Anda di halaman 1dari 14

BULU BABI(DIADEMA SETOSUM)

Diadema setosum atau Bulu babi adalah spesies panjang-spined landak laut dalam
keluarga Diadematidae . Ini adalah landak laut yang khas, dengan duri yang sangat panjang berongga yang agak berbisa . Diadena setosum berbeda dari yang lain Diadema dengan lima, titik putih karakteristik yang dapat ditemukan pada tubuhnya. Spesies ini dapat ditemukan di seluruh Indo-Pasifik wilayah, dari Australia dan Afrika untuk Jepang dan Laut Merah . Meskipun mampu sengatan menyakitkan ketika melangkah di atas, landak hanya sedikit berbisa dan tidak menimbulkan ancaman serius bagi manusia. Sebagai anggota kelas Echinoidea , anatomi Diadema setosum adalah bahwa dari khas landak laut . Semua organ internal hewan adalah tertutup dalam, berbentuk bola hitam uji bahwa pada dasarnya tubuh organisme. Namun, tubuh tidak bulat sempurna - Diadema tes sedikit dorso-bagian perut terkompresi. menonjol keluar dari badan pusat adalah duri panjang ikon penampilan landak laut. Seperti anggota lain dari keluarga Diadematidae , duri Diadema setosum sangat panjang dan sempit dalam proporsi tubuhnya. Duri, seringkali hitam tapi kadang-kadang coklat-banded, yang berongga dan berisi ringan racun . Diadema setosum dapat dibedakan dari spesies lain dalam genus Diadema oleh kehadiran lima bintik-bintik putih pada hewan uji, strategis terletak antara landak's alur ambulacral . Selain itu, karakteristik yang jelas membedakan spesies adalah adanya cincin, oranye terang sekitar landak's kerucut periproctal , struktur yang lazim disebut sebagai landak's " anus ". Beberapa karakteristik kecil lain di Diadema setosum termasuk bercak kebiruan di Teman kelamin piring organisme dan bercak biru yang serupa ( iridophores ) diatur dalam mode linier sepanjang tes nya. Sebuah cincin apikal tidak ada dalam spesies, bersama dengan berkapur platelet pada Surat kerucut apical dewasa seksual spesimen Diadema setosum rata-rata 35-80 gram berat badan. Orang dewasa rata-rata ukuran tidak lebih dari 70 millemeters diameter uji dan sekitar 40 millemeters tinggi. Praha akuarium laut

Diadema setosum adalah sebuah spesies didistribusikan secara luas dari landak laut. Its rentang membentang sepanjang Indo-Pasifik baskom, membujur dari Laut Merah dan kemudian ke timur ke Australia pantai. Latitudinally , spesies dapat ditemukan sejauh utara Jepang dan jajarannya meluas selatan ujung selatan Afrika pantai timur . Spesies telah diperkenalkan ke daerah lain tidak berada dalam jangkauan alam. Pada tahun 2006, dua spesimen hidup Diadema setosum ditemukan di perairan lepas Kas semenanjung di Turki . Dan selanjutnya koleksi penemuan orang-orang ini membuat Diadema setosum pertama invasif Erythrean landak laut di Mediterania . Beberapa hipotesis telah diusulkan untuk menemukan individu-individu. Larva dari spesies yang mungkin telah melakukan perjalanan melalui Terusan Suez ke Mediterania dari Teluk Suez , di mana spesies telah populasi alami berkembang. Vektor lain yang diusulkan adalah bahwa kapal asing membawa pada individu melalui mereka ballast . Kemungkinan final yang diusulkan adalah bahwa spesimen individu sengaja dirilis oleh aquarists . Diadema setosum ini umumnya terkait dengan terumbu karang , tetapi juga ditemukan di dataran pasir dan padang lamun . Seiring dengan anggota lain dari keluarga, D. setosum adalah produktif ternak yg digembalakan . Mereka dikenal untuk memberi makan pada berbagai alga spesies umum di terumbu karang tropis. Pentingnya ekologi dari takson secara keseluruhan telah ditekankan karena kebiasaan herbivora tersebut. [4] Spesies telah diketahui baik bertelur musiman dan sepanjang tahun tergantung lokasi penduduk pemijahan. Ia telah mengemukakan bahwa populasi Diadema setosum adalah suhubergantung pada pemijahan seasonalities mereka. Suhu yang lebih tinggi dari 25oC telah dikutip sebagai isyarat pemijahan mungkin. [5] populasi Equatorial adalah mereka dicatat untuk bertelur tanpa waktu tertentu sepanjang tahun seluruh. Hal ini berlaku untuk Filipina populasi D. setosum. [6] Untuk jumlah penduduk di Teluk Persia, pemijahan terjadi selama bulan-bulan April sampai Mei. [3] isyarat lain, seperti fase bulan telah diamati untuk mempengaruhi pemijahan D. setosum populasi. Spesies telah ditemukan untuk memicu peristiwa pemijahan dalam konkordansi dengan munculnya bulan purnama . [7]

Evolusioner, Diadema setosum dianggap salah satu yang tertua yang dikenal masih ada spesies dalam genus Diadema. Analisis genetik Diadema telah menempatkan D. setosum di cabang basal pada cladogram, memiliki sebagai kelompok saudara semua anggota sisa lainnya dari genus. [8] analisis morfologi menegaskan kesimpulan ini, menambah berat badan untuk konsep D. setosum yang paling basal dari Diadema dan kemungkinan spesies tertua dalam genus. [4] Seperti bulu babi berbisa, maka racun dari Diadema setosum hanya ringan dan sama sekali tidak fatal bagi manusia . Toksin tersebut kebanyakan menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit, dan secara bertahap berdifusi selama beberapa jam. Lebih bahaya disajikan oleh sistem pengiriman - duri landak itu yang sangat rapuh dan seperti jarum. Mereka dengan mudah memutuskan di dalam daging dan cukup menjadi tantangan untuk mengekstrak.

BULU BABI (Diadema Setosum) Deskripsi dan Klasifikasi Bulu Babi Bulu babi termasuk Filum Echinodermata, bentuk dasar tubuh segilima. Mempunyai lima pasang garis kaki tabung dan duri panjang yang dapat digerakkan. Kaki tabung dan duri memungkinkan binatang ini merangkak di permukaan karang dan juga dapat digunakan untuk berjalan di pasir. Cangkang luarnya tipis dan tersusun dari lempengan-lempengan yang berhubungan satu sama lain Diadema setosum merupakan satu diantara jenis bulu babi yang terdapat di Indonesia yang mempunyai nilai konsumsi (Azis 1993 dalam Ratna 2002). Diadema setosum termasuk dalam kelompok echinoid beraturan (regular echinoid), yaitu echinoid yang mempunyai struktur cangkang seperti bola yang biasanya sirkular atau oval dan agak pipih pada bagian oral dan aboral. Permukaan cangkang di lengkapi dengan duri panjang yang berbeda-beda tergantung jenisnya, serta dapat digerakkan (Barnes 1987 dalam Ratna 2002). Klasifikasi bulu babi spesies Diadema setosum menurut Pratt (1935) adalah : Filum Kelas Subkelas Ordo Famili : Echinodermata : Echinoidea : Euchinoidea : Cidaroidea : Diadematidae

Genus

: Diadema

Spesies : Diadema setosum Hewan yang memiliki nama Internasional sea urchin atau edible sea urchin ini tidak mempunyai lengan. Tubuhnya umumnya berbentuk seperti bola dengan cangkang yang keras berkapur dan dipenuhi dengan duri-duri (Nontji 2005). Durinya amat panjang, lancip seperti jarum dan sangat rapuh. Duri-durinya terletak berderet dalam garis-garis membujur dan dapat digerak-gerakkan, panjangnya dapat mencapai ukuran 10 cm dan lebih. Penyelam yang tidak menggunakan alas kaki mudah sekali tertusuk durinya sehingga akan sedikit merasakan demam karena bisa pada duri tersebut, racunnya sendiri dapat dinetralisir dengan amonia, perlakuan asam ringan (jeruk lemon atau cuka). Berdasarkan bentuk tubuhnya, kelas Echinodoidea dibagi dalam dua subkelas utama, yaitu bulu babi beraturan (regular sea urchin) dan bulu babi tidak beraturan (irregular sea urchin) (Hyman 1955 dalam Ratna 2002), dan hanya bulu babi beraturan saja yang memiliki nilai konsumsi (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Tubuh bulu babi sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian oral, aboral, dan bagian diantara oral dan aboral (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Pada bagian tengah sisi aboral terdapat sistem apikal dan pada bagian tengah sisi oral terdapat sistem peristomial. Lempeng-lempeng ambulakral dan interambulakral berada diantara sistem apikal dan sistem peristomial. Di tengah-tengah sistem apikal dan sistem peristomial termasuk lubang anus yang dikelilingi oleh sejumlah keping anal (periproct) termasuk diantaranya adalah keping-keping genital. Salah satu diantara keping genital yang berukuran paling besar merupakan tempat bermuaranya sistem pembuluh air (waste vascular system). Sistem ini menjadi cirri khas Filum Echinodermata, berfungsi dalam pergerakan, makan, respirasi, dan ekskresi. Sedangkan pada sistem peristomial terdapat pada selaput kulit tempat menempelnya organ lentera aristotle, yakni semacam rahang yang berfungsi sebagai alat pemotong dan penghancur makanan. Organ ini juga mampu memotong cangkang teritip, molusca ataupun jenis bulu babi lainnya (Azis 1987 dalam Ratna 2002).

Di sekitar mulut bulu babi beraturan kecuali ordo Cidaroidea terdapat lima pasang insang yang kecil dan berdinding tipis (Hyman 1955 dan Barnes 1987 dalam Ratna 2002). Hewan unik ini juga memiliki kaki tabung yang langsing panjang, mencuat diantara duridurinya. Duri dan kaki tabungnya digunakan untuk bergerak merayap di dasar laut. Ada yang mempunyai duri yang panjang dan lancip, ada pula yang durinya pendek dan tumpul. Mulutnya terletak dibagian bawah menghadap kedasar laut sedangkan duburnya menghadap keatas di puncak bulatan cangkang. Makanannya terutama alga, tetapi ada beberapa jenis yang juga memakan hewan-hewan kecil lainnya (Nontji, 2005). Pada umumnya bulu babi berkelamin terpisah, dimana jantan dan betina merupakan individu-individu tersendiri (gonochorik/dioecious). Spesies gonochorik secara khusus memiliki rasio seks sendiri dan jarang bersifat hemafrodit. Munculnya hemafrodoitisme pada Tripneustes gratilla adalah 1 dari 550 individu. Pembelahan bulu babi terjadi secara eksternal, dimana sel telur dan sel sperma di lepas ke dalam air laut di sekitarnya (Sugiarto dan Supardi 1995 dalam Ratna 2002). Gonad jantan dan betina pada bulu babi juga sulit dibedakan tanpa menggunakan mikroskop. Secara kasar hanya warna yang digunakan untuk membedakan gonad. Misalnya pada bulu babi Paracentrotus livindus, gonad jantan berwarna kuning sedangkan betina berwarna orange. Dalam penelitian Gunarto dan Setiabudi (2002) di perairan Pulau Barang Lompo, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, didapati ukuran bulu babi terbesar memiliki kisaran tinggi cangkang 50-61 mm, diameter cangkang 86-94 mm, berat total 148-331 g. Sedangkan ukuran bulu babi terkecil dengan ukuran tinggi cangkang 27,2-36,4 mm, diameter cangkang 47,4-66,0 mm, dan berat total 41,4-110,9 g. Bulu babi termasuk organisme yang pertumbuhannya lambat. Umur, ukuran, dan pertumbuhan tergantung kepada jenis dan lokasi. Chen dan Run (1988) dalam Tuwo (1995) diacu dari Ratna (2002) melaporkan bahwa bulu babi jenis Tripeneuste gratilla yang dipelihara di laboratorium di Taiwan mengalami metamorfos pada umur 30 hari. Pertumbuhan Tripneustes gratilla sangat cepat pada awal perkembangannya, tetapi jumlahnya terbatas.

Hal ini diduga erat kaitannya dengan banyaknya predator yang dialami oleh hewan berukuran kecil. Setelah mencapai umur tertentu, cangkangnya sudah cukup kuat sehingga jumlah predator yang dapat menyerang dan memecahkan cangkangnya berkurang. Bulu babi mempunyai banyak predator, yaitu berbagai jenis ikan, termasuk hiu, anjing laut, lobster, kepiting, dan gastropoda (Kenner 1992; Tegner dan Dayton 1981 dalam Tuwo 1995). Hal ini juga menyebabkan rendahnya densitas bulu babi. Predator utama bulu babi jenis Diadema setosum adalah ikan Buntal (Tetraodon) dan ikan Pakol (Balistes) yang mempunyai gigi yang kuat dan tajam yang dapat mematahkan duriduri dan mengoyak cangkang bulu babi (Nontji 2005). Mortalitas bulu babi umumnya sangat tinggi (Ebert 1975 dalam Tuwo 1995). Secara umum di alam bulu babi dapat mengalami kematian massal pada suhu 34-40 C .

Habitat dan Penyebaran Bulu Babi Bulu babi hidup di ekosistem terumbu karang (zona pertumbuhan alga) dan lamun. Bulu

babi ditemui dari daerah intertidal sampai kedalaman 10 m dan merupakan penghuni sejati laut dengan batas toleransi salinitas antara 30-34 (Aziz 1995 dalam Hasan 2002). Hyman (1955) dalam Ratna (2002) menambahkan bahwa bulu babi termasuk hewan benthonic, ditemui di semua laut dan lautan dengan batas kedalaman antara 0-8000 m. Karena echinoide memiliki kemampuan beradaptasi dengan air payau lebih rendah dibandingkan invertebrate lain. Kebanyakan bulu babi beraturan hidup pada substrat yang keras, yakni batu-batuan atau terumbu karang dan hanya sebagian kecil yang menghuni substrat pasir dan Lumpur, karena pada kondisi demikian kaki tabung sulit untuk mendapatkan tempat melekat. Golongan tersebut khusus hidup pada teluk yang tenang dan perairan yang lebih dalam, sehingga kecil kemungkinan dipengaruhi ombak. Dalam penelitian Gunarto dan Setiabudi (2002) dilaporkan bahwa perkembangan gonad bulu babi pada musim kemarau tidak dalam satu stadium, tetapi terdapat gonad dlam periode berkembang, matang, pijah.

Masa Hidup Bulu Babi Bulu babi merah (Strongylocentrotus franciscanus) yang sejak lama dianggap sebagai momok di lautan. Karena makan tumbuh-tumbuhan di bawah air dan banyak orang yakin hewan inilah yang bertanggungjawab atas kerusakan ekosistem laut. Tidak heran bila banyak orang berusaha meracuninya, ternyata dalam penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa bulu babi merah tumbuh jauh lebih lambat dari perkiraan semula, namun hidup lebih lama dibanding dugaan awal. Mereka tidak sekedar mencapai umur tujuh hingga 15 tahun seperti diperkirakan, tapi bisa mencapai 200 tahun lebih Lebih menarik lagi, hewan-hewan lanjut usia itu sama sekali tidak menunjukkan tandatanda uzur. Menurut Dr Albert dalam kompas.com, walaupun mereka bisa mati karena serangan hewan pemangsa, penyakit tertentu, atau ditangkap nelayan, namun hewan-hewan ini tidak menunjukkan tanda-tanda ketuaan lanjut. Bukti-bukti menunjukkan bahwa bulu babi merah berusia 100 tahun tidak begitu berbeda dengan yang berumur 10 tahun. Kenyataan mengindikasikan bahwa semakin dewasa bulu babi merah, maka makin produktif mereka menghasilkan sperma dan telur. Hewan ini juga masih mampu berkembang biak walau usianya sudah amat tua. Di antara hal-hal lain, data radio karbon juga menunjukkan bulu babi merah memiliki pertumbuhan yang nyaris tidak terlalu dipengaruhi kondisi laut dan variabel lain (www.kompas.com). Analisis terhadap genom bulu babi juga menunjukkan bahwa bulu babi memiliki sistem kekebalan dan kepekaan gen yang unik dan kompleks. Kemiripan antara manusia dan bulu babi yang memiliki jalur kekerabatan jauh dapat dijadikan model untuk memahami proses evolusi. Dalam proyek genetika yang dilakukan di California, para ilmuwan mengambil DNA dari sperma seekor bulu babi jantan California yang hidup menyebar di pantai barat AS dari Baja hingga Alaska. Hasil identifikasi menunjukkan ada 23.300 gen yang tersusun dari 814 juta kode DNA yang dimiliki seekor bulu babi. George Weinstock dari Sekolah Kedokteran Baylor AS sebagai pemimpin dalam proyek pengurutan DNA bulu babi menyatakan bahwa 70 persen gen bulu babi ternyata memiliki kemiripan dengan manusia sementara pada lalat buah hanya 40

persennya, dengan dua jenis filum yang berbeda. Melalui mekanisme ini dapat menjelaskan mengapa hewan tersebut bisa bertahan hingga 100 tahun (www.kompas.com). Pada penelitian Darsono dan Toso (1987) di perairan terumbu karang gugus Pulau Pari, Pulau Seribu, Jakarta. Pengamat mengumpulkan 300 ekor bulu babi, yang memiliki panjang diameter berkisar dari 47,30-94,00 mm dengan rata-ratanya (64,507,90) mm. berat berkisar dari 55,40-325,00 gr dengan rata-rata (134,2043,00) gr. Hubungan panjang diameter (Lt, mm) dengan umur (t, bulan) dikaji melalui persamaan Von Bertalanffy, seperti : Hubungan penjang diameter (L, mm) dengan berat (W, gram) digambarkan melalui persamaan adalah positif dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,908. Persamaan ini dikonversikan dengan Lt, maka akan menjadi kunci hubungan umur (t, bulan) dengan berat (W, gram) digambarkan melalui persamaan.

Pemanfaatan Bulu Babi Bagian dari bulu babi yang biasa dimanfaatkan adalah gonad atau telurnya, baik gonad

jantan maupun gonad betina. Bulu babi beraturan mempunyai lima gonad yang tergantung sepanjang bagian dalam interambulakral pada daerah aboral (Hyman 1955 dalam Ratna 2002). Tergantung lingkungan dan faktor genetik, bulu babi muda dapat mencapai kematangan seksual sekitar 1-2 tahun setelah beralih dari fase larva ke fase juvenil. Trinidad-Roa (1989) dalam Setiabudi (1996) diacu dari Ratna 2002, melaporkan bahwa Tripneutes gratilla dari Bali mengalami matang kelamin pertama kali pada umur 2.5 tahun. Setelah itu produksi gonadnya menurun. Hal ini ditemukan juga pada kelas echinoidea lainnya (Conand 1989 dalam Tuwo 1995 diacu dari Ratna 2002). Gonad yang matang berukuran sangat besar, mengisi ruang yang kosong diantara untaian usus dan meluas mulai pertengahan aboral hingga mencapai lentera aristotle (Hyman 1955 dalam Ratna 2002). Umumnya gonad yang matang bertekstur lunak dan berlendir. Telur seperti ini tidak diinginkan sebagai produk perikanan. Telur atau gonad yang dikehendaki adalah yang

bertekstur kompak, dimana kondisi ini terjadi pada saat fase pijah lanjut (Bernard 1977 dalam Darsono 1986 diacu dari Ratna 2002). Pemanenan bulu babi sebaiknya dilakukan pada saat indeks kematangan gonad mencapai maksimal atau sebelum musim pemijahan. Secara teoritis hewan yang boleh ditangkap sebaiknya adalah yang pernah memijah minimal satu kali agar hewan dapat berkembang biak sebelum tertangkap (Tuwo 1995 dalam Ratna 2002), di California bulu babi merah (Strongylocentrotus fransciscanus) baru dapat dipanen setelah berumur antara 5-8 tahun. Sedangkan di daerah Shetland pemanenan Echinus esculentus biasanya dilakuka mulai akhir Desember sampai akhir Februari, tepatnya sebelum musim pemijahan (Penfold dan Boyle 1996 dalam Ratna 2002). Berat bulu babi biasanya mencapai 25% dari total berat tubuhnya, tergantung kepadatan populasi dan tersedianya cukup makanan di alam (Darsono 1986 dalam Ratna 2002). Pemanenan sebaiknya tidak dilakukan jika rata-rata persentase gonad masih dibawah 10% (Penfold dan Boyle 1996 dalam Ratna 2002). Sebagian besar negara-negara di Amerika dan Eropa telah mulai mengembangkan budidaya jenis ini. Meskipun dalam perkembangannya, terlihat jelas adanya perbedaan mencolok antara produk tangkapan di laut dan telur dari hasil budidaya. Perbedaan itu utamanya terletak pada warna dan tekstur telur yang dihasilkan. Warna dan tekstur adalah dua faktor penentu dalam kualitas dan harga bulu babi. Menurut Pearce dkk (2004) bahwa bulu babi yang diberi pakan buatan dapat menghasilkan telur yang besar namun warna telur yang dihasilkan pucat (pale), sementara warna telur bulu babi tangkapan alam jauh lebih kuning kemerahan. Hal ini berpengaruh terhadap harga jual Cangkang dari jenis bulu babi tertentu dilapisi oleh pigmen cairan hitam yang stabil. Cairan ini dapat digunakan sebagai pewarnaan jala dan kulit. Cangkang dari bulu babi juga diminati sebagai barang perhiasan. Sedangkan organ dari sisa pengolahan bulu babi biasanya berupa cangkang dan organ dalam (jeroan) dapat diproses lebih lanjut menjadi pupuk (Zaitsev et al 1969 dalam Ratna 2002).

Umumnya gonad bulu babi dijual dalam keadaan segar, karena memiliki nilai paling tinggi. Beberapa kriteria kualitas gonad yang memengaruhi harga beli di pelelangan adalah jenis, negara asal, warna, tekstur, ukuran, rupa, kesegaran, dan rasa. Diantara kriteria tersebut warna, kesegaran dan negara asal merupakan faktor terpenting dalam menentukan harga. Berdasarkan warnanya, mutu gonad bulu babi dapat dikelompokkan menjadi mutu sangat baik (Grade A) dengan gonad berwarna kuning atau orange terang, mutu baik (Grade B) dengan warna gonad merah muda atau kuning pucat (krem) dan mutu jelek (reject) dengan gonad berwarna coklat (Penfold dan Boyle 1996; Murniyati dan Setiabudi 1998 dalam Ratna 2002).

Komposisi Kimia Gonad Bulu Babi Gonad bulu babi merupakan makanan tambahan yang kaya akan nilai gizi. Lee dan Hard

(1982) dalam Azis (1995) diacu dari Ratna (2002) melaporkan bahwa dari analisis protein bulu babi, ternyata didalamnya terkandung sekitar 28 macam asam amino. Selain itu gonad bulu babi juga kaya akan vitamin B kompleks, vitamin A dan mineral (Kato dan Schoeroter 1985 dalam Azis 1995 diacu dari Ratna 2002). Pada tabel dapat dilihat hasil analisis proksimat beberapa gonad bulu babi dan menyajikan komposisi kimia gonad bulu babi Diadema setosum. Tabel 1. Hasil Analisis Proksimat Beberapa Jenis Gonad Bulu Babi Jenis Kadar air (%) Tripneustes gratilla Echinothrix calamaris Mespilia globulus Diadema setosum 81,39 69,34 69,85 69,47 Kadar protein (%) 15,43 15,64 25,67 16,99 1,89 3,61 4,59 2,45 Kadar lemak (%) 1,89 2,52 2,52 2,25 Kadar abu (%)

Sumber : Murniyati dan Setiabudi (1998).

Tabel 2. Komposisi Kimia Gonad Bulu Babi Diadema setosum Setiap 100 Gram Sampel. Komposisi Air Protein Lemak Hidrat arang total Energi Abu Kalsium Fosfor Besi Karoten total Vitamin A Vitamin B1 Vitamin C Bdd Gonad segar mentah 78,10 g 9,70 g 2,50 g 7,90 g 93 kal 1,80 g 116 mg 278 mg 4,10 mg 2608 mg 863 SI 0,05 mg 100% Gonad kering mentah 5,35 g 9,18 g 8,70 g 8,57 g 390 kal 8,20 mg 776 mg 596 mg 1250 mg 5716 mg 3349 SI 0,08 mg 100%

Sumber : Ismail et al (1981) dalam Darsono (1982).

Gonad bulu babi sebagai organ reproduksi merupakan timbunan protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam-asam amino yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dari hasil analisa kualitatif gonad bulu babi Diadema setosum diketahui bahwa dalam gonad tersebut ditemukan lima asam amino esensial bagi orang dewasa yaitu lisin, metionin, fenilalanin, threonin, dan valin, dua asam amino esensial bagi anak-anak yaitu arginin dan histidin, juga ditemukan asam amino esensial lain yaitu asam aspartat, asam glutamat, glisin, serin (Ismail et al 1981 dalam Darsono 1982 diacu dari Ratna 2002). Beberapa jenis asam amino yang terkandung dalam gonad bulu babi sangat berperan dalam karakterisasi rasa spesifik gonad bulu babi (Fuke dalam Shahidi dan Botta 1992). Jenisjenis asam amino tersebut adalah glisin, valin, alanin, methionin, dan asam glutamat. Selain itu pula nukleotida dari jenis IMP (Inosin Mono Phosphat) dan GMP (Guanosin Mono Phosphat) juga ikut memengaruhi karakterisasi rasa gonad bulu babi, terutama dalam pembentukan rasa umami, yaitu rasa khas seperti golongan daging. Kandungan komponen aktif rasa dari gonad bulu babi disajukan pada tabel 3. Tabel 3. Komposisi Komponen Aktif Rasa Gonad Bulu Babi (mg/100 gr) Komposisi Asam glutamat Glisin Alanin Valin Methionin Arginin IMP GMP 103 42 261 154 47 316 2 2 Kandungan Karakteristik Rasa umami dan manis Rasa umami dan pahit Rasa manis dan pahit Rasa umami dan manis Rasa umami Rasa umami

Sumber : Shahidi dan Botta (1992).

Beberapa faktor yang memengaruhi komposisi kimia biota laut antara lain adalah jenis dan golongan ikan, umur, jenis kelamin, aktivitas pergerakan ikan. Musim, dan jenis makanan yang tersedia serta fase reproduksi biota tersebut.

Peranan Bulu Babi dalam Ekosistem Lingkungan Selain pemanfaatannya sebagai bahan pangan, biota ini juga sangat berperan dalam

kesetimbangan ekosistem habitatnya. Seperti peran Diadema antillarum bagi terumbu karang diantaranya yaitu, peningkatan jumlah populasi jenis ini mengakibatkan kematian larva atau karang muda. Bila populasinya turun (absence grazing) karang akan ditumbuhi oleh alga yang dapat berakibat pada kematian karang dewasa dan tidak adanya tempat bagi larva karang. Kehadiran populasi jenis ini penting bagi terumbu karang sebagai penyeimbang. Kesetimbangan populasi Diadema antillarum akan menjaga kesetimbangan populasi alga dan karang. Sedangkan kematian massal Diadema antillarum berdampak pada penurunan drastis tutupan karang, menurunnya kehadiran Invertebrata yang biasanya menetap di wilayah ini. Selain itu, terumbu karang dapat didominasi oleh alga. Pada tahun 1995 ternyata ditemukan bahwa populasi Diadema antillarum yang sangat sedikit (pemulihannya membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun). Hilangnya induk menyebabkan jumlah larva juga sangat kurang. Meski telah mulai ada pemulihan Diadema, namun belum dapat diketahui apakah akan dapat mengembalikan terumbu karang yang hilang. Kematian massal bulu babi pernah terjadi pada tahun 1983-1984 di Pasifik Barat, yang dimulai dari Panama di awal Januari 1983 yang menyebar ke Karibia, Teluk Meksiko, Bahama, Bermuda dengan tingkat kematian mencapai 93-100%. Penyebabnya tidak diketahui dengan jelas, namun diduga terinfeksi bakteri. Dampak kematian bulu babi ini menyebabkan biomassa alga meningkat, karena makanan utama bulu babi adalah alga coklat, alga hijau dan lamun (Lasker dan Giese 1952; Herring 1972; Chiu 1985 dalam Azis 1993 diacu dari Ratna 2002). Wilayah perairan St. Croix mengalami peningkatan biomassa alga yang pesat hingga 400-500%, hanya berselang 5 hari setelah kematian bulu babi,

Bila pada masa sebelum kematian alga perairan tersebut didominasi oleh turf algae dan crustose algae, maka setelah kematian massal bulu babi perairan itu didominasi oleh makro alga seperti Sargassum dan Turbinaria turbinata. Selain itu, kematian massal ini menyebabkan tutupan alga crustose, tutupan karang, dan gorgonian menurun drastis. Pada kasus ini, kompetitor bulu babi yang memakan turf alge ternyata tidak menunjukkan penambahan populasi yang berarti. Peningkatan populasi kompetitor baru meningkat berarti setelah beberapa tahun dari kematian massal.