Anda di halaman 1dari 7

Pembayaran Pajak (SSP, Pembayaran melalui electronic banking, penyetoran, pelaporan pajak)

DASAR HUKUM

PER- 38/PJ./2009 (berlaku sejak 1 Juli 2009) tentang bentuk formulir SPP, kode MAP, KJS. PER-23/PJ/2010 (berlaku sejak 22 April 2010) tentang perubahan sebagian isi PER-38/PJ/2009 SE-54/PJ./2010 tentang pengantar PER-23/PJ/2010 PMK 184/PMK.03/2007 stdd PMK 80/PMK.03/2010 tentang penentuan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak, penentuan tempat pembayaran, tata cara pembayaran, penyetoran dan pelaporan pajak, serta tata cara pengangsuran dan penundaan pembayaran pajak.

CARA PEMBAYARAN PAJAK selain PBB dan BPHTB, ada beberapa cara yaitu: 1. Membayar pajak dengan menggunakan SSP o SSP dapat diperoleh di KPP atau www.pajak.go.id di menu download lainnya. Bank biasanya meminta SSP yang berkarbon, jika WP mencetak dari website informasikan untuk membawa kertas karbon sendiri. Pembayaran melalui Bank Persepsi Bukti pembayaran yang diterima oleh WP: o SSP lembar ke-1 dan ke-3 yang didalamnya sudah tertera NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara) dan NTB (Nomor Transaksi Bank). o SSP baru dianggap sah jika sudah tercantum NTPN dan NTB (Pasal 2 ayat (5) PER 148/PJ/2007). tetapi utk beberapa Bank terkadang validasi NTPN diberikan di lembaran tersendiri yang terpisah dari SSP. o Untuk WP yang membayar PPh pasal 25, maka SSP yang didalamnya sudah tertera NTPN tersebut dianggap sebagai pelaporan

SPT Masa PPh Pasal 25, sehingga WP tidak perlu lagi melaporkan SSP yang sudah diterakan NTPN tsb ke KPP tempat WP terdaftar. (Pasal 4 ayat (1) PER 22/PJ/2008) Kantor Pos Persepsi
o

SSP lembar ke-1 dan ke-3 yang yang didalamnya sudah tertera NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara) dan NTP (Nomor Transaksi Pos) (Pasal 2 ayat (5) PER 148/PJ/2007). Untuk WP yang membayar PPh pasal 25, maka SSP yang sudah diterakan NTPN tersebut dianggap sebagai pelaporan SPT Masa PPh Pasal 25, sehingga WP tidak perlu lagi melaporkan SSP yang sudah diterakan NTPN tsb ke KPP tempat WP tsb terdaftar. (Pasal 4 ayat (1) PER 22/PJ/2008)

2. Membayar pajak melalui electronic banking o Jika WP membayar melalui electronic banking, maka dokumen yang akan dilaporkan ke KPP sebagai bukti bahwa WP tersebut sudah melakukan pembayaran adalah BPN (Bukti Penerimaan Negara). BPN (Bukti Penerimaan Negara) ini dipersamakan sebagai SSP (Pasal 2 ayat (6) PER148/PJ./2007 dan angka 5 SE-39/PJ/2008). o Bukti Penerimaan Negara (BPN) adalah dokumen terbitan Bank Persepsi/Kantor Pos atas transaksi penerimaan negara yang mencantumkan NTPN dan NTB/NTP. o BPN dari Internet Banking dapat diperlakukan seperti SSP, dan dapat dijadikan lampiran dalam SPT. CARA PEMBAYARAN PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), ada beberapa cara yaitu: 1. Membayar pajak melalui teller Bank cara nya: membawa SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang) ke Bank, kemudian Bank akan memberikan STTS (Surat Tanda Terima Setoran) kepada WP yang bersangkutan. Tetapi hanya beberapa Bank yang dapat menerima pembayaran PBB melalui Teller Bank.

Untuk Daftar Bank dan Layanan yang disediakan oleh masing-masing Bank yang berkaitan dengan pembayaran PBB silahkan klik Tempat Pembayaran PBB atau dapat dilihat di S-091/PJ.13/2008. 2. Membayar pajak melalui Mesin ATM cara nya: memasukkan NOP dan tahun pajak untuk PBB yang akan di bayar. Untuk langkah-langkah cara pembayaran dengan melalui ATM disesuaikan dengan masing-masing Mesin ATM Bank. o Untuk Daftar Bank dan Layanan yang disediakan oleh masing-masing Bank yang berkaitan dengan pembayaran PBB silahkan klik Tempat Pembayaran PBBatau dapat dilihat di S-091/PJ.13/2008..
o

Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran KLIK DISINI Per. Dirjen Pajak Nomor 38/PJ./2009

Untuk PPh Pasal 15 atas Penerbangan Dalam Negeri : MAP 411129, KJS 101 untuk NOP dan alamat NOP pada SSP, sesuai petunjuk pengisiannya, hanya diisi untuk pembayaran PPh atas jual beli tanah/banggunan atau PPN membangun sendiri. SSP terdiri dari 4 lembar : 1. 2. 3. 4. Lembar ke-1 : untuk arsip Wajib Pajak Lembar ke-2 : untuk KPPN Lembar ke-3 : untuk dilaporkan oleh WP ke KPP Lembar ke-4 : untuk bank persepsi atau kantor pos & giro

Dalam hal diperlukan, SSP dapat dibuat dalam rangkap 5 (lima) dengan peruntukan lembar ke-5 untuk arsip Wajib Pungut atau pihak lain sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

JATUH TEMPO PEMBAYARAN (PASAL 2) DAN PELAPORAN (PASAL 7) (PMK80/PMK.03/2010) & (UU KUP) No Jenis Pajak Batas Pembayaran Batas Pelaporan

1 2 3 4 5 6 7

PPh pasal 4(2) setor sendiri PPh pasal 4(2) pemotongan PPh pasal 15 setor sendiri PPh pasal 15 pemotongan PPh pasal 21 PPh pasal 23/26 PPh pasal 25

(paling lambat ...) tgl 15 bulan berikutnya tgl 10 bulan berikutnya tgl 15 bulan berikutnya tgl 10 bulan berikutnya tgl 10 bulan berikutnya tgl 10 bulan berikutnya tgl 15 bulan berikutnya saat penyelesaian dokumen PIB

tgl 20 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya

PPh pasal 22 impor setor sendiri 8 (dilunasi bersamaan dg bea masuk, PPN, PPnBM) PPh pasal 22 impor yang pemungutan oleh BC 9 PPh pasal 22 pemungutan oleh 10 bendaharawan 11 12 PPh pasal 22 migas PPh pasal 22 pemungutan oleh WP badan tertentu PPN & PPnBM

1hari kerja berikutnya

13

14

PPN atas kegiatan membangun sendiri

15 PPN atas pemanfaatan BKP tidak

hari kerja terakhir minggu berikutnya hari yang sama dg pembayaran 14 hari setelah masa pajak atas penyerahan barang berakhir tgl 10 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya tgl 10 bulan berikutnya tgl 20 bulan berikutnya akhir bulan berikutnya setelah akhir bulan masa pajak berakhir & sebelum berikutnya SPT masa PPN disampaikan setelah masa pajak berakhir akhir bulan tgl 15 bulan berikutnya setelah berikutnya Masa Pajak berakhir setelah Masa Pajak berakhir. tgl 15 bulan berikutnya setelah akhir bulan

berwujud dan/atau JKP dari Luar Daerah Pabean

saat terutangnya pajak

16

PPN & PPnBM pemungutan bendaharawan

tgl 7 bulan berikutnya

berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir

PPN dan/ atau PPnBM pemungutan oleh Pejabat Penandatanganan 17 Surat Perintah Membayar sebagai Pemungut PPN PPN & PPnBM pemungutan selain bendaharawan

18

19

20

21

akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir PPh 25 WP kriteria tertentu yang harus dibayar paling lama pada 20 hari dapat melaporkan beberapa Masa akhir Masa Pajak terakhir. setelah Pajak dalam satu SPT Masa. (Pasal 3 berakhirnya ayat (3B) UU KUP) Masa Pajak terakhir. Pembayaran masa selain PPh 25 WP harus dibayar paling lama sesuai 20 hari setelah kriteria tertentu yang dapat dengan batas waktu untuk berakhirnya melaporkan beberapa Masa Pajak masing-masing jenis pajak. Masa Pajak dalam satu SPT Masa. (Pasal 3 ayat terakhir. (3B) UU KUP) 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun pajak. (Pasal 3 ayat (3) huruf b Pembayaran pelunasan pajak yang sebelum pelaporan SPT UU KUP) terutang dalam SPT Tahunan WP Tahunan WP OP (Pasal 9 ayat OP (2) UU KUP) Jika WP menggunakan tahun pajak yang sama dengan tahun

harus disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada PKP Rekanan Pemerintah melalui KPPN tgl 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

kalender, maka batas akhir pelaporan SPT Tahunan WP OP adalah 31 Maret tahun berikutnya. 4 (empat) bulan setelah akhir tahun pajak. (Pasal 3 ayat (3) huruf b UU KUP) Jika WP sebelum pelaporan SPT Tahunan menggunakan WP Badan (Pasal 9 ayat (2) UU tahun pajak yang sama KUP) dengan tahun kalender, maka batas akhir pelaporan SPT Tahunan WP Badan adalah 30 April tahun berikutnya.

Pembayaran pelunasan pajak yang 22 terutang dalam SPT Tahunan WP Badan (PPh Pasal 29)

Jika tanggal jatuh tempo pembayaran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, maka pembayaran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. (Pasal 3 PMK 184/PMK.03/2007) Jika tanggal batas akhir pelaporan bertepatan dengan hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. (Pasal 8 ayat (2) PMK 184/PMK.03/2007) Hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara

nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. (Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 8 ayat (3) PMK 184/PMK.03/2007) SANKSI KETERLAMBATAN PEMBAYARAN sebesar 2 % perbulan dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. ( UU KUP Pasal 9 ayat 2a). Jatuh tempo pelaporan SPT, dapat dilihat pada menu Pembayaran Pajak resume ini.

Sanksi keterlambatan pelaporan SPT : Nomor Jenis SPT 1 2 3 sebelum 2008 dan 2008 seterusnya 500.000 100.000 100.000

SPT Masa 50.000 PPN SPT Masa 50.000 lainnya SPT Tahunan OP SPT Tahunan Badan 100.000

100.000

1.000.000

Formulir SPT Masa maupun SPT Tahunan dapat diperoleh di KPP terdekat atau dapat diunduh di menu download web www.pajak.go.id. Dalam hal jatuh tempo pembayaran dan atau pelaporan jatuh pada hari libur, maka pembayaran atau pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. (Pasal 3 dan Pasal 8 Per. Menkeu nomor 184/PMK.03/2007) Khusus untuk PPh Pasal 25 tidak perlu lapor apabila SSP yang digunakan untuk membayar telah dibubuhi NTPN oleh kantor tempat pembayaran pajak. (Per. Dirjen Nomor 22/PJ/2008). Tetapi, kalau PPh Pasal 25 Nihil WP tetap wajib lapor ke KPP.