P. 1
Sawunggaling

Sawunggaling

|Views: 59|Likes:
Dipublikasikan oleh Dhead Angel

More info:

Published by: Dhead Angel on May 11, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2012

pdf

text

original

Sawunggaling, Buah Cinta Terlarang Pejabat Kerajaan

Perselingkuhan para pejabat negara ternyata tidak hanya terjadi pada dunia modern saja. Syahdan pada zaman dahulu kala, juga ada cerita tentang seorang pejabat kerajaan yang memiliki selingkuhan, yang kemudian dijadikan sebagai istri simpanan. Dari cinta terlarang ini, lahirlah seorang putra yang kondang dengan nama Sawunggaling. Nama Sawunggaling dikaitkan dengan Adipati Jayeng Rono.Sebab dialah sang pejabat negara yang memiliki istri simpanan itu dan melahirkan anak di luar nikah, Sawunggaling. Bagaimana cerita selengkapnya ada dua versi, yaitu versi Wiyung dan versi Lidah Kulon. Versi Wiyung Masyarakat daerah Wiyung sangat meyakini, bahwa Sawunggaling adalah putera asli daerah itu. Dikisahkan, nama Sawunggaling berasal dari dua kata, “Sawang” dan “Galing”. Sawang artinya lihat dan Galing berasal dari kata “aling” atau terhalang. Jadi artinya: penglihatan yang terhalang. Ceritanya sebagai berikut. Syahdan Adipati Jayeng Rono sebagai Kepala Pemerintahan, sering sekali melakukan perjalanan keliling untuk tugas kenegaraan. Kalau sekarang barangkali seperti turun ke bawah untuk mendengarkan keluhan rakyat. Atau bisa juga sang adipati keliling untuk melakukan studi banding ke daerah lain. atau mungkin untuk misi mencari daerah taklukan baru atau memungut upeti dari daerah taklukan. Tapi tak jarang perjalanan keliling itu semata-mata untuk refreshing, melepas lelah, dan memulihkan kebugaran. Kalau sekarang orang bisa jalan-jalan ke mal atau ke kafe, main golf, tenis dan menggeluti hobi lainnya, pada zamannya Adipati Jayengrono, tujuan refreshing favorit adalah berburu. Salah satu tempat berburu kesukaan sang adipati adalah hutan Wiyung di kawasan Surabaya Barat. Ternyata di balik kegemaran sang adipati berburu di hutan Wiyung adalah karena di situ tidak hanya ada hewan yang bisa jadi obyek perburuhan tapi juga ada wanita cantik yang juga layak diburu. Setiap akan memasuki hutan sang adipati selalu “singgah” di sebuah gubuk di pinggir hutan. Di dalam gubuk itu tinggal keluarga yang mempunyai anak seorang gadis cantik yang menjadi kembang desa. Lama kelamaan sang adipati manaruh hati. Lalu terjadilah apa yang sekarang ini disebut sebagai perselingkuhan atau bahasa kerennya afair. Hubungan asmara rahasia itupun terus meningkat menjadi hubungan layaknya suami istri. Sebagai akibatnya, lahirlah anak di luar nikah, yang mereka namakan Sawunggaling. Ternyata hubugan gelap ini mendapatkan restu dari ayah sang gadis desa. Bahkan ayahnya bangga anak gadisnya dipacari kalangan ningrat dan kaya raya tentunya. Sang Adipati Jayengrono benar-benar pintar menyembunyikan hubungan gelapnya sehingga sama sekali tidak sampai bocor ke keraton. Demi menjaga keutuhan keluarga keraton, Adipati

Suatu hari Adipati Jayeng Rono membutuhkan seseorang untuk mengisi jabatan Temenggung. Letaknya di desa Lidah Wetan. Ia merasa kesulitan mendapatkan sosok yang benar-benar cocok untuk jabatan itu. Makam keluarga Sawunggaling di Lidah Wetan itu hingga sekarang terawat dengan baik.Jayeng Rono melarang Sawunggaling dan keluarganya pergi ke wilayah keraton. tidak jauh dari keraton adipati. Setelah dinobatkan menjadi Temenggung. Ternyata dalam pertarungan itu. Surabaya Barat. maka kemudian dinobatkanlah Sawunggaling menjadi Temenggung di keraton Surabaya. Ia pun minta izin kepada ibunya untuk ikut pertandingan sabung ayam di alun-alun keraton Surabaya. maupun ibunya. Ketiga: makam kakeknya bernama Raden Karyosentono. Sahibulhikayat. Sayembara itu akhirnya sampai juga di telinga Sawunggaling. Wiyung dan sekitarnya. Sawunggaling tidak pernah kawin dan membujang sampai wafat. Versi Lidah Wetan Lain lagi dengan versi warga Lidah Wetan. Sawunggaling bersama ibunya tinggal di ketemanggungan. Di komplek pemakaman itu terdapat empat makam lainnya. tidak jelas juga. Karenanya ia pun menyelenggarakan sayembara yang pemenangnya mendapatkan hadiah jabatan Temenggung. Sawunggaling tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Yang keempat: makam Raden Ayu Pandansari. Namun. Namun sebagian kisah meyakini. Ayam yang harus dikalahkan para peserta sayembara tak lain adalah ayam sang adipati sendiri. Salah satu kegemaran Sawunggaling adalah memelihara ayam jago dan sering mengikuti adu ayam di kampungnya. ketika seorang puteri keraton Jogjakarta bernama Raden Ayu Dewi Sangkrah . yaitu sabung ayam. Kecamatan Lakarsantri. Ada yang mengatakan ia adalah peri atau makhluk halus jadi-jadian yang selalu menyertai kemanapun Sawunggaling bepergian.Pertama: makam ibunya Raden Ayu Dewi Sangkrah. puteri kesayangan Raja Jin yang menguasai hutan di wilayah Lidah. bagaimana kehidupan dan kelanjutan kisah Sawunggaling. Kedua: makam neneknya Mbah Buyut Suruh. ayam jago Sawunggaling berhasil mengalahkan ayam jago Jayeng Rono. Konon ia adalah lelembut. bagaimana kemudian peran temenggung dalam pemerintahan Adipati Jayeng Rono tidak jelas. Kisah tentang Pandansari ini beragam. Ada pula yang menyatakan wanita cantik itu adalah isteri Sawunggaling. Nasihat sang ayah ini benar-benar dipatuhi Sawunggaling. Sayembaranya cukup unik. Sesuai dengan janji sang adipati. Mereka tidak hanya merangkum sebuah cerita rakyat tapi membawa bukti bahwa Sawunggaling itu arek Lidah Wetan dengan menunjuk adanya komplek Makam Keluarga Sawunggaling. Bahkan.

Adipati Jayeng Rono selalu menyempatkan singgah di rumah keluarga mbah Buyut Suruh dan Raden Karyosentono. Di desa itu. Dari perkawinan “rahasia” tanpa sepengetahuan keraton itu. Ini dilakukan oleh dua adik tirinya. saat Sawunggaling masih anak-anak dan tidak pernah lagi didatangi Adipati Jayeng Rono. Sebagai tanda. Kepada Dewi Sangkrah. Konon suatu hari. Konon. sang ibu harus memberitahu bahwa ayahnya adalah Jayeng Rono dan menemuinya di keraton Surabaya. Setiap kali melakukan lawatan ke desa di pinggiran Surabaya itu. Dewi Sangkrah bersama keluarganya tetap tinggal di desa. saat memasuki hutan itu banyak gangguan. akan menemui ajal atau mati. Tanpa banyak pertimbangan. Ketika sawungggaling memasuki usia remaja. Konon pula. ia tersesat ke desa Lidah. Sawunggaling ditemani kakek angkatnya Raden Karyosentono berangkat menuju keraton melintasi hutan belantara. Gelora asmara benar-benar sudah tidak terbendung lagi. Di samping gangguan para punggawa. Demi menjaga kerukunan keluarga keraton. Sawungrono dan Sawungsari. Ada ungkapan di kala itu: “jalmo moro. bahwa ia adalah anak Raden Adipati Jayeng Rono. ada upaya untuk menggagalkan rencana Sawunggaling menemui ayah kandungnya di keraton Surabaya.datang ke Surabaya. di sini ikut berperan peri Raden Ayu Pandansari. Dewi Sangkrah yang cantik itu diangkat sebagai anaknya sendiri. Tujuannya tidak lain “mengapeli” anak angkat keluarga ini yang bernama Raden Ayu Dewi Sangkrah. Jayeng Rono meninggalkan sehelai selendang yang disebut “cinde” kepada Dewi Sangkrah. maka Dewi Sangkrah kawin dengan laki-laki lain dan melahirkan dua anak. dia diminta segera menemui ayahnya di keraton Surabaya. lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Sawunggaling. ia ditampung oleh mbah Buyut Suruh yang tinggal bersama suaminya Raden Karyosentono. Sawunggaling bersama Raden Karyosentono. Dewi Sangkrah memberitahu anaknya. berhasil menerobos hutan dan sampai di keraton Surabaya. Di keraton Surabaya yang lokasinya diperkirakan di Balai Budaya Cak Durasim yang sekarang di Jalan Gentengkali itu. anak raja jin penguasa hutan Wiyung. Adipapati Jayeng Rono berpesan agar menjaga dan mengasuh anaknya sampai dewasa. juga gangguan makhluk halus. Adipati Jayeng Rono dibuat tertegun dengan kecantikan Dewi Sangkrah. Sesuai pesan ayahnya. Selendang atau “cinde” itu kelak dijadikan bukti oleh Sawunggaling ketika menemui ayahnya di keraton. dalam perjalanan dinasnya ke desa Lidah. Nah. Sawunggaling bersama Raden Karyosentono diterima Raden Adipati . sebab waktu itu wilayah sekitar Lidah masih hutan belantara. kalau nanti Sawunggaling sudah dewasa. bernama Sawungrono dan Sawungsari Akhirnya berkat kesungguhannya. pada suatu hari sang adipati melamar Raden Ayu Dewi Sangkrah menjadi isterinya melalui Raden Karyosentono. artinya: siapa yang berani masuk hutan. Sang Adipati tidak menyangka di desa itu ada gadis cantik berdarah “biru”. Namun untuk menuju keraton tidak mudah. Bahkan. jalmo mati”. Pesan lainnya. Dengan tekad yang bulat.

yakni: Joko Berek. Sawunggaling diberi tugas menjadi pendamping adipati sebagai Temenggung dengan gelar Raden Mas Ngabehi Sawunggaling Kulmosostronagoro. Adipati Jayeng Rono sertamerta merangkul Joko Berek yang tiada lain adalah anak kandungnya sendiri. Sejak saat itu. Setelah Joko Berek memperlihatkan selendang “wasiat” titipan ibunya. .Jayeng Rono. Sawunggaling memperkenalkan diri dengan panggilan sehari-harinya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->