Anda di halaman 1dari 24

sistem rujukan sistem rujukan

Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu system jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertical maupun horizontalke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional, dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Tujuan system rujukan adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu. Terdapat dua jenis istilah rujukan, yaitu rujukan medik dan rujukan kesehatan. 1. Rujukan medic, yaitu pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul baik secara vertical maupun horizontalkepada yang lebih berwenang dan mampu menanganinya secara rasional. Jenis rujukan medic a) Transfer of patient . Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostic, pengobatan, tindakan operatif dll b) Transfer of specimen . Pengiriman bahan (specimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap c) Transfer of knowledge / personal. Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan pengobatan setempat 2. Rujukan kesehatan, yaitu hubungan dalam pengiriman , pemeriksaan bahan atau specimen ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan yang sifatnya preventif dan promotif. Tata laksana rujukan 1. Internal antar- petugas di satu rumah 2. Antara puskesmas pembantu dan puskesmas 3. Antara masyarakat dan puskesmas 4. Antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya 5. Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. 6. Internal antar-bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit. 7. Antara rumah sakit, laboratorium, atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. B ( Bidan ), pastikan ibu/ klien/ bayi didampingi oleh tenaga kesehatan yang komponen dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kegawatdaruratan. A ( Alat ) Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti spuit, infuse, set, tensimeter, dan stetoskop. K ( keluarga ) Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu (klien) dan alas an mengapa ia dirujuk. Suami dan anggota keluarga lain harus menemani ibu ( klien) ketempat rujukan. S (surat) Beri surat ke tempat rujukan yang berisi identifikasi ibu (klien), aslasan rujukan, uraian hasil rujukan, asuhan atau obat- obatan yang telah diterima ibu (klien). O (obat)

Bawa obat- obat esensial diperlukan selama perjalanan merujuk. K (kendaraan) Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk memungkinkan ibu dalam kondisi yang nyaman dan dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu yang cepat. U (uang) Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan kesehatan yang diperlukan ditempat rujukan. Jika upaya penanggulangan diberikan di tempat rujukan dan kondisi ibu telah memungkinkan, segera kembalikan klien ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebih dahulu member hal-hal berikut : 1. Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penanggulangannya. 2. Nasihat yang perlu diperhatikan. 3. Pengantar tertulis ke fasilitas pelayanan kesehatan mengenai kondisi pasien, upaya penanggulangan yang telah diberikan dan saran- saran. RUJUKAN KEBIDANAN Sistem rujukan dalam mekanisme pelayanan obstetri adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbale-balik atas kasus atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertical maupun horizontal. Rujukan vertical, maksudnya adalah rujukan dan komunikasi antara satu unit ke unit yang telah lengkap. Misalnya dari rumah sakit kabupaten ke rumah sakit provinsi atau rumah sakit tipe C ke rumah sakit tipe B yang lebih spesialistik fasilitas dan personalianya. Rujukan horizontal adalah konsultasi dan komunikasi antar-unit yang ada dalam satu rumah sakit, misalnya antara bagian kebidanan dan bagian ilmu kesehatan anak. Tujuan rujukan 1. Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-baiknya. 2. Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap fasilitasnya. 3. Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skill) melalui pendidikan dan pelatihan antara pusat dan daerah. Kegiatan 1. Rujukan dan pelayanan kebidanan 2. Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap. 3. Rujukan khusus patologis pada kehamilan, persalinan, dan nifas. 4. Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus ginekologi atau kontrasepsi, yang memerlukan penanganan spesialis. 5. Pengiriman bahan laboratorium. 6. Jika penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan kirimkan ke unit semula, jika parlu disertai dengan keterangan yang lengkap (surat balasan). Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan 1. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus, dan demontrasi operasi. 2. Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan mereka ke rumah sakit pendidikan, juga dengan mengundang tenaga medis dalam kegiatan lmiah yang diselenggarakan tingkat provinsi atau ilustrasi pendidikan.

Rujukan informasi medis 1. Membalas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim. 2. Menjalin kerjasama dalam system pelaporan data-data parameter pelayanan kebidanan, terutama mengenai kematian maternal dan prenatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka-angka secara regional dan nasional. Keuntungan system rujukan 1. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah, dan secara psikologi member rasa aman pada pasien dan keluarganya 2. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga semakin banyak kasus yang dapat dikelola di daerah masingmasing. 3. Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli Indikasi perujukan ibu 1. Riwayat seksio sesaria 2. Perdarahan pervaginam 3. Persalinan kurang bulan(usia kehamilan kurang dari 37 mgg) 4. Ketuban pecah dengan mekonium yang kental 5. Ketuban pecah lama (kurang lebih 24jam) 6. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan 7. Ikterus 8. Anemia berat 9. Tanda /gejala infeksi 10. Preeklamisa/hipertensi dalam kehamilan 11. Tinggi fundus 40cm atau lebih 12. Gawat janin 13. Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih 5/5 14. Presentasi bukan belakang kepala 15. Kehamilan gemeli 16. Presentasi majemuk 17. Tali pusat menumbung 18. syok

DAFTAR PUSTAKA Curtis,G.B.2002. Tanya Jawab Seputar Kehamilan. Jakarta. Hanifa, W. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Irma. 2008. Tanda Bahaya Kehamilan. http:// www.masdanang.co.cc Juni 20, 3:50 am Kusmiyati, Y. DKK. 2008. Perawatan Ibu Hamil. Jakarta Masdanang.2008. Tanda Bahaya Kehamilan. http:// www.masdanang.co.cc June 20, 2008 3:41 am Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta. EGC Nurweni, 2009. Gambaran Tingkat pengetahuan Ibu Hamil Primigravida Trimester I Tentang Tanda Bahaya Kehamilan di RB Citra Prasasti I Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo.

Karya Tulis Ilmiah. Prawirohardjo, 2001. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Diposkan oleh profile diri di 20:59 0 komentar Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Pertolongan Pertama Pada Korban Gigitan Ular BERBISA


Pertolongan Pertama Pada Korban Gigitan Ular BERBISA

Jika anda berpergian ke dalam hutan dan tergigit ular, hal pertama yang harus dilakukan adalah : JANGAN PANIK, lalu coba jauhi ular itu dan jangan melakukan aktivitas/gerakan yang dapat mempercepat detak jantung. Berusaha untuk tetap sadar dan mengingat warna serta bentuk ular yang menggigit anda, apabila memungkinkan bunuh ular itu untuk dibawa ke medis. Setelah itu kenali ciri-ciri luka akibat gigitan ular berbisa yaitu : Luka gigitan terdapat 2 titik yang nyata ! Efek gigitan ular beracun bervariasi tergantung jenis racunnya namun efek umum yang timbul antara lain : - Pembengkakan pada luka diikuti perubahan warna. - Rasa sakit di seluruh persendian tubuh. - Mulut terasa kering dan mata berkunang-kunang. - Demam, menggigil. - Selanjutnya anda akan muntah dan pinggang terasa pegal akibat ginjal berusaha membersihkan darah. Tindakan Pertolongan Pertama SATU, Posisikan bagian tubuh yang luka lebih rendah dari posisi jantung. DUA, Ikat diatas luka sampai berkerut setiap 10 menit dan kendorkan 1 menit. TIGA, Buat luka baru sedalam 1 cm dengan menggunakan pisau, cutter atau silet. Ingat, buat sayatan luka baru vertikal terhadap luka gigitan. EMPAT, Keluarkan darah sebanyak mungkin dari sayatan baru itu dan jangan mengeluarkan darah dengan menyedot dari mulut karena racun dapat mengkontaminasi mulut bahkan resiko tertelan.

LIMA, Lakukan proses pengeluran darah berulang-ulang hingga warna darah yang keluar berubah dari merah kehitaman menjadi merah segar. ENAM, Segera pergi ke dokter terdekat, jangan lupa menceritakan apabila anda alergi terhadap obat tertentu. Tidak semua gigitan ular berbisa memiliki ciri-ciri diatas dan pada kasus gigitan ular seperti ular weling , ular laut dan ular pudak seruni penanganannya berbeda karena mereka memiliki spesifikasi racun berbeda. Diposkan oleh profile diri di 20:54 0 komentar Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Pertolongan Pertama Ketika Tubuh Bayi Kemasukan Benda Asing

Pertolongan Pertama Ketika Tubuh Bayi Kemasukan Benda Asing

Anda harus waspada telinga si kecil kemasukan benda asing jika anak mengeluhkan rasa sakit pada telinganya, pendengaran si kecil terganggu, si kecil merasa ada sesuatu di dalam telinganya, serta keluarnya cairan dari dalam telinga. Langkah pertama yang harus Anda lakukan jika telinga si kecil kemasukan benda asing adalah melihat seberapa jauh benda tersebut masuk ke dalam liang telinganya. Bagaimana caranya?

1. Cegah si kecil menggunakan jemarinya atau alat bantu yang lain untuk mengorek liang telinganya (walaupun dengan maksud untuk mengeluarkan benda asing tersebut). Karena tindakan ini justru dapat menyebabkan telinga menjadi luka/ bengkak, berujung pada semakin sulitnya mengeluarkan benda asing dari dalam telinga. 2. Cegah si kecil agar tidak menggaruk bagian dalam telinga yang terasa gatal. Tindakan tersebut akan membawa benda asing tersebut masuk lebih jauh ke dalam telinga. 3. Miringkan kepalanya ke sisi yang berlawanan dari telinga yang kemasukkan benda asing. Periksalah posisi benda yang masuk ke dalam telinganya. Diposkan oleh profile diri di 20:51 0 komentar Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

pertolongan pertama pada kecelakaan tersiram air panas


Pertolongan pertama jika tersiram Air Panas Terinspirasi dari kejadian yang menimpa anaknya uni Erny, teman sekantor, kejadiannya kirakira 2 bulan yang lalu ketika tiba-tiba Alif anaknya uni yang pertama tersiram air panas dari ember mandinya, kejadiannya begitu cepat, hanya beberapa detik ditinggalkan si bunda di kamar mandi, bang Alif sedang mengamati proses pengembunan air yang dihasilkan dari air panas, tiba-tiba saja mendapat ide bahwa air yang di ember sudah sehangat air embun yang ada ditangannya, alhasil... habislah badannya dia dari mulai leher sampai ke atas perut. Karena panik sang bunda cepat-cepat mengoleskan gel pendingin (bioplacenton) dan membawa ke UGD. Tetapi ternyata karena tindakan yang kurang tepat tersebut maka disekujur badannya menggelembung kulit yang berisi air dimana menuru sang bunda untuk mengeringkan dan menngobati luka bakar itu perlu 3 kali ke ruang operasi. Padahal menurut beberapa bahan bacaan yang berkaitan dengan First Aid, yang harus dilakukan pertama jika mendapati musibah tersiram air panas yaitu dengan cepat meredamnya dengan cara merendam bagian yang tersiram dengan air dingin biasa atau dibawah pancuran air mengalir sampai suhu tubuh normal baru bisa dioles dengan gel bioplacenton. Berikut dari milis tetangga :
Perhatikan kondisi luka yang dialami si kecil. Karena, tidak semua anak dengan luka bakar tersiram air panas perlu dibawa ke dokter. Luka tersiram air panas termasuk luka bakar. Nah, untuk memudahkan perawatan, perlu juga diketahui beratnya luka bakar tersebut. Tentukan berat ringannya Beratnya luka bakar dibagi menjadi tiga derajat, yaitu: Luka bakar derajat satu , jika kulit yang tersiram air panas memerah dan terasa nyeri. Biasanya, sembuh dalam waktu seminggu. Luka bakar derajat dua , bila kulit memerah, nyeri, serta timbul juga gelembung (melepuh). Ini berarti ada kerusakan pada lapisan kulit, otot, dan lemak. Umumya, bisa sembuh dalam waktu dua minggu, bila tanpa infeksi. Luka bakar derajat tiga , kalau timbul kerusakan yang lebih dalam lagi. Badan yang terkena akan tampak hangus atau kehitaman. Jangan panik

Memang, siapa sih yang tidak kaget mendengar jeritan kesakitan si kecil akibat tersiram air panas? Sebaiknya segera atasi perasaan itu, agar Anda bisa memberi pertolongan pertama padanya. Bila bagian tubuh yang tersiram air panas tidak tertutup pakaian, langsung siram secara perlahan-lahan dengan air putih dingin sekitar 10 menit. Bila yang tersiram adalah bagian tubuh yang tertutup pakaian, siram langsung bagian tersebut. Setelah itu, baru buka pakaian si kecil dengan hati-hati. Bila ini sulit dilakukan, gunting saja pakaian atau celana yang dipakainya, lalu siram lagi bagian yang terluka itu dengan air dingin. Kompreslah dengan kain bersih yang diberi air dingin sampai rasa sakitnya berkurang. Anda boleh memberinya parasetamol atau asetaminofen untuk mengurangi rasa sakit si kecil. Tutup/balut bagian tubuh yang terluka dengan kain kassa steril untuk menghindari kemungkinan terjadinya infeksi. Sebelumnya, oleskan salep khusus untuk luka bakar atau salep antibiotik. Jangan balut luka terlalu kencang, dan balutan harus melebihi bagian yang luka. Kapan harus ke dokter? Pada luka bakar derajat pertama, sebenarnya Anda tidak perlu membawa si kecil ke dokter. Apalagi, bila Anda merasa mampu atau yakin untuk melakukan pertolongan pertama padanya. Namun, pada luka bakar dengan derajat lebih tinggi, mengenai muka dan mata atau bagian tubuh yang luas (lebih dari 20%), ia harus cepat-cepat dibawa ke dokter atau Unit Gawat Darurat. Juga, periksakan segera si kecil ke dokter bila rasa sakitnya tidak hilang setelah 2 hari. Selain merusak kulit dan jaringan setempat, luka bakar juga bisa mengakibatkan hilangnya cairan dan elektrolit. Akibatnya, darah jadi lebih kental. Nah, keadaan ini bisa menimbulkan syok. Itu sebabnya, pengobatan terhadap luka bakar meliputi obat setempat untuk kulit, obat antiinfeksi, obat penghilang nyeri, dan cairan (pada kasus yang berat perlu dipasang infus). Dewi Handajani Konsultasi ilmiah: dr. Hj. Siti Komariah, Bagian Unit Gawat Darurat, RS Islam Cempaka Putih, Jakarta.

Diposkan oleh profile diri di 20:49 0 komentar Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

pada Kecelakaan Lalu Lintas


Kamis, 02-06-2011

P3K pada Kecelakaan Lalu Lintas


Tergugah dengan cerita tentang peristiwa tabrak lari yang beberapa waktu lalu ditulis oleh Mas

Yulius Haflan di Wikimu, maka saya ingin berbagi amunisi pertolongan pertama pada kecelakaan kepada rekan-rekan semua. Siapa tahu suatu waktu Anda berada di TKP dan tergerak ingin menolong korban. Terkadang rasa enggan untuk menolong korban selain karena masalah lagi buru-buru dikejar waktu pribadi, keamanan diri dll, disebabkan pula karena tidak tahu pasti apa yang bisa dilakukan kepada korban. Jadi setelah membaca tulisan ini, Anda tidak ada alasan lagi enggan menolong karena masalah terakhir tersebut. Kecelakaan lalu lintas secara umum penampilannya dibagi dua: pertama pasien sadar dan terjadi luka ringan atau perdarahan; dan kedua adalah pasien tidak sadarkan diri dengan luka lain apapun. Pertolongan pada pasien dengan perdarahan dan sadar tentunya lebih tidak membuat puyenk kepala, pasien biasanya punya inisiatif sendiri misalnya untuk ke rumah sakit atau pindah lokasi ke tempat yang lebih aman. Pada tipe pertama ini upaya kita adalah menenangkan korban serta menghentikan perdarahan. Sebelum menenangkan korban tentunya kita wajib menenangkan diri sendiri dulu, jadi majulah serta berbicara pada korban tanpa menonjolkan kepanikan, hal ini penting untuk membuat korban merasa safe dan lukanya dapat diatasi, bukan akhir segalanya. Perdarahan sendiri diatasi dengan cara menekan sumber perdarahannya dengan kuat selama beberapa waktu, dengan menggunakan kain yang relatif bersih. Selanjutnya untuk mengoptimalkan penghentian perdarahan, bagian tubuh yang berdarah contohnya kaki kanan, maka ditinggikan (diangkat) dengan cara mengganjal kaki kanan saat penderita ditidurkan. Jika perdarahan masih berlangsung, ikatlah pangkal kaki kanan tersebut dengan kain yang cukup lebar (jangan yang sempit dan menekan terlalu keras) serta kirim pasien ke UGD terdekat dalam posisi kaki agak diangkat selama dalam transportasi. Jangan pernah membubuhkan luka dengan serbuk apapun seperti kopi, bedak atau apapupun karena perbuatan itu justru mendatangkan resiko perlambatan penyembuhan serta infeksi. Penyebab resiko berbahaya pada penderita perdarahan adalah kehabisan darah sehingga sistem jantung-sirkulasi gagal beredar dengan cukup. Jadi infus adalah penting pada perdarahan yang nyata, oleh karena itu sistem transportasi yang baik ke rumah sakit terdekat diperlukan. Penderita yang tidak sadarkan diri penanganannya relatif berbeda dan darurat. Ketika menghadapi penderita semacam ini, yang pertama dilakukan adalah cek kesadaran penderita, misalnya menepuk-nepuk bahu sambil memanggil namanya. Jika tidak ada respon, berarti penderita dalam penurunan kesadaran relatif berat (kecuali jika penderita habis minum alcohol jumlah besar). Selanjutnya penderita perlu dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, misalnya dari tengah jalan ke tepian bawah pohon yang rindang. Yang perlu diperhatikan adalah cara mengangkat penderita. Jangan pernah mengangkat penderita sendirian karena hal itu menyebabkan kepala penderita terkulai ke belakang saat diangkat. Hal ini sangat berbahaya! Penderita dengan luka pada kepala, daerah tubuh bagian atas, atau lukamultipel (banyak tempat) harus selalu dianggap ada keterlibatan cedera tulang leher. Tulang leher itu melindungi persarafan bagi bernapas spontan,oleh karena itu jika memindahkan pasien secara sembrono tanpa menopang kepalanya, alih-alih menyelamatkan penderita tetapi malah menghantarkan ia lebih cepat ke dunia lain karena pernapasannya yang terhenti. Berikutnya aturlah supaya massa tidak mengumpul di sekeliling korban, supaya udara segar dapat dihirup korban. Jangan lupa meminta seseorang menghubungi nomor ambulan darurat 118 atau langsung mempersiapkan transportasi sendiri ke RS terdekat. Pada korban tidak sadar yang dibaringkan terlentang, umumnya lidah akan jatuh ke belakang dan

menutupi kerongkongan akibatnya menutup jalan napas. Tanpa penutupan sebagian adalah terdengarnya suara seperti orang ngorok. Hal ini harus segera diatasi yaitu dengan cara mendongakkan kepala pasien dengan mengangkat dagunya. Posisi ini ditahan selama pasien terbaring. Tindakan selanjutnya memerlukan keahlian lebih lagi yaitu melihat, mendengarkan, dan merasakan apakah korban bernapas dengan cukup. Jika pernapasan tidak memadai, pernapasan buatan mulut ke mulut harus diberikan 2 kali. Lalu cek nadi di leher dilakukan, jika nadi absen segeralah kompresi dada 30 kali diikuti napas buatan lagi 2 kali, begitu seterusnya hingga pertolongan datang. Semua hal di atas harus dimulai sebelum memasuki menit ke-4 sejak kejadian, sebab tanpa napas lebih dari 4 menit, kematian sudah di ambang pintu, atau sudah terjadi kecacatan menetap pada otak. Apabila korban masih bernapas spontan dan nadi cukup, maka cukup posisi kepala dongak saja yang penting kita pertahankan. Selain itu saat berbaring sebaiknya posisi kaki korban sedikit diangkat dengan diganjal semacam tas untuk memperlancar aliran darah balik ke jantung. Atau korban dapat diposisikan tiduran menyamping (pada satu sisi) dengan catatan tidak ada cedera leher. Sebenarnya tanpa peralatan yang memadai dan obat-obatan, upaya kita dalam menangai korban yang cedera berat sangat terbatas, tetapi setidaknya kita sebagai manusia sudah melakukan kewajiban kita untuk mengasihi sesama semampu kita. Dan Anda tidak akan pernah menduga seberapa bahagia Anda jika pertolongan Anda itu berhasil menyelamatkan nyawa seseorang di tepi jalan karena tidak ada yang lebih indah dalam hidup Anda dibandingkan pernah menyelamatkan nyawa seseorang. Membunuh itu gampang, menyelamatkan nyawa itu terbatas. Diposkan oleh profile diri di 20:36 0 komentar Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA

PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA


I. PENDAHULUAN Kegiatan Alam Terbuka (KAT) adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan di lokasi yang masih alami baik berupa hutan, perbukitan, pantai dll. Kegiatan di alam terbuka saat ini banyak dilakukan oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif wisata, kegiatan pendidikan dan bahkan penelitian. Selain untuk tujuan-tujuan tersebut, kegiatan ini juga bermanfaat untuk mengenal Kebesaran Illahi melalui keajaiban alam yang merupakan ciptaan-Nya berupa berbagai keneragaman hayati yang sangat beraneka ragam yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Namun dalam pelaksanaanya, kegiatan ini ternyata memiliki resiko yang cukup tinggi. Karena tidak seperti kegiatan wisata lainnya yang didukung oleh fasilitas yang menunjang keselamatan pelaku atau pengunjung, Kegiatan Alam Terbuka justru sangat rentan terjadinya kecelakaan karena memang kegiatan ini dilaksanakan ditempat yang masih alami seperti kondisi perbukitan terjal, jurang, aliran sungai yang deras, dan kondisi alam lainnya yang berpotensi menimbulkan bahaya dan juga mempersulit upaya penyelamatan bagi korban atau penderita.

Meskipun bukan suatu hal yang diharapkan, kecelakaan (accident) memerlukan langkah antisipatif yang diantaranya dengan mengetahui atau mendiagnosa penyakit maupun akibat kecelakaan, penanganan terhadap korban dan evakuasi korban bila diperlukan. Hal ini memerlukan pengetahuan agar korban tidak mengalami resiko cidera yang lebih besar. II. DEFINISI Pertolongan Pertama (PP) adalah perawatan pertama yang diberikan kepada orang yang mendapat kecelakaan atau sakit yang tiba-tiba datang sebelum mendapatkan pertolongan dari tenaga medis. Ini berarti: 1. Pertolongan Pertama harus diberikan secara cepat walaupun perawatan selanjutnya tertunda. 2. Pertolongan Pertama harus tepat sehingga akan meringankan sakit korban bukan menambah sakit korban. III. DASAR-DASAR PERTOLONGAN PERTAMA Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita sembuh dari penyakit yang dialami. Pertolongan Pertama biasanya diberikan oleh orang-orang disekitar korban yang diantaranya akan menghubungi petugas kesehatan terdekat. Pertolongan ini harus diberikan secara cepat dan tepat sebab penanganan yang salah dapat berakibat buruk, cacat tubuh bahkan kematian. Namun sebelum kita memasuki pembahasan kearah penanggulangan atau pengobatan terhadap luka, akan lebih baik kita berbicara dulu mengenai pencegahan terhadap suatu kecelakaan (accident), terutama dalam kegiatan di alam bebas. Selain itu harus kita garis bawahi bahwa situasi dalam berkegiatan sering memerlukan bukan sekedar pengetahuan kita tentang pengobatan, namun lebih kepada pemahaman kita akan prinsip-prinsip pertolongan terhadap korban. Sekedar contoh, beberapa peralatan yang disebutkan dalam materi ini kemungkinan tidak selalu ada pada setiap kegiatan, aka kita dituntut kreatif dan mampu menguasai setiap keadaan. a. Prinsip Dasar Adapun prinsip-prinsip dasar dalam menangani suatu keadaan darurat tersebut diantaranya: 1. Pastikan Anda bukan menjadi korban berikutnya. Seringkali kita lengah atau kurang berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum kita menolong korban, periksa dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih dalam bahaya. 2. Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efesien. Hindarkan sikap sok pahlawan. Pergunakanlah sumberdaya yang ada baik alat, manusia maupun sarana pendukung lainnya. Bila Anda bekerja dalam tim, buatlah perencanaan yang matang dan dipahami oleh seluruh anggota. 3. Biasakan membuat cataan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah Anda lakukan, identitas korban, tempat dan waktu kejadian, dsb. Catatan ini berguna bila penderita mendapat rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain. b. Sistematika Pertolongan Pertama

Secara umum urutan Pertolongan Pertama pada korban kecelakaan adalah : 1. Jangan Panik Berlakulah cekatan tetapi tetap tenang. Apabila kecelakaan bersifat massal, korban-korban yang mendapat luka ringan dapat dikerahkan untuk membantu dan pertolongan diutamakan diberikan kepada korban yang menderita luka yang paling parah tapi masih mungkin untuk ditolong. 2. Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya. Pentingnya menjauhkan dari sumber kecelakaannya adalah untuk mencegah terjadinya kecelakan ulang yang akan memperberat kondisi korban. Keuntungan lainnya adalah penolong dapat memberikan pertolongan dengan tenang dan dapat lebih mengkonsentrasikan perhatiannya pada kondisi korban yang ditolongnya. Kerugian bila dilakukan secara tergesa-gesa yaitu dapat membahayakan atau memperparah kondisi korban. 3. Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban. Bila pernafasan penderita berhenti segera kerjakan pernafasan bantuan. 1. Pendarahan. Pendarahan yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3-5 menit. Dengan menggunakan saputangan atau kain yang bersih tekan tempat pendarahan kuatkuat kemudian ikatlah saputangan tadi dengan dasi, baju, ikat pinggang, atau apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. Kalau lokasi luka memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh. 5. Perhatikan tanda-tanda shock. Korban-korban ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari letak anggota tubuh yang lain. Apabila korban muntah-muntah dalm keadaan setengah sadar, baringankan telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh yang lainnya. Cara ini juga dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak muntahan, darah, atau air dalam paru-parunya. Apabila penderita mengalami cidera di dada dan penderita sesak nafas (tapi masih sadar) letakkan dalam posisi setengah duduk. 6. Jangan memindahkan korban secara terburu-buru. Korban tidak boleh dipindahakan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis dan keparahan cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi korban dibiarkan ditempat tersebut. Apabila korban hendak diusung terlebih dahulu pendarahan harus dihentikan serta tulang-tulang yang patah dibidai. Dalam mengusung korban usahakanlah supaya kepala korban tetap terlindung dan perhatikan jangan sampai saluran pernafasannya tersumbat oleh kotoran atau muntahan. 7. Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan. Setelah dilakukan pertolongan pertama pada korban setelah evakuasi korban ke sentral pengobatan, puskesmas atau rumah sakit. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama hanyalah sebagai life saving dan mengurangi kecacatan, bukan terapi. Serahkan keputusan tindakan selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis yang berkompeten. IV. KASUS-KASUS KECELAKAAN ATAU GANGGUAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA Berikut adalah kasus-kasus kecelakaan atau gangguan yang sering terjadi dalam kegiatan di alam terbuka berikut gejala dan penanganannya:

a. Pingsan (Syncope/collapse) yaitu hilangnya kesadaran sementara karena otak kekurangan O2, lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga, dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), hiploglikemia, animea. Gejala

Perasaan limbung Pandangan berkunang-kunang Telinga berdenging Nafas tidak teratur Muka pucat Biji mata melebar Lemas Keringat dingin Menguap berlebihan Tak respon (beberapa menit) Denyut nadi lambat

Penanganan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Baringkan korban dalam posisi terlentang Tinggikan tungkai melebihi tinggi jantung Longgarkan pakaian yang mengikat dan hilangkan barang yang menghambat pernafasan Beri udara segar Periksa kemungkinan cedera lain Selimuti korban Korban diistirahatkan beberapa saat Bila tak segera sadar >> periksa nafas dan nadi >> posisi stabil >> Rujuk ke instansi kesehatan

b. Dehidrasi yaitu suatu keadaan dimana tubuh mengalami kekurangan cairan. Hal ini terjadi apabila cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi cairan yang masuk. Keluarnya cairan ini biasanya disertai dengan elektrolit (K, Na, Cl, Ca). Dehidrasi disebabkan karena kurang minum dan disertai kehilangan cairan/banyak keringat karena udara terlalu panas atau aktivitas yang terlalu berlebihan. Gejala dan tanda dehidrasi Dehidrasi ringan

Defisit cairan 5% dari berat badan Penderita merasa haus Denyut nadi lebih dari 90x/menit

Dehidrasi sedang

Defisit cairan antara 5-10% dari berat badan Nadi lebih dari 90x/menit Nadi lemah

Sangat haus

Dehidrasi berat

Defisit cairan lebih dari 10% dari berat badan Hipotensi Mata cekung Nadi sangat lemah, sampai tak terasa Kejang-kejang

Penanganan

1. 2. 3. 4. 5.

Mengganti cairan yang hilang dan mengatasi shock mengganti elektrolit yang lemah Mengenal dan mengatasi komplikasi yang ada Memberantas penyebabnya Rutinlah minum jangan tunggu haus

c. Asma yaitu penyempitan/gangguan saluran pernafasan. Gejala


Sukar bicara tanpa berhenti, untuk menarik nafas Terdengar suara nafas tambahan Otot Bantu nafas terlihat menonjol (dileher) Irama nafas tidak teratur Terjadinya perubahan warna kulit (merah/pucat/kebiruan/sianosis) Kesadaran menurun (gelisah/meracau)

Penanganan 1. 2. 3. 4. 5. Tenangkan korban Bawa ketempat yang luas dan sejuk Posisikan duduk Atur nafas Beri oksigen (bantu) bila diperlukan

d. Pusing/Vertigo/Nyeri Kepala yaitu sakit kepala yang disebabkan oleh kelelahan, kelaparan, gangguan kesehatan dll. Gejala

Kepala terasa nyeri/berdenyut Kehilangan keseimbangan tubuh Lemas

Penanganan

1. 2. 3. 4.

Istirahatkan korban Beri minuman hangat beri obat bila perlu Tangani sesuai penyebab

e. Maag/Mual yaitu gangguan lambung/saluran pencernaan. Gejala


Perut terasa nyeri/mual Berkeringat dingin Lemas

Penanganan 1. Istirahatkan korban dalam posisi duduk ataupun berbaring sesuai kondisi korban 2. Beri minuman hangat (teh/kopi) 3. Jangan beri makan terlalu cepat f. Lemah jantung yaitu nyeri jantung yang disebabkan oleh sirkulasi darah kejantung terganggu atau terdapat kerusakan pada jantung. Gejala

Nyeri di dada Penderita memegangi dada sebelah kiri bawah dan sedikit membungkuk Kadang sampai tidak merespon terhadap suara Denyut nadi tak teraba/lemah Gangguan nafas Mual, muntah, perasaan tidak enak di lambung Kepala terasa ringan Lemas Kulit berubah pucat/kebiruan Keringat berlebihan

Tidak semua nyeri pada dada adalah sakit jantung. Hal itu bisa terjadi karena gangguan pencernaan, stress, tegang. Penanganan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tenangkan korban Istirahatkan Posisi duduk Buka jalan pernafasan dan atur nafas Longgarkan pakaian dan barang barang yang mengikat pada badan Jangan beri makan/minum terlebih dahulu Jangan biarkan korban sendirian (harus ada orang lain didekatnya)

f. Histeria yaitu sikap berlebih-lebihan yang dibuat-buat (berteriak, berguling-guling) oleh korban; secara kejiwaan mencari perhatian. Gejala

Seolah-olah hilang kesadaran Sikapnya berlebihan (meraung-raung, berguling-guling di tanah) Tidak dapat bergerak/berjalan tanpa sebab yang jelas

Penanganan 1. 2. 3. 4. Tenangkan korban Pisahkan dari keramaian Letakkan di tempat yang tenang Awasi

g. Mimisan yaitu pecahnya pembuluh darah di dalam lubang hidung karena suhu ekstrim (terlalu panas/terlalu dingin)/kelelahan/benturan. Gejala

Dari lubang hidung keluar darah dan terasa nyeri Korban sulit bernafas dengan hidung karena lubang hidung tersumbat oleh darah Kadang disertai pusing

Penanganan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bawa korban ke tempat sejuk/nyaman Tenangkan korban Korban diminta menunduk sambil menekan cuping hidung Diminta bernafas lewat mulut Bersihkan hidung luar dari darah Buka setiap 5/10 menit. Jika masih keluar ulangi tindakan Pertolongan Pertama

h. Kram yaitu otot yang mengejang/kontraksi berlebihan. Gejala


Nyeri pada otot Kadang disertai bengkak

Penanganan 1. 2. 3. 4. Istirahatkan Posisi nyaman Relaksasi Pijat berlawanan arah dengan kontraksi

i. Memar yaitu pendarahan yang terdi di lapisan bawah kulit akibat dari benturan keras.

Gejala

Warna kebiruan/merah pada kulit Nyeri jika di tekan Kadang disertai bengkak

Penanganan 1. Kompres dingin 2. Balut tekan 3. Tinggikan bagian luka J. Keseleo yaitu pergeseran yang terjadi pada persendian biasanya disertai kram. Gejala

Bengkak Nyeri bila tekan Kebiruan/merah pada derah luka Sendi terkunci Ada perubahan bentuk pada sendi

Penanganan 1. 2. 3. 4. Korban diposisikan nyaman Kompres es/dingin Balut tekan dengan ikatan 8 untuk mengurangi pergerakan Tinggikan bagian tubuh yang luka

k. Luka yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba-tiba karena kekerasan/injury. Gejala

Terbukanya kulit Pendarahan Rasa nyeri

Penanganan 1. 2. 3. 4. Bersihkan luka dengan antiseptic (alcohol/boorwater) Tutup luka dengan kasa steril/plester Balut tekan (jika pendarahannya besar) Jika hanya lecet, biarkan terbuka untuk proses pengeringan luka

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangani luka: 1. Ketika memeriksa luka: adakah benda asing, bila ada:

Keluarkan tanpa menyinggung luka Kasa/balut steril (jangan dengan kapas atau kain berbulu) Evakuasi korban ke pusat kesehatan 2. Bekuan darah: bila sudah ada bekuan darah pada suatu luka ini berarti luka mulai menutup. Bekuan tidak boleh dibuang, jika luka akan berdarah lagi. l. Pendarahan yaitu keluarnya darah dari saluran darah kapan saja, dimana saja, dan waktu apa saja. Penghentian darah dengan cara 1. Tenaga/mekanik, misal menekan, mengikat, menjahit dll 1. Fisika:

o o o

Bila dikompres dingin akan mengecil dan mengurangi pendarahan Bila dengan panas akan terjadinya penjedalan dan mengurangi

1. Kimia: Obat-obatan 2. Biokimia: vitamin K 3. Elektrik: diahermik m. Patah Tulang/fraktur yaitu rusaknya jaringan tulang, secara keseluruhan maupun sebagian Gejala

Perubahan bentuk Nyeri bila ditekan dan kaku Bengkak Terdengar/terasa (korban) derikan tulang yang retak/patah Ada memar (jika tertutup) Terjadi pendarahan (jika terbuka)

Jenisnya

Terbuka (terlihat jaringan luka) Tertutup

Penanganan 1. Tenangkan korban jika sadar Untuk patah tulang tertutup 1. 1. Periksa Gerakan (apakah bagian tubuh yang luka bias digerakan/diangkat) Sensasi (respon nyeri) Sirkulasi (peredaran darah)

1. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Ukur bidai disisi yang sehat Pasang kain pengikat bidai melalui sela-sela tubuh bawah Pasang bantalan didaerah patah tulang Pasang bidai meliputi 2 sendi disamping luka Ikat bidai Periksa GSS

Untuk patah tulang terbuka 1.Buat pembalut cincin untuk menstabilkan posisi tulang yang mencuat 2.Tutup tulang dengan kasa steril, plastik, pembalut cincin 3.Ikat dengan ikatan V 4.Untuk selanjutnya ditangani seperti pada patah tulang tertutup

1. Tujuan Pembidaian 1. 1. 1. 2. 3. 4. Mencegah pergeseran tulang yang patah memberikan istirahat pada anggota badan yang patah mengurangi rasa sakit Mempercepat penyembuhan

n. Luka Bakar yaitu luka yangterjadi akibat sentuhan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api, air panas, listrik, atau zat-zat yang bersifat membakar) Penanganan 1. Matikan api dengan memutuskan suplai oksigen 2. Perhatikan keadaan umum penderita 3. Pendinginan

Membuka pakaian penderita/korban Merendam dalam air atau air mengalir selama 20 atau 30 menit. Untuk daerah wajah, cukup dikompres air

1. Mencegah infeksi o Luka ditutup dengan perban atau kain bersih kering yang tak dapat melekat pada luka o Penderita dikerudungi kain putih o Luka jangan diberi zat yang tak larut dalam air seperti mentega, kecap dll 2. Pemberian sedative/morfin 10 mg im diberikan dalam 24 jam sampai 48 jam pertama 3. Bila luka bakar luas penderita diKuasakan

4. Transportasi kefasilitasan yang lebih lengkap sebaiknya dilakukan dalam satu jam bila tidak memungkinkan masih bisa dilakukan dalam 24-48 jam pertama dengan pengawasan ketat selama perjalanan. 5. Khusus untuk luka bakar daerah wajah, posisi kepala harus lebih tinggi dari tubuh. o. Hipotermia yaitu suhu tubuh menurun karena lingkungan yang dingin Gejala

Menggigil/gemetar Perasaan melayang Nafas cepat, nadi lambat Pandangan terganggu Reaksi manik mata terhadap rangsangan cahaya lambat

Penanganan 1. 2. 3. 4. 5. Bawa korban ketempat hangat Jaga jalan nafas tetap lancar Beri minuman hangat dan selimut Jaga agar tetap sadar Setelah keluar dari ruangan, diminta banyak bergerak (jika masih kedinginan)

p. Keracunan makanan atau minuman Gejala


Mual, muntah Keringat dingin Wajah pucat/kebiruan

Penanganan 1. 2. 3. 4. 5. Bawa ke tempat teduh dan segar Korban diminta muntah Diberi norit Istirahatkan Jangan diberi air minum sampai kondisinya lebih baik

q. Gigitan binatang gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang mengancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi dua jenis; yang berbisa (beracun) dan yang tidak memiliki bisa. Pada umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar daripada luka biasa. Pertolongan Pertamanya adalah:

Cucilah bagian yang tergigit dengan air hangat dengan sedikit antiseptik Bila pendarahan, segera dirawat dan kemudian dibalut

Ada beberapa jenis binatang yang sering menimbulkan ganguan saat melakukan kegiatan di alam terbuka, diantaranya: 1. Gigitan Ular Tidak semua ular berbisa, akan tetapi hidup penderita/korban tergantung pada ketepatan diagnosa, maka pad keadaan yang meragukan ambillah sikap menganggap ular tersebut berbisa. Sifat bisa/racun ular terbagi menjadi 3, yaitu:

1. Hematotoksin (keracunan dalam) 2. Neurotoksin (bisa/racun menyerang sistem saraf) 3. Histaminik (bisa menyebabkan alergi pada korban) Nyeri yang sangat dan pembengkakan dapat timbul pada gigitan, penderita dapat pingsan, sukar bernafas dan mungkin disertai muntah. Sikap penolong yaitu menenangkan penderita adalah sangat penting karena rata-rata penderita biasanya takut mati. Penanganan untuk Pertolongan Pertama: 1. Telentangkan atau baringkan penderita dengan bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung. 2. Tenangkan penderita, agar penjalaran bisa ular tidak semakin cepat 3. Cegah penyebaran bias penderita dari daerah gigitan o Torniquet di bagian proximal daerah gigitan pembengkakan untuk membendung sebagian aliran limfa dan vena, tetapi tidak menghalangi aliran arteri. Torniquet / toniket dikendorkan setiap 15 menit selama + 30 detik o Letakkan daerah gigitan dari tubuh o Berikan kompres es o Usahakan penderita setenang mungkin bila perlu diberikan petidine 50 mg/im untuk menghilangkan rasa nyeri 4. Perawatan luka o Hindari kontak luka dengan larutan asam Kmn 04, yodium atau benda panas o Zat anestetik disuntikkan sekitar luka jangan kedalam lukanya, bila perlu pengeluaran ini dibantu dengan pengisapan melalui breastpump sprit atau dengan isapan mulut sebab bisa ular tidak berbahaya bila ditelan (selama tidak ada luka di mulut). 5. Bila memungkinkan, berikan suntikan anti bisa (antifenin) 6. Perbaikan sirkulasi darah o Kopi pahit pekat o Kafein nabenzoat 0,5 gr im/iv o Bila perlu diberikan pula vasakonstriktor 7. Obat-obatan lain o Ats o Toksoid tetanus 1 ml o Antibiotic misalnya: PS 4:1 2. Gigitan Lipan Ciri-ciri

1. Ada sepasang luka bekas gigitan 2. Sekitar luka bengkak, rasa terbakar, pegal dan sakit biasanya hilang dengan sendirinya setelah 4-5 jam Penanganan 1. Kompres dengan yang dingin dan cuci dengan obat antiseptik 2. Beri obat pelawan rasa sakit, bila gelisah bawa ke paramedik 3. Gigitan Lintah dan Pacet Ciri-ciri 1. Pembengkakan, gatal dan kemerah-merahan (lintah) Penanganan 1. Lepaskan lintah/pacet dengan bantuan air tembakau/air garam 2. Bila ada tanda-tanda reaksi kepekaan, gosok dengan obat atau salep anti gatal 4. Sengatan Lebah/Tawon dan Hewan Penyengat lainnya Biasanya sengatan ini kurang berbahaya walaupun bengkak, memerah, dan gatal. Namun beberapa sengatan pada waktu yang sama dapat memasukkan racun dalam tubuh korban yang sangat menyakiti. Perhatian:

Dalam hal sengatan lebah, pertama cabutlah sengat-sengat itu tapi jangan menggunakan kuku atau pinset, Anda justru akan lebih banyak memasukkan racun kedalam tubuh. Cobalah mengorek sengat itu dengan mata pisau bersih atau dengan mendorongnya ke arah samping Balutlah bagian yang tersengat dan basahi dengan larutan garam inggris.

V. EVAKUASI KORBAN Adalah salah satu tahapan dalam Pertolongan Pertama yaitu untuk memindahkan korban ke lingkungan yng aman dan nyaman untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut. Prinsip Evakuasi 1. 1. Dilakukan jika mutlak perlu 2. Menggunakan teknik yang baik dan benar 3. Penolong harus memiliki kondisi fisik yang prima dan terlatih serta memiliki semangat untuk menyelamatkan korban dari bahaya yang lebih besar atau bahkan kematian Alat Pengangutan

Dalam melaksanakan proses evakusi korban ada beberapa cara atau alat bantu, namun hal tersebut sangat tergantung pada kondisi yang dihadapi (medan, kondisi korban ketersediaan alat). Ada dua macam alat pengangkutan, yaitu: 1. Manusia Manusia sebagai pengangkutnya langsung. Peranan dan jumlah pengangkut mempengaruhi cara angkut yang dilaksanakan. Bila satu orang maka penderita dapat:

Dipondong : untuk korban ringan dan anak-anak Digendong : untuk korban sadar dan tidak terlalu berat serta tidak patah tulang Dipapah : untuk korban tanpa luka di bahu atas Dipanggul/digendong Merayap posisi miring

Bila dua orang maka penderita dapat: Maka pengangkutnya tergantung cidera penderita tersebut dan diterapkan bila korban tak perlu diangkut berbaring dan tidak boleh untuk mengangkut korban patah tulang leher atau tulang punggung.

Dipondong : tangan lepas dan tangan berpegangan Model membawa balok Model membawa kereta

2. Alat bantu

Tandu permanen Tandu darurat Kain keras/ponco/jaket lengan panjang Tali/webbing

Persiapan Yang perlu diperhatikan: 1. Kondisi korban memungkinkan untuk dipindah atau tidak berdasarkan penilaian kondisi dari: keadaan respirasi, pendarahan, luka, patah tulang dan gangguan persendian 2. Menyiapkan personil untuk pengawasan pasien selama proses evakuasi 3. Menentukan lintasan evakusi serta tahu arah dan tempat akhir korban diangkut 4. Memilih alat 5. Selama pengangkutan jangan ada bagian tuhuh yang berjuntai atau badan penderita yang tidak daolam posisi benar VI. FARMAKOLOGI Farmakologi adalah pengetahuan mengenai obat-obatan. Yang dibahas disini hanya sekedar obat-obatan standar yang sering dibutuhkan dalam Kegiatan Alam Terbuka.
NO 1 2 CTM Betadine Nama Obat Kegunaan Alergi, obat tidur Antiseptik

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Povidone Iodine Neo Napacyne Asma soho Konidin Oralit Entrostop Demacolin Norit Antasida doen Gestamag Kina Oxycan Damaben Feminax Spasmal Counterpain Alkohol 70% Rivanol Chloroetil (obat semprot luar) Pendix Antalgin Paracetamol Papaverin Vitamin C Dexametason

Antiseptik Asma, sesak nafas Asma,sesak nafas Batuk Dehidrasi Diare Flu, batuk Keracunan Maag Maag Malaria Memberi tambahan oksigen murni Mual Nyeri haid Nyeri haid Pegal linu Pembersih luka/antiseptic Pembersih luka/antiseptic Pengurang rasa sakit Pengurang rasa sakit Pengurang rasa sakit, pusing Penurun panas Sakit perut Sariawan Sesak nafas

Sumber : Materi Latihan PP Ospek. KSR PMI Unit UNSOED Purwokerto.2006

VII. PENUTUP Pertolongan Pertama adalah sebagai suatu tindakan antisipatif dalam keadaan darurat namun memiliki dampak yang sangat besar bagi penderita atau korban. Kesalahan diagnosa dan penanganan dapat mendatangkan bahaya yang lebih besar, cacat bahkan kematian. Satu hal yang perlu diingat adalah Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi. Jadi tindakan Pertolongan Pertama (PP) ini bukanlah tindakan pengobatan sesungguhnya dari suatu diagnosa penyakit agar si penderita

sembuh dari penyakit yang dialami. Serahkan penanganan selanjutnya (bila diperlukan) pada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.
Referensi: Diktat: Green Corps of English, Materi Pendidikan Dasar, DIII Bahasa Inggris UNSOED, Purwokerto Korps Sukarela PMI Unit UNSOED, Materi Latihan PP OSPEK, Purwokerto. 2006 Pra dan Orientasi Shio Ular XX, Pertolongan Pertama di Alam Terbuka Wahyu Handoko, Arianto, Aku Seorang Pecinta Alam, Materi Pendidikan Dasar, Yogyakarta. 1992