Anda di halaman 1dari 5

TERAPI NUTRISI MEDIK PADA SINDROMA METABOLIK Terapi nutrisi medik menurut definisinya adalah penggunaan layanan nutrisi

khusus untuk mengobati penyakit, luka, atau kondisi lainnya dan mencakup dua hal utama yaitu penilaian status gizi penderita dan penatalaksanaan yang mencakup terapi nutrisi, penyuluhan, dan penggunaan suplement nutrisi khusus. Mengingat pada umumnya penderita sindroma metabolik disertai dengan berat badan lebih dan obes maka terapi nutrisi medis yang dianjurkan adalah diet rendah kalori (reducing diet). Bagi sebagian kecil penderita sindroma metabolik yang berat badannya normal, tentunya terapi nutrisi medik yang diberikan adalah yang sesuai kalorinya dengan kebutuhan harian penderita. Selain makanan rendah kalori, terapi nutrisi medik diharapkan mampu membantu mengatasi masalah metabolik lainnya pada sindroma metabolik seperti dislipidemi, hipertensi, dan toleransi glukosa terganggu bahkan diabetes melitus tipe 2. Sampai saat ini belum ada terapi nutrisi medik khusus untuk penderita sindroma metabolik, walaupun beberapa penulis telah mencoba mengemukakan terapi nutrisi medik khusus untuk sindroma metabolik. Terapi nutrisi medik mencakup perhitungan kalori yang akan diberikan, jenis makronutrient (karbohidrat dan terutama lemak) yang membantu mengatasi faktor-faktor risiko sindroma metabolik, serta mineral dan zat gizi lainnya agar tercapai hasil yang optimal. Jumlah kalori

Kalori yang diberikan berkisar antara 800 1500 kalori perhari, walaupun defisit kalori sebesar 500 1000 kalori perhari dari asupan rata-rata harian sudah cukup baik dan menghasilkan penurunan berat badan antara 0,5 1,0 kg setiap minggu. Saat ini sedang dalam perdebatan hangat apakah komposisi makronutrient tertentu dalam diet rendah kalori dapat mempercepat proses penurunan berat badan. Umumnya dibandingkan antara diet rendah lemak tinggi karbohidrat dengan diet rendah karbohidrat tinggi protein seperti diet dari Atkin. Walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat tinggi protein menyebabkan penurunan berat badan yang lebih besar dalam 6 bulan pertama, namun dalam jangka panjang perbedaan ini secara statistik menjadi tidak bermakna lagi. Para peneliti itu menganjurkan perlunya penelitian tentang profil keamanan diet rendah karbohidrat tinggi protein yang belum teruji keamanannya seperti diet rendah lemak. Perbedaan penurunan berat badan antara kedua jenis diet

tersebut diduga disebabkan adanya efek thermogenik dan efek rasa kenyang (satieting effect) yang lebih tinggi pada diet tinggi protein. Namun hal ini masih diragukan karena efek thermogenik diet tinggi protein sebesar 30-35% dari asupan energi hanya menghasilkan peningkatan penurunan berat badan sebesar 0.04 kg/minggu saja. Selain itu, efek rasa kenyang selain dapat ditingkatkan dengan diet tinggi protein juga dapat di tingkatkan dengan diet tinggi karbohidrat tinggi serat. Karbohidrat Anjuran makan sehat di berbagai negara dan juga dianjurkan oleh banyak organisasi kesehatan dunia adalah diet rendah lemak rendah kalori. Pada diet NCEP ATP III misalnya, asupan karbohidrat dianjurkan berkisar antara 50 60%, dengan catatan untuk sindroma metabolik dianjurkan asupan karbohidrat 50% saja, dengan peningkatan asupan lemak hingga 35% dari total kalori asalkan lemaknya berasal dari lemak tak jenuh ganda atau tunggal. Karbohidrat yang dianjurkan adalah yang termasuk jenis karbohidrat kompleks seperti padi-padian dengan pemrosesan minimal (wholegrain cereals), buah-buahan, dan sayuran. Semua jenis karbohidrat ini juga disebut sebagai karbohidrat dengan indeks glikemik rendah. Indeks glikemik adalah angka klasifikasi fisiologis makanan karbohidrat berdasarkan kecepatan absorpsinya. Indeks glikemik biasanya didefinisikan sebagai luas wilayah dibawah kurva respons selama periode 2 jam setelah mengkonsumsi 50 gram karbohidrat dari makanan yang diuji, dan nilainya dibandingkan relatif terhadap efek glikemik terhadap roti tawar atau glukosa dengan kandungan karbohidrat yang sama. Makanan dengan nilai indeks glikemik tinggi memiliki luas area dibawah kurva yang tinggi selama masa 2 jam post prandial. Indeks glikemik suatu makanan karbohidrat tergantung pada beberapa faktor seperti : a. Derajat pengolahan Makin sedikit pengolahan makin rendah indeks glikemiknya, misalnya beras berkulit ari lebih rendah indeks glikemiknya dibandingkan dengan beras putih. b.Jenis tepung Jenis tepung tergantung dari perbandingan kandungan amilosa dan amilopektin, derajat retrogradasi (rekristalisasi molekulmolekul tepung), dan derajat hidrasi pemasakan misalnya nasi,nasi tim, dan bubur. c.Interaksi protein dengan tepung dalam makanan yang berasal dari gandum.

d.Jenis serat makanan Terutama serat larut dalam air (viscous soluble fiber) yang berfungsi sebagai barier fisik pencernaan dan penyerapan tepung. E.Antinutrients Antinutrient sebagai tannin. penghambat enzym, fitat, lektin,

McKeown dkk mendapatkan pada penelitian mereka pada Framingham Offspring Cohort, bahwa kelompok orang dengan asupan makanan dengan indeks glikemik tertinggi antara 82 98, menderita risiko terkena sindroma metabolik sampai 40% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok dengan indeks glikemik terendah yaitu kurang dari 74. Konsep indeks glikemik ini juga digunakan oleh Food and Agriculture Organization / World Health Organization dalam hasil konsultasi ilmuwan dari 13 negara di Roma pada tahun 1997 mengenai karbohidrat dan semua aspek kontroversinya. Salah satu kontroversi adalah hasil dari beberapa penelitian yang menyatakan bahwa diet rendah lemak tinggi karbohidrat, dapat meningkatkan kadar trigliserid dan menurunkan kadar kolesterol - HDL. Para pakar dalam pertemuan tersebut masih menganjurkan diet tinggi karbohidrat karena beberapa pertimbangan. Pertama, penelitian tersebut berjangka pendek yaitu < 6 minggu saja, sementara itu telah diketahui bahwa peningkatan kadar trigliserid pada diet tinggi karbohidrat hanya bersifat sementara dan akan kembali ke nilai asal dalam waktu beberapa bulan. Kedua, tidak semua jenis karbohidrat menyebabkan peningkatan kadar trigliserid dan penurunan HDL karena diet tinggi karbohidrat dengan kadar serat tinggi dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan efek buruk tadi. Ketiga, penelitian-penelitian itu menggunakan diet iso-energetik, bukan ad libitum. Dalam kenyataan, diet tinggi karbohidrat cenderung menurunkan asupan energi harian sehingga mengakibatkan penurunan berat badan, penurunan kolesterol LDL, dengan kadar trigliserid dan rasio kolesterol total dengan kolesterol - HDL yang tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan nilai awal penelitian. Protein Asupan protein umumnya, seperti pada diet NCEP ATP III, dianjurkan sekitar 15% dari total asupan kalori per hari. Untuk orang dewasa, asupan protein yang dianjurkan adalah 0.8 g/kgBB/hari . Pada diet tinggi protein rendah karbohidrat asupan protein dapat mencapai 28 64% dari asupan kalori total dan umumnya jenis protein yang dikonsumsi mengandung

banyak lemak jenuh. Hasil beberapa penelitian diet tinggi protein memang menunjukkan penurunan berat badan disertai dengan penurunan faktor risiko penyakit kardiovaskuler seperti penurunan kadar trigliserid dan peningkatan kadar kolesterol HDL yang lebih baik dibandingkan diet tinggi karbohidrat yang iso-energetic. Menanggapi hasil penelitian-penelitian ini, beberapa pakar seperti Bonow dan Eckel berkomentar bahwa penurunan trigliserid terjadi karena adanya penurunan berat badan dan peningkatan kolesterol - HDL pada diet tinggi protein disebabkan oleh peningkatan sub - fraksi kolesterol HDL yang terjadi karena peningkatan asupan lemak jenuh, hal mana belum terbukti menguntungkan. Lemak Khusus untuk sindroma metabolik, NCEP ATP III memperbolehkan asupan lemak sampai 35% dari total asupan kalori, dengan penurunan asupan karbohidrat menjadi 50% saja . Komponen lemak jenuh (saturated fatty acids) hanya dianjurkan maksimal 7% saja karena telah diketahui bahwa asupan lemak jenuh mempertinggi angka kejadian penyakit jantung koroner. Lemak tak jenuh ganda (poly-unsaturated fatty acids = PUFA) dapat sampai 10% total asupan kalori, sedangkan lemak tak jenuh tunggal (mono-unsaturated fatty acids = MUFA) dapat sampai 20% dari asupan kalori. Memang beberapa penelitian menunjukkan hasil profil metabolik yang lebih baik dengan diet tinggi MUFA dibandingkan dengan diet tinggi karbohidrat , namun beberapa pakar berpendapat bahwa diet tinggi MUFA ini akan menyulitkan proses penurunan berat badan, misalnya pada penderita diabetes . Pendapat para pakar ini ternyata terbukti pada penelitian Gerhard dkk pada 11 penderita diabetes melitus tipe 2 yang secara acak diberikan diet ad libitum rendah lemak atau tinggi MUFA selama 6 minggu. Mereka membuktikan bahwa hanya diet rendah lemak ad libitum yang berhasil menurunkan berat badan penderita diabetes melitus tipe 2 tanpa ada perbedaan profil lipid dibandingkan dengan diet tinggi MUFA atau (monounsaturated fatty acids) . Sayangnya penelitian ini hanya melibatkan 11 subjek saja. Pada penderita overweight dan obesitas sederhana, Collette et al dalam penelitian penurunan berat badan (kalori dikurangi 30% dari asupan kalori harian rata-rata) jangka pendek selama 8 minggu dengan diet tinggi MUFA (40% karbohidrat, 25% MUFA) dibandingkan dengan diet tinggi karbohidrat (55% karbohidrat, 10% MUFA) dengan kadar PUFA dan SFA dipertahankan sama, berhasil menunjukkan bahwa diet tinggi MUFA menyebabkan kadar trigliserid puasa yang lebih baik dan bermakna secara statistik dibandingkan dengan diet tinggi karbohidrat . Bahkan menurut Ascherio bila SFA dalam diet diganti dengan MUFA atau

(mono-unsaturated fatty acids), timbul efek penurunan kadar kolesterol - LDL tanpa penurunan kadar HDL ataupun adanya peningkatan kadar trigliserid, hal mana menyebabkan penurunan angka kejadian penyakit jantung koroner sampai 30%. Grundy, Abate, dan Chandalia dalam artikel mereka tentang Diet Composition and the Metabolic Syndrome: What Is the Optimal Fat Intake? dalam American Journal of Medicine tahun 2002, juga mengemukakan bukti-bukti keunggulan metabolik (seperti dikemukakan diatas) bila diet tinggi MUFA (sampai maksimal 40% dari total asupan kalori) dibandingkan dengan diet tinggi karbohidrat. Namun Grundy, dkk, juga menulis bahwa karbohidrat tinggi serat tidak menimbulkan peningkatan trigliserid. Mineral Mineral yang penting untuk diperhatikan dalam terapi nutrisi medik sindroma metabolik adalah natrium. Dari hasil penelitian DASH-Sodium Collaborative Research Group dengan 412 subjek dianjurkan agar asupan natrium perlu dibatasi sampai sekitar 50 100 mmol natrium perhari, atau antara 3 5 gram NaCl (garam dapur) perhari dengan disertai diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) untuk dapat menurunkan tekanan darah yang juga merupakan gejala sindroma metabolik. Penurunan tekanan darah dengan gabungan diet DASH dan rendah natrium ini dapat mencapai 7,1 mmHg pada orang dengan normotensi dan 11,5 mmHg pada penderita hipertensi . Diet DASH sendiri banyak mengandung sayuran dan buah-buahan, produk susu rendah lemak, unggas, ikan dan protein nabati, daging merah agak dikurangi, rendah gula, rendah lemak terutama rendah lemak jenuh, rendah kolesterol, dan kaya akan kalium, magnesium, kalsium, dan serat makanan. Alkohol Asupan alkohol yang berlebihan yaitu > 30 g alkohol perhari dapat meningkatkan kadar trigliserid dan tekanan darah