Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI

TUJUAN PERCOBAAN ................................................................................................................................ 3

TEORI DASAR ............................................................................................................................................. 3 Toksisitas ................................................................................................................................................... 3 larva udang................................................................................................................................................ 5 Jinten Hitam .............................................................................................................................................. 8

ALAT dan BAHAN .................................................................................................................................... 15

PROSEDUR KERJA .................................................................................................................................... 16

HASIL PERCOBAAN .................................................................................................................................. 16 Tabel Pengamatan .................................................................................................................................. 17 Metode BSLT ........................................................................................................................................... 17

PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 19

KESIMPULAN ........................................................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................... 20

Toksisitas Akut dengan BSLT (Brine Shrimp Letality Test)

KELOMPOK 3 Bayyinah Dwiyanti Atmajasari Irfan Taufik Maria Ulfa Putri Setyo Rini Sinthi Ayesha Pharmacy IV A

FAKULTAS KEDOKTERAN dan ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA JUNI 2010

TUJUAN PERCOBAAN
1. 2. 3. 4. Terampil dalam melakukan uji toksisitas akut dengan metode BSLT. Mengetahui cara penghitungan LD50 dengan metode BSLT. Mampu melaksanakan pengujian toksisitas secara invitro dengan metode BSLT. Mampu menetapkan LC50 sebagai parameter ketoksisan akut berdasarkan analisa probit.

TEORI DASAR Toksisitas


TOKSISITAS Dari berbagai literatur didapat berbagai definisi untuk toksikologi, yang pada hakekatnya menjelaskanilmu yang mempelajari racun, antara lain lain sebagai berikut : = ilmu yang mempelajari jelas atau kerusakan / cedera pada organisme (hewan, tumbuhan, manusia) yang diakibatkan oleh suatu materi, substansi, dan atau energi. = ilmu yang mempelajari racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada organisme. = ilmu yang mempelajari secara kuantitatif dan kualitatif pengaruh jelek dari zat kimiawi, fisis, dan biologis terhadap sistem biologis. (Borzelleca, Di Ruchirawat 1966). TOKSIN atau RACUN Yang dimaksud dengan racun dapat berupa zat kimia, fisis, dan biologis. Toksin atau Racun diartikan sebagai. @ zat yang dalam dosis yang kecil dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan hidup (Sax, 1957). @ zat yang bila masuk kedalam tubuh dalam dosis cukup, bereaksi secara kimiawi dapat menimbulkan kematian / kerusakan berat pada orang sehat (Goodman & Gilman 1956) @ semua zat pada hakekatnya adalah racun, dosisnyalah yang membedakan racun dari obat Paracelsus (1493-1541) @ zat yang bila dapat memasuki tubuh dalam keadaan cukup, secara konsisten menyebabkan fungsi tubumenjadi tidak normal. KERACUNANAN atau Intoksikasi = keadaan tidak normal akibat efek racun. Penyebabnya akibat dari bunuh diri, kecelakaan,tindak kriminal dan penyakit jabatan. Kesepakatan sebagai zat wana = perubahan morfologi, fisiologi, pertumbuhan dan perkembangan tunuh, ataupun pengairan usia hidup suatu organisme dan mengakibatkan kerusakan kapasitas fungsi atau gangguan kemampuan bertahan terhadap racun berasalkan lingkungan.

TOKSISITAS = kemampuan racun ( molekul ) untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk kedalam tubuh dan lokasi organ yang rentan terhadapnya. TARAF TOKSISITAS Taraf Toksisitas Taraf toksisitas dapat dinyatakan dengan angka 1-6 maupun berbeda-beda tergantrung literaturyang digunakan (sax, 1957 dan Ottoboni dl. Ruchirawat,1996), seperti tampak pada tabel: Taraf 6 = Supertoksik 5 = extremely toxic 4 = sangat toksik 3 = moderately toxic 2 = slightly toxic 1 = practically non toxic LD50(mg/kg BB), BB=70 kg < 5, terasa, <7 tetes 5-50, 7 Tetes sendok teh 50-500, sendok the-3 s.teh 500-5000, 3-30 s.teh 5-15 gr, >30 s.teh (1lb) >15 gr, >1qt LD50(mg/kg BB)10kg anak <tetes 1 tetes- 1/8 s. the 1/8 s.teh-1 s.teh 1 s.teh-4 s. makan > 4 s.makan

Taraf toksisitas ini dapat digunakan untuk menilai taraf toksisitas suatu racun yang sedang diuji coba pada berbagai oerganisme. Tetapi toksisitas ini sangat beragam bagi berbagai organisme, tergantung dari berbagai faktor antara lain sebagai berikut : 1. Spesies uji 2. cara racun memasuki tubuh/potal entri 3. frekuensi yang lama 4. konsentrasi zat pemapar 5. bentuk, sifat kimia/ fisika zat pencemar 6. kerentanan berbagai spesies terhadap pencemar. Semua turut menentukan efek yang terjadi.

Cara yang dilakukan yaitu dengan menghitung semua hewan yang hidup dan hewan yang mati. Kemudian menghitung Rasio kematian dengan membagi jumlah hewan yang mati dengan hewan yang hidup. Yang terakhir adalah menentukan persen kematian dengan cara rasio kematian dikali 100. Menentukan jarak keseimbangan = 50% - Dosis terendah (%) Dosis tertinggi(%)- Dosis terendah Untuk peningkatan dosis = Dosis tinggi Dosis rendah

larva udang
Uji BSLT ini dilakukan terhadap larva udang Artemia salina leach, alas an digunakannya udang ini karena mudah didapat, murah, prosesnya cepat 1 x 24 jam, mudah dikembangbiakan dan mudah mati. (http://bagsoks.blog.friendster.com/about/ ) Artemia salina Leach Hewan uji yang digunakan dalam metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) ini adalah Artemia salina Leach oleh Linnaeus, Artemia diberi nama Cancer salinus, kemudian pada tahun 1819 diubah menjadi Artemia salina oleh Leach (Mujiman, 1995). A. Klasifikasi Artemia merupakan kelompok udang-udangan yang diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia

Subkingdom : Metazoa Phylum Subphylum Classis Subclassis Ordo Famili : Arthropoda : Mandibulata : Crustacea : Branchiopoda : Anostraca : Artemiidae

Genus Spesies B. Lingkungan Hidup

: Artemia : Artemia salina Leach

Artemia hidup planktonik di perairan yang berkadar garam tinggi (antara 015 - 300 permil). Suhu yang dikehendaki berkisar antara 25-300C, oksigen terlarut sekitar 3 mg/L dan pH antara 7,5-8,5. Sebagai plankton Artemia salina tidak dapat mempertahankan diri terhadap pemangsaan musuh-musuhnya sebab tidak mempunyai alat ataupun cara untuk membela diri. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari pemangsaan adalah lingkungan hidup yang berkadar garam tinggi, sebab pada kadar garam yang tinggi tersebut, pemangsanya pada umumnya sudah tidak dapat hidup lagi. C. Morfologi Artemia dewasa dapat mencapai panjang antara 1- 2 cm dengan berat badan sekitar 10 mg. Anak yang baru menetas (Nauplius instar I) panjang sekitar 0,4 mm dengan berat badan sekitar 15 mikrogram. Nauplius instar II 13 panjangnya sekitar 0,6 mm, sedangkan nauplius instar III sudah sepanjang 0,7 mm. Telur yang masih bercangkang bergaris tengah sekitar 300 mikron dengan berat sekitar 3,65 mikrogram. Sedangkan telur yang telah didekaptulasi garis tengahnya sekitar 210 mikron (Mujiman, 1995). Pada Artemia dewasa, biasanya ditandai dengan adanya tangkai mata yang jelas terlihat pada kedua sisi bagian kepala, antenna sebagai alat sensori Morfologi Artemia salina disajikan pada gambar 1. Morfologi Artemia salina Leach (Isnansetyo, 1995) Keterangan: 1. Mata nauplius 2. Antennula 3. Antena 4. Calon thoracopoda 5. Saluran pencernaan 6. Mandibula D. Perkembangbiakan Artemia berkembang biak secara biseksual dan beberapa jenis lainya secara parthenogenesis. Artemia dengan jenis biseksual tidak dapat berkembang biak secara parthenogenesis dan jenis parthenogenesis tidak dapat 6

berkembang biak secara biseksual. Perkembangbiakan pada jenis biseksual harus melalui proses perkawinan antara induk betina dan induk jantan. Sedangkan jenis parthenogenesis tidak ada perkawinan, karena memang tidak ada pejantannya, jadi betinannya akan beranak dengan sendirinya tanpa kawin (Mujiman, 1995).

E. Penetasan Telur Artemia Telur yang siap menetas berwarna coklat keabu-abuan. Untuk media penetasan dapat digunakan air laut biasa (kadar garam 30 permil). Tapi untuk mencapai hasil penetasan yang lebih baik, kita perlu menggunakan air berkadar garam 5 permil. Ini dapat dibuat dengan mengencerkan air laut dengan air tawar. Sebelum ditetaskan telur-telur tersebut perlu dicuci terlebih dahulu, yakni dengan direndam di dalam air tawar selama 1 jam, baru kemudian dimasukan dalam wadah penetasan. Suhu air yang baik selama proses penetasan adalah antara 25-30C. Sedangkan kadar oksigennya harus lebih dari 2 mg/L. Untuk merangsang proses penetasannya media penetasan tersebut perlu disinari dengan lampu yang dipasang di samping wadah. Dalam waktu 24-36 jam setelah pemasukan telur, biasanya telur-telur itu sudah menetas menjadi anak Artemia yang dinamakan nauplius (Mujiman, 1995). Ada beberapa tahapan proses penetasan Artemia ini yaitu tahap hidrasi, tahap pecah cangkang, dan tahap payung atau tahap pengeluaran. Untuk menngetahui tahap penetasan dapat dilihat pada gambar 3.

Metode Brine Shrimp Lethality Test (BST) Artemia salina Leach, merupakan sejenis udang-udangan yang hidup planktonik di perairan laut yang salinitasnya tinggi. Artemia salina Leach merupakan salah satu organisme yang digunakan dalam metode skrining untuk menentukan toksisitas suatu senyawa (Meyer et al cit Wahyuni, 2002). Uji toksisitas dengan menggunakan Brine Shrimp Letality Test ini dapat ditentukan dari jumlah kematian brine shrimp Artemia salina akibat pengaruh ekstrak atau senyawa bahan alam dengan konsentrasi tertentu yang dinyatakan dalam LC50 . Nilai LC50 merupakan angka yang menunjukan konsentrasi 50 ekstrak yang dapat menyebabkan kematian sebesar 50 % dari jumlah hewan uji. Hasil uji dinyatakan toksik terhadap Artemia apabila ekstrak tumbuhan tersebut memiliki LC50 g/mL (Meyer et al cit Wahyuni, 2002). Sifat toksisitas dari suatu senyawa dapat diasosiasikan sebagai aktifitas antikanker, namun dalam metode Brine Shrimp Lethality Test ini tidak spesifik untuk mendeteksi senyawa antikanker. Oleh karena itu, setelah uji toksisitas dengan menggunakan Brine Shrimp Lethality Test perlu dilakukan uji sitotoksisitas. Sehingga uji dengan metode BST ini merupakan uji awal untuk mengetahui senyawa yang memiliki potensi atau tidak sebagai antikanker. Keuntungan dari metode Brine Shrimp Lethality Test antara lain cepat hanya membutuhkan waktu pengamatan selama 24 jam, murah, merupakan metode yang sederhana, hanya dibutuhkan sampel yang sangat sedikit, selain itu dalam pelaksanaannya tidak membutuhkan keahlian khusus (Meyer et al cit Wahyuni, 2002).

Jinten Hitam

Nigella sativa Linn. A. Klasifikasi Tanaman (Heyne, 1987; de Guzman et al., 1999; anonim, 2009) Berdasarkan ilmu taksonomi, klasifikasi tanaman jinten hitam adalah sebagai berikut : 8

Sinonim : Nigella cretica Miller, Nigella indica Roxb. Dunia Sub dunia Divisi Sub divisi Kelas Sub kelas Bangsa Suku Marga Jenis B. Nama daerah Nama atau sebutan bagi Nigella sativa L. berbeda-beda disetiap daerah tertentu yaitu: Small Fennel, Black cummin, love-in-a-mist (English), Cumin noir, nigelle cultive, toute-pice (France), Indonesia: jinten hitam. Malaysia: jintan hitam. (de Guzman et al., 1999) C. Morfologi Jintan hitam adalah terna, tegak, semusim, tingginya sampai 70 cm. Tanaman berbatang lunak, beralur dan berwarna hijau kemerahan. Bunga kuning, biji berbentuk kerucut berwarna kehitaman. (de Guzman et al., 1999) Batang biasanya berusuk dan berbulu kasar, rapat atau jarang-jarang dan disertai dengan adanya bulu-bulu yang berkelenjar Bentuk daun lanset berbentuk garis, panjang 1,5 cm sampai 2 cm, ujung meruncing, terdapat tiga tulang daun yang berbulu. Daun bagian bawah bertangkai dan bagian atas duduk. Daun pembalut bunga kecil. Kelopak bunga 5, bundar telur, ujungnya agak meruncing sampai agak tumpul, pangkal mengecil membentuk sudut yang pendek dan besar. Mahkota bungan pada umumnya 8, agak memanjang, lebih kecil dari kelopak bunga, berbulu jarang dan pendek. Bibir bunga dua, bibir bagaian atas pendek, lanset, ujung memanjang berbentuk benang, ujung bibir bunga bagian bawah tumpul. Benang sari banyak, gundul. Kepala sari jorong bersudut tiga tak beraturan dan sedikit berbentuk kerucut, panjang 3 mm, berkelenjar. (DEPKES, 1979) Rasulullah shalalallahu alaihi wa sallam untuk mengobati penyakit dan menjaga kesehatan, salah satunya adalah dengan mengkonsumsi habbatussauda, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam Sesungguhnya : Plantae : Traceabionta : Spermatophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida dicotyledon : Magnoliidae : Ranunculales : Ranunculaceae : Nigella L. : Nigella Sativa Linn.

dalam habbatussauda terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit kecuali kematian (Shohih. H.R Bukhari & Muslim) (http://dvitk.wordpress.com/) Jintan hitam atau yang dikenal dengan nama black cumin (Nigella sativa L.) merupakan tanaman asli dari Eropa Selatan dan banyak ditemukan di India. Jintan hitam yang ada di Indonesia berasal dari Bombay (Heyne, 1987). Tanaman penghasil jintan hitam merupakan tanaman yang tumbuh liar sampai pada ketinggian 1100 m dari permukaan laut. Biasanya jintan hitam ditanam di daerah pegunungan ataupun sengaja ditanam di halaman atau ladang sebagai tanaman rempah-rempah (Achyad et. al., 2000). Tanaman ini secara empirik telah digunakan selama berabad-abad di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Secara tradisional, jintan hitam digunakan sebagai antiseptik, obat sakit kepala, rematik, penurun panas, obat maag, dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Beberapa penelitian melaporkan bahwa jintan hitam memiliki aktivitas sebagai antidiabetes (Khanam & Dewan, 2008), antiulcer, antitumor dan antikanker (Ivankovic et al., 2006; Mbarek et al., 2007; Medenica et al.,1997). Jintan hitam biasanya dicampur dengan bahan lain untuk digunakan sebagai obat sakit perut (Heyne, 1987). Di Yunani, jintan hitam digunakan untuk meringankan sakit kepala, sakit gigi, dan sakit perut. Jintan hitam umumnya digunakan di Timur Tengah sebagai obat tradisional untuk memperbaiki berbagai kondisi kesehatan manusia (AlSaleh et. al., 2006), serta ditambahkan pada makanan tradisional dan dicampur dengan roti ataupun madu sebagai pemberi citarasa (Al-Saleh et. al., 2006 dan Al-Jabre et. al., 2003). Menurut Achyad et. al. (2000), buah dan biji jintan hitam memiliki kegunaan untuk mengatasi radang pada selaput lendir mata penyebab penglihatan berkabut, batuk rejan, keputihan pada gadis remaja, lepra, radang hidung, sembelit, encok, digigit serangga/ular, dan influensa. Komposisi kimia jintan hitam sangat beragam. Jintan hitam diketahui mengandung lebih dari 100 komponen seperti minyak aromatik, trace elements, vitamin dan enzim. Menurut Achyat et. al. (2000), kandungan biji jintan hitam antara lain minyak atsiri, minyak lemak, dan saponin melantin, zat pahit nigelin, nigelon, dan timokuinon. Nigellone dan thymoquinon dikenal sebagai anti-histamin, antioksidan, dan anti-infeksi.

Sifat antimikroba dari rempah-rempah sudah diketahui dan digunakan sejak berabad-abad yang lalu. Menurut Direja (2007), biji jintan hitam mengandung senyawa antimikroba yang bersifat volatil dan non-volatil dengan berbagai tingkat kepolaran. Ekstrak etanol dan minyak atsiri jintan hitam efektif menghambat pertumbuhanStaphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus cereus, dan Salmonella Typhimurium, sedangkan minyak atsiri jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan Bacillus cereus (Direja, 2007). Menurut Ahmad et.al.(2001) ekstrak etanol jintan hitam dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, Salmonella paratyphi, dan Shigella dysenteriae. Disamping itu menurut Singhet.al. (2005), ekstrak aseton jintan hitam dapat menghambat pertumbuhanStaphylococcus aureus, Bacillus cereus, Bacillus subtilis, dan Salmonella typhi. D. Kandungan kimia jintan hitam 10

Jinten hitam juga sebagai sumber kalsium, zat besi, sodium, dan potassium yang berperan penting dalam membantu peran enzim. Ia juga mengandung asam lemak, terutama asam lemak esensial tak jenuh (asam linoleic dan linolenic). Asam lemak esensial terdiri dari asam alfa-linolenic (omega-3) dan asam linoleic (omega-6) sebagai pembentuk sel yang tidak dapat dibentuk sendiri dalam tubuh sehingga harus mendapat asupan atau makanan dari luar yang memiliki kandungan asam lemak esensial yang tinggi. Beberapa penelitian melaporkan bahwa kandungan kimia jintan hitam terdiri dari minyak atsiri, minyak lemak, asam lemak tak jenuh (omega 3 dan omega 6) d-limonena, simena, glukosida, saponin, zat pahit, jigelin, nigelon, dan timokuinon (Anonim, 2008). Minyak jinten hitam mengandung asam lemak yang terdiri dari: asam linoleat 56%; asam oleat 24,6%; asam palmitat 12%; asam stearat 3%; asam eikosadienoat 2,5%; asam linolenat 0,7%, dan asam miristat 0,16% (Anonim, 2010). Jinten hitam kaya akan kandungan nutrisi monosakarida (molekul gula tunggal) dalam bentuk glukosa rhamnose, xylose, dan arabinose yang dengan mudah dapat diserap oleh tubuh sebagai sumber energi, juga mengandung nonstarch polisakarida yang berfungsi sebagai sumber serat yang sangat berguna untuk diet. Mengandung lima belas asam amino pembentuk protein, delapan diantaranya asam amino esensial yang sangat diperlukan oleh tubuh, di mana tubuh tidak dapat mensistensisnya sendiri sehingga perlu asupan dari luar. Kandungan arginin di dalamnya sangat penting untuk masa pertumbuhan. Analisis kimia lanjutan menemukan bahwa ia mengandung karotin, yang diubah menjadi vitamin A oleh liver. Berdasarkan pada kandungan asam amino dan asam lemaknya, dapat dikatakan kandungan zat gizi jintan hitam cukup tinggi. Jintan hitam mengandung 8 jenis dari 10 asam amino esensial, 7 jenis dari 10 asam amino nonesensial (Tabel 1). Selain itu jintan hitam juga mengandung asam lemak esensial (essential fatty acid), yaitu asam linoleat dan asam linolenat yang penting untuk pembentukan Prostaglandin E1 yang menyeimbangkan dan memperkuat sistem imun (Tabel 2). (http://elisherbal.blogspot.com/2010/04/penelitian-jintan-hitam-oleh-dosenipb.html) Tabel 1. Komposisi asam amino biji jintan hitam

Asam amino Alanin Valin Glisin Isoleusin

Persentase 3.77 3.06 4.17 4.03

Asam amino Serin Asam aspartat Metionin Fenilalanin

Persentase 1.98 5.02 6.16 7.93

11

Leusin Prolin Treonin

10.88 5.34 1.23

Asam glutamat Tirosin Lisin arginin

13.21 6.08 7.62 19.52

Tabel 2. Komposisi asam lemak biji jintan hitam

Asam lemak Miristat(C14:0) Palmitat(C16:0) Stearat(C18:0) Oleat(C18:1) Linoleat(C18:2)(Omega-6) Linolenat(18:3n-3) (Omega-3) Arakidonat(C20:0)

Persentase (%) 0.5 13.7 12.6 23.7 57.9 2.0 1.3

(Sumber : Anonimb, 2006)

E. Aktivitas biologis dan farmakologis Hasil penelitian Kawther et al. (2008) menunjukkan bahwa jintan hitam (Nigella sativa Linn.) memiliki beberapa aktivitas biologis antara lain: antivirus, antikanker, anti-angiogenik, antioksidan, dan peroksidasi lipid. Jintan hitam memiliki aktivitas antivirus terhadap Infectious Laryngotracheitis virus (ILTV). Jinten hitam yang diekstraksi dengan pelarut berbeda (air, etanol, dan kloroform) memiliki efek antimalaria terhadap tikus yang diberikan secara intraperitonial dan per oral (Abdulelah et al., 2007). Ekstrak kloroform dan etanol menunjukkan adanya penurunan parasitaemia dan peningkatan waktu hidup tikus yang terinfeksi malaria.

12

Thymoquinon merupakan salah satu komponen yang paling banyak ditemukan dalam jintan hitam, memiliki beberapa khasiat antara lain aktivitas antioksidatif dan anti-inflamasi (Ahmed et al., 2009). Aktivitas antikanker Beberapa penelitian in vitro dan in vivo telah dilakukan pada ekstrak dan minyak jintan hitam. Pada tahun 1997, Medenica et al. melaporkan efek angiogenesis minyak jintan hitam pada sel kanker payudara, prostat, dan melanoma. Mbarek et. al. (2007) meneliti efek sitotoksik jintan hitam pada mastocytoma cell line (P815), sel vero (sel karsinoma dari monyet) dan sel karsinoma dari hati domba (ICOI). Penelitian ini menunjukkan bahwa minyak (IC50 = 0.6% v/v) dan ekstrak etil asetat (IC50 = 0.75%) jintan hitam mempunyai aktivitas sitotoksik pada sel P815 lebih besar dibanding dengan ekstrak butanolnya(IC50= 2%). Shoieb et. al. (2002) melaporkan bahwa minyak jintan hitam memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker tulang/sel COS31 (IC50 =7.7 M), kanker ovarium/BG-1( IC50 = 39.65 M), dan sel MDCK(IC50 =101 M). Pada penelitian dengan hewan uji tikus yang dilakukan oleh Abdallahet al. (2008) menunjukkan bahwa jintan hitam memiliki efek protektif selama dilakukannya radioterapi. Aktivitas antidiabetes Pemberian ekstrak pemberian ekstrak n-heksana jintan hitam atau jintan hitam mentah dapat menormalkan konsentrasi serum glukosa dan kolesterol yang tinggi pada tikus diabetes (Khanam & Dewan, 2008). Jinten hitam memiliki memiliki efek menguntungkan pada glukosa darah puasa, kolesterol total, dan kolesterol LDL. Jinten hitam merupakan obat yang mungkin terbukti bermanfaat dalam pencegahan dan pengobatan sindrom resistensi insulin (Ahmad et al., 2008). Aktivitas antimikroba Minyak jinten hitam memiliki aktivitas antimikroba, senyawa yang diidentifikasi mengandung efek antimikroba adalah thymohydroquinon yang terbukti aktif melawan bakteri Gram positif dan ragi (Mohamed et al., 1974) Salman et al. (2008) meneliti tentang aktivitas antibakteri minyak jintan hitam terhadap beberapa isolate klinik bakteri yang resisten terhadap sejumlah antibiotic, dalam beberapa konsentrasi menggunakan teknik difusi agar. Hasilnya minyak yang tergantung dosis menunjukkan aktivtas antibakteri lebih tinggi terhadap bakteri Gram positif daripada bakteri Gram negative. http://cintaherbal.wordpress.com/2009/07/23/multi-khasiat-habbatussauda-nigella-sativajinten-hitam/ Menguatkan Sistem Kekebalan Tubuh (http://ksupointer.com/2010/jinten-hitam-obat-segala-penyakit)

13

Jintan hitam (Habbatussauda) dapat meningkatkan jumlah sel-sel T yang baik untuk meningkatkan sel-sel pembunuh alami. Efektivitasnya hingga 72% jika dibandingkan dengan plasebo hanya 7%. Dengan demikian, mengkonsumsi habbatussauda dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Pada tahun 1993, DR. Basil Ali dengan koleganya dari College of Medicine, di Universitas King Faisal mempublikasikannya dalam jurnal Pharmasetik Saud. Kemampuan ekstrak Habbatussauda diakui Prof . G Reitmuller, Direktur Institut Immonologi dari Universitas Munich, dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat digunakan bioregulator. Dengan demikian, Habbatussauda dapat dijadikan obat untuk penyakit yang menyerang kekebalan tubuh, seperti kanker dan AIDS. Meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kewaspadaan Dengan kandungan asam linoleat (omega 6) dan asam linoleat (omega 3), Habbatussauda merupakan nutrisi bagi sel otak untuk meningkatkan daya ingat dan kecerdasan. Habbatussauda juga memperbaiki mikro (peredaran darah) ke otak dan sangat cocok diberikan kepada anak usia pertumbuhan dan lansia. Meningkatkan bioaktivitas hormon Hormon adalah zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang masuk dalam peredaran darah. Dalam tubuh manusia terdapat berbagai jenis hormon di ataranya hormon reproduksi yang berhubungan dengan gairah seksual. Salah satu kandungan Habbatussauda adalah setrol yang berfungsi sebagai sintesa dan bioaktivitas hormon. Menetralkan racun dalam tubuh Racun dapat menganggu metabolisme dan menurunkan fungsi organ penting seperti hati, paru-paru dan otak. Gejala ringan keracunan dapat berupa diare, muntah, pusing, gangguan pernapasan dan menurunkan daya konsentrasi. Habbatussauda mengandung saponin yang dapat menetralkan dan membersihkan racun dalam tubuh. Mengatasi gangguan tidur dan stress Sapion yang terdapat pada Habbatussauda mempunyai fungsi seperti kortikosteroid yang dapat mempengaruhi karbohidrat, protein dan lemak serta mempengaruhi fungsi jantung, ginjal, otot tubuh dan syaraf. Sapion berfungsi untuk mempertahankan diri dari perubahan lingkungan, gangguan tidur dan dapat menghilangkan stress. Anti histamin. Histamin adalah sebuah zat yang dilepaskan oleh jaringan tubuh yang memberikan reaksi alergi seperti pada asthma bronkial. Minyak yang dibuat dari Habbatussauda dapat mengisolasi dithimoquinone. Minyak ini sering disebut nigellone yang berasal dari volatile nigella. Pemberian minyak ini berdampak positif terhadap penderta asthma bronkial. Penelitian yang dilakukan oleh Nirmal Chakravaty MD pada tahun 1993 membuktikan kristal dari negelone memberi efek suppresive. Kristal-kristal ini dapat menghambat protemkinasi C, sebuah zat yang memicu pelepasan histamin. Penelitian lain juga membuktikan hal serupa. Kali ini dilakukan oleh Dr. Med. Peter Schleincher, ahli immonologi dari Universitas Munich. Yang melakukan pengujian terhadap 600 orang yang menderita alergi. Hasilnya cukup 14

meyakinkan, 70 % yang menderita alergi debu, serbuk, jerawat dan asthma sembuh setelah diberi minyak nigella (Habbatussauda). Dalam prakteknya Dr. Schleincher memberi resep Habbatussauda ke pasiennya yang menderita influenza. Memperbaiki saluran pencernaan dan anti bakteri Habbatussauda mengandung minyak atsiri dari minyak volatif yang telah diketahui manfaatnya untuk memperbaiki pencernaan. Secara tradisional minyak atsiri digunakan untuk obat diare. Pada tahun 1992, Jurnal Farmasi Pakistan membuat hasil penelitian yang membuktikan minyak volatile lebih ampuh membunuh strain bakteri V Cholera dan E Coli dibandingkan dengan antibiotik seperti ampicilin dan tetrasiklin. Melancarkan air susu ibu Kombinasi bagian lemak tidak jenuh dan struktur hormonoal yang terdapat dalam minyak Habbatussauda dapat melancarkan air susu ibu. Penelitian ini kemudian dimuat dalam literatur penelitian Universitas Potchetstroom tahun 1989. Tambahan nutrisi pada ibu hamil dan balita Pada masa pertumbuhan, anak membutuhkan nutrusi untuk meningkatkan isstem kekebalan tubuh secara alami, terutama pada musim hujan anak sangat mudah terkena flu dan pilek. Kandungan Omega 3, Omega 6 dan Omega 9 yang terdapat pada Habbatussaudamerupakan nutrisi yang membantu perkembangan jaringan otak. Meremajakan sel-sel kulit dan menunda proses penuaan Kulit merupakan salah satu organ tubuh terluar yang penting. Fungsinya melindungi tubuh dari benturan fisik, kuman dan jamur. Habbatussauda sangat baik untuk menjaga kelembaban, kehalusan dan keremajaan kulit. Nutrisi bagi lansia dan food suplement Kaya akan kandungan nutrisi sebagai tambahan energi sangat ideal untuk orang yang berusia lanjut, terutama untuk menjaga daya tahan tubuh dan revitalitas sel otak agar tidak cepat pikun. Habbatussauda mengandung 15 macam asam animo penyusun isi protein termasuk di dalamnya 9 asam amino esensial. Asam amino tidak dapat diproduksi oleh tubuh dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari makanan. Prinsip-prinsip anti tumor pada Kongres Kanker Internasional di New Delhi pada musim gugur yang lalu, minyak Habbatussauda diperkenalkan ilmuan kanker Immonobiologi Laboratory dari Carolina Selatan. Habbatussauda dapat merangsang sumsum tulang dan sel-sel kekebalan. Interferonnya menghasilkan sel-sel normal terhadap virus yang merusak sekaligus menghancurkan sel-sel tumor dan meningkatkan antibodi.

ALAT dan BAHAN


Larva udang Artemia salina 15

Kotak penetesan larva udang Tabung reaksi Mikro pipet 2 20 L Mikro pipet 20 200 L Mikro pipet 100 1000 L Wellplate Kaca pembesar Ekstrak jinten hitam

PROSEDUR KERJA
a. Penetesan Artemia salina Leach. Pembiakan udang dilakukan dalam sebuah kotak yang dibgi menjadi 2 bagian dengn sekat berlubang dan di masukkan air laut secukupnya.Salah satu isi kotak di tutup dengan alumunium foil dan telur udang dimasukkan ke dalamnya.Penetasan dilakukan di bawah lampu selama 24 jam. b. Dibuat larutan ekstrak jinten hitam dengan berbagai konsentrasi. c. Masukkan 10 ekor larva Artemia salina Leach yang berumur 24 jam setelah menetes ke dalam 5 tabung reaksi.Masing-masing tabung berisi 10 ekor larva. d. Buat air garam (19 gram NaCl dilarutkan dalam 500 mL air) e. Masukkan larutan ekstrak sesuai konsentrasi yang di buat ke dalam 4 tabung reaksi larva Artemia salina Leach. 1 tabung reaksi di jadikan control, dengan cara tidak di tambahkan larutan ekstrak. f. Tambahkan 10 ml air garam ke dalam masing-masing tabung reaksi, dan tabung di simpan selama 24 jam. g. Hitung jumlah larva Artemia salina Leach yang masih hidup di masing-masing tabung reaksi.

HASIL PERCOBAAN

Larva Udang 24 jam

ekstrak jinten

larva + ekstrak + larutan garam

Setelah 3 hari

16

Tabel Pengamatan
Tabel hasil pengamatan pada larva udang yang hidup Tabung keI Kontrol I II III IV V 1 1 1 II 2 1 4 1 III 1 2 Kelompok IV 1 2 1 1 2 V 1 2 3 2 4 VI 3 -

Metode BSLT
1. Akumulasi / Righn Mund Konsentrasi (ppm) Log K (X) Hidup Mati AH AM % mortalitas

0,1 1 10 100 1000 10000

-1 0 1 2 3 4

2 5 2 6 7 0

38 35 38 34 33 40

22 20 15 13 7 0

38 73 111 145 178 218

63,3% 78,49% 88,1% 91,77% 96,22% 100%

17

y = a + bx y = 76,012 + 6,867x x= = x = -3,787 anti log X = 1,63 x 10-4 ppm Dari 10 hewan seharusnya dibuat rentang konsentrasi Lc10 + Lc90, karena kalau Lc10 yang mati hanya 1 dari 10 hewan coba, kalau Lc90 yang hidup hanya 1 dari 10 hewan coba. 2. Farmakope Indonesia edisi ketiga Pi = jumlah hewan yang mati terhadap jumlah hewan seluruhnya yang diberi dosis Konsentrasi (ppm) 0,1 1 10 100 1000 10000 Log K (X) -1 0 1 2 3 4 Hidup 2 5 2 6 7 0 Mati 38 35 38 34 33 40 Pi 0,95 0,875 0,95 0,85 0,825 1 Pi = 5,45 M = a b (pi 0,5) = 4 1 (5,45 0,5) = - 0,95 Anti log M = 0,112 ppm Kekurangan : data yang digunakan harus sedikit, log konsentrasi harus linier

18

3. Probit Konsentrasi (ppm) 0,1 1 10 100 1000 10000 y = 6,2977 + 0,2604X 5 = 6,2977 + 0,2604X X = -4,98 Anti log X = 1,039 x 10-5 ppm Kalau data yang digunakan banyak yang bagus pakai probit dan Righn Mund Faktor kesalahan : telur larvanya kualitasnya rendah Jika ekstrak herbal <30 ppm bisa digunakan sebagai anti kanker Log K (X) -1 0 1 2 3 4 Hidup 2 5 2 6 7 0 Mati 38 35 38 34 33 40 %Kematian 95 87,5 95 85 82,5 100 Probit (y) 6,6449 6,1503 6,6449 6,0364 5,9346 8,7190

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kita melakukan uji toksisitas akut dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Ketoksikan akut adalah derajat efek toksik suatu senyawa yang terjadi secara singkat (24 jam) setelah pemberian dalam dosis tunggal. Jadi yang dimaksud dengan uji toksisitas akut adalah uji yang dilakukan untuk mengukur derajat efek suatu senyawa yang diberikan pada hewan uji dan pada praktikum kali ini kita menggunakan larva udang Artemia salina Leach. Uji toksisitas dengan menggunakan Brine Shrimp Letality Test ini dapat ditentukan dari jumlah kematian Brine Shrimp Artemia salina akibat pengaruh ekstrak atau senyawa bahan alam yang digunakan yaitu jinten hitam dengan konsentrasi tertentu yaitu 1000 ppm yang dinyatakan dalam LC50. Nilai LC50 merupakan angka yang menunjukan konsentrasi 50 ekstrak yang dapat menyebabkan kematian sebesar 50 % dari jumlah hewan uji. Hasil uji dinyatakan toksik terhadap Artemia apabila ekstrak tumbuhan tersebut memiliki LC50 g/mL (Meyer et al cit Wahyuni, 2002).

19

Sifat toksisitas dari suatu senyawa dapat diasosiasikan sebagai aktifitas antikanker, namun dalam metode Brine Shrimp Lethality Test ini tidak spesifik untuk mendeteksi senyawa antikanker. Oleh karena itu, setelah uji toksisitas dengan menggunakan Brine Shrimp Lethality Test perlu dilakukan uji sitotoksisitas. Sehingga uji dengan metode BSLT ini merupakan uji awal untuk mengetahui senyawa yang memiliki potensi atau tidak sebagai antikanker. Pada perhitungan LC50 didapatkan nilai BSLT yaitu kurang dari 30ppm. Hal ini menunjukkan bahwa jinten hitam mempunyai aktivitas sebagai antikanker.

KESIMPULAN
Uji toksisitas dengan menggunakan Brine Shrimp Letality Test ini dapat ditentukan dari jumlah kematian brine shrimp Artemia salina akibat pengaruh ekstrak atau senyawa bahan alam dengan konsentrasi tertentu yang dinyatakan dalam LC50 Penentuan nilai LC50 ada 3 metode yaitu Metode menurut Farmakope Indonesia edisi ketiga 0,112 ppm; metode Righn Mund 1,63 x 10-4 ppm; metode probe 1,039 x 10-5 ppm. Nilai LC50 yang didapat berbeda-beda tergantung metode yang digunakan. Setiap metode mempunyai keuntungan dan kekurangan masing-masing. Faktor kesalahan yaitu telur-telur sebelum ditetaskan tidak dicuci terlebih dahulu (yakni dengan direndam di dalam air tawar selama 1 jam, baru kemudian dimasukan dalam wadah penetasan) tetapi setelah ditimbang telur langsung dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air garam.

DAFTAR PUSTAKA
Nurmeilis, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi Farmasi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition, Lange Medical Books/Mcgraw-Hill: New York. Universitas Indonesia. 2008. Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Arisandi Y, Andriani Y. Khasiat tanaman obat. Jakarta: Puataka Buku Murah, 2008. Donatus IA. Toksikologi Dasar. Yogyakarta: Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Farmasi, Universitas Gajah Mada; 2001

20