagai
barrier namun view ke sawah bisa
dipertahankan
Strata 3, pohon, perdu dan rumput,
tetap terlindungi dan nyaman, untuk
memberikan view ke dalam
Strata 2, pohon dan
semak tinggi sebagai
barrier dan cover view
dari ke view
permukiman











Gambar 4.67 Identifikasi Zona Lansekap
Sumber : Desain, 2011


Tabel 4.8 Klasifikasi Vegetasi Zona Lansekap
LOKASI Fungsi Strata Jenis Tanaman Tajuk Pola
ZONA 1 1.2.3.6 3
Aa, Ba,
Cb
- Pohon: Sengon, Tanjung,
Preh (ficus stricta), Asam
- Semak: Teh-tehan, puring,
kadaka, akalipa
- Rumput
75% Multiple Circle
ZONA 2 1,2,3 2
Bb, Bc
- Bambu pagar
- Pohon: Sengon, Preh,
Asam Kranji
- Semak: Jarak, puring
75% Square Grid
ZONA 3 1,2,3,6 3
Aa, Ba, Bb
- Pohon: Glodokan,
Tanjung
- Perdu: kaliandra, dadap
- Semak: bunga matahari,
azalea
75% Quincunx
(mengelompok)
ZONA 4 1.2.3 2
Bb, Bc
- Bambu pagar
- Pohon: Sengon, Preh,
Asam Kranji
- Semak: Jarak, puring
75% Staggered row
ZONA 5 1.2.3 2
Bb, Bc
- Pohon: Asam Kranji,
Sengon
- Perdu: kaliandra, dadap
- Bambu pagar
75% Square Grid
ZONA 6 1,2,3,5,6 3
Ab, Bb, Bc
- Pohon: Sukun, mangga,
asam
- Semak: Azalea, bunga
matahari, pakis, teh-tehan
- Groundcover: Anthurium,
keladi, begonia
75% Multiple Circle
ZONA 7 1,2,3,5,6 3
Ab, Bb, Bc
- Pohon: Sukun, mangga,
asam
- Semak: Azalea, bunga
matahari, pakis, teh-tehan
- Groundcover: Anthurium,
keladi, begonia
75% Consentric
Cingular
ZONA 8 1,2,3,6 2
Ba, Bb
- Pohon: cemara, tanjung
- Semak: Teh-tehan, pakis
- Groundcover: anthurium,
keladi, talas
75% Quincunx
k l
v C 8 C C L C P A
Sumber: Analisa, 2011


Berdasarkan hasil identifikasi terhadap kebutuhan lansekap pada tiap-tiap zona (gambar
4.67) dan klasifikasi vegetasi (tabel 4.8), maka didapatkan hasil perancangan lansekap yang
sesuai kebutuhan fungsi vegetasi dengan pola penataan yang memperhatikan karakter tanaman
yang digunakan. Hasil penataan lansekap untuk tiap-tiap zona secara detail sebagai berikut:
4.9.1.1.Zona 1 dan Zona 7
k v
A S 1 1 k A








POTONGAN
Layout






Zona 7
Pohon asam memiliki pola
mengembang (payung) ,
melindungi objek
dibawahnya dari radiasi
matahari
Pohon preh memiliki tajuk
kerapatan tinggi,
melindungi objek
dibawahnya dan
memberikan suplai udara
Vegetasi semak sebagai
barrier, filter, dan elemen
visual yang baik bagi kios
dan sirkulasi
Gambar 4.68 Desain Lansekap Zona 1 dan 7
Sumber : Desain, 2011


4.9.1.2.Zona 2 + Zona 5 (tipikal) dan Zona 6





k v
A 1 1
Zona 6
Gambar 4.69 Desain Lansekap Zona 2,5 dan 6
Sumber : Desain, 2011


4.9.1.3.Zona 3 dan 4








k v
A A 1 1
Gambar 4.70 Desain Lansekap Zona 3 dan 4
Sumber : Desain, 2011

Secara keseluruhan hasil dari perancangan lansekap
terlihat pada gambar 4.71 4.73
vegetasi pada lansekap berdasarkan hasil telaah desain
Gambar 4.71 Rencana Peletakan dan Penataan Vegetasi Pohon
Gambar 4.72 Rencana Peletakan dan Penataan
Gambar 4.73 Hasil Desain Lansekap Pasar Burung Kota Pasuruan
Secara keseluruhan hasil dari perancangan lansekap Pasar Burung Kota Pasuruan dapat
4.73 yang merupakan gambar rancangan peletakan dan penat
berdasarkan hasil telaah desain yang telah dilakukan pada tiap
Rencana Peletakan dan Penataan Vegetasi Pohon
Sumber : Desain, 2011
Rencana Peletakan dan Penataan Vegetasi Semak dan Perdu
Sumber : Desain, 2011
Hasil Desain Lansekap Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011

Pasar Burung Kota Pasuruan dapat
yang merupakan gambar rancangan peletakan dan penataan
yang telah dilakukan pada tiap-tiap zona.
A k

S
1
S
1

k
A
k



4.9.2. Perancangan Elemen Hardscape
Elemen hardscape merupakan bagian dari perancangan lansekap, yaitu berupa elemen
arsitektur lansekap non-vegetasi yang merupakan pendukung secara fungsi dan estetika untuk
memperkuat karakter konsep bangunan maupun lansekap pada Pasar Burung Kota Pasuruan ini.
4.9.2.1.Desain Perkerasan Jalan
Konsep sirkulasi pada Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan pedestrian (jalan khusus
pejalan kaki) yang dibedakan menjadi 2, yaitu sirkulasi primer dan sirkulasi sekunder. Sirkulasi
primer merupakan sirkulasi utama di dalam pasar, sedangkan sirkulasi sekunder merupakan jalan
penghubung sekaligus transisi antara jalan primer dengan fungsi ruang yang ada seperti kios.
Sirkulasi primer merupakan jalan linier, yang berawal dari entrance (akses masuk) dan
memotong pada pendopo, sehingga jalan ini berkesan sebagai sumbu pusat dari pasar. Jalan ini
memiliki lebar 6 meter yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu lajur samping dan tengah. Lajur
samping merupakan jalur sirkulasi utama, sedangkan lajur tengah dapat difungsikan untuk
tempat perhentian sirkulasi sehingga tidak terjadi penumpukan dan meminimalisir persilangan
sirkulasi (cross circulation).

Gambar 4.74 Desain Sirkulasi Primer Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011
Material perkerasan
berupa roster
(susunan bata)
Mudah menyerap
air, awet, dan
mudah diberihkan
Material perkerasan
berupa grass blok,
Untuk
meminimalisir
genangan air dan
debu


Sirkulasi sekunder merupakan jalan penghubung antara sirkulasi primer dengan ruang-
ruang yang ada. Sirkulasi sekunder yang terdapat pada kios merupakan akses utama menuju atau
keluar kios, oleh karena itu jalan ini dirancang dengan lebar 1,5 meter sehingga cukup untuk
berpapasan. Material perkerasan menggunakan tegel keramik untuk memudahkan pedagang kios
dalam membersihkan jalan yang termasuk areanya tersebut dari debu, kotoran, dan air.
4.9.2.2.Desain Elemen Penanda
Elemen penanda pada Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan hal yang penting mengingat
keberadaannya yang terletak di dalam area Pasar Karangketug, sehingga memerlukan penanda
untuk membedakan hirarki fungsi pasar dan penunjuk lokasi.
Sebagai elemen penanda, pada area gerbang masuk (entrance area) Pasar Burung Kota
Pasuruan dirancang dengan bentuk geometris dan material semen ekspos untuk menjadi point of
view. Selain itu, untuk memperkuat kesan pasar burung dirancang pula sculpture berupa fountain
(air mancur) berbentuk burung sebagai ikon.
Pecahan genting
digunakan sebagai
material ground
cover, sebagai
pijakan untuk
menaruh sangkar
burung di tiang
etalase
Material perkerasan
jalan kios
menggunakan tegel
keramik kasar yang
mudah dibersihkan
namun tidak licin
Gambar 4.75 Desain Sirkulasi Sekunder Kios Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011

4.9.2.3.Desain Perabot Lansekap
Perabot lansekap (Street
mendukung aktifitas pada lansekap sekaligus penguat
Pasuruan ini, perabot lansekap yang digunakan seper
taman.
Pergola berfungsi sebagai
sirkulasi untuk berteduh dari terik mataha
sirkulasi primer, sehingga tidak mengganggu aktifit
Gambar 4.
Desain Perabot Lansekap
Street Furniture) merupakan elemen lansekap yang berfungsi
mendukung aktifitas pada lansekap sekaligus penguat estetika lansekap. Pada Pasar Burung
Pasuruan ini, perabot lansekap yang digunakan seperti: pergola, lampu taman, dan bangku
Pergola berfungsi sebagai temporary stop area, atau tempat berhenti sementara pada area
sirkulasi untuk berteduh dari terik matahari dan mengamati kios. Pergola terletak di lajur te
sirkulasi primer, sehingga tidak mengganggu aktifitas dan arus sirkulasi.
Gambar 4.76 Desain Elemen Penanda Entrance Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011
Pergola terbuat dari kayu glugu (kayu pohon
kelapa) dan dilengkapi atap polycarbonate untuk
menghalau terik matahari. Pergola dilengkapi pula
dengan lampu untuk penerangan jalan.
Gambar 4.77 Desain Pergola
Sumber : Desain, 2011

) merupakan elemen lansekap yang berfungsi
lansekap. Pada Pasar Burung
ti: pergola, lampu taman, dan bangku
, atau tempat berhenti sementara pada area
ri dan mengamati kios. Pergola terletak di lajur tengah
Pasar Burung Kota Pasuruan
Gerbang masuk ke dalam
Pasar Burung dilengkapi
dengan papan nama, dan
sculpture air mancur
berbentuk burung pada
voyer untuk memperkuat
point of view muka pasar
Pergola terbuat dari kayu glugu (kayu pohon
kelapa) dan dilengkapi atap polycarbonate untuk
Pergola dilengkapi pula
dengan lampu untuk penerangan jalan.

Elemen hardscape lainnya adalah bangku dan lampu ta
dekoratif lansekap secara keseluruhan. Bangku dan l
dalam Pasar Burung Kota Pasuruan yang disesuaikan t
taman tengah, pendopo, kantin, dan musholla.
tempat sampah untuk menjaga kebersihan
yaitu tempat sampah organik (hijau) dan non organik
sampah saat dikumpulkan nantinya.
Elemen hardscape lainnya adalah bangku dan lampu taman, yang juga menjadi unsur
dekoratif lansekap secara keseluruhan. Bangku dan lampu taman diletakkan di beberapa titik di
dalam Pasar Burung Kota Pasuruan yang disesuaikan terhadap aktifitas yang ada, semisal pada
taman tengah, pendopo, kantin, dan musholla. Pada setiap bangku taman dilengkapi dengan
tempat sampah untuk menjaga kebersihan area tersebut. Tempat sampah terdiri dari dua bagia
yaitu tempat sampah organik (hijau) dan non organik (biru) untuk mempermudah penyeleksian
sampah saat dikumpulkan nantinya.
Gambar 4.78 Desain Perabot Lansekap
Sumber : Desain, 2011

man, yang juga menjadi unsur
taman diletakkan di beberapa titik di
erhadap aktifitas yang ada, semisal pada
Pada setiap bangku taman dilengkapi dengan
area tersebut. Tempat sampah terdiri dari dua bagian,
(biru) untuk mempermudah penyeleksian


4.10. Tabulasi Kesimpulan Hasil (Design Result) Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
Dengan tercapainya keseluruhan desain, baik desain fisik bangunan hingga desain lansekap
secara keseluruhan (softscape dan hardscape) melalui pendekatan perancangan yang telah
dijabarkan, maka Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan yang baru dapat diketahui
gambarannya.
Desain baru dari Pasar Burung Kota Pasuruan yang menintik beratkan elemen lansekap
sebagai pendekatan desainnya ini secara garis besar dapat terlihat perbedaannya dengan kondisi
pasar burung sebelumnya, yaitu Pasar Burung Kebonagung. Jika dilihat secara global, perbedaan
yang terjadi cukup mencolok, terutama mengenai kondisi fisik dimana desain yang baru lebih
tertata dan representatif dibandingkan dengan kondisi pasar lama. Desain pasar yang baru
menerapkan pola penataan massa yang lebih fungsional, dengan memperhatikan aksesibilitas dan
konfigurasi ruang yang telah dianalisa sebelumnya.
Progresifitas kualitas ruang hasil Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan dapat dilihat
dengan melakukan evaluasi perbandingan desain baru dengan kondisi eksisting lama (Pasar
Burung Kebonagung) dengan menggunakan variabel analisa ruang (bab 4.4.3 dan bab 4.4.4).
Berikut hasil evaluasi perbandingan Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan terhadap Eksisting
Pasar Burung Kebonagung.
Tabel 4.9 Evaluasi Jenis dan Fungsi Ruang Hasil Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
Variabel Pasar Burung
Kota Pasuruan
Pasar Burung
Kebonagung
Kesimpulan
Kios/Los a) Fungsi penjualan
berupa kios
b) Kios berukuran 3x4
m
2
dan 3x3 m
2
c) Kios dibagi dalam
10 kelompok kios,
masing-masing
terdiri dari 4 kios
d) Kios dilengkapi
dengan prasarana
untuk perawatan
burung dan area
promosi
a) Fungsi penjualan
hanya berupa kios
b) Kios berukuran
3x4 m
2
dan 3x3
m
2
c) Tidak ada
pembagian zona
penjualan, karena
komoditas
pedagang yang
terbatas
d) Kios tidak
dilengkapi
a) Karena merupakan
redesain, tidak
merubah fungsi
penjualan yang
berupa kios, baik
dimensi maupun
jumlahnya
b) Penataan kios
merupakan hasil
rekonfigurasi
ruang dari pasar
lama, sehingga
menghasilkan


dengan prasarana
penunjang
perawatan burung
dan juga tidak ada
area promosi
yang terwadahi
penataan kios yang
dikelompokan
menjadi 10
kelompok kios
dengan komposisi
4 kios setiapnya.
c) Setiap kios
memiliki orientasi
terhadap ruang
luar, sehingga
kenyamanan di
dalam kios dapat
terjaga
d) Kios memiliki area
promosi, berupa
tiang di muka dan
langit-langit kios
untuk
menggantung
sangkar, sehingga
tidak mengganggu
kenyamanan
sirkulasi dan
aktifitas
e) Kios memiliki area
servis di
belakangnya, yang
dilengkapi air
bersih, komposter,
dan saluran biopori
sebagai fasilitas
perawatan burung
Fasilitas a) Memiliki fasilitas
yang disesuaikan
dengan kebutuhan
service pasar dan
pemenuhan
kebutuhan publik
b) Fasilitas meliputi:
Ruang public,
Arena kontes
burung, kantin,
mushola, KM/WC,
ruang pengelola
c) Ruang publik
a) Fasilitas yang ada
terbatas untuk
kebutuhan service
pasar burung saja
b) Fasilitas meliputi:
musholla
,KM/WC, ruang
public, dan kantin
c) Ruang public
berupa pendopo
(ruang terbuka
beratap), yang
memiliki fungsi
a) Kebutuhan
fasilitas pasar
disesuaikan
dengan klasifikasi
kelas pasar yang
digunakan, yaitu
pasar kelas II
(skala regional
kota)
b) Kebutuhan
fasilitas
disesuaikan
dengan kebutuhan


berupa pendopo,
yang berfungsi
sebagai tempat
berkumpul dan
arena kontes
burung.
d) Pasar dilengkapi
dengan komposter
untuk
memanfaatkan
limbah pasar
menjadi pupuk
yang bermanfaat
bagi lingkungan
(taman), sehinga
pasar tetap terjaga
kebersihan dan
kelestariannya.
ganda yakni
sebagai tempat
berkumpul dan
arena kontes
burung. Selain itu
juga digunakan
untuk lapak
pedagang tidak
tetap
d) KM/WC tidak
berfungsi
sebagaimana
mestinya, karena
tidak ada air
e) Pasar tidak
dilengkapi
dengan kantor
pengelola, hingga
akhirnya timbul
kesenjangan
antara pedagang
dengan pihak
pengelola pasar
pasar dan
pengembangan
untuk mencapai
kelas pasar yang
ditentukan
c) Arena kontes
burung berupa
tempat terbuka
beratap (pendopo).
Untuk memenuhi
kebutuhan kontes
skala regional,
dimensi pendopo
disesuaikan untuk
menampung lebih
dari 50 kontestan
setiap kelas
penyelenggaraan,
dan menyediakan
ruang bagi
penonton sehingga
tidak mengganggu
sirkulasi dan
aktifitas pasar
d) Kantin disediakan
untuk mewadahi
pedagang makanan
dan minuman agar
tidak
memanfaatkan
ruang ilegal
disekitar pasar
e) KM/WC dan
mushola
merupakan hal
penting, karena
aktifitas pedagang
berada dalam pasar
sepanjang hari
f) Kantor pengelola
juga disediakan
sebagai fasilitas
untuk kemudahan
pelaksanaan
tanggung jawab


pelaksanaan pasar
dan agar tidak
timbul
kesenjangan antara
pengelola pasar
dengan pedagang
g) Setiap fasilitas
memiliki orientasi
terhadap ruang
luar, yang
dirancang untuk
memenuhi
kebutuhan aktifitas
dalam fasilitas
tersebut
Sumber: Analisa, 2011
Tabel 4.10 Evaluasi Karakteristik Pola Ruang Hasil Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
Variabel Pasar Burung
Kota Pasuruan
Pasar Burung
Kebonagung
Kesimpulan
Aksesibilitas a) Lokasi berada di dalam
kawasan pasar, namun
memiliki akses jalan
yang memadai
b) Akses kawasan
dibedakan antara area
masuk dan area keluar
c) Terdapat elemen
penanda baik di pintu
masuk, maupun di
sepanjang jalan menuju
lokasi.
d) Terdapat areal parkir
yang mencukupi bagi
mobil, sepeda motor,
dan bus pariwisata.
Serta mudah untuk
akses pengunjung yang
menggunakan
kendaraan umum
a) Lokasi berada di
dalam kawasan pasar,
namun tidak memiliki
akses jalan yang
memadai
b) Akses masuk
kawasan terbagi dua
bagian yang tidak
dibedakan jalur masuk
dan keluarnya
c) Tidak memiliki
elemen penanda yang
menyatakan
keberadaan pasar, baik
dimuka Pasar
Kebonagung, maupun
di area masuk pasar
burung
d) Tidak memiliki
areal parkir yang
cukup menampung
kendaraan pribadi,
serta jauh dari akses
a) Lokasi pasar
mudah dijangkau
oleh kendaraan
pribadi
(mobil/motor),
kendaraan umum,
maupun pejalan
kaki dengan
disediakan fasilitas
yang memadai
berupa jalan atau
pedestrian yang
sesuai dengan
standar kebutuhan
b) Akses masuk ke
dalam dan keluar
kawasan dibedakan
untuk kelancaran
sirkulasi
(kendaraan dan
manusia) dan
kemudahan
pemantauan


pengunjung yang
menggunakan
kendaraan umum
keamanan
c) Elemen penanda
merupakan
komponen untuk
menunjukkan
eksistensi pasar
pasca relokasi,
serta media
promosi yang baik
d) Area parkir
disediakan seluas
873 m
2
kebutuhan
parkir 12 buah roda
empat dan 47
motor
Sirkulasi a) Sirkulasi primer sebagai
sirkulasi utama pejalan
kaki berupa jalan linier
perkerasan dua lajur
dengan lebar yang
mampu menampung 3
orang per lajur
b) Sirkulasi sekunder
berupa jalan
penghubung sirkulasi
primer dengan kios,
dengan dimensi yang
mampu menampung
orang berpapasan (2
meter)
c) Sirkulasi bebas dari
barang
dagangan/display yang
mengganggu pejalan
kaki
d) Dilengkapi saluran
drainase
a) Sirkulasi primer
berupa ruang terbuka
dengan perkerasan
yang berfungsi sebagai
pusat sirkulasi
b) Sirkulasi sekunder
berupa area transisi
antara sirkulasi primer
dengan los/kios
c) Sirkulasi primer
maupun sekunder
digunakan pedagang
untuk area promosi
dan meletakkan barang
dagangannya, juga
digunakan sebagai
area parkir kendaraan
sehingga mengganggu
sirkulasi pejalan kaki
d) Tidak dilengkapi
dengan saluran
drainase
a) Sirkulasi primer
pada dasarnya
merupakan
sirkulasi utama
yang
menghubungkan
antar fungsi ruang
yang ada. Dengan
menggunakan
sistem sirkulasi
linier, akan
memudahkan
pengunjung dalam
mengakses setiap
bagian kios dan
memangkas waktu
tempuh
b) Sirkulasi sekunder
merupakan
penghubung
sekaligus area
transisi antara
sirkulasi primer
dengan los/kios
ataupun fungsi
ruang lainnya.
Sirkulasi sekunder
digunakan sebagai
perpindahan
(movement) antar


kios
c) Untuk kenyamanan
sirkulasi pejalan
kaki, area sirkulasi
tidak dimanfaatkan
sebagai tempat
promosi dan
meletakkan barang
dagangan
Pola Tata Ruang a) Karakter pola penataan
bersifat linier-grid,
dimana los/kios ditata
secara grid yang
dihubungkan dengan
sirkulasi primer yang
bersifat linier
b) Koefisien dasar
bangunan:
Total Area = 6000 m
2
Bangunan = 1181 m
2
Sirkulasi = 1504 m
2
RTH = 3315 m
2
a) Karakter pola
penataan bersifat
sentral-grid, dimana
kios ditata secara grid,
yang dihubungkan
dengan sirkulasi
primer yang bersifat
memusat/sentral
b) Koefisien dasar
bangunan:
Total Area = 2074 m
2
Bangunan = 678 m
2
Sirkulasi = 1136 m
2
RTH = 0 m
2
a) Menerapkan pola
yang
menggabungkan
linier, grid, dan
sentral
b)Pasar lama tidak
memiliki ruang
hijau. Walaupun
rasio area
terbukanya lebih
besar daripada area
terbangun (67,3%),
namun semuanya
digunakan sebagai
perkerasan jalan.
c) Pasar baru
memiliki rasio
ruang terbuka
sebesar 55,25%
dari total
keseluruhan area,
sisanya sebesar
25,07% untuk
perkerasan, dan
19,68% untuk
bangunan.
d)Dapat disimpulkan
bahwa pasar yang
baru lebih
didominasi area
hijau yang
digunakan untuk
kebutuhan
lansekap
Sumber: Analisa, 2011


Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai garis besar hasil Redesain Pasar
Burung kota Pasuruan sebagai berikut:
Tabel 4.11 Tabulasi Kesimpulan Hasil Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
F
U
N
G
S
I

R
U
A
N
G

1. Kios pada Pasar Burung Kota Pasuruan lebih representatif daripada kios pasar
lama, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan promosi dan servis pedagang pasar
burung. Setiap Kios memiliki area promosi di muka kios yang dilengkapi dengan
tiang penggantung sangkar burung, sehingga pedagang bisa lebih teratur dalam
menata dagangannya dan tidak mengganggu kenyamanan pengunjung. Di area
belakang kios juga terdapat area servis yang dilengkapi dengan sarana air bersih,
komposter, dan saluran lubang resapan biopori untuk memenuhi kebutuhan
pedagang dalam perawatan burung dagangannya.
2. Fasilitas pada Pasar Burung Kota Pasuruan merupakan pengembangan dari
fasilitas-fasilitas yang ada pada pasar lama (Pendopo, Kantin, KM/WC, dan
Musholla) dengan mengoptimalkan kebutuhan ruang dan kapasitasnya, serta
menambah fungsi baru yaitu Ruang Pengelola UPT Pasar. Penambahan dan
optimalisasi ruang ini disesuaikan untuk memenuhi persyaratan Pasar Kelas II,
yaitu pasar khusus dengan skala perdagangan regional (dalam dan luar kota).
Pendopo yang digunakan sebagai arena kontes burung, disesuaikan kapasitasnya
untuk memenuhi standar pelaksanaan kontes burung skala regional yang mampu
menampung 54 kontestan secara bersamaan.
3. Pola penataan yang menggabungkan sistem linier-grid-sentral diterapkan untuk
mengintegrasikan sirkulasi (linier) yang menghubungkan kios-kios pasar (grid)
dengan ruang publik berupa pendopo (sentral) yang merupakan pusat sirkulasi dan
ruang sosial pada pasar.


L
A
N
S
E
K
A
P

1. Penataan Pasar Burung Kota Pasuruan memprioritaskan ruang luar sebagai elemen
pendukung fungsi pasar dengan mempertimbangkan kebutuhan luasan area,
orientasi bangunan, dan sirkulasi. Setiap ruang yang ada memiliki orientasi
terhadap ruang luar untuk menangkap fungsi lansekap yang diterapkan sesuai
dengan kebutuhannya. Kebutuhan fungsi lansekap tersebut didapatkan dengan
mengidentifikasi area hijau dan ruang yang dilingkupinya. Dengan koefisien area
hijau sebesar 55,25% yang dimiliki, memungkinkan untuk menerapkan prinsip
arsitektur lansekap sebagai elemen pendukung kualitas ruang pada Pasar Burung
Kota Pasuruan.
2. Peningkatan kualitas ruang dengan pendekatan perancangan arsitektur lansekap
diterapkan dengan merancang lansekap per-zona hasil identifikasi. Fungsi
lansekap sebagai Visual Control, Physical Barrier, Climate Control, Erosion
Control, Habitat, dan Aesthetic diterapkan pada rancangan lansekap dengan
memperhatikan fungsi ruang dan aktifitas yang dinaungi oleh tiap zona. Dengan
demikian maka didapatkan lansekap mikro yang harmonis dengan fungsi ruang
secara arsitektural.
3. Lansekap Pasar Burung Kota Pasuruan dilengkapi dengan elemen hardscape
sebagai pendukung kualitas lansekap secara fungsional dan estetika. Elemen yang
digunakan berupa material perkerasan jalan, elemen penanda, dan perabot
lansekap (street furniture) yang disesuaikan dengan desain arsitektur bangunan.
Sumber: Analisa, 2011


Gambar 4.79 Bird Eye View Pasar Burung Kota Pasuruan
Sumber : Desain, 2011


4.11. Feedback Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan
Proses Feedback paska desain sangatlah penting untuk dilakukan guna menilai kesesuaian
desain dengan masalah awal perancangan (bab 1.3) yaitu
1. Bagaimana merancang fungsi ruang Pasar Burung Kota Pasuruan yang mampu
mewadahi dan mengembangkan kebutuhan ruang dari eksisting Pasar Burung
Kebonagung ke dalam wujud baru yang lebih layak dan representatif.
2. Bagaimana merancang lansekap Pasar Burung Kota Pasuruan yang mampu
memberikan kenyamanan terhadap aktifitas dalam pasar burung dan memberikan
kontribusi positif terhadap kualitas lingkungan pasar.
Untuk mempermudah feedback dari hasil yang telah dicapai pada Redesain Pasar Burung
Kota Pasuruan dapat dijabarkan melalui poin-poin berikut:
4.11.1. Feedback Permasalahan Fungsi Ruang
1. Fungsi ruang harus mampu mewadahi persyaratan pasar: rancangan Pasar burung
Kota Pasuruan ini minimal harus memenuhi kriteria pasar sesuai dengan
penjabaran Peraturan Presiden Republik Indonesia No.112 Tahun 2007 (bab
2.1.3.1), yang dalam perancangan dapat dibuktikan dalam poin berikut:
a. Lokasi: Rancangan yang berada dalam lingkungan Pasar Karangketug ini
telah sesuai dengan Tata Guna Lahan berdasarkan Studi Relokasi Pasar
Burung kota Pasuruan 2010 yang dapat dilihat pada tabel 4.1.
b. Aksesibilitas: Akses masuk ke dalam pasar mudah dijangkau oleh
kendaraan dengan adanya jalan akses yang memadai secara luas dan jalur
yang terhirarki, serta tersedia lahan parkir untuk pasar burung seluas 873
m
2
untuk menampung 12 mobil dan 47 motor.
c. Fasilitas: Sarana perdagangan yang dirancang berupa kios (sesuai dengan
pasar lama) dan dilengkapi fasilitas yang sesuai criteria pasar kelas II
skala regional.


d. Infrastruktur: Sebagai prasarana pendukung, lokasi pasar burung sudah
dilengkapi dengan jaringan listrik, komunikasi, dan air bersih. Pada
rancangan diterapkan sistem pengolahan limbah terpadu dengan sistem
pengomposan, serta lubang resapan biopori (LRB) sebagai infrastruktur
tambahan yang dirancang sesuai kebutuhan konsep ramah lingkungan
pasar burung.
e. Kompatibilitas: Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan menerapkan
konsep arsitektur lansekap sebagai pendekatan perancangan. Penggunaan
ruang luar (lansekap) sebagai daya dukung lingkungan diupayakan untuk
menambah kualitas lingkungan pasar dengan memanfaatkan area hijau
sebesar 3315 m
2
(55,25%) pada tapak untuk optimalisasi fungsi lansekap.
2. Fungsi ruang harus mampu mewadahi kebutuha pasar burung lama: rancangan
akhir merupakan re-implementasi dari kebutuhan dasar ruang pada eksisting Pasar
Burung Kebonagung yang terdiri dari 2 fungsi ruang utama, yaitu Kios dan
Fasilitas. Besaran ruang dan jumlah kios pada rancangan tidak merubah dari
kondisi pada pasar lama, untuk mewadahi kebutuhan dan batasan dari pedagang
pasar lama. Selain itu, pada rancangan kios terdapat area promosi yang dilengkapi
dengan tiang-tiang utnuk menggantung sangkar burung, seperti yang terdapat
pada perilaku pedagang pasar lama. Perbedaannya, pada rancangan baru ini area
promosi dirancang dan diwadahi pada area khusus agar tidak mengganggu
kenyamanan pengunjung karena berada pada area sirkulasi seperti yang terdapat
pada permasalahan pasar lama
3. Fungsi ruang harus mampu mewadahi kebutuhan untuk peningkatan kualitas
pasar: rancangan pasar baru yang ditujukan untuk memenuhi standar kualifikasi
pasar kelas II (skala regional) sebagai upaya menaikkan geliat ekonomi dan
aktifitas hobi burung. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya fasilitas pendukung
pasar seperti kantin, mushola, kamar mandi, ruang pengelola UPT pasar, dan
terutama adanya fasilitas ruang publik sekaligus sebagai arena kontes burung
yang dirancang dalam bentuk pendopo. Pada Redesain Pasar Burung Kota


Pasuruan ini dirancang pendopo yang dapat digunakan sebagai arena kontes
burung skala regional yang mampu menampung 54 kontestan, dengan
memperhatikan ketersediaan ruang bagi penonton sehingga tidak menimbulkan
kepadatan saat diselenggarakan kontes dan beratap untuk menghalau terik dan
sinar matahari berlebih sehingga menjaga kualitas burung agar prima.
4. Fungsi ruang harus mewadahi persyaratan kualitas lingkungan: rancangan
Pasar Burung Kota Pasuruan dituntut untuk semaksimal mungkin memanfaatkan
ruang luar sebagai pendukung kualitas kenyamanan ruang yang alami dan
seminimal mungkin memberi dampak negatif pada lingkungan sebagai upaya
pendekatan rancangan yang ramah lingkungan. Hal ini dapat dibuktikan pada
penerapan rancangan penataan ruang yang mampu memaksimalkan ruang luar
(lansekap), dimana setiap fungsi ruang dirancang dengan menyediakan ruang luar
sehingga mampu untuk berorientasi dan menangkap fungsi lansekap yang
diterapkan. Selain itu, pada rancangan diterapkan sistem pengolahan limbah
terintegrasi, dimana setiap kios dirancang memiliki area servis yang dilengkapi
dengan air bersih, lubang resapan biopori, dan komposter untuk memenuhi
kebutuhan pedagang dalam merawat burung dagangannya. Sistem pengomposan
sebagai pengolahan limbah dirancang dengan memanfaatkan kotoran burung dan
sampah organik yang didapat dari hasil aktifitas pasar untuk diolah menjadi
pupuk organik yang dapat digunakan untuk merawat vegetasi pada taman. Lubang
resapan biopori dirancang untuk menjaga sistem drainase tapak yang cenderung
tidak stabil dikarenakan kondisi tanah yang memiliki daya serap rendah.


4.11.2. Feedback Permasalahan Lansekap
1. Lansekap harus mampu mewadahi kebutuhan kenyamanan ruang: rancangan
lansekap direncanakan dengan melalui proses identifikasi kebutuhan fungsi
lansekap yang dipetakan menjadi 7 zona lansekap. Zona lansekap ini dipilah
berdasarkan kebutuhan akan fungsi ruang dan aktifitas yang dilingkupinya secara
mikro lansekap, sehingga dapat diketahui klasifikasi fungsi lansekap, jenis
tanaman, dan pola penataan yang diterapkan (tabel 4.7). Perancangan lansekap
dilakukan secara mikro per zona fungsi lansekap guna memperoleh desain
lansekap yang sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ternaungi dalam zona
tersebut. Dengan demikian kebutuhan kenyamanan ruang dapat terpenuhi secara
langsung oleh penerapan fungsi lansekap yang telah ditentukan.
2. Lansekap harus mampu meningkatkan kualitas lingkungan pasar: rancangan
lansekap terpadu antara komponen softscape dan hardscape memperhatikan
kondisi internal dan eksternal pasar. Dengan menggunakan tanaman lokal yang
mampu hidup dalam iklim Kota Pasuruan, lansekap yang dihadirkan dapat
meningkatkan kualitas iklim mikro lingkungan pasar yang cenderung panas-
lembab dan mengurangi kadar polusi karbon dengan terkendalinya suhu dan
kelembapan udara yang dihadirkan vegetasi. Vegetasi pohon pada rancangan
keseluruhan berjumlah sebanyak 83 buah (5 jenis) dimana area ternaungi dibawah
pohon mampu menurunkan 1,5-3C dan radiasi matahari <100 W/m
2
. Selain itu
kehadiran lansekap pada pasar burung dapat memberikan nuansa pasar yang
nyaman dan indah dengan penataan lansekap, serta didukung elemen hardscape
berupa elemen perkerasan, elemen penanda, dan street furniture yang sesuai
untuk mendukung aktifitas pasar sekaligus berperan sebagai elemen dekoratif.
Dengan berbagai pertimbangan poin-poin diatas, pada akhirnya, desain final Pasar Burung
Kota Pasuruan dapat dikatakan telah berhasil mencapai solusi permasalahan yang ditargetkan
dengan memenuhi semua kriteria rancangan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Saran

Pasar burung merupakan salah satu jenis fungsi arsitektur yang berkaitan dengan
fungsi perdagangan namun masih belum memiliki kaidah, batasan dan kriteria desain yang
jelas seperti halnya shopping mall atau rental office yang cukup banyak dijumpai teori,
referensi, maupun kajian pustakanya. Walaupun lebih mendekat ke arah arsitektur pasar
tradisional, pasar burung memiliki karakter arsitektural yang khas apabila dikaji lebih
dalam lagi baik secara keruangan fisik maupun atmosfer aktifitas di dalamnya. Keunikan
tersebut diakibatkan oleh fungsinya yang secara khusus tersegmentasi oleh barang
dagangan yang diwadahinya, yaitu sarana jual beli seputar burung.
Karakter pasar burung ini dapat diketahui dengan memperhatikan tipologi karakter
ruang sekaligus mengamati berbagai perilaku dan aktifitas di dalamnya, lalu
membandingkannya dengan pasar burung lain, seperti yang telah dilakukan pada kajian ini.
Dengan demikian akan diketahui karakter ruang pasar burung secara universal, yang dapat
digunakan sebagai standar minimal yang harus dipenuhi dalam perancangan sebuah pasar
burung.

Proses redesain (perancangan kembali) merupakan studi arsitektur yang kompleks
dan lebih sukar dikarenakan prosesnya yang harus mempertimbangkan parameter dari
rancangan sebelumnya, pemetaan masalah, dan penentuan solusi serta inovasi desain yang
harus lebih progresif dari sebelumnya. Demikian pula dengan proses Redesain Pasar
Burung Kota Pasuruan yang berusaha untuk melakukan inovasi desain pasar burung yang
mengutamakan aspek lingkungan sebagai pendekatan perancangannya dengan menerapkan
metode perancangan Arsitektur Lansekap.
Metode Arsitektur Lansekap yang diambil ini berupaya untuk menciptakan
keharmonisan lingkungan pasar burung yang lebih representatif bagi pengguna (pedagang
dan pengunjung) sehingga mampu meningkatkan geliat perekonomian sekaligus hobi
burung, yang menjadi masalah secara fundamental pada pasar lama (Pasar Burung

Kebonagung). Dengan mengintegrasikan prinsip perancangan arsitektur dan lansekap, akan
menghasilkan desain pasar burung yang menjawab permasalahan pasar burung secara
keruangan dan lingkungan sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan
pendekatan perancangan yang dapat diaplikasikan untuk metode revitalisasi pasar-pasar
burung terutama di wilayah Indonesia.
Sekali lagi, arsitektur pasar burung adalah bagian dari peradaban masyarakat
Indonesia yang mencitrakan hubungan jalinan antara manusia dan satwa sebagai sesama
makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Keberadaanya di tengah perkembangan
modernisasi seakan tidak pernah melunturkan geliat para pecinta burung yang akan tetap
berdiri selama burung bernyanyi. Di tempat itulah mereka berinteraksi. Tidak hanya para
manusianya, namun disana pulalah para burung larut dalam percakapan dengan sesamanya.
Mungkin kedua makhluk itu tak mengerti bahasa masing-masing. Mereka pun tidak peduli
apa yang sedang diucapkan masing-masing. Tapi mereka terlibat dalam satu nuansa yang
bisa disepakati bersama.
Hal tersulit dalam perancangan pasar burung bukanlah mengenai bagaimana sebuah
desain mampu mewadahi aktifitas para pecinta burung, namun bagaimana sebuah desain
itu mampu menghargai dan memaknai keberadaan mereka.
5.2 Saran
Redesain Pasar Burung Kota Pasuruan ini memang jauh dari kesempurnaan.
Semoga skripsi ini dapat membuka jalan bagi perancangan pasar burung lain yang berani
mengeksplorasi metode-metode perancangan baru yang lebih kontekstual, sehingga tidak
akan mengalami stagnansi ilmu. Dalam melalui proses perancangan pasar burung ini,
penulis menemukan beberapa kendala yang sekiranya dapat menjadi saran bagi
perancangan lebih lanjut
Saran-saran tersebut meliputi :
1. Menyelami perancangan pasar burung berarti juga harus menyelami karakter ruang
dan nuansa di pasar burung, supaya pasar burung yang dirancang dapat menangkap
kebutuhan ruang dan merepresentasikan nuansa yang terjalin di pasar burung
2. Pasar burung adalah bangunan komersil, dimana kenyamanan adalah faktor penting
yang harus dimiliki. Dalam mengekplorasi desain masih memungkinkan banyak

metode untuk diterapkan sebagai pendekatannya, namun dengan tetap
memperhatikan aspek fungsi ruang pasar burung.
3. Metode arsitektur lansekap bukan hanya sekedar mengimplementasikan vegetasi
pada ruang hijau semata. Metode ini menuntut kejelian dalam menangkap
informasi kebutuhan fungsi lansekap untuk meningkatkan kualitas ruang yang ada.
Diperlukan analisa yang komprehensif serta kemampuan memahami dasar-dasar
penataan lansekap sehingga keputusan desain lansekap yang diambil dapat
dipertanggungjawabkan.
4. Dalam perancangan ini penulis masih merasa banyak kekurangan dalam
mengeksplorasi elemen-elemen arsitektural yang sebenarnya dapat diaplikasikan
lebih variatif. Hal ini dikarenakan pembahasan yang lebih difokuskan terhadap
metode perancangan yang sebisa mungkin mengejawantahkan proses desain secara
komprehensif, dan sistematis, karena masih minimnya referensi mengenai metode
pendekatan arsitektur lansekap yang diimplementasikan pada pasar burung. Untuk
itu ke depannya bagi arsitek lain yang ingin bereksplorasi terhadap perancangan
pasar burung, diharapkan untuk lebih memfokuskan terhadap detail rancangan dan
lebih berani untuk bermain dengan pengalaman ruang (space experience).
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (2007), Peraturan Presiden
Republik Indonesia No.112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern, Jakarta.
Pemerintah Kota Pasuruan (2006), Peraturan Daerah Kota Pasuruan Nomor 10
Tahun 2006, tentang Retribusi Pengelolaan Pasar Daerah, Pasuruan.
Pemerintah Republik Indonesia. (1999). Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun
1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Jakarta
Anwar, M. (2001). Pedoman Pembinaan Pasar Tradisional, Jakarta : Dirjen
Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta.
De Chiara, Joseph. E. Kopelman, Lee. (1990). Standar Perencanaan Tapak. Jakarta :
Erlangga
Hakim, Rustam. (2003). Arsitektur Lansekap: Manusia, alam, dan lingkungan.
Jakarta : Penerbit Universitas Trisakti.
Hakim, Rustam. Hardi Utomo. (2003). Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap.
Jakarta : Bumi Aksara.
Hakim, Rustam. (2006). Rancangan Visual Lansekap Jalan. Jakarta : Bumi Aksara
Kotler, P. dan Amstrong , G. (1996). Dasar-Dasar Pemasaran Jilid I (Principle of
Marketing 7e).Jakarta : PT. Prenhallindo
Motloch L. John., (1991). Introduction to Landscape Design. New York: Van
Nostrand Reinhold
Van der Ryn, Sim., and Cowan, Stuart. (1996). Ecological design .Washington, D.C.:
Island Press
http://www.burung.org/
http://www.kicaumania.org/