Anda di halaman 1dari 24

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan menjelaskan tentang pendidikan, pengetahuan, masa nifas dan perawatan luka jahit pasca robekan perineum. A. Pendidikan 1. Pengertian Pendidikan Pendidikan (paedagogie) berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata pais artinya anak dan again artinya membimbing, jadi paedagogie yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak (Ahmadi dan Uhbiyati, 2003 : 69). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU Sisdiknas, 2003 : 2). Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Abdillah dan Prasetyo, 2005 : 165). Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti didalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Konsep ini berangkat dari suatu asumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup di dalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih pandai, lebih 8

mampu, lebih tahu dan sebagainya). Dalam mencapai tujuan tersebut seseorang tersebut, seorang individu, kelompok atau masyarakat tidak lepas dari belajar (Notoatmodjo, 2003 : 97). 2. Jenis-jenis Pendidikan Menurut Ahmadi dan Uhbiyati (2003 : 95-97) jenis pendidikan dapat dibeda-bedakan atau digolong-golongkan menjadi : a. Menurut tingkat dan sistem persekolahan Pada saat ini jenis dan tingkat persekolahan di negara kita dari pra sekolah sampai perguruan tinggi ada 2 yaitu : tingkat pra sekolah dan tingkat sekolah dasar. Hal ini dibedakan antara sekolah dasar umum dan sekolah luar biasa yaitu : 1) Sekolah Luar Biasa, dibedakan lagi antara SLB untuk anak tunanetra, SLB untuk anak tunarungu, SLB untuk anak tunagrahita dan SLB untuk anak tunadaksa. 2) Sekolah Dasar Umum dibedakan antara Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). 3) Sekolah Menengah Pertama dibedakan menjadi SMTP Umum (SMP) dan SMTP Kejuruan (ST, SMEP, dll). 4) Sekolah Menengah Atas dibedakan menjadi SMTA Umum (SMA) dan SMTA Kejuruan (STM, SPG, SMEA, dll). 5) Perguruan Tinggi dibedakan menjadi Jalur Gelar (S-1, S-2 dan S-3) dan Non Gelar (D-1, D-2 dan D-3). b. Menurut tempat berlangsungnya pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan menurut tempatnya dibedakan menjadi 3 dan disebut tripusat pendidikan, yaitu :

10

1) Pendidikan di dalam keluarga. 2) Pendidikan di dalam sekolah. 3) Pendidikan di dalam masyarakat. c. Menurut cara berlangsungnya pendidikan dibedakan antara Pendidikan Fungsional dan Pendidikan Internasional. 1) Pendidikan Fungsional yaitu pendidikan yang berlangsung secara naluriah tanpa rencana dan tujuan tetapi berlangsung begitu saja. 2) Pendidikan Internasional yaitu lawan dari pendidikan fungsional adalah program dan tujuan sudah direncanakan. d. Menurut aspek pribadi yang disentuh jadi tidak menyentuh seluruh dari kepribadian anak didik kita kenal ada Pendidikan Orkes, Pendidikan Sosial, Pendidikan Bahasa, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Moral dan Pendidikan Sex. e. Menurut sifatnya pendidikan dibebedakan menjadi 3 yaitu : 1) Pendidikan Informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. Pendidikan ini dapat berlangsung dalam keluarga, dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam pekerjaan, masyarakat, keluarga dan organisasi. 2) Pendidikan Formal adalah pendidikan yang berlangsung secara teratur, bertingkat dan mengikuti syarat-syarat tertentu secara ketat. Pendidikan ini berlangsung di sekolah. 3) Pendidikan Non Formal adalah pendidikan yang dilaksanakan secara tertentu dan sadar tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan yang ketat.

11

3. Jenjang Pendidikan Menurut pendapat Ahmadi dan Uhbiyati (2003 : 163) jenjang pendidikan dibagi 3 yaitu : a. Pendidikan dasar yaitu TK dan SD. b. Pendidikan Menengah yaitu SMTP (umum dan kejuruan), SMTA (umum dan kejuruan). c. Pendidikan Tinggi (Perguruan Tinggi).

B. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan melalui terhadap indera suatu obyek yakni tertentu. indera

Penginderaan

terjadi

panca

manusia

pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri melalui mata dan telinga (Notoatmodjo dalam Wawan dan Dewi, 2010 : 11). Menurut Barnadib dalam Ahmadi dan Uhbiyati (2003 : 79) ilmu pengetahuan ialah suatu uaraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu objek. Menurut Indrakusuma dalam Ahmadi dan Uhbiyati (2003 : 79) ilmu pengetahuan merupakan uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah. Ilmu pengetahuan adalah gabungan dari berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat (Abdillah dan Prasetya, 2005 : 249).

12

Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan, misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010 : 1). 2. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo dalam Wawan dan Dewi (2010 : 12-14) pengetahuan dalam aspek kognitif dibagi menjadi 6 tingkatan, yaitu : a. Tahu (Know) Artinya mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, yang termasuk dalam kategori ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (Comprehension) Artinya suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yangtelah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Aplication) Artinya kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (Analysis) Artinya suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur

13

organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, sepertidapat

menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan dan mengelompokkan. e. Sintesis (Synthesis) Artinya kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sinteisis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Artinya kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. 3. Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dillakukan dengan wawancara atau kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan pengetahuan (Ari

Sulistyawati, 2011 : 18). Menurut Arikunto (2006) yang dikutip Wawan dan Dewi (2010 : 18), pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu : a. Baik : Hasil presentase 76% - 100% b. Cukup : Hasil Presentase 56% - 75% c. Kurang : Hasil presentase < 56%.

14

4. Cara Memperoleh Pengetahuan Pengetahuan seseorang menurut Nptoatmodjo (2003) yang dikutip Wawan dan Dewi (2010 : 14-15) dapat diperoleh melalui : a. Cara Kuno atau Non Ilmiah 1) Cara coba salah (Trial and Error) Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan , bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Coba-coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat terpecahkan. 2) Cara kekuasaan atau otoritas Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin atau pimpinan masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri. 3) Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman memperoleh pengalaman pribadipun pengetahuan yang pernah dapat dengan digunakan cara sebagai upaya kembali

mengulang dalam

diperoleh

memecahkan

permasalahan yang dihadapi masa lalu. b. Cara Modern atau Cara Ilmiah Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven.

15

Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah. Sedangkan menurut Lilik (2009) yang dikutip Ari Sulistyawati (2011 : 18-19) dapat diperoleh melalui : a. Pengalaman Pribadi Pemahaman seseorang dapat diperoleh melalui pengalaman pribadi yang memberikan pribadi tidak informasi mengenai suatu masalah. masalah Melalui yang

pengalaman sebelumnya

iniditemukan diketahui.

jawaban

atas

Pengelama

merupakan

sumber

pengetahuan yang terbaik dengan kata lain pengalaman adalah guru yang terbaik. b. Prengalaman Orang Lain Pengalaman dapat juga diperoleh melalui pengalaman orang lain. Dengan melihat kejadian atau masalah yang terjadi pad orang lain, seseorang dapat memperoleh informasi mengenai suatu masalah baik secara langsung maupun tidak langsung. c. Media Massa Media massa merupakan sumber informasi yang paling banyak memberikan pengetahuan pada seseorang mengenai suatu masalah. Sumber informasi melalui media ini dapat berupa majalah, korang, televisi, radio, iklan dan lain sebagainya. 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan a. Faktor Internal 1) Pendidikan Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Wiwik (2009 : 9) mengemukakan bahwa konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang

16

berarti bahwa dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan dan perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok, atau masyarakat.

Sedangkan Nursalam dan Siti Pariani (2001) dalam Wiwik (2009 : 9) mengemukakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula

pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai yang di kenakan. 2) Pekerjaan Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003) dalam Hamida (2011 : 16) berpendapat bahwa pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. 3) Pengalaman Menurut Notoatmodjo (2003) yang dikutip Wiwik (2009 : 9-10) mengemukakan bahwa pengetahuan dapat dipengaruhi pengalaman sendiri atau dari orang lain, sebagai contoh memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas seorang anak adalah setelah

memperoleh pengalaman dimana tangan atau kakinya terkena api dan terasa panas. 4) Umur Menurut Hurlock yang dikutip oleh Nursalam dan Siti Pariani (2001) dalam Wiwik (2009 : 8-9) semakin cukup umur, tingkat kematangan

17

seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang lebih dewasa juga lebih

dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa. b. Faktor Eksternal 1) Lingkungan Menurut Purwanto yang dikutip oleh Wiwik (2009 : 10) lingkungan adalah segala apa yang berpengaruh pada diri individu dalam perilaku dengan lingkungan, dapat mempengaruhi perilaku manusia sehingga kenyataan akan menuntut suatu keharusan sebagai makhluk sosial yang dalam keadaan bergaul satu dengan yang lainnya. 2) Sosial Budaya Menurut Azwar (2007) yang dikutip Wiwik (2009 : 10) berpendapat bahwa kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita, apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam

pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang.

C. Masa Nifas 1. Pengertian Masa Nifas Masa nifas adalah masa setelah kelahiran bayi, selama tubuh ibu beradaptasi ke keadaan sebelum hamil, disebut juga peurperium (Bahiyatun, 2009 : 122).

18

Menurut konvensi, masa nifas berlangsung selama enam minggu dari sejak hari melahirkan. Selama waktu tersebut perubahan-perubahan fisiologik dan morfologik yang terjadi selama kehamilan kembali ke keadaan tidak hamil. Masa ini juga merupakan masa wanita tersebut mengambil alih tanggung jawab perawatan bayi yang masih sangat memerlukan perhatian dan bergantung pada orang lain tersebut. Masa ini dapat menimbulkan masalah, terutama jika ia mendapat kesulitan dalam menyesuaikan diri menjadi seorang ibu (Derek-Jones, 2001 : 83). Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Wanita yang melalui periode puerperium disebut puerpura. Puerperium (nifas) berlangsung antara 6 minggu atau 24 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan normal (Eny dan Diah, 2010 : 1). 2. Tahapan Masa Nifas Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH yang dikutip Eny dan Diah (2010, 3-4) menggolongkan masa nifas menjadi 3 periode, yaitu : a. Puerperium Dini Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. b. Puerperium Intermedial Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu. c. Remote Puerperium Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulaan atau tahunan.

19

3. Perubahan Fisiologi Masa Nifas a. Perubahan Uterus Uterus akan mengalami pengecilan (involusi) secara berangsur-angsur sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

Tabel 2.1 : Tinggi Fondus Uterus dan Berat Uterus Involusi Bayi Lahir Uri lahir 1 minggu 2 minggu 6 minggu 8 minggu Tinggi Fondus Uterus Setinggi pusat 2 jari bawah pusat Pertengahan pusat simfisis Tidak teraba di atas simfisis Bertambah kecil Sebesar normal Berat Uterus 1000 gram 750 gram 500 gram 350 gram 50 gram 30 gram

Sumber : Wiwik (2009 : 25) Setelah persalinan bekas inplantasiplasenta berupa luka kasar dan menonjol ke dalam cavum uteri, dari cavum uteri keluar cairan sekret disebut lochia. Ada beberapa jenis lokia, yakni : 1) Lochia Rubra (cruenta) : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum, selama 2 hari pasca persalinan. 2) Lochia Sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari 3-7 pasca persalinan. 3) Lochia Serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan. 4) Lochia Alba : cairan putih, setelah 2 minggu.

20

5) Lochia Purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk. 6) Lochiostasis : lochia tidak lancar keluarnya. b. Perubahan pada Vagina dan Perineum 1) Vagina pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae (lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan) kembali. 2) Perlukaan Vagina Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak seing dijumpai robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum. 3) Perubahan pada Perineum Terjai robekan perineum pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka episiotomi dilakukan penjahitan dan perawatan dengan baik (Wiwik, 2009 : 25-26). 4. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas Menurut Eny dan Diah (2010) yang dikutip oleh Hamida (2011 : 3639) kebutuhan ibu nifas diantaranya adalah : a. Kebutuhan nutrisi dan cairan Kebutuhan akan nutrisi dan cairan meningkat 25% bila pada masa nifas menyusui, karena berguna bagi proses kesembuhan dan memproduksi ASI yang cukup untuk kebutuhan bayi. b. Kebutuhan ambulasi Ambulasi sedini mungkin sangat dianjukan, kecuali ada kontra indikasi. Ambulasi ini akanmeningkatkan sirkulasi dan mencegah resiko

21

tromboflebilitis, meningkatkan fungsi kerja peristaltik dan kandung kemih, sehingga mencegah distensi abdominal dan konstipasi. c. Kebutuhan eliminasi BAB/BAK Kebanyakan pasien dapat melakukan BAK secara spontan setelah 8 jam setelah melahirkan. Selama kehamilan terjadi peningkatan ekstraseluler 50%. Setelah melahirkan cairan ini dieliminasi sebagai urine. Diusahakan ibu dapat buang air kecil sendiri jika tidak bisa maka perlu tindakan dengan cara dirangsang dengan mengalirkan air kran di dekat klien, mengompres air hangat di atas sympisis. Jika tidak berhasil terpaksanya dengan cara kateterisasi. d. Kebersihan diri (perineum) Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Sedangkan perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. e. Kebutuhan istirahat Kebahagiaan setelah melahirkan membuat ibu sulit istirahat. Anjurkan ibu supaya dapat beristirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. f. Hubungan seksual Kebutuhan seksual sering menjadi perhatian ibu dan keluarga. Keinginan seksual ibu menurun karena kadar hormon steroid rendah, adaptasi peran baru dan keletihan. Diskusikan hal ini sejak mulai hamil dan diulang pada post partum berdasarkan budaya dan kepercayaan keluarga.

22

g. Latihan senam nifas Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami perubahan fisik seperti dinsing perut menjadi kendor, longgarnya liang senggama dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikannya sangat baik jika dilakukan senam nifas.

D. Robekan Perineum 1. Pengertian Perineum menurut Danis (2000) adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus yang juga berperan dalam persalinan (Anonim, 2008). Perineum merupakan daerah yang menutupi pintu bawah panggul yang terdiri dari : a. Regio analis, sebelah belakang. Spinter ani eksterna yaitu muskulus yang mengelilingi anus berada di sini. b. Regio urogenitalis terdiri atas muskulus bulbo cavernosus, ischiocavernosus dan transversus perinei superficialis (Sumarah, 2008 : 33). Luka menurut Sjamsuhidayat (2005) dalam Setiya Hartiningtyas (2010) adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Robekan perineum menurut Winkjosastro (2005) adalah perlukaan pada jalan lahir yang dapat terjadi karena kesalahan pada sewaktu memimpin persalinan, pada waktu persalinan operatif seperti ekstraksi cuna, ektraksi vakum, embriotomi. Selain itu perlukaan dapat terjadi karena memang disengaja seperti tindakan episiotomi. (Anonim, 2011).

23

2. Jenis Robekan Perineum Dikenal empat derajat robekan perineum : a. Derajat pertama Kerusakan terhadap fourchette dan otot di bawahnya terbuka. Robekan pada derajat ini mudah diperbaiki, hanya diperlukan satu atau dua

jahitan untuk memperbaikinya.

Gambar 2.1 robekan perineum derajat I b. Derajat kedua Dinding vagina posterior dan otot-otot perineum robek, tetapi sfingter ani intak. Robekan ini diperlukan lebih banyak jahitan.

Gambar 2.2 Robekan perineum derajat II c. Derajat ketiga Sfingter ani robek, tetapi mukosa rektum intak. Seperti halnya robekan derajat kedua, derajat ketiga juga memerlukan lebih banyak jahitan.

24

Gambar 2.3 Robekan perineum derajat III d. Derajat keempat Kanalis ani terbuka dan robekan meluas ke rektum. Perbaikan untuk derajat ini memerlukan keterampilan yang tinggi dan bagian apeks dari robekan sangat penting diamankan karena dapat menimbulkan fistula rektovagina. Sfingter ani mengalami retraksi kalau putus, karena itu perlu dicari ujung-ujungnya untuk disatukan kembali dengan jahitan. (DerekJones, 2001 : 77-78).

Gambar 2.4 Robekan perineum derajat IV

25

E. Perawatan Luka Jahit Pasca Robekan Perineum 1. Pengertian Menurut Aziz (2004) perawatan adalah proses pemenuhan

kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Anonim, 2008). Luka menurut Sjamsuhidayat (2005) dalam Setiya Hartiningtyas (2010) adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Ketika terjadi luka, akan menimbulkan beragam efek yaitu

kehilangan semua atau sebagian fungsi organ, respon stres simpatis, hemoragi dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri serta kematian sel (Rusjiyanto dalam Setiya Hartiningtyas, 2010 : 14-15). Perawatan luka perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran plecenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Anonim. 2011). 2. Cara Perawatan Robekan Perineum Beratnya nyeri pasca operasi dan edema tergantung pada metode persalinan (persalinan dengan forsep lebih banyak disertai dengan edema) dan kualitas penjahitannya. Kebanyakan wanita memerlukan analgesik selama beberapa hari. Wanita yang mendapatkan jahitan interupsi (terputusputus) merasakan lebih nyeri, tetapi kebanyakan pasien dapat berjalan-jalan dan mandi sendiri. Biasanya kompres perineum tidak perlu apabila ederma perineum tidak nyata. (Derek-Jones, 2001 : 78). Perawatan pasca robekan perineum dapat dilakukan oleh perawat, bidan, atau orang lain, namun yang memegang kunci adalah pasien itu

26

sendiri (ibu nifas). Menurut Romana Tari (2010) perawatan khusus bagi ibu nifas yaitu : a. Lepas semua pembalut dan cebok dari arah depan ke belakang. b. Waslap dibasahi dan buat busa sabun lalu gosokkan perlahan waslap yang sudah ada busa sabun tersebut ke seluruh lokasi luka jahitan. Jangan takut dengan rasa nyeri, bila tidak dibersihkan dengan benar maka darah kotor akan menempel pada luka jahittan dan menjadi tempat kuman berkembang biak. c. Bilas dengan air hangat dan ulangi sekali lagi sampai yakin bahwa luka benar benar bersih. Bila perlu lihat dengan cermin kecil. d. Setelah luka bersih boleh berendam dalam air hangat dengan menggunakan tempat rendam khusus. Atau bila tidak bisa melakukan perendaman dengan air hangat cukup disiram dengan air hangat. e. Mengenakan pembalut baru yang bersih dan nyaman dan celana dalam yang bersih dari bahan katun. Jangan mengenakan celana dalam yang bisa menimbulkan reaksi alergi. f. Segera mengganti pembalut jika terasa darah penuh, semakin bersih luka jahitan maka akan semakin cepat sembuh dan kering. Lakukan perawatan yang benar setiap kali ibu buang air kecil atau saat mandi dan bila mengganti pembalut. g. Konsumsi makanan bergizi dan berprotein tinggi agar luka jahitan cepat sembuh. Makanan berprotein ini bisa diperoleh dari telur, ikan, ayam dan daging, tahu, tempe. Jangan pantang makanan, ibu boleh makan semua makanan kecuali bila ada riwayat alergi. h. Luka tidak perlu dikompres obat antiseptik cair tanpa seijin dokter atau bidan.

27

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi lama penyembuhan dan perawatan luka perineum a. Faktor internal 1) Usia Usia berpengaruh terhadap imunitas. Penyembuhan luka yang

terjadi pada orang tua sering tidak sebaik pada orang yang muda. 2) Penanganan jaringan Penanganan yang kasar menyebabkan cedera dan memperlambat penyembuhan. 3) Hipovolemia Volume darah yang tidak mencukupi mengarah pada vasokonstriksi dan penurunan oksigen (nutrien) yang tersedia untuk penyembuhan luka. 4) Faktor lokal Edema Penurunan suplai oksigen melalui gerakan meningkatkan tekanan interstisial pada pembuluh. 5) Personal hygiene Personal hygiene (kebersihan diri) yang kurang dapat memperlambat penyembuhan, hal ini dapat menyebabkan adanya benda asing seperti debu dan kuman. 6) Medikasi Steroid dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal. Antikoagulan dapat menyebabkan

hemoragi. Antibiotik spektrum luas atau spesifik efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau

28

kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular. 7) Aktivitas yang berlebih Aktivitas yang berlebih dapat menghambat perapatan tepi luka serta mengganggu penyembuhan yang diinginkan. 8) Penyakit penyerta Pada penyakit diabetes melitus (terjadi kerusakan imunitas), pada penderita yang mendapat radioterapi juga mempengaruhi penyembuhan luka karena akan terjadi penurunan vaskularisasi jaringan dan penyembuhan luka pada daerah yang diradiasi sering terganggu. b. Faktor eksternal 1) Status Gizi Status gizi mempengaruhi kecepatan penyembuhan luka. Status gizi yang buruk mempengaruhi sistem kekebalan tubuh yang memberi perlindungan terhadap penyakit infeksi. 2) Lingkungan Dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan selalu merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasihat-nasihat khususnya orang tua dalam merawat kebersihan setelah persalinan. 3) Tradisi Di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan setelah persalinan masih banyak digunakan, termasuk oleh kalangan masyarakat modern. 4) Pengetahuan Pengetahuan ibu tentang perawatan setelah persalinan sangat

menentukan lama penyembuhan luka perineum. Apabila engetahuan

29

ibu kurang, terlebih masalah kebersihan maka penyembuhan luka akan berlangsung lama. 5) Sosial ekonomi Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama

penyembuhan perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari setelah persalinan. 6) Penanganan petugas Pada saat persalinan, cara membersihkannya harus dilakukan dengan tepat oleh penanganan petugas kesehatan, hal ini

merupakan salah satu penyebab yang dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum. (Rusjiyanto, 2009 dan Smelzer, 2002 dalam Setiya Hartiningtyas, 2009 : 19-22).

F. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Luka Jahit Pasca Robekan Perineum Pendidikan adalah suatu proses belajar yang di dalamnya terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Konsep ini berangkat dari suatu asumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup di dalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu dan sebagainya). Pendidikan formal didapatkan seseorang dari kerja keras dan perjuangan di institusi pendidikan formal atau sekolah, dari SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi. (Notoatmodjo, 2003 : 97)

30

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri melalui mata dan telinga. Pengetahuan diperoleh seseorang bisa dari pengalaman pribadi yang dilakukan tidak sengaja atau coba-coba, dari media massa atau dari orang lain. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan seseorang. Seseorang yang berpendidikan SD berbeda dengan pengetahuan seseorang yang berpendidikan tinggi, walaupun hal ini bukan suatu jaminan, karena pengetahuan seseorang juga bisa diperoleh dari membaca, mendengar atau pengalaman yang bisa didapatkan dari buku, televisi, surat kabar atau cerita orang lain. (Nursalam dan Pariani dalam Wiwik, 2009 : 9) Pengetahuan tiap orang berbeda-beda. Begitu juga pengetahuan seorang ibu tentang masalah yang umumnya dialami oleh kaum ibu, yaitu nifas. Ibu nifas tidak selamanya normal, terkadang mengalami hal-hal yang tidak diinginkan dan salah satunya ketika melakukan persalinan mengalami operasi yang diakibatkan luka atau robekan perineum. Banyak ibu nifas yang belum mengetahui cara perawatan ketika persalinannya mengalami operasi yang diakibatkan robekan perineum. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan tersebut diantaranya adalah pendidikan seorang ibu. Seorang ibu yang berpendidikan tinggi biasanya lebih banyak

pengetahuannya dibandingkan dengan ibu yang hanya berpendidikan sampai sekolah dasar termasuk pengetahuan tentang perawatan luka jahit pasca robekan perineum.

31

G. Kerangka Teori

Faktor Predisposisi Predisposing faktor : Pendidikan Pekerjaan Pengalaman Umur Lingkungan Sosial Budaya

Robekan Perineum 1. Pengertian robekan perineum 2. Jenis/derajat luka atau robekan perineum 3. Penyembuhan dan perawatan robekan perineum 4. Faktor-kaktor yang mempengaruhi penyembuhan dan perawatan luka perineum

Faktor Pemungkin Enabling faktor : Media massa Televisi Iklan/Poster Buku

Tingkat Pengetahuan Ibu

Faktor Penguat Renforcing faktor : Petugas kesehatan Keluarga

Skema 2.1 Kerangka Tentang Tingkat Pendidikan dengan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Robekan Perineum Sumber : Ari, S. (2011), Nursalam dan Siti Pariani dalam Wiwik (2009), Notoatmodjo (2003).