Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Anak merupakan individu yang rentan akan gangguan kesehatan, termasuk gangguan pada sistem perkemihan. Salah satu gangguan sistem perkemihan yang sering terjadi pada anak adalah enuresis atau mengompol. Enuresis dapat disebabkan oleh faktor genetik, ada gangguan dalam sistem perkemihan anak, maupun akibat masalah psikososial pada anak. Awitan terjadinya enuresis cukup besar. Hasil penelitian menunjukkan 77% anak mengalami enuresis, bila kedua orang tuanya memiliki riwayat enuresis. 44% anak mengalami enuresis, bila salah satu orang tuanya memiliko riwayat enuresis dan 15 %. anak enuresis, bila kedua orang tua sama sekali tidak enuresis. Enuresis merupakan hal biasa yang terjadi pada anak. Namun, enuresis dapat menjadi pemicu timbulnya masalah tumbuh kembang anak, jika enuresis terjadi pada anak, yang memiliki usia di mana seharusnya anak sudah tidak mengompol. Misalnya saja seperti pada kasus yang dialami oleh Nino. Nino masih mengompol walaupun usianya sudah sembilan tahun. Padahal, seharusnya pada anak usia sekolah tersebut, enuresis sudah tidak terjadi. Masalahah tersebut dapat mempengaruhi tumbuh kembang Nino, yang selanjutnya akan dibahas pada makalah ini.

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada makalah ini antara lain sebagai berikut: 1. Apa definisi, etiologi, dan jenis enuresis? 2. Bagaimana penatalaksanaan enuresis secara farmakologik dan non farmakologik? 3. Bagaimana tugas perkembangan dan teori tumbuh kembang anak usia sekolah? 4. Bagaimana hubungan enuresis yang terjadi pada kasus dengan teori tumbuh kembang pada anak usia sekolah? 5. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan enuresis?

C. Tujuan Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk: 1. Menjelaskan definisi, etiologi, dan jenis enuresis 2. Menjelaskan penatalaksanaan enuresis secara farmakologik dan non farmakologik
1

3. Menjelaskan tugas perekembangan dan teori tumbuh kembang anak usia sekolah 4. Mengidentifikasi kasus dan menghubungkannya dengan teori tumbuh kembang pada anak usia sekolah 5. Menyusun asuhan keperawatan pada anak dengan enuresis

D. Metode Penulisan Makalah ini disusun dengan menggunakan metode studi pustaka dengan menggunakan tinjauan literatur dari berbagai sumber, baik buku maupun penulusuran internet. Setelah itu, penyusun menganalisis dan mengaitkannya dengan kasus pemicu. Kemudian, penyusun menentukan asuhan keperawatan yang sesuai dengan masalah pada kasus pemicu.

E. Sistematika Penyusunan Makalah ini terdiri atas empat bab. Bab 1 merupakan bab pendahuluan, yang terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab 2 merupakan bab tinjauan teori, bab 3 merupakan analisis data, dan bab 4 merupakan penutup, yang terdiri atas kesimpulan dan saran.

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Enuresis 1. Definisi Enuresis Enuresis adalah keluarnya urin yang disengaja atau involunter di tempat tidur (biasanya di malam hari) atau pada pakaian di siang hari dan terjadi pada anak-anak, yang usianya secara normal, telah memiliki kendali terhadap kandung kemih secara volunter (Wong, 2003). Gangguan yang didiagnosis sebagai enuresis, kronologis atau usia perkembangan anak minimal lima tahun, dan pengeluaran urin harus terjadi minimal dua kali seminggu, dan sekurang-kurangnya terjadi selama tiga bulan. Gejala utama adalah desakan yang timbul cepat, dan disertai dengan ketidakmampuan akut, kegelisahaan, dan kadang-kadang sering berkemih. Enuresis lebih umum terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Hal ini terjadi karena perubahan fungsi neuromuskular kandung kemih, dan sering kali tidak berbahaya dan menghilang dengan sendirinya. Enuresis (mengompol) nokturial, biasanya berhenti pada usia enam dan delapan tahun, walaupun kadang-kadang mengompol ini berlanjut sampai masa remaja.

2. Etiologi Enuresis Penyebab organik yang mungkin berhubungan dengan enuresis, harus disingkirkan sebelum mempertimbangkan faktor-faktor psikogenik. Penyebab organik tersebut, termasuk gangguan struktural saluran kemih, infeksi saluran kemih, defisit neurologis, gangguan yang meningkatkan haluaran normal urin (seperti diabetes dan gangguan yang mengganggu kemampuan ginjal kronis atau penyakit sel sabit). Volume kandung kemih 300 sampai 500 ml adalah cukup untuk menahan urin pada malam hari. Kapasitas kandung kemih normal (dalam ons) adalah usia anak ditambah 2 (misal, kapasitas normal kandung kemih anak berusia enam tahun adalah 8 ons). Pada kasus lain enuresis dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional, walaupun meragukan bahwa faktor-faktor tersebut adalah faktor penyebabnya. Orang tua melaporkan bahwa anak-anak ini, tidur lebih pulas daripada anak-anak lainnya. Namun, kedalaman tidur tidak teridentifikasi sebagai penyebab enuresis noktural.

3. Jenis-Jenis Enuresis Ada dua jenis enuresis yang terjadi pada anak, yaitu enuresis preimer dan sekunder, yang diuraikan sebagai berikut: a. Enuresis Primer Enuresis primer terjadi pada anak yang sejak lahir hingga berusia lima atau enam tahun yang masih mengompol. Faktor-faktor penyebabnya yaitu: 1) Faktor genetik Dari hasil penelitian, 77% anak mengalami enuresis, bila kedua orang tuanya enuresis. 44% anak mengalami enuresis, bila salah satu orang tuanya enuresis dan 15 %. anak enuresis, bila kedua orang tua sama sekali tidak enuresis. 2) Keterlambatan pematangan fungsi susunan saraf pusat (SSP). Pada anak normal, ketika kandung kemih sudah penuh oleh urin, sistem saraf di kandung kemihnya akan melapor kepada otak. Kemudian otak akan mengirim pesan balik ke kandung kemih. Otak akan meminta kandung kemih untuk menahan pengeluaran urin, sampai si anak sudah siap di toilet. Pada anak dengan keterlambatan kematangan SSP, proses ini tidak terjadi, sehingga saat kandung kemihnya penuh, anak tidak dapat menahan keluarnya urine. 3) Kurangnya kadar antidiuretic hormone (ADH) dalam tubuh Hormon ini akan menyebabkan tubuh seseorang memproduksi sedikit urin pada malam hari. Pada anak enuresis, tubuhnya tidak bisa membuat ADH dalam jumlah yang mencukupi, sehingga ketika sedang tidur, tubuhnya menghasilkan banyak urin. Oleh karena itulah anak menjadi mengompol. 4) Gangguan tidur dalam Tidur yang sangat dalam (deep sleep) akan menyebabkan anak tidak terbangun pada saat kandung kemih sudah penuh. 5) Keterlambatan perkembangan Keterlambatan dalam perkembangan, yang menyebabkan anak menjadi enuresis, bukan disebabkan gangguan pematangan sistem neurofisiologi, tetapi disebabkan kurangnya latihan pola buang air kemih yang baik (tolet training). Hal ini sering terjadi pada golongan masyarakat dengan sosio ekonomi yang buruk, jumlah keluarga yang besar, broken home, dan stres lingkungan. 6) Kelainan anatomi, misalnya kandung kemih yang kecil

b. Enuresis Sekunder Enuresis sekunder terjadi pada anak yang sebelumnya sudah tidak mengompol selama tiga sampai enam bulan, lalu kembali mengompol. Penyebab enuresis sekunder yaitu: 1) Faktor psikologis Biasanya berupa pemisahan dari keluarga, kematian orang tua, kelahiran saudara kandung (adik), pindah rumah, dan pertengkaran. Enuresis karena stress, bersifat kambuhan dan sementara. 2) Kondisi fisik terganggu Contohnya adalah neurogenic bladder dan kelainan medula spinalis lain yang terkait,infeksi saluran kemih, diabetes, sembelit bahkan alergi.

Sebagian besar anak mengalami enuresis jenis nokturnal (malam hari). Anak mengompol selama tidur. Kadang-kadang, beberapa anak mengompol pada siang hari saat terjaga (enuresis diurnal). Anak mungkin memiliki kandung kemih yang tidak stabil, yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih dan buang air kecil yang terlalu sering. Anak-anak ini, dapat dirujuk ke dokter anak dan akan diberi obat selama beberapa waktu yang dapat melemaskan otot kandung kemih. Sembelit (konstipasi) juga dapat berhubungan dengan enuresis. Umumnya, hanya dengan merubah menu makan sehari-hari, sudah dapat menyambuhkan konstipasi ringan. Namun, pada beberapa kasus berat, konstipasi memerlukan perawatan khusus sebelum masalah enuresisnya dapat diatasi.

4. Penatalaksanaan Enuresis Pengobatan enuresis pada anak harus dilihat secara individual, dengan melihat beberapa hal, yaitu: sikap anak dan orang tua, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan rumah. Anggota keluarga juga harus dapat memberikan motivasi yang sesuai dan pihak orang tua tidak mempertimbangakan pengobatan dengan obat-obatan sebagai pilihan pertama dalam program pengobatan enuresis anak. Mengatasi anak ngompol bukanlah suatu hal yang mudah. Hal ini diperlukan kerja sama antara orang tua, anak, bahkan dokter. Orang tua harus menyingkapi masalah ini dengan penuh kesabaran dan pengertian kepada anak, dengan tidak memojokkan atau mengolok-olok anak. Anak juga harus diberi motivasi dan kasih sayang, agar terbentuk kepercayaan diri, sehingga anak dapat mengatasi masalah
5

mengompol pada dirinya. Mengompol yang berlarut-larut akan mengganggu kehidupan sosial dan psikologis anak, yang akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Saat pengobatan dimulai, merupakan hal yang penting dan berbeda dari penderita lain. Pengobatan biasanya diperlukan apabila enuresis menjadi masalah bagi penderita maupun keluarga, dan jarang diperlukan bila anak belum mencapai usia lima atau enam tahun. Pada anak yang lebih muda, pengobatan biasanya hanya berupa mendidik kelurga mengenai hal-hal yang menyebabkan enuresis dan menunjukkan latihan yang benar. Pengobatan enuresis yang tidak mengalami komplikasi biasanya berupa konsultasi mengenai pemberian motivasi, conditioning therapy (pemasangan alarm), melatih kebiasaan berkemih yang baik, prikoterapi, diet, hipoterapi, dan medikamentosa. a. Non Farmakologik 1) Latihan menahan miksi Tujuan latihan ini adalah untuk memperbesar kapasitas kandung kemih, agar waktu antara miksi menjadi lebih lama sehingga dapat mengurangi enuresis. Berdasarkan penelitian, anak yang jarang miksi mempunyai kandung kemih lebih besar dari pada anak yang sering miksi. Dengan menahan miksi secara sadar, akan menghambat kontraksi kandung kemih dan memperbesar kapasitas kandung kemih. Latihan ini memerlukan waktu yang lama. Dengan meningkatkan kapasitas kandung kemih ini, angka kesembuhan lebih tinggi dan kejadian kambuhnya sangat kecil, dibandingkan dengan pengobatan yang menggunakan alat atau obat-obatan. 2) Memberikan motivasi Penjelasan mengenai penyebab dan prognosis enuresis, serta menerangkan bahwa keadaan ini bukanlah kesalahan dan dorongan emosional dari orang tua, akan menentramkan hati anak, sehingga hubungan dengan orang tua lebih erat. Dengan hubungan yang baik antara orang tua dan anak, diharapkan timbul tanggung jawab anak terhadap usaha yang diberikan oleh dokter dan orang tuanya. Setelah itu, orang tua dan anak akan mengerti tentang penanganan enuresis, seperti mengurangi minum pada malam hari, membangunkan anak pada malam hari untuk miksi di kamar mandi, dan memberikan pujian atau penghargaan kalau anaknya tidak mengompol.

3) Mengubah kebiasaan Beberapa kebiasaan telah diciptakan, baik berbentuk bel maupun berupa syok elektrik ringan untuk mengobati enuresis nokturnal. Alat yang paling populer dan tidak begitu mahal adalah bell dan pad, dengan cara kerja beberapa tetes pertama air kemih akan menyebabkan alarm berbunyi dan anak terbangun dari tidurnya dan menyelesaikan miksinya di kamar mandi. Percobaan klinik menunjukkan bahwa pengobatan ini mungkin lebih efektif bila anak mengubah pola tidurnya dan dapat memasang kembali alarmnya sendiri. Dengan bangun tidur berulang-ulang selama beberapa hari atau beberapa minggu, anak dilatih untuk bangun tidur sebelum ngompol. Selanjutnya alarm di atur untuk waktu yang lebih lama dan akhirnya rangsangan alarm dihentikan. 4) Terapi diet Terapi diet yaitu membatasi makanan yang memiliki efek terhadap episode enuresis seperti yang mengandung coklat, soda, dan kafein. 5) Terapi hipnotis (hypnotherapy) Jenis terapi ini belum banyak dilakukan pada penanganan enuresis primer. b. Farmakologik 1) Obat-obat yang dipakai yaitu, dessmopressin, merupakan sintetik analog arginin vasopresin, bekerja mengurangi produksi air kencing di malam hari dan mengurangi tekanan dalam kandung kemih (intravesikular). Efek samping yang sering ditimbulkan adalah iritasi hidung bila obat diberikan melalui semprotan hidung dan sakit kepala bahkan menjadi agresif dan mimpi buruk, tapi hilang dengan pemberhentian obat. Dessmopresin diberikan sebelum tidur. 2) Obat lain yang dapat yaitu imipramin yang bersifat antikolinergik, tapi mekanismenya belum dimengerti. Ada teori yang mengatakan obat ini menurunkan kontraktilitas kandung kencing sehingga kemampuan pengisian kandung kencing dan kapasitanya diperbesar. Imipramin mempunyai efek yang buruk terhadap jantung.

B. Tugas Perkembangan Anak Sekolah Anak enam tahun sampai mendekati 12 tahun, biasa dikategorikan sebagai periode usia pertengahan atau juga usia sekolah atau masa sekolah. Periode ini dimulai sejak
7

masuknya anak ke lingkungan sekolah, yang memiliki dampak signifkan dalam perkembangan dan hubungan anak dengan orang lain. Anak mulai bergabung dengan teman seusanya, mempelajar budaya masa kanak-kanak dan menggabungkan diri ke dalam kelompok sebaya, yang merupakan hubungan terdekat pertama setelah keluarga. Berikut beberapa teori perkembangan yang mendeskripsikan tugas perkembangan pada periode ini 1. Perkembangan Psikoseksual (Freud) Pada masa usia sekolah, perkembangan psikososial dideskripsikan sebagai periode laten oleh Freud, yaitu masa tenang antara fase odipus masa anak-anak pra sekolah dan erotisisme masa remaja. Selama periode ini, anak-anak membina hubungan dengan teman sebaya sesama jenis setelah pengabaian pada tahun-tahun sebelumnya, dan didahului ketertarikan pada lawan jenis yang menyertai pubertas. Selama periode ini anak-anak melakukan sifat dan keterampilan yang telah diperoleh. Energi fisik dan psikis diarahkan pada mendapatkan pengetahuan dan bermain.

2. Perkembangan Psikososial (Erikson) Pada masa usia sekolah, anak-anak siap untuk produktif. Anak mau terlibat dalam tugas dan aktivitas yang harus anak lakukan sampai selesai. Anak juga memerlukan dan menginginkan pencapaian yang nyata. Anak-anak belajar berkompetisi dan bekerja sama dengan orang lain. Anak mendapatkan rasa kompetisi personal dan interpersonal, menerima instruksi sistemik yang digambarkan dengan budaya individual anak dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi orang yang berguna, yang dapat memberikan kontribusi dalam komunitas sosial. Anak-anak memperoleh kepuasan yang sangat besar dari perilaku mandiri, dalam menggali dan memanipulasi lingkungan, dan dari interaksi dengan teman sebaya. Rasa pencapaian juga melibatkan kemampuan bekerja sama, bersaing dengan orang lain dan untuk melakukan secara efektif dengan masyarakat. Bahaya yang terdapat dalam periode perkembangan kepribadian ini adalah terjadinya keadaan yang dapat mengakibatkan rasa inferioritas. Hal ini dapat terjadi jika tahap sebelumnya belum tercapai dengan sempurna, atau jika anak tidak mampu, atau tidak dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab terkait dengan perkembangan rasa pencapaian. Perasaan inferioritas atau kurang berharga ini dapat diperoleh dari anak itu sendiri atau juga lingkungan sosialnya.

3. Perkembangan Kognitif (Piaget) Perkembangan kognitif terdiri atas perubahan-perubahan terkat usia yang tejadi dalam aktivitas mental. Pada usia sekolah, anak memasuki tahap berpikir konkret. Anak-anak mampu membuat kesimpulan logis, mengklasifikasi dan menghadapi banyaknya hubungan mengenai hal-hal konkret. Anak mampu menghadapi sejumlah aspek berbeda dalam sebuah situasi bersamaan. Anak tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi sesuatu yang abstrak. Selain itu, anak juga menyelesaikan masalah secara konkret dan sistematis berdasarkan apa yang anak rasakan. Cara berpikir bersifat induktif. Melalui perubahan progresif dalam proses berpikir dan berhubungan dengan orang lain, cara berpikir tidak lagi terlalu berpusat pada diri sendiri. Anak dapat mempertimbangkan sudut pandang orang lain yang berbeda dan sudut pandang diri sendiri. Cara berpikir anak makin tersosialisasi.

4. Perkembangan Moral (Kohlberg) Anak usia sekolah sudah lebih mampu menilai suatu tindakan berdasarkan niat dibandingkan akibat yang dihasilkannya. Peraturan dan penilaian tidak lagi bersifat mutlak dan otoriter serta mulai berisi lebih banyak kebutuhan dan keinginan orang lain. Untuk anak yang lebih besar, pelanggaran peraturan cenderung dilihat dalam kaitannya dengan konteks total penampakannya, reaksi dipengaruhi oleh kondisi dan moralitas peraturan itu sendiri. Mereka mampu memahami dan menerima konsep memperlakukan orang lain seperti bagaimana mereka diperlakukan.

BAB III ANALISIS KASUS

A. Kasus Pemicu Seorang anak laki-laki bernama Nino berusia 9 tahun, tetapi msih mengompol tiap malam hari. Ibunya sudah berkonsultasi ke dokter dan Nino dinyatakan tidak mempunyai masalah dengan ginjalnya, bisa dikatakan ginjal Nino sehat. Sang ibu selau mengingatkan Nino untuk tidak banyak minum pada sore hari dan buang air kecil sebelum tidur. Latar belakang Nino adalah anak laki-laki satu-satunya. Nino sulung dari 3 bersaudara. Ayah Nino adalah seorang bersifat keras dan mendisiplin anaknya dengan tinggi. Bila Nino nakal dan tidak menurut, Nino akan dipukul sambil dibentak-bentak. Bila sedang belajar dan Nino tidak bisa mengerjakan soal, ayahnya akan memukul Nino. Nino tidak berani mengangis karena apabila menangis ayahnya akan bertambah marah.

B. Pembahasan Kasus Berdasarkan kasus Nino, faktor yang membuat Nino menjadi mengompol di usianya yang sudah sembilan tahun adalah faktor psikologis (sekunder). Pola asuh ayah Nino yang keras karena Nino merupakan anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, sehingga harapan orang tuanya besar terhadapnya. Didikan orangtua yang keras ini menyebabkan Nino merasa stres, padahal anak seusia Nino masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat memberikan dampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan Nino. Stres akibat ayah Nino yang sering membentak dan memukul, jika Nino nakal, memberikan pengaruh terhadap tugas perkembangan dan pola eliminasi urin Nino. Gangguan tugas perkembangan ini, menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang yang ditandai dengan masih mengompol pada usia sembilan tahun. Perkembangan psikoseksual (fase laten) yang membutuhkan peran sesama jenis akhirnya membuat Nino mendapatkan figur keras ayahnya dan menganggap laki-laki memang harus keras seperti ayahnya. Sedangkan pada perkembangan psikososial (industry vs inferiority) Nino masih sangat membutuhkan dukungan orangtuanya saat menghadapi masalah dalam sekolah atau pelajaran, namun orangtua Nino kurang mendukung karena cenderung bersikap keras tanpa memperhatikan stres yang akan dialami Nino.

10

Pada perkembangan moral, Nino sudah mampu memahami harapan orangtua, Nino juga sudah mampu berpikir logis dan memahami reward dan punishment yang diberikan orangtuanya. Selain mengganggu perkembangan Nino, stres juga dapat mengganggu pola eliminasi urin, sehingga mengakibatkan Nino mengompol. Jika Nino mengompol pada malam hari, kemudian orangtua Nino membawa kejadian mengompolnya pada obrolan dengan tetangga sampai akhirnya terdengar oleh teman-teman dan orang-orang disekelilingnya akan menimbulkan malu dan harga diri rendah pada Nino. Akibatnya, Nino akan malu bertemu dengan teman-temannya dan merasa diejek oleh temantemannya.

C. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Data anak b. Pola Berkemih Anak 1) Awitan 2) Pola berkemih (siang hari, malam hari) 3) Jumlah episode dalam sebulan 4) Pola minum c. Riwayat keluarga 1) Adanya keluarga dengan kelainan saluran kemih 2) Adanya keluarga dengan riwayat enuresis d. Manajemen keluarga 1) Besarnya masalah enuresis bagi keluarga 2) Apa yang dilakukan saat anak enuresis (siapa yang bangun untuk mengganti celana anak) 3) Bagaimana peran orang tua pada anak jika enuresis dan cara apa yang sudah dicoba untuk mengatasi enuresis e. Toilet training 1) Apakah anak mengalami kesulitan saat toilet training 2) Metode toilet training yang digunakan 3) Waktu memulai toilet training 4) Apakah anak memiliki riwayat enuresis atau enkopresis 5) Berapa lama anak biasanya tidak miksi dan kapan waktunya

11

f. Stressor 1) Bagaimana kondisi anak di sekolah, apakah anak memiliki masalah yang membuatnya tertekan 2) Stressor yang mungkin dimiliki anak di rumah 3) Seberapa besar pengaruh masalah terhadap aktivitas anak g. Riwayat penyakit dan persyarafan 1) Cytitis current chronic recurrent 2) Terdapat infeksi saluran kemih atau tidak 3) Riwayat penyakit lainnya h. Faktor risiko i. Pemeriksaan fisik j. Pemeriksaan penunjang 1) Urinalisa Pemeriksaan urinalisa dapat menyingkirkan infeksi saluran kemih sebagai penyebab enuresis. Selain itu, peningkatan osmolaritas urin serta glukosuria dapat menjadi petunjuk adanya diabetes sebagai penyebab terjadinya enuresis. 2) Kultur urin Pemeriksaan kultur urin juga dapat digunakan untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih sebagai penyebab enuresis. 3) Ultrasonografi saluran kemih dan uroflowmetri Indikasi dilakukannya pemeriksaan ini apabila terjadi enuresis dan adanya gangguan pengosongan urin.

2. Diagnosa dan Intervensi a. Diagnosa 1 Gangguan Pola eliminasi enuresis b.d stress Tujuan : Anak dapat mengontrol pola berkemihnya

Kriteria hasil: 1) Anak tidak mengompol lagi 2) Keluarga mengetahui hal-hal yang harus dilakukan untuk mencegah enuresis pada anak Intervensi: 1) Mengkaji riwayat gangguan eliminasi di keluarga
12

Rasional: Mendapatkan informasi apakah ada keluarga yang mengalami masalah ginjal atau pun riwayat enuresis 2) Mengkaji bagaimana manajemen dan pengaruh mengompol anak pada keluarga Rasional: Melihat seserius apa masalah tersebut bagi keluarga, apa yang dilakukan ketika anak mengompol, apa saja pengobatan yang sudah dipakai. 3) Mengkaji faktor-faktor pencetus enuresis Rasional: Mendapatkan informasi terkait stressor pencetus enuresis yang dapat digunakan untuk perencanaan intervensi 4) Mengurangi intake cairan di malam hari dan sebelum tidur Rasional: Untuk menghindari enuresis di malam hari 5) Mengajak anak untuk buang air kecil sebelum tidur Rasional: Pengosongan kandung kemih sebelum tidur dapat menghindari enuresis di malam hari 6) Melatih bladder exercise pada anak Rasional: Anak diberikan minum dalam jumlah banyak kemudian menahan berkemih selama yang dapat dan berlatih menghentikan aliran urinnya, hal ini dilakukan untuk melatih menahan berkemihnya 7) Menjadwalkan berkemih anak dengan diberikan alarm yang menandakan waktu berkemih (toilet training) Rasional: Ketika sudah saatnya berkemih anak akan menuju kamar mandi dan berkemih sehingga enuresis dapat dihindari 8) Memberikan hadiah jika anak tidak mengompol di malam hari Rasional: Pemberian reinforcement positif dapat meningkatkan motivasi anak dalam mengatur pola berkemihnya 9) Mengatur pola diet anak Rasional: Beberapa makanan dapat mengganggu bladder dan meningkatkan masalah mengompol anak 10) Kolaborasi: pemberian obat ditropan (antikolinergik), desmopressin, tofranil (antidepresan) Rasional: Antikolinergik: menghambat pengosongan bladder. Antidepresan: mengurangi kedalaman tidur di malam hari. Desmopressin: meningkatkan retensi air

13

b. Diagnosa 2 Harga diri rendah situasional b.d enuresis Tujuan: Anak akan: 1) Menilai dirinya secara realistis tanpa penilaian negatif 2) Mengungkapkan secara verbal dan mendemonstrasikan perasaan positif 3) Menunjukkan adaptasi yang sehat dan kemampuan koping Intervensi 1) Hindari perkataan baik atau tidak baik untuk menggambarkan perilaku 2) Sampaikan optimisme dengan penilaian diri positif 3) Bantu anak untuk membuat perencanaan bermain dengan pilihan. Dorong melakukan permainan yang menghasilkan sesuatu, misalnya kerajinan tangan 4) Dorong interaksi dengan teman sebaya atau orang dewasa yang bisa mendukung anak

c. Diagnosa 3 Gangguan tumbuh kembang b.d ketidakadekuatan dukungan orang tua (pengabaian dan kekerasan) Tujuan : Anak dapat memenuhi tugas tumbuh kembangnya

Kriteria Hasil : 1) Anak dapat memenuhi tugas tumbuh kembangnya 2) Perkembangan moral, psikolososial, psikoseksual dan kognitif sesuai usia Intervensi 1) Diskusikan dengan orang tua perawatan yang dibutuhkan anak 2) Memberikan proyek kerajinan yang anak dapat menyelesaikan setiap hari atau setiap minggu 3) Memberikan pilihan aktivitas di luar sekolah yang bersifat pengembangan skill, seperti olahraga, seni musik, seni lukis atau seni tari 4) Menghindari memarahi anak jika anak tidak mampu melakukan sesuatu atau berbuat salah 5) Menjelaskan tahap tumbuh kembang anak usia sekolah 6) Menjelaskan stressor dan dampaknya pada perkembangan anak 7) Menyarankan orang tua untuk menyediakan waktu interaksi dengan anak

14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Enuresis merupakan keluarnya urin yang involunter di tempat tidur (biasanya di malam hari) atau pada pakaian di siang hari dan terjadi pada anak-anak, yang usianya secara normal, telah memiliki kendali terhadap kandung kemih secara volunter. Enuresis lebih umum terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Etiologi enuresis antara lain penyebab organik, seperti gangguan struktural saluran kemih, infeksi saluran kemih, defisit neurologis, gangguan yang meningkatkan haluaran normal urin (seperti diabetes dan gangguan yang mengganggu kemampuan ginjal kronis atau penyakit sel sabit). Enuresis juga dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional. Etiologi enuresis seperti yang terdapat pada kasus Nino adalah faktor emosional atau psikologis. Nino merupakan anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, sehingga harapan orang tuanya besar terhadapnya. Oleh karena itu pola asuh ayah Nino menjadi keras dan menyebabkan stress pada Nino. Stres akibat ayah Nino yang sering memarahi Nino, memberikan pengaruh terhadap tugas perkembangan dan pola eliminasi urin Nino. Gangguan tugas perkembangan ini, menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang yang ditandai dengan masih mengompolnya Nino, walaupun usia Nino sudah sembilan tahun.

B. Saran Anak usia sekolah, normalnya sudah tidak mengalami enuresis. Namun, stress pada anak sekolah dapat menimbulkan enuresis. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak menerapkan didikan yang keras pada anak karena hal tersebut akan menjadi stressor bagi anak. Sebaiknya, orang tua mendidik anak dengan menunjukkan kasih sayang dan bersahabat dengan anak. Selain itu, orang tua juga sebaiknya mendukung dan membantu anak dalam mencaai tugas perkembangan anak. Jika enuresis masih terjadi pada anak usia sekolah, perawat bersama dengan orang tua dapat mengatasinya dengan cara non farmakologik, seperti toilet training dan pemberian motivasi pada anak, maupun kolaborasi dengan pemberian terapi farmakologik.

15

DAFTAR PUSTAKA
Ackley, Betty J., Ladwig, Gail B. (2011). Nursing diagnosis handbook: an evidence-based guide to planning care. (9th Ed). St Louis, Missouri: Mosby Elsevier Anonim. (2010). Artikel Susahnya mengontrol buang air kecil (enuresis). Styel sheet: www.imsj.globalkrching.com. (diakses tanggal 25 April 2011). Carpenito, Juall Lynda. (1997). Nursing Diagnosis: application to clinical practice. (7th Ed). Philadelphia: Lippincott. Carpenito, Juall Lynda. (2002). Diagnosis keperawatan:aplikasi pada praktik klinis. (Ed 9). Jakarta: EGC. Carpenito, Juall Lynda. (2008). Nursing Diagnosis: application to clinical practice. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Meadow, Roy & Newell, Simon. (2005). Lecure notes pediatrika. (Ed 7). Jakarta: Penerbit Erlangga. Sjaifullah. (2006). Enuresis. Style sheet: http://www.pediatrik.com/pkb/0610220219502krg132.pdf. (diunduh 9 Mei 2010). Wong, Donna L. (2003). Nursing care of infants and children. (7th Ed). St. Louis: Mosby Wong, Donna. (2009). Buku ajar keperawatan pediatrik. (Vol 1). Jakarta: EGC

16