Anda di halaman 1dari 15

Mitos Masyarakat Internasional dan Globalisasi ala Institusionalis: Sebuah Pengantar Universalisme Modern

Kritik Rasio-Idealisme dalam Diskursus Teori Hubungan Internasional Diky Kurniawan Saputra*

Abstract This paper tries to criticize two approaches of international realtions theory. Firstly is rationalism which overwhelmingly driven by scholars of the English School like Andrew Linklater. Second one is idealism of Charles Kegley that has been covered by Chyntia Weber (2009) in her great book. Focusingly, author stands effort to analyze myths of recent definition of international society and globalization that viewed by institutionalists. Both objects remain bereft of equal sovereign individual that better to be eliminated from knowledge of world communication among universal people. Hence, author offers modern universalism to reply lessness of above definitions in order to end unstopped cycle of world conflict. At last, redefinition of globalization and discoursing universal community will be great offer of this paper in later discussion. Keywords:Masyarakat internasional, globalisasi, rasionalisme, idealisme, universalisme modern

Mahasiswa semester ke-4 program studi hubungan internasional, Universitas Paramadina. Penulis aktif menulis artikel yang berkaitan dengan isu sentral dalam teorisasi hubungan internasional. Penulis adalah salah satu peneliti di Governance & US-Arabic Society dan pernah menjadi pembicara di Loka Karya tahunan Kementrian Luar Negeri RI pada tahun 2011.

A. Globalisasi dan Teori Hubungan Internasional: Sebuah Pembuka

Ketika menjelaskan perkembangan ilmu hubungan internasional, terkhusus kaitannya dengan fenomena globalisasi, Ian Clark (1999) dalam bukunya, Globalization and International Relations Theory, menekankan bahwa dikotomi pemahaman dalam keilmuan sosial politik negara domestik dan antar-negara adalah suatu hal yang semata-mata diasumsikan dengan kelemahan nalar yang nantinya akan mereduksi keutuhan disiplin ilmu hubungan internasional. Sehingga secara mendasar ketika perlu menyepakati bahwa seluruh manusia berada pada satu planet yang sama, lahir dari manusia dengan jenis kelamin yang sama perempuan- kemudian sama-sama memiliki kebutuhan untuk memenuhi asupan jiwa, akal dan jasmani. Selanjutnya apakah komunalitas dengan asas negara, suku, kelompok atau partai apapun adalah suatu keniscayaan yang sepenuhnya hanya pembedaan identitas agar adanya keteraturan dalam kehidupan manusia. Sebelum meranjak pada pendefinisian globalisasi pada rel kritis, perlu mencari akar tumbuhnya penyebab kenapa kita harus menerima globalisasi. Namun tentu disini harus dipertanyakan, apakah memang kita terlahir di dunia yang non-global? Sehingga selanjutnya kita tahu bahwa globalisasi adalah produk baru di era modern. Atau sebaliknya kita terlahir di dunia yang global, yang sejatinya tidak ada pembatasan identitas? Kemudian identitas yang kita terima adalah definisi yang diberikan oleh manusia itu sendiri berdasarkan nilai-nilai manusia yang berinteraksi dengan keniscayaan komunalitas yang semakin beragam. Spektrum isu dalam hal globalisasi adalah kepercayaan pada negara sebagai sosok aktor yang paling utama dalam hubungan internasional. Merujuk pada sejarah klasik, bagaimana Thucydides memetakan Yunani. i Kemudian lihat apa yang dikemukakan oleh Ian Clark (1999) bahwa terkadang pernyataan yang mengatakan globalisasi adalah interaksi antarnegara, tidak secara penuh mampu membuktikan seberapa naifnya ketika kata negara dan luar negeri masih menjadi bagian dari keyakinan suatu kelompok dengan asas negara. ii Globalisasi yang tentu diinginkan adalah bahwa penyatuan manusia dalam keragaman identitas yang dihubungan dengan akses tranportasi dan komunikasi yang selanjutnya memudahkan kerjasama lintas komunitas dengan kesadaran tanpa perbedaan yang radikal.

Sekali lagi, barangkali, pembaca disini harus menyadari bahwa globalisasi pada konteks praktis telah berjalan, entah dengan posivitas dan negativitas yang menjadi konsekuen darinya, dan pada konteks pendefinisian ideal, nasionalisme masih menjadi gagasan yang menghambat. Bukan bermaksud untuk mereduksi semangat memerjuangkan kewajiban dalam melindungi hak kenegaraan, tapi hanya dikhawatirkan dengan globalisasi yang berporos pada negara, terutama jika negara hegemon berada pada struktur hirarki teratas, ditakutkan globalisasi hanya menjadi ekstensi dari kekuatan domestik dalam menguasai sistem internasional. iii Kemudian ditambah dengan jika Kegley (1995) berhasil menanamkan keyakinan dogma idealismenya dalam wacana masyarakat internasional sebagai suatu fase struktural yang menegasikan fakta negara, semula diharapkan menjadi jawaban pada ancaman hirarki yang korup namun ternyata tidak, maka adalah suatu perpanjangan krisis yang melaju dengan berbagai evolusi nama yang beragam sehingga globalisasi harus di garap kembali pada akar ontologisnya. Bukan suatu wacana kecil apabila semua orang di level manapun sadar akan proses pembonekaan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mengatur hirarki dalam sistem internasional. Wacana pembedahan kembali ontologi globalisasi sebagai dasar revolusi teori hubungan internasional adalah apa yang akan menjadi pembahasan utama dalam rangkaian tulisan ini. Sedikit menyentuh wahana pemikiran Kegley, dimana masyarakat internasional adalah suatu fakta impulsif yang harus ada dalam wacana globalisasi pasca Perang Dingin, iv agak mengherankan untuk diterima karena apabila realisasi dari masyarakat internasional ini dijalankan melalui proses universalisasi dengan poros satu kekuatan domestik, maka itu semua adalah penafikan yang sesungguhnya pada dunia. Sebab jika hal itu benar-benar terjadi, bukanlah suatu keanehan untuk dipertanyakan, yakni adanya satu otoritas yang dijalankan oleh satu negara teratas yang secara presisif mengakibatkan kekuatan imperial modern dengan konotasi yang sedikit berbeda dengan imperialisme klasik. Imperial modern tidak serta merta menggunakan senjata jenis keras namun tentunya menggunakan senjata hukum dan arogansi media yang tersruktur dalam melanggengkan posisi teratas tersebut bagi suatu negara hegemon. Menanggapi isu struktural yang bermuara pada wacana masyarakat internasional sebagai subjek besar dalam arena globalisasi, kritik mendasar terhadap apa yang telah disebutkan diatas bahwa sistem internasional tidak bisa didefinisikan apakah itu anarkhi ataupun hirarki, karena keduanya tidak mendukung afiliasi ontologis dalam menjawab marginalitas wacana globalisasi sebagai

kunci penyelesai lingkaran setan isu-isu global. Pasalnya, kedua definisi sistem internasional tersebut sedikit banyaknya masih melegalkan konstitusi suatu struktur baik itu tingkatnya domestik maupun non-domestik. Katankanlah Acher (2001), ilmuan hubungan internasional Inggris, yang merangkum organisasi internasional sebagai satuan unit dengan level diatas domestik atau dengan definisi suatu ruang struktur yang berisi keanggotaan lebih dari tiga negara, kemudian mencakup prinsip demokrasi dan partisipasi. v Bagi kalangan rasionalis (Bull: 1977, Bull dan Watson: 1984, Wight: 1977, Vincent: 1986, Watson: 1982) dengan determinasi English School, keberadaan organisasi internasional adalah jembatan untuk perdamaian universal. Mereka berefleksi dari kejenuhan akibat tingginya frekuensi kekerasan dan ketidakberadilan pada level internasional akibat dari inekualitas relasi antarnegara. Solusi dari persoalan tersebut mereka berasumsi bahwa stateless harus diperjuangkan melalui masyarakat internasional dengan globalisasi sebagai penghantarnya.vi Penjelasan organisasi internasional, masyarakat internasional dan globalisasi diatas terlalu sempit jika dihadapkan pada suatu pendekatan posstruktural. Ingat positivisme memang sejalan dengan rel strategis rasional, semacam English School. Alhasil, perluasan kemanusiaan universal akan dengan mudah hilang jika dipahami dengan pendekatan ini. Hakikatnya, globalisasi harus disingkirkan dari keyakinan akan suatu struktur maka dengan begitu universalisasi dapat diterima. Satu lagi, penerimaan akan adanya keragaman dalam hubungan internasional sebagai suatu solusi keberlangsungan harmoni politik dunia disebut dengan universalisasi. Sudah saatnya kita merelokasi struktur dan negara dalam hubungan internasional, meredefinisi globalisasi kemanusiaan, mewacanakan universalisasi modern dan memperkuat dogma kesesuaian antaridentitas sebagai kritik terhadap rasio-idealisme (rasionalisme dan idealisme). Semoga tulisan ini mampu memberikan apa yang diharapkan dari pewacanaan diatas

B. Posisi Struktur dan Negara dalam Revolusi Hubungan Internasional

Struktur, Organisasi dan Manusia Kerangka ontologis untuk pendalaman universalisme sebagai upaya redefinisi globalisasi, pertama kali mesti merujuk pada bagaimana universalis (Kantian dan Platonis) melihat kelas

sosial sebagai struktur dalam relasi antarindividu. Struktur adalah pembedaan, klasifikasi dalam suatu runtutan bukan diferensiasi. Struktur dalam konteks organisasi internasional misalnya, disana terdapat klasifikasi fokus organisasi berdasarkan tujuan dari pembentukan organisasi itu sendiri. Struktur diperlukan untuk memudahkan artikulasi kebijakan yang relevan dengan apa yang diharapkan di lapangan. vii Namun, terlebih jika dilanjutkan diskursus struktur sebagai pendalaman apa yang dimaksud diatas, tentu struktur itu sendiri mesti dikalkulasi secara tepat berdasarkan rasio filosofis. Pertama, agar lebih mudah untuk dipahami, dikotomi antara modern dan postmodern sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Neacsu (2009) mesti dihilangkan terlebih dahulu. Pasalnya, untuk konteks struktur harus dipahami tanpa dualisme antara empirisitas dan keilmuan metafisis. viii Kemudian kedua, struktur harus dipahami tidak sebagai suatu hal yang alami, melainkan sebagai produk rasio-logis yang sejalan dengan kebutuhan manusia. Diskursus struktur, apakah dia berasal dari pendefinisian Waltz, Kant, Marx, Burchill, Linklater, Devetak, Derrian, Bull, Vincent, Ashley, Dobson atau lainnya, masih akan tetap menjadi suatu objek ontologis dan epistimologis yang sah menurut mereka untuk dianalisis. Dengan begitu, dapat dimengerti bahwa pada hakikatnya, struktur tidak bisa dilepaskan dari sisi kehidupan manusia yang memiliki variabelitas dimana relativitas antara nilai menciptakan masyarakat dan masyarakat menciptakan nilai. ix Akan tetapi yang menjadi pertanyaan terkait struktur tersebut, bagaimana struktur mampu menjamin keberlangsungan harmonitas kesejahteraan manusia secara universal? Disini yang dimaksud dengan struktur di dalam revolusi ilmu hubungan internasional. Kecacatan pasti saja akan ada di tengah operasionalisasi suatu struktur dalam himpunan suatu organisasi. Apakah kecacatan itu terdapat pada lingkup transparansi maupun limitasi. Limitasi tersebut dapat diartikulasi dalam bentuk limitasi kapasitas dan kapabilitas, legalitas instrumen dan limitasi operasional. x Maka struktur pada pandangan tulisan ini, didefinisikan sebagai alat organisasi yang digunakan oleh manusia yang secara universal menerima perbedaan komunalitas dan identitas buatan untuk memudahkan dan mengatur operasional suatu organisasi dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sehingga jika seseorang mendapati posisinya di beberapa organisasi, maka tentu dia akan menggunakan alat (struktur) yang berbeda-beda. Alat tersebut harus ditinggalkan pada kondisi tertentu, dimana dia tidak berada di tempat dan waktu dia di organisasi tersebut. Pada konteks globalisasi, struktur

bukanlah suatu hal yang absolut, melainkan relatif. Kita semua maklum bahwa diskursus struktur dalam konteks globalisasi tidak dengan sederhana direduksi karena berkaitan dengan arsitekturisasi sistem internasional yang universalis, dimana intersubjek yang saling berbagi muncul sebagai negasi terhadap anarkhi dan hirakhi. xi Di sinilah universalis tiba pada definisi struktur dalam hubungan internasional. Negara dan Identitas Buatan Menurut salah seorang profesor dari Compultense University of Madrid, Antonio Marquina, hasil dari wawancaranya oleh Schouten, menyebutkan bahwa globalisasi adalah satu dari sedemikian banyak perdebatan penting dalam ilmu hubungan internasional. xii Kenapa menjadi salah satu? Tentu jawabannya adalah desentralisasi sumber kepatuhan terhadap otonomi negara tidak cukup menjawab tantangan dan kebutuhan manusia. Globalisasi menjadi spektrum pemahaman yang harus terus diselidiki pembenarannya bagi kebutuhan manusia. Pasalnya, akan selalu ada faktor pendorong bagi setiap manusia untuk menerima globalisasi. Namun, globalisasi yang seperti apa yang dapat diterima oleh manusia sebagai keniscayaan dalam memenuhi hasrat kedamaian dan keberlangsungan ekonomis? Jawaban langsung yang dapat dihidangkan adalah globalisasi yang stateless; Globalisasi yang saatnya tidak menerapkan fanatisme terhadap nasionalisme berlebihan, globalisasi yang membuang sumber kepatuhan teratas yang memiliki prinsip perbudakkan atas kehidupan manusia dan globalisasi yang tanpa desentralisasi feodalitas yang berpotensi mencederai universalitas hak dan kewajiban manusia. Landasan utama untuk mendukung karakter globalisasi yang tercatat di paragraph sebelumnya adalah pemahaman terhadap negara dan kedaulatan itu sendiri, namun dengan pendekatan historis. Dengan begitu, setidaknya akan dapat dipahami sebetulnya di tingkat awal, untuk apa negara didirikan terhadap fenomena pada kali pertama negara dan kedaulatan itu dibentuk. Untuk memahami itu semua, maka tidak lain tentu mesti merujuk pada histori Westphalia. Perdamaian Westphalia (Peace of Westphalia) pada tahun 1648 telah memulai sejarah baru dalam sistem hukum Eropa yang pengaruhnya hingga saat ini masih terasa bahkan melekat pada tidak hanya masyarakat Eropa namun seluruh individu di dunia. xiii Pasca abad pertengahan, sistem normatif modern muncul dengan semangat yang besar pada saat itu dengan hadirnya

Perdamaian Westphalia. Semangat tersebut didorong oleh kelompok pemberontak (belligerent) yang terlibat dalam peperangan besar di Eropa pada saat itu. Perang tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648) dan terjadi di tempat yang sekarang dinamai Jerman. xiv Hasil dari perang tersebut selain Perdamaian Westphalia itu sendiri adalah kebangkitan Dinasti Bourbon, Kekaisaran Swedia, desentralisasi Kekaisaran Suci Roma dan runtuhnya feodalisme. Misalnya saja, lihat salah satu butir dari perjanjian Westphalia yang sangat berpengaruh, sistem kedaulatan terdesentralisasi dan negara-negara yang sederajat,xv itu membuktikan fakta politik dunia yang sekarang kita lihat sebenar-benarnya menjadi desentralisasi sumber kepatuhan sebagai urusan terpenting di dunia. Selanjutnya fragmentasi kedaulatan seringkali menjadi satu hal yang banyak masyarakat perjuangkan. Entah sebenarnya kedaulatan ini bermakna apa jika dipandang seutuhnya dalam suatu kisaran identitas. Persoalan kedaulatan ini menjadi isu terpenting yang perlu dibahas. Pasalnya, di era kekinian, kedaulatan ini menjadi faktor absolut dimana kekuasaan tertinggi berada dengan unit-unit teritorialnya yang ditegakkan oleh para pemangku kebijakan secara politis mengatur subversi kepopulasian masyarakat di suatu negara. Miller (2006) menambahkan bahwa identitas kedaulatan berdasarkan unit-unit teritorial hanya serupa dengan sebuah identitas yang terikat dengan waktu saja. Sejatinya negara hanya perlu ditekankan pada konotasi yang tidak terlalu berlebihan mengingat globalitas manusia di dunia yang universal ini. Kemudian yang terpenting adalah ortodoksi perpolitikan dunia hingga kini secara esensial sebenarnya tidak berubah dengan sebenar-benarnya perubahan. Jikalau masih terdapat hirarki yang mengerucut pada pusat kepatuhan tertinggi baik itu secara sadar maupun tidak, secara ekonomi maupun politik, maka kesetaraan kedaulatan suatu unit teritorial tertentu gagal berfungsi dalam melindungi hak-hak manusia untuk memiliki martabat kemanusiaan. Sekali lagi identitas adalah hak bagi manusia itu sendiri. Maka kedaulatan akan identitas itu yang menjadi terpenting. Kedaulatan yang membumikan kesejahteraan dan perdamaian. Terakhir, kesalahan terbesar adalah ketika suatu perlindungan kedaulatan diupayakan dengan kekuatan militer. Kemiliteran telah sejak beribu-ribu tahun silam menjadi jargon utama dalam pembentuk suatu unit kekuasaan. Perpecahan dan persaingan sudah banyak disadari disebabkan oleh dilema keamanan. Lingkaran setan konflik dan persengketaan tidak akan pernah terputus

jika suatu negara masih menerapkan militer sebagai unit perlindungan hak kedaulatan. Kesadaran akan kebersamaan di tengah keragaman identitas adalah satu-satunya jalan untuk memutuskan lingkaran setan tersebut. Terlihat normatif memang, selayaknya liberalisme eropa yang telah mengungkapkan hal tersebut. Namun jika kita melihat kondisi sekarang, kita sadar bahwa kita berada di situasi yang tidak terlepas dari ancaman keamanan. Cukup menarik untuk sedikit mengambil salah satu pandangan John Stuart Mill Simbahnya Liberal Modern, bahwa keterlaluan dalam mengidentitaskan suatu negara, apabila seorang yang memiliki kewenangan dalam bidang kenegaraan bertindak korupsi. Inilah reinkarnasi feodalisme yang tidak akan berhenti, sebagai konsekuensi suatu negara yang tidak menerapkan keadilan yang sesungguhnya. Sehubungan dengan apa yang telah dikatakan mengenai perlunya melindungi masyarakat dari contoh buruk yang diberikan oleh orang-orang jahat atau yang amat egois, benarlah bahawa contoh perilaku yang dapat menimbulkan akibat yang berbahaya pula, apalagi jika seorang yang jahat dengan kewenanangannya atas negara tidak dihukum. xvi Tabel 1. Posisi negara berdasarkan paradigma-paradigma ilmu hubungan internasionalxvii
Liberalis - Sebuah proses, termasuk memperjuangkan kepentingan - Refleksi kepentingan pemerintah dan sosial - Repositori kepentingan nasional ganda - Pemilik sumber kekuatan yang sepadan Realis - Aktor otonomi - Dibatasi hanya oleh anarkhi sistem internasional - Berdaulat - Dipandu oleh kepentingan nasional yang bermuara pada power Radikalis - Agen borjouis - Dipengaruhi oleh tekanan kapitalis - Terstruktur oleh sistem internasional yang kapitalis Universalis Modern - Unit teritorial yang memberikan identitas terhadap populasi di dalamnya sesuai dengan yuridiksi hukum - Pembatas yang memiliki batasan - Unit kedaulatan yang lebih rendah dari kedaulatan individu - Penjamin kesejahteraan - Terikat oleh waktu dan hak individu yang adil

Sehingga dapat disimpulkan keterkaitan negara sebagai identitas buatan yang memiliki batasan kedaulatan atas hak individu dengan universalitas globalisasi, masyarakat internasional tidak dapat didefinisikan sebagai layaknya identitas alami. Melainkan masih terkekang oleh sebuah identitas yang belum bebas dari perkara otoritas negara. Universalis modern menekankan bahwa universalisasi identitas adalah pengesampingan negara di dalam upaya perdamaian dunia.

C. Globalisasi, Masyarakat Universal dan Universalisme Modern

Rasionalisme dan idealisme keduanya memiliki kesamaan ukuran paradigmatik yang perlu disimak dengan baik. Kesamaan tersebut adalah pada letak pendefinisian masyarakat internasional. Sebagaimana yang telah banyak dijelaskan diatas, masyarakat internasional tidak bisa disepakati sebagai masyarakat yang bebas dari identitas politis dari sebuah ekstensi kekuasaan satu negara yang memiliki posisi teratas dalam struktur hirarki sistem internasional. xviii English School dan Masyarakat Internasional: Cacat Makna Pertama, apa yang menjadi kritik besar terhadap rasionalisme atau English School dikhususkan atas pernyataan Linklater dibawah ini: The English School recognizes that each approach contains insights about the condition of international politics. The realists claim that states, unlike individuals in civil society, are forced to provide for their own security in the condition of anarchy is valuable, as is its emphasis on how adversaries seek to outmanoeuvre, control and overpower one another. The international system is not a state of war despite the fact that each state has a monopoly of control of the instruments of violence within its territory. Because of a common interest in placing restraints on the use of force, states have developed the art of accommodation and compromise which makes an international society possible.xix Monopoli yang dilakukan oleh negara untuk menggunakan instrumen violence terhadap komponen-komponen di dalam teritorialnya menurut universalis modern adalah suatu penyelewengan yang sebenar-benarnya adalah sesuatu yang harus dijauhkan dari lingkungan kehidupan bermasyarakat. Jika semua negara memiliki hak untuk itu, bagaimana dengan negara yang berada pada posisi teratas dalam struktur hirarki sistem internasional? Naf sekali apabila identitas buatan ini dikorupsi kedaulatan murninya dengan penjebolan terhadap kekuatan saling memercayai semacam ini. Untuk apa pendefinisian masyarakat internasional dan komunitas universal yang oleh mereka promosikan jika keduanya masih dibalut kecacatan makna. Sebaiknya dari sini kita mulai berpikir untuk mengakhiri segala bentuk violence yang dianggap lumrah oleh English School tersebut.

Kedua, lihat pernyataan Linklater selanjutnya terkait masyarakat internasional: There is no guarantee that any international society will survive indefinitely or succeed in keeping crude self interest at bay, but for as long as international society exists it is important to ask whether it can be improved.xx Ini yang disebut dengan kecacatan makna dalam pendefinisian masyarakat internasional oleh English School, terutama dalam sudut pandang Linklater (2005). Tidak ada jaminan yang dapat memastikan keberlangsungan masyarakat internasional dengan kondisi damai yang universal. Tentu jelas alasan di balik kekosongan jaminan tersebut, yakni fanatisme terhadap nasionalisme dan monopoli violence oleh negara itu sendiri. Bagaimana dengan nasib globalisasi? Tentu jawabannya adalah akan terus terancam, atau dengan bahasanya Linklater adalah there is no guarantee. Solusi untuk memecahkan persoalan kecacatan makna dalam pendefinisian kali ini adalah, pertama militer harus dihilangkan dan kedua kesadaran akan pluralitas dan universalitas yang tidak bermuara pada salah satu ekstensi dari kekuatan domestik tertentu. Dengan begitu globalisasi yang universal, dimana komunikasi antarindividu dari seluruh sudut dunia terjamin tanpa ada saling kecurigaan soal keamanan dan kompetisi. Begitulah universalisme modern mengkritisi rasionalisme agar perseturuan makna dan identitas yang cacat berakhir dan perdamaian dunia akan tercapai. Kegleynian dan Masyarakat Internasional: Idealisme? Disini sedikit banyaknya akan diarahkan oleh Cynthia Weber (2009) terkait kritiknya terhadap idealisme modern yang dibawa oleh Charles Kegley yang dianggap sebagai revolusi dari idealisme klasik yang dibawa oleh Wodrow Wilson. Apa yang dikatakan oleh Kegley tentang masyarakat internasional? Terdapat dua essai karangan Kegley yang telah dibedah oleh Chyntia yang kemudian dia himpun dalam salah satu pembahasannya tentang mitos idealisme di bukunya yang berjudul International Relations Theory: a Critical Introduction. Kedua essai Kegley adalah The Neoidealist Moment in Internastional Studies?: Realist Myths and the New International Realities (1993) dan The Neoliberal Challenge to Realist Theories of World Politics: an Introduction (1995). Sebagai penerus dari ortodoksi idealisme Wodrow Wilson, Kegley mulai menampilkan wacana masyarakat internasional dalam wahana politik dunia. Namun Kegley menarik poros argumentasi untuk memerkuat posisi masyarakat

internasional dengan analogi domestik terhadap eksistensi internasional. Domestik? Lagi-lagi negara menjadi titik argumentasi dalam memindai definisi masyarakat internasional. Kenapa harus dikritisi pemaknaan ini? Kembali lagi seperti apa yang pernah dijelaskan dalam English School, otonomi domestik yang maknanya diseragamkan berbahaya bagi negara-negara yang secara politis dan ekonomis tertindas dengan penguatan struktur kapitalis dan modernis universalis ala Barat. Pasalnya, ekstensi domestik suatu negara hegemon akan dengan mudah mengontrol jaringan politik dunia. Di sisi lain, pemaknaan saling berkompetisi dalam pemahaman realis dan penerusnya sama saja bahayanya untuk keberlangsungan perdamaian dunia. Kegley mengemukakan bahwa pasca Perang Dingin, untuk sementara realisme muncul dengan pengejewantahannya terkait ketamakan atas power, ekspansi imperial, perjuangan hegemoni dan obsesi keamanan nasional. xxi Kemudian dia memberikan solusi dengan mitos masyarakat internasional dengan analogi domestik. Menurut Chyntia Weber (2009), hal tersebut hanya sebatas mitos belaka. Tidak bisa kita terima domestik sebagai spektrum analogis dalam mewacanakan universalitas globalisasi. Bahkan dalam tulisannya yang lain, Kegley telah hampir berhasil menerapkan asas-asas argumentasi dalam menghidupkan universalisme dengan atribusi modern yang netral. Dia menyebutkan bahwa sejarah dunia dipenuhi dengan kontes persaingan antara tirani dan kebebasan, raja-raja dan masyarakat berdaulat, otoritarianisme dan republikanisme, despotism dan demokrasi, dan prinsip-prinsip ideologis dan pragmatis.xxii Akan tetapi sayangnya, Kegley masih memercayai perlunya struktur yang memosisikan sumber kepatuhan teratas. Dengan begitu, kontrol domestik teratas akan terus berlangsung menjadi suatu keniscayaan dalam melanggengkan politik dunia. Universalisme modern tiba untuk mengakhiri ortodoksi hirarki struktural sistem internasional tersebut. Untuk kasus ini, universalisme modern mendobrak keangkuhan domestik yang berlebihan sebagai unit identitas buatan. Seluruh manusia secara universal dilucuti kedaulatan individunya sebagai penerima kesejahteraan dengan embel-embel globalisasi yang naf. Dengan kata lain, world order adalah kepanjangan dari ide Kegley tersebut. Dan hal itu yang ditentang oleh universalisme modern. Yang ada hanya masyarakat universal. Tipuan-tipuan definisi akan

jadi lebih berbahaya daripada persenjataan militer. Karena tipuan definisi akan mengalihkan kesadaran manusia dalam mencapai tujuan hidup manusia yang sebenarnya. Universalisme Modern Hampir menuju akhir pembahasan dari pengantar universalisme modern, tanpa menghilangkan kesyukuran terhadap manfaat dari fragmentasi dan desentralisasi sumber kepatuhan manusia terhadap negara, tulisan ini bermaksud untuk berupaya menyadarkan seluruh manusia akan haknya untuk mendefinisikan dirinya oleh kehendak diri sendiri dengan batasan hukum Tuhan dan hukum alam. Kemudian menyimpulkan dengan akal sehat dan hati nurani yang dimiliki tentang pentingnya perdamaian dunia antarmanusia diatas segala macam perbedaan identitas buatan yang tercap dalam hukum konvensional yang mereka berada di dalamnya. Secara sederhana, universalisme modern menolak kedua asumsi tentang hirarki dan anarkhi dalam sistem internasional. Hirarki yang terlampau jauh meletakkan struktur telah banyak menstimulasi hausnya jabatan teratas karena nilai-nilai dan norma-norma tereduksi di dalamnya. Selanjutnya anarkhi, dengan postulat saling berkompetisi hanya akan memperpanjang sejarah konflik besar di dunia ini. Universalisme modern tidak pernah memberikan definisi peradaban yang layak hanya pada satu entitas tertentu, apalagi menyarakan entitas tersebut menjadi tolak ukur bagi peradaban yang lain. Universalisme modern tampil sebagai bentuk penyadaran bagi seluruh manusia akan pentingnya tugas manusia sekarang ini adalah untuk mengakhiri pertikaian dan keserakahan antar umat manusia. Dengan begitu globalisasi akan terjamin sepenuhnya dalam kehidupan manusia. Universalitas adalah kunci bukan untuk membuka tapi untuk menutup kegelisahan yang telah berabad-abad menjajah manusia.

D.

Kesimpulan

Baik itu rasionalisme maupun idealisme, kita tidak dapat menerima sepenuhnya semua postulat yang oleh keduanya berikan dalam mendefinisikan kehidupan global. Penghitungan untung rugi dalam pencapaian suatu tujuan adalah naf, begitu pula normatifitas yang menipu dari segi tawarannya. Maka untuk mencapai perdamaian dunia yang terjamin, universalitas globalisasi

yang menyetarakan semua identitas berdasarkan unit teritorial dan keberlangsungan kesejahteraan adalah suatu impian yang masih menyisakan harapan untuk diwujudkan. Instrumen yang dapat digunakan adalah menghilangkan fanatisme terhadap nasionalisme, militerisme dan menumbuhkan kesadaran untuk saling berbagi dengan mereduksi egositas. Tahap-tahap tersebut adalah apa yang akan diwacanakan oleh universalisme modern.

E. Penutup

Perlu untuk diketahui bahwa pendekatan terhadap aliran ini adalah satu hal yang baru dan masih sedikit orang menyelidiki kebenaran dari aliran ini. Penulis sendiri yang mewacanakan universalisme modern dengan mengangkat upaya kritisnya terhadap rasionalisme, idealisme, anarkhi dan hirarki sistem internasional yang difokuskan terhadap spektrum definisi masyarakat internasional dan globalisasi yang sampai saat ini penulis masih merasa keduanya adalah sebatas mitos. Semoga tulisan ini dapat menjadi acuan dalam menemukan solusi terhadap konflik dunia yang sulit berakhir. Terima kasih kepada Chyntia Weber yang telah menginspirasi penulis untuk percaya diri dalam menyusun tulisan sederhana ini.

Catatan
i

Lihat Beate Jahn, 2006, Classical Theory in International Relations, New York: Cambridge University Press, hal. 18. Jahn, dalam bukunya menekankan bahwa dikotomi domestik dari internasional adalah suatu manifestasi dari norma sosial yang menyisakan struktur. Struktur tersebut adalah kesetaraan tanpa otoritas teratas. Dengan kata lain, jika adalah realisme sebagai pendekatan yang digunakan oleh seorang ilmuan, maka dia harus paham bahwa sistem yang muncul ke muka adalah tanpa struktur; anarkhi. ii Lihat Ian Clark, 1999, Globalization and International Relations Theory, New York: Oxford University Press, hal. 18 iii Lihat Chyntia Weber, 2009, International Relations Theory: A Critical Introduction, edisi ke-3, New York, Routledge, hal. 39 iv Lihat Charles W. Kegley, 1993, The Neoidealist Moment in International Studies?: Realist Myths and the New International Realities, Majalah Triwulan International Studies, hal. 46 v Lihat Clive Archer, 2001, International Organization, edisi ke-3, New York, Routledge, hal. 30, Dalam bukunya tersebut disebutkan butir-butir pendalaman working definition dari organisasi internasional: 1. Organisasi internasional sedikitnya dihimpun oleh tiga negara; 2. Keanggotaan dalam organisasi internasional dapat diwakili oleh individu atau partisipasi kolektif, kemudian tidak terdapat diskriminasi hak, sehingga seluruhnya memiliki hak penuh dalam voting. Kemudian prinsip utama voting dalam operasionalisasi organisasi internasional, tidak ada satu negara yang berhak untuk mengontrol voting dari masing-masing negara anggota. Tranparansi adalah hal utama dalam pelaksanaan dan pengesahan voting di suatu organisasi internasional; 3. Konstitusi organisasi internasional berkewajiban untuk menyediakan struktur formal sebagai acuan penyelenggaraan pemilihan offisial beserta staf kepengurusan organisasi tersebut; 4. Staf pengurus terpilih tidak boleh sama dalam kurun periode yang berurutan; 5. Setiap negara anggota memiliki kewajiban kontribusi finansial sebagai sumber operasional organisasi internasional. Dan tidak diperbolehkan suatu negara mengambil keuntungan dari hasil akumulasi keuangan tersebut; 6. Suatu organisasi internasional harus berdiri independen tanpa ada intervensi atau kontrol dari organisasi lain; dan 7. Hasil kegiatan yang telah dilaksanakan beserta bukti dari hasil tersebut harus dipublikasikan dengan tranparan dan lejitimit. vi Lihat Andrew Linklater, 2005, Theories of International Relations, bab the English School, edisi ke-3, New York, Palgrave Mcmillan, hal. 84 vii Clive Archer (2001), Op cit, hal. 58 Struktur organisasi internasional setidaknya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Status hukum keanggotaan organisasi 1. Organ antarnegara; 2. Organ fungsionaris internasional (pejabat); 3. Organ parlemen 4. Organ yang direpresentasi oleh kelompok ekonomi dan sosial; dan 5. Organ dengan keanggotaan acak Fungsi organ-organ: 1. Antarnegara: pejabat tinggi dan pejabat eksekutif; 2. Ofisial: eksekutif dan administratif; 3. Parlemen; 4. Representatif; 5. Anggota acak; dan 6. Organ cabang viii Lihat Mihaela Neacsu, 2009, Hans J. Morgenthaus Theory of International Relations: Disenchantment and Reenchantment, New York, Palgrave Mcmillan, hal. 179 ix Ian Clark (1999), Op cit hal. 19 b.

Lihat Diky Kurniawan Saputra, 2011, Mencetak Kredibilitas Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, hal. 2. Artikel tersebut dipresentasikan pada acara Loka Karya Nasional Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang dilaksanakan di Lembang, Jawa Barat. xi Lihat Dirk Nabers, 2007. Crises, Hegemony and Change in the International System: A Conceptual Framework, Hamburg, German Institute of Global and Area Studies, hal. 6 xii Lihat Theori Talks: Perbincangan Pakar Sedunia tentang Teori Hubungan Internasional Abad Ke-21, hasil kompilasi wawancara Peer Schout terhadap sejumlah pakar ilmu hubungan internasional, editor Bambang Wahyu Nugroho dan Aahmad Hanafi Rais, 2012, Yogyakarta, Lembaga Pengembangan Pendidikan, Penelitian dan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK), hal. 168 xiii Lihat Lynn H. Miller, Agenda Politik Internasional, terjemahan Daryatno, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hal. 42 xiv Ibid, hal. 43-44 Penyebab dari perang ini sangatlah kompleks dan tidak dapat disepakati penyebab tunggalnya. Perang tersebut melibatkan banyak pihak, meliputi kedua kubu. Kubu pertama datang dari aliansi negara Protestan, seperti Swedia, Prancis, Bohemia, Denmark-Norwegia, Saxony, Palatinate, Brunswick-Luneburg, Britania, Skotlandia, Prussia dan Transylvania. Kemudian dari kubu Katholik, terdiri dari Kekaisaran Suci Roma, Austria dan Spanyol. Kesultanan Utsmaniyyah pada saat itu, ketika dipimpim oleh Osman II ikut serta membantu Kerajaan Protestan Transylvania di wilayah Timur dalam upaya invansi wilayah Hungaria. Bagi sebagian pihak mengatakan bahwa perang besar ini adalah perang agama. Tapi yang terpenting perang tersebut menyisakan banyak penderitaan bagi masyarakat didalamnya, terlebih di daerah Bohemia. xv Ibid, hal. 44 xvi Lihat Diane Revitch dan Abigail Thernstrom (ed), 2005, Demokrasi Klasik & Modern, penerjemah: Hermoyo, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, hal. 126 xvii Lihat Karen A. Mingst, 2003, Essentials in International Relations, London, W. W. Norton & Company, hal. 102-103. Lihat juga Emmanualle Jouannet, 2007, Universalism & Imperalism: The True-False Paradox of International Law, London, The European Journal of International Law, vol. 18 no. 3, hal. 382-395 xviii Chyntia Weber (2009), Op cit, hal. 40 xix Andrew Linklater (2005), Op cit, hal. 87 xx Ibid, hal. 88 xxi Chyntia Weber (2009), Op cit, hal. 40 xxii Lihat Charles W. Kegley, Jr. dan Eugene R. Wittkopf, 1995, World Politics: Trend and Transformation, edisi ke5, New York, The Mcmillan Press, hal. 562