ISSN: 2087-5967

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Berkomitmen
untuk
Mendapatkan
Akreditasi
AACSB

11

Edisi 11
Maret 2012

Preface
Sampul depan edisi sebelas sedikit bercerita dan menggambarkan
kesibukan di Fakultas tercinta ini. Ya, Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) saat ini sedang bekerja keras untuk
meraih akreditasi dari The Association to Advance Collegiate Schools of
Business (AACSB) International. Bahkan, tahun ini menjadi periode yang
krusial dari keseluruhan proses untuk dilalui karena tahun 2012, FEB akan
dinilai layak tidaknya untuk mendapatkan visitasi dari peer-review team.
Ulasan mengenai proses akreditasi lebih lanjut tersaji di rubrik special
report.
Selalu ada inspirasi di setiap edisi. Di edisi ini ada dua profil mahasiswa
berprestasi di bidang menulis dan kewirausahaan. Ketika orang
beranggapan life begins at 30 ataupun 40, salah satu profesor FEB UGM
yang dimuat dalam rubrik Who’s Who berpendapat bahwa Life begins
at 70. Artikel lain yang ditampilkan adalah tulisan akademik mengenai
“Jejaring Sosial Online dalam Perspektif Indonesia”.
Akhirnya kami mengucapkan selamat membaca dan terima kasih atas
perhatian dan dukungannya kepada Fakultas tercinta ini.

Prof. Marwan Asri, MBA., Ph.D., Dekan
Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Diterbitkan oleh

Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Humaniora
Bulaksumur, Yogyakarta 55281
T: + 62 274 548 510 (hunting)
F: + 62 274 563 212
E: dekan@feb.ugm.ac.id
W: http://www.feb.ugm.ac.id

Pengarah

Tim Liputan

Prof. Marwan Asri, MBA., Ph.D
(Dekan)

Rahmat Dwi Santoso
Prima Yustitia Lukitasari
Poppy Laksita

B.M. Purwanto, MBA., Ph.D
(Wakil dekan Bidang Akademik,
Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat)
Eko Suwardi, M.Sc., Ph.D
(Wakil Dekan Bidang Administrasi,
Keuangan dan Sumber Daya Manusia)

Penanggung Jawab
Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc,
Ph.D
(Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan,
Alumni, Kerjasama dan Pengembangan
Usaha)

Tim Editor
Hestining Kurniastuti
Dian Puspa Hartiani
Dwi Andi Rohmatika

Artistik
Lingga Binangkit

12

CONTENT
2 | Preface
3 | Content
4 | What’s Up FEB
26 | Special Report
29 | Scholarship and Recruitment
30 | Lecturer’s Article
Jejaring Sosial Online dalam Perspektif Indonesia

33 | Alumni Corner

17

Rorita Lim, ASEAN Control and Compliance Manager
Procter & Gambler (P&G)

34 | News from Abroad
L’éducation égale et amicable pour tous

36 | Student Corner
Mathias Mahendra, Mahasiswa Berjiwa Bisnis Sejati

37 | Partnership
38 | Facilities
Auditorium Pertamina Tower,
Ruang Megah Bernuansa Merah

39 | Unit News
42 | Who’s Who
Prasetyo Supono

43 | Around Bulaksumur

Integrasi Gama Card dengan Trans Jogja

44 | Publication
45 | Advertorial

Bhima Yudhistira Adhinegara, Berkarya Lewat Pena

46 | Exchange Student’s Comment
47 | FEB in Pictures

38

WHAT’S UP FEB

Welcome Cocktail
Menyambut Kedatangan
27 Mahasiswa Asing ke FEB UGM

F

EB UGM sebagai salah satu fakultas ekonomika dan bisnis
terbaik di Indonesia terus memantapkan posisinya di tingkat
internasional. Hal ini terbukti dengan datangnya 27 orang
mahasiswa asing dalam rangka pertukaran pelajar maupun
program double degree ke FEB UGM. Mahasiswa tersebut berasal
dari berbagai universitas di luar negeri yang telah menjalin kerja sama
dengan FEB UGM, seperti Pforzheim University (Jerman), ESCEM School
of Business and Management (Perancis), University of Agder (Norwegia),
dan beberapa universitas lainnya.

Acara penyambutan mahasiswa asing secara resmi dilakukan
pada (24/2) di Ruang Sidang Kertanegara FEB UGM. Kegiatan diawali
dengan sambutan Dekanat yang diwakili oleh Wakil Dekan Bidang
Akademik, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat, B.M. Purwanto,
MBA., Ph.D. dengan mengungkapkan bahwa FEB UGM sangat berbahagia
oleh kedatangan para mahasiswa asing tersebut. Harapannya,
mahasiswa asing dapat berbaur dengan mahasiswa Indonesia sehingga
tercapai simbiosis yang saling menguntungkan selama mereka belajar
di FEB. Acara penyambutan pun dilanjutkan dengan perkenalan satu
persatu oleh mahasiswa asing beserta student ambassador-nya. Till
Ludwig Borches, salah satu mahasiswa program double degree dari
Pforzheim University, mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang
menakjubkan. Menurutnya, tentu akan menjadi pengalaman yang luar
biasa bisa belajar dan tinggal di Indonesia.

Untuk memandu mahasiswa asing menyesuaikan diri pada
awal masa menetap sementara di Indonesia, mereka akan dibantu oleh
tim student ambassador yang terdiri dari mahasiswa FEB UGM. Student
ambassador akan membantu dalam hal pencarian rumah tinggal selama
di Yogyakarta, pengurusan berbagai surat izin, dan juga menunjukkan
bagaimana kebiasaan masyarakat sekitar. Selain membantu mahasiswa

4

asing, kegiatan ini juga menjadi media aktualisasi diri mahasiswa FEB
UGM dalam pergaulan di tingkat internasional. Gustri Oktaviandi
(Akuntansi 2009), salah satu student ambassador berujar, “Menjadi
seorang student ambassador sangat menyenangkan. Selain memiliki
teman baru, kita juga dapat belajar kebiasaan positif yang dimiliki oleh
mahasiswa asing, seperti budaya tepat waktu. Mereka juga sangat
ramah dan bersahabat dalam pergaulan.”

Selain menerima kedatangan mahasiswa asing, FEB UGM
juga senantiasa aktif mengirimkan mahasiswa terbaiknya belajar di luar
negeri. Hal ini merupakan wujud usaha FEB UGM dalam mengembangkan
dan memperkokoh jejaringnya di tingkat internasional. [rahmad]

International
Academic Exposure 2012
ke Hiroshima

S

alah satu persyaratan wajib yang harus dipenuhi oleh mahasiswa
International Undergraduate Program (IUP) FEB UGM adalah
memiliki pengalaman internasional secara langsung baik melalui
program double degree, exchange study atau international
academic exposure. Untuk memfasilitasi mahasiswa yang tidak
berkesempatan melakukan program double degree dan exchange
study, IUP FEB UGM pada awal tahun 2012 ini menyelenggarakan
acara International Academic Exposure (IAE) ke Hiroshima University
of Economic, Ushita Water Purification Facility and Museum, dan
Wakunaga Pharmaceutical Co.,Ltd, Jepang. Acara IAE ini adalah kali
kedua, setelah sebelumnya pada tahun 2011 dilakukan di Chulalongkorn
University dan Siam Cement Group, Thailand.

IAE 2012 ke Hiroshima yang dikelola oleh Kantor Urusan
Internasional FEB UGM ini, diikuti oleh bukan hanya mahasiswa IUP saja,
akan tetapi juga oleh mahasiswa program regular. Total peserta IAE kali
ini 28 mahasiswa. Seminggu menjelang keberangkatan ke Hiroshima,
mahasiswa peserta IAE diwajibkan mengikuti pre-visit course berupa
delapan kelas kuliah yang berisi materi bisnis internasional, ekonomi
internasional, cara komunikasi dengan orang Jepang , serta pemahaman
dasar mengenai bangsa dan budaya Jepang oleh tim dosen yang
kompeten.

Kunjungan ke Hiroshima berlangsung selama lima hari dari
tanggal 30 Januari sampai dengan 3 Februari 2012. Kegiatan IAE di
Hiroshima terdiri dari tiga segmen. Pertama, Kuliah Prof. George R.
Harada di Hiroshima University of Economics mengenai Japanese People,
Culture and Business. Kedua, kunjungan ke perusahaan lokal yakni Ushita
Purification Facility and Museum serta Wakunaga Pharmaceuticals, Inc.
Kemudian, segmen terakhir adalah kunjungan ke Pulau Miyajiwa yang
memiliki objek pusaka dunia yakni Itsukushima Shrine (Kuil Agam Shinto)
dan Hiroshima Atomic Bomb Dome & Peace Museum. Program acara
selama di Hiroshima mendapatkan dukungan penuh dari Direktur dan
Staf Kantor Urusan Internasional HUE. Sambutan hangat juga diberikan
oleh President HUE, yakni Mr. Koichi Maekawa, Ph.D. yang berkenan
menyelenggarakan jamuan makan malam ala Jepang untuk rombongan
IAE baik saat kedatangan maupun kepulangan.

Sepulang dari kunjungan ke Hiroshima, mahasiswa peserta
IAE kembali diwajibkan mengikuti post visit course berupa enam
kelas seminar untuk mempresentasikan Business Insight Paper dan
Personal Insight Paper. Meskipun sangat melelahkan, tapi terlihat para
mahasiswa IAE 2012 sangat menikmati dan serius mengikuti semua
tugas-tugas akademik yang diberikan oleh kedua dosen supervisor IAE
2012 yakni Dr. Sahid S. Nugroho. M.Sc. dan Dr. Gugup Kismono, MBA.

5

WHAT’S UP FEB

12th AGBEP
Network Meeting
and Conference:
Menguatkan
Kerjasama Pendidikan
Sekolah Pascasarjana
di Negara ASEAN

6

K

onferensi dan pertemuan tahunan ASEAN Graduate Business and
Economic Programme (AGBEP) kembali digelar. Bertajuk 12th
ASEAN Graduate Business and Economic Programme (AGBEP)
Network Meeting and Conference, acara ini terselenggara (18/120/1) di Bangkok. Chulalongkorn University dan Burapha University
dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan acara yang bertema
“Toward ASEAN Economic Community (AEC) and Beyond: Challenges
and Opportunities”.

Pada Rabu (18/1) acara resmi dibuka oleh Dr. Choltis Dhirathiti,
Deputy Executive Director, ASEAN University Network (AUN) dan Dr.
Brian C. Gozun, Chairperson of AGBEP Secretariat. Enam delegasi dari
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (FEB UGM) hadir bersama 19
delegasi anggota AGBEP lainnya membahas kegiatan pertukaran staf
dan mahasiswa anggota AGBEP serta proposal proyek riset mengenai
“Sustainable Community Ecopreneurship Business Model Innovation for
Optimizing Potentials of Rural Villages in ASEAN”.

Pada pertemuan tersebut dibahas pula persiapan
penyelenggaan 13th ASEAN Graduate Business and Economic
Programme (AGBEP) Network Meeting and Conference. Para anggota
bersepakat memilih FEB UGM sebagai tuan rumah. Pertemuan
tahunan dan konferensi yang akan berlangsung pada 6-8 Februari 2013
beragendakan: penyelenggaraan kolokium mahasiswa program doktor,
presentasi kolaborasi riset “Sustainable Community Ecopreneurship
Business Model Innovation for Optimizing Potentials of Rural Villages
in ASEAN”, pembahasan finalisasi kolaborasi AGBEP dan China,
peningkatan mobilitas pertukaran mahasiswa dan staf, serta diskusi
mengenai masalah internal AGBEP. [hk]

Harumkan
Nama Bangsa
di SEA Games
2011

M

ahasiswa FEB UGM kembali mengukir prestasi. Kali ini
adalah Aisha Karimawati (Manajemen 2006), yang meraih
medali perak pada SEA Games 2011 di Jakarta-Palembang,
November 2011 lalu.

Pada SEA Games tersebut, Aisha menjadi atlit di cabang
sepatu roda pada nomor 300 meter ITT. Menghadapi lawan dari berbagai
negara, Aisha mengungkapkan, “Senang bisa bertanding dengan orangorang dari negara lain. Untungnya sebelumnya sudah ada kejuaraan
tingkat Asia, jadi sudah terbiasa dengan lawan-lawan dari luar.”

Sebelumnya, Aisha harus mengikuti seleksi tingkat nasional
melawan atlit-atlit dari berbagai daerah. Setelah lolos, ia bersama
29 orang terpilih lainnya menjalani Pelatnas selama sembilan bulan
di Bandung. Dalam jangka waktu tersebut, setiap hari dijalani Aisha
dengan pelatihan fisik. Ia menuturkan, karena pelatihnya yang gemar
bersepeda, mereka pernah diajak bersepeda dari Bandung hingga
Semarang selama dua hari. “Bersepeda ini sama seperti bersepatu roda,
sama-sama berpengaruh ke kekuatan kaki,” terang Aisha.

Selama Pelatnas tersebut, masih terjadi seleksi. Dari 30 atlit
putra dan putri, hanya delapan putri dan 12 putra yang bertanding.
Aisha menjadi salah satunya. Menurutnya, “Senang. Bisa mendapatkan
pengalaman dan membawa nama negara juga. Salah satu pengalaman
berharga adalah bisa latihan bersama juara-juara nasional lainnya
selama sembilan bulan.”

Aisha yang telah menekuni dunia sepatu roda sejak kecil ini
mengatakan masih ingin menjadi atlit apabila ada pelatnas, SEA Games,
atau event lainnya lagi. “Dekat-dekat ini akan ada PON lagi, September
2012. Inginnya bisa dapat medali lagi,” ujarnya. [prima]

7

WHAT’S UP FEB

Alumni Gathering 2011

Persembahan Alumni untuk Almamater

D

i penghujung 2011, FEB UGM menyelenggarakan kegiatan
temu alumni di Auditorium UGM SP Jakarta (18/12). Acara
ini mengambil tema Alumni Gathering 2011 “Kebutuhan SDM
dalam Perekonomian Saat Ini”. Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.
Sc., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerjasama, dan
Pengembangan Usaha mengatakan,” Temu Alumni ini diselenggarakan
untuk mendekatkan hubungan alumni dengan almamater. Ketika
hubungan yang terjalin telah dekat, kita akan merencanakan sesuatu
yang lebih besar untuk kemajuan fakultas.”

Sambil menikmati jamuan khas Yogyakarta, alumni yang
tergabung dalam Kafe (Keluarga Fakultas Ekonomi) tampak akrab
bernostalgia mengenang masa lalu. Dari sekitar 200 undangan yang
diedarkan, tercatat lebih dari 140 alumni yang hadir. Acara ini semakin
meriah karena dihadiri beberapa alumni yang juga merupakan tokoh
penting nasional, baik dari kalangan pemerintah, swasta, maupun
professional. Turut hadir sebagai pembicara, mantan Menteri Keuangan
Fuad Bawazier yang membawakan materi tentang kebijakan fiskal;
Deputi Gubernur BI, Ardhayadi Mitroatmodjo yang menyampaikan
materi tentang perbankan; dan juga Robby T. Winarka (Managing
Director Creative Indigo Production) dari kalangan pengusaha.

Melalui kegiatan ini, fakultas juga ingin mengetuk kepedulian
alumni terhadap almamater. Kegiatan fund raising dilakukan dengan
tujuan memperbaiki infrastruktur fakultas dan mengisi interior
gedung Pertamina Tower. Kontribusi nonmaterial seperti pemberian

8

kesempatan magang, beasiswa, ataupun partisipasi sebagai guest
lecture bagi mahasiswa juga ditawarkan. Prof. Wihana mengungkapkan
bahwa nantinya di lantai delapan Gedung Pertamina Tower akan dibuat
Alumni Wall yang mencantumkan kontribusi alumni terhadap fakultas.

Hal yang menarik, kini alumni tidak sekadar menjadi objek
kegiatan, tetapi juga telah berpartisipasi mempersiapkan acara dan
merancang bentuk kegiatan. Hal ini ditunjukkan oleh Kafe-75 yang sangat
aktif dalam membantu suksesnya acara ini. Untuk memaksimalkan
sumbangsih alumni, pihak fakultas akan mencoba berbagai format
kegiatan, misalnya memfasilitasi kegiatan temu alumni per angkatan di
samping seluruh angkatan. Hal ini perlu dilakukan karena ketika temu
alumni diadakan untuk seluruh angkatan, alumni senior umumnya lebih
mendominasi.

Pihak fakultas juga memanfaatkan kesempatan ini untuk
melakukan pendataan ulang database alumni. Tracer Study dilakukan
untuk mengetahui profil alumni FEB UGM dalam hal job placement,
job level, maupun level of salary. Hal ini cukup penting sebagai bahan
evaluasi fakultas terhadap lulusannya.

Terakhir, Prof. Wihana menambahkan, “Di temu alumni
selanjutnya akan kita canangkan program Alumni Social Responsibility
sebagai wujud tanggung jawab sosial alumni terhadap almamater.”
Kegiatan temu alumni sendiri direncanakan akan kembali diselenggarakan
pada akhir tahun 2012 di gedung Pertamina Tower FEB UGM. [rahmad]

Yayasan Djarum Bakti
Pendidikan Serahkan
Bantuan Pendidikan

R

abu (29/2) lalu, suasana lobi dan selasar FEB UGM tampak lebih
semarak daripada biasanya. Tampak dosen, karyawan, dan
mahasiswa yang mengenakan batik dihibur dengan musik jazz
sebagai pembuka acara serah terima bantuan pendidikan dari
Yayasan Djarum Bakti Pendidikan untuk pembangunan Pertamina Tower.

Acara dibuka pukul sembilan pagi oleh Prof. Wihana Kirana Jaya,
M.Soc.Sc., Ph.D, selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni,
dan Kerja Sama, mewakili Dekan FEB UGM yang memberikan sambutan
dan ucapan terima kasih kepada Yayasan Djarum Bakti Pendidikan . Ia
juga menuturkan secara singkat kisah di balik pembangunan Pertamina
Tower beserta sponsor yang telah berjasa dalam membangun gedung
delapan lantai ini. Setelah itu, pihak Yayasan Djarum Bakti Pendidikan
yang diwakili oleh Agus Santoso Suwanto menuturkan bahwa bantuan
pendidikan ini adalah wujud dukungan Yayasan Djarum Bakti Pendidikan
kepada FEB UGM agar dapat mencapai pengakuan internasional yang
sekarang sedang dikejar, yakni akreditasi AACSB. “Ini dilandasi dengan
keinginan agar dunia pendidikan kita semakin maju,” tambahnya.
Selanjutnya, Drs. Harinowo, selaku perwakilan alumni dan pihak Yayasan
Djarum Bakti Pendidikan , juga menyampaikan sepatah dua patah kata.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah
terima bantuan pendidikan yang diwakili oleh Agus Santoso Suwanto
dari pihak Yayasan Djarum Bakti Pendidikan dan M. Singgih selaku
direktur Direktorat Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset UGM. Serah
terima ini dilanjutkan dengan pemukulan gong oleh Prof. Wihana Kirana
Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D. Bantuan pendidikan yang diberikan adalah sarana
infrastruktur untuk Pertamina Tower berupa furnitur dan perlengkapan
elektronik, serta kelengkapan auditorium Pertamina Tower. Acara
kemudian ditutup dengan penampilan dari Gadjah Mada Chamber
Orchestra, Anggito Abimanyu, Aning Katamsi, Nugie, dan Sierra Sutedjo.

Kerja sama dalam bentuk pemberian bantuan pendidikan ini
diharapkan dapat semakin mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar
di FEB UGM, sehingga menjadi yang terdepan dalam kualitas pendidikan
di tanah air. [prima]

9

WHAT’S UP FEB

Membahas Isu-isu Mutakhir
Melalui Forum Manajemen
Putaran 10 dan 14

J

urusan Manajemen FEB UGM (14/9) bekerja sama dengan
Kelas Bisnis Internasional Program S1 Reguler FEB UGM
yang diampu oleh Drs. Teguh Budiarto, MIM dan Dr. Rangga
Almahendra, MM, menggelar Acara Management Forum
Putaran 10 dengan mengundang Dubes Austria untuk Indonesia,
Dr. Klaus Wolfer . Pada acara yang berlangsung di Auditorium BRI
Gedung MSi/S3 FEB UGM dan dihadiri sekitar 100 lebih mahasiswa
beserta dosen ini, Dr. Klaus Wolfer memberikan kuliah umum
dengan tema “Building National Competitiveness: Lesson Learnt
from Austria”.

Disebutkan oleh Dr. Klaus Wolfer dalam kuliah tersebut,
bahwa Austria saat ini banyak menekankan pada pengembangan
dan penerapan teknologi hijau yang berkesinambungan sebagai
salah satu basis utama dalam membangun keunggulan bersaing
nasional. Isu global warming yang benar-benar mulai dihadapi
dunia saat ini memberikan banyak inspirasi dan tantangan
perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Sementara untuk menyikapi perkembangan terkini
yang cukup penting dalam hubungan kerja sama internasional
antara Indonesia dan Australia di bidang perekonomian dan
bisnis, Jurusan Manajemen FEB UGM kembali menyelenggarakan
Management Forum Putaran 14, bekerja sama dengan Indonesia
Australia Business Council (IABC) Chapter Yogyakarta. Acara ini
(20/1) menghadirkan Kepala Kantor Perwakilan Australia Trade
Commision (Austrade) untuk Indonesia, yakni Mr. Leith Doody.
Acara yang dihadiri sekitar 75 undangan mahasiswa dan dosen ini
berlangsung di Auditorium BRI, Gedung MSi/S3 FEB UGM.

Mr. Leith Doody memberikan kuliah umum dengan topik
“The Impact of Indonesia-Australia Comprehensive Economics
Partnership Agreement (CEPA) on Indonesian Business”. Dalam
kuliah tersebut dijelaskan mengenai prinsip dan cakupan dari kerja
sama bilateral tersebut. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua
Komisi Kadin Indonesia Untuk Kerjasama Australia dan New Zealand
, yakni Micky A. Hehuwat yang memberikan pidato pengantar guna
menjelaskan dukungan Kadin terhadap CEPA karena dianggap akan
memberikan kontribusi positif terhadap dunia bisnis Indonesia.

10

Laporan Organisasi
Mahasiswa
FEB UGM
BEM FEB UGM

EQUILIBRIUM

Sebuah Perjalanan Bertajuk
Transformasi

D

engan tajuk “transformasi pandawa”, BEM FEB UGM 2011
berusaha membuat gebrakan dalam menyalurkan potensi
mahasiswa FEB UGM. Launching kepengurusan organisasi seFEB UGM disulut di awal periode dengan tujuan mensinergikan
seluruh lembaga kemahasiswaan yang ada di FEB UGM. Diikuti
penggagasan event olahraga Gadjah Mada Econolympic untuk pertama
kalinya yang telah sukses dilaksanakan. Event tahunan Ekonomi Bebas
Korupsi yang merupakan rangkaian kegiatan sebagai bukti penolakan
organisasi pada tindak korupsi dilaksanakan dengan mengundang
beberapa tokoh penting nasional. Di bidang kemanusiaan, Desa Binaan
BEM FEB UGM yang terletak di Desa Tancep, Gunung Kidul dijadikan
sasaran. Kontribusi di sektor pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan
sarana prasana telah dilakukan. Hal ini diharapkan dapat menginspirasi
untuk berlomba dalam kebaikan.

IMAGAMA
Turut Menyukseskan Event GMAD

I

MAGAMA (Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada) merupakan
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi di FEB UGM.
IMAGAMA telah berhasil menyelenggarakan berbagai kegiatan di
tahun 2011, yakni KREASI (Kumpul Rame-Rame Anak Akuntansi)
sebagai ajang mengakrabkan diri antara mahasiswa jurusan Akuntansi,
HMJ Conference yang berupa kegiatan diskusi dengan mengundang
perwakilan HMJ Akuntansi dari beberapa universitas di Yogyakarta,
dan Ikhlas (IMAGAMA Kasih dan Peduli Sesama) berupa kegiatan amal
mahasiswa akuntansi yang dilakukan di YAKKUM. Kemudian kegiatan
seminar dan pelatihan seperti Carreer Workshop, Seminar Prospek,
Table Manner, Pelatihan Pajak, Workshop IFRS dan IMAGAMA Study
Club.

Selain itu IMAGAMA juga mendukung terlaksananya GMAD
(Gadjah Mada Accounting Day) yang terdiri dari Seminar Nasional, NAO
(National Accounting Olympiad), Amazing Race, dan Gathering Night.

EQUILIBRIUM
Sebuah Langkah Menuju Pers
Mahasiswa Berbasis Digital

B

PPM EQUILIBRIUM merupakan satu-satunya badan penerbitan
dan pers mahasiswa yang berada di FEB UGM. BPPM Equilibrium
telah berhasil melaksanakan program kerja yang direncanakan
pada kepengurusan 2011, di antaranya adalah menerbitkan
buletin bulanan EQ News, majalah dinding “Pendulum” dan majalah
tahunan EQULIBRIUM yang bertemakan “Pembangunan di Yogyakarta”.

Sebagai organisasi yang bergerak di ranah intelektual,
beberapa acara diskusi umum bertemakan ekonomi dan jurnalistik
telah berhasil dilakukan. Selain itu, EQ bekerja sama dengan Majalah
Gatra menyelenggarakan “Workshop Penulisan dan Jurnalistik untuk
Mahasiswa”. Kemudian, EQ kembali melaksanakan event tahunan
EQUALITY dengan tema “Tournalism” yang terdiri dari talkshow dan
lomba jurnalistik.

Pada kepengurusan tahun 2011, EQ membentuk divisi
baru, yakni Divisi Informasi dan Teknologi untuk mengelola dan
mengembangkan website dan jejaring sosial organisasi. Hal ini
merupakan sebuah langkah dalam transformasinya menjadi pers
mahasiswa berbasis digital.

11

WHAT’S UP FEB
IKAMMA

IKAMMA
Management Event
menghadirkan
Andrie Wongso

I

KAMMA FEB UGM merupakan himpunan mahasiswa yang berperan menampung aspirasi dan
mengembangkan potensi mahasiswa jurusan manajemen FEB UGM. Dalam kepengurusan tahun
2011 ini, IKAMMA menyelenggarakan berbagai kegiatan, di antaranya adalah SOERTI (Sugeng Rawuh
to IKAMMA) yang merupakan acara makrab untuk mendekatkan mahasiswa baru 2011 dengan
kakak angkatan, seminar industri musik dengan pembicara Peter F Gontha (promotor Java Jazz) dan
juga Workshop Career Preparation. Kemudian, bekerja sama dengan IMAGAMA, organisasi ini telah
sukses mengadakan studi banding ke UNAIR dan Pocari Sweat. Selain itu, IKAMMA telah berhasil
menyelenggarakan Management Event yakni sebuah rangkaian acara tahunan yang terdiri dari National
Student Competition, Expo dan seminar wirausaha dengan pembicara Andri Wongso, motivator terkemuka
di Indonesia.

SEF

SEF

Tak Henti
Menyuarakan
Ekonomi Islam

12

S

EF (Syariah Economic Forum) UGM merupakan lembaga mahasiswa tingkat fakultas yang bergerak
dalam pengembangan ekonomi Islam. Di kepengurusan 2011, SEF UGM melakukan inovasi baru
yaitu mengadakan lomba ekonomi Islam untuk seluruh anggota. Pencapaian lain di tahun 2011
adalah diselenggarakannya kembali Shariah Economic This Year (SETY) dengan tema “Microfinance
and the Future of Shariah Financial Industry In South-east Asia”. Di antara pembicara yang hadir, ada Ahmad
Sanusi Husain (CEO Global Consulting), Dr. Anggito Abimanyu (Ex-Kepala Badan Kebijakan Fiskal RI), Dr
Makhlani (Representative IDB - Indonesia), Prof Andrew White (Singapore Management University), Aidil
Akbar Madjid (Chairman IARFC Indonesia), dan Iman Sastra (Islamic finance analyst & trainer, Malaysia).
Pada tahun yang sama, SEF UGM mendapatkan penghargaan sebagai Best of The Best, Best of Media, dan
Best of Contribution versi Study Club Communication Forum (SCCF UGM). [rahmad]

HIMIESPA
Sukses Menyelenggarakan
FSDE 2011

H

IMIESPA atau Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi merupakan
organisasi yang menaungi mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi
FEB UGM. Pada kepengurusan tahun 2011 HIMIESPA telah
berhasil melaksanakan kegiatan seperti Chicken Cup yaitu
pertandingan sepakbola antar angkatan jurusan ilmu ekonomi, English
& Movie Discussion yakni diskusi dan pemutaran film bertemakan
ekonomi yang didiskusikan bersama dosen dan juga acara ulang tahun
jurusan Ilmu Ekonomi atau lebih dikenal dengan IE’s Day. Dilaksanakan
juga kegiatan New Comer Event & Halo-Halo Himiespa yang berupa
pengenalan jurusan Ilmu Ekonomi dan HIMIESPA. Untuk lebih
mendekatkan para mahasiswa baru dengan teman satu angkatan dan
angkatan atas, diadakan pula Malam Keakraban (Makrab) di Wisma
Gadjah Mada Kaliurang. Selanjutnya diselenggarakan Company Visit
ke Surabaya-Malang mengunjungi PT Vita Pharm dan Bakso Cak Man.
Tidak ketinggalan Forum Studi dan Diskusi Ekonomi (FSDE) 2011 dengan
rangkaian acara berupa Kompetisi Ekonomi Nasional, Lomba Essay dan
Seminar Nasional.

PALMAE
Take Action!

T

ahun 2011 menjadi tonggak baru perjuangan menyuarakan
alam bagi Keluarga Besar Pecinta Alam (PALMAE) FEB UGM.
PALMAE berhasil menjelajahi sisi timur pulau Jawa menuju
Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran. Pada ulang tahun
ke-31, PALMAE mengangkat tema “Take Action!” dengan melakukan
berbagai kegiatan sosial yang melibatkan warga di Dusun Banaran,
Gunungkidul. PALMAE juga bekerja sama dengan BEM FEB dan FK
UGM menyelenggarakan Aksi Sosial Donor Darah. Selain itu, PALMAE
juga menyelenggarakan pembuatan lubang biopori di sekitar kampus
dan beberapa kegiatan adventure, seperti Fun Climbing yang berlokasi
di Tebing Pantai Siung, SRT (Single Rope Technique) di Goa Jomblang,
Gunung Kidul, rafting di Sungai Elo Magelang, dan juga jelajah alam
ke Gunung Lawu dan Rinjani. PALMAE memaknai semua hal ini untuk
mengenal Indonesia lebih dekat, mengenal alam lebih dekat, mengenal
diri kita lebih dekat, dan mengenal Sang Pencipta lebih dekat lagi.

PMK
Semakin Termotivasi dengan Hadirnya
Ruang Sekretariat Baru

P

MK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) adalah sebuah organisasi
di FEB UGM yang beranggotakan semua mahasiswa Kristen
yang ada di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Beberapa hal
telah dilakukan dalam kepengurusan tahun 2011, di antaranya
adalah pembuatan website dan jejaring sosial organisasi sebagai sarana

komunikasi anggota dan alumni. Kemudian, adanya ruang sekretariat
baru sebagai sarana berkumpulnya anggota semakin menambah
motivasi dan semangat berorganisasi. PMK juga melakukan kerja sama
dengan KMK dalam mengadakan acara CEO, yaitu kompetisi futsal dan
vocal group yang mengundang semua organisasi PMK dan KMK di UGM.
Selain itu juga dilakukan kunjungan ke panti asuhan dalam rangka Natal.
Di bidang pembinaan dan pertumbuhan iman, dilakukan persekutuan
dan KTB secara rutin.

KMK FEB UGM
“SANTO ALOYSIUS
GONZAGA”
Semakin Terfasilitasi,
Semakin Hangat

K

eluarga Mahasiswa Katolik FEB UGM dengan santo pelindung
Santo Aloysius Gonzaga pada kepengurusan tahun 2011
menunjukkan banyak kemajuan positif dari berbagai aspek.
Kehadiran ruang sekretariat KMK yang telah difasilitasi oleh
dekanat pada kepengurusan 2011 merupakan salah satu pemacu kinerja
organisasi rohani berbasis kekeluargaan ini.

Dari segi program kerja, KMK FEB UGM dalam kepengurusan
2011 berhasil melaksanakan gebrakan baru, yakni mengadakan acara
kompetisi futsal dan vocal group antar-KMK dan PMK se-UGM. Acara ini
merupakan kolaborasi antara KMK FEB UGM dengan PMK FEB UGM.

Regenerasi KMK FEB UGM telah berjalan lancar mulai dari
prosesi pendaftaran calon ketua hingga pemilihan suara yang telah
dijalani selama Bulan Desember 2011 yang lalu. Dari proses yang
panjang tersebut akhirnya telah terpilih Ketua berikut Wakil Ketua KMK
FEB UGM yang baru.

JMME

Semangat Dakwah Islam
di FEB UGM

J

MME (Jamaah Mahasiswa Muslim Ekonomi) sebagai lembaga
dakwah Islam di lingkungan kampus FEB UGM menjalankan
peran melalui beberapa program kerja yang telah dijalankan di
tahun 2011. Di antara program kerja tersebut adalah PRJ (Pekan
raya JMME) yang dilaksanakan dalam rangka milad (ulang tahun)
JMME. Dalam acara ini diundang beberapa anak panti asuhan untuk
berpartisipasi. Selain itu acara-acara yang dilakukan JMME tidak hanya
melibatkan mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas. Misalnya, dalam
memperingati Hari Raya Idul Adha, JMME mengkoordinir mahasiswa,
dosen, karyawan, dan masyarakat luas untuk menyalurkan hewan
kurban melalui acara MOCCA.

13

WHAT’S UP FEB

Magister
Akuntansi

Magister Akuntansi FEB UGM

Lebih Dekat dengan Industri

T

ahun 2012 ini akan menjadi loncatan yang cukup besar bagi
Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis
UGM. Pasalnya, Program Magister Akuntansi FEB UGM mulai
lebih mendekatkan diri pada orientasi industri, berbeda dengan
tahun-tahun sebelumnya yang lebih berfokus pada bidang akademik
saja. Demikian diungkapkan oleh Ketua Pengelola Program Magister
Akuntansi FEB UGM Prof. Dr. Jogiyanto HM, MBA. Mendekatkan diri ke
dalam area industri dirasa merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi
mahasiswa Program Magister Akuntansi FEB UGM. Dengan terbukanya
pintu ke dunia industri diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan
kompetensi mahasiswa yang sebagian besar merupakan profesional
dan praktisi di bidang akuntansi, tetapi juga memperluas jaringan
kerja dan relasi. Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk mencapai
niatan tersebut adalah dengan mendirikan kampus Program Magister
Akuntansi di Jakarta. Hal ini diharapkan mampu mendekatkan Program
Magister Akuntansi FEB UGM secara lebih nyata dalam bidang industri
yang berkembang pesat di ibu kota. Selain itu, Program Magister
Akuntansi FEB UGM juga akan mengadakan berbagai pelatihan dan
konsultasi berkaitan dengan akuntansi dalam industri di Jakarta.

Hal lain yang menjadi gebrakan baru bagi Program Magister
Akuntansi FEB UGM adalah sertifikasi CMA (Certified Management
Accountants) dari Australia yang telah diraih oleh program ini. Dengan
didapatkannya sertifikasi CMA ini maka mulai dari semester ini seluruh
mahasiswa Program Magister Akuntansi dengan konsentrasi Akuntansi
Manajemen secara otomatis akan bergelar CMA. Tidak sebatas itu saja,
sertifikasi CMA juga dapat diraih oleh seluruh mahasiswa dari konsentrasi

14

lain bahkan dari mahasiswa di luar Program Magister Akuntansi FEB
UGM. Syaratnya, mereka yang ingin mendapatkan sertifikasi CMA ini
harus menempuh pendidikan dan ujian untuk dua mata kuliah yaitu
strategic cost management dan strategic business analysis. Program
Magister Akuntansi FEB UGM merupakan institusi pertama di Indonesia
yang mampu menyelenggarakan sertifikasi CMA secara mandiri. Seluruh
pendidikan dan ujian sepenuhnya dilaksanakan di kampus Magister
Akuntansi FEB UGM tanpa harus ditempuh langsung di Australia.

Seluruh rencana besar Program Magister Akuntansi FEB UGM
ini pun bukan berarti tanpa celah. Faktanya masih ada beberapa kendala
yang dirasa cukup menghambat dalam pelaksanaan rencana-rencana
tersebut. Seperti minimnya ruang pembelajaran bagi mahasiswa di
kampus FEB UGM Yogyakarta dan tarif sewa yang sangat mahal untuk
pendirian kampus Magister Akuntansi FEB UGM di Jakarta. Status BLU
(Badan Layanan Umum) yang kembali disandang Universitas Gadjah
Mada pun akan menjadi hambatan terbesar tidak hanya bagi Program
Magister Akuntansi, tetapi juga bagi tingkat fakultas. “Dengan status BLU
ini maka seluruh staf akan dianggap sebagai pegawai UGM. Kasus yang
dapat terjadi adalah ditariknya karyawan FEB UGM yang sudah terbina
dengan baik ke tingkat universitas. Selain itu, terjadinya standardisasi
hingga tingkat fakultas membuat semuanya tidak bisa lagi bergerak
sesuai kondisi pasar. Maka untuk mempertahankan kondisi perkuliahaan
semacam ini akan menjadi hal yang sulit bahkan dapat dikatakan
mustahil,” ungkap Wakil Pengelola Program Magister Akuntansi FEB
UGM, Dr. Agus Setiawan, M. Soc. Sc. [poppy]

WHAT’S UP FEB

Magister
Sains dan Doktor

Program MSi dan Doktor Meningkatkan
Publikasi Hasil Penelitian Mahasiswa

M

elakukan riset, penelitian dan menulis jurnal merupakan
hal yang tidak dapat dipisahkan bagi mahasiswa Program
Magister Sains dan Doktor FEB UGM. Tuntutan untuk
mampu menghasilkan karya penelitian yang baik, mulai
dari mempersiapkan hingga mempresentasikannya, serta menulis
jurnal-jurnal ilmiah yang berstandar internasional bukan hal yang perlu
ditawar lagi jika ingin menjadi peneliti yang handal setelah lulus dari
pendidikan. Untuk itulah di tahun 2012 ini Program Magister Sains dan
Doktor FEB UGM bercita-cita mengembangkan para mahasiswa agar
mampu mempublikasikan hasil karya ilmiah mereka baik di lingkungan
domestik maupun internasional. Mahasiswa didorong untuk aktif
menulis jurnal-jurnal ilmiah dan mempublikasikannya melalui jurnal yang
telah terakreditasi nasional maupun internasional. Selain itu, mahasiswa
Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM juga diharapkan mulai
aktif dalam mengikuti forum-forum akademik di luar lingkup universitas,
bahkan diupayakan agar mahasiswa mampu terlibat dalam konferensi
tingkat internasional dan mempresentasikan karya riset mereka.

Untuk mendorong tercapainya harapan tersebut, Program
Magister Sains dan Doktor FEB UGM akan sepenuhnya membantu
mahasiswa. Salah satunya dengan memberikan bantuan finansial kepada
para mahasiswa yang akan mengikuti sekaligus mempresentasikan hasil
karyanya di konferensi ilmiah tingkat internasional. Program Magister

16

Sains dan Doktor FEB UGM juga lebih fokus dalam menyusun programprogram pembelajaran bagi para mahasiswa. Dengan demikian,
diharapkan mahasiswa mampu menghasilkan karya-karya ilmiah mereka
sedini mungkin.

Amin Wibowo, MBA., Ph.D., Wakil Ketua Program
Bidang Nonakademik dan Pengelola Program S2 (Magister) dan S3
(Doktor) Program Studi Manajemen UGM mengungkapkan bahwa
untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah mereka hingga tingkat
internasional, mahasiswa Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM
masih terkendala dalam penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa
pengantar. Meskipun seluruh mahasiswa sudah lolos nilai TOEFL yang
dibutuhkan oleh mahasiswa baik S2 maupun S3, tetapi tidak semua
mahasiswa mampu menuliskan dan mempresentasikan karya ilmiah
mereka dalam bahasa Inggris yang baik dan benar. Hal tersebut
cukup dimaklumi mengingat bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu para
mahasiswa di Indonesia. Mahasiswa diharapkan mampu terus menerus
mengasah kemampuan menulis dan presentasi dalam bahasa Inggris
dengan baik. Mengerjakan penelitian yang berkolaborasi dengan dosen
juga akan membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan
berbahasa Inggris mereka karena dosen akan memperbaiki titik-titik
kesalahan tersebut. [poppy]

International
Seminar Series

P

rogram Magister Sains dan Doktor FEB UGM kembali
menyelenggarakan seminar presentasi paper karya peneliti
internasional dan nasional. Bertempat di Auditorium BRI
Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM, acara International
Seminar Series ini dibagi menjadi dua bagian. Seminar pertama (26/1)
mengundang pembicara Prof. Avamidhar Subrahmanyam (Alumnus
dan Profesor UCLA Anderson School of Management), Prof. Jogiyanto
Hartono, MBA., Ph. D. (Profesor Bidang Akuntansi dan Sistem Informasi
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM), dan Dr. Rahmat Sudarsono,
M.Si. (Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM). Bagian pertama
International Seminar Series ini mengangkat tema “Behavioral Finance:
Trends in The Cross Section of Expected of Stock Returns”. Seminar bagian
kedua (23/2) mengusung tema “A Financial Innovation, Mispricing,
and Innovation”. Tidak jauh berbeda dengan seminar sebelumnya,
seminar bagian kedua ini juga mengundang para peneliti handal untuk
mempresentasikan karya riset mereka yaitu Prof. Michael Brennan
(Profesor Bidang Keuangan UCLA Anderson School of Management)
dan Prof. Eduardus Tandelilin, MBA., Ph.D. (Profesor Bidang Keuangan
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM).

Direktur bidang Administrasi dan Keuangan Program
Magister Sains dan Doktor FEB UGM, Amin Wibowo, MBA., Ph.D.,

mengungkapkan bahwa tujuan diselenggarakan acara presentasi paper
pada International Seminar Series ini adalah untuk menciptakan iklim
akademik yang kental bagi mahasiswa Program Magister Sains dan
Doktor FEB UGM. Nuansa akademik yang berkaitan erat dengan riset
dan penelitian perlu ditumbuhkan dan dikembangkan. Salah satu
caranya adalah mengundang para profesor yang memiliki karya riset
yang bagus untuk mempresentasikannya di hadapan mahasiswa melalui
acara International Seminar Series ini. Dengan mengikuti seminar
ini, para mahasiswa –khususnya Program Magister Sains dan Doktor–
diharapkan dapat banyak belajar mengenai riset-riset terkini tidak hanya
melalui pembelajaran formal di kelas, tetapi juga forum-forum akademik
semacam ini.

Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM akan terus
meningkatkan frekuensi penyelenggaraan seminar paper baik dari
peneliti tingkat internasional maupun nasional. Dalam satu tahun
akan diselenggarakan sekitar 24 kali seminar paper (sekitar dua kali
dalam satu bulan). Semakin seringnya menghadirkan profesor beserta
karya riset mereka yang luar biasa diharapkan mampu menumbuhkan
semangat mahasiswa Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM
untuk belajar dan meneliti dengan baik.

17

WHAT’S UP FEB

Magister Ekonomika
Pembangunan

Kuliah Umum Prof. Mardiasmo:
Reformasi Birokrasi
“Reformasi birokrasi tidak hanya sebuah retorika tetapi
pelaksanaannya dapat dirasakan sampai ke masyarakat
luas”

Y

ogyakarta (6/2), Program MEP FEB UGM menyelenggarakan
Kuliah Umum Reformasi Birokrasi di ruang seminar MEP UGM.
Pembicara dalam kuliah umum ini adalah Prof. Mardiasmo
selaku Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) dan juga Ketua Tim Quality Assurance Reformasi Birokrasi. Prof.
Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D. selaku moderator membuka
pemahaman reformasi birokrasi dari perspektif ekonomi kelembagaan.
“Reformasi birokrasi adalah perubahan dalam tataran aturan main
formal, organisasi, proses bisnis dan sumber daya manusia,” ujarnya.

Mardiasmo dalam pemaparannya menyatakan bahwa
reformasi birokrasi adalah sebuah perubahan besar dalam paradigma
dan tata kelola pemerintahan Indonesia. Terdapat delapan poin
area perubahan reformasi birokrasi, yaitu manajemen perubahan,
penataan peraturan perundang-undangan, pendataan dan penguatan
organisasi, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja dan
peningkatan kualitas pelayanan publik. “Tujuan akhir reformasi birokrasi
adalah meningkatnya kualitas pelayanan publik,” paparnya di hadapan
sivitas akademika MEP. “Reformasi birokrasi tidak hanya sebuah retorika.
tetapi pelaksanaannya dapat dirasakan sampai ke masyarakat luas.”

Kerangka kebijakan reformasi birokrasi tertuang dalam Perpres
No. 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025.
Grand Design Reformasi Birokrasi bertujuan memberikan arah kebijakan
pelaksanaan reformasi birokrasi selama kurun waktu 2010-2025 agar
pelaksanaan reformasi birokrasi di kementerian/lembaga dan pemda

18
16

dapat berjalan secara efektif, efesien, terukur, konsisten, terintegrasi,
melembaga dan berkelanjutan. Selanjutnya, Permen PAN dan RB No. 20
Tahun 2010 menjelaskan tentang Road Map Reformasi Birokrasi 20102014. Selain itu, pedoman-pedoman reformasi birokrasi tertuang dalam
Permen PAN dan RB Nomor 7-15 Tahun 2011.

Dengan dikeluarkannya Permen PAN dan RB No. 53 Tahun
2011 tentang pedoman quality assurance serta monitoring dan evaluasi,
pelaksanaan reformasi birokrasi dapat terkontrol hingga mencapai
tujuan akhir reformasi birokrasi. Mardiasmo menuturkan bahwa
terdapat perubahan pendekatan penilaian (monitoring dan evaluasi)
reformasi birokrasi yang sebelumnya dari pendekatan input menjadi
output. “Penilaian dalam reformasi birokrasi dengan pendekatan output
seperti audit,” imbuhnya. Selain itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
dalam pemberian opini audit ke depannya disarankan melihat WTA
(Wilayah Tertib Administrasi) terlebih dulu. Akan terjadi perubahan
mindset (pola pikir) dan culture (budaya) kerja di pemerintahan baik
pusat maupun daerah dengan terbangunnya pola pikir dan budaya kerja
setelah adanya reformasi birokrasi.
Pelaksanaan E-procurement merupakan salah satu bagian
dari reformasi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah. Namun,
“Pengadaan barang dan jasa tidak hanya sekedar formalitas,” ungkap
Mardiasmo. Proses pelaksanaan pengadaan dari awal hingga akhir perlu
dikontrol sehingga kebermanfaatan dari pengadaan barang/jasa bisa
dirasakan oleh masyarakat.

Wihana menuturkan bahwa kultur budaya menjadi syarat
penting dalam reformasi birokrasi. Syarat penting lain adalah adanya
perubahan regulasi aturan formal yang mendukung pelaksanaan
reformasi birokasi.

Wawancara Program
Linkage Angkatan VI

P

ada Bulan Januari 2012 Program MEP menerima kunjungan
delegasi dari enam Universitas Jepang yang merupakan Mitra
Program Linkage MEP. Universitas-Universitas tersebut terdiri
dari Graduates Institutes for Policy Studies (GRIPS), Hiroshima
University, International University of Japan (IUJ), Kobe University,
Ritsumeikan University, dan Takushoku University. Tujuan dari kunjungan
mereka adalah dalam rangka interview mahasiswa Linkage Batch 6
sebagai proses admisi di Universitas Jepang.

Pada setiap interview mahasiswa mempresentasikan proposal
risetnya. Presentation skill dalam bahasa Inggris pun teruji di samping
writting skill. Tidak hanya mempertimbangkan kemampuan mahasiswa
dari segi akademik dan bahasa, Universitas Jepang juga melihat
kesesuaian proposal risetnya dengan ketersediaan profesor sebagai
pembimbing yang ada di Universitas Jepang yang dipilih.

Mahasiswa Program Linkage dengan 25 jumlah (dua puluh
lima orang) telah mengikuti proses interview dengan lancar dan semua
mahasiswa telah diterima di Universitas Jepang. Dapat dipastikan bahwa
pada bulan September 2012, seluruh mahasiswa linkage Batch 6 dapat
berangkat ke Jepang untuk menyelesaikan studinya di tahun kedua.
Dengan demikian MEP mengulang keberhasilan penyelenggaraan
Program Linkage pada tahun-tahun sebelumnya dimana tidak ada
kegagalan (zero failure) dalam proses interview dengan Universitas
Jepang.

Di sela-sela kunjungan mereka di MEP, para Profesor dari
Jepang mencerikatan kabar mahasiswa Linkage Batch 5 yang sekarang
sedang menempuh tahun kedua studinya di Universitas Jepang. Menurut
para Profesor tersebut, mahasiswa MEP tidak mempunyai kendala yang
berarti dalam mengikuti kegiatan perkuliahan di sana bahkan mereka
sangat aktif mengikuti berbagai macam kegiatan ekstrakulikuler.
Mahasiswa MEP juga cukup menikmati kehidupan sehari-hari di Jepang
meskipun mereka harus menghadapi dinginnya udara ketika musim
dingin tiba.

Kelas Khusus
BPKP Program
Double Degree
MEP-ANU

P

ada tahun 2012 MEP membuka sebuah program baru yaitu
Double Degree dengan Crawford School of Economics and
Government, Australian National University (ANU), Australia
sebagai Universitas mitra. Kelas khusus BPKP (Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) adalah pioner dalam
penyelenggaran Program Double Degree MEP-ANU. Pada tanggal 6
Februari 2012 telah dilaksanakan penandatanganan MOU kelas khusus
BPKP oleh Poppy Ismalina, Ph.D. selaku Ketua Pengelola Program MEP
dan Dadang Kurnia, Ak., MBA selaku Kepala Biro Kepegawaian dan
Organiasai BPKP. Penandatangan MOU dihadiri pula oleh Kepala BPKP
yaitu Prof. Mardiasmo yang pada pada hari itu juga memberikan kuliah
umum di MEP dengan tema Reformasi Birokrasi dan Prof. Wihana Kirana
Jaya, Ph.D.dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.
Perkuliahan Kelas khusus BPKP Program Double Degree MEP-ANU akan
dimulai pada bulan April 2012. BPKP berencana mengirimkan 15 pegawai
yang telah diseleksi untuk program Double Degree MEP-ANU angkatan
pertama. Pada tahun pertama mahasiswa akan menyelesaikan masa
studinya di MEP dan pada tahun kedua di Crawford School of Economics
and Government, Australian National University. MEP tidak hanya
menyelenggarakan program Double Degree MEP-ANU untuk kelas-kelas
khusus tetapi juga membuka kesempatan bagi para pendaftar umum.

19

WHAT’S UP FEB

Magister
Manajemen

Semakin Terkemuka
Hingga Asia Pasifik

S

ejalan dengan visi 2013 yang akan dicapai oleh Program Magister
Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (MM FEB) UGM,
usaha meningkatkan kerja sama internasional akan menjadi fokus
utama di tahun ini. Program MM FEB UGM terus menambah
jumlah partner universitas asing baik untuk program double degree
maupun student exchange. Diharapkan dengan semakin meluasnya
hubungan dan kerjasama dengan universitas asing di berbagai belahan
dunia, Program MM FEB UGM mampu menjadi business school yang
terkemuka di Asia Pasifik. Direktur Program MM FEB UGM, Prof. Lincolin
Arsyad, Ph.D., mengungkapkan banyaknya program yang dilakukan
untuk meningkatkan kerja sama dengan universitas asing. Selain double
degree dan student exchange, Program Magister Manajemen FEB UGM
juga mengadakan kunjungan secara intensif serta mendelegasikan
beberapa staf pengajar tidak hanya untuk menghadiri seminar dan forum
akademik, tetapi juga mengajar di berbagai universitas di luar negeri.
Baik mahasiswa dan dosen secara bersama-sama digerakkan untuk
membuka pintu kerja sama internasional ini sehingga tercipta faculty
exchange yang baik. Kendala yang masih menghambat tercapainya
harapan tersebut adalah masalah bahasa bagi mahasiswa yang akan
menempuh pendidikan di luar negeri, meskipun hal ini tidak signifikan.

20

Selain masalah bahasa, kendala terbesar adalah biaya yang begitu mahal
yang harus dikeluarkan mahasiswa jika ingin menempuh pendidikan di
luar negeri baik double degree maupun student exchange.

Sebagaimana program lain dalam lingkup FEB UGM, Program
Magister Manajemen juga tengah mendukung langkah fakultas dalam
memperoleh akreditasi The Association to Advance Collegiate School of
Business (AACSB). Sebagai sebuah business school, Program Magister
Manajemen adalah bagian yang paling penting dan berkebutuhan
atas akreditasi AACSB tersebut. Program Magister Manajemen FEB
UGM terus menerus membenahi governance dan tata kelola secara
menyeluruh baik dalam hal akademik maupun nonakademik serta
mengirimkan dosen-dosen untuk mengikuti training mengenai AACSB.
Lincolin sangat berharap perjalanan panjang yang telah dilalui FEB
UGM untuk mendapatkan akreditasi AACSB ini dapat membuahkan
hasil yang baik. Dengan akreditasi AACSB ini, FEB UGM akan menjadi
fakultas ekonomi pertama di Indonesia yang setara dan memiliki kualitas
yang sepadan dengan universitas di luar negeri. “Menjadikan Program
Magister Manajemen FEB UGM lebih dikenal pada tingkat internasional,
khususnya di Asia Pasifik,” ungkap Lincolin atas harapannya terhadap
Program Magister Manajemen FEB UGM ke depan. [poppy]

Business Fun Game:

Meningkatkan Keakraban
Mahasiswa Baru

S

ebagaimana proses penerimaan mahasiswa baru pada periodeperiode sebelumnya, kali ini Program Magister Manajemen
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM kembali mengadakan
acara Business Fun Game bagi mahasiswa baru. Acara yang
dilaksanakan di area kampus MM UGM Yogyakarta (11/2) ini diikuti oleh
mahasiswa baru angkatan 60 baik dari kelas A sampai dengan kelas C
sebanyak 98 peserta, mahasiswa kelas akhir pekan angkatan 19 sebanyak
28 peserta, dan juga mahasiswa asing dari exchange program sebanyak
lima belas peserta. Secara garis besar tujuan utama diselenggarakannya
acara Business Fun Game ini adalah untuk meningkatkan keakraban
interaksi antarmahasiswa baru, mahasiswa program akhir pekan, dan
mahasiswa student exchange program. Serupa dengan judulnya, acara ini
berlangsung sangat meriah dan menyenangkan. Dipandu oleh psikolog
yang telah berkaliber di bidangnya, yaitu Prof. Dr. Djamaludin Ancok, Dr.
Neila Ramdhani, M.Si., M. Ed, dan Indrianingsih, S. Psi (asisten), para
mahasiswa baru tidak hanya diajak bermain dan bersenang-senang
semata tetapi lebih diajak bagaimana memaknai tujuan dari permainan

yang dijalankan. Salah satunya adalah Baloon Game yang mengajarkan
kepada para mahasiswa baru bagaimana cara menjadi seseorang yang
sukses haruslah peduli dengan rekan kerja, tidak egois, berkomunikasi
dengan baik, dan menerapkan strategi dalam penyelesaian sebuah
masalah. Permainanan ini juga menuntut para mahasiswa baru
belajar bagaimana menjaga modal, konsumen, kepercayaan, dan aset
perusahaan mereka yang disimbolkan oleh sebuah balon.

Permainan lainnya juga tidak kalah seru dan mampu mengasah
jiwa kepemimpinan serta kerja sama antarmahasiswa baru, antara lain
birthday line, hula-hoop game, titanic and blond figure, dan magic
carpet. Meskipun lelah dan berkeringat, tapi para mahasiswa baru tetap
antusias dan bersemangat mengikuti seluruh rangkaian acara hingga
pukul tiga sore. Rangkaian orientasi mahasiswa baru Program Magister
Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM diakhiri dengan
Seminar “How to Sell Yourself” dan Workshop “Carrier and Potential”.

21

WHAT’S UP FEB

Magister
Manajemen

Kuliah Umum

“Brand Communication-International Market”

F

akultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM dan Program Magister
Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah
Mada (MM FEB UGM) mengundang Victor Rachmat Hartono,
Chief Operating Officer (COO) PT Djarum yang juga President
Director Djarum Foundation, untuk memberikan kuliah tamu bagi
mahasiswa Program S1 dan S2 FEB UGM (28/2) di Auditorium Kampus
MM FEB UGM Yogyakarta.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas Ekonomika
dan Bisnis UGM, yang diwakili oleh Prof. Wihana Kirana Jaya, Ph.D.
selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerja Sama dan
Pengembangan Usaha, dan dilanjutkan dengan pemberian cinderamata
kepada Victor Rachmat Hartono. Cinderamata diserahkan oleh Direktur
Program MM FEB UGM, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D. didampingi oleh
Prof. Wihana Kirana Jaya, Ph.D. dan Hardo Basuki, Ph.D. selaku Deputi
Direktur Bidang Keuangan dan Umum Program MM FEB UGM.

Kuliah tamu yang disampaikan oleh Victor Rachmat Hartono
mengambil tema “Brand Communication International Market”.
Dipandu oleh Teguh Budiarto, M.I.M., staf pengajar di FEB dan MM FEB
UGM, sebagai moderator, Victor mengungkapkan bagaimana merekmerek ternama mengkomunikasikan tentang kelebihan produknya

22

kepada publik melalui iklan audio visual. Pada kesempatan ini, Victor
tidak menggunakan produk rokok sebagai contoh tetapi memanfaatkan
iklan produk pisau cukur dan produk pemutih wajah ternama untuk
mendeskripsikan dan mengilustrasikan materi kuliahnya. Victor
mengajak sekitar 250 mahasiswa yang menghadiri kuliah tamu ini untuk
menyimak beberapa iklan yang digunakan oleh produk pisau cukur dan
produk pemutih wajah tersebut. Kedua produk tersebut menciptakan
iklan yang berbeda untuk konsumen dan calon konsumen di beberapa
negara yang disesuaikan dengan budaya masing-masing negara tersebut.

Di sela-sela penayangan iklan, Victor mengajak para mahasiswa
untuk mendiskusikan tentang arti dan tujuan iklan-iklan tersebut. Dari
diskusi tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa tingkatan
dalam penyampaian pesan dalam iklan. Sebagai contoh, ada iklan yang
memuat pesan tentang kualitas produk, ada iklan yang memberikan
pesan tentang gaya hidup yang ditawarkan oleh produk tersebut, serta
ada iklan yang menyampaikan pesan tentang kepuasan dan keuntungan
yang akan diperoleh oleh konsumen jika menggunakan produk tersebut.
Suatu produk hendaknya tidak berhenti berinovasi dalam menciptakan
iklan dengan muatan pesan yang berbeda untuk meningkatkan
pemasaran produk tersebut di pasar lokal maupun internasional.

Program Profesi
Akuntansi

Program Profesi Akuntansi FEB UGM

Lebih dari Sekedar Ilmu Akuntansi

M

embekali mahasiswa tidak sebatas ilmu pengetahuan
tetapi juga keterampilan, integritas, dan kebijaksanaan.
Demikian harapan yang ingin dicapai oleh Program
Profesi Akuntansi FEB UGM. Meskipun penting, tapi
berbekal ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup dalam bersaing di masa
kini. Disampaikan oleh Ketua Pengelola Program Profesi Akuntansi
FEB UGM Drs. Sugiarto, M.Acc., MBA., Ak. bahwa mahasiswa Program
Profesi Akuntansi diharapkan mampu menjalin relasi dan koneksi yang
kuat serta meningkatkan social contact sebagai modal setelah lulus dari
pendidikan profesi ini. Berbagai program telah disusun dan direncanakan
untuk merealisasikan harapan tersebut. Program Profesi Akuntansi FEB
sebagaimana periode-periode sebelumnya, secara regular mengadakan
pelatihan dan workshop setiap bulannya. Acara ini dilaksanakan sebagai
wujud pengabdian masyarakat dari Program Profesi Akuntansi dalam
meningkatkan wawasan mahasiswa dan masyarakat umum dengan biaya
yang relatif terjangkau. Pelatihan dan workshop ini selalu menghadirkan
pembicara yang merupakan praktisi akuntansi handal dari empat kantor
akuntan publik terbesar di Indonesia. Materi-materi yang disampaikan
merupakan perihal akuntansi yang seyogyanya dimiliki oleh mahasiswa
akuntansi, khususnya jika ingin terjun dalam perusahaan, seperti
Seminar “IFRS Development and Integrated Accounting” (2/3).

Pelatihan
Pasar Modal
“Become an
Investor”

Program Profesi Akuntansi juga akan menggiatkan program
company visit yang secara khusus menjadi kurikulum wajib mahasiswa
profesi. Program company visit ini rencananya akan dilaksanakan tiga kali
dalam setahun dengan agenda terdekat kunjungan ke pabrik tekstil dan
petrokimia di Surabaya pada bulan Mei mendatang. Melalui company
visit, mahasiswa akan mendapatkan gambaran secara nyata mengenai
dunia pekerjaan mulai dari proses pelamaran pekerjaan hingga tugastugas sebagai pegawai perusahaan.

Di tahun 2012 ini, Program Profesi Akuntansi juga akan
memperbaiki sistem permagangan yang memiliki bobot satu SKS bagi
seluruh mahasiswa profesi. Tahun ini sudah terbentuk MoU antara
Program Profesi Akuntansi FEB UGM dengan Satuan Audit Internal (SAI)
di tingkat universitas sehingga mahasiswa yang akan melaksanakan
magang di SAI dapat langsung terjun dalam praktik kerja tanpa harus
melalui proses seleksi seperti tes dan wawancara. Selain magang di
SAI UGM, para mahasiswa Program Profesi Akuntansi FEB UGM juga
memiliki kesempatan untuk magang di unit-unit lain di UGM yang
membutuhkan profesi akuntan serta kantor akuntan publik yang berada
di Yogyakarta.

P

endidikan Profesi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada senantiasa melaksanakan tridarma perguruan tinggi
diantaranya pengabdian kepada masyarakat. Sebagai salah satu wujud
pelaksanaannya pada tanggal 3 Maret 2012 Program Pendidikan Profesi
Akuntansi bekerja sama dengan BNI Securitas Yogyakarta menyelenggarakan
Pelatihan Pasar Modal dengan tema “Become an Investor” .Pelatihan ini
diikuti sekitar 65 peserta yang berasal dari mahasiswa Pendidikan Profesi
Akuntansi, S1 reguler, mahasiswa MSi dan Program Doktor serta mahasiswa
Magister Akuntansi FEB UGM. Instruktur pada pelatihan kali ini oleh Manager
BNI Securitas Yogyakarta yaitu Bapak Ir. Agus Kurniawan, M.T. Kegiatan yang
berlangsung di Ruang Sidang Kertanegara Lt II sayap Timur FEB UGM dari jam
08.30 – 16.30 ini sangat menarik minat peserta untuk mengetahui pasar modal
lebih dalam, hal ini dapat terlihat dari jumlah peserta yang tetap menyimak
materi yang disampaikan oleh instruktur hingga akhir acara. Disamping
pengetahuan analisis baik fundamental maupun teknikal mengenai seluk
beluk pasar modal, di akhir acara, instruktur memberikan simulasi kepada
para peserta. Dari Pelatihan Pasar Modal kali ini diharapkan dapat menambah
wawasan para mahasiswa mengenai teori dan teknis di bidang pasar modal
sehingga nantinya dapat bermanfaat bagi para mahasiswa baik di masa kini
maupun di waktu mendatang.

23

WHAT’S UP FEB

Seminar “IFRS Developments
and Integrated Reporting”

M

engapa Indonesia harus beralih ke IFRS (International
Financial Reporting Standard)?. Apakah yang dimaksud
dengan IFRS? Selama ini, dunia mengenal beberapa
standar akuntansi. Amerika Serikat –yang notabene
skala perekonomiannya terbesar di dunia– masih memakai US GAAP
(United States Generally Accepted Accounting Principles) dan juga FASB
(Financial Accounting Standard Board). Negara-negara yang tergabung
di Uni Eropa, termasuk Inggris, menggunakan International Accounting
Standard (IAS) dan International Accounting Standard Board. Indonesia
setelah berkiblat ke Belanda, belakangan menggunakan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang disusun oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI). Mula-mula PSAK IAI berkiblat ke AS dan nanti mulai 2012
beralih ke IFRS.

Munculnya IFRS tak bisa dilepaskan dari perkembangan
global, terutama yang terjadi pada pasar modal. Perkembangan
teknologi informasi di lingkungan pasar yang terjadi begitu cepat
dengan sendirinya berdampak pada banyak aspek di pasar modal, mulai
dari model dan standar pelaporan keuangan, relativisme jarak dalam
pergerakan modal, hingga ketersediaan jaringan informasi ke seluruh
dunia.

Dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi pasar
modal, jutaan atau bahkan miliaran investasi dapat dengan mudah
masuk ke lantai pasar modal di seluruh dunia tanpa dapat dihalangi
oleh teritori negara. Perkembangan yang mengglobal seperti ini dengan
sendirinya menuntut adanya satu standar akuntansi yang dibutuhkan
baik oleh pasar modal atau lembaga yang memiliki agency problem.

Memang, hingga saat ini IFRS belum menjadi one global
accounting standard. Namun, standar ini telah digunakan oleh lebih
dari 150-an negara, termasuk Jepang, Cina, Kanada, dan 27 negara Uni
Eropa. Sedikitnya, 85 dari negara-negara tersebut telah mewajibkan
laporan keuangan mereka menggunakan IFRS untuk semua perusahaan
domestik atau perusahaan yang tercatat (listed). Bagi perusahaan yang

24

go international atau yang memiliki partner dari Uni Eropa, Australia,
Rusia dan beberapa negara di Timur Tengah memang tidak ada pilihan
lain selain menerapkan IFRS.

Proses yang panjang tersebut akhirnya menjadi apa yang
disebut IFRS, yang merupakan suatu tata cara bagaimana perusahaan
menyusun laporan keuangannya berdasarkan standar yang bisa diterima
secara global. Jika sebuah negara beralih ke IFRS, artinya negara tersebut
sedang mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global yang akan
membuat perusahaan (bisnis) bisa dimengerti oleh pasar dunia. Namun,
beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka-angka di
laporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara
semua elemen di dalam perusahaan.

Mengingat pentingnya penyebaran pengetahuan tentang IFRS
ini, Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) FEB UGM menyelenggarakan
Seminar “IFRS Developments and Integrated Reporting”. Seminar ini
diisi oleh Djohan Pinnarwan, Partner dari KAP PricewaterhouseCoopers
yang merupakan salah satu KAP “The Big Four” yang sangat peduli
terhadap penerapan IFRS di Indonesia. Seminar ini diikuti oleh sekitar
100 orang peserta yang berasal dari mahasiswa PPAk FEB UGM serta
mahasiswa dari perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Kegiatan
ini juga diikuti oleh dosen-dosen dari perguruan tinggi baik negeri
maupun swasta dari segenap daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sebagai sebuah institusi pendidikan yang peduli terhadap
IFRS, Pendidikan Profesi Akuntansi FEB mencoba mengajak para calon
akuntan untuk mengikuti tes masuk (Tes Validasi Kompetensi) yang
akan diadakan pada 14 April 2012. Test TVK periode sebelumnya yang
diselenggarakan pada bulan Februari 2012 telah diikuti oleh 52 peserta
dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Sebelum mengikuti TVK, mahasiswa harus menempuh tes
TOEFL dan pelaksanaan tes ini diagendakan pada tanggal 31 Maret dan
tanggal 7 April 2012. Informasi lebih lengkap dapat diakses di website
PPAk: www.akuntan-ugm.or.id. [rahmad]

SPECIAL REPORT

Berkomitmen
untuk mendapatkan
akreditasi

aACSB

F

akultas Ekonomika dan Bisnis UGM tidak pernah berhenti untuk
terus menata diri agar dapat memberikan layanan dan fasilitas
pembelajaran yang berkualitas. Ini dilakukan, agar mendapat
pengakuan oleh stakeholders di tingkat nasional maupun
internasional, sehingga jejaring di kancah nasional maupun internasional
dapat semakin berkembang.

Selain itu, dengan perbaikan proses pembelajaran yang
dilakukan terus menerus, FEB juga akan mendapat pengakuan dari
lembaga akreditasi. Setelah seluruh program studi (S1, S2, dan S3)
mendapatkan akreditasi dengan nilai A dari BAN PT (Badan Akreditasi
Nasional Perguruan Tinggi), kini FEB UGM tengah berjuang untuk
memperoleh akreditasi dari AACSB (Association to Advance Collegiate
School of Business).

AACSB sendiri merupakan badan akreditasi internasional
yang didirikan pada tahun 1916. Awalnya, AACSB hanya memberikan
akreditasi pada sekolah-sekolah bisnis di Amerika Utara. Baru kemudian
pada tahun 1997, sekolah bisnis di luar Amerika Utara diakreditasi oleh
AACSB. Standar akreditasi AACSB saat ini digunakan sebagai dasar untuk
mengevaluasi misi, kegiatan operasional, kualifikasi dan kontribusi
fakultas, program, dan unsur penting lainnya dari sebuah sekolah bisnis.
Terdapat 643 institusi yang sekarang ini menjadi anggota AACSB. FEB
UGM sendiri telah menjadi anggota, bersama dengan 14 universitas
lainnya di Indonesia.

Agar bisa mendapatkan akreditasi AACSB, ada sebuah jalan
panjang yang harus ditempuh. Proses akreditasi AACSB sendiri terdiri
atas 16 langkah. Sejak dua tahun yang lalu, FEB UGM berada pada
langkah ke sebelas, yaitu diterimanya dan mulai diaplikasikannya
Standards Alignment Plan. Selama berada dalam tahap ini, FEB diminta
untuk melaporkan perkembangan implementasi Rencana Akreditasinya
dalam rangka memenuhi standar-standar AACSB. Di tahap ini FEB
terus didampingi mentor, yakni Prof. Michael Tearney dari University of
Kentucky USA, untuk membantu, memantau perkembangan, sekaligus
memastikan bahwa FEB dapat memenuhi standar-standar AACSB. Tahun
2012 ini merupakan tahun terakhir bagi FEB untuk memberikan laporan
perkembangannya (progress report) kepada tim AACSB untuk kemudian
memasuki langkah berikutnya.

AACSB sendiri memberikan 21 standar yang harus dipenuhi
oleh sebuah sekolah bisnis agar mendapatkan akreditasi. Standar
tersebut adalah:

26

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Mission Statement
Mission Appropriateness
Student Mission
Continuous Improvement Objectives
Financial Strategies
Admission Policy
Academic Standard and Student Retention Practices
Staff Sufficiency – Student Support
School Sufficiency
Faculty Qualifications
School Management and Support
Aggregate School and Staff Educational Responsibility
Individual School Responsibility
Student Educational Responsibility
Management of Curricula
Bachelor’s Undergraduate Level Degree: Knowledge and Skills
B.Sc. Degree: Time, Student Efforts, and Sufficient Faculty
Interaction
18. Master’s Level General Management Learning Goals
19. Master’s Level Degree in Specialized Programs: Knowledge and
Skills
20. Masters’ Educational Level
21. Doctoral Learning Goals

Hingga tahun 2012 ini, menurut Prof. Indra Wijaya Kusuma
sebagai koordinator tim AACSB, FEB telah memenuhi 17 standar di atas.
Empat standar yang masih harus dipenuhi adalah standar yang berkaitan
dengan Assurance of Learning dan Faculty Sufficiency.

Dalam rangka mencapai akreditas, FEB telah membentuk
beberapa tim yaitu Tim AACSB, Tim Assurance of Learning (AoL), dan
Komite Kurikulum. . Komite AoL bertugas mengembangkan instrumen
pengukuran learning goals dan learning objectives. Sedangkan Komite
Kurikulum melakukan kajian terhadap kurikulum yang ada serta
memberikan rekomendasi perbaikan kurikulum, perubahan proses
pembelajaran dan juga learning goals. Kantor Jaminan Mutu, sebagai
tulang punggung kegiatan akreditasi, bertugas untuk menyusun laporan
akademik dengan sumber data internal maupun eksternal fakultas.
Terakhir, tim AACSB, memiliki tugas mengkoordinasi kegiatan internal
proses akreditasi AACSB, menyusun progress report, dan berkoordinasi
dengan pihak IAC AACSB.

Akreditasi AACSB, yang merupakan
sebuah pengakuan formal kualitas sekolah bisnis,
dapat menguatkan posisi FEB di mata dunia
internasional. Nantinya, FEB akan setara dengan
sekolah-sekolah bisnis terkenal di negara-negara
lain. Dipegangnya status terakreditasi dari AACSB
akan memudahkan FEB dalam menjalin kerja sama
dengan universitas-universitas luar negeri. Akan
banyak pula mahasiswa asing yang tidak ragu untuk
berkuliah di FEB.

Untuk menggapai akreditasi AACSB
ini masih membutuhkan perjuangan besar.
Dibutuhkan sinergi, tidak hanya dari pengelola
program studi atau anggota tim-tim khusus tadi,
tetapi juga dari seluruh sivitas akademika FEB UGM.
Dengan demikian, perjalanan menuju akreditasi
akan semakin mantap dan akhirnya akreditasi pun
dapat tercapai. [prima]

Kunjungan Mentor:
Memastikan Kesiapan FEB
menuju Penilaian Akreditasi

aACSB

F

EB UGM mendapat kunjungan istimewa dari
Prof. Michael Tearney, mentor FEB untuk
akreditasi AACSB (Association to Advance
Collegiate School of Business) (31/1-2/2).
Selama kunjungan yang cukup singkat itu, Tearney
memberikan evaluasi, saran, dan dukungan agar
FEB dapat memenuhi standar-standar akreditasi
AACSB.

Pada visitasi kali ini, Tearney bertemu
dengan seluruh pengelola program studi di FEB
dan juga tim-tim yang khusus dibentuk untuk
membahas persiapan FEB menuju tahap penilaian
yang akan dilakukan oleh tim IAC AACSB pada
tahun 2013 mendatang. Selama tiga hari, dilakukan
evaluasi terhadap hal-hal yang telah dikerjakan
masing-masing program studi agar sesuai dengan
standar AACSB. Hal utama yang dibahas adalah
Assurance of Learning (AoL) di FEB dan pencapaian
kualifikasi dosen baik yang Accademically Qualified
(AQ) atau Profesionally Qualified (PQ).

Kedatangan mentor kali ini dikarenakan
pada Oktober 2012 nanti, FEB UGM harus
mengirimkan progress report terakhir kepada
komite akreditasi AACSB. Setelah itu, akan ada

aACSB

Seluruh tim yang dibentuk, bersama
dengan pengelola dari 12 program studi yang ada
di FEB, selama tahun-tahun terakhir ini berjuang
keras untuk memperbaiki proses pembelajaran di
fakultas. Di antaranya adalah dengan peningkatan
kualifikasi akademik dan kemampuan profesional
para pengajarnya melalui kegiatan penelitian,
publikasi, pelatihan, dan peningkatan kiprah
profesional para pengajar, baik di dalam FEB
maupun diluar FEB. Selain itu, dilakukan juga
peningkatan kualitas lulusan, pengajar, dan staf
kependidikan yang diwujudkan melalui perbaikan
fasilitas, sistem insentif, struktur, dan proses
organisasi.

Tahun 2012 ini merupakan tahun krusial
bagi proses akreditasi AACSB untuk FEB. Pada bulan
Oktober nanti, FEB akan menyerahkan progress
report terakhir pada tim IAC AACSB. Dari progress
report tersebut, akan dinilai layak tidaknya FEB
mendapatkan visitasi dari peer-review team.

putusan dari pihak IAC AACSB, apakah FEB layak
mendapatkan akreditasi atau tidak. Jika berhasil,
maka FEB akan memperoleh akreditasi AACSB.
Sebaliknya, jika tidak berhasil, FEB dikeluarkan dari
proses evaluasi. “Kalau mau dievaluasi (akreditasi
AACSB) lagi, harus tunggu beberapa tahun,
mendaftar lagi, dan mengulang proses dari awal
lagi,” ungkap Prof. Indra Wijaya Kusuma, ketua tim
akreditasi AACSB.

Dari visitasi mentor ini, banyak
‘pekerjaan rumah’ yang harus diselesaikan oleh
masing-masing program studi maupun tim-tim
penyokong proses akreditasi. ‘Pekerjaan rumah’
ini akan kembali dievaluasi oleh Tearney, nanti,
sekitar bulan Agustus, beberapa saat menjelang
akan dikumpulkannya progress report FEB yang
terakhir. Tearney sendiri berharap agar semangat
dan kerja keras mengejar akreditasi AACSB tidak
hanya membara saat mentor akan berkunjung,
tetapi juga setelah mentor pulang. “Banyak yang
harus dikerjakan dan yang mengerjakan adalah
semua program studi, secara bersama-sama, agar
akreditasi bisa kita raih,” ungkap Indra. [prima]

27

SPECIAL REPORT

Mendukung Proses
Akreditasi AACSB,
Jurusan Manajemen
Gelar Workshop
Akademik
28

D

alam rangka mendukung tercapainya
akreditasi AACSB International, Jurusan
Manajemen menggelar Workshop
Akademik. Workshop sehari ini
terselenggara pada hari Rabu (15/02) di Hotel
Grand Aston Yogyakarta.

Sesuai judul workshop itu sendiri,
acara yang dihadiri oleh sekitar 50 orang ini
membahas hal-hal terkait bidang akademik dan
secara khusus yang terkait AACSB. Bahasan utama
yaitu masalah perbaruan kurikulum International
Undergraduate Program (IUP), instrumen
pengukuran Assurance of Learning AACSB, SOP
Akademik dan pedoman penulisan karya tulis.

Acara yang dihadiri oleh semua dosen
jurusan dan pengurus program studi di lingkungan
Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomika dan
Bisnis UGM secara resmi ditutup jam 17:00
oleh ketua Jurusan Manajemen, Dr. Sahid Susilo
Nugroho, M.Sc.

SCHOLARSHIP & RECRUITMENT

The University of Skovde
Master Scholarship 2012/2013
The University of Skövde, Swedia menawarkan beasiswa periode 2012/13 untuk
alumni FEB Informasi selengkapnya silakan kunjungi
http://www.his.se/english/education/application-fees-and-scholarships/
scholarships/. Batas aplikasi, 15 Mei 2012

The World Bank Scholarship Program
for Public Policy & Taxation (PPT)
The World Bank setiap tahun menawarkan lima beasiswa untuk program PPT.
Seleksi tahap pertama akan diadakan di Yokohama National University. Program
ini ditujukan untuk alumni FEB UGM. Selengkapnya silakan kunjungi http://www.
igss.ynu.ac.jp/wb-ppt/howtoapply01.html. Aplikasi ditunggu sampai dengan 30
September 2012.

Penawaran Magang di PT Sari Husada
PT Sari Husada adalah pelopor dalam industry manufaktur produk nutrisi unutk bayi, ibu hamil, dan
menyusui dengan standar internasional. Kami mengundang alumni FEB UGM untuk bergabung dalam
program magang pada divisi operasional, dengan kualifikasi sbb:
• Pria atau wanita, fresh graduate atau minimal semester akhir dari universitas terkemuka.
• Mempunyai kemampuan komunikasi yang baik
• Percaya diri dan mampu bekerja secara independen.
• Berorientasi pada detail
• Memiliki kemampuan administrasi yang baik.
• Berbahasa Inggris dengan lancar.
• Memiliki kemampuan Komputer yang baik terutama MS Office (Word, Excel & Power Point).
• Dapat bekerja full time (Senin – Jumat) selama 2 (dua) bulan.
• Untuk penempatan di Yogyakarta .
Apabila anda memiliki kualifiaski di atas, silakan kirimkan CV, copy transkrip nilai dan nomor kontak (max.
150 KB dalam format word) via email ke alamat recruitment.sarihusada@danone.com.

29

LECTURER’S ARTICLES

Oleh:
Dr. Sahid Susilo Nugroho, M.Sc.

Jejaring Sosial Online
dalam Perspektif
Indonesia
A. Pendahuluan

Saat ini barangkali semakin sulit bagi orang kebanyakan
untuk tidak menggunakan jejaring sosial online (JSO) dalam kehidupan
sehari-hari. JSO sudah mulai membudaya dalam kehidupan masyarakat
sebagai media untuk berkomunikasi tanpa batas dalam lingkungan sosial
masing-masing. Menjadi aktif terhubung dalam lingkungan sosial yang
dimiliki tanpa harus meninggalkan kesibukan rutin pribadi adalah sebuah
nilai kemanfaatan luar biasa yang menyebabkan JSO menjadi semakin
popular. JSO menjadi sebuah hiburan sosial yang dapat dinikmati oleh
setiap orang dengan mudah. Kebutuhan untuk berafiliasi atau bergaul
dengan orang lain, menjadi sangat mudah untuk terpenuhi melalui
penggunaan JSO. Sebagai salah satu fakta menarik mengenai popularitas
JSO di Indonesia, Indonesia per tanggal 31 Desember 2011 memiliki
pengguna facebook terbesar kedua di dunia dengan jumlah pengguna
sebanyak 41.477.240 orang (www.internetworldstats.com, 2012) atau
sekitar 17 persen dari total penduduk Indonesia.

Dalam kehidupan sehari-hari bisa dicermati bahwa masyarakat
terlihat sangat akrab menggunakan JSO sebagai alat untuk berkomunikasi
dalam berbagai konteks. Yakni mulai dari konteks hubungan sosial biasa
antar individu, sampai pada konteks hubungan bisnis maupun politik.
Dalam konteks lingkungan bisnis, banyak pengguna dari kalangan bisnis
perorangan maupun perusahaan yang memanfaatkan JSO sebagai toko
maya, media periklanan ataupun media relasi publik. Demikian juga
dalam konteks dunia politik, banyak tokoh dan organisasi sosial maupun
politik yang memanfaatkan JSO sebagai media pencitraan dan sekaligus
media relasi kemasyarakatan. Jadi struktur hubungan komunikasi online
dalam JSO tidak hanya bersifat C2C (Consumer to Consumer), tapi bisa
juga berbentuk C2B (Consumer to Business), B2C (Business to Consumer)
ataupun B2B (Business to Business).

30

Popularitas jejaring sosial online dalam masyarakat tidak lepas dari
nilai kepraktisan yang ditawarkan yakni memfasilitasi setiap pemilik
akun untuk senantiasa menjaga status dan mutu keterhubungan sosial
yang dimilikinya secara sistemik melalui fitur-fitur komunikasi dalam
JSO. Secara teoritis, JSO menawarkan tiga fungsi utama sebagai berikut
(Boyd, Ellison, 2007 dalam Taylor et al., 2011):
1. Membangun profil akun pengguna dalam sebuah sistem akun yang
saling terkait.
2. Memelihara daftar koneksi dari akun pengguna sebagai pihak-pihak
yang saling berbagi koneksi.
3. Melihat dan menyusuri daftar koneksi akun milik sendiri dan daftar
koneksi dari akun pengguna lain.

Fungsi pertama adalah memfasilitasi pembentukan ruang
profil diri si pengguna yang bisa diibaratkan sebagai sebuah rumah
pribadi virtual. Profil pengguna memuat segala informasi mengenai diri
pengguna, mulai dari data kelahiran, data domisili, data pendidikan, data
pekerjaan, data kegemaran, serta data dokumentasi photo maupun video.
Fungsi kedua adalah manifestasi dari pembangunan struktur hubungan
jejaring sosial. Pengguna dapat dengan mudah menjalin hubungan
baru dengan para pengguna lain dalam sistem yang sama karena JSO
memberikan informasi detil mengenai keberadaan para pengguna lain
melalui fasilitas friend search. Kemudian pembentukan jalinan hubungan
baru akan dilakukan atas dasar sukarela. Pemicu jalinan hubungan baru
bisa bermacam-macam yakni mulai dari daya tarik fisik melalui potret
profil, kesamaan domisili, kesamaan almamater pendidikan, kesamaan
bidang profesi maupun kesamaan kegemaran. Semakin detil informasi
profil yang dimiliki oleh seorang pengguna JSO, maka akan membuka
kesempatan penambahan koneksi pengguna yang lebih luas. Terakhir,
fungsi ketiga memberikan fasilitas penyusuran informasi secara tidak

terbatas dari semua pengguna dalam sistem, baik yang sudah saling
terkoneksi maupun yang belum terkoneksi. Setiap pengguna dapat
melihat profil dari semua pengguna dalam satu sistem JSO. Meskipun
demikian, beberapa JSO seperti misalnya Facebook memberikan fasilitas
privasi kepada pengguna untuk menentukan pilihan informasi profil
pengguna yang bisa diakses publik.

Secara lebih rinci dalam perspektif struktur hubungan
komunikasi, pada umumnya jejaring sosial online menyediakan dua tipe
sistem koneksi sosial, yakni bi-directional dan unidirectional (Taylor et
al., 2011). Bi-directional adalah sistem koneksi sosial yang memerlukan
konfirmasi antar akun yang akan saling berhubungan sebagai “kawan”
atau “pengikut”. Dimana kedua akun yang saling berhubungan dapat
mengakses informasi profil satu sama lainnya dan saling berkomunikasi.
Sistem yang pertama ini sebagai contoh terlihat jelas pada sistem yang
dikembangkan oleh Facebook. Ketika kita melakukan prosedur add friend
kepada seseorang, dan kemudian disetujui oleh orang tersebut, maka
status orang tersebut akan menjadi friend yang bisa diakses informasi
profilnya.

Sistem kedua yakni unidirectional merupakan sistem koneksi
dengan konfirmasi sepihak yakni dari akun yang mengkonfirmasi diri
sebagai “penggemar” dari sebuah halaman dimana pemilik akun
halaman meskipun terkoneksi atau bisa saling berkomunikasi, namun
tidak dapat mengakses informasi profil akun penggemarnya. Contoh
dari sistem koneksi kedua bisa dilihat pada fitur fan page dari Facebook.
Seseorang secara otomatis akan menjadi “penggemar” dari sebuah
fan page Facebook ketika yang bersangkutan memberikan konfirmasi
kesukaan atau like. Fasilitas ini banyak digunakan oleh perusahaan,
tokoh selebrities maupun organisasi sosial-politik sebagai media relasi
publik.
B.
Perilaku Pengguna JSO di Indonesia

Mempertimbangkan peran dan popularitas jejaring sosial
online (JSO) dalam kehidupan masyarakat yang semakin meningkat, JSO
telah berkembang sedemikian rupa menjadi suatu platform komunikasi
massa yang efektif. Dengan demikian pemahaman terhadap aspek
keperilakuan dari para pengguna Jejaring Sosial Online menjadi sangat
penting bagi sebuah organisasi bisnis, sosial maupun politik. Karena
pemahaman tersebut diperlukan sebagai dasar penyusunan strategi
komunikasi massa.

Kelas Dasar-Dasar Pemasaran Prodi Sarjana FEB-UGM dan
Kelas Manajemen Pemasaran Prodi MM di FEB UGM yang terdiri dari
dosen dan mahasiswa, pada akhir tahun 2011 telah melakukan sebuah
survei secara terpisah terhadap para pengguna JSO di kota Yogyakarta.
Survei selengkapnya mewawancarai sekitar 500 orang responden.
Kemudian berdasarkan aspek kelengkapan data, ukuran sampel yang
layak dianalisis lebih lanjut hanya sebanyak 428 responden.

Responden dalam survey ini memiliki cakupan usia 16 tahun
sampai dengan 40 tahun dengan dominasi kelompok usia 16-25 tahun
yakni sebanyak 68 persen dari jumlah responden. Kemudian dari aspek
gender, responden terdiri dari 54 persen wanita dan 46 persen pria.
Mayoritas responden yakni sebanyak 46 persen berprofesi sebagai siswa
SMA dan mahasiswa S1. Berdasarkan analisis statistik deskriptif, survei
menunjukkan beberapa temuan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Pertama adalah berkaitan dengan motif penggunaan JSO. Dari Tabel
1 bisa dicermati bahwa motif mencari teman adalah alasan terkuat
mengapa seseorang menggunakan JSO (81,3 persen). Dua motif

terpopuler berikutnya adalah untuk kepentingan reuni alumni sekolah
(44,5 persen) dan disusul untuk kepentingan reuni keluarga (36,2
persen). Motif penggunaan JSO untuk membangun relasi publik guna
kepentingan bisnis juga mulai menguat (30,6 persen).

Sumber: Data Kelas Dasar-Dasar Pemasaran Prodi S1 dan Kelas
Manajemen Pemasaran Prodi MM FEB-UGM (2011)

Kedua, penggunaan JSO di Indonesia diduga lebih bersifat
publik karena hasil riset menunjukkan mayoritas responden yakni
sebesar 38,6 persen menyatakan bahwa setiap orang bisa menjadi
“friend”. Sehingga bilamana dikaji lebih lanjut, banyak akun JSO yang
berasal dari Indonesia cenderung memiliki jumlah koneksi sosial dalam
jumlah ribuan. Kondisi berkebalikan barangkali bisa dilihat dari akun
JSO dari negara Eropa. Hasil wawancara terbatas dengan sekitar 15
mahasiswa asing exchange program di FEB-UGM, mereka mengaku
bahwa akun JSO bersifat sangat pribadi, mereka tidak akan menerima
koneksi akun dari orang yang belum dikenal sama sekali. Bahkan koneksi
akun dari orang yang mereka kenal tetapi dalam konteks hubungan
formal juga dianggap sebagai sebuah ketidaklaziman. Sebagai misal
hubungan koneksi antara akun mahasiswa dan akun dosen di sebuah
JSO bisa menjadi isu etika yang sensitif. Perbedaan nilai-nilai budaya
setempat barangkali berpengaruh kepada variasi sifat penggunaan JSO
di setiap negara.

Ketiga , survei kemudian berhasil mengindentifikasi tiga
faktor terpenting yang pada umumnya dipertimbangkan ketika
seseorang memilih sebuah JSO. Berdasarkan lima skala pengukur
derajat kepentingan, faktor kecepatan pengunduhan data menjadi hal
terpenting untuk dipertimbangkan (mean score 4,43). Kualitas koneksi
internet di Indonesia yang relatif lambat barangkali menyebabkan faktor
ini kemudian menjadi alasan terpenting. Kemudian faktor terpenting
berikutnya adalah faktor perlindungan privasi data (mean score 4,34).
Hal ini bisa dipahami, mengingat kecenderungan para pengguna JSO di
Indonesia yang memasukkan terlalu banyak informasi pribadi ke dalam
profil akun. Selanjutnya faktor kemudahan navigasi situs (mean score
4,21) menjadi faktor pertimbangan penting ketiga. JSO yang user friendly
memang akan menjad lebih popular karena membuka akses lebar untuk
pengguna dari semua kalangan usia dan semua kalangan latarbelakang
pendidikan.

31

LECTURER’S ARTICLES

Keempat, sebagaimana tersaji pada Tabel 1, hasil survei
memperlihatkan dua JSO yang paling diminati adalah Facebook
dan Twitter. Facebook menunjukkan dominasi yang cukup kuat,
dimana 95,3 persen dari total responden mengaku menggunakan
JSO tersebut. Kemudian Twitter menduduki posisi kedua terpopuler
berdasarkan klaim dari 60,5 persen responden. Hasil ini juga sesuai
dengan hasil pengukuran web metric yang dilakukan www.alexa.
com (2012) yang menunjukkan kedua JSO tersebut di atas sebagai
paling popular di Indonesia. Selanjutnya posisi ketiga diduduki oleh
Friendster, yakni sebuah JSO yang sangat populer di Indonesia pada
awal tahun 2000-an yang kemudian pada tahun 2012 kini karena
kalah bersaing, telah berubah konsep menjadi sebuah situs online
games.

Kelima, terkait dengan aktivitas akses pengguna terhadap
akun JSO yang dimiliki. Hasil survei yang menunjukkan bahwa 52
persen responden mengaku aktif mengakses setiap hari. Kemudian
mayoritas dari responden yakni sebesar 46 persen menyatakan
selalu mengakses JSO dalam waktu 1-2 jam per hari. Para responden
juga menyatakan empat fitur JSO terpopuler yang sering digunakan
yakni pesan halaman profil atau wall message (46,5 persen),
obrolan elektronik atau chatting(27,1 persen), surat elektronik atau
e-mail(11,2), dan berbagi foto atau photo sharing (10,7 persen).

santai dan sangat terjamin privasinya. Hasil survei juga menemukan
bahwa JSO lebih banyak diakses dengan menggunakan komputer laptop
(54 persen) dan telpon seluler (33 persen), dibandingkan memakai
komputer desktop (11,4 persen). Namun demikian fenomena karakteristik
alat akses JSO tersebut barangkali lebih dipengaruhi tren mobile device
secara umum yang melanda dunia dalam satu dekade terakhir ini. Dan
semua JSO terkemuka juga sudah merespon perkembangan selera pasar
tersebut dengan menyediakan layanan versi mobile guna memudahkan
para pengguna mobile device seperti misalnya telepon seluler.
C.
Kesimpulan

Keberadaan JSO (Jejaring Sosial Online) adalah bagian dari gaya
hidup masyarakat modern. Kebutuhan orang untuk memberikan dan
mendapatkan informasi dari lingkungan sosialnya, diduga sudah menjadi
seperti kebutuhan primer keempat setelah sandang, pangan dan papan.
Semakin sulit bagi seorang pengguna JSO untuk melepaskan diri dari
ketergantungannya terhadap JSO karena menyangkut eksistensi diri yang
bersangkutan dalam lingkungan sosial virtual yang diciptakannya sendiri.
Popularitas JSO pada akhirnya telah merubah peran JSO dari sekedar
instrumen sosial sebagaimana konsep awalnya, untuk kemudian saat ini
telah berkembang pesat menjadi instrumen pendukung bagi organisasi
sosial, bisnis dan politik untuk kepentingan membina relasi publik.

Referensi



Sumber: Data Kelas Dasar-Dasar Pemasaran Prodi S1 dan Kelas Manajemen Pemasaran Prodi MM FEB-UGM (2011)

Keenam, hasil survei juga memperlihatkan bahwa 55 persen
responden lebih suka mengakses JSO dari kamar pribadi di rumah
dibandingkan di kantor, sekolah atau tempat umum lainnya. Hanya
23 persen responden yang merasa nyaman untuk mengakses akun
JSO yang dimilikinya di lokasi mana saja. Fenomena ini menunjukkan
bahwa akses terhadap akun JSO lebih banyak dilakukan dalam kondisi

32

Bulearca, Marius, and Bulearca, Suzana (2010), “Twitter: A viable
marketing tool for SMEs?”, Global Business and Management
Research: An International Journal, Vol 2(4), 296-309.
Kelas Dasar-Dasar Pemasaran Prodi Sarjana FEB-UGM (2011), “Survei
Pengguna Online Social Network”, Laporan Tugas Simulasi Riset,
tidak dipublikasikan.
Kelas Manejemen Pemasaran Prodi Magister Manajemen FEB -UGM
(2011), “Survei Pengguna Online Social Network”, Laporan Tugas
Simulasi Riset, tidak dipublikasikan.
Krauter, Sonja Grabner (2010), “Web 2.0 social networks: the role of
trust”, Journal of Business Ethics, Vol. 90, 505-522.
Levickaite, Rasa (2010), “Generations X,Y, Z: How social networks from
the concept of the world without borders (the case of Lithuania)”,
LIMES, Vol. 3(2), 170-183.
Strauss, J. & Frost, R. (2012), E-marketing, sixth edition, Pearson
Education Inc: Upper Saddle River.
Tagmeier, Curt (2010), “Facebook vs. Twitter: Battle of the social
network stars”, Computer in Libraries, September, 6-10.
Taylor, David G., Lewin, Jeffrey E., and Strutton, David (2011), Friends,
Fans, and Followers: Do ads works on social networks? How Gender
and age shape receptivity, Journal of Advertising Research, March,
258-275.
Ulusu, Yesim (2010), “Determinant factors of time spent on Facebook:
Brand community engagementand usage types”, Journal of Yasar
University, Vol. 18(5), 2949-2957.
www.alexa.com, akses per tanggal 1 Maret 2012.

ALUMNI CORNER

Wawancara Eksklusif Rorita Lim, ASEAN Control and
Compliance Manager Procter & Gambler (P&G)

Mengamalkan Integritas
dalam Kehidupan

E

B News berkesempatan mewawancarai Rorita Lim, Alumnus FEB
UGM angkatan 1996 yang berhasil meniti karir di perusahaan
multinasional Procter and Gamble (P&G). Rorita berhasil ditemui
setelah memberikan materi tentang “Fraud in a Company”
kepada mahasiswa di Gedung University Club (UC) UGM pada tanggal 2
Februari 2012. Berikut adalah petikan hasil wawancara EB News dengan
Rorita Lim.
EB News: Bagaimana awalnya Anda bisa bekerja di P&G?
Rorita: Sebenarnya saya sudah bekerja selama dua tahun di perusahaan
lain ketika dipanggil P&G. Awalnya kaget hingga teringat dulu waktu
kuliah pernah mengikuti campus recruitment P&G. Akhirnya, saya
putuskan untuk hijrah dengan pertimbangan P&G adalah perusahaan
multinasional besar, memiliki exposure internasional, dan juga
memberikan pengalaman kerja yang lebih menantang.
EB News: Bagaimana Anda beradaptasi di lingkungan kerja yang baru?
Rorita: Tahun pertama begitu berat. Menghadapi lingkungan baru
dengan rekan kerja berasal dari berbagai negara, komunikasi menjadi
masalah utama. Kita tidak terbiasa untuk seterus terang mereka. Kadang
kita merasa minder dan tidak berani mengungkapkan pendapat yang
berbeda. Namun, seiring berjalannya waktu hal itu dapat teratasi. Saya
percaya bahwa segala sesuatu dapat dipelajari. English is just a vehicle.
Pada akhirnya, analytical skill, cara berpikir, dan cara berkomunikasi
efektif lah yang lebih mempengaruhi.
EB News: Bagaimana dinamika karir Anda di P&G?
Rorita: Saya mengawali karir sebagai analis selama dua tahun, forecaster
selama 2 tahun, dan juga sempat cuti melahirkan. Saat ini saya menduduki
posisi sebagai ASEAN Control and Compliance Manager. Pekerjaan ini
memiliki tingkat stres yang cukup tinggi, terlebih harus memenuhi target
yang banyak dan membawahi beberapa negara di ASEAN.
EB News: Bagaimana kehidupan Anda ketika kuliah di FEB UGM?
Rorita: Saya berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Bisa bersekolah di
jurusan Manajemen FEB UGM merupakan anugerah. Pada waktu kuliah
saya sering menjadi perwakilan UGM mengikuti lomba debat dan karya
tulis. Selain itu, saya juga mengambil kuliah di universitas lain untuk
meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

EB News: Ceritakan bagaimana kehidupan pribadi Anda?
Rorita: Saya adalah ibu dari dua putra yang masing-masing berumur
5 dan 8 tahun. Sebagai ibu sekaligus wanita karir, saya harus pandai
membagi waktu. Saya bersyukur P&G memiliki program worklife
balance bagi karyawan. Saya memiliki empat hari kerja di kantor dan 1
hari kerja di rumah, jam kerja pun cukup fleksibel. Namun, hal ini tetap
saya imbangi dengan tanggung jawab dan integritas yang tinggi sebagai
seorang karyawan.
EB News: Nilai-nilai apa yang paling Anda junjung dalam kehidupan?
Rorita: Integritas adalah nilai yang mengilhami setiap langkah. Saya selalu
berusaha on the right track, tidak mau keluar jalur hingga melanggar
etika. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari juga saya amalkan. Contoh
sederhana, sebisa mungkin saya berusaha tidak membeli barang
bajakan, walaupun bukan berarti tidak sama sekali.
EB News: Apa pesan-pesan Anda kepada mahasiswa FEB UGM?
Rorita: Untuk teman-teman UGM, pesan saya harus lebih percaya diri
dan jangan terlampau low profile. Dalam dunia kerja yang semakin ketat,
kita harus terlihat kompetitif. Jangan mudah berpuas diri, satu waktu kita
juga perlu melakukan benchmarking dengan mahasiswa universitas lain
untuk mengetahui sejauh mana perkembangan di luar sana. [rahmad]

33

NEWS FROM ABROAD

Bowo Setiyono, M.Com

L’éducation égale et
amicable pour tous
Pendidikan yang Merata dan Ramah
Untuk Semua

Eny Sulistyaningrum, S.E, M.A.

Bonjour”, “Bonjour à tous!” Itulah kata-kata yang paling sering saya
dengar di telinga sejak menginjakkan kaki pertama kali di Perancis
pada Oktober 2010 sampai hari ini. Begitu mendengarnya, tentu
sebagian kita serta merta membayangkan le vin, la tour Eiffel,
atau cantiknya tata kota di negara berpenduduk sekitar 65 juta jiwa ini.
Tulisan berikut akan memaparkan kesan yang saya dapat terutama dari
sisi kebijakan pendidikan dan dampak yang dirasakan oleh warga negara
Perancis.

Usai perjalanan udara selama 15 jam dengan rute JOGKUL-CDG, memasuki terminal kedatangan (terminal d’arrivée) di Paris
pandangan pertama tertuju pada bangunan bandara CDG yang tampak
berumur panjang tetapi fungsional dan kokoh. Antrian imigrasi cukup
panjang sehingga perlu 45 menit untuk sampai di depan loket petugas
imigrasi karena jumlah penumpang yang banyak. Setelah di depan
petugas, tak sampai 30 detik paspor sudah distempel dan cleared!
Bienvenue en France (Selamat datang di Perancis). Proses pengambilan
bagasipun begitu sederhana dan cepat, tidak ada prosedur pemeriksaan
oleh petugas bea cukai ataupun yang berwajib (sambil membayangkan
kalau di negara kita tak ada baggage check). Bahkan tak ada dokumen
yang perlu kita isi di tempat itu. Keluar dari bandara, beberapa pilihan
mode transportasi untuk membawa kita ke tempat tujuan yang telah
tersedia. Bagi pendatang yang harus melanjutkan perjalanan ke kota

34

lain, kereta adalah pilihan utama. Untuk sampai ke Gare d’Austerlitz
(salah satu stasiun besar di Paris) yang menyediakan kereta-kereta
menuju Perancis Selatan, ada taksi saat kita harus mengejar jadwal
keberangkatan kereta yang berhimpitan dengan jadwal kedatangan
pesawat. Jika kita tak ingin berjalan kaki terlalu jauh dan mendorongdorong bagasi yang berat dengan tarif relatif mahal (50€), ada shuttle
bus bagi kita yang memiliki waktu luang (tidak terburu-buru) dengan
harga tiket yang relatif terjangkau (10€), atau metro (kereta bawah
tanah) yang dikenal sangat efisien, bebas macet, dan relatif murah
(1,7€). Transportasi manapun yang kita pilih, petugasnya akan melayani
dengan ramah. Kalaupun kita kebetulan bertemu petugas atau supir
taksi yang sedikit bisa berbahasa Inggris, cukup tunjukkan tiket kereta
Anda dan mereka tak akan memutar-mutar kota untuk sampai ke
stasiun tujuan. Singkat kata, begitu kereta berjalan, kesan yang muncul
kemudian adalah meskipun Perancis yang bagi sebagian orang dianggap
negara tua (dilihat dari distribusi usia penduduk dan kota-kota yang di
didominasi bangunan tua), namun di sisi lain negara ini menunjukkan
kepemimpinannya dalam pengembangan teknologi kereta cepat yang
melaju lebih senyap dengan layanan akses broadband sepanjang
perjalanan.

Bagi sebagian orang asing, menguasai bahasa Perancis adalah
sesuatu yang sulit. Ada yang mengatakan hal ini karena apa yang ditulis

seringkali berbeda dengan apa yang diucapkan. Namun, sebagian
berpendapat Anda seharusnya menulis kata-kata dengan cara penulisan
terbaik dan mengucapkannya dengan pengucapan tercantik. Tak
mengherankan, seorang teman memerlukan waktu empat tahun untuk
dapat berbicara dengan lancar seperti native. Untuk persiapan studi,
banyak mahasiswa Indonesia yang memerlukan 1-2 semester sebelum
berangkat melanjutkan studi ke Perancis. Orang Perancis juga sangat
terkenal menjunjung tinggi bahasanya yang bagi sebagian orang asing
sulit untuk memahami pola kalimatnya, tetapi kabar baiknya adalah
30% kata-kata bahasa Inggris adalah serapan dari bahasa Perancis (dan
banyak kemiripan dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia seperti
kado, plafon, tante, sore, dll). Dengan kata lain banyak kata-kata Perancis
yang cukup familiar bagi kita.

Sistem pendidikan di Perancis secara umum dibagi tiga
tingkatan yaitu pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, sama seperti
di negara lain. Sekolah berlaku wajib bagi anak berumur enam tahun ke
atas meskipun banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya lebih dini
ke maternelle (TK –red) untuk mengajari keterampilan dasar sebelum
masuk jenjang pendidikan wajib. Karena sifatnya wajib, pemerintah
bertanggung jawab penuh terhadap biaya pendidikan, termasuk status
dan kompensasi bagi pengajar. Motto liberté, égalité, fraternité sangat
tampak dalam banyak aspek. Misalnya, pendidikan adalah hak bagi
setiap warga negara, oleh karena itu semua anak umur sekolah berhak
mendapatkan pendidikan dengan segala fasilitasnya tanpa seleksi masuk,
uang gedung atau uang pendaftaran bagi calon siswa. Tidak ada kategori
sekolah favorit atau non favorit karena semua sekolah mempunyai
standar kualitas yang sama, sehingga siswa disarankan untuk masuk ke
sekolah di daerah setempat (kecamatan) sesuai alamat tempat tinggal
masing-masing. Meskipun jarang terjadi, calon siswa bisa ditolak jika
memang kapasitas kelas di sekolah yang paling dekat dengan rumah
sudah terpenuhi dan ia akan direkomendasikan ke sekolah kedua yang
terdekat, begitu seterusnya. Yang membuat anak-anak senang adalah
hari sekolah hanya Senin, Selasa, Kamis dan Jumat serta tidak ada ujian
naik kelas karena proses evaluasi dan feedback tertulis termasuk kepada
orang tua siswa dilakukan secara kontinu dengan interval satu bulan
sekali. Dari pengalaman kami sebagai orang tua yang menemani anak
belajar di tingkat pendidikan dasar, beban belajar siswa di Perancis lebih
ringan dibandingkan dengan beban belajar siswa di Indonesia. Misalnya,
anak kelas tiga SD akan mendapat tujuh pelajaran dengan fokus pada
kemampuan berhitung dan berbahasa. Guru memberi pekerjaan rumah
dalam jumlah sedikit namun kontinu, satu soal satu hari, sehingga siswa
tetap belajar tanpa merasa terbebani dengan tugas yang banyak.

Biaya sekolah, terutama SD hingga SMA, yang ditanggung
orang tua siswa di Perancis sangat murah karena sebagian besar biayanya
ditanggung pemerintah. Tidak ada biaya registrasi per semester atau
biaya buku. Jika sekolah mengadakan trip, siswa hanya membayar 10-20%
dan sisanya disubsidi pemerintah. Demikian juga, kantin sekolah yang
menyediakan makan siang bagi siswa tidak mewajibkan pembayaran
makan siang (déjeuner) pada saat itu. Meskipun siswa dapat memilih
untuk makan siang di rumah atau di kantin sekolah, namun sebagian
besar memilih makan siang di sekolah yang harganya yang sangat murah
dan pembayarannya dilakukan secara periodik melalui departemen
keuangan dan nilainya disesuaikan dengan tingkat penghasilan keluarga.
Untuk menu yang sama, keluarga yang berpenghasilan rendah bisa
dikenakan tarif seperlima dari tarif keluarga berpenghasilan tinggi.

Ini juga menjadi semacam subsidi silang tak langsung antarsiswa dari
keluarga dengan beragam tingkat penghasilan. Sekolah menyediakan
staf khusus untuk menemani para siswa yang datang lebih awal ataupun
pulang lebih akhir dari jam sekolah tanpa dipungut biaya. Fasilitas ini
sangat menguntungkan bagi para orang tua siswa yang bekerja atau
tidak dapat menjemput anaknya tepat waktu.

Akses pendidikan yang murah dan mudah juga dapat kita
temui di level pendidikan tinggi seperti tak ada ujian/seleksi masuk,
biaya pendaftaran atau biaya masuk (untuk S1). Sebagai informasi,
meskipun terdapat PTS di Perancis yang mendapat sebagian besar
sumber dana dari industri atau yayasan dan menunjukkan peningkatan
jumlah mahasiswa, PTN masih menjadi pilihan utama bagi hampir
semua siswa. Biaya SPP, misalnya, berkisar antara 300-700€ per tahun
termasuk biaya asuransi kesehatan. Dengan kata lain, mahasiswa
menanggung tuition fee sepersepuluh sampai seperduapuluh lebih
murah dibanding pendidikan di negara maju yang lain! Bagi sebagian
kritikus, pendidikan gratis dan tanpa seleksi masuk sering dikaitkan
dengan menurunnya motivasi belajar dan kurang bersaingnya
lulusan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa selain seiring dengan
semangat égalité dan fraternité, sistem ini diyakini mampu memberi
hak pendidikan bagi semua dan dapat menjadi salah satu usaha untuk
memutus rantai kemiskinan. Bagi mahasiswa dari keluarga tak mampu,
tersedia beasiswa untuk biaya hidup bagi yang memenuhi syarat dan
bahkan subsidi biaya tinggal terutama di apartemen yang dikelola badan
pemerintah. Beasiswa ini umumnya berlaku untuk semua mahasiswa
tanpa membedakan status warga negaranya. Besar sekali anggaran dari
pemerintah untuk pendidikan! Dengan anggaran pendidikan sekitar 60€
miliar per tahun (atau sekitar 5,6% dari PDB dibandingkan 3 sampai
3,8% di Indonesia) wajar saja dosen/peneliti di PTN Perancis mendapat
kompensasi antara 2.300€ – 6.000€ per bulan (tergantung pangkat/
golongan) sementara kompensasi guru sekolah dasar bahkan dapat
melebihi kompensasi dosen PTN tersebut.

Kesan égalité juga dapat dilihat dari keragaman latar belakang
etnik maupun agama di sekolah dan di berbagai institusi. Meskipun
demikian, data mengenai agama dan etnik memang tidak diperbolehkan
ditanyakan dalam bentuk apapun sejak 1870 (La Troisième République).
Yang menarik, sejak Maret 2004, simbol dan pengajaran agama di
sekolah tidak diperbolehkan dengan tujuan untuk mencegah adanya
ajakan untuk pindah agama dan untuk menguatkan toleransi antaretnik.
Sehingga, di sekolah yang ada bukan pelajaran agama tetapi L’éducation
civique (mirip PPKN) yang mengajarkan la République, fungsi dan
organisasi republik/negara, hak dan kewajiban warga negara serta
falsafah liberté, égalité, fraternité. Di sisi lain, menurut sebagian politikus
(libertarian) dan agamawan, pelarangan itu justru bertentangan dengan
prinsip liberté yaitu bahwa hukum seharusnya tidak menghalangi
kebebasan warga negara untuk menjalankan ajaran agamanya.

Sebagai salah satu negara yang menjunjung tinggi budaya
dan nilai-nilai kependidikan, Perancis telah membuktikan kemampuan
dalam menyediakan layanan publik (pendidikan) yang ramah bagi setiap
orang tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Saya bersyukur telah
mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu peserta pendidikan
tinggi di Perancis. Oleh karena itu bagi rekan-rekan seperjuangan, mari
berusaha memanfaatkan kesempatan untuk belajar dan memberi
sedikit kontribusi bagi negeri kita. Hal penting yang harus dimiliki adalah
niat, tabah & kerja keras. Vouloir, c’est pouvoir! (à bientôt)

35

STUDENT CORNER

Mathias
Mahendra

Mahasiswa Berjiwa
Bisnis Sejati

S

udah banyak mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang
mengikutsertakan proposalnya dalam Program Kreativitas
Mahasiswa, beberapa di antaranya berhasil membawa pulang
medali. Mathias Mahendra (Manajemen 2009) menjadi salah
satunya. Ia dan timnya yang mengangkat bisnis Kopi Bekatul (Ricebran
Coffee) berhasil menggondol medali emas pada PIMNAS 2011 di
Makassar.
Perjalanan Menuju Medali Emas

Hendra, nama sapaannya, telah dua kali mengikuti PKM
Kewirausahaan. Ia pertama kali diajak oleh kawannya untuk bergabung
dalam tim yang mengangkat tema kaos kesehatan, pada PKM tahun
2009. “Waktu itu saya belum niat karena nggak tahu tentang PKM,”
ujarnya sambil tertawa. Namun, Hendra dan tim berhasil masuk final
PIMNAS meskipun belum mendapat mendali.

Kekalahan pada PIMNAS tersebut ingin dibayarnya dengan
mengikuti PKM pada tahun selanjutnya. Kali ini ia bersama empat orang
dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) mengajukan tema Kopi Bekatul.
Hendra sendiri bertindak sebagai pihak manajemen yang mengurus
perizinan, manajemen keuangan, peralatan, pelaporan, karyawan, dan
sebagainya.

Tema ini diangkat karena bekatul dianggap memiliki potensi,
meskipun orang mengasumsikannya sebagai sampah ataupun pakan
ternak. Namun, menurut hasil penelitian, bekatul ternyata mengandung
vitamin dan juga zat penetralisir kopi. “Kan kopi itu memicu jantung dan
penyakit-penyakit lainnya. Nah, racun itu di kopi, madu itu di bekatul,”
terang Hendra. Dari sinilah ide Ricebran Coffee berasal.

36

Keunikan produk dan rasa penasaran konsumenlah yang
membuat produk ini dikenal luas. Ini pula yang membawa tim Hendra
diliput media-media nasional. Produk mereka pernah diliput oleh Trans
7 dan TV One, sebagai sebuah berita eksklusif selama 30 menit, serta
media online seperti Okezone dan Detik.com. Pada akhirnya, mereka
dapat meraih medali emas di PIMNAS 2011 karena menang dari segi
marketing yang sudah mencapai skala nasional dan manajemen yang
bagus.

Hendra berpendapat, PKM merupakan program yang bagus
dan mendidik jiwa kewirausahaan mahasiswa. Setiap tahunnya,
ratusan proposal masuk dan diseleksi. Proposal yang lolos tahapan
prafinal –dengan persetujuan DIKTI– dan masuk final/presentasi akan
mendapatkan dana untuk menjalankan ide tersebut. Dana stimulan ini
mendidik mahasiswa untuk bertanggung jawab melaksanakan apa yang
sudah direncanakannya. “Masa sudah dikasih uang, malah dikonsumsi
(sendiri). Program ini mendorong orang untuk berusaha dan mencoba,”
ujarnya. Praktiknya, menurut Hendra, banyak pula bisnis hasil mengikuti
PKM yang memiliki omset hingga ratusan juta.
Banting Stir

Siapa sangka, Hendra yang dikenal cerdas dalam bidang
manajemen ini dulunya berjuang di jalan sains. Sejak SD hingga
SMA, ia selalu terlibat dalam kompetisi berbau sains. Ia pun pernah
memenangkan medali olimpiade saat SMP dan SMA. Bahkan, ia telah
diterima di jurusan Matematika UGM melalui PMDK tahun 2008. Hendra
sendiri bahkan mengaku tidak terlalu menggemari pelajaran berbau
sosial. “Dulu kalau remidi pasti remidi IPS atau PPKN,” tukasnya.

Baru kemudian saat semester pertama berkuliah, kesadaran
akan cintanya pada dunia bisnis membawa Hendra ke FEB UGM.
Suatu hari di tahun pertama itu, Hendra yang sedang memberikan les
sains pada adik kelas, ditanya seputar informasi rumah yang sedang
dijual. Ia memberikan informasi tersebut dan tanpa Hendra sadari,
ia telah menjadi makelar penjualan rumah itu. Ia pun terkejut ketika
mendapatkan komisi. Dari situlah, ia berminat pada dunia bisnis dan
memutuskan untuk pindah ke jurusan Manajemen.

Hendra pun menemukan bahwa passion-nya ada di jurusan
ini. Sejak itu, ia mendalami ilmu manajemen sembari mencoba-coba
beberapa bisnis. “Makelar, jual beli mobil, saham, jual beli barang antik,
sudah pernah saya coba semua. Sekarang yang masih adalah bisnis
deterjen dan perkebunan,” terangnya. Uang yang sudah terkumpul dari
bisnis-bisnis yang dijalaninya, dibelikan kebun, hingga sekarang ia sudah
memperoleh sepertiga hektar.

Ia sendiri bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang juga
seorang dosen atau guru. “Kalau cita-cita kan harus menantang, yaitu
pengusaha. Kalau dosen atau guru, jika ada peluang ya tidak apa-apa,
untuk pengabdian karena saya suka mengajar,” ungkap Hendra yang
ternyata orang tua dan kakek neneknya adalah guru.

Ilmu manajemen tidak hanya dipraktikkan di bisnis, tetapi
juga dalam kehidupan sehari-hari, yaitu manajemen waktu. Ia belajar
memilah dan memilih kegiatannya. Dari manajemen waktu itu, Hendra
berpendapat, ada pelajaran yang didapatkannya. “Dunia boleh bulat,
tetapi kehidupan pasti piramida: yang sukses berada di puncak piramida.
Menjadi yang sedikit berarti menjadi yang unik dan untuk sukses itu
harus melakukan hal yang berbeda dari biasanya. Menjadi yang sedikit
itu juga memiliki competitive advantage tersendiri,” tutup Hendra.
[prima]

PARTNERSHIP

Kerja Sama Baru dengan Saxion
School of Marketing & International
Management (MIM) Netherlands

I

nternational Undergraduate Program (IUP) FEB UGM kembali
menerima pinangan kerja sama dari universitas luar negeri. Kali
ini, Saxion School of Marketing & International Management
(MIM) mengajak FEB UGM untuk bekerja sama dalam pertukaran
mahasiswa, pertukaran staf, riset bersama, dan double degree.

Penandatanganan MoU Double Degree dilakukan terpisah
(23/5) oleh Dekan Saxion School of Marketing & International
Management, H.G Eijsink MA kemudian (13/6) oleh Dekan Fakultas
Ekonomika dan Bisnis UGM, Prof. Marwan Asri, MBA, Ph.D. Selain itu,
penandatanganan MoU pertukaran mahasiswa, staf, dan riset bersama
juga dilakukan secara terpisah oleh pihak Saxion School of Marketing &
International Management (4/7) dan oleh FEB UGM (25/7).

Saxion School of Marketing & International Management
(MIM) merupakan bagian dari Saxion University, salah satu universitas
terbesar di Belanda dengan kurang lebih 22.000 mahasiswa, 2.000
diantaranya adalah mahasiswa MIM. Suasana multikultur baik karyawan
maupun mahasiswa dan sistem belajar dalam kelas kecil memungkinkan
masing–masing mahasiswa untuk berbaur dan merasakan atmosfer
bisnis internasional pada saat kuliah. Diharapkan perjanjian ini akan
semakin memfasilitasi mahasiswa FEB UGM untuk lebih mengeksplorasi
dan menambah pengalaman belajar di lingkungan internasional.[dp]

37

FACILITIES

Auditorium
Pertamina Tower
Ruang Megah
Bernuansa Merah

Panggung yang ditata apik dengan
memanfaatkan tempat yang ada
beserta layar LCD panel yang
menawarkan kemewahan dalam
balutan suasana warna merah.
Itulah kesan yang tertangkap saat
Tim EB News mencoba menikmati
fasilitas baru FEB UGM, Auditorium
Pertamina Tower.

38

K

arpet yang tebal tampak terasa kuat melapisi seluruh lantai
auditorium. Ruang berkapasitas 125 orang ini dibentuk
menyerupai ruang bioskop dengan berbagai fasilitas
megahnya: kursi merah yang disusun berundak-undak, atap
dan dinding yang berlapis merah, berbagai peralatan sound system
yang tidak sembarangan, pintu kayu berat berlapis untuk meredam
suara, sampai pada panggung kecil dan layar LCD yang ada. Kualitas
auditorium ini sudah pantas disejajarkan dengan bioskop yang ada di
kota-kota besar, kecuali ukurannya yang lebih kecil tentunya.

Auditorium ini memang dirancang untuk bisa
dipergunakan dalam berbagai acara, mulai dari public lecturing
dengan menghadirkan dosen tamu maupun praktisi ternama sampai
pada pertunjukan seni dari para mahasiswa FEB UGM, seperti
angklung, tari Saman, maupun seni musik modern. Penyelesaian
pembangunan interior ruang yang terletak di lantai enam Pertamina
Tower ini tidak terlepas dari donasi Yayasan Djarum Bakti Pendidikan
yang memiliki perhatian terhadap bakti pendidikan. Diharapkan
ruangan ini nantinya bisa mengoptimalkan berbagai kegiatan
akademik maupun nonakademik yang tentu berguna bagi para
civitas akademika FEB UGM. [dwi andi]

UNIT NEWS

Journal of Indonesian
Economy and Business
Seminar JIEB’s Best Paper Award 2011

P

ada hari Sabtu (14/1) lalu, Journal of Indonesian Economy and
Business menyelenggarakan Seminar Best Paper Award 2011.
Acara ini berupa presentasi lima nominasi paper yang menjadi
pemenang JIEB’s Call for Paper 2011.

Acara bergengsi yang digelar di Faculty Meeting Room Lantai 5
MM UGM ini dimulai pada pukul 08.45 WIB dengan sambutan dari Prof.
Wihana Kirana Jaya, Ph.D. selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan,
Alumni, Kerja Sama, dan Pengembangan Usaha. Selanjutnya, Editor in
Chief JIEB, Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D. juga memberikan sepatah
dua patah kata sambutan beserta penjelasan tentang kegiatan seminar
dalam Call for Paper 2011. Seminar ini kemudian dibuka secara resmi
oleh Didi Achjari, Ph.D., Wakil Rektor Bidang Sistem Informasi dan
Keuangan UGM, yang juga anggota editorial board JIEB.

Setelah 15 menit coffee break, Sudiyanti, S.E., M.Sc.−yang
menjadi moderator pada acara tersebut− mengajak peserta menyimak
presentasi para nominasi pemenang Call for Paper 2011. Dari lima
nominee, hanya empat yang dapat hadir untuk mempresentasikan hasil
penelitiannya. Mereka adalah M. Firdaus (Institut Pertanian Bogor),
Syarwani Canon (Universitas Negeri Gorontalo), Amri Anjas (Indonesian
Stock Exchange), dan Harijono (Universitas Kristen Duta Wacana
Salatiga). Dalam urutan tersebut, para nominasi melakukan presentasi
selama setengah jam.

Sesudah setengah jam presentasi, masing-masing presenter
mendapatkan pertanyaan dan masukan dari peserta yang hadir. Suasana
pun menjadi hangat karena diskusi yang terjadi. Setelah presentasi
dan diskusi selesai, Prof. Suwardjono, Ph.D. selaku editorial board JIEB

mengumumkan pemenang. Berikut urutannya:
• Juara 2: Amri Anjas (The Transfer Problem in Indonesia and Policy
Responses)
• Juara 3: Harijono (Does Legal Transplantation Work? The Case of
Indonesian Corporate Governance Reforms)
• Juara harapan 1: M. Firdaus, dkk. (Exploring the Indonesian
Economic Landscape and Structural Change)
• Juara harapan 2: M. Muflih (Ketidakmungkinan Penerapan Sistem
Mata Uang Dînâr dan Dirham pada Dunia Ekonomi Modern)
• Juara harapan 3: Syarwani Canon (Matriks Indeks Variasi Pendapatan
Tenaga Kerja dan Aplikasinya di Indonesia)

Pada Best Paper Award kali ini, tidak ada yang menjadi
juara satu karena beberapa pertimbangan dari editorial board JIEB, di
antaranya adalah tidak ada yang benar-benar sempurna sesuai dengan
ketentuan yang diberikan oleh JIEB untuk Call for Paper 2011.

Call for Paper 2011 sendiri telah dilaksanakan pada SeptemberNovember 2011 dengan mengangkat tema “Interconectedness of the
World Economy”. Dalam kurun waktu tiga bulan tersebut, terdapat 35
hasil penelitian yang diikutkan oleh sivitas akademika dari berbagai
institusi di Indonesia maupun luar negeri. Setelah melalui proses blind
review yang ketat oleh para editorial board JIEB, terpilihlah lima nominasi
yang masuk ke Seminar Best Paper Award 2011.

Acara Best Paper Award ini diakhiri dengan penyerahan hadiah
oleh editorial board JIEB kepada masing-masing pemenang dan ditutup
secara resmi oleh Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D. [JIEB]

39

UNIT NEWS

Penelitian dan Pelatihan
Ekonomika dan Bisnis

Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis (P2EB) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas
Gadjah Mada telah melaksanakan beberapa kegiatan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.
Kegiatan-kegiatan tersebut mencakup dalam bidang pelatihan, dan workshop.

Pelatihan “Tata Cara Pemantauan dan
Evaluasi Pinjaman dan Hibah
Kepada Pemerintah”

D

alam rangka usaha “Memajukan kesejahteraan umum”
sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan Undang-undang
Dasar 1945 alinea keempat, investasi terus digalakkan oleh
pemerintah baik di sektor industri maupun jasa. Hal tersebut
tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di lain pihak, tabungan
pemerintah atau surplus anggaran masih belum mampu menutup
seluruh dana yang diperlukan untuk investasi. Kekurangan modal yang
dimiliki pemerintah untuk membiayai pelaksanaan pembangunan
menyebabkan pemerintah berusaha untuk mendapatkan dana dari luar
negeri baik berupa hibah maupun pinjaman.

Sesuai kebijakan pemerintah, pinjaman atau hibah yang
diterima tidak diperkenankan mengandung unsur politik, bersifat
lunak dan masih dalam kesanggupan negara untuk membayar kembali.
Penggunaannya diutamakan untuk proyek-proyek vital yang menyentuh
kepentingan masyarakat luas, produktif serta berorientasi pada upaya
peningkatan ekspor. Saat ini, pinjaman yang bersifat lunak sulit sekali
diperoleh dan tidak setiap perencanaan proyek dapat dibiayai dengan
pinjaman lunak. Oleh sebab itu, pemerintah terpaksa mengambil
pinjaman komersial dengan bunga yang cukup tinggi dan masa
pengembalian yang relatif singkat.

Permasalahan lain yang sering ditemui dalam pelaksanaan
pengelolaan pinjaman dan hibah kepada pemerintah adalah relatif
rendahnya daya serap dana pinjaman di awal pelaksanaan dan akan
melonjak menjelang berakhirnya suatu pinjaman atau hibah tersebut.
Hal ini berdampak pada potensi adanya perpanjangan loan atau grant
closing date sehingga dari segi biaya (cost of borrowing) akan terjadi
peningkatan. Di samping keterlambatan penyelesaian kegiatan juga
terdapat opportunity lost dalam peningkatan pendapatan nasional.
Apabila permasalahan tersebut tidak segera ditangani secara sistematis
akan menjadi hambatan tersendiri yang berakibat pada inefisiensi dan
inefektivitas suatu pinjaman atau hibah luar negeri.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan
(DJPU Kemenkeu) bekerja sama dengan Penelitian dan Pelatihan
Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas,
Gadjah Mada (P2EB FEB UGM) menyelenggarakan pelatihan “Tata Cara
Pemantauan dan Evaluasi Pinjaman dan Hibah kepada Pemerintah”
(21/12-23/12) bertempat di Kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis

40

Universitas Gadjah Mada. Pelatihan yang diikuti oleh 20 orang pegawai
DJPU Kementerian Keuangan ini bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan peserta terkait tata cara pemantauan
dan evaluasi atas pinjaman dan hibah kepada pemerintah sehingga
meningkatkan pemahaman, pengertian dan kemampuan peserta dalam
persiapan, pembuatan dan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi atas
pengelolaan dan pemanfaatan hibah dan pinjaman oleh aparatur negara.

Pelatihan tersebut dilaksanakan dalam dua metode yang
meliputi participatory training dan consultative group dynamic.
Participatory training merupakan metode pelatihan yang menekankan
pada keikutsertaan dan keterlibatan penuh setiap peserta dalam
pencapaian tujuan pelatihan. Sedangkan consultative group dynamic
merupakan metode untuk menciptakan suasana pelatihan yang
dinamis dan berorientasi pada upaya saling mendukung antara sesama
peserta dan antara peserta dengan instruktur dalam rangka penguatan
konseptual dan peningkatan pemahaman kontekstual berlandaskan
semangat konsultatif untuk saling sharing pendapat berkaitan dengan
berbagai kajian atas isu-isu nyata yang dihadapi DJPU saat ini dan di
masa depan.

Dengan dilaksanakannya pelatihan tersebut diharapkan
para peserta yang merupakan penentu kebijakan negara akan dapat
lebih bijaksana dalam menentukan nasib negara demi terwujudnya
kesejahteraan umum.

Kursus Pimpinan Madya
Perusahaan Umum Pegadaian

P

erusahaan Umum (Perum) Pegadaian bekerja sama dengan
Penelitian Pelatihan Ekonomika dan Bisnis Fakultas Ekonomika
dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (P2EB FEB UGM)
menyelenggarakan Kursus Pimpinan Madya (Suspimdya)
Pegadaian angkatan I tahun 2012. Suspimdya merupakan kegiatan
tahunan yang diselenggarakan oleh Perum Pegadaian sebagai salah
satu syarat kenaikan jabatan bagi pegawai manajerial Perum Pegadaian.
Suspimdya bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan
tentang kepemimpinan tingkat lanjutan bagi para calon pimpinan Perum
Pegadaian. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kampus FEB UGM selama
8 Februari hingga 6 Maret 2012 dan diikuti oleh 25 peserta dari kantor
Pegadaian di seluruh Indonesia.

Pembukaan Suspimdya 2012 dilaksanakan oleh Dekan FEB
UGM Prof. Marwan Asri, M.B.A., Ph.D. (8/6) di Ruang Sidang Kertanegara
FEB UGM bersama dengan Direktur Utama Perum Pegadaian, Bapak
Suwhono; Ketua Panitia Suspimdya 2012, Prof. Dr. R.A Supriyono; dan
Deputi Pelatihan P2EB, Prof. Indra Bastian. Dalam pembukaan tersebut,
Bapak Suwhono berpesan kepada para peserta untuk mengikuti kegiatan
Suspimdya dengan sungguh-sungguh karena Suspimdya merupakan
kesempatan emas mendulang ilmu sebagai bekal kepemimpinan di masa
datang.

Mayoritas kegiatan Suspimdya dilaksanakan di dalam kelas
dengan materi yang disampaikan oleh para dosen dari FEB UGM
yang kompeten di bidangnya. Materi yang dipelajari mencangkup
organizational, championship, intrapreneurship, dan entrepreneurship.
Kegiatan belajar di dalam kelas dilaksanakan enam hari dalam seminggu.
Untuk mengurangi kebosanan, panitia Suspimdya juga mengadakan
kegiatan belajar di luar kelas yang dilaksanakan di berbagai tempat
menarik di Yogyakarta.

Kegiatan belajar di luar kelas dilaksanakan setiap hari Minggu
pada periode pelaksanaan Suspimdya. Kegiatan pada Minggu pertama
dilaksanakan dengan sepeda gembira berkeliling kota Yogyakarta.
Kegiatan diawali dari Hotel Sahid menuju Beteng Vredeburg di

Malioboro, Keraton Yogyakarta, dan berakhir di Istana Air Tamansari.
Kegiatan tersebut terbilang unik karena peserta diwajibkan memakai
baju adat Jawa dan mengendarai sepeda onta yang disediakan oleh
panitia. Dengan diwajibkannya para peserta mengenakan baju adat Jawa,
diharapkan para peserta akan lebih mengenal dan mencintai budaya
Indonesia. Selain kegiatan mengunjungi berbagai tempat menarik,
para peserta juga diajak untuk mempelajari kegiatan tradisional seperti
membatik. Kegiatan belajar luar kelas di minggu kedua dilaksanakan di
desa wisata Kebon Agung Imogiri Bantul. Di desa wisata tersebut, para
peserta diajak untuk menjalani kegiatan tradisional pedesaan seperti
menggarap sawah, memanen padi dan menangkap ikan dengan tangan
kosong. Para peserta menikmati kegiatan tersebut walaupun harus
dilaksanakan dengan berkotor-kotoran.

Kegiatan Suspimdya Pegadaian ini diharapkan tidak hanya
dapat menyempurnakan kapasitas dan kompetensi kepemimpinan
peserta pada bidang penugasan jabatan saat ini, tetapi juga sebagai
sarana untuk mendukung proses kapitalisasi dan investasi SDM
Pegadaian dalam rangka menyiapkan calon pimpinan puncak Perum
Pegadaian di masa depan.

41

WHO’S WHO

Prasetyo Supono

Menuntut Ilmu Adalah Kehidupan:
“Life Begins at 70”

Selalu ingin memperbaiki diri dengan memperbarui apa yang pernah dipelajari
dan mempelajari hal-hal baru dengan berbagai cara bahkan saat usianya tak
muda lagi, itulah pedoman Prasetyo Supono yang dijulukinya, “Life Begins at
70”.
ajah yang berseri-seri dalam usia yang tak muda lagi, Prasetyo
menceritakan dengan semangat yang membara tentang
gagasannya tersebut. “(Life Begins at 70) itu karena pada usia
70-an saya baru akan bisa masuk perpustakaan New York
University (NYU) via cucu saya yang baru saja diterima di sana memakai IDnya,” ujarnya. Dosen Jurusan Manajemen FEB UGM ini selalu memperhatikan
tren yang ada. Walaupun usianya sudah berkepala tujuh, dia masih membaca
berbagai buku via internet ataupun fasilitas kindle (e-book). Dia selalu berprinsip
bahwa belajar tak mengenal umur. Begitu pula dengan sikapnya yang tak malu
bertanya pada rekan dosen yang lebih muda.

Pengalaman mengajar selama 46 tahun telah memberikan berbagai
pengalaman dalam penilaian sistem pengajaran yang baik. Dulu, sistem
pengajaran yang dipergunakan adalah sistem pengajaran bebas di mana absensi
tidak ada bagi mahasiswa dalam sistem perkuliahan tahunan. “Hanya orang
yang super saja yang dapat mengatasi sistem pengajaran bebas,” tambahnya.

Baginya, sistem pengajaran yang baik adalah sistem yang memberi
kesempatan kepada mahasiswa untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas, selain
juga kedisiplinan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan
tugas-tugas yang diberikan. Kelemahan bahan pembelajaran yang hanya
bersifat teoretis harus dilengkapi dengan usaha untuk mengundang sejumlah
pembicara tamu yang menggantikan jam-jam kuliah agar mahasiswa mendapat
pengalaman (insight) serta wawasan lebih luas dari para praktisi bisnis.
Prasetyo menyoroti juga waktu perkuliahan yang menurutnya terlampau
panjang. Seharusnya, sesi perkuliahan yang ideal hanya satu jam saja untuk
mengoptimalkan daya tangkap mahasiswa yang terbatas.

Melihat persaingan global yang semakin ketat, mahasiswa saat ini
menurut Prasetyo harus bekerja keras dalam meningkatkan performa akademik
serta keterampilan-keterampilan teknis yang diperlukan. Penguasaan bahasa
Inggris sebagai bahasa asing yang banyak dipergunakan serta bahasa-bahasa
asing lainnya diperlukan pula sebagai modal untuk melanjutkan sekolah ke luar
negeri dan juga memasuki berbagai bidang pekerjaan, termasuk di perusahaan
mulitinasional.

Pengajar yang memperoleh gelar doktoralnya di Tenessee University,
Amerika Serikat ini mengemban amanah sebagai pengajar dengan sikap
profesional. Semua mata kuliah yang diberikan padanya akan diterimanya
dengan senang hati, meskipun dia sendiri merasa tidak cocok untuk mengajar
mata kuliah tersebut. Hal inilah yang diharapkannya terjadi pula pada dosendosen lainnya –terutama yang lebih muda– di FEB UGM. “Bagi mereka
yang tough grader, rubahlah kebiasaan itu menjadi lenient grader dengan
menganggap bahwa tiap kelas yang diasuh berbeda-beda prestasinya. Dosen
harus memiliki kesan yang baik karena dosen tidak hanya dinilai oleh prestasi
akademiknya saja, tetapi juga oleh koleganya,” pesannya. [dwi andi]

W

42

AROUND BULAKSUMUR

Integrasi Gama Card
dengan Trans Jogja
Konsistensi UGM
Mendukung
Transportasi Massal

U

ntuk mewujudkan kampus educopolis, UGM senantiasa
konsisten dalam mendukung pengembangan transportasi
publik. Setelah mengeluarkan kebijakan KIK, sepeda kampus,
dan pelarangan penggunaan kendaraan bermotor bagi
mahasiswa baru, kini UGM menawarkan sebuah alternatif baru dengan
menggandeng PT Jogja Tugu Trans selaku pengelola Trans Jogja. Kerja
sama ini berupa integrasi antara Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) UGM
dengan kartu tiket Trans Jogja. Cukup membayar Rp100.000,00 per
bulan saja, kini mahasiswa dapat mengaktifkan KTM sekaligus menikmati
layanan Trans Jogja. Mahasiswa bisa menggunakan layanan Trans Jogja
di semua trayek cukup dengan membawa KTM atau Gama Card-nya.

Integrasi ini diresmikan (29/11) lalu di halte Trans Jogja Sub
Terminal Codong Catur oleh Wakil Menteri Perhubungan, Bambang
Susantono. Turut hadir dalam peresmian, Rektor UGM, Prof. Sudjarwadi,
Ph.D, Ketua Dishubkominfo DIY, Tjipto Hariwibowo, dan Ketua Tim
Penyiapan Integrasi KTM UGM dan Trans Jogja, Prof. Dr. Ahmad
Munawwar. Acara peresmian dilakukan dengan uji coba penggunaan
KTM oleh Wamenhub dari halte Sub Terminal Condong Catur menuju
Halte Kopma UGM, dilanjutkan dengan naik sepeda kampus dari
Gelanggang menuju Rektorat.

Wamenhub mengatakan,”Yang telah dilakukan UGM adalah
think big, act small but significant. Hal ini dapat memberi pencerahan
bagi sistem transportasi massal kita.” Meski masih dalam lingkup internal
UGM, kebijakan ini diharapkan dapat berdampak luas bagi masyarakat
DIY dan juga nasional. Menurut Bambang, langkah ini merupakan
sebuah pembaruan dalam upaya menarik masyarakat menggunakan
transportasi massal. ”Program UGM ini akan disempurnakan di tingkat
nasional untuk direplikasikan di kota-kota lain,” ujarnya.

Prof. Sudjarwadi selaku Rektor UGM menambahkan,“Dengan
berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi tentu dapat mengurangi
polusi udara, terutama di kawasan UGM.” Sudjarwadi berharap ada 5%
dari sekitar 35.000 orang mahasiswa UGM terdaftar yang menggunakan
Gama Card tersebut. Kikin Safira, mahasiswa FEB UGM jurusan
Akuntansi yang setiap harinya selalu menggunakan Trans Jogja sebagai
alat transportasi mengaku,”Saya sangat mendukung program ini. Selain
praktis karena menggunakan Gama Card, tarif bulanan yang ditawarkan
juga jauh lebih murah dibanding tiket biasa dengan tarif Rp3000,00
sekali naik.”

Ahmad mengungkapkan, integrasi ini telah dipersiapkan
sejak pertengahan tahun 2011 bekerja sama dengan Gama Techno
sebagai penyedia teknologi smart card dengan dana oleh universitas dan
Dikti. Demi kelancaran dan terpenuhinya kebutuhan mahasiswa UGM
terhadap kendaraan umum, pihaknya berharap dilakukan penambahan
jumlah halte bus Trans Jogja untuk kawasan Jalan Kaliurang karena
kawasan ini paling padat oleh mobilitas mahasiswa. Dalam waktu dekat
juga akan diadakan sosialisasi yang cukup besar untuk menarik minat
mahasiswa mengaktifkan Gama Card-nya. Harapannya, program ini
dapat berkontribusi mewujudkan UGM sebagai kampus educopolis dan
juga secara luas mampu mengurangi polusi dan tingkat kemacetan di
Kota Yogyakarta. [rahmad]

43

PUBLICATION

PUBLIKASI TERPILIH DOSEN FEB UGM
Periode 2010-2012
Basu Swastha Dharmmesta,Prof. Dr., M.B.A.

(Co-Author )
The Evaluation of Customer Complaint Handling with Justice
Dimensions: Effect on Trust and Commitment With Prior
Experiences as Moderating Effect
Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business,
Maret 2011, Vol. 2, No. 11

Bayu Sutikno,M.S.M., Ph.D.

Elan Satriawan,Dr., M.Ec

(Co author with Scott Loveridge, Scott, Janet Bokemeier, Peter
Kakela (Michigan State University))
Are All Discount Rates Equal? A Note On Time Preferences
Across Public And Private Benefits In Michigan’s Upper
Peninsula

Journal of Regional Science, Volume 50, Issue 4, Pages 858-871,
October 2010

Towards consumer ethnocentrism and animosity in Indonesia

Indra Wijaya Kusuma,Prof. Dr., M.B.A.

Bernardinus Maria Purwanto,Dr., M.B.A

International Journal of Management and Business Research Vol. I,
No. 2, Spring 2011

International Journal of Management and Business Research, 1(1),
31-34

(Co-Author)
The Determinants of The Sports Team Sponsor’s Brand Equity
A Cross-Country Comparison in Asia
International Journal of Market Research Vol 53 Issue 6

Eddy Junarsin,S.E., M.B.A.

(Author)
The Characteristics of Mutual Fund Holdings and Performance
with Characteristic-Based Benchmarks
International Journal of Management, Vol 29 No. 4

(Author)
Performance Evaluation of Hedge Funds

Review of Financial and Accounting Studies Vol I No 2

(Co-Author)
Comparing Earnings Management in Germany and the USA.

Jogiyanto Hartono M.,Prof. Dr., M.B.A.

(Co-author with Lindrianasari)
Antecedent and Consequence Factors Of CEO Turnover in
Indonesia,
Management Research Review, Volume 35, Issue3/4, pp 206-224, 2012
No. 2, Spring 2011

(Co-author with Lindrianasari)
The Relationship Between Accounting Performance And CEO
Turnover: Evidence From Indonesia
Accounting and Taxation Journal Volume 3 Number 22011

Mahfud Sholihin,M.Acc., Ph.D.

European Journal of Social Sciences Vol 22 No 1

(Lead author with Richard Pike, Musa Mangena, Jing Li)
Goal-setting participation and goal commitment: Examining
the mediating roles of procedural fairness and interpersonal
trust in a UK financial services organization

(Author)
Revisiting Event Study Methodology: Stock Split
Announcements in the U.S. for the Period of 1925 - 2008

Sari Sitalaksmi,M.Mgt., Ph.D.

(Author)
Reexamining Fama And French’s Methodology: An Empirical
Study from 1963 to 2008

European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences,
Issues 30

Eko Suwardi,Dr., M.Sc.

(Author)
Empirical Analysis on Switch of Public Accounting Office after
the Obligation for Audit Rotation
Journal of International Management Studies, Vol. 11, Number 1

The British Accounting Review, Volume 43, Issue 2, June 2011, Pages
135-146

(Co-author with Ngan Collins, Alan Nankervis, and Malcolm
Warner)
Labour-management relationships in transitional economies:
Convergence or divergence in Vietnam and Indonesia?
Asia Pacific Business Review. Vol 17 No 3 July 2011, 361-377

Tri Widodo, M.Ec.,Dev., Ph.D.

(Author)
Market Dynamics in the EU, NAFTA, North East Asia and
ASEAN: the Method of Constant Market Shares (CMS)
Analysis?.

Journal of Economic Integration; Volume 25, 2011; pages 480-500

44

ADVERTORIAL

Bhima
Yudhistira
Adhinegara
Berkarya
Lewat Pena

Democracy and Student Movement in Malaysia”. Judul itu tertulis
besar-besar di kolom Opini harian nasional terkemuka, Jakarta
Post (3/1) lalu. Hal ini sungguh mencengangkan jika mengingat
kolom Opini terkenal sulit ditembus editorialnya bagi masyarakat
umum, apalagi mereka yang hanya berstatus mahasiswa tahun keempat
sebuah universitas. Sosok di balik tulisan tersebut ternyata adalah Bhima
Yudhistira Adhinegara, mahasiswa International Undergraduate Program
tahun angkatan 2008.

Bagi mahasiswa jurusan Manajemen ini, pemikiran mahasiswa
tidak bisa dikotak-kotakkan hanya berdasarkan jurusan saja. Tengok
saja tulisannya yang mulai membahas tentang ekonomi mikro berjudul
“Pembatasan BBM dan UMKM” yang dimuat di Seputar Indonesia (6/2)
sampai pada tulisan bertema keuangan yang diterbitkan di Republika
(19/1) berjudul “OJK: Mengawasi atau Merugikan Lembaga Keuangan”.
Kebiasaan menulis sejak dia masih menjadi mahasiswa tahun pertama
di buletin EQ (BPPM Equilibrium, pers mahasiswa FEB UGM –red)
meningkat menjadi tulisan opini di berbagai harian nasional. Motivasinya
bermacam-macam, mulai dari aktualisasi diri, koneksi dengan mahasiswa
dan pakar yang memiliki keingintahuan seputar masalah yang serupa,
sampai pada honor yang mungkin terkadang tak seberapa.

Menemukan Bhima di IUP FEB UGM serasa menemukan
oase di padang pasir tandus karena talenta uniknya. Dari sekian banyak
mahasiswa IUP yang memilih aktif dalam berbagai konferensi mahasiswa
internasional maupun kompetisi bisnis internasional, mahasiswa yang
pernah menjadi Ketua Komite Penyelenggaraan Konferensi Internasional
ASEAN Young Leaders “Towards ASEAN Community 2015” pada 2011
lalu ini lebih memilih aktif di organisasi kemahasiswaan, berbagai
penelitian bidang ekonomi, dan tentu saja menyalurkan pemikirannya
lewat tulisan. ”Kita menulis bukan karena the greatness of words, tapi
karena public need it,” jawabnya fasih saat ditanya mengapa dia sangat
gemar mengirimkan tulisan ke surat kabar. Selain itu, menulis di surat
kabar merupakan salah satu langkah awal dalam meraih mimpinya untuk
bekerja di World Bank.

Menulis tidak sekedar memberikan honor untuk Bhima,
tetapi juga banyak pelajaran dan koneksi. Sering beberapa orang
menghubunginya untuk membahas topik yang dia tulis secara lebih
mendalam. Pernah juga seorang dosen FEB UGM meneleponnya dan
menyanggah pendapatnya itu. “Kata beliau, “Itu (pembahasannya)
bukan seperti itu...”,” kata Bhima yang sebentar lagi akan menjadi Kepala
Pusat Studi Ekonomi Syariah di sebuah departemen, menirukan suara
dosen tersebut.

Bagi Bhima pribadi, masuk ke IUP memberikan nilai lebih
di dalam hobinya sebagai penulis. IUP memberikan banyak manfaat
padanya untuk selalu berpikir secara global dan selalu berpikir analitis.
Di dalam kelas, dia harus selalu memiliki stance dalam segala perdebatan
dengan berbagai argumentasi-argumentasi yang ada. Statusnya sebagai
mahasiswa program internasional juga merupakan poin lebih atas
beberapa kepercayaan yang diberikan padanya, salah satunya dari
surat kabar berbahasa internasional. Menurutnya, IUP memberikan
banyak manfaat terutama kemudahan mengakses berbagai data-data
riset internasional ataupun buku-buku ADB. “Sayang kalau ini tidak
dimanfaatkan,” tambahnya menutup wawancara lewat kawat sore itu.
[Dwi Andi]

45

EXCHANGE STUDENT’S COMMENT

Why you choose FEB UGM?
Fabien Arnaud

Double Degree Student
ESCEM Tours Poitiers France
“I choose UGM because I got the opportunity to have a double
degree, furthermore I’d like to discover a totally new culture, and
since I arrived 7 month ago I’m still amazed by this unlimited and rich
country “

Reuven Yang-Sam Ayal
Exchange Student
Avans Breda

“I choose UGM because of my Indonesian roots. Im here for 2 weeks
now and I love it!”

Bianca Kovarik

Exchange Student
University of Pforzheim Germany
“My decision for UGM wasn’t quite hard. Good reputation,
lovely country, nice lifestyle, and smiling people!”

Yann Stephan

Exchange Student
ESCEM Tours Poitiers France
“I Choose UGM because it’s a nice place to study. UGM was my
first choice and Im happy to be here  “

46

FEB IN PICTURES

Seminar Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI)
di Gedung University Center UGM tahun 1980
Seminar Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) di FEB UGM pada tahun 1980 diikuti oleh beberapa
dosen FE UGM (nama FEB UGM waktu itu –red) dan para anggota IAI lainnya.

Dari kiri ke kanan:
Wiwik
Hardo Basuki
Drs. Irfan Nursasmito, Ak.
Herbudianto
Sri Widodo
Dini
Sri Peni Ratnasari

Dari kiri ke kanan:
(berdiri)
Drs. Slamet Munawir, Ak.
Herbudiyanto
Anis Baridwan
Drs. Hadori Yunus, Ak. (alm)
Drs. Parwoto, Ak.
Drs. Zaki Baridwan, M.Sc., Ak.
Hardo Basuki
Drs. Mas’ud Mahfoedz, MBA. Ak.,
(alm)
Agus Leo
(duduk)
Sri Peni Ratnasari, Wiyata
Drs. Sukamto, M.Sc., Ak. (alm)
Drs. Harnanto, Ak.
Sri Widodo, Wiwik, dan Dini

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful