Anda di halaman 1dari 16

FALSAFAH, PRINSIP DAN ETIKA PENYULUHAN PERTANIAN

A.

FALSAFAH PENYULUHAN PERTANIAN

Butt

(1961), mengartikan falsafah sebagai suatu pandangan hidup. Dhama dan Bhatnagar (1980), mengartikan sebagai landasan pemikiran yang bersumber kepada kebijakan moral tentang segala sesuatu yang akan dan harus untuk membantunya agar mereka dapat meningkatkan harkatnya sebagai manusia.

Berdasarkan pendapat tersebut, terkandung pengertian bahwa: a. Penyuluh harus bekerja sama dengan masyarakat dan bukan bekerja untuk masyarakat (Adieondro, 1990). b. Penyuluh tidak menciptakan ketergantungan, tetapi harus mampu mendorong semakin terciptanya kreativitas dan kemandirian masyarakat. c. Penyuluhan yang dilaksanakan, harus selalu mengacu kepada terwujudnya kesejahteraan ekonomi masyarakat dan peningkatan harkatnya sebagai manusia

Di

Amerika telah lama dikembangkan falsafah 3-T : Teach, Truth and Trust (pendidikan, kebenaran dan kepercayaan/keyakinan), artinya penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang telah diyakini

ENSMINGER (1962) MENYATAKAN BAHWA,


FILSAFAH PENYULUHAN DAPAT DI RUMUSKAN

1. Penyuluhan adalah proses pendidikan yang bertujuan untuk mengubah pengetahuan, sikap dan ketrampilan masyarakat. 2. Sasaran penyuluh adalah segenap warga masyarakat (pria, wanita termasuk anak-anak) untuk menjawab kebutuhan dan keinginannya. 3. Penyuluhan bertujuan untuk membantu masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri. 4. Penyuluhan adalah belajar sambil bekerja dan percaya tentang apa yang dilihatnya. 5. Penyuluhan adalah pengembangan individu, pemimpin mereka dan pengembangan dunianya secara keseluruhan

6. Penyuluhan adlah suatu bentuk kerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat. 7. Penyuluhan adalah pekerjaan yang diselaraskan dengan budaya masyarakatnya. 8. Penyuluhan adalah hidup dengan saling mempercayai antara satu sama lainnya. 9. Penyuluhan merupakan proses kegiatan dua arah 10. Penyuluhan merupakan proses pendidikan dan berkelanjutan.

Mudjiyo

(1989), mengingatkan untuk mengaitkan falsafah penyuluhan dengan pendidikan yang memiliki falsafah : idealisme, realisme dan pragmatisme. Artinya, penyuluh pertanian harus mampu menumbuhkan cita-cita yang melandasi untuk selalu berfikir kreatif dan dinamis.

DI INDONESIA JUGA DIKENAL ADANYA FALSAFAH PENDIDIKAN YANG DIKEMUKAKAN OLEH KI HAJAR DEWANTORO YANG BERBUNYI

Ing ngarso sung tulodo, mampu memberikan contoh atau teladan bagi masyarakat sasarannya. Ing madyo mangun karso, mampu menumbuhkan inisiatif dan mendorong kreativitas, serta semangat dan motivasi untuk selalu belajar dan mencoba. Tut wuri handayani, mau menghargai dan mengikuti keinginan-keinginan serta upaya yang dilakukan masyarakat petani. Sepanjang tidak menyimpang/meninggalkan acuan yang ada, demi tercapainya tujuan perbaikan kesejahter aan hidupnya.

Margono

Slamet (1989) menekankan perlunya falsah penyuluhan yang harus berakar pada falsafah Negara Pancasila, terutama yang berkaitan dengan sila-sila : Ke 4

Loekman

Soetrisno (1989) minta agar juga mengkaitkan dengan motto bangsa yang : Bhineka Tunggal Ika yang membawa konsekuensinya pada : (1) perubahan administrasi penyuluhan dari yang bersifat regulative sentralistis menjadi fasilitatif partisipatif dan (2) pentingya kemauan penyuluh untuk memahami budaya local yang sering kali juga mewarnai local agricultural practices.

B. PRINSIP-PRINSIP PENYULUHAN PERTANIAN


Mathews

menyatakan bahwa: prinsip adalah suatu pernyataan tentang kebijaksanaan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan konsisten.

Penyuluhan sebagai salah satu system pendidikan, maka penyuluhan memiliki prinsip-prinsip : a. Mengerjakan, artinya, kegiatan penyhuluh harus sebanyak mungkin melibatkan masyarakat untuk mengerjakan/menerapkan sesuatu. b. Akibat, artinya, kegiatan penyuluhan harus memberikan akibat atau pengarruh yang baik atau berpengaruh yang baik atau bermanfaat. c. Asosiasi, artinya, setiap kegiatan penyuluh harus dikaitan dengan kegiatan lainnya.

LEBIH LANJUT, DHAMA DAN BHATNAGAR (1980) MENGUNKAPKAN PRINSIP-PRINSIP PENYULUHAN YANG LAIN YANG MENCAKUP:

Minat dan kebutuhan Organisasi masyarakat bawah, Keragaman budaya, Perubahan budaya, Kerjasama dan partisipasi, Demokrasi dalam penerapan ilmu, Belajar sambil bekerja, Penggunaan metode yang sesuai, Kepemimpinan, Spesialisasi yang terlatih, Segenap keluarga, Kepuasan.

C. ETIKA PENYULUHAN
Suatu

kenyataan yang tidak dapat disangkal adalah kegiatan penyuluh bukan lagi menjadi kegiatan sukarela,tetapi telah berkembang menjadi profesi. Karena itu, setiap penyuluh perlu memegang teguh etika penyuluhan. Etika merujuk kepada tata pergaulan yang khas atau ciri-ciri perilaku yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi.

Herman Soewardi mengingatkan bahwa penyuluh harus mampu berperilaku agar masyarakat selalu memberikan dukungan yang tulus ikhlas terhadap kepentingan nasional. Tentang hal ini, Salmon Padmenegara (1987) mengemukakan beberapa perilaku yang perlu ditunjukan atau diragakan oleh setiap penyuluh (pertanian), yang meliputi: a. Perilaku sebagaim manusia seutuhnya, b. Perilaku sebagai anggota masyarakat, c. Perilaku yang menunjukkan penampilannya sebagai penyuluh yang handal, d. Perilaku yang mencerminkan dinamika,

NORTHOUSE (1992) MENGANGGAP PENTING 4 DIMENSI DALAM HUBUNGAN ANTARA TENAGA AHLI PROFESSIONAL (PENYULUH) DAN PASIEN (PETANI), DIMENSI YANG DIMAKSUD ADALAH :

Agen penyuluh harus membantu petani untuk membuat keputusan yang bermanfaat bagi mereka. Agen penyuluh tidak boleh paternalistic, mereka hanya boleh memberikan bantuan yang diinginkan petani. Mereka harus mempromosikan otonomi petani untuk memutuskan sndiri bagaimana mereka ingin mengembangkan usahatani mereka. Mereka harus jujur, teteapi apa yang terjadi jika mereka mengungkapkan keyakinan bahwa petani mengalami kerugian karena bukan merupakan wiraswastawan yang baik?.