Anda di halaman 1dari 13

Praktikum Biofarmasetik dan Farmakokinetik

Simulasi Model In Vitro Farmakokinetik Obat Setelah Pemberian Secara Intravena

Bayyinah Dewanti Rosyana Fitri Ratna Dewi Hesty Priska Aprina Nur Ikhlas FARMASI IV A KELOMPOK 4 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Jakarta

DAFTAR ISI
I. II. a. b. c. TUJUAN PRAKTIKUM ............................................................................................................................. 3 DASAR TEORI ......................................................................................................................................... 3 Parasetamol .......................................................................................................................................... 3 Simulasi Model In Vitro ......................................................................................................................... 4 Parameter Farmakokinetik ................................................................................................................... 4

Konstanta Eliminasi ....................................................................................................................................... 4 Volume Distribusi .......................................................................................................................................... 4 Klirens............................................................................................................................................................ 4 Waktu paruh (T1/2) ........................................................................................................................................ 4 d. Uji Difusi ................................................................................................................................................ 4

III. ALAT DAN BAHAN ................................................................................................................................. 7 IV. CARA KERJA ........................................................................................................................................... 8 V. Pembuatan Larutan Baku NaOH ........................................................................................................... 8 Pembuatan Larutan Induk Parasetamol ............................................................................................... 8 Uji Parasetamol dengan Metode Flow Through ................................................................................... 8 HASIL PENGAMATAN ............................................................................................................................ 9

Kalibrasi Parasetamol.................................................................................................................................... 9 Hasil Uji Parasetamol dengan Spektrofotometri ........................................................................................ 10 Hitung nilai x = Kadar = Konsentrasi ........................................................................................................... 10 Hitung Regresi Linier antara Waktu (X) dan Log Konsentrasi (Y) ................................................................ 12 Hitung nilai Konstanta (k)............................................................................................................................ 12 Hitung nilai Volume Distribusi (Vd) ............................................................................................................. 12 Hitung nilai Klirens (Cl) ................................................................................................................................ 13 Hitung nilai T ............................................................................................................................................ 13 VI. PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 13 VII. KESIMPULAN ....................................................................................................................................... 13 VIII. DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................ 13

PERCOBAAN IV Simulasi Model In Vitro Farmakokinetik Obat Setelah Pemberian Secara Intravena
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Dapat menjelaskan proses farmakokinetika obat di dalam tubuh setelah pemrian secara bolus intravena dengan simulasi model in vitro farmakokinetik obat. Mampu memplot data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala semilogaritmik Mampu menentukan berbagai parameter farmakokinetik

II.

DASAR TEORI

a. Parasetamol
Parasetamol atau asetaminophen, N-asetil-4Aminofenol (C8H9NO2), dengan BM 151,16 dan mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2. Pemerian: hablur atau serbuk hablur berwarna putih tidak berbau dan rasa pahit. Kelarutan: Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilenglikol; larut dalam larutan alkalihidroksida. Khasiat dan kegunaan yaitu analgetikum, antipiretikum. (Farmakope Indonesia edisi ketiga tahun 1979)

Asetaminofen adalah metabolit fenasetin yang bertanggung jawab atas efek analgesiknya. Obat ini menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer dan tidak memiliki efek anti-implamasi yang bermakna. Absorpsi asetaminofen tergantung pada kecepatan pengosongan lambung, dan kadar puncak di dalam darah biasanya tercapai dalam waktu 30-60 menit. Asetaminofen sedikit terikat dengan protein plasma dan sebagian dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati dan diubah menjadi asetaminofen sulfat dan glukuronida, yang secara farmakologi tidak aktif. Kurang dari 5% diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. Suatu metabolit minor tetapi sangat reaktif (N-asetil p-benzo
3

kuinon), penting pada dosis besar, karena toksisitasnya yang besar terhadap hati dan ginjal. Waktu paruh asetaminofen 2-3 jam dan relative tidak dipengaruhi oleh fungsi ginjal. Pada jumlah toksik atau adanya penyakit hati, wktu paruhnya bisa meningkat dua kali lipat atau lebih. Pada pemakaian 15 gram asetaminofen bisa berakibat fatal; kematian disebabkan oleh hepatotoksisitas yang berat dengan nekrosis lobules sentral, kadang berhubungan dengan nekrosis tubulus ginjal akut. (Bertram G. Katzung; Farmakologi dasar dan klinik edisi VI)

b. Simulasi Model In Vitro c. Parameter Farmakokinetik


Konstanta Eliminasi Volume Distribusi Klirens Waktu paruh (T1/2)

d. Uji Difusi

Difusi bebas atau transpot pasif suatu zat melalui cairan, zat padat atau melalui membrane adalah suatu proses yang sangat penting dalam ilmu farmasi. Pokok dari fenomena transpor massa yang diterapkan dalam bidang farmasi adalah disolusi obat dari tablet, serbuk dan granul, liofilisasi, ultrafiltrasi dan proses mekanik lainnya. Pelepasan obat dari basis salep atau supositoria lewatnya uap air, gas, obat, atau zat tambahan pada sediaan obat melalui penyalutan pengemasan, lapisan tipis, dinding wadah plastic, seal, serta permeasi dan distribusi molekul obat dalam jaringan hidup.

DIFUSI

Difusi didefinisikan sebagai suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan molecular secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas, misalnya suatu membrane polimer, merupakan suatu cara yang mudah untuk menyelidiki proses difusi. Perjalanan suatu zat melalui suatu batas bisa terjadi oleh suatu permeasi molecular sederhana atau oleh gerakan melalui pori dan lubang atau saluran. Difusi molecular atau permeasi melalui media yang tidak berpori bergantung pada disolusi dari molekul yang menembus dalam keseluruhan membrane. Sedang proses kedua menyangkut perjalanan suatu zat melalui pori suatu membrane yang berisi pelarut dan dipengaruhi oleh ukuran relative molekul yang menembusnya serta diameter dari pori tersebut. Lewatnya molekul molekul steroid melalui kulit manusia mungkin sebagian besar meliputi transport melalui folikel rambut, saluran sebum dan pori pori keringat pada epidermis contoh yang lebih baik dari suatu membrane pada skala molecular adalah suatu susunan anyaman polimer yang berakhir dengan cabang dan persilangan saluran bergantung pada ukuran dan bentuk dari molekul yang berdifusi, molekul-molekul itu bisa melalui pori-pori yang berkelok-kelok yang terbentuk oleh tumpang tindihnya ujung polimer. Jika transport melalui saluran tersebut terlalu besar, zat yang berdifusi bisa larut dalam kandungan polimer dan menembus lapisan tipis dengan difusi sederhana. Hukum fick pertama: Sejumlah M benda yang mengalir melalui satu-satuan penampang melintang S dari suatu pembatas dalam satu-satuan waktu dikenal sebagai aliran. Sebaliknya aliran berbanding lurus dengan perbedaan konsentrasi. Konstanta difusi tidak selamanya konstan, karena konstanta tersebut bisa berubah harganya pada konsentrasi yang lebih tinggi. Harga konstanta distribusi juga dipengaruhi oleh temperature, tekanan sifat pelarut dan sifat kimia, dari difusan. Oleh karena itu, konstanta difusi lebih tepat dikatakan sebagai suatu koefisien difusi daripada suatu konstanta. Hukum fick kedua : Seseorang sering ingin menguji kecepatan perubahan konsentrasi difusan pada suatu titik dalam suatu system. Persamaan untuk transport massa menekankan perubahan konsentrasi dengan berubahnya waktu pada suatu lokasi tertentu daripada difusi massa melalui satu-satuan luas dari barier dalam satuan waktu.

Hukum fick pertama memberikan aliran (laju difusi melalui satuan luas) dalam aliran pada keadaan tunak. Hukum kedua secara umum menyatakan suatu perubahan dalam konsentrasi difusan terhadap waktu. Pada setiap jarak x, yakni suatu aliran keadaan tunak tetapi keadaan tunak bisa digambarkan dalam bagian dari hukum kedua. Dengan

mengingat difusan awalnya dilarutkan dalam suatu pelarut pada kompartemen sebelah kiri. Pelarut ditempatkan pada sisi sebelah kanan dari pembatas dan zat terlarut atau penetran mendifusi melalui pembatas pusat dari larutan ke sisi pelarut (dari kompartemen donor ke kompartemen reseptor ). Dalam percobaan difusi, larutan dalam kompartemen reseptor dipindahkan dan diganti secara terus menerus dengan pelarut baru untuk menjaga agar konsentrasi selalu rendah. Keadaan ini disebut keadaan sink ( sink conditions ). Kompartemen kiri sebagai sumber dan kompartemen kanan sebagai sink. Mula-mula konsentrasi difusan dalam kompartemen kiri akan turun dan konsentrasi difusan dalam kompartemen kanan akan naik sampai system tersebut mencapai kesetimbangan, berdasarkan laju hilangnya difusan dari sink dan sifat alamiah dari

pembatas. Bila system tersebut berada dalam periode waktu yang cukup, konsentrasi difusan dalam larutan sebelah kiri dan sebelah kanan pembatas menjadi constant terhadap waktu, tapi jelas tidak sama dalam kedua kompartemen. Jadi, dalam tiap irisan difusi tegak lurus dengan arah aliran . Dalm setiap irisan difusi tegak lurus dengan aliran,laju berubahnya konsentrasi dc/dt akan sama dengan nol dan dengan hukum ke dua. Dc/dt=d d2c/dx2=0 Perbedaan konsentrasi di seberang membrane dc/dx adalah konstan. Hal ini menunjukan suatu hubungan linier antara kosentrasi c dan jarak r. Konsentrasi tidak akan konstan secara kaku tetapi agak sedikit bervariasi terhadap waktu, dan juga dc/dt tidak benar-benar sama dengan nol, keadaan ini disebut keadaan stasioner dan akan didapat sedikit kesalahan dengan menganggap masa tunak. Jika suatu diagram memisah dua kompartemen dari suatu sel difusi dengan luas penampang melintang s dan dengan ketebalan dan jika konsentrasi dalam membran di

sebelah kiri (donor ) dan di sebelah kanan (reseptor) adalah c1 dan c2 hukum fick pertama dapat di tulis: J=DM/sDt=d(c1-c2/h) Dimana (c1-c2)/h kira-kira dc/dx perbedaan (c1-c2)/h dalam diafragma harus dianggap konstan untuk terjadi keadaan suatu stasioner menganggap bahwa lapisan batas air disebut lapisan stasis atau lapisan yang tidak teraduk pada kedua sisi membran tidak berpengaruh nyata terhadap proses transport total. Konsentrasi c1 dan c2 dalm membrane biasanya tidak diketahui tetapi dapat diganti dengan koefisien partisi dikalikan dengan konsentrasi cd pada sisi donor dan cr pada sisi reseptor. Suatu bentuk sediaan dengan aktifitas konstan mungkin tidak menunjukan proses keadaan masa tunak dari waktu pelepasan awal. Lag time adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu penetral (zat yang akan berpenetrasi) untuk memantapkan perbedaan konsentrasi yang sama di dalam membran yang memisahkan kompartemen donor dari kompartemen reseptor. Pengukuran lag time memberikan suatu cara menghitung difusivitas. Difusivitas bergantung pada tahanan atau hambatan terhadap jalannya molekul yang terdifusi. Molekul gas yang terdifusi dengan cepat melalui udara dan gas lainnya. Difusivitas dalam cairan lebih kecil dan dalam padatan lebih kecil lagi molekul gas lewat perlahan-lahan dengan berbagai kesulitan menembus lembaran logam dan pembatas berbentuk kristal. Difusivitas merupakan suatu fungsi dari struktur molekular zat difusan bahan yamg menjadi pembatas.

III.

ALAT DAN BAHAN


NaOH Parasetamol Aquadest

BAHAN

ALAT Pompa peristaltic Pengaduk Gelas piala Tangas air thermometer Selang Botol Vial Spuit Spektrofotometri Pipet bold

IV.

CARA KERJA

Pembuatan Larutan Baku NaOH 1. Alat dan bahan disiapkan. 2. Larutan NaOH dibuat, dengan ditimbang 2 gram NaOH dalam 500ml aquades, aduk ad larut. Pembuatan Larutan Induk Parasetamol 1. 100mg paracetamol ditimbang kemudian dilarutkan dalam larutan induk NaOH 0,1N 100 mL (1000 ppm). 2. Larutan induk parasetamol 1000ppm diencerkan 50 kalinya menjadi 20ppm. 3. 5ml larutan induk parasetamol 20ppm dipipet dengan pipet bold, kemudian ad dengan 250ml larutan baku NaOH. Uji Parasetamol dengan Metode Flow Through 1. Larutan 250ml parasetamol 20ppm diletakkan pada reseptor, dan larutan induk NaOH diletakkan pada sebagai donor. 2. Nyalakan pompa peristaltik 3. Tiap 15 menit ambil 5ml dari reseptor ( larutan parasetamol 20ppm) selama 2 jam. Pindahkan kedalam botol vial, ambil 5ml lagi dari larutan baku NaOH. Ulangi pada waktu 30, 45, 60, 75, 90, 105 dan 120 menit. 4. Uji kadar parasetamol dengan spektrofotometri

V.

HASIL PENGAMATAN

Kalibrasi Parasetamol Consentration (X) 0 ppm 2 ppm 4 ppm (Unused) 8 ppm 10 ppm 15 ppm 20 ppm Ordinat value (Y) 0,0017 parasetamol 0,1693 parasetamol 0,3866 parasetamol 0,5812 parasetamol 0,6916 parasetamol 0,9913 parasetamol 1,3092 parasetamol

Regresi linier Jadi

a= 0,032634968 ; b= 0,06451800; r= 0,9989496 y= 0,032634968 + 0,06451800 x

Hasil Uji Parasetamol dengan Spektrofotometri Waktu (menit) 0 15 30 45 60 75 90 105 120 Absorban 1,5016 1,5082 1,4744 1,4301 1,4249 1,3754 1,3763 1,3177 1,3140 Log Konsentrasi 1,3575 1,3594 1,3493 1,3358 1,3342 1,3185 1,3188 1,2994 1,2981

Hitung nilai x = Kadar = Konsentrasi Waktu 0 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,5016 0,0326 0,0645 = 22,775 Waktu 15 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,5082 0,0326 0,0645 = 22,8775 Waktu 30 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,4744 0,0326 0,0645 = 22,353 Waktu 45 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,4301 0,0326 0,0645 = 21,667
10

Waktu 60 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,4249 0,0326 0,0645 = 21,586 Waktu 75 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,3754 0,0326 0,0645 = 20,819 Waktu 90 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,3763 0,0326 0,0645 = 20,883 Waktu 90 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,3177 0,0326 0,0645 = 19,924 Waktu 120 Menit y= 0,032634968 + 0,06451800 x x = 1,3140 0,0326 0,0645 = 19,867

11

Parasetamol pemberian intravena


1.3700 1.3600 1.3500 1.3400 1.3300 1.3200 1.3100 1.3000 1.2900 1.2800 1.2700 1.2600 0 15 30 45 60 75 90 105 120 Parasetamol pemberian intravena

Hitung Regresi Linier antara Waktu (X) dan Log Konsentrasi (Y) a = 1,36317 ; b = -5,5 x 10-4 ; r = -0,981344068 Hitung nilai Konstanta (k) k = - b___ 2,303 = - (-5,5 x 10-4 ) 2,303 = 1,268953 x 10-3 Hitung nilai Volume Distribusi (Vd) Vd = dosis Cp = 500g 22,775 = 219,5389682

Hitung nilai Klirens (Cl) Klirens (Cl) = Vd x k = 219,5389682 x (1,268953 x 10-3) = 0,27858 Hitung nilai T T = 0,693 k = ___0,693______ 1,268953 x 10-3 = 546,1195 menit = 9,1 jam

VI. VII.

PEMBAHASAN KESIMPULAN

VIII.

DAFTAR PUSTAKA
Shargel, Leon. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi II. Surabaya: Airlangga University Press. Nurmeilis, M.Si, Apt,dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program studi farmasi FKIK UIN SYAHID Jakarta Katzung, BG. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 6. Jakarta: EGC Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi ketiga. Jakarta: Depkes RI http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/04/pengaruh_propilen_glikol_terhadap _laju_difusi

13