Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dalam bidang kedokteran gigi, khususnya bidang periodonsia, dikenal istilah perawatan non bedah periodontal. Perwatan non bedah periodontal yang disebut juga terapi fase I atau terapi inisial adalah terapi dengan cara menghilangkan beberapa faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik. Tujuan utama perawatan periodontal tidak hanya menghentikan penyakit periodontal, tetapi juga menggantikan bagian jaringan penyangga yang mengalami kerusakan). Keberhasilan perawatan periodontal sangat bergantung kepada kesempurnaan dalam menghilangkan keradangan gingiva, perdarahan gingiva, mengurangi kedalaman poket, menghentikan proses infeksi, menghentikan pembentukan pus, menghentikan kerusakan jaringan lunak dan tulang, mengurangi kegoyangan gigi, memperbaiki fungsi oklusi, memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan, mencegah rekurensi penyakit, serta mengurangi hilangnya gigi-geligi. Serta dapat meramalkan regenerasi jaringan periodontium pada sisi yang mengalami kerusakan. Regenerasi yang diharapkan antara lain terbentuknya sementum, ligamentum periodontal dan tulang alveolar. Proses regenerasi jaringan, perbaikan jaringan, pembentukan perlekatan baru, merupakan aspek yang terdapat pada proses penyembuhan setelah perawatan periodontal. Regenerasi jaringan periodontium merupakan proses fisiologis yang terus berlanjut. Dari penjelasan tersebut, kita diharapkan bisa mengetahui fase-fase dalam terapi periodontal, perawatan yang dilakukan pada terapi periodontal fase I, pengertian dan dasar pemikiran (indikasi/kontraindikasi) scaling dan root planning, evaluasi (respon jaringan) setelah dilakukan perawatan non bedah
1

periodontal, serta pengendalian faktor etiologi sekunder. Sehingga nantinya kita dapat mengaplikasikan pengetahuan yang telah kita dapatkan secara praktek dengan cara yang tepat kepada masyarakat. 1.2 Rumusan Masalah
1. 2. 3.

Apa sajakah fase-fase dalam terapi periodontal? Apa sajakah perawatan yang dilakukan pada terapi periodontal fase I? Bagaimanakah pengertian dan dasar pemikiran (indikasi/kontraindikasi) Bagaimanakah evaluasi (respon jaringan) setelah dilakukan perawatan Bagaimanakah pengendalian faktor etiologi sekunder?

scaling dan root planning?


4.

non bedah periodontal?


5.

1.3 1.

Tujuan Mampu menjelaskan mengenai fase-fase dalam terapi periodontal.

2. Mampu menjelaskan perawatan yang dilakukan pada terapi periodontal fase I. 3. Mampu menjelaskan pengertian dan dasar pemikiran (indikasi/ kontraindikasi)

scaling dan root planning. 4. 5. Mampu menjelaskan evaluasi (respon jaringan) setelah perawatan non bedah periodontal. Mampu menjelaskan pengendalian faktor etiologi sekunder.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tujuan utama perawatan periodontal tidak hanya menghentikan penyakit periodontal, tetapi juga menggantikan bagian jaringan penyangga yang mengalami kerusakan. Keberhasilan perawatan periodontal sangat bergantung pada kesempurnaan dalam menghilangkan keradangan gingiva, perdarahan gingiva, mengurangi kedalaman poket, menghentikan proses infeksi, menghentikan pembentukan pus, menghentikan kerusakan jaringan lunak dan tulang, mengurangi kegoyangan gigi, memperbaiki fungsi oklusi, memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan, mencegah rekurensi penyakit, serta mengurangi hilangnya gigi-geligi. Perawatan periodontal meliputi beberapa fase yang saling berhubungan yaitu fase preliminary, fase 1, evaluasi respon fase 1, fase 2, fase 3, evaluasi respon fase 3, dan fase 4. Fase preliminary terdiri dari perawatan kasus darurat periodontal dan pencabutan gigi dengan progonis tidak ada harapan untuk dipertahankan. Terapi fase I (fase etiotropik) merupakan perawatan periodontal yang tidak melibatkan bedah, terdiri dari DHE, skaling, root planning, koreksi restorasi dan protesa yang mengiritasi, terapi antimikrobial (lokal atau sistemik), dan terapi oklusal (penyelarasan oklusal). Evaluasi respons fase I terdiri dari pengecekan kembali kedalaman saku dan inflamasi gingival, plak, kalkulus dan karies. Terapi fase II (fase bedah) terdiri dari bedah periodontal, perawatan saluran akar. terapi fase III (fase restoratif) terdiri dari restorasi final, gigi tiruan cekat dan lepasan. Evalusi respons terhadap fase 3 teriri dari pemeriksaan periodontal. Terapi fase IV (fase pemeliharaan / terapi periodontal suportif) terdiri dari kunjungan berkala, pengkntrolan plak dan kalkulus.

Terapi Periodontal Fase 1 Fase I yaitu fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan beberapa faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik.
3

Beberapa prosedur yang dilakukan pada fase I :


Memberi pendidikan pada pasien tentang kontrol plak, Scaling dan root

planning Perawatan karies dan lesi endodontic


Menghilangkan restorasi gigi yang over kontur dan over hanging Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment) Splinting temporer

Perawatan ortodontik Evaluasi respon terapi fase I, koreksi terhadap deformitas anatomikal seperti poket periodontal, kehilangan gigi dan disharmoni oklusi Pada fase I, DHE atau dental health education merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh para petugas kesehatan dan pasien atau masyarakat yang bertujuan untuk mendapatkan keadaaan tubuh yang sehat dan rongga mulut yang sehat khususnya. Beberapa hal yang dilakukan dalam DHE yaitu : 1. Menyajikan informasi tentang kesehatan kepada masyarakat, biasanya dengan cara penyuluhan, dan diharapkan agar masyarakat mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak mengenai kesehatan gigi dan mulut sehingga menjadi awal untuk melakukan usaha kesehatan.
2. Kontrol plak, meliputi usaha dalam membersihkan rongga mulut baik dengan

menggunakan sikat gigi, obat kumur maupun dengan dental floss. Teknik menyikat gigi bermacam-macam di antaranya metode roll, metode bass, scrub brush technic, charters technic, dan stillman Mc.Call technic Skaling adalah suatu proses dimana plak dan kalkulus di hilangkan baik dari permukaan supraginggiva maupun subgingiva gigi. Dan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan atau mengurangi substansi gigi yang tertutup kalkulus.

Root planning adalah proses dimana kalkulus yang tertanam pada akar gigi dan sebagian sementum (sementum yang nekrosis) dihilangkan dari akar gigi untuk menghasilkan permukaan gigi yang keras, bersih dan licin. Tujuan utama skaling dan root planning adalah untuk mengembalikan atau memulihkan kesehatan gingiva dengan jalan menghilangkan secara menyeluruh factorfaktor yang dapat menimbulkan inflamasi yaitu plak, kalkulus, dan sementum yang telah berubah (tidak normal). Skaling dan root planning bukan merupakan prosedur yang terpisah, prinsip-prinsip yang berlaku pada skaling juga berlaku untuk root dan planning. Perbedaannya hanyalah terletak pada derajat materinya saja. Alat atau instrumen periodontal yang dibutuhkan pada skaling dan rootplaning ada yang manual dan ultrasonik. 1. Peralatan manual terdiri dari 3 bagian, yakni handle (pegangan), shank (penghubung antara handle dan blade), serta pisau (ujung kerja). Berikut macam instrumen yang biasa digunakan : 1. Sikle Sering digunakan untuk skaling daerah supraginggiva karena apabila digunakan pada daerah subginggiva seringkali dapat menyebabkan kerusakan epithelium sulkular. Desain shank yang lurus digunakan untuk skaling anterior, sedangkan shank yang bengkok digunakan untuk skaling anterior dan posterior.

2.

Kuret Kuret mempunyai tepi ganda, pisau membentuk sendok yang membengkok sesuai dengan bentuk permukaan gigi. Sebagian besar permukaan dapat
5

dijangkau dengan sepasang kuret. Karena ukuran yang kecil dan bentuk pisaunya, kuret dapat dimasukkan ke bawah tepi gingiva dan bila perlu dapat digunakan untuk membersihkan permukaan gigi dan mengkuret jaringan lunak gingiva secara bergantian. 3. Hoe Digunakan untuk meratakan dan menghaluskan permukaan akar gigi, menghilangkan sisa-sisa kalkulus dan sementum yang rusak. Waktu digunakan pisau diinsersikan perlahan ke bawah tepi gingia dengan menjaga agar shank sejajar sumbu gigi; pisau kemudian ditekankan ke permukaan gigi di apikal deposit kalkulus dan ditarik ke arah koronal sehingga kalkulus terlepas. 4. File Desain file serupa dengan hoe, namun kini file tidak banyak digunakan untuk scaling dan rootplaning karena ukurannya dan menyebabkan permukaan 5. Chisel Digunakan untuk mendorong atau menggiring kalkulus interproksimal yang keras, biasanya di daerah proksimal gii anterior bawah, tidak dianjurkan untu skaling rootplaning 2. Skaler ultrasonik Vibrasi ultrasonik, misalnya di atas kisaran pendengaran normal dapat digunakan untuk membersihkan deposit gigi dan mengkuret jaringan lunak. Ujung khusus yang biasanya berbentuk seperti kuret, digunakan bersama semprotan air juga memberi efek detergen yang membantu pembersihan. Alat diaplikasikan pada gigi dengan gerak menyapu ringan. Berbeda dengan alat manual, skaler ultrasonik digunakan tanpa disertai sensasi tactile, sehingga perlu dijaga agar tidak terjadi tekanan yang terlalu besar. Skaler ultrasonik akar menjadi kasar. File kadang digunakan untuk menghilangkan margin restorasi yang overhanging

dapat digunakan untuk membersihkan stain dan semen gigi. Skaler harus digunakan dengan hati-hati untuk restorasi keramik. (Manson, J.D. 1993. Buku Ajar Periodonti. Jakarta : Hipokrates)

BAB III PEMBAHASAN

MAPPING
PEMERIKSAAN (anamnesa, riwayat kesehatan klinis roentgen, lab)

Perawatan fase 1: Inisial Non bedah Kontrol inflamasi DHE Scalling & Root Planning Anti Mikroba Penatalaksana an Oklusal dan Stabilitas Evaluasi

Prognos a Perawatan Fase 2: Bedah Persiapan Sebelum Bedah Kuretase Gingivektomi Operkulektomi Post Bedah: Medikasi Instruksi Perawatan Fase 3: Perawatan Periodontal Suportif

Dasar Pemikir an Indikasi & Kontrai ndikasi Prosedur

Evaluasi

3.1.1.

Fase- Fase Terapi Periodontal

Perawatan periodontal meliputi beberapa fase antara lain:

1. Fase I

Adalah fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan beberapa faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik. 2. Fase II Merupakan kelanjutan dari evaluasi respon terapi fase I yang berkembang sebagai suatu hasil dari penyakit sebelumnya dan menjadi faktor predisposisi atau rekurensi dari penyakit periodontal. Beberapa prosedur yang dilakukan pada fase ini antara lain :

bedah periodontal untuk mengeliminasi poket dengan cara kuretase gingiva, gingivektomi prosedur bedah flap periodontal rekonturing tulang (bedah tulang) prosedur regenerasi periodontal (bone and tissue graft). penempatan implant serta perawatan endodontik.

3.

Fase III (fase restoratif) dengan melakukan antara lain : pembuatan restorasi tetap dan alat prostetik yang ideal untuk gigi yang hilang evaluasi respon terhadap terapi fase III dengan pemeriksaan periodontal

4. Fase IV (fase pemeliharaan)

dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada penyakit periodontal sehingga perlu dilakukan kontrol periodik. Beberapa prosedur dalam fase ini antara lain : riwayat medis dan riwayat gigi pasien re-evalusi kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan mencatat skor plak ada tidaknya inflamasi gingiva, kedalaman poket dan mobilitas gigi melakukan radiografi untuk mengetahui perkembangan periodontal dan tulang alveolar tiap 3 atau 4 tahun sekali skaling dan polishing tiap 6 bulan sekali, tergantung dari efektifitas kontrol plak pasien dan pada kecenderungan pembentukan kalkulus, aplikasi tablet fluoride secara topikal untuk mencegah karies. keinginan dan kemampuan pasien dalam memelihara diri sendiri selama fase perawatan merupakan langkah yang paling penting.

FASE I

FASE I

REEVALUASI

REEVALUASI

FASE II
Bedah periodontal

FASE II
Bedah periodontal

FASE IV FASE III


restoratif restoratif FASE IV pemeliharaan 10 FASE II FASE III pemeliharaan

Diagram I

Diagram II

Pada diagram I terlihat setelah fase 1, kemudian reevaluasi, lalu fase II, dan seterusnya. Hal ini terjadi jika setelah perawatan fase 1, tidak mengalami perbaikan jaringan periodontal sehingga diperlukan terapi bedah. Sedangkan pada diagram II terlihat setelah fase 1, reevaluasi, lalu lanjut ke fase IV, dan seterusnya. Hal ini terjadi bila keadaan pasien setelah dilakukan perawatan tipe I, mengalami keberhasilan, terdapat perbaikan jaringan. Jadi, langsung lanjut pada fase IV (pemeliharaan). Namun, pada saat pasien kembali melakukan kebiasaan buruknya atau tidak menjaga oral higine dengan baik, maka penyakit periodontal mengalami kekambuhan yang parah, sehingga diperlukan perawatan bedah dan atau restoratif.

3.1.2.

Dasar Pemikiran Scaling dan Root Planning Scalling Indikasi 1. Menghilangkan penyakit periodontal 2. Menghilangkan kalkulus supra dan subgingiva Kontraindikasi 1. Communicable disease

11

Pasien dengan communicable disease yang dapat menular melalui aerosol seperti tubercolosis. Kerentanan terhadap infeksi. Mengenali pasien dengan kerentanan terhadap infeksi.

Contohnya : immunosupresif dari penyakit atau kemoterapi, diabetes tidak terkontrol, penuaan, atau penyakit ginjal serta transplantasi organ.

2. Resiko pernafasan Pasien dengan resiko pernafasan. Bahan septic dan mikroorganisme dari biofilm dan poket periodontal dapat masuk ke paru-paru. Riwayat penyakit pulmonal kronis, termasuk asma, emphysema, atau cystic fibrosis. Riwayat penyakit kardiovaskuler dengan penyakit pulmonal sekunder atau gannguan pernafasan. Kesulitan mengunyah. Pasien dengan gangguan pengunyahan atau mulutnya mudah tersumbat.
-

Contohnya : amyotropic, lateral sclerosis, paralysis, multiple sclerosis.

3. Kondisi oral : - Daerah terdemineralisasi : getaran ultrasonic dapat menghilangkan lapisan tipis yang mengalami remineralisasi dari daerah yang terdemineralisasi. Permukaan dentin yang terbuka : struktur gigi dapat terkikis dan menyebabkan sensitivitas, smear layer dapat dihilangkan dan tubulus dentin terbuka, sehingga dapat meningkatkan sensitivitas atau memperparah sensitivitas.
-

Pada anak-anak : Jaringan yang masih muda, sedang berkembang sangat sensitive terhadap getaran ultrasonic. Gigi permanen yang baru tumbuh masih

12

memiliki ruang pulpa yang lebar. Getaran dan panas yang dihasilkan alat skeler ultrasonic dapat merusak jaringan pulpa. Rootplanning Indikasi : 1. Nekrosis jaringan sementum 2. Kedalaman poket periodontal lebih dari 4 mm Kontraindikasi 1. Pasien yang mengalami penyakit atau kondisi keradangan dan adanya abses 2. Kalkulus yang meluas hingga ke apikal dan mucogingival juunctional Untuk menghilangkan dental plak dan kalkulus perlu dilakukan scalling atau root planing, yang merupakan terapi periodontal konvensional atau non-surgikal. Terapi ini selain mencegah inflamasi juga membantu periodontium bebas dari penyakit. Prosedur scaling menghilangkan plak, kalkulus, dan noda dari permukaan gigi maupun akarnya. Prosedur lain adalah root planing, terapi khusus yang menghilangkan cementum dan permukaan dentin yang ditumbuhi kalkulus, mikroorganisme, serta racunracunnya. Scalling dan root planing digolongkan sebagai deep cleaning, dan dilakukan dengan peralatan khusus seperti alat ultrasonik, seperti periodontal scaler dan kuret. 3.1.3. Respon Jaringan Setelah Perawatan Periodontal Non Bedah

Respon jaringan terhadap skaling yang akurat bervariasi. Ada beberapa akibat yang mungkin terjadi: 1. Dinding poket dapat menyusut seluruhnya

13

Keadaan ini cenderung terjadi bila poket dangkal dan elemen inflamasi pada dinding poket lebiih dominan daripada komponen jaringan fibrosa. Keadaan ini biasa terlihat pada pasien muda usia dimana dinding poket sedalam 6mm dapat menyusut seluruhnya 2. Dengan redanya inflamasi, bundle kolagen dari sitem serabut gingival akan terbentuk kembali sehingga gingival cuffberkontraksi terhadap permukaan gigi dan epithelium krevikular pulih serta membentuk perlekatan epithelium panjang yang berhubungan dengan permukaan gigi melalui hemidesmosom. Jadi gingival cuff akan terbentuk yang tidak terdukung oleh tulang. Keintegritasan cuff ini tergantung pada panjang perlekatan, kekuatan perlekatan terhadap gigi, kekuatan bundle kolagen dari serabut gingival dan tingkat kebersihan mulut. Bila inflamasi akibat plak timbul kembali, cuff akan dengan cepat kolaps. 3. Sedikit penyusutan dari dinding poket dan poket tetap ada Keadaan ini paling sering terjadi bila poket dalam dan dindingnya terutama terdiri dari jaringan fibrosa 4. Seringkali respon gingival merupakan kombinasi dari kemungkinan tersebut Derajat reduksi poket setelah skaling dan root planning harus diperiksa sebelum ditentukan apakah perlu dilakukan perawatan operasi. Berikan jeda waktu 6 bulan sebelum dilakukan pemeriksaan ulang untuk mengkaji perlunya tindakan operasi.

3.1.4.

Pengendalian Faktor Etiologi Sekunder

Berdasarkan peranannya dalam menimbulkan penyakit, faktor etiologi penyakit gingival dan periodontal diklasifikasikan sebagai berikut :
14

Faktor etiologi primer, berupa plak dental/ plak bakteri Faktor etiologi sekunder/ pendorong, yang mempengaruhi efek dari faktor

primer

Berdasarkan keberadaanya:

Faktor etiologi lokal/ ekstrinsik Faktor lokal adalah faktor yang berakibat langsung pada jaringan periodonsium; dapat dibedakan dalam dua bagian yaitu faktor iritasi lokal dan fungsi lokal. Yang dimaksud dengan faktor lokal adalah plak bakteri sebagai penyebab utama. Faktor-faktor lainnya antara lain adalah bentuk gigi yang kurang balk dan letak gigi yang tdak teratur, maloklusi, malfungsi gigi, over hanging restoration dan bruksisme. Faktor tersebut dinamakan faktor ekstrinsik karena berada di luar jaringan periodonsium.

Faktor sistemik/ intrinsic Faktor sistemik sebagai penyebab penyakit periodontal antara lain adalah pengaruh hormonal pada masa pubertas, kehamilan, menopause, defisiensi vitamin, diabetes mellitus dan lain-lain. Faktor sistemik adalah faktor yang berkaitan dengan kondisi umum pasien. Faktor sistemik dinamakan juga faktor intrinsic karena berada dalam tubuh pasien.

Perawatan periodontal tidak menjamin akan penyembuhan secara menyeleruh. Kekambuhan penyakit periodontal dapat terjadi pada pasien oleh karena beberapa factor. Pada beberapa pasien, kekambuhan sering terjadi dan pada
15

beberapa kasus justru terdapat tingkat keparahan yang melebihi pada saat sebelum dilakukan perawatan. Gejala- gejala akan terjadinya kekambuhan antara lain : Kegoyangan gigi meningkat Resesi gingiva Kegoyangan gigi meningkat tanpa perubuhan Probing depth dan radiografis Kedalaman Probing depth meningkat (dengan atau tanpa perubahan radiografis) Penyebab terjadinya kekambuhan tersebut merupakan etiologi sekunder, antara lain: o o o o Perawatan yang kurang adekuat Penempatan restorasi yang kurang adekuat Ketidakpatuhan Pasien untuk memenuhi kunjungan periodik Pasien tidak melanjutkan perawatan Drg kurang menjelaskan pentingnya kontrol periodik Adanya kelainan sistemik yang mempengaruhi respon host

Pengendalian tersebut pada umumnya dilakukan pada fase pemeliharaan. Oleh karena itu dokter gigi sebaiknya menyarankan pasien untuk melakukan kunjungan periodik. Kunjungan Periodik
16

Tahun pertama :

Kunjungan periodik tidak lebih 3 bulan Tahun selanjutnya : Dibedakan Klas A, B dan C Tergantung keparahan periodontal Dapat dilakukan GP atau Spesialis

1.

Kunjungan Periodik Tahun I Dilakukan perawatan rutin tiap 3 bulan 1-2 bulan diindikasikan untuk pasien dengan masalah seperti: Kasus sulit dengan komplikasi protesa, FI, ratio mahkota:akar

kurang, kekooperatifan Px meragukan 2. Kunjungan Periodik Kelas A baik OH baik, kalkulus minimal Tidak ada gangguan oklusi, protesa Tidak ada poket
17

Dilakukan setiap 6 bulan 1 tahun, diindikasikan untuk: Hasil fase perawatan sempurna dan dapat dipertahankan dengan

3.

Tidak ada gigi dengan sisa tlg alveolar kurang dari 50%

Kunjungan Periodik Klas B Dilakukan setiap 3 - 4 bulan, diindikasikan untuk: Hasil fase perawatan baik yang dapat dipertahankan selama 1

tahun lebih 4. OH buruk, pembentukan kalkulus parah Ada kelainan sistemik Masih terdapat poket, 20 % BOP (+) Terdapat problem oklusi, protesa, terapi ortodonsi Terdapat gigi dengan sisa tlg alveolar kurang dari 50% Perokok Karies kambuhan Tes genetik atau riwayat keluarga positif

Kunjungan Periodik Klas C Dilakukan setiap 1-3 bulan, diindikasikan pada pasien: Hasil buruk setelah perawatan periodontal OH buruk, pembentukan kalkulus parah Ada kelainan sistemik Masih terdapat poket, 20 % BOP (+)
18

Terdapat problem oklusi, protesa, tx orto Banyak gigi dengan sisa tulang alveolar kurang dari 50% Perokok Karies kambuhan Tes genetik atau riwayat keluarga (+) Indikasi bedah perio tp tdk dilakukan ok alasan medis,

psikologis atau finansial

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan: 1. Terapi periodontal meliputi berbagai fase, antara lain: a. Fase I yaitu fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan beberapa faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik. b. Fase II adalah kelanjutan dari evaluasi respon terapi fase I yang berkembang sebagai suatu hasil dari penyakit sebelumnya dan menjadi faktor predisposisi atau rekurensi dari penyakit periodontal. c. d. Fase III (fase restoratif) Fase IV (fase pemeliharaan) dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada penyakit periodontal sehingga perlu dilakukan kontrol periodik.

19

2. Terapi fase I meliputi:


a.

Memberi pendidikan pada pasien tentang kontrol plak, Scaling dan root planning

b.
c. d. e.

Perawatan karies dan lesi endodontic Menghilangkan restorasi gigi yang over kontur dan over hanging Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment) Splinting temporer

Perawatan ortodontik Evaluasi respon terapi fase I, koreksi terhadap deformitas anatomikal seperti poket periodontal, kehilangan gigi dan disharmoni oklusi

3. Respon jaringan terhadap skaling yang akurat bervariasi. Ada beberapa akibat yang mungkin terjadi: 1. 2. Dinding poket dapat menyusut seluruhnya Dengan redanya inflamasi, bundle kolagen dari sitem serabut gingival akan terbentuk kembali sehingga gingival cuffberkontraksi terhadap permukaan gigi dan epithelium krevikular pulih serta membentuk perlekatan epithelium panjang yang berhubungan dengan permukaan gigi melalui hemidesmosom. 3. 4. Sedikit penyusutan dari dinding poket dan poket tetap ada Seringkali respon gingival merupakan kombinasi dari kemungkinan tersebut

20

DAFTAR PUSTAKA

Manson, J.D. 1993. Buku Ajar Periodonti. Jakarta : Hipokrates. Newman, MG dkk. 2006. Carranzas Clinical Periodontology. Tenth edition. St Louis : Saunders Elsevier

21