Anda di halaman 1dari 107

Akuntansi Pajak

Djoko Dewantoro

KEWAJIBAN PEMBUKUAN & PENCATATAN / AKUNTANSI


dasar hukum

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) Undang-Undang No 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang telah diubah dengan UU no 40 tahun 2007. Direksi wajib menyusun Laporan Tahunan ke RUPS. Perhitungan tersebut dibuat sesuai dengan SAK UU tentang Pasar Modal, mensyaratakan LK disusun berdasarkan SAK yang berlaku UU No 28 tahun 2007 tentang KUP UU No 36 tahun 2008 tentang PPh (pasal 14 ayat

lanjut
UU RI no 28 tahun 2007, KUP Pasal 28 1. WP OP / Badan wajib menyelenggarakan pembukuan. 2. Kecuali WP OP yang diperbolehkan menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan WP OP yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

Dasar Hukum
Wajib Ps 28/1 WP OP & Badan yang melakukan Kegiatan usaha di Indonesia Wajib menyelenggarakan pembukuan

UU RI no 28 tahun 2007 KUP Pasal 28

1. WP OP yang melakukan kegiatan

Usaha dan diperbolehkan menghitung Penghasilan neto dg menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto
Kecuali Ps 28/2

2. WP OP yang tidak melakukan kegiatan Usaha atau pekerjaan bebas

KEWAJIBAN PEMBUKUAN & PENCATATAN / AKUNTANSI


Wajib Menyelengarakan Pembukuan Badan

Wajib Pajak
PMK No.01/PMK 03/2007 Peredaran bruto > Rp 1.800.000.000 Wajib menyelengarakan pembukuan (> Rp 4,8 M)

Pribadi

Persyaratan Pembukuan
KUP Ps 28 (3 s/d 12)

1. Harus diselenggarakan dg iktikat baik dan mencerminkan keadaan usaha yg sebenarnya 2. Diselenggarakan di Indonesia dg huruf latin, angka arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dlm bahasa Indonesia atau dlm bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan 3. Taat asas dan dengan stelsel akrual atau stesel kas 4. Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus mendapat persetujuan dari DIRJEN PAJAK 5. Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai: Harta; Kewajiban; Modal; Penghasilan; dan Biaya; serta Penjualan dan Pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terhutang.

6.Pembukuan menggunakan bhs asing & MT selain Rp dpt diselenggarakan, setelah mendapat izin Menteri Keu. 7.Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto sg dasar menghitung jumlah pajak yg terhutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenakan pajak bersifat final. 8.Buku, catatan dan dokumen yg menjadi dasar pembukuan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data elektronik wajib disimpan 10 tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan/ tempat tinggal WP OP, atau di tempat kedudukan WP badan.

Akuntnasi Perpajakan
UU Perpajakan (Fiskal ) Tax treaty Keputusan Peradilan Pajak

Akuntnasi Perpajakan

Komersial SAK

Koreksi Fiskal

PKP SPT

Norma

Sanksi dari Kewajiban Pembukuan


Pasal 39 KUP, setiap orang yang dg sengaja: 1. Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar 2. Tidak menyelanggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan atau dokumen lainnya, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada negara diancam dg pidana penjara selamalamanya 6 tahun dan denda setinggi-tingginya 4 x jumlah pajak terhutang yang kurang dibayar

Sanksi tidak menyelanggarakan pembukuan Bagi WP yg seharusnya sudah mampu menyelanggarakan pembukuan, namun karena satu / beberapa hal tidak melakukannya, untuk keperluan pemajakan, penghasilan netonya akan dihitung berdasarkan norma penghitungan. Selanjutnya atas pajak yang kurang dibayar dari hasil penerapan norma penghitungan itu, akan dikenakan sanksi administrasi yang berupa kenaikan pajak 50% atau 100% dari pajak yang kurang dibayar (Pasal 13 ayat 3 UU - KUP) Sebagai akibat pasal 13 ayat 1d, apabila kewajiban sbgnm dimaksud dlm pasal 28 / pasal 29 tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terhutang

Pasal-pasal yang berhubungan dengan akuntansi UU RI No 28 tahun 2007 KUP Pasal 4 ayat 4 / 4a / 4b/ 4c SPT harus dilampiri Laporan Keuangan. UU RI No 28 tahun 2007 KUP Pasal 3 ayat 6 & 7 Laporan Keuanga merupakan lampiran SPT yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari SPT, artinya SPT dianggap tidak lengkap jika laporan keuangan tidak disampaikan.

Untuk kepentingan ppn & ppnBM


WP juga diwajibkan menyelangarakan pembukuan / pencatatan. Pasal 6 PPN & PPnBM menentukan bahwa setiap PKP berkewajiban memungut PPN, menghitung PPN Masukan, dan menyetor PPN terhutang, dan melaporkannya dalam SPT Masa, serta mencatat semua jumlah harga perolehan dan penyerahan B/JKP dalam pembukuannya.

lanjut
Apabila seseorang melakukan tindak pidana lagi sebelum lewat setahun terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan, maka pidananya dilipatduakan.

Manfaat akuntnasi dalam perpajakan


Menghasilkan informasi untuk menghitung pajak terhutang Mengalokasikan pajak terhutang Sebagai bukti kepatuhan WP dalam mengimplementasikan Ketentuan Perpajakan. (bahan pemeriksaan pajak KUP Pasal 29)

Pembukuan dengan Bahasa Asing dan Satuan Mata Uang selain RP


PMK No. 196/DMK.03/2007 tgl 28/12/07 WP yg dpt menyelenggarakan pembukuan dg menggunakan bahasa inggris dan satuan mata uang dolar AS adalah: 1. WP PMA yg beroperasi berdasarkan ketentuan perundangan PMA 2. WP Kontrak Karya yang beroperasi berdasarkan ketentuan perundangan pertambangan selain pertambangan minyak dan gas bumi

lanjut
3. WP KKS yang yang beroperasi berdasarkan ketentuan perundangan pertambangan minyak dan gas bumi 4. BUT sbg mana dimaksud dlm Pasal 2 ayat 5 PPh atau dalam P3B terkait 5. WP yg mendaftarkan sebagian maupun seluruh emisi sahamnya di Bursa efek luar negeri

lanjut
6. Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yg menerbitkan reksadana dlm dominasi $ dan telah memperoleh Surat Pemberitahuan \pendaftaran dari Bapepam sesuai dengan perundangan yang berlaku 7. WP berafiliasi langsung dg perusahaan induk di LN yaitu perusahaan anak yg dimiliki / dikuasahi oleh perusahaan induk di LN yg mempunyai hubungan istimewa sebagai mana dimaksud dlm Pasal 18 ayat 4 huruf a dan b UU PPh

Pendekatan dalam penyusunan laporan keuangan fiskal

1.

Ketentuan pajak secara dominan mewarnai praktik akuntansi (ada kemungkina pembukan ganda bukan suatu bentuk kecurangan) 2. WP bebas menyelenggarakan pembukuaanya dg dasar dan metode akuntansinya. LK Fiskal disusun terpisah di luar proses pembukuan (extra comtabel dg rekonsiliasi antar LK komersial dan LK fiskal) 3. Ketentuan perpajakan sebagi sisipan SAK ( KL disusun mengikuti SAK dengan prefensi ketentuan perpajakan.

Kosep Dasar Entitas


Etitas sebagai Subjek atau Wajib Pajak Menurut UU PPh pasal 2 terdapat 4 kelompok entitas yg merupakan subjek atau wajib pajak untuk PPh yaitu: Orang pribadi Warisan yg belum terbagi sbg entitas untuk menggantikan yang berhak Badan (PT, BUMN, perseroan komanditer, yayasan dll) Bentuk Usaha Tetap

1. 2. 3. 4.

lanjut
Pengelompokan Subjek atau WP Menurut tempat tinggal, tempat kedudukanat atau domisilinya, Subjek atau WP dibedakan menjadi 1. Subjek atau WP Dalam Negeri
Orang probadi Warisan belum terbagi Badan BUT Orang pribadi(< 183 hari dalam 12 bulan di Indonesia) Badan

1. Subjek atau WP Luar Negeri

Subjek / WP dan konsekuensi fiskalnya


Konsekuensi fiskal bagi setiap subjek /WP adalah: - Fasilitas pajak (sunset policy) - Ketetapan penghasilan sbg objek pajak dan biaya fiskal sebagai pengurang penghasilan - Kewajiban pajak Apa contohnya masing-masing ????

Saat dimulai & berakhirnya kewajiban pajak subjektif


Sesuai Pasal 2A PPh SP / WP dalam negeri OP, sejak lahir, berada, atau berniat bertempat tinggal di Indonesia, dan berakhir pd saat meninggal dunia, atau meninggalkan Indonesia untuk selamanya Badan, sejak didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, dan berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia Warisan Blm Terbagi, saat timbulnya warisan tsb, dan berakhir pada saat warisan selesai dibagi 2. SP Luar negeri

lanjut
2. SUbjek Pajak Luar Negeri a. Orang Pribadi, dimulai saat: 1) OP menjalankan usaha atau kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia; 2) OP menerima penghasilan di Indonesia dan berakir pada saat: OP tsb tidak lagi menjalakan usaha di Indonesia atau OP tsb tdk lagi memperoleh atau menerima penghasilan dari Indonesia. b. Badan, badan menjalankan usaha / melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia, atau menetrima penghasilan dari Indonesia; dan berakhir saat badan tsb tdk lagi menjalanka usaha atau melakukan kegiatan usaha tetap atau badan tidaklagi memperoleh atau menerima penghasilan dari Indonesia.

Periode Akuntansi
Pasal 12 PPh, masa / periode perhitungan pajak disebut sebagai tahun pajak. Tahun pajak adalah tahun takwim/tahun kalender (Januari Desember) WP tidak boleh mengubah tahun pajak tanpa persetujuan DJP Bagaimana untuk masa transisi (kurang dari 12 bulan), misalnya untuk perusahaan yg baru berdiri, atau membubarkan diri atau yg mendapat izin untuk mengganti tahun pajaknya

lanjut
Untuk perusahaan yang baru berdiri laporan keuangan dan SPT hanya sampai dg bulan terakhir tahun pajak (misal berdiri 1/3 tahun pajak tahun kalender), maka SPT dihitung untuk masa bulan Maret s/ d Desember tanpa disetahunkan. Hal ini juga mungkin terjadi untuk perusahaan yang tutup atau SPT terakhir. PT. ABC menggunakan tahun kalender sebagai tahun pajak sejak tahun 2000. untuk tahun 2005 perusahaan telah disetujui untuk mengganti tahun pajak sehingga berakhir 31 Maret

lanjut
Masa transisi mencakup 1 Januari s/d 31 Maret 2005. Jika dlm masa transisi tsb PKP Rp 37.500.000,maka pajak terhutang dalam masa transisi tsb adalah Rp 6.875.000, PKP (3blm) Rp 37.500.000, PKP setahun Rp150.000.000, PPh (10%x50 jt) Rp 5.000.000,(15%x50 jt) Rp 7.500.000,(30%x50 jt) Rp 15.000.000,Rp 27.500.000,- PPh masa trasisi (3/12 x Rp 27,5 jt) = Rp 6.875.000,-

Mengapa perlu dianualisasi (disetahunkan) Trik ini banyak digunakan untuk menghindarkan pengenaan tarif pajak tertinggi (dalam sistem tarif progresif) PPh jika tidak disetahunkan adalah 10% x Rp 37.500.000,- = Rp 3,750.000, Jika dengan anualisasi maka akan terkena tarif efektif 13,75% (6.875.000 / 150.000.000 x 100%)

Stelsel Kas / Dasar Tunai


Metode akuntansi yg menggunakan saat / periode terjadinya penerimaan dan pengeluran kas sebagai kreteria untuk mengakui baban dan pendapatan terkait. Dengan stelsel kas, laba usaha / penghasilan neto dlm satu tahun pajak ditentukan dg cara mengurangkan pengeluaran kas untuk beban yg terkait dengan penerimaan kas dari penghasilan brutonya. Dengan stelsel kas apa berarti semua transasksi penerimaan dan pengeluaran kas berakibat harus diakuinya pendapatan dan beban dalam tahun pajak ybs ??

lanjut
Sbg metode akuntansi stelsel kas murni banyak digunakan oleh perusahaan jasa (konsultan) WP OP pada umumnya menggunakan stelsel kas Dalam stelsel, pd umunya penghasilan sbg objek pajak dianggap direalisasi pada saat kas, barang atau manfaat ekonomik lainnya benar-benar diterima atau scr konstruktif diterima oleh WP. Doktrin diterima scr kontruktif diciptakan dg maksud dpt menghindarkan upaya WP unt menunda pengakuan pendapatan dan pembayaran pajaknya.

lanjut
Diterima secara kontruktif, pendapatan sbg objek pajak harus dipandang sbg sudah diterima, diperoleh atau direalisasi pada saat penghasilan dapat atau tersedia untuk dikonsumsi oleh WP. Kreteria terpenting dari penerimaan secara konstruktif adalah: 1. Hak atas penghasilan tanpa adanya pembatasan 2. Dapat ditiadakannya ketidak pastian menyangkut penerimaan penghasilan tsb. Pertanyaan yg tepat unt menguji apakah penghasilan sdh scr kontruktif diterima oleh WP: sudah bisakah WP menerima penghasilan tsb, apabila ia mengajukan klaim atau menuntut pembayaran kepada debitur / pihak yang bekewajiban untuk membayar?

contoh
1. KAP A, membukukan dengan stelsel kas. Pada 15 Des 2006 menerima promes tanpa bunga nominal Rp 50 juta dari kliennya sebagai pembayaran fee auditnya. Promes 15 Des 2006 jangka waktu 30 harit tsb didiskontokan ke bank pada tgl yg sama dg diskonto 15%, sehingga diperoleh kas 49,35 juta. Penerimaan promes sudah diakui sebagai pengahsilan tahun pajak 2006. Bagaimana jika promes disimpan sampai tanggal 15 Jan 2007, dan akan diterima utuh Rp 50 juta 2. Jika PT ABC menyelenggarakan pembukuan dengan stelsel kas, pempunyai piutang dari penyerahan barang Rp 50 Juta. Piutang sdh ditagih berkali kali ttp tidak juga dibayar, maka doktrik diterima secara kontruktif tidak berlaku

Stelsel Akrual
Sebagai metode akuntansi, stelsel akrual untuk tujuan akuntansi perpajakan dalam banyak hal identik dengan akuntansi keuangan. Stelsel akrual mengacu pada konsep dasar mempertemukan secara layak antara beban sebagai pengukur atas pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkan penghasilan brutonya (matching concept)

contoh
PT ABC, bergerak dalam jasa perawatan AC. Tanggal 15 /8/2007, mengirim tagiahan kepada PT DEF Rp 3 juta jatuh tempo 10 hari atas jasa tlg 5/8/07. Oleh PT DEF, diserahkan promes nilai nominal Rp 3 juta bunga 12% jatuh tempo 3 bulan. Pada tanggal 15/8/2007 harga pasar promes Rp 2.865.000,-

Jurnal akrual
5/8. Piutang Usaha Penghasila jasa 15/8. Piutang wesel Piutang Usaha 15/11.Kas Piutang Wesel penghasilan bunga Jika tdk terbayar Kerugian Piutang Piuatang Wesel Rp 3 juta Rp 3 juta Rp 3 juta Rp 3 juta Rp 3.09 juta Rp 3 juta Rp 90 ribu Rp 3 juta Rp 3 juta

Junal stelsel kas


15/8. Piutang wesel Rp 2.865.000,Penghasilan jasa Rp 2.865.000 15/11. Kas Rp 3.090.000 Piutang wesel Rp 2.865.000 Pendapatan bunga Rp 225.000 15/11. biaya kerugian pitang Rp 2.865.000 Piutang wesel Rp 2.865.000

LAPORAN KEUANGAN KOMERSIAL & FISKAL


AKUNTANSI KOMERSIAL, penyusunan LK komersial didasarkan pada asumsi-asumsi. Pada Ak Komersial mengenal adanya konsep dasar entitas sehingga jelas unit kegiatan manakah yang merupakan sasaran tujuan pelaporan. LAPORAN KEUANGAN FISKAL, mempunyai kriteria tentang pengukuran dan pengakuan komponen yang terdapat dalam laporan keuangan. Pengukuran tsn tidak selamanya sejalan dengan prinsip akuntansi komersial,karena terdapat argumentasi dari motivasi laporan keuangan fiskal untuk memperkecil erosi potensi pengenaan pajak dan memeberi dorongan untuk mealokasi dalam bentuk-bentuk investasi. Penyusunan laporan fiskal,merujuk pada OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)

Akuntansi Kas-Bank
Umum : Kas dan Bank biasanya dilaporkan dalam satu akun, menunjukan informasi saldo uang kas dan simpanan giro di bank yg dimiliki oleh perusahaan. Kas dan Bank merupakan aktiva paling likuid PSAK no 2, perusahaan perlu memperhatikan informasi arus kas yg berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dlm menghasilkan kas, OKI perusahaan harus menyusun laporan arus kas (ingat banyak pemerikasa yang menyamakan penerimaan kas bank sama dengan penjulan)

Akuntansi Pajak Kas-Bank


Dlm Ak Komersial, kas dan bank sgb pos paling likuid dlm bentuk uang cartal dan giral, serta tabungan. Perlakukan akuntansi kas dan bank tidak diatur secara khusus dlm UU Perpajakan, shg akuntansi mengikuti ketentan akuntansi komersial, seperti tidak termasuk katagori kas adalah: Deposito, perangko dan materai, uang muka, cek mundur Kas bank dalam mata uang asing, maka kurs yg digunakan adl nilai kurs historis atau pada tanggal neraca yg dilakukan scr konsisten

Akuntansi Piuang
*Piutang Usaha (account recevables) meliputi piutang yg -timbul karena penjualan dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan *Pitang usaha ini seluruhnya dimasukkan dlm aktiva lancar jika pelunasannya kurang satu tahun *Pitang Usaha disajikan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi jumlah taksiran piutang tak tertagih

Piutang

*Piutang Lain-Lain (other receivables) timbul dari transaksi di luar kegiatan usaha normal perusahaan. *Piutang lain-lain ini diharapkan dapat ditagih dalam waktu kurang satu tahun *Piuang Lain-Lain ini harus diungkapkan dlm catatan LK

Akuntansi Pajak atas Piutang


Pasal 6 ayat 1 huruf h UU PPh mengatur pembebanan sebagai biaya atas piutang yang nyata-nyata tak tertagih / penghapusan piutang dengan syarat: Telah dibebankan sebagai biaya R/L komersial Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri / BUPLN atau adanya perjanjian mengenai penghapusan piutang antara kreditur dg debitur ybs Telah dipublikasikan dlm penerbitan umum atau khusus WP harus menyerahkan daftar piutang tak tertagih kpd DJP

1. 2.

3. 4.

lanjut
Pratik akuntansi komersial tetap diikuti oleh akuntansi pajak, tetapi perlu diperhatikan bahwa dlm hal Allowance atas piutang taktertagih , tidak diperkenankan oleh Pajak Pajak lebih menekankan keadaan yg sebenarnya Pengecualian yg diperkenankan pembentukan cadangan piutang tak tertagih adalah: Bank, Usaha sewa guna usaha dg hak opsi, usaha asuransi, cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan

Pembentukan Cadangan Piutang Tak Tertagih Usaha Bank


Kep Men Keu No 235/KMK.01/1998, besarnya dana cadangan piutang tak tertagih yg diperkenankan unk dibebankan sbg biaya usaha bank sbb: 1. 5% dr kredit perhatian khusus 2. 15% dr kredit kurang lancar 3. 50% dr kredit diragukan 4. 100% dr kredit macet Masing-masing setelah dikurangi nilai agunan tunai

Jurnal Timbulnya Piutang Usaha


Penjualan kredit dg potongan Retur penjulan Pembayaran dengan cash discount

Akuntansi Persediaan
PSAK No 14 untuk menetapkan persediaan perlu ditetapkan perlakukan akuntansi untuk persediaan menurut sistem biaya historis atau sebagai harga perolehannya. Persediaan mencakup persediaan barang jadi, barang dalam proses, persediaan bahan yang akan digunakan dalam proses produksi Kebiasaan praktik akuntansi komersial persediaan diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi mana yang lebih rendah (COMWIL)

Metode Penilaian Persediaan


Penetapan besarnya nilai persediaan akhir atau HPP dapat menggunakan metode 1. harga perolehan Metode Identifikasi Khusus Metode FIFO Metode LIFO Metode Rata-rata 2. estimasi Metode laba kotor Metode eceran 3. nilai lain Metode LOCOM Nilai Jual (produk pertanian dan logam mulia)

Akuntansi Pajak Persediaan


Praktik akuntansi komersial dan akuntansi pajak tidak ada perbedaan yang prinsip Pasal 10 ayat 6 UU PPh, persediaan dan pemakaian persediaan untuk menghitung harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan; Yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperolehan pertama (FIFO)

Dampak Cost Method dan LOCOM


no
1 2 3 4 5 6 7 8

ket
Penjualan HPP Laba Pajak kini Manfaat PT Beban Pajak Laba bersih PPh terhutang

komer
150.000 70.000 80.000 11.750 1.500 10.250 69.750 11.750

fiskal
150.000 55.000 95.000 11.750 0 11.750 83.250 11.750

selisih
0 15.000 15.000 0 1.500 1.500 13.500 0

Aset PT

1.500

1.500

Akuntansi Aktiva Tatap


Aktiva Tetap, aset berwujud yg diperoleh dlm bentuk siap pakai / dibangun sendiri Bernilai Material, Digunakan dlm operasi perusahaan tdk dimaksudkan untuk dijual dlm rangka operasi normal perusahaan Mempunyai masa manfaat lebih satu tahun (PSAK No 16 2007) Dinilai/disajikan berdasarkan harga perolehan

Aktiva tetap membangun sendiri


Harga perolehan termasuk biaya bunga selama masa kontruksi Laba internal dieliminasi dalam penetapan biaya Perolehan aktiva tetap dengan cara membangun sendiri sebagai objek PPN (membangun sendiri sibagai objek PPN)

Hibah, Bantuan, dan Sumbangan


Pasal 4 ayat 4 a, b, UU PPh, apabila terjadi pengaliah harta berupa bantuan, sumbangan hibah, atau warisan tidak termasuk objek pajak jika : 1. Bantuan/ sumbangan/ zakat diterima oleh BAZIS yg disahkan pemerintah dan penerima zakat yg berhak 2. Hibah yg diterima oleh keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus sederajat, dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial, pengusaha kecil / koperasi yg ditetapkan MenKeu. 3. Warisan

Jurnal Penerima sumbangan


Memenuhi syarat Pasal 4 Kas Bank / Aset Rp xx Modal Donasi Rp xx Tidak memehuhi syarat Pasal 4 Kas bank / Aset Rp xx Penghasilan Sumbangan Rp xx

Jurnal Pemberi sumbangan Biaya sumbangan Rp xx Kas Bank / Aset Rp xx

Penyusutan Aset Tetap


Keterangan Dasar Penyusutan Metode Ph Komersial internal HP-NR / tarif GL; saldo menurun, unit produksi; lainnya Internal Fiskal Pasal 11 UU PPh HP / Tarif GL dan DC/saldo menurun Golongan

Umur

Penyusutan atas Komputer, Printer, Scenner dan sejenisnya


KMK No. 138/KMK.03/2002 dan SE 07/PJ.42/2002 1. Komputur, Printer, Scenner, dan sejenisnya yang sebelumnya dlm kelopok II selanjutnya berubah menjadi kelompok I 2. Yang telah dimiliki sebelum I April 2002, penyusutan berdasarkan ketentuan lama berlaku sd Maret 2002. Penghitungan berdasarkan ketentauan baru berlaku April 2002 dg tetap menggunakan sisa manfaat semula yang akan mengalami penyesuaian/percepatan scr otomatis

Perhitungan Penyusutan atas Telepon Seluler dan Kendaraan Perusahaan


Kep DJP No. Kep.220/PJ/2002 Biaya perolehan telepon seluler yg dimiliki dan digunakan perusahaan untk pegawai tertentu karena jabatan / pekerjaan dapat dibebankan 50% dari jumlah harga perolehan melalui penyusutan aset tetap golongan I Biaya perolehan / perabaikan besar kendaraan bus, minibus, atau sejenis yg dimiliki dan digunakan perusahaan untuk antar jemput pegawai dpt dibebankan seluruhnya sbg biaya perusahaan melalui penyusutan sbg aset kelompok 2

Akuntansi Investasi Jangka Panjang & Aktiva Lain-lain.


Dalam Saham 1. Dicatan sebesar harga perolehan (PSAK 13) termasuk pajak-pajak yg tdk dpat dikreditkan 2. Ukuran Investasi dlm Saham sbg Investasi J Panjang kepemilikan > 20%

Akuntansi Utang

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

PSAK 9, bahwa kewajiban jangka pendek meliputi: Pinjaman bank dan pinjaman lain Bagian kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo Utang usaha Uang muka penjulan Utang dividen Utang pajak Pendapatan yang ditangguhkan Kewajiban kontinjen

Jurnal standar
PKP Pembelian Persediaan / Pembelian PPN masukan Kas / Hutang Penjualan Kas / Piutang Penjualan PPN Keluaran Penyetoran PPN Keluaran PPN Masukan Kas
100% 10%

110%
110% 100% 10% xxx

xxx xxx

Uang muka penjualan Kas Rp 110 Uang Muka Penjualan PPN Keluaran

Rp 100 Rp 10

Penjualan Kas Uang Muka Penjualan Penjualan PPN Keluaran

Rp 220 Rp 100

Rp 300 Rp 20

Penjualan kepada Pemungut Kas / Piutang 98,5% UM PPh 22 1,5% PPN Keluaran Pungut 10% Penjulan 100% PPN Keluaran 10% Setoran PPN PPN Keluaran xxx PPN Masukan xxx PPN Keluaran Pungut xxx (biasanya restitusi)

Pembayaran Gaji Beban gaji 100% PPh 21 Kas Penyetoran PPh 21 PPh 21 5% Kas Pembayaran Jasa Konsultan Beban Jasa konsultan 100% Utang PPh 23 Kas

5% 95%

5%

6% 94%

Pembayaran UM PPh 25 UM PPh 25 65.000.000 KAS

65.000.000

Pembebanan pajak pada Laba /Laba ditahan Laba / Laba ditahan 100.000.000 PPh 29 / Hutang pajak 100.000.000 Pembayaran hutang pajak PPH 29 100.000.000 UM PPh 25/21/22/23/24 65.000.000 KAS 35.000.000

Akuntansi Penghasilan /Pendapatan


Pasal 4 (1) UUPPh, Setiap tambahan kemampuan ekonomis yg diterima / diperoleh WP, baik yg berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yg dpt dipakai unt konsumsi atau untuk menambah kekayaan WP ybs dg nama dan bentuk apapun termasuk: a. Penggantian / imbalan berkenaan dg pekerjaan / jasa yg diterima termasuk gaji, upah, tunjangan, hr, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dlm bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dlm UU ini

lanjut
b. Hadiah dari undian c. Laba usaha d. Keuntungan krn penjualan / pengalihan harta e.Penerimaan kembali pembayatran pajak yg telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak f.Bunga g.Dividen, shu h. Royalti i. Sewa j. Keuntungan karena pembebasan utang k. Keuntungan selisih kurs l. Selisih lebih penilaian kembali aktiva m.premi asuransi n. Iuran yg diterima dari perkumpulan dari anggotanya yg terdiri dr WP o. Tambahan kekayaan neto yg berasal dr penghasilan yg blm dikenakan pajak p. penghasilan dari usaha berbasis syariah q.Imbalan bunga r. Surplus BI

Stelsel Pengakuan Penghasilan


Pengakuan penghasilan dalam akuntansi perpajakan mengikuti stelsel: 1. Stelsel Akrual (metode pengakuan persentase tingkat penyelesaian pekerjaan) 2. Stelsel Kas (diakui saat diterima pembayaran) 3. Stelsel Campuran

Penghasilan Yang Bukan Objek PPh



Bantuan sumbangan Zakat Harta hibah Warisan Harta sebagai penyertaan modal Pemberian natura dan kenikmatan (sehubungan dg pekerjaan) Klaim asuransi Dividen tertentu Iuran dana pensiun Penghasilan dana pensiun Pembagian laba perseroan komanditer yg tidak terbagi atas saham Bunga obligasi perusahaan reksadana Penghasilan modal ventura

Penggabungan Penghasilan
Dalam sistem pemungutan PPh di Indonesia telah menetapkan keluarga sgb kesatuan ekonomis, artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yg dikenakan pajak dan pemenuhan kewajiban pajaknya dilakukan oleh kepala keluarga. Pasal 8 UU PPh, seluruh penghasilan / kerugian bagi wanita yg telah kawin pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya yg berasal dari tahun-tahun sebelumnya yg belum dikompensasikan, dianggap sbg penghasilan / kerugian suaminya dan dikenakan PPh sebagai satu kesatuan.

Lanjut
Penggabungan penghasilan istri tersebut tidak dilakukan dlm hal penghasilan istri diperoleh dari pekerjaan sebagai pegawai yg telah dipotong PPh 21 oleh pemberi kerja, dg ketentuan: 1. Penghasilan istri tsb semata-mata diperoleh dari satu pemberi kerja 2. Penghasilan istri tsb berasal dari pekerjaan yg tdk ada hubungannya dg usaha / pekerjaan bebas suami / anggota keluarga lainnya.

Contoh
1. P Amin memperoleh dari usaha Rp 100 jt, mempunyai istri yang pegawai dg penghasilan Rp 50 jt yg telah dipotong PPh 21. karena pekerjaan istri tdk ada hubungannya dg usaha suami, maka penghasilan istri Rp 50 jt tidak digabungkan dengan penghasilan P Amin, dan pengenaan PPh atas penghasilan istri tersebut bersifat final. 2. Apabila selain menjadi pegawai, istri p Amin juga membuka salon kecantikan dg penghasilan Rp 75 jt (Rp 50 Jt + Rp 75 Jt = Rp 125, maka penghasian istri tsb digabungkan dg penghasilan P Amin. Dg penggabungan tsb PKP P Amin adl sebesar Rp 225 jt. Potongan PPh 21 Istri dapat dikreditkan (bersifat tidak final)

Pemisahan Penghasilan
Pemisahan penghasilan dilakuakn dlm hal penghasilan istri diperoleh dr pekerjaan sbg pegawai yg tlh dipotong PPh dg ketentuan: Penghasilan istri hanya dr satu pemberi kerja Penghasilan istri berasal dr pekerjaan yg tdk ada hubungannya dg usaha suami / anggota keluarga lainnya Suami dan istri telah hidup terpisah Suami istri dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan secara tertulis (PPh masing sebanding dg penghasilan neto)

1. 2.

3. 4.

Panghasilan Anak Belum Dewasa Anak belum dewasa berumur < 18 tahun dan belum pernah menikah Penghasilan anak blm dewasa digabung dg penghasilan orang tuanya, kecuali penghasilan dari pekrejaan yg tdk ada hubungannya dg usaha ortunya / kelurga lainnya.

Akuntansi Beban
Beban biaya yg telah dikeluarkan perusahaan, menurut akuntansi pajak dpt diperlakukan sbb: Biaya yg bukan merupakan pengurang PKP Biaya yg merupakan pengurang PKP Biaya yg berkaitan dengan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak Biaya yg berkaitan dg penghasilan yang terkenakan PKP final

1. 2. 3. 4.

Biaya yang bukan merupakan pengurang PKP (Pasal 9 UU PPh)


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pembagian laba termasuk tantien Biaya pribadi pemegang saham Pembentukan dana cadangan Premi asuransi Penggantian dlm bentuk natura dan kenikmatan Jumlah yang melebihi kewajaran Harta yang dihibahkan Pajak penghasilan Biaya pribadi Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan 11. Sanksi administrasi

Biaya yang merupakan pengurang PKP


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Berkaitan dengan karyawan Berkaitan dengan HPP Berkaitan dengan biaya bunga Berkaitan dengan biaya sewa Berkaitan dengan biaya royalty Berkaitan dengan biaya perjalanan Berkaitan dengan administrasi perusahaan Berkaitan dengan asuransi Berkaitan dengan pajak-pajak daerah Berkaitan dengan penyusutan & amotisasi Berkaitan dengan dana pensiun Berkaitan dengan produk Berkaitan dengan piutang taktertagih Berkaitan dengan entertaimen Berkaitan dengan pajak masukan / keluaran Berkaitan dengan penjulan Berkaitan dengan pemberian natura

Bunga Pinjaman sekaligus mempunyai deposito

SE 46/PJ04/1995, Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besar atau lebih kecil dari jumlah rata-rata dana deposito atau tabungan maka seluruh biaya bungan tidak dapat dibebankan sebagai biaya Apabila jumlah rata-rata pinjaman lebih besar dari jumlah rata-rata dana deposito atau tabungan maka seluruh biaya bunga yang dapat dikurangkan adalah biaya bunga rata-rata pinjaman yang melebihi jumlah rata-rata deposito

Bunga atas Pinjaman yang diperuntukkan Membeli Saham, tidak dapat dianggap sebagai biaya, biaya bunga dapat dikapitalisasi pada harga saham PT A meminjam uang ke Bank BCA sebesar Rp 1 m dg bunga 20%/ tahun. Seluruh pinjaman dibelikan sahan PT X. maka bunga sebesar Rp 1 M x 20% atau Rp 200 juta tidak dapat diperlakukan sebagai pengurang PKP, tetapi dikapitalisasi pada nilai saham sehingga nilai saham menjadi Rp 1,2 m

PT Y meminjam uang dari Bank MA sebesar Rp 250 jt dengan bunga 20%/th. |PT |Y juga mempunyai deposito sebesar rp 100 jt dengan bunga 15% / th. Maka biaya bunga pinjaman sebesar Rp 50 jt tidak dapat dikurangkan kepada PKP melain hanya Rp 50 jt Rp 15 jt= Rp Rp 35 jt.

Akuntansi PPh
PSAK 46, menggunakan dasar akrual yg mengatur PPh yg kurang bayar atau terutang dan pajak yg lebih bayar dlm masa pajak dan mengakui kewajiban dan aset pajak tanggungan terhadap konsekuensi pajak periode mendatang atas transaksi yg telah diakui sbg unsur laba komersial tetapi belum diakui sbg laba fiskal atau sebaliknya PSAK 46 sebagai respons dengan diberlakukannya UU PPh.

1. PPh yg kurang bayar tahun berjalan / terutang diakui sbg kewajiban pajak kini (current tax liability), sedang PPh yg lebih bayar tahun berjalan diakui sbg aset pajak kini (current tax asset). 2. Konsekuensi pajak periode mendatang yg dapat didistribusikan dg perbedaan temporer kena pajak (taxable temporary differences) diakui sbg kewajiban pajak tangguhan, sedang efek perbedaan temporer yg boleh dikurangkan (duductable temporary differences) dan sisa kerugian yg belum dikimpensasi diakui sbg aset pajak tangguhan.

Prinsip Dasar Akuntansi PPh PSAK 46

Lanjut
3. Pengukuran kewajiban dan aset pajak didasarkan pd peraturan perpajakan yg berlaku, efek perubahan peraturan perpajakan yg akan terjadi di kemudian hari tidak boleh diantisipasi atau diestimasi. 4. Penilaian kembali aset pajak tangguhan harus dilakukan pada setiap tanggal neraca, terkait dg kemungkinan dapat atau tidaknya pemulihan aset pajak tangguhan direalisasi dlm periode mendatang

Pendekatan Akuntansi PPh


PSAK menggunakan pendekatan asetkewajiban (asset-liability approach) UU PPh menggunakan pendekatan pendapatan beban (revenue-expense approach) SAK mengatakan lebih dahulu neraca sementara UU Pajak mendahulukan daftar perhitungan laba -rugi

Lanjut
PSAK 16 /77 memberi petunjuk yg memperkenalkan kepada WP unt memilih: 1. menghitung PPh berdasarkan laba akuntansi, ttp dg menyajikan selisih pengaruh tersebut dari PPh yg terutang sesuai UU PPh sebagai akibat beda waktu pengakuan pendapatan dan beban di dalam neraca sgb PPh yg ditangguhkan selanjutnya dialokasikan sbg beban pajak PPh atau biaya fiskal tahun berikutnya 2. Menghitung PPh berdasarkan laba fiskal / PKP dengan tidak mewajibkan pengaruh di dalam neraca

Pengaturan Akuntansi PPh (PSAK 46)

1. Pertanggungjawaban konsekuensi pajak pada periode berjalan / periode mendatang untuk:


a. pemilihan nilai tercatat aset dan pelunasan nilai tercatat kewajiban yg disajikan di neraca b. transaksi / peristiwa lain dlm periode berjalan yg diakui dan disajikan di Laporan keuangan komersial

2. Pengakuan aset pajak tangguhan yg berasal dari sisa kerugian yg belum dikompensasi, penyajian PP di laporan keuangan komersial.

Perbedaan Temporer
Perbedaan temporer perbedaan antara dasar pengenaan pajak (tax base) dari suatu aset / kewajiban dg nilai tercatan pada aset / kewajiban yg berakibat pada perubahan laba fiskal periode mendatang. Perubahan tsb dapat bertambah (future taxable amount) atau berkurang (future deductible amount) pada saat aset dipulihkan / kewajiban dilunasi. Perbedaan temporer ini berakibat harus diakuinya aset / kewajiban pajak tangguhan

lanjut
Hal ini dapat terjadi pada kondisi: 1. Penghasilan / beban yg harus diakui unt menghitung laba fiskal / laba komersial dlm periode yang berbeda 2. Goodwill yang terjadi saat konsolidasi 3. Perbedaan nilai tercatat dg tax base dari suatu aset / kewajiban pada saat pengakuan awal 4. Bagian dari biaya perolehan saat penggabungan usaha yg bermakna akuisisi dialokasikan ke aset / kewajiban tertentu atas dasar nilai wajar, perlakukan akuntansi demikian tidak diperkenannkan oleh UU Pajak

Perbedaan Tetap
Permanent different timbul sebagai akibat adanya perbedaan pengakuan beban dan pendapatan antara pelaporan komersial dan fiskal. Akibat dari perbedaan ini berakibat juga pada laba komersial dan laba fiskal sebagai dasar menghitung PPh terhutang. Hal ini menimbulkan perbedaan bila diperbandingkan dengan akuntansi komersial

Beban PPh
Beban PPh terdiri atas beban pajak kini (dlm tahun berjalan) dan beban pajak tangguhan. Istilah yg perlu dipahami: 1. Beban Pajak jumlah agregat pajak kini dan pajak tangguhan yg diperhitungkan dlm penghitungan laba / rugi akuntansi pada periode berjalan sgb beban / penghasilan 2. Pajak Kini jumlah PPh yg terhutang atas PKP dlm periode tahun pajak berjalan, jumlah pajak kini sama dengan beban pajak yg dilaporkan dlm SPT

Lanjut
3. PPh pajak yg dihitung berdasarkan UU PPh dan dikenakan atas PKP sesuai tarif yang berlaku. 4. PPh Final PPh atas penghasilan tertentu yg dikenakan pajak tersendiri bersifat final penghasilan ini tidak digabungkan dengan objek pajak tarif pasal 17 sebagai komponen PKP yg dikenakan pajak tidak bersifat final 5. Laba Akuntansi laba / rugi bersih dlm suatu periode akuntansi sebelum dikurangi beban pajak

Lanjut
6. Laba / Rugi Fiskal / PKP laba / rugi dlm suatu tahun pajak yg dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan menjadi dasar penghitungan PPh yg terhutang dlm tahun berjalan. 7. Beban (Penghasilan) Pajak Tangguhan jumlah beban (penghasilan) Pajak Tangguhan yg muncul akibat adanya pengakuan atas kewajiban / aset Pajak Tangguhan 8. Kewajiban Pajak Tangguhan jumlah beban PPh Terutang unt periode mendatang akibat adanya perbedaan temporer kena pajak

Lanjut
9. Aset Pajak Tangguhan jumlah PPh yang terpulihkan pada periode mendatang sbg akibat perbedaan temporer yg boleh dikurangkan dan sisa kerugian yg dapat dikompensasikan. 10. Perbedaan Temporer Kena Pajak perbedaan temporer yg dapat menimbulkan jumlah kena pajak dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang saat tercatat aset terpulihkan atau nilai kewajiban dilunasi.

Pajak Kini dan Pajak Tangguhan


Langkah dlm menetapkan beban pajak tangguhan dan pengaruhnya terhadap aset atau kewajiban pajak tangguhan adalah: 1. Melakukan identifikasi perbedaan temporer dan kompensasi kerugian periode mendatang 2. Mengukur dan menetapkan jumlah kewajiban pajak tangguhan unt perbedaan temporer kena pajak dg menerapkan tarif pajak yg berlaku 3. Mengukur / menentukan jumlah aset pajak tangguhan unt perbedaan temporer yg dpt dikurangkan dan sisa kerugian yg dpt dikompensasi dg menerapkan tarif yg berlaku

Lanjut
Beban Pajak Kini (sesuai SPT)

selisih
Beban Pajak Penghasilan (komersial) Beban Pajak Tangguhan atau Pendapatan Pajak Tangguhan

Koreksi Negatif Kewajiban Pajak Tangguhan

Aset Pajak Tangguhan Koreksi Positif

Contoh
A B Laba komersial sebelum pajak Koreksi positif -beban pemberian natura -penyusutan bangunan kantor -pendapatan sewa -sanksi bunga pajak Koreksi negatif -amortisasi -pendapatan jasa giro -penyusutan bangunan pabrik PPh 22 Rp 30.000.000 PPh 23 Rp 5.000.000 PPh 24 Rp 50.000.000 PPh 25 Rp 100.000.000 1.200.000.000

50.000.000 230.000.000 10.000.000 45.000.000


60.000.000 30.000.000 100.000.000

Jawab perhitungan PPh terhutang


Laba komersial sbl pj Koreksi beda tetap -beban natura -pendapatan sewa -sanksi bunga pajak -pendapatan jasa giro Koreksi beda waktu -penyusutan B Kamtor -penyusutan B Pabrik -amortisasi Penghasilan Kena Pajak PPh terhutang 1.200.000.000 50.000.000 10.000.000 45.000.000 (30.000.000)

75.000.000 1.275.000.000

230.000.000 (100.000.000) (60.000.000)

70.000.000 1.345.000.000 386.000.000

PPh terutang PPh 22 PPh 23 PPh 24 PPh 25 PPh kurang bayar

386.000.000 30.000.000 5.000.000 50.000.000 100.000.000

185.000.000 201.000.000

Jurnal
Akun
PPh Pajak Kini Aset pajak Tangguhan Pendpt Pj Tangguhan PPh 22 PPh 23 PPh 24 PPh 25 PPh 29 terhutang

Debit
386.000.000 21.000.000

Kredit

21.000.000 30.000.000 5.000.000 50.000.000 100.000.000 201.000.000

Aset Pajak Tangguhan = 30% x Rp 70.000.000 = Rp 21.000.000

Bentuk Penyajian Dalam Laporan


Keuangan

Laba Komersial Sbm Pj Pajak Penghasilan Pajak Kini Pajak Tangguhan Laba Komersial bersih

1.200.000.000

386.000.000 21.000.000

365.000.000 835.000.000

Lapotan PT ABC 2008


a. Laba komersial sbm pajak b. Koreksi Positif beban natura pendapatan sewa penyusutan bangunan c. Koreksi Negatif amortisasi d. PPh 25 e. Hitung kewajiban pajak tangguhan ? 800.000.000 30.000.000 20.000.000 60.000.000 100.000.000 35.000.000

Jawaban
Laba komersial sbl pajak Koreksi Beda Tetap -Beban natura -Pendapatan sewa 800.000.000

30.000.000 20.000.000

50.000.000 850.000.000

Koreksi Beda Waktu - Penyusutan Banguan -Amortisasi Penghasilan Kena Pajak PPh terhutang PPh 25 PPh kurang -bayar

60.000.000 (100.000.000)

(40.000.000) 810.000.000 225.000.000 (35.000.000) 190.000.000

Kewajiban Pajak Tangguhan = 30% x 40.000.000 = 12.000.000

Jurnal
Akun
PPh - Pajak Kini Beban Pajak Tangguhan Kewajiban Pajak Tangguhan PPh 25 PPh 29 terhutang

Debit
225.000.000 12.000.000

Kredit

12.000.000 35.000.000 190.000.000

Penyajian Laporan keuangan


Laba Komersial sebelu pajak Pajak Penghasilan -Pajak Kini -Pajak Tangguhan Laba Komersial Bersih 800.000.000 225.000.000 12.000.000

237.000.000 562.000.000

Latihan
Jurnal PPh 21 ditanggung karyawan Gaji Rp 100% PPh 21 Rp 5% Kas Rp 95% Jurnal PPh 21 ditanggung perusahaan Gaji Rp 105% PPh 21 Rp 5% Kas Rp 100% Jurnal PPh 21 dg tunjangan PPh 21 Gaji Rp 100 % Tunjangan PPh 21 Rp 5% PPh 21 Rp 105 x 5% Kas Rp 1o5 105 x 5% Mana yg lebih menguntung karyawan ?

PPh 22
PT X menjual BKP kepada UNAIR dengan harga Rp 11.000.000. Uniar sebagai bendaharawan memetong PPN dan PPh 22. Pembayaran dilakukan saat pengiriman Jurnal PT X saat penerimaan pembayaran

PPh 25
PT X pada bulan Agustus 2007 seharusnya membayar angsuran PPh 25 sebesar Rp 2.500.000,-. Tetapi PT X masih membayar angsuran PPh 25 sebesar Rp 2.000.000,-. Atas masa bulan Agustus tersebut fiskus menerbitkan STP pada bulan September 2007 sebesar Rp 510.000,- dg rincian Pokok STP Rp 500.000, Sanksi Rp 10.000, Jurnal

Akuntansi PPN & PPnBM


PPN, adalah pajak yang dikenakan atas penyerahan B/JKP di dlm Daerah Pabean yg dilakukan oleh pengusaha dan pemanfaatan BKP tidak berwujud dan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean, dan atas impor BKP dan ekspor BKP yang dilakukan oleh PKP. PPnBM, adalah pajak yabg dikenakan atas penjulan atau penyerahan BKP yang tergolong mewah yang dilakukan oleh PKP dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan BKP yang tergolong mewah tsb didalam Daerah Pabean dan atas impor BKP yang tergolong mewah.

lanjut
PPN & PPnBM, pada dasarnya adalah pajak tidak langsung (indirect taxation). Sebagai pajak tidak langsung, pada akhirnya konsumen pemakai

Cara Kerja Sistem PPN .


Daerah Pabean PPN Impor

Menjual / menyerahkan

Faktur (FK) FM PKP PPN terhutang konsumen

PPN & PPnBM


PT X importir dg API mengimpor AC sebanyak 2000 unit dari Jepang dg harga impor (CIF) $ 500 / unit atas impor tsb terhutang Bea Masuk 25%. Kurs MK Rp 10.000,-/ $ 1. atas impor tersebut dikenakan PPN impor 10% dan PPnBM 20% AC tersebut oleh PT X dijual dengan harga Rp 3.500.000 + PPN 10% Jurnal saat impor dan penjualan