Anda di halaman 1dari 12

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Selama ribuan tahun petani di seluruh dunia telah memproduksi dan menyimpan benih mereka sendiri. Disamping memproduksi makanan untuk keluarga mereka, para petani di seluruh dunia menyimpan benih benih dari tanaman mereka yang tersehat dan terbaik kualitasnya. Dengan meniru proses alami di sekitarnya, para penyimpan benih telah membentuk beranekaragam varietas berkwalitas seperti yang masih kita rasakan pada saat ini. Ketersediaan benih yang bermutu dari berbagai jenis tanaman budidaya merupakan sebuah modal awal yang penting untuk keberhasilan budidaya di bidang pertanian. Saat ini telah banyak metode metode yang dilakukan untuk perlakuan terhadap benih guna meningkatkan kualitas hasil produksi bidang pertanian.berbagai masalah perbenihan merupakan kendala bagi keberhasilan industri benih, masalah penting diantaranya adalah kerusakan atau kemunduran benih (seed deterioration). Kemunduran benih merupakan suatu proses merugikan yang dialami oleh setiap jenis benih yang dapat terjadi segera setelah benih masak dan terus berlangsung selama benih mengalami proses pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan transportasi. Proses kemunduran benih tidak dapat dihentikan, namun dengan menerapkan ilmu dan teknologi yang sesuai proses kemunduran benih dapat dikendalikan sehingga berlangsung dengan lambat. Benih bermutu mempunyai pengertian bahwa benih tersebut varietasnya benar dan murni, mempunyai mutu genetis, mutu fisiologis, dan mutu fisik tertinggi sesuai dengan mutu standar pada kelasnya. Benih yang bermutu dapat diuji dengan melakukan uji perkecambahan terhadap benih yang akan digunakan.

1.2 Tujuan
Mahasiswa diharapkan mampu untuk : 1. Melakukan prosedur pelaksanaan penyimpanan benih 2. Melakukan prosedur uji perkecambahan 3. Mengetahui maksud dari penyimpanan benih dan uji perkecambahan

1 | Farisman Hidayah A4111176

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Tujuan utama penyimpanan benih tanaman bernilai ekonomis ialah untuk mengawetkan cadangan bahan tanam dari satu musim ke musim berikutnya. Sejak jaman purbakala manusia telah mengetahui pentingnya menyimpan benih dan mengembangkan cara cara penyimpanannya dalam jumlah kecil untuk digunakan kemudian hari. Dengan berkembangnya pertanian, manusia memperluas pengetahuannya tentang persyaratan mempertahankan viabilitas benih serta cara mengkondisikan penyimpanan yang tepat. Pada 1832, Aug Pyr de Candolle dari Perancis menyertakan satu bab tentang pengawetan benih pada buku karangannya yang berjudul Physiologie Vegetale. Ia mengemukakan bahwa viabilitas benih dapat diperpanjang, bila benih disimpan pada kondisi yang terlindungi dari panas, dari uap air dan oksigen. Penyimpanan benih merupakan salah satu cara yang dapat menunjang keberhasilan penyediaan benih, mengingat bahwa kebanyakan jenis pohon hutan tidak berbuah sepanjang tahun sehingga perlu dilakukan penyimpanan yang baik agar dapat menjaga kestabilan benih dari segi kuantitas maupun kualitasnya (Widodo, 1991). Menurut Schmidt (2000), tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk menjamin persediaan benih yang bermutu bagi suatu program penanaman bila diperlukan. Jika waktu penyemaian dilaksanakan segera setelah pengumpulan benih maka benih dapat langsung digunakan di persemian sehingga penyimpanan tidak diperlukan. Akan tetapi kasus semacam ini sangat jarang terjadi, hal ini disebabkan karena pada daerah dengan iklim musim yang memiliki musim penanaman pendek sangat tidak memungkinkan untuk langsung menyemai benih, sehingga benih perlu disimpan untuk menunggu saat yang tepat untuk disemai. Penyimpanan dalam rangka pembenihan mempunyai arti yang luas, karena yang diartikan penyimpanan di sini adalah sejak benih itu mencapai kemasakan fisiologisnya sampai ditanam. Adapun tempat dan waktunya bisa terjadi ketika benih masih berada pada tanaman, di gudang penyimpanan atau dalam rangka pengiriman benih itu ke tempat atau daerah yang memerlukan. Selama dalam penyimpanan karena pengaruh beberapa faktor, mutu benih akan mengalami kemunduran Kartasapoetra(1986) dalam Hario Polije(2009) . Selama penyimpanan benih, proses fisiologis tetap berlangsung sehingga harus diusahakan agar proses ini berjalan seminimal mungkin Hendarto (1996) dalam Hario Polije(2009). Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih selama periode simpan yang lama, sehingga benih ketika akan dikecambahkan masih mempunyai viabilitas yang tidak jauh berbeda dengan viabilitas awal sebelum benih disimpan.

2 | Farisman Hidayah A4111176

Kegiatan penyimpanan benih tidak terlepas dari penggunaan wadah simpan. Menurut Siregar (2000) dalamYudi Harisman (2009),beberapa sifat khusus yang harus diperhatikan dari wadah simpan adalah: 1. Permeabilitas, yaitu kemampuan wadah untuk dapat menahan kelembaban dan gas pada level tertentu 2. Insulasi, yaitu kemampuan wadah untuk mempertahankan suhu 3. Ukuran lubang, yaitu kemampuan wadah untuk bertahan dari serangan serangga dan mikroorganisme yang dapat masuk melalui celah-celah kemasan 4. Kemudahan dalam hal penanganan seperti tidak licin, mudah ditumpuk, mudah dibuka, ditutup, disegel dan mudah dibersihkan. 5. Biaya, harus diperhitungkan dengan nilai nominal dari benih sendiri Wadah simpan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) macam yakni wadah yang kedap udara dan wadah yang permeable Widodo(1991) dalam Yudi Harisman (2009). Wadah kedap adalah wadah yang tidak memungkinkan lagi terjadi pertukaran udara antara benih yang disimpan dengan lingkungannya, sedangkan wadah permeabel adalah wadah yang masih memungkinkan terjadinya pertukaran udara antara benih dengan lingkungannya. Menurut Siregar (2000) dalam Yudi Harisman (2009)., contoh dari wadah yang permeabel adalah karung goni, kantong kain, karung nilon, keranjang, kotak kayu, kertas, karton dan papan serat yang tidak dilapisi lilin. Sedangkan wadah yang tidak permeabel adalah kaleng logam, botol dan gelas. Justice dan Bass (1979) dalam Yudi Harisman (2009)., mengemukakan bahwa penggunaan wadah dan cara simpan benih sangat tergantung pada jenis, jumlah benih, teknik pengepakan, lama penyimpanan, suhu ruang simpan dan kelembaban ruang simpan. Berapa lama benih dapat disimpan sangat tergantung pada kondisi benih dan lingkungannya sendiri. Beberapa tipe benih tidak mempunyai ketahanan untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama atau sering disebut benih rekalsitran. Sebaliknya benih ortodoks mempunyai daya simpan yang lama dan dalam kondisi penyimpanan yang sesuai dapat membentuk cadangan benih yang besar di tanah Schmidt (2000) dalam Yudi Harisman (2009). Meskipun tipe ortodoks dan rekalsitran relatif jelas perbedaannya, daya tahan benih untuk bertahan pada saat penyimpanan meliputi variasi yang luas, dari yang sangat rekalsitran, intermediate sampai ortodoks. Pada umumnya semakin lama benih disimpan maka viabilitasnya akan semakin menurun. Mundurnya viabilitas benih merupakan proses yang berjalan bertingkat dan kumulatif akibat perubahan yang diberikan kepada benih mengemukakan bahwa periode penyimpanan terdiri 3 | Farisman Hidayah A4111176

dari penyimpanan jangka panjang, penyimpanan jangka menengah dan penyimpanan jangka pendek. Penyimpanan jangka panjang memiliki kisaran waktu puluhan tahun, sedangkan penyimpanan jangka menengah memiliki kisaran waktu beberapa tahun dan penyimpanan jangka pendek memiliki kisaran waktu kurang dari satu tahun. Tidak ada kisaran pasti dalam periode penyimpanan, hal ini disebabkan karena periode penyimpanan sangat tergantung dari jenis tanaman dan tipe benih itu sendiri. Ketahanan benih untuk disimpan beragam tergantung dari jenis, cara dan tempat penyimpanan Sutopo (1988) dalamHario Polije(2009). Dalam kegiatan penanganan benih, secara umum benih dikelompokkan ke dalam dua golongan utama sesuai dengan kondisi penyimpanan yang dituntut, yaitu benih recalsitrant dan benih orthodox. Benih orthodox mampu disimpan dalam waktu yang lama pada kadar air benih yang rendah (2 5%) dan suhu penyimpanan yang rendah. Benih recalsitrant adalah benih yang viabilitasnya segera turun sampai nol jika disimpan dalam waktu yang lama dan kadar air yang rendah. Pada benih recalsitrant, kadar air benih pada waktu masak lebih dari 30% sampai 50%, dan sangat peka terhadap pengeringan di bawah 12% sampai 30%. Kelompok species yang benihnya tahan terhadap pengeringan sampai kadar air benih yang rendah seperti pada benih orthodox, tetapi sangat peka terhadap suhu penyimpanan yang rendah, belakangan ini dikelompokkan dalam benih intermediate (Ellis et al., 1990 dalam Schmidt, 2000). Menurut Schmidt (2000) dalam Hario Polije (2009), benih orthodox tahan terhadap pengeringan dan suhu penyimpanan yang rendah, yaitu pada suhu 0 5o C dengan kadar air benih 5 7%. Dalam kondisi penyimpanan yang optimal, benih yang orthodox akan mampu disimpan sampai beberapa tahun. Pada saat masak, kadar air benih pada kebanyakan benih orthodox sekitar 6 10%. Benih orthodox banyak ditemukan pada zona arid, semi arid dan pada daerah dengan iklim basah, di samping itu juga ada yang ditemukan pada zona tropis dataran tinggi. Menurut Schmidt (2000), benih recalsitrant didefinisikan sebagai benih yang tidak tahan terhadap pengeringan dan suhu penyimpanan yang rendah, kecuali untuk beberapa species temperate recalsitrant. Tingkat toleransinya tergantung dari species masing-masing, umtuk benih species dari daerah tropik kadar air benih yang dianjurkan untuk penyimpanan adalah 20 35% dan suhu penyimpanan 12 15o C. kebanyakan benih recalsitrant hanya mampu disimpan beberapa hari sampai dengan beberapa bulan. Benih recalsitrant pada waktu masak, kadar air benih sekitar 30 70%. Benih recalsitrant banyak ditemukan pada species dari zona iklim tropis basah, hutan hujan tropis, dan hutan mangrove, beberapa ditemukan pada zona temperate dan sedikit ditemukan pada zona panas. Benih yang diproduksi dan diproses seringkali tidak langsung ditanam tetapi disimpan dahulu untuk digunakan pada musim tanam berikutnya, di samping itu ada pula benih yang memang perlu disimpan dalam waktu tertentu terlebih dahulu sebelum ditanam yaitu benih yang mengalami after ripening.

4 | Farisman Hidayah A4111176

Untuk menghambat laju deteriorasi maka benih ini harus disimpan dengan metode tertentu agar benih tidak mengalami kerusakan ataupun penurunan mutu. Kunci keberhasilan penyimpanan benih ortodoks seperti jagung terletak pada pengaturan kadar air dan suhu ruang simpan. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Harrington (1972) danDelouche (1990) dalam M. Azrai (dkk.). Namun demikian, suhu hanya berperan nyata pada kondisi kadar air di mana sel-sel pada benih memiliki air aktif (water activity)yang memungkinkan proses metabolisme dapat berlangsung. Proses metabolisme meningkat dengan meningkatnya kadar air benih, dandipercepat dengan meningkatnya suhu ruang simpan. Peningkatan metabolisme benih menyebabkan kemunduran benih lebih cepat (Justiceand Bass 1979). Kaidah umum yang berlaku dalam penyimpanan benih menurut Matthes et al. (1969) adalah untuk setiap 1% penurunan kadar air,daya simpan dua kali lebih lama. Kaidah ini berlaku pada kisaran kadar air5-14%, dan suhu ruang simpan tidak lebih dari 40oC. Secara praktis, benih dapat disimpan pada suhu kamar (28oC) atauruang sejuk (12oC), bergantung pada lama penyimpanan dan kadar air benihyang akan disimpan. Apabila daya berkecambah benih dipertahankan diatas 80% (sesuai standar daya berkecambah), maka kadar air benih harus12% (dapat dicapai melalui pengeringan dengan sinar matahari pada musimkemarau) agar daya berkecambah benih masih dapat dipertahankansampai 10 bulan penyimpanan pada suhu kamar (28oC). Kalau kadar airbenih dapat diturunkan hingga 10%, daya berkecambah benih dapatdipertahankan sampai 14 bulan, dan lebih dari 14 bulan kalau kadar airbenih pada saat disimpan 8%. Daya berkecambah benih setelahpenyimpanan 14 bulan masih tinggi (89,3%). Di lain pihak, pada kadar air14%, benih hanya tahan disimpan selama delapan bulan, dan pada kadarair 16% hanya tahan disimpan sampai empat bulan. (M. Azrai, dkk) Penyimpanan pada suhu sejuk (12oC), daya berkecambah benih masih di atas 80% dengan kadar air 16% dan dapat bertahan selama enam bulan. Apabila kadar air diturunkan menjadi 14%, benih akan bertahan sampai 12bulan dan pada kadar air 8-12% dapat bertahan sampai 18 bulan. Daya simpan benih selain bergantung pada suhu ruang simpanjuga bergantung pada kadar air awal. Jika disimpan pada kadar air <10%pada>oC, daya berkecambah masih di atas 80% sampaipada penyimpanan 16 bulan. Jika kadar air dinaikkan menjadi 12%, dayaberkecambah benih pada penyimpanan 16 bulan hanya sekitar 60%, padakadar air 14% daya berkecambahnya hanya 40%, bahkan pada kadar 16%benih sudah tidak berkecambah setelah penyimpanan enam bulan. (M.Azrai, dkk). Pengertian perkecambahan benih adalah berkembangnya suatu benih melalui tahapan-tahapan dimana menunjukkan kemampuan untuk berkembang lebih lanjut secara maksimal dalam kondisi

5 | Farisman Hidayah A4111176

lingkungan yang sesuai. Dengan kata lain benih dinyatakan telah berkecambah bila dari benih tersebut telah muncul plumula dan radikula. Daya KecambahDefinisi perkecambahan menurut Copeland (1976) adalah aktivitas

berkembangnya bijimenjadi tanaman muda. Di dalam peristiwa ini akan terjadi beberapa proses yangmempengaruhi perkecambahan, yaitu : penyerapan air (imbibition), aktivitas enzim,pertumbuhan embrio, pecahnya kulit biji, dan kemudian tanaman kecil. Lingkungan untuk perkecambahan benih yaitu, kelembaban, temperature, osigen, dan cahaya.Kriteria untuk kecambah normal diantaranya adalah: a) Kecambah dengan pertumbuhan sempurna, ditandai dengan akar dan batang yangberkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, danmempunyai tunas pucuk yang baik b) Kecambah dangan cacat ringan pada akar, hipokotil/ epikotil, kotiledon, daun primer, dankoleoptil c) Kecambah dengan infeksi sekunder tetapi bentuknya masih sempurnaKecambah abnormal adalah kecambah yang tidak memperlihatkan potensi untuk berkembang menjadi kecambah normal. Kecambah di bawah ini digolongkan ke dalamkecambah abnormal : a) Kecambah rusak: kecambah yang struktur pentingnya hilang atau rusak berat. Plumulaatau radikula patah atau tidak tumbuh. b) Kecambah cacat atau tidak seimbang: kecambah dengan pertumbuhan lemah ataukecambah yang struktur pentingnya cacat atau tidak proporsional. Plumula atau radikulatumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah,sedangkan radikula tumbuh sebaliknya. c) Kecambah lambat: kecambah yang pada akhir pengujian belum mencapai ukuran normal.Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kecambah benih normal kecambah pada benihabnormal ukurannya lebih kecil. Benih yang tidak berkecambah adalah benih yang tidak berkecambah sampai akhir masapengujian, yang digolongkan menjadi: a. Benih segar tidak tumbuh: Benih, selain benih keras, yang gagal berkecambah namuntetap baik dan sehat dan mempunyai potensi untuk tumbuh menjadi kecambah normal. Benihdapat menyerap air, sehingga dapat terlihat benih tampak mengembang. Namun tidak adapemunculan struktur penting dari perkecambahan benih. Dan jika waktu

penyemaiandiperpanjang benih akan tumbuh normal. b. Benih keras: Benih yang tetap keras sampai akhir masa pengujian. Benih tersebut tidak mampu menyerap air terlihat dari besarnya benih tidak mengembang, dan jika 6 | Farisman Hidayah A4111176

dibandingkandengan benih segar tidak tumbuh ukuran benih keras lebih kecil. Hal ini disebabkan karenakulit benih yang impermeabel terhadap gas dan air. c. Benih mati: Benih yang sampai pada akhir masa pengujian tidak keras, tidak segar, dantidak berkecambah. Benih mati dapat dilihat dari keadaan benih yang telah membusuk, warnabenih terlihat agak kecoklatan. Hal ini disebabkan karena adanya penyakit primer yangmenyerang benih. Disebabkan karena pada saat kultur teknis dilepangan tanaman yangmenajdi induk talah terserang hama dan penyakit sehingga pada benih tersebut berpotensimembawa penyakit dari induknya.

7 | Farisman Hidayah A4111176

BAB 3 METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Perlakuan Benih Untuk Penyimpanan Benih dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Politeknik Negeri Jember pada tanggal 07 Maret 2012, pukul 15.00 17.00 WIB

3.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum Perlakuan Benih Untuk Penyimpanan Benih dengan rincian sebagai berikut :

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Alat Dan Bahan Oven Timbangan Moisture Tester Lemari Es Desikator Press Siler Benih Jagung Benih padi Benih Kacang Hijau Benih Kacang Tanah Benih Kedelai Benih Kakao Benih Durian Plastik klip Plastik klip Botol Alumunium Foil Silica Gel Kapur Tohot Kertas merang Plastik Karet Gelang

Spesifikasi

Keb/Kel

Satuan Unit

Jumlah 1 1 1 1 4 4 1000 2000 2000 2000 200 2 2 4 4 20 4 2 2 40 4 1

Analitik Balance

1 Buah 1 Buah 1 Buah

Besar Ukuran 209 Baik Dan Bernas Baik Dan Bernas Baik Dan Bernas Baik Dan Bernas Baik Dan Bernas Baik dan Bernas Baik dan Bernas Uk. 15x 20 cm Uk. 15 x 10 cm Kecil + Tutup

1 Buah 1 Lembar 250 Gram 500 Gram 500 Gram 500 Gram 250 Gram 2 Biji 2 Biji 1 Pack 1 Pack 5 Buah 1 Pack

Baik

0.5 Kilogram 0.5 Kilogram 10 Lembar

2 Kg dan Tebal

1 Pack 0.25 Pack

8 | Farisman Hidayah A4111176

21 22

Cuter Kertas CD

Besar

2 Buah 10 Lembar

8 40

3.3 Metode Kerja 3.3.1 Metode Uji Daya Perkecambahan


Uji daya kecambah benih ortodoks 1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan 2. Membasahi kertas buram dan kertas merang hingga kapasitas lapang 3. Meletakkan kertas buram dan kertas merang diatas kertas 4. Menata benih ortodoks ( padi, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah) 5. Melipat sedikit bagian bawah dari kertas kemudian digulung serta diikat menggunakan karet gelang 6. Meletakkan dalam germinator 7. Membersihkan dan merapikan alat serta bahan

Uji daya kecambah benih rekalsitran 1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan 2. Meletakkan 2 kertas buram, 1 kertas merang dan kapas diatas petridish 3. Membasahi kertas buram dan kapas hingga kapasitas lapang 4. Menata benih rekalsitran ( durian, kakao ) 5. Meletakkan 2 benih durian dan 5 benih kakao 6. Meletakkan dalam germinator 7. Membersihkan dan merapikan alat serta bahan

3.3.2 Uji teknik penyimpanan benih


Uji teknik penyimpanan benih ortodoks 1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan 2. Menimbang benih jagung, benih padi, benih kacang hijau, benih kacang tanah, benih kedelai menggunakan timbangan neraca 3. Meletakkan benih jagung, benih padi, benih kacang hijau, benih kacang tanah, benih kedelai kedalam 3 amplop kertas, 3 alumunium foil, 3 plastik klip. 4. Meletakkan setiap wadah tersebut dalam 3 tempat yaitu suhu ruan, suhu desikator dan suhu col storage. 5. Membersihkan dan merapikan alat serta bahan 9 | Farisman Hidayah A4111176

Uji teknik penyimpanan benih rekalsitran 1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan 2. Menimbang 2 benih durian dan 5 benih durian menggunakan timbangan neraca

3. Meletakkan benih durian dan benih kakao kedalam 3 amplop kertas, 3 alumunium foil, 3 plastik klip. 4. Meletakkan setiap wadah tersebut dalam 3 tempat yaitu suhu ruang, suhu desikator dan suhu col storage. 5. Membersihkan dan merapikan alat serta bahan

10 | Farisman Hidayah A4111176

BAB 4 KESIMPULAN
Dari hasil praktikum Perlakuan Benih Untuk Penyimpanan Benih, Maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

1. Penyimpanan benih dilakukan dengan cara menyimpannya dalam suhu ruang dan di dalam desikator. 2. Uji perkecambahan dilakukan dengan cara meletakkan benih dalam lapisan plastik, kertas C.d. , dan kertas merang yang kemudian digulung dan dimasukkan dalam Cool Storage. 3. Penyimpanan benih mempunyai tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk menjamin persediaan benih yang bermutu bagi suatu program penanaman bila diperlukan dan untuk mempertahankan viabilitas benih selama periode simpan yang lama, sehingga benih ketika akan dikecambahkan masih mempunyai viabilitas yang tidak jauh berbeda dengan viabilitas awal sebelum benih disimpan. 4. Uji perkecambahan mempunyai tujuan untuk mengecambahkan benih pada kondisi yang sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih dan menghitung jumlah proporsi benihbenih yang telah menghasilkan perkecambahan dalam kondisi dan periode tertentu.

11 | Farisman Hidayah A4111176

DAFTAR PUSTAKA
1. Justice, Oren L., Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih/Oren L. Justice Dan Louis N. Bass; penerjemah, Rennie Roesli.ed 1.Cet. 3.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2002. 2. Kuswanto, Hendarto. Analisis Benih / Hendarto Kuswanto. Ed. 1, Cet. 1. Yogyakarta Andi, 1997. 3. http://rantoperta.blogspot.com/2009/06/pengujian-daya-kecambah-benih.html 4. http://infotwh.blogspot.com/2010/08/penyimpanan-benih-program-studi.html 5. M. Azrai, Rahmawati, Ramlah Arief dan Sania Saenong. Pengelolaan Benih Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, 6. Maros.http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/bjagung/sebelas.pdf diakses pada tanggal 9 Juni 2010. 7. Hendarto(1996), Kartasapoetra(1986), Schmidt (2000), Sutopo(1988) dalam Hario Polije. 2009. Penyimpanan benih (seed storage).http://hariopolije.blogspot.com/2009/04/hmmm.html. diakses pada tanggal 9 Juni 2010. 8. Justice and Bass(1979), Schmidt, L(2000), Siregar, S.T(2000), Widodo, W (1991) dalam Yudi Harisman, 2009. Wadah dan Lama Penyimpanan Benih. http://foresterrimbawan.blogspot.com/2009/05/wadah-dan-lama-penyimpanan-benih.html diakses pada tanggal 9 Juni 2010. 9. Yayasan IDEP, Lembaran Fakta Yayasan Idep Tentang Penyimpanan Benih Dan Perkembangbiakan Tanaman.http://www.idepfoundation.org/indonesia/ download_files/ seed_ saving/Fsheet_seeds_indo.pdf diakses pada tanggal 9 Juni 2010. 10. http://teknologibenih.blogspot.com/2009/08/pengujian-daya-kecambah-adalah.html

12 | Farisman Hidayah A4111176