Anda di halaman 1dari 4

STAINLESS STEEL

400

Temperatur (K)

350 100 125 300 150 175

250 0 1 2 3 4 5 6 7

Jarak Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa untuk posisi yang sama temperatur yang paling tinggi adalah pada set point 175 yaitu kurang lebih pada angka 380 K kemudian semakin rendah sesuai dengan nilai set point. Temperatur terendah terdapat pada set point 100 (kurang lebih 330 K). Temperatur pada titik 1 memiliki nilai tertinggi dikarenakan posisi titik 1 paling dekat dengan elemen pemanas atau heater. Pada masing-masing set point, temperatur di titik 6 tidak terdapat perbedaan nilai yang signifikan. Pada titik 1-2 dan 5-6 penurunan temperatur lebih rendah dari pada 3-4 dikarenakan titik 1-2 dan 5-6 merupakan logam penghantar yang memiliki bahan yang sama yaitu tembaga, sedangkan titik 3-4 merupakan stainless steel. Berdasarkan rumus maka untuk q dan A yang konstan, nilai T

dipengaruhi oleh nilai k (koefisien konduksi), semakin tinggi nilai k maka nilai T semakin rendah. Sehingga pada grafik diketahui kalau T dari tembaga lebih rendah dari T dari stainless steel maka dapat diketahui bahwa nilai k dari tembaga lebih tinggi dari pada nilai k dari stainless steel. Grafik di atas sesuai dengan teori bahwa semakin jauh dari elemen pemanas (heater) maka temperatur juga akan semakin rendah.

BESI
400

Temperatur (K)

350 100 125 300 150 175

250 0 1 2 3 4 5 6 7

Jarak Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa untuk posisi yang sama temperatur yang paling tinggi adalah pada set point 175 yaitu mendekati temperatur 400 K kemudian semakin rendah sesuai dengan nilai set point. Temperatur terendah terdapat pada set point 100 (kurang lebih 360 K). Temperatur pada titik 1 memiliki nilai tertinggi dikarenakan posisi titik 1 paling dekat dengan elemen pemanas atau heater. Pada masing-masing set point, temperatur di titik 6 tidak terdapat perbedaan nilai yang signifikan. Pada titik 1-2 dan 5-6 penurunan temperatur lebih rendah dari pada 3-4 dikarenakan titik 1-2 dan 5-6 merupakan logam penghantar yang memiliki bahan yang sama yaitu tembaga, sedangkan titik 3-4 merupakan besi. Berdasarkan rumus maka untuk q dan A yang konstan, nilai T

dipengaruhi oleh nilai k (koefisien konduksi), semakin tinggi nilai k maka nilai T semakin rendah. Sehingga pada grafik diketahui kalau T dari tembaga lebih rendah dari T dari besi maka dapat diketahui bahwa nilai k dari tembaga lebih tinggi dari pada nilai k dari besi. Grafik di atas sesuai dengan teori bahwa semakin jauh dari elemen pemanas (heater) maka temperatur juga akan semakin rendah.

ALUMUNIUM
450

Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa untuk posisi yang sama temperatur yang paling tinggi adalah pada set point 175 yaitu mendekati temperatur 405 K kemudian semakin rendah sesuai dengan nilai set point. Temperatur terendah terdapat pada set point 100 (kurang lebih 370 K). Temperatur pada titik 1 memiliki nilai tertinggi dikarenakan posisi titik 1 paling dekat dengan elemen pemanas atau heater. Pada masing-masing set point, temperatur di titik 6 tidak terdapat perbedaan nilai yang signifikan. Pada titik 1-2 dan 5-6 penurunan temperatur lebih rendah dari pada 3-4 dikarenakan titik 1-2 dan 5-6 merupakan logam penghantar yang memiliki bahan yang sama yaitu tembaga, sedangkan titik 3-4 merupakan alumunium. Berdasarkan rumus maka untuk q dan A yang konstan, nilai T

dipengaruhi oleh nilai k (koefisien konduksi), semakin tinggi nilai k maka nilai T semakin rendah. Sehingga pada grafik diketahui kalau T dari tembaga lebih rendah dari T dari alumunium maka dapat diketahui bahwa nilai k dari tembaga lebih tinggi dari pada nilai k dari alumunium. Grafik di atas sesuai dengan teori bahwa semakin jauh dari elemen pemanas (heater) maka temperatur juga akan semakin rendah.

k = f(T.avg)
250 230 210 190 170 STAINLESS STEEL BESI ALUMUNIUM STAINLESS STEEL (Teori) BESI (Teori) ALUMUNIUM (Teori)

k (W/m.K)

150 130 110 90 70 50 30 10 310 320 330 340 350 360

Temperatur (K)

Berdasarkan grafik konduktifitas teori, konduktifitas yang paling tinggi adalah aluminium kemudian besi dan terakhir adalah stainless steel. Tetapi grafik praktikum didapatkan nilai k di masing-masing specimen tidak memiliki perbedaan yang signifikan atau hampir sama (kisaran angka 10-30 W/m.K). Dimana nilai k tertinggi terdapat pada specimen stainless steel, namun semakin tinggi temperatur maka nilai k stainless steel semakin rendah. Pada urutan kedua terdapat specimen alumunium, nilai k alumunium cenderung konstan dan urutan ketiga adalah specimen besi, nilai k besi tertinggi terdapat pada temperatur antara 340 K hingga 350 K. Pada grafik diatas juga dapat dilihat bahwa grafik teori lebih tinggi dari grafik praktikum kecuali grafik teori stainless steel. Berdasarkan rumus maka untuk q dan A yang konstan nilai k dipengaruhi

oleh nilai T, semakin tinggi nilai T maka nilai k semakin rendah. Sehingga jika aluminium paling tinggi nilai konduktifitasnya maka T dari aluminium paling rendah. Tetapi pada praktikum didapatkan bahwa T dari alumunium dan besi memiliki nilai cenderung sama (nilai T=20 K) dan T tertinggi terdapat pada specimen stainless steel (nilai T=25 K). Ketidak sesuaian antara grafik teori dan praktikum dapat terjadi karena luasan yang tidak sama antara tembaga dan specimen sehingga asumsi q yang keluar dari tembaga tidak sama dengan q yang masuk ke specimen. Dan kesalahan dalam meletakkan thermocouple pada specimen sehingga temperatur yang diukur kurang akurat.