Anda di halaman 1dari 7

IQBAL BASYARI 09/283037/SP/23655

Apakah Trans Studio merupakan Solusi Tempat Hiburan di Solo?

Solo adalah salah satu kota dengan perkembangan sosial ekonomi yang tinggi di Indonesia. Memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang tertinggi di Jawa Tengah dengan angka 0,25%, kota yang dipimpin oleh Jokowi ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama di wilayah ekonomi dan budaya. Berpredikat sebagai kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Jawa Tengah, solo yang luasnya hanya 44,03 kilometer persegi, tingkat kepadatannya mencapai 11.370 jiwa per kilometer persegi. Berbagai kegiatan dilakukan di kota Solo dengan tanpa meninggalkan budaya daerah. Saat ini tercatat jumlah penduduk di kota solo telah mencapai 500. 642 di tahun 2010. Semakin tingginya jumlah penduduk tentu akan mengakibatkan kebutuhannya meningkat. Salah satu kebutuhan yang juga semakin meningkat yakni kebutuhan akan tempat hiburan. Hiburan adalah salah satu kebutuhan sekunder yang wajib dipenuhi oleh manusia. Tak ada seorangpun yang tidak haus akan hiburan. Tingginya aktivitas kerja akan mempengaruhi tingkat kesegaran otak. Apabila semakin banyak orang yang bekerja, maka kebutuhannya akan refreshing akan semakin meningkat. Kebutuhan hiburan tidak hanya dibutuhkan oleh orang kelas menengah keatas, namun juga penduduk kalangan menengah kebawah juga membutuhkan hiburan. Semua masyarakat berhak mendapatkan hiburan sebagai kebutuhan tersier di dalam kehidupannya. Solo sebagai salah satu kota dengan tingkat penduduk yang tinggi, memiliki komposisi penduduk yang bervariatif. Beragam orang dengan bermacam macam pekerjaan ditemuai di kota ini. Mulai dari sektor formal hingga informal semua mencari nafkah dengan halal di kota ini. Meskipun mengalami perkembangan yang sangat pesat, tercatat sebanyak 40% masyarakatnya masih berada di bawah garis kemiskinan. Hal ini tentunya membuat pemkot Surakarta harus memperhitungkan keberadaan warga miskin ini dalam pembuatan kebijakan mulai dari segi partisipasi hingga akses menikmati kebijakan yang dibuat Pemkot. Salah satu kebijakan baru yang akan dilakukan oleh Pemkot Surakarta yakni pembangunan Trans Studio. Trans studio adalah tempat hiburan indoor berskala nasional yang berisi bermacam hiburan modern yang didirikan oleh trans tv dibawah Hari Tanoesudibyo. Sampai saat ini trans studio telah didirikan di dua kota yakni Makassar dan Bandung dan dalam pengerjaan di Jakarta. Karena keberadaannya yang mendapat respon positif dari masyarakat

nasional dan internasional, maka rencana pembangunan ke 4 telah memilih kota Solo sebagai tempat pendiriannya. Sampai sekarang pembangunan trans studio masih belum dilakukan. Perkembangan terbarunya adalah investor masih melihat lahan yang akan digunakan untuk membangun trans studio di Solo. Makalah ini akan mencoba menganalisa kebijakan pembangunan trans studio di kota Solo. Pentingnya melihat kebijakan yang akan dilaksanakan oleh Pemkot ini adalah adanya indikasi kebijakan yang market based governance. Padahal hingga saat ini telah terdapat tempat hiburan untuk masyarakat Solo yakni THR Sriwedari dan Taman Balaikambang. Kedua tempat hiburan tersebut telah menjadi pilihan hiburan bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

Formulasi Kebijakan Formulasi kebijakan adalah tahapan paling krusial dalam menganalisa sebuah kebijakan. Dalam tahap ini akan ditemukan persamaan atau perbedaan pandangan antara pemerintah dengan analis dalam mengkritisi sebuah kebijakan. Ada 3 model yang bisa digunakan untuk melihat formulasi kebijakan, yakni model Rational Comprehensif yang berisi SWOT dan CBA, kemudian model Garbage Scan, dan model Mixed Scaning. Model Rasional Sebuah model ideal pengambilan keputusan kebijakan publik secara rasional terdiri dari seorang individu rasional yang menempuh aktifitas-aktifitas berikut ini secara berurutan: Menentukan sebuah tujuan untuk memecahkan sebuah masalah Seluruh alternatif strategi untuk mencapai tujuan itu dieksplorasi dan didaftar Segala konsekuensi yang signifikan untuk setiap alternatif diperkirakan dan kemungkinan munculnya setiap konsekuensi diperhitungkan. Terakhir, strategi yang paling dekat dengan pemecahan masalah atau bisa memecahkan masalah dengan biaya paling rendah dipilih berdasarkan kalkulasi tersebut.1 Model rasional adalah rasional dalam pengertian bahwa model tersebut memberikan preskripsi berbagai prosedur pengambilan keputusan yang akan menghasilkan pilihan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan kebijakan. Ide-ide ini didasarkan pada keyakinan bahwa
1 Diadaptasi Dari Michael Carley, Rational Techniques In Policy Analysis. London Heinemann, 1980: 11.

IQBAL BASYARI 09/283037/SP/23655

berbagai permasalahan sosial seharusnya diselesaikan melalui cara yang ilmiah dan rasional, melalui pengumpulan segala informasi yang relevan dan berbagai alternatif solusi, dan kemudian memilih alternatif yang dianggap terbaik.2 Tugas analis kebijakan, di sini, adalah mengembangkan pengetahuan yang relevan dan kemudian menawarkannya pada pemerintah untuk diaplikasikan.
3

Pembuat kebijakan diasumsikan sebagai untuk bekerja sebagai teknisi

atau manajer bisnis, yang mengidentifikasi suatu masalah dan kemudian mengadopsi cara yang paling efektif dan efisien untuk mengatasi masalah tersebut. Karena berorientasi pada pemecahan masalah maka pendekatan ini sering juga disebut sebagai pendekatan ilmiah, rekayasa atau manajerialis.

2 Carol H. Weiss, Research For Policys Sake: The Enlightenment Od Social Science Research, Policy Analysis 3, 4, 1977: 531-45. 3 John Elster, The Possibility of Rational Politics, dalam David Held (Ed.), Political Theory Today. Oxford: Polity, 1991: 115

SWOT Analysis
KEKUATAN Pemerintah memiliki data yang lengkap tentang preferensi hiburan masyarakat Pemerintah memiliki dana yang cukup untuk melakukan pembangunan Pemeritah mampu membentuk opini publik di media massa Pemerintah memiliki jaringan pengusaha yang luas Merenovasi tempat hiburan yang sudah ada Memperluas dan menambah wahana di tempat hiburan yang sudah ada Membuka investasi bagi perluasan tempat hiburan di Solo KELEMAHAN Jumlah tempat hiburan masih sedikit Tempat hiburan masih skala lokal Dana pemerintah yang tersedia terbatas

ANALISIS

SWOT
PELUANG Sriwedari terkadang over capasity Permintaan masyarakat tentang referensi tempat hiburan tinggi Dukungan masyarakat menengah keatas untuk memiliki tempat hiburan baru Menambah PAD kota Solo ANCAMAN Bertambahnya tempat hiburan satu akan mengurangi pengunjung tempat hiburan yang sudah ada sebelumnya Mengurangi omset pelaku usaha di Sriwedari dan Balaikabang Penolakan dari pelaku usaha di Sriwedari dan Balaikambang

mengajak pihak ketiga untuk membangun tempat hiburan membuat tempat hiburan yang berskala nasional

membangun lokasi yang jauh dari tempat hiburan yang sudah ada melakukan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha lokal, dan pengusaha nasional untuk membangun tempat hiburan baru.

membuat tempat hiburan baru dengan jenis dan segmen pasar yang berbeda dari tempat hiburan yang sudah ada membangun tempat hiburan yang tidak berada di dalam kota.

Berdasarkan analisis SWOT diatas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang paling tepat adalah melakukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan swasta untuk membuat ataupun memperluas tempat hiburan Sriwedari maupun Balaikambang dengan menambah wahana baru yang berskala nasional.

Cost and Benefit Analysis Pengukuran CBA dapat dilakukan dengan metode kuantitatif maupun kualitatif. Dalam

IQBAL BASYARI 09/283037/SP/23655

kasus tempat hiburan di Solo, menambah wahana baru di THR Sriwedari maupun Balaikambang akan meningkatkan keuntungan dari sedikit biaya yang dikeluarkan. Dengan mengeluarkan sedikit biaya untuk memperluas dan meningkatkan berbagai wahana yang bertaraf nasional, maka akan mengundang beragam segmentasi pasar untuk dapat menikmati hiburan di Sriwedari. Pengunjung akan semakin banyak dan dapat meningkatkan para pelaku usaha yang bergantung dari Sriwedari. Selain itu akan menambah pendapatan daerah yang disumbangkan dari sektor pariwisata. Selain itu keuntungan juga diperoleh dari segi sosial. Pembuatan wahana baru tentunya akan mengundang tenaga kerja tanpa harus mengorbankan para pelaku usaha yang sudah ada sebelumnya. Baik wahana lama maupun wahana baru berkolaborasi menciptakan sebuah tempat hiburan yang lengkap namun tetap merakyat. Tidak akan ada satu aktorpun yang akan dirugikan dengan perluasan wahana hiburan di Sriwedari tersebut. Selain itu, karena kebutuhan hiburan tidak hanya dibutuhkan oleh kelompok kalangan menengah keatas, perluasan wahana ini juga akan dapat menjamin aksesibilitas masyarakat untuk dapat menikmati hiburan. Dengan tetap berada di Sriwedari yang memang murah, baik orang berkantong tipis dan tebal dapat merasakan hiburan yang sama. Semua warga Solo baik kaya maupun miskin akan dapat memperleh hiburan yang murah namun berkualitas.

Garbage Can Analysis

Model garbage can memotret proses pengambilan keputusan sebaai sebuah proses yang pada dasarnya tidak rasional (tetapi tidak sepenuhnya irasional) yang didasarkan pada kepantasan dan perilaku pengambilan-keputusan yang telah menjadi ritual. Di kota Solo ini terdapat sebuah kebijakan dimana selalu menyertakan budaya dalam setiap pengambilan keputusan. Karena masyarakat Solo masih menjaga tradisi budaya, maka dalam kesehariannya juga tetap menjaga budayanya baik dalam kehidupan formal maupun informal. Hingga sekarang akhirnya solo terkenal dengan istilahnya Solo kota Budaya. Dalam model garbage can, disediakan beberapa pilihan alternatif untuk dapat dilaksanakan sebagai kebijakan. Dalam kasus tempat hiburan di Solo, beberapa alternatif yakni: Membangun tempat hiburan yang baru Memperluas THR Sriwedari Mengadakan event untuk menarik pengunjung di Balaikambang Mempromosikan Balaikambang Memindah beberapa spot THR Sriwedari ke balaikambang Membiarkan pengusaha mendirikan tempat hiburan di berbagai tempat di Solo Menyediakan lahan kosong dan membiarkan mekanisme pasar mempertemukan demand dan supply yang akan menjadikan tempat hiburan baru.

IQBAL BASYARI 09/283037/SP/23655

Mix Scaning Analysis Model mix scaning ini adalah gabungan antara model rational comprehensif dan garbage can. Model ini tetap mengandalkan rasionalitas dalam pengambilan keputusan, namun tetap mempertimbangkan berbagai hal yang irasional dalam sentuhan kebijakannya. Di dalam model rasional tadi telah kita temukan sebuah kesimpulan yakni melakukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan swasta untuk membuat ataupun memperluas tempat hiburan Sriwedari maupun Balaikambang dengan menambah wahana baru yang berskala nasional. Kebijakan ini tidak akan berjalan dengan baik karena esensi dari jiwa kota Solo yang selalu menghargai budaya tidak ditonjolkan dalam kebijakan dan terkesan sama saja dengan penerapan di kota kota lainnya Yang menjadi kekuatan tersendiri bagi solusi tempat hiburan di Solo yakni dengan menambahkannya dengan unsur budaya dalam hal ini adalah unsur keraton. Hal ini akan semakin memperkental suasana di solo yang lebih berbudaya. Karena kehidupan keraton masih memiliki legitimasi tersendiri di masyarakat, maka dengan penambahan unsur budaya akan semakin memudahkan proses sosialisasi kebijakan yang dilakukan oleh pemkot Solo. Unsur budaya tidak bisa dilepaskan dalam pembuatan kebijakan. Hal ini karena masyarakat lebih menghormati unsur tradisional daripada unsur modern yang kini cenderung lebih berdampak negatif. Selain itu akan lebih mempertegas perbedaan tempat hiburan moder di solo dengan tempat hiburan di tempat lainnya. Meskipun suasana modern, namun tetap membawa nuansa tradisional yang telah menjadi ciri khas kota solo saat ini.

Daftar Pustaka Santoso, Purwo, (2010), Analisis Kebijakan Publik, JPP UGM: Yogyakarta
Tapiheru, Joash diterjemahkan dari Michael Howlett dan M. Ramesh, (1995), Studying Public Policy: Policy Cycles and Policy Subsystem, Oxford University Press, chap. 7, Public Policy Decision-Making Beyond Rationalism, Incrementalism and Irrationalism.