Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH ILMIAH

KONSERVASI ARSITEKTUR VERNAKULAR


OBJEK STUDI : KAMPUNG BENA, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR

NAMA : YESSIE AGUSTA NPM : 2007420086

PEMBIMBING : DR.IR.HARASTOETI D. HARTONO,MSA

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


(Akreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997 Dan BAN Perguruan Tinggi No : 015/BAN-PT/Ak-XII/S1/VI/2009)

BANDUNG DESEMBER 2011

KONSERVASI ARSITEKTUR VERNAKULAR


OBJEK STUDI : KAMPUNG BENA, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR
NAMA: YESSIE AGUSTA NPM : 2007 420 086 PEMBIMBING : DR.IR.HARASTOETI.D.HARTONO, MSA

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN


FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
(Akreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997 Dan BAN Perguruan Tinggi No : 015/BAN-PT/Ak-XII/S1/VI/2009)

BANDUNG DESEMBER 2011 ABSTRAK


Keanekaragaman arsitektur vernakular menjadi sebuah identitas dan karakter masyarakat dunia, salah satunya pada Kampung Bena, permukiman Suku Ngada di Flores yang telah berumur 300 tahun. Menjadi sangat penting untuk menetapkan upaya pelestarian bangunan vernakular hasil warisan budaya, supaya identitas masyarakat dunia ini tetap hadir di tengah tengah kehidupan manusia. Berangkat dari permasalahan tersebut, dilakukan penelitian berupa upaya konservasi pada arsitektur Kampung Bena. CIAV (International Scientific Committee on Vernacular Architecture) mencetuskan Charter on Built Vernacular Heritage yang merumuskan prinsip prinsip konservasi bangunan vernakular yang mengedepankan preservasi. Prinsipnya adalah konservasi arsitektur vernakular tidak dapat dilakukan hanya pada satuan objek melainkan harus sebagai kelompok permukiman dengan lansekapnya. Untuk itu, perlu dikaji latar belakang terbentuknya arsitektur vernakular dengan menggunakan klasifikasi dari Amos Rapoport dalam bukunya House, Form and Culture. Pengkajian pustaka ini berujung pada dugaan bahwa konsep Ketetapan dari Aldo Rossi yang membagi sifat objek konservasi menjadi Pathological Monument dan Propelling Monument akan sesuai dengan latar belakang dan peran sebuah objek konservasi terhadap daerah sekitarnya. Gambaran mengenai Kampung Bena diawali dengan penelusuran kehidupan Suku Ngada yang merupakan kelompok masyarakat mayoritas di daerah Bajawa, Flores Tengah. Sosok dan tampilan arsitektur vernakularnya menjadi daya tarik paling besar dari kampung ini. Bentuk dan konfigurasi permukimannya dipengaruhi oleh unsur unsur budaya yang menonjol berupa religi, sistem kemasyarakatan dan teknologi. Analisa mengenai arsitektur vernakular dilakukan dengan penjabaran nilai nilai yang ada pada lingkungan binaan vernakular pada Kampung Bena. Dengan perumusan nilai yang menjadi signifikansi budaya dan dilatarbelakangi oleh pengaruh Kampung Bena pada daerahnya, ditetapkan bahwa konsep Propelling Monument dari Aldo Rossi ternyata sesuai untuk diterapkan pada Kampung Bena yang mempertahankan keaslian arsitekturnya dan juga mengakomodasi dinamika masyarakatnya. Dengan analisa tersebut, disimpulkan bahwa Kampung Bena memiliki nilai nilai kuat sebagai objek konservasi arsitektur. Kompromi antara unsur unsur yang menjadi signifikansi budaya ini mengacu pada konsep Kampung Bena sebagai monumen penggerak, yang tidak hanya menjadi objek konservasi yang berujung sebagai objek wisata, melainkan sebagai monumen hidup yang memotori perkembangan wilayah sekitarnya.

VERNACULAR ARCHITECTURE CONSERVATION


STUDY OBJECT : BENA VILLAGE, FLORES, EAST NUSA TENGGARA
NAME : YESSIE AGUSTA NPM : 2007 420 086 MENTOR : DR.IR.HARASTOETI.D.HARTONO, MSA

PARAHYANGAN CATHOLIC UNIVERSITY


FACULTY OF ENGINEERING DEPARTMENT OF ARCHITECTURE
(Acreditation Based On Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997 And BAN Perguruan Tinggi No : 015/BAN-PT/Ak-XII/S1/VI/2009)

BANDUNG DECEMBER 2011 ABSTRACT


The diversity of vernacular architecture becomes an identity and character of the world community. One example is located in the 300 years old village of Bena, the settlement of Ngada tribe on Flores. It becomes very important to establish the preservation of vernacular buildings, the result of cultural heritage, so that the identity of the world community can still be presented in the middle of human life. Based on this issue, a research on the conservation effort to preserve the architectural form of the village of Bena is conducted. CIAV (International Scientific Committee on Vernacular Architecture) established the Charter on Built Vernacular Heritage which formulates the principles of the conservation of vernacular buildings that promotes preservation. The principle states that instead of being done only on single object units, the conservation of vernacular architecture should be applied to a group of settlement alongside its landscape. Therefore the background of the formation of vernacular architecture needs to be studied using the classification of Amos Rapoport in his book House, Form and Culture. This literature assessment led to a notion that the concept of Aldo Rossis provision, that divides the conservation object characteristics into Pathological Monument and Propelling Monument will be suitable with the background and the role of conservation object towards its surrounding. Description of the village of Bena begins with the observation of Ngada tribe which is the majority population in Bajawa, Central Flores. The figure and the appearance of its vernacular architectural become the greatest charm of this village. The shape and the configuration of the settlement are affected by their prominent cultural elements of religion, social and technological systems. The analysis on vernacular architecture is being conducted by elaborating the values that exist in the vernacular environment in the village of Bena. By formulating the value that becomes cultural significance and motivated by the influence of the village of Bena in the area, it is established that Aldo Rossis concept of Propelling Monument was appropriate to be applied to the village of Bena which preserves its architectural authenticity and also accommodate the dynamics of its society. By the analysis, it is concluded that the village of Bena has strong values as an object of architectural conservation. The compromise between the elements that became the cultural significance refers to the concept of the village of Bena as a propelling monument, which not only becomes the object of conservation culminating as a tourist attraction, but as a living monument that drives the development of its surrounding area.

A. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG PENELITIAN Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan kebudayaan yang tersebar di setiap penjurunya. Kekayaan budaya tersebut menjadi sebuah karakter dan identitas bagi masyarakatnya dan hadir pada tiap aspek kehidupan sehari hari, termasuk dalam arsitektur. Karya arsitektur vernakular merupakan manifestasi dari kearifan lokal yang menyikapi keadaan alam, dilandasi oleh kebudayaannya, dan merupakan perkembangan dari cara berpikir manusia dalam situasi dan kondisi lingkungan yang dinamis. Oleh karena itu, bentuk dan tampilannya memiliki ciri khas tersendiri dan menjadi kontekstual. Arsitektur vernakular merupakan jenis arsitektur rakyat yang selalu berkembang dengan proses trial and error. Perkembangan teknologi, globalisasi bentuk dan dinamika masyarakat dikhawatirkan mengubah bentuk asli secara signifikan, dan mengaburkan jejak peradaban masa lalu. Salah satu contoh arsitektur vernakular yang menjadi objek studi dalam penelitian ini adalah Kampung Bena di Flores, Nusa Tenggara Timur. Kampung Bena merupakan salah satu permukiman Suku Ngada yang tersebar di sekitar Kota Bajawa, Flores Tengah. Wujud arsitektur vernakular yang diterapkan pada konfigurasi pemukiman khas dan bentuk rumahnya masih menampakkan citra dan bentuk primitif, vernakular,sehingga arsitektur vernakularnya menjadi daya tarik terbesar dari kampung adat ini. Namun tidak dapat disangkal bahwa masyarakat penghuni kampung ini juga ingin berkembang menjadi lebih baik. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mendokumentasikan signifikansi budaya yang terkandung di dalam arsitektur vernakular Kampung Bena, untuk kemudian dirumuskan aspek mana yang harus dipertahankan, dan aspek mana yang bisa dinegosiasikan perubahannya dalam perkembangan dan upaya konservasinya.

2. PERTANYAAN PENELITIAN 1. Unsur unsur apa yang harus tetap dipertahankan dalam upaya konservasi arsitektur vernakular Kampung Bena sebagai permukiman tradisional Suku Ngada? 2. Upaya konservasi seperti apa yang dapat diterapkan untuk melestarikan lingkungan vernakular Kampung Bena serta mampu mengakomodasi dinamika kehidupan masyarakat penghuninya?

3. TUJUAN PENELITIAN Menggali potensi arsitektur vernakular Kampung Bena, terkait kehidupan budaya Suku Ngada Menggali seberapa jauh suatu lingkungan arsitektur vernakular layak untuk dilestarikan

4. MANFAAT PENELITIAN Menjadi referensi kekayaan budaya dan peradaban dari Suku Ngada, khususnya Kampung Bena

Menjadi referensi untuk mempertahankan pelestarian warisan budaya, khususnya warisan lingkungan vernakular

5. KERANGKA PEMIKIRAN Studi literatur Teori konservasi Teori arsitektur vernakular Studi objek Faktor Alam Faktor Sosial budaya Arsitektur vernakular Kampung Bena

Analisa Unsur unsur yang dipertahankan pada arsitektur vernakular Kampung Bena Upaya konservasi yang dapat diterapkan

B. LANDASAN TEORI
1. MANFAAT TEMPAT BERSIGNIFIKANSI BUDAYA a. Memberi wawasan mengenai kehidupan masa lampau, tentang keanekaragaman komunitas yang ada b. Memberi perasaan keterhubungan yang dalam dan inspirasional akan komunitas masyarakat yang hidup di masa lampau dengan lansekapnya c. Memiliki nilai jejak jejak sejarah, yang tampil sebagai ekspresi yang terlihat sebagai identitas dan pengalaman hidup sebuah masyarakat pada sebuah daerah.
1

2. KONSEP KONSERVASI DI INDONESIA Perundang undangan mengenai konservasi di Indonesia diadaptasi dari Monumen Ordonantie Staatsblad 238/1931 atau M.O 1931. Adaptasi dari perundang undangan tersebut dikeluarkan dalam bentuk Undang Undang Republik Indonesia no.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya yaitu sebagai berikut : 1. Benda Cagar Budaya adalah : a. Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian bagiannya atau sisa sisanya, yang berumur sekurang kurangnya 50 ( lima
1

Jha.K.Abhas.2010.Safer Homes, Stronger Communities. Washington : The World Bank 4

puluh ) tahun, serta dianggap mempunyai nila penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan b. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan 2. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung beda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya

3. PRINSIP KONSERVASI ARSITEKTUR VERNAKULAR CIAV (International Scientific Committee on Vernacular Architecture) mencetuskan Charter on Built Vernacular Heritage , yang merumuskan prinsip prinsip konservasi bangunan vernakular adalah sebagai berikut : a. Konservasi bangunan warisan budaya melibatkan para ahli dari multi-disiplin dengan memahami perubahan dan perkembangan yang tidak dapat dielakkan dan kebutuhan untuk menghormati identitas budaya komunitas tersebut b. Pekerjaan pekerjaan yang dilakukan pada bangunan vernakular seperti kelompok bangunan dan hunian harus dilakukan dengan menghormati nilai nilai budaya dan karakter tradisional mereka c. Objek vernakular tidak dapat direpresentasikan sendiri sebagai suatu satuan struktur. Konservasi terbaik dilakukan dengan preservasi dan perawatan kelompok bangunan dan perkampungan dengan karakter yang merepresentasikan konteks wilayahnya d. Warisan bangunan vernakular merupakan bagian yang terintegrasi pada sebuah lansekap budaya dan hubungan integral ini harus diangkat dalam pertimbangan akan pengembangan dan upaya konservasi. e. Unsur vernakular hadir tidak hanya sebagai bentuk fisik dan jenis bangunan, struktur dan ruang, melainkan juga dari cara mereka dimaknai dan difungsikan, dari tradisi tradisi dan hubungan abstrak yang melekat padanya.
2

4. PENENTUAN SIGNIFIKANSI BUDAYA Penentuan signifikansi kultural disusun berdasarkan pengumpulan informasi berupa : 1. Rangkaian perkembangan dari sebuah tempat dan hubungannya dengan bentuk yang masih bertahan hingga kini 2. Pembagian akan bentuk bentuk yang masih bertahan dan yang sudah hilang 3. Aspek teknikal yang jarang atau yang unik pada detailnya

Charter on Built Vernacular Heritage dicetuskan oleh CIAV (International Scientific Committee on Vernacular Architecture) yang merupakan asosisasi yang berdiri tahun 1975. Asosiasi ini bernaung dibawah ICOMOS (International Council on Monuments and Sites ) dan bergerak pada spesialisasi upaya identifikasi, studi, perlindungan dan konservasi bangunan serta kompleks hunian vernakular. 5

4. Fungsi dari tempat tersebut dan bagian bagiannya 5. Hubungan antara tempat tersebut dengan bagian bagiannya secara keseluruhan 6. Pengaruh - pengaruh budaya yang memicu pembentukan dari sebuah tempat 7. Pemaknaan sebuah tempat oleh manusia yang mengggunakan atau menghuni tempat tersebut, atau keturunannya 8. Pengaruh sejarah masa lalu yang hadir pada bagian bagian tertentu yang disebabkan oleh invasi budaya atau dengan sendirinya beradaptasi 9. Potensi potensi untuk dilakukannya penelitian atau riset dari tempat tersebut 10. Hubungan dari sebuah tempat terhadap tempat lainnya, misalnya penghormatan akan desain, teknologi, kelokalan atau asalnya.

5. KRITERIA PENILAIAN OBJEK KONSERVASI Nilai nilai yang terdapat pada objek konservasi untuk pertimbangan yaitu : a. c. e. g. i. k. m. o. Nilai usia dan kelangkaan Nilai kesejarahan Nilai arsitektural Nilai artistik Nilai artistik Nilai asosiatif Nilai budaya Nilai pendidikan dan penelitian ilmu pengetahuan b. d. f. h. j. l. n. Nilai teknikal Nilai simbolik Nilai ekonomi Nilai emosional Nilai publik Nilai religi dan spiritual Nilai sosial
3

6. KONSEP PROPELLING MONUMENT SEBAGAI UPAYA KONSERVASI Upaya konservasi yang paling tepat untuk sebuah objek bersignifikansi budaya adalah preservasi dengan mempertahankan keaslian, baik esensi, bentuk, material dan fungsinya secara keseluruhan. Namun, tidak sesuai untuk ditetapkan pada objek arsitektur vernakular dimana masyarakat yang tinggal di dalamnya yang bersifat dinamis. Untuk itu, ada dugaan bahwa Konsep Ketetapan (Concept of Permanence) yang membagi dua jenis monumen, yaitu monumen mati (Pathologic Monument) dan Propelling Monument), dimana Propelling Monument diduga adalah upaya
4

monumen penggerak

konservasi yang sesuai untuk kasus ini. Konsep Propelling Monument mencetuskan ide bahwa sebuah objek konservasi dapat menjadi motor penggerak bagi daerah sekitarnya, tidak hanya sekedar menjadi objek mati yang menjadi objek wisata.

3 4

Orbal, Aylin,2007. Architectural Conservation: Principles and Practice Rossi, Aldo. 1984. The Architecture of The City. Massachusets : MIT Press

7. DEFINISI ARSITEKTUR VERNAKULAR Definisi 1 : hasil karya berupa bangunan yang dirancang oleh para amatir tanpa disertai pendidikan desain apapun, yang dipandu oleh kesepakatan bersama dalam masyarakat. Faktor dominan dalam perancangan adalah fungsi. Kesadaran akan elemen estetis sedikit terlihat dengan kadar yang minimal. Penggunaan material lokal adalah hal yang utama . Definisi 2 : bangunan hunian dan bangunan lainnya yang berhubungan dengan konteks lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam. Sistem kepemilikannya bisa berupa properti pribadi ataupun properti sebuah komunitas, yang dibangun dengan teknologi tradisional. Semua bentuk dalam arsitektur vernakular dibangun untuk memenuhi kebutuhan yang spesifik, mengakomodasi nilai nilai budaya, ekonomi dan gaya hidup sesuai budaya masyarakatnya . Berdasarkan Charter on Built Vernacular Heritage, bangunan vernakular memiliki karakter khusus, yang dapat dikenal dari ciri ciri sebagai berikut : 1. Adanya tata krama bangunan yang diterapkan dalam sebuah komunitas 2. Adanya karakter lokal yang khas yang responsif terhadap lingkungan 3. Bentuk, tampilan dan gaya yang khas, atau memanfaatkan bangunan yang lebih dulu dibangun secara tradisional 4. Penggunaan keahlian dan teknik tradisional khusus yang diturunkan secara informal 5. Merupakan respon yang efektif terhadap fungsi, lingkungan alam dan lingkungan sosialnya 6. Pengaplikasian sistem konstruksi tradisional dan keahlian spesifik yang efektif 8. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ARSITEKTUR VERNAKULAR a. Faktor sosial budaya b. Faktor iklim c. Faktor material, konstruksi dan teknologi
7 6 5

C. GAMBARAN OBJEK
1. SUKU NGADA SEBAGAI IDENTITAS KABUPATEN NGADA Suku Ngada merupakan salah satu dari lima kelompok budaya besar di Flores. Suku Ngada beranggotakan sekitar 60.000 jiwa yang tersebar di Bajawa dan sekitarnya dan menjadi penduduk terbesar di kabupaten yang diabadikan dengan nama suku tersebut yaitu Kabupaten Ngada, dengan ibukota Bajawa, Flores Tengah. Masyarakat Ngada mempertahankan adat istiadat yang kuat serta budaya tradisional yang idealis, sehingga manusia dengan budaya yang menyertainya menjadi karakter bagi Kabupaten Ngada. Masyarakat Ngada memiliki karakter budaya yaitu konsep matrilineal, konsep penerapan kasta pada zaman dahulu, dan merupakan budaya hasil akulturasi yang sukses antara

5 6

Brunskill, R.W. Illustrated Handbook of Vernacular Architecture, 1971 ; hlm.27 - 28 Oliver,Paul. Encyclopedia of Vernacular Architecture of The World 7 Rapoport, Amos. House, Form and Culture. 1969 : 89, 7

kepercayaan tradisional Ngada yang disebut Baugae dengan agama Katolik Roma yang dibawa oleh Bangsa Portugis.
8

2.

PERMUKIMAN SUKU NGADA Permukiman yang dihuni oleh Suku Ngada disebut nua atau

kampung adat. Nua tersebar di seluruh penjuru Bajawa dan sekitarnya. Nua terdiri atas beberapa rumah adat atau sao meze yang terdiri dari milik beberapa klan. Pada setiap nua terdapat identitas tertentu yang menandakannya sebagai hunian Suku Ngada, yaitu : 1. Nua dibangun pada lahan luas yang terbuka dan berada pada lereng yang tinggi 2. Konfigurasi tipikal perkampungan adalah linier dengan ruang tengah yang terbuka dan luas
Ilustrasi 1. Konfigurasi tipikal permukiman Suku Ngada

3. Pada ruang tengah kampung terdapat kontur kontur yang jumlahnya mewakili jumlah klan di dalam kampung tersebut 4. Tiap klan memiliki sepasang bangunan sakral yang dinamakan ngadhu dan bagha. 5. Hadirnya monumen megalit yang terbuat dari batuan andesit

3. KAMPUNG BENA SEBAGAI PERMUKIMAN SUKU NGADA Kampung Bena berada sekitar 18 km ke arah selatan dari ibukota kabupaten,Bajawa. Kampung ini telah berusia lebih dari 300 tahun, dan masyarakat yang tinggal di dalamnya masih menunaikan kebudayaan primitif Ngada yang telah berusia 1.200 tahun dalam kehidupannya sehari hari.

Gambar 1. Tampak depan Kampung Bena (kiri) ; Gambar 2. Kampung Bena dari sisi selatan (kanan)

4. SEJARAH KAMPUNG BENA Kampung Bena diceritakan secara turun temurun sebagai sebuah kapal yang terdampar pada dataran tinggi selagi mengarungi Laut Sawu. Penumpangnya memutuskan untuk membangun

http://en.wikipedia.org/wiki/Flores 8

permukiman di atas kapal tersebut. Ketujuh orang penumpang kapal tersebut adalah tujuh orang leluhur Kampung Bena.

5. LETAK KAMPUNG BENA Secara geografis, Kampung Bena terletak pada titik koordinat 8 52 38 LS dan 120 59 09.21 BT, pada elevasi 823 meter di atas permukaan laut. Batas batas geografis Kampung Bena adalah : Utara Barat Timur : Gunung Manulalu, Desa Beja, Golewa : Gunung Inerie, Kampung Sarabawa : Gunung Ra, Kampung Tude
o o

Selatan : Gunung Deru

D. ANALISA

NILAI

NILAI

PADA

KAMPUNG

BENA

SEBAGAI

OBJEK

KONSERVASI ARSITEKTUR VERNAKULAR


1. NILAI USIA, SEJARAH DAN KELANGKAAN KAMPUNG BENA Kampung Bena telah berusia lebih dari 300 tahun. (termasuk dalam Benda Cagar Budaya sesuai UU RI no.5 thn 1992 tentang Benda Cagar Budaya), dan budaya yang melandasinya (budaya Ngada telah berusia lebih dari 1.200 tahun). Selain itu, masih hadirnya penggunaan dan penghormatan terhadap monumen megalitikum menjadikan Bena sebagai The Living Megalith Culture, yang semakin langka di Indonesia.

2. NILAI LANSEKAP Kampung Bena terletak pada sebuah bukit di pedalaman Jerebu u yang dikelilingi lembah dan jurang.Konsep peletakan permukiman Kampung Bena pada posisi dataran tinggi adalah untuk alasan peperangan. Karena itu, permukiman diletakkan pada posisi tinggi supaya prajurit mampu mengintai musuh yang mendekat dari lembah lembah di sekitar kampung . Orientasi Kampung Bena yang menghadap Gunung Manulalu dan membelakangi Laut Sawu juga merupakan bagian dari sejarah pembentukan kampung. 3. NILAI ARSITEKTUR DAN BUDAYA KONSEP PENGGUBAHAN LINGKUNGAN
Lingkungan binaan Kampung Bena dibentuk berdasarkan asas religi dan ruang ruangnya bersifat sakral simbolis
9

sehingga keseluruhannya memiliki makna budaya terkait pemujaan terhadap leluhur

(kepercayaan Baugae)dan dibangun dengan ritual tertentu. Filosofi dalam perancangan lingkungan di Kampung Bena : Alam merupakan titipan dari Sang Pencipta

Schrter, Susanne. 2005. Red Cocks and Black Hens 9

Konsep pasangan pria dan wanita layaknya manusia ( implementasinya pada dua jenis rumah yaitu sao saka puu atau rumah utama wanita dan sao saka lobo atau rumah utama pria, dan juga pada pasangan bangunan sakral, ngadhu (simbol leluhur pria) dan bagha (simbol leluhur ORIENTASI DAN SIRKULASI wanita) KAMPUNG Kampung
Sao meze Bagha Ngadhu Kisanata Ture nua

Bena dengan

berkonfigurasi

linear

sumbu utara selatan, dengan muka kampung menghadap utara. Rumah rumah tersusun secara linear saling berhadapan dengan arah timur dan barat menghadap kisanata. Pada

U
Ilustrasi 2. Lingkungan Kampung Bena dan komponen pembentuknya

kisanata, terdapat ngadhu dan bhaga yang dibangun

menghadap muka kampung, Jalur sirkulasi utama di Kampung Bena adalah area kisanata (area tengah). Jalur sirkulasi minor kampung terdapat pada area belakang dan samping rumah dan digunakan untuk keperluan servis. Kisanata dibagi menjadi sembilan kontur yang dibatasi oleh ture nua. Banyaknya kenaikan kontur melambangkan banyaknya klan yang mendiami kampung tersebut. Pada Kampung Bena terdapat sembilan ture nua yang merepresentasikan sembilan klan.
3 5 9 8 7 6 4 2 1

Ilustrasi 3.Sembilan kontur pada kisanata melambangkan jumlah klan Sumber : Reilustrasi dari Arsitektur Flores. 2006. Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia. Depok

ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA SAO MEZE (RUMAH ADAT) Yang disebut sebagai rumah adat atau sao meze (sao = rumah) adalah sebuah rumah yang memiliki ruangan inti yang disebut teda one di dalamnya.
privat sakral privat

A C

Kadawari Soja

B Teda Moa D Teda One


semi privat publik

Ilustrasi 4.Pembagian ruang dalam sao meze (kiri) Ilustrasi 5.Pembagian zona pada sao meze (kanan)

masuk

10

Kadawari merupakan teras yang diperuntukkan kegiatan keseharian penduduk pada siang hari. Teda moa merupakan ruang transisi antara ruang publik dan privat, yang digunakan oleh penghuni rumah dan kerabat dekat. Ruang tambahan atau disebut soja adalah bentuk perkembangan kebutuhan manusia. Sedangkan, teda one merupakan bagian inti dari sebuah rumah adat Suku Ngada dan merupakan ruang sakral ( bersifat serupa dengan senthong tengah pada arsitektur Jawa ).

Ilustrasi 6. Perkembangan ruang rumah dengan teda one dipertahankan sebagai inti dari rumah

Teda one merupakan suatu struktur ruang yang terpisah dari rumah. Ruang ini dianggap sebagai tempat tinggal dari leluhur keluarga penghuni rumah tersebut. Untuk itu, sebagai ruang paling penting, elevasi lantainya dibuat lebih tinggi daripada ruangan lain di dalam rumah.
Ilustrasi 7 Letak teda one di dalam rumah. Gambar 3.Teda one yang telah terpasang di lahan konstruksi rumah baru.

DEPAN

Dalam teda one, terdapat elemen elemen yang harus dipertahankan terkait filosofi budaya yaitu : Kabapere (tangga masuk teda one) yang diletakkan pada upacara puncak peresmian rumah Pere one sao (pintu masuk teda one) yang dibuat rendah supaya manusia menunduk ketika memasuki ruang tersebut Lantai teda one harus terdiri dari 15 balok rangka Tiap sisi dinding teda one harus terdiri dari 7 bilah papan (ube sao) melambangkan 7 orang leluhur Bena Papabhoko (tungku) dimana api harus selalu hidup dengan wanita sebagai penjaganya Mataraga (penanda status sosial keluarga di rumah tersebut)

11

Ilustrasi 8. Denah sao meze (kiri) ; Ilustrasi 9. Tampak depan (tengah) ; Ilustrasi 10.Tampak samping

Ilustrasi 11. Potongan memanjang sao meze (kiri) Ilustrasi 12. Potongan melintang sao meze (kanan)

PASANGAN BANGUNAN SAKRAL (NGADHU DAN BAGHA) Pasangan bangunan sakral yang disebut ngadhu dan bagha merupakan komponen sakral dalam budaya Suku Ngada yang harus hadir dalam setiap kompleks permukimannya. Komponen ini hadir berpasangan sebagai perwujudan leluhur pria dan wanita, yaitu ngadhu sebagai simbolisasi leluhur pria dan bagha sebagai simbolisasi leluhur wanita ( memiliki konsep yang sama seperti lingga dan ioni pada budaya Hindi ). Pasangan bangunan sakral yang melambangkan leluhur pria dan wanita ini merupakan bangunan yang harus pertama kali dibangun sebelum sebuah klan mendiami sebuah kampung. Sebelum sebuah klan baru masuk ke dalam sebuah kampung dan mendirikan rumah, pertama ia harus mendirikan pasangan ngadhu dan bagha nya. Jumlah pasangan ngadhu dan bagha dalam suatu kampung Ngada menunjukkan jumlah klan yang menetap di kampung tersebut. Di Kampung Bena terdapat sembilan pasang ngadhu dan bhaga, menandakan sembilan klan yang tinggal di dalamnya, yang diberi nama sesuai nama leluhurnya.

12

Ngadhu

dan

bagha

selalu

dibangun

segaris

menghadap muka kampung, dengan posisi ngadhu berada di depan bagha. Filosofinya adalah pria sebagai garis depan pertahanan pelindung kampung dan pelindung wanita. Ilustrasi 13.Isometri ngadhu(kiri) Ilustrasi 14.Isometri bagha(kanan) Gambar 4.Ngadhu (kiri atas) Gambar 5. Bagha (kanan atas)

PEMASANGAN TANDUK KERBAU DAN RAHANG BABI Suku Ngada memiliki kebudayaan untuk memasang rahang babi dan tanduk kerbau pada teras rumah. Benda benda ini menandakan jumlah hewan kerbau dan babi yang dikurbankan selama pembangunan rumah tersebut. Pemasangan ini juga dimaksudkan sebagai kenangan bagi keturunan pemilik rumah tersebut, bahwa orangtuanya bekerja keras untuk mampu mengurbankan hewan sebanyak itu. Kenangan ini dibuat supaya keturunannya juga bekerja keras untuk mampu melebihi orangtuanya.
Gambar 6.Pemasangan tanduk kerbau (kiri) Gambar 7. Penggantungan rahang babi (kanan)

4. NILAI TEKNIKAL Pembangunan di Kampung Bena hingga saat ini masih menggunakan material asli yang berada di lingkungan sekitar walaupun beberapa material mulai sulit untuk didapat. Material yang digunakan yaitu kayu, bambu, ilalang, ijuk, dan batu. Teknologi perakitan rumah menggunakan sistem pasak untuk hubungan kayu.

13

5. NILAI ARTISTIK Ukiran merupakan wujud dari kearifan lokal Suku Ngada berupa kesenian yang hadir dalam arsitektur vernakular. Tidak semua orang dari Suku Ngada mampu membuat ukiran. Hanya beberapa orang tertentu yang menguasai keterampilan seni ukir bangunan adat. Pada umumnya, orang yang mengukir juga menjadi spesialis pembuat teda one karena teda one sarat akan ukiran, dan yang membuatnya harus mengerti betul mengenai adat Ngada.

6. NILAI PENDIDIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN Nilai pendidikan dan ilmu pengetahuan yang dapat digali dari Kampung Bena dan kehidupan masyarakatnya adalah nilai arsitektural dan teknologi pembangunannya. Kampung Bena sangat berpotensi untuk diteliti dari aspek pengetahuan akan arkeologi dan antropologi. Penelitian yang dilakukan ini bermanfaat bagi masyarakat dunia, tidak hanya dalam bidang arsitektur vernakular, tetapi juga bidang ilmu lainnya.

7. NILAI RELIGI DAN SPIRITUAL Konsep religi dan spiritual diterapkan pada setiap penggubahan komponen vernakular pada Kampung Bena. Maka dari itu, segala tahapan pembuatannya diikuti oleh rangkaian ritus religi berupa upacara upacara adat. Monumen megalitik yang merupakan peninggalan zaman megalitik di masa lalu masih digunakan untuk pemujaan hingga saat ini.

8. NILAI SIMBOLIK Secara lokal, Kampung Bena telah menjadi permukiman tradisional Suku Ngada yang relatif dikenal, sehingga kampung ini menjadi simbol dari Suku Ngada. Selain itu, hadirnya ngadhu dan bagha pada Kampung Bena merupakan simbol dari sebuah permukiman Suku Ngada. Kampung Bena sendiri bukan sebuah monumen yang dibuat untuk memperingati sesuatu, namun kampung itu telah menjadi sebuah simbol yang menyatakan Kabupaten Ngada, Flores

9. NILAI ASOSIATIF, NILAI EMOSIONAL, NILAI PUBLIK DAN NILAI SOSIAL Kampung Bena adalah kampung adat yang paling dikenal di Bajawa karena keaslian dan keindahannya, di antara puluhan kampung adat lain di sekitarnya, dan membuat Kabupaten Ngada menjadi terkenal karenanya. Kebersamaan dan rasa memiliki masyarakat sekitar terhadap Kampung Adat Bena menimbulkan rasa emosi terhadap kejadian kejadian, atau perubahan yang terjadi pada kampung tersebut dalam segala hal. Di kalangan masyarakat Bajawa, Suku Ngada dan Kampung Bena telah menjadi identitas yang diakui secara luas. Bila membahas Bajawa, tidak mungkin tidak tersebut nama Kampung Adat Bena. Saat penelitian dilakukan, Kampung Bena telah dijadikan lokasi pembuatan iklan televisi sebuah minuman energi ternama dengan tema kekayaan Flores, yang mendongkrak

kebanggaan masyarakat Bena, terutama masyarakat Bajawa secara luas.

14

10. NILAI EKONOMI Kampung Bena sekarang telah menjadi pariwisata budaya yang terkenal di Pulau Flores. Bahkan para penduduk telah menyadari potensi tersebut dengan mempelajari tata krama kepada tamu tamu, yang mayoritas merupakan turis dan peneliti mancanegara. Bila lebih dikembangkan, Kampung Bena mampu menjadi kampung wisata budaya yang lebih menarik dan interaktif, sehingga mampu menumbuhkan pengalaman ruang dan pengalaman budaya yang unik dan berbeda.

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Nilai - nilai Usia dan kelangkaan Kesejarahan Arsitektural Artistik Lansekap Asosiatif Budaya Pendidikan & penelitian ilmu pengetahuan Teknikal Simbolik Ekonomi Emosional Publik Religi & spiritual Sosial
sangat kuat kuat

Kekuatan karakter nilai


cukup

Tabel 4.7 Penilaian Kampung Bena sebagai objek konservasi arsitektur

Hasil analisa dan penilaian dari Kampung Bena sebagai objek konservasi arsitektur vernakular yang berhubungan erat dengan masyarakat juga daerah sekitarnya, membuktikan bahwa konsep Propelling Monument tepat diterapkan pada kampung ini. Penerapan konsep The Propelling Monument sebagai upaya konservasi arsitektur vernakular menjadikan Kampung Bena sebagai objek warisan budaya yang hidup dan mampu berinteraksi dengan masyarakat sosial masa kini. Ia juga mampu membuat pengunjung mengalami pengalaman yang memompa rasa memiliki dan kebanggaan tersendiri. Dengan semakin banyak masyarakat yang mengagumi kebudayaan Kampung Bena, warga Bena akan semakin terdorong untuk melestarikan adat istiadat mereka yang berumur ribuan tahun tersebut. Kampung Bena sebagai monumen penggerak memicu beberapa manfaat yaitu : 1. Mengukuhkan diri sebagai salah satu identitas Suku Ngada 2. Memiliki fungsi sosial yang tinggi dalam kebudayaan Ngada 3. Menggerakkan banyak pengunjung dan peneliti akan keaslian budaya dan sosok arsitekur Kampung Bena 4. Menggerakkan perkembangan infrastruktur dan ekonomi daerah di sekitarnya

15

E. KESIMPULAN
Unsur unsur yang harus dipertahankan ( signifikansi budaya ) pada arsitektur vernakular Kampung Bena adalah : 1. Konsep perancangan ruang yang berdasar pada religi (sakral simbolis) 2. Konsep pasangan pria dan wanita pada rumah dan bangunan sakral 3. Hadirnya ruang inti ( teda one ) dalam setiap rumah adat beserta komponennya 4. Penerapan elemen elemen bangunan rumah berupa : Pemasangan ornamen pada bubungan atap berupa pedang, tombak dan galah Pemasangan figur berupa ata (berbentuk orang orangan) bagi rumah utama leluhur laki laki dan figur ana iye (berbentuk rumah) pada rumah utama leluhur perempuan Pemasangan tanduk kerbau dan rahang babi untuk peringatan akan jumlah hewan yang dikurbankan selama pembuatan rumah Ukiran pada papan depan teras rumah dan pada teda one yang melambangkan asal muasal Kampung Bena dan harapan dari penghuninya 5. Mempertahankan sosok arsitektural asli sebagai berikut : Denah ruang sederhana dan menempatkan teda one sebagai bagian inti rumah Atap perisai yang tinggi menjulang Lantai rumah yang diangkat dari tanah untuk pemanfaatan kolong rumah

6. Penggunaan material lokal yang berasal dari lingkungan sekitar jika masih memungkinkan dengan negosiasi tertentu pada elemen kampung yang tidak mengubah signifikansinya 7. Pelaksanaan upacara adat terkait dengan pembangunan rumah adat dan bangunan sakral

Melalui hasil analisa dari latar belakang budaya masyarakat, signifikansi budaya, dan pengaruh Kampung Bena terhadap masyarakat sekitar, Kampung Bena ternyata dapat digolongkan sebagai Propelling Monument, dimana kampung ini adalah sebuah monumen yang hidup karena masyarakatnya memiliki kemampuan berinteraksi dan mengadaptasikan kehidupannya serta budayanya yang menjadi inti dari arsitektur vernakular Kampung Bena dengan kehidupan masa kini. Pelestarian budaya dan arsitektur Kampung Bena berujung pada tetap terjaganya budaya Ngada yang kental dari masyarakatnya yang berdampak pada semakin dikenalnya Kampung Bena, meningkatkan jumlah pengunjung yang peduli akan budaya, dan secara tidak langsung mengembangkan daerah di sekitarnya. Kampung Bena menjadi motor penggerak bagi perkembangan daerah di sekitarnya. Sebagai sebuah kampung adat, Kampung Bena juga mewadahi fungsi sosial dengan diadakannya perayaan Reba untuk pertama kali setiap tahunnya dimana seluruh masyarakat Ngada berkumpul di Kampung Bena. Sebagai monumen penggerak, dinamika kehidupan masyarakat Kampung Bena diakomodasi dengan dimungkinkan adanya penyesuaian penyesuaian terhadap kehidupan masa kini dan dukungan dari pihak pihak yang merasaka manfaatnya misalnya pemerintah daerah. Tentunya penyesuaian penyesuaian tersebut dilakukan dengan menghormati signifikansi budayanya.

16

DAFTAR PUSTAKA
ARTIKEL Schrter, Susanne. 2005. Red Cocks and Black Hens : Gendered Symbolism, Kinship and Social Practice in The Ngada Highlands. Land- en Volkenkunde. Netherlands : Koninklijk Instituut voor Taal-

BUKU Brunskill, R.W. 1971. Illustrated Handbook of Vernacular Architecture. London : Faber & Faber. Jha.K.Abhas. 2010. Safer Homes, Stronger Communities. Washington : The World Bank. Jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia, 2006. Arsitektur Flores. Depok : Universitas Indonesia Oliver, Paul. 1997. Encyclopedia of Vernacular Architecture of The World. London: Cambridge University Press Orbasli, Aylin. 2007. The Architectural Conservation. : Principles and Practice. Oxford : Willey Blackwell Rapoport, Amos. 1969. House, Form and Culture. Milwaukee: University of Wisconsin Rossi, Aldo. 1984. The Architecture of The City. Massachusets : MIT Press

SITUS http://en.wikipedia.org/wiki/Flores

PIAGAM DAN PERUNDANG - UNDANGAN Charter on Built Vernacular Heritage. 1975. International Scientific Committee on Vernacular Architecture The Burra Charter. 1979. Australia : International Council on Monument and Sites Undang Undang Republik Indonesia No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya

17