MASSA KISTIK LEHER

Kista Celah Brakial Kista celah brakial merupakan sisa aparatus brakial janin yang tertinggal dimana seluruh struktur leher berasal. Muncul pada masa remaja akhir atau masa dewasa muda. Pada awal perkembangan terdapat 5 arkus brakial dan 4 sulkus pada embrio. Pertumbuhan yang cepat dari arkus pertama dan kedua dan tonjolan epiperikardial (bakal otot sternokleidomastoideus) menenggelamkan arkus brakialis ketiga dan keempat dan celah brakial kedua, ketiga, dan keempat ke dalam kavitas yang besar yang dikenal sebagai sinus servikal His. Oleh karena itu, sebagian besar kista celah brakial (berkembang dari arkus kedua, ketiga dan keempat) biasanya terdapat sebagai tonjolan atau muara saluran sinus sepanjang batas anterior muskulus sternokleidomastoideus. Kista celah brakial kedua paling sering terjadi, berjalan antara arteri karotis interna dna eksterna, di atas saraf hipoglosus, dan memasuki faring pada fosa tonsilaris. Kista ini biasanya terdapat di antara usia 20-30 tahun sebagai massa yang licin, tidak begitu nyeri, membesarnya lambat yang terletak pada leher bagian lateral. Peradangan kista merupakan penyebab gejala-gejala pertama. Bila terinfeksi, tampak sebagai massa yang nyeri, inflamasi di batas anterior muskulus sternokleidomastoideus. Pengobatan terdiri dari pengangkatan dengan pembedahan yang sempurna dari kista beserta salurannya. Jika terdapat infeksi atau peradangan, sebaiknya diobati dan dibiarkan sampai tenang sebelum dilakukan pengangkatan.

Kista Duktus Tiroglosus Kelenjar tiroid pertama kali tampak sebagai divertikulum ventral garis tengah dari dasar faring tepat di distal perlekatan arkus brakial pertama dan kedua yang dikenal sebagai foramen sekum. Tiroid yang berkembang pindah ke distal sepanjang saluran yang melewati ventral korpus hioid kemudian membelok di bawahnya dan turun sampai tingkat kartilago krikoidea. Kista duktus tiroglosus merupakan sisa dari saluran ini yang tertinggal. Oleh karena itu merupakan kista yang terletak di garis tengah yang ditemukan dimana saja di antara dasar lidah dan batas superior kelenjar tiroid. Seperti kista brakialis, kista duktus tiroglosus asimtomatik kecuali terinfeksi pada keadaan infeksi saluran nafas atas. Lokasinya dapat bervariasi, beberapa lebih lateral (di superior hyoid) atau setingkat dengan kelenjar tiroid. Kista yang letaknya bukan di garis tengah ini dapat sulit dibedakan dengan kista celah brakial. Tanda pathognomoniknya adalah gerakan vertikal massa dengan dilakukannya gerakan menelan atau mengeluarkan lidah, karena hubungan dengan tulang hyoid. Terapi yang dilakukan adalah operasi eksisi kista duktus tiroglosus dengan prosedur Sistrunk. Kista dieksisi beserta jaringan sekitarnya, termasuk bagian tengah tulang hyoid. Hati-

Neck Masses. dan sensasi benda asing. terapinya berupa (1) dekompresi menggunakan bantuan laringoskop untuk lesi yang kecil. Laringocele Laringocele merupakan dilatasi abnormal atau herniasi sakulus laring. dyspnea. terletak di daerah submental. Kista Dermoid Kista dermoid berasal dari epitel yang terperangkat di jaringan yang lebih dalam. In Lalwani AK. eksternal (sampai lebih dari kartilago tiroid dan menonjol melalui membran tirohyoid menyebabkan massa di lateral leher). atau endoskopi laser. disfagia.hati jangan sampai mencederai nervus hipoglosus. Deschler DG. batuk. Infeksi sekunder laringokel dinamakan laringopyoele. Eksisi merupakan terapi pilihan. Pada laringoskopi terlihat dilatasi pada daerah plika ventrikularis meliputi plika ventrikularis dan lipatan aryepiglotika. menjadi massa di submental. Sumber: Lin DT. Terapinya eksisi massa beserta glandula sublingual. United States: Mc. Gejala yang ada adalah serak. atau kombinasi. 2008. dan kombinasi. CT scan berguna untuk mengkonfirmasi diagnosis dan melihat luasnya invasi lesi. h. Munculnya dari glandula sublingual dan dikatakan plunging ketika meluas melalui otot mylohyoid ke leher. Karena ada kemungkinan kecil karsinoma tiroid mengenai kista ini. Current Diagnosis and Treatment Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd edition. Biasanya muncul sebagai massa leher mobile di midline. tidak nyeri. Bila simtomatik. tidak nyeri. Plunging Ranula Plunging ranula merupakan mukokel atau kista retensi dasar mulut yang berkembang perlahan. 397-407. maka setelah operasi harus dilakukan pemeriksaan histologis. . Laringocele diklasifikasinya menjadi 3 tipe: internal (dilatasi dalam batar kartilago tiroid). (2) eksisi melalui pembedahan terbuka untuk massa yang lebih besar (hati-hati mencederai nervus laringeal superior). Graw & Hill. baik saat embriogenesis maupun karena implantasi traumatik.

Staphylococcus sp. . abses parafaring. Terapinya adalah dengan antibiotika dosis tinggi secara parenteral. Mungkin terdapat muntah /regurgitasi. dan minum. dan angina Ludovici. sinus paranasal. indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibula. c. Trismus sering ditemukan. seperti gigi. tenggorok. biasanya pada sisi yang sama juga terjadi nyeri telinga. b. Selain itu dilakukan pungsi dan insisi abses melalui laringoskopi langsung dalam posisi pasien baring trendelenburg. Bacteroides atau campuran. Uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontra laterar..ABSES LEHER Abses leher dalam terbentuk dalam ruang potensial antara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber. suara berguman dan kadang-kadang sukar membuka mulut (trismus). Abses Retrofaring Gejala utama abses retrofaring adalah rasa nyeri dan sukar menelan. rasa nyeri menyebabkan anak menangis terus. Mikroorganisme penyebabnya antara lain Streptococcus sp. Mukosa terlihat bengkak dan hiperemis. d. Pda anak kecil. Pada pemeriksaan fisik terdapat palatum molle membengkak dan menonjol agak kedepan teraba fluktuasi. Abses parafaring Gejala dan tanda utama adalah trismus. Abses submandibula Terdapat demam dan nyeri leher disertai pembengkakan dibawah mandibula atau dibawah lidah. Gejala dan tanda klinik biasanya berupa nyeri dan pembengkakn di ruang leher dalam yang terlibat. Abses peritonsilar Gejalanya adalah terdapat odinofagi (nyeri menelan). demam tinggi. Pada dinding belakang faring terlihat benjolan. Juga terdapat demam. halitosis. mungkin berfluktuasi.. abses retrofaring. abses submandibula. Terapinya adalah antibiotik dosis tinggi dan insisi dari luar dan intra oral. Terapinya adalah dengan antibiotik golongan penisilin dan klindamisin dan obat simtomatik. leher kaku dan nyeri. tidak mau makan. hipersalivasi. dan leher. a. mulut. biasanya unilateral. telinga tengah. Abses leher dalam dapat berupa: abses peritonsil. pembengkakan dinding lateral faring sehingga menonjol keluar. dapat timbul sesak nafas karena sumbatan jalan nafas terutama di hipofaring. Terapinya adalah antibiotik dosis tinggi dan insisi abses.

Gejala berupa nyeri tenggorok dan leher. Terapi dengan antibiotika dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob secara parenteral. Insisi dilakukan di garis tengah secara horizontal setinggi os hyoid (3-4 jari di bawah mandibula). 226-30. . Iskandar N. sehingga keras pada perabaan submandibula. Abses Leher Dalam. Soepardi EA. pembengkakan daerah submandibula. Dasar mulut membengkak dapat mendorong lidah ke atas dan belakang sehingga timbul sesak nafas karena ada sumbatan jalan napas. Bashiruddiin J. h. dan evakuasi pus. tampak hiperemis dan keras pada perabaan. tidak membentuk abses. Angina Ludovici Infeksi ruang submandibula berupa selulitis dengan tanda khas pembengkakan seluruh ruang submandibula. Tenggorok. Jakarta: BP-FLUI. Restuti RD. Hidung. eksplorasi untuk dekompresi. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Sumber: Fachruddin D. Kepala & Leher edisi keenam. Pasien dirawat inap sampai infeksi reda.e.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful