Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada pelajaran Matematika kelas V terdapat kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Tujuan pembelajaran adalah 1) meningkatkan kemampuan

ketrampilan mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran bangun ruang . Sedangkan indikator keberhasilan adalah :

2) meningkatkan

1)

Siswa

dapat

menyebutkan bagian-bagian bangun ruang dengan benar. 2) Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dengan benar. 3) Siswa dapat menggambar bangun ruang dengan benar. Namun kenyataan pembelajaran dikelas tidak sesuai dengan

indikator-indikator keberhasilannya yaitu : 1) Sebagian besar siswa belum dapat menyebutkan bagian-bagian bangun ruang dengan benar. 2) Siswa belum dapat mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dengan benar. 3) Siswa belum dapat menggambar bangun ruang dengan benar.

Terjadinya kegagalan tersebut diatas disebabkan antara lain : 1) Pembelajaran masih menggunakan paradigma lama 2) Teacher Centre Oriented, yaitu belajar terpusat pada guru yang mengacu pada ketuntasan materi semata. 3) Book Oriented, yaitu belajar berdasar pada buku dan lebih dipersiapkan untuk menjawab soal tes atau ujian semata. 4) Minimnya media alat peraga sebagai sumber belajar. 5) Siswa kesulitan membaca bahan tek, gambar, bagan dan sejenisnya. 6) Siswa terbiasa menghafal fakta daripada menemukan fakta. 7) Siswa terbiasa menghafal konsep daripada menemukan konsep. Apabila kenyataan pembelajaran yang demikian itu terus berlangsung tanpa adanya usaha perbaikan, jelas akan merugikan guru, siswa, maupun kelas. Kerugian guru, yaitu tujuan pembelajaran tidak tercapai dan harus mengulang berarti akan banyak menyita waktu. Kerugian siswa, yaitu siswa akan kesulitan ketika menerima materi yang lebih tinggi tingkat kesulitannya serta siswa tidak lulus KKM. Kerugian Klasikal dengan KKM = 70 hanya mencapai 40 % Berarti masih kurang 35% dari ketuntasan yang telah ditetapkan 75%. Sebagai solusi untuk memperbaiki pembelajaran dengan kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang maka digunakan metode Inquiry dan Descovery. 2

Metode Inquiry dan Descovery digunakan sebab memiliki keunggulan antara lain : 1) Metode Inquiry dan Descovery dapat membuat siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir. 2) Metode Inquiry dan Descovery merupakan

metode menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan instriksik ini mendorongnya ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat. 3) Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode Inquiry dan Descovery akan lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks. 4) Metode Inquiry dan Descovery belajar sendiri. Metode Inquiry dan Descovery disamping memiliki keunggulanmelatih untuk lebih banyak

keunggulan sebagaimana yang telah disebutkan, juga memiliki spesifikasi, yaitu Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengamalami sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat dan mendorong siswa untuk belajar seumur hidup.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka perumusan masalah adalah sebagai berikut : 1. Apakah metode Inquiry dan Descovery dapat meningkatkan ketrampilan mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang di kelas V SD Negeri 02 Pagenteran Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012. 2. Bagaimana metode Inquiry dan Descovery dapat meningkatkan

ketrampilan mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang di kelas V SD Negeri 02 Pagenteran Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012.

C. Tujuan penelitian 1. Tujuan Umum Meningkatkan kemampuan berfikir kreatif/berkarya inovatif dan memperbaiki kenerja guru dalam pembelajaran memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun. 2. Tujuan Khusus Meningkatkan kemampuan mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang pada pelajaran matermatika melalui metode Inquiry dan Descovery.

D. Manfaaat penelitian 1. Manfaat bagi siswa Melalui pembelajaran dengan metode Inquiry dan Descovery

dimana siswa diberi kesempatan untuk mengamalami sendiri proses menemukannya. Sehingga dapat meningkatkan aktivitas, motivasi, keberanian, kerjasama, dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Bearti siswa terbiasa berfikir atau berkarya inovatif. 2. Manfaat bagi guru Melalui pembelajaran dengan metode Inquiry dan Descovery dimana guru berkesempatan untuk mendapatkan pengalaman profesional dalam upaya meningkatkan mengedintifikasi pembelajaran matematika pada kompetensi dasar bangun ruang, sehingga guru dapat

sifat-sifat

meningkatkan kemampuan mengajarnya yang nantinya dapat dijadikan sebagai acuan atau pedoman bagi guru untuk keberasilan pembelajaran di waktu-waktu yang akan datang. 3. Manfaat bagi sekolah Sejalan dengan peningkatan kualitas proses pembelajaran dimana guru bekerja lebih baik dan siswa lebih aktif tentu dapat meningkatkan kinerja sekolah atau mutu sekolah, hal itu menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab sekolah terhadap proses pembelajaran, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap sekolah terjaga. 5

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS A. Landasan Teori 1. Kemampuan ketrampilan mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Dalam mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi beberapa aspek yaitu: aspek bilangan, aspek geometri, aspek pengukuran dan aspek pengolahan data. Dalam materi aspek geometri terdapat pokok pembahasan macam macam bangun ruang. Adapun yang dimaksud dengan bangun ruang adalah bangun yang memiliki bidang yang membatasi bagian dalam dan bagian luar (tiga diminsi) yang disebut bidang sisi. Sedangkan yang dimaksud sisi adalah sekat dari bidang yang merupakan batas antara bidang dalam dan luar bangun. Macam bangun ruang itu banyak sekali, dari sekian banyak bangun ruang dapat dibagi menjadi dua kelompok bangun ruang yaitu bangun ruang Prisma dan bangun ruang Limas. Bangun rungan yang bagian sisi bawah/alas dengan bagian sisi atas/tutupnya sama dinamakan bangun ruang Prisma, sedangkan bangun ruang bagian sisi bawah/alas tidak sama dengan bagian sisi atas/tutup dan bagian bertemu pada satu titik sudut dinamakan limas. Adapun yang dimaksud dengan titik sudut adalah pertemuan/perpotongan antara rusuk deang rusuk.

Contoh dari bangun ruang Prisma itu sendiri yaitu prisma segi tiga, prisma sigi empat (kubus atau balok), prima segi lima, prisma segi enam dan seterusnya, karena nama bangun prisma ditentukan oleh bentuk bagian atas dan bawah dari prisma itu sendiri. Sedangkan bangun ruang limas yaitu bangun ruang yang bagian atasnya lancip atau rusuknya bertemu dalam satu titik yang disebut titik sudut. Adapun nama dari limas ditentukan oleh sisi alas/dasar dari limas tersebut, contohnya limas segi tiga maka sisi alas/dasarnya berbentuk segi tiga, sedangkan limas segi empat maka alas/dasarnya berbentuk segi empat dan seterusnya. Dalam pembelajaran matematika aspek geometri dalam sub bangun ruang agar pesertadidik pahan dan mengerti maka siswa harus melihat, mengamati dan merasakan langsung dari bangun ruang tersebut maka anak sebaiknya dibawa kesuatu ruang yang yata sesuai dengan bangun ruang yang mau dipelajari kalau tidak memungkinkan maka dibutuhkan media atau alat peraga berupa gambar dan miniature dari sebuah bangun ruang tersebut agar anak tidak abstrak dalam memaknai suatu bagun ruang tersebut.

2. Metode Inquiry dan Discovery a) Pengertian Metode Inquiry dan Discovery Metode Inquiry dan Discovery pada dasarnya dua metode

pembelajaran yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Inquiry artinya penyelidikan, sedangkan discovery adalah penemuan. Dengan demikian melalui penyelidikan siswa akhirnya dapat memperoleh suatu penemuan. Tujuan metode penemuan adalah : 1) meningkatkan keteribatan

peserta didik dalam menemukan dan memproses bahan pelajarannya. 2) Mengurangi ketergantungan peserte didik pada guru untuk mendapatkan pengalaman belajarnya. 3) Melatih peserta didik menggali dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yang tak ada habisnya serta member pengalaman belajar seumur hidup. Metode inquiry dan discovery menurut M.G Dwidjastuti, dkk (2003:82) memilik kelebihan diantaranya: 1) Dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. 2) Melatih belajar mendiri. 3) Menimbulkan kepuasan batin karena penemuan. Namun juga memeliki kelemaan diantaranya: 1) Tidak semua guru siap melaksanakan metode ini. 2) Tidak semua siswa berminat melakukan penemuan. 3) Tidak cocok untuk kelas dengan jumlah siswa yang besar.

Metode pembelajaran ini berkembang dari ide John Dewey (1913) yang terkenal dengan Peoblem Solving Menthod atau metode pemecahan masalah. Langkah-langkah pemecahan masalah sebagaimana dikemukakan dimuka, merupakan suatu pendekatan yang dipandang cukup ilmiah dalam melakukan penyelidikan dalam angka memperoleh suatu penemuan. Semua yang ditempuh, dari mulai perumusan masalah, hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dengan data dan menarik kesimpulan jelas membimbing siswa untuk selalu menggunakan pendekatan ilmiah dan berpikir secara obyektif dalam memecahkan masalah. b) Cara pelaksanaan metode inquiry dan discovery 1.) Inquiry terpimpin Pada inquiry terpimpin pelaksanaan penyelidikan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing. Pelaksanaan

pembelajaran dimulai dari suatu pertanyaan inti. Dari jawaban yang dikemukakan siswa , guru mengajukan berbagai pertanyaan melacak, dengan tujuan mengarahkan siswa ke suatu kesimpulan yang diharapkan. Selanjutnya siswa melakukan percobaanpercobaan untuk membuktikan pendapat yang dikemukakan proses inquiry dan discovery. 9

2.) Inquiry bebas . Dalam hal ini siswa melakukan penelitahan bebas sebagaimana seorang scientist. Masalah dirumuskan sendiri, eksperimen (penyelidikan) dilakukan sendiri, dan kesimpulan konsep diperoleh sendiri. 3.) Inquiry bebas yang dimodifikasi Berdasarkan masalah yang diajukan guru dengan konsep atau teori yang sudah didapati siswa melakukan penyelidikan untuk membuktikan kebenarannya. c) Langkah-langkah melaksanakan metode inquiry dan discovery : 1.) Identifikasi kebutuhan siswa. 2) Seleksi pendahuluan terhadap prinsipprinsip pengertian, konsep yang akan dipelajari. 3)Seleksi materi pembelajaran dan problema atau tugas-tugas. 4) Membantu

menjelaskan tugas problema yang akan dipelajari dan peranan masingmasing siswa. 5)Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan. 6) Mengecek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas- tugas siswa. 7) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan. 8) Membantu siswa dengan informasi / data jika dilakukan. 9) Memimpin analis sendiri dengan pertanyaan yang mengarahakan dan mengidentifikasi proses. 10) Merangsang terjadinya interaksi antar siswa. 10

3. Mata pelajaran Matematika a) Pengertian Matematika Menurut Depdiknas (2006: 157) matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan tehnologi modern

mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang tehnologi informasi dewasa ini ditandai oleh perkembangan matematika dibidang teori bilangan aljabar, analis, teori peluang dan Matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan tehnologi di masa depan diperlukan pengasaan Matematika yang kuat sejak dini (Permendiknas No. 22 Tahun 2006, 157). Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah. 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi Matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan peryataan Matematika.

11

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model Matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam

kehidupan yaitu memliki rasa ingi tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari Matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Matematika sekolah adalah Matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar dan pendidikan menengah. Matematika tersebut terdiri atas bagianbagian matematika yang dipilih guru untuk menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta terbantu siswa pada perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi ciri penting dari Matematika adalah : 1. Memiliki objek kajian yang abstrak 2. Berpola fikir deduktif dan konsisten Matematika adalah ilmu universal yang mendasari perkembangan tehnologi modrn mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia (Permendiknas No. 22, 2006)

12

b) Pembelajaran Matematika di SD Proses belajar mengajar merupakan rangkain kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentapkan. Pengelolaan proses belajar mengajar untuk masing-masing jenis dan jenjang pendidikan perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan berfikir. Menurut Piaget, anak usia 7 sampai 11 tahun berada pada tahap perkembangan yang bersifat simbolis-abstrak. Belajar pada tahap ini diarahkan pada logika pengelompakan dan hubungan. Pada tahap ini kebebasan anak meningkat lebih tinggi dari dunia pengalaman disekitar anak menuju perkembangan kemampuan indukatif. Anak pada tahap ini menggunakan konsep dan teori untuk memilih dan membentuk pengalaman (Suciati, 2002). Pembelajaran Matematika di SD diharapkan dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (Contextual Proplem). Dengan demikian mengajukan masalah kontektual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep Matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajran diharapkan menggunakan

tehnologi informasi seperti computer, alat peraga atau media lainnya.

13

Pada hakekatnya pelajaran matematika diajarkan di SD adalah membentuk sikap yang logis dalam memecahkan masalah hidup di masyarakat. Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut : a. Bilangan b. Geometrid an pengukuran c. Pengelolahan data. (Standar Isi dan SKL SD/MI 2006: 158

14

B. Kerangka Berfikir
Kondisi Awal Pembelajaran : Guru : 1) Menggunakan paradigm lama 2) Teacher Centre Oriented 3) Book Oriented 4) Minimnya media pembelajaran Siswa : 1) Kesulitan membaca bahan tek dan gambar. 2) Terbiasa menghafal fakta 3) Terbiasa menghafal konsep Kelas : Dari KKM KD 70 diharapkan 75% siswa telah tuntas, namun kenyataannya baru 40% siswa yang tuntas.

Tindakan

Metode Iquiry dan Discavery Bersifat : 1. 2. 3. 4. Eksploratif Kontributif Komunikatif partisipatif

Siklus : 1. Perencanaan 2. Pelaksanaan 3. Pengamatan 4. Refleksi

Kondisi Akhir

Terbentuknya kompetensi Kemampuan Siswa dapat

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang.

Deskripsi Kerangka Berpikir Jika kondisi pembelajaran masih menggunakan paradigma lama,

terpusat pada guru (teacher centre oriented),hanya berorentasi pada buku (book oriented) serta minimmnya alat peraga. Sehingga siswa akan menghafal fakta dan konsep semata tanpa mengalami menemukan fakta maupun konsep. Akibatnya KKM KD 70 yang diharapkam 75% siswa telah tuntas namun kenyataannya baru 40% siswa yang tuntas. Hal demikian memerlukan tindakan dengan menggunakan metode inquiry dan discovery yang bersifat Eksploratif, konstributif, komunikatif, dan partisipatif yang harus direncanakan , dan dilaksanakan dengan baik dan benar dengan harapan kemampuan meningkat yang nantinya ketuntasan KKM KD dapat terpenuhi.

C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir diajukan suatu hipotesis bahwa metode Inquiry dan Descovery dapat meningkatkan

kemampuan ketrampilan mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang pada pelajaran Matematika kelas V SD Negeri 02 Pagenteran.

16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 02 Pagenteran dilaksanakan dalam II siklus dengan rincian : Siklus I dilaksanakan satu kali pertemuan yaitu tanggal 14 Maret tahun 2012, siklus II dilaksanakan satu kali

pertemuan, yaitu tanggal 21 bulan Maret Tahun 2012. Penentuan waktu dilaksanakan tindakan kelas disesuaikan dengan jadwal tugas mengajar dan pembahasan kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Peneliti adalah guru kelas Pendidikan S1 IKIP PGRI tahun 2001 Pengalaman mengajar sejak 01 Maret 1993 sampai dengan sekarang tahun 2012 (38 semester). Dengan pangkat Pembina sejak 01 Oktober 2009 ( 6 semester) terakhir sebagai guru SD Negeri 02 Pagenteran.

B. Subyek penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas V semester 2 Tahun pelajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa 20 yang terdiri dari 9 laki-laki 11 perempuan.

17

Kelas V dijadikan subyek penelitian dengan pertimbangan bahwa kelas tersebut dengan materi kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dengan KKM = 70 ketuntasan secara klasikal pada kondisi awal baru mencapai 40% sedangkan ketentuan ketuntasan klasikal 75% . Berarti tantangannya adalah 35%.

C. Sumber Data Penelitian ini menggunakan sumber data yaitu : 1. Data Primer Data primer diambil dari hasil belajar siswa berupa hasil tes nilai ulangan harian (daftar nilai) 2. Data Sekunder Data sekunder diambil dari hasil observasi pengamatan langsung di kelas

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini ada dua macam yaitu : 1. Teknik Tes Teknik penelitian dengan teknik tes, adalah untuk mengetahui : a. Tingkat kemampuan awal siswa b. Hasil belajar siswa c. Pertumbuhan dan perkembangan prestasi siswa 18

Tes yang dapat digunakan adalah Tes Tertulis. Tes tertulis adalah tes yang digunakan tertulis baik pertanyaan maupun jawaban. Tes tertulis ini dapat dilakukan secara perorangan atau kelompok. Umumnya yang digunakan pada tes tertulis ada dua macam yaitu : a) Soal tes bentuk uraian (essay) b) Soal tes bentuk obyektif (objective tes) 2. Teknik bukan tes Teknik bukan tes untuk mengumpulkan data Sekender dapat dilakukan dengan pengamatan dan observasi. Dilaksanakan dengan cara

pengamatan terhadap kegiatan langsung maupun tidak langsung. Alat yang digunakan berupa panduan observasi yang dibuat dalam bentuk check list atau skala penilaian. Poin-poin yang dinilai dibuatkan rentangan nilai pada skala penilaian. Setiap gejala yang muncul berdasarkan pada poin itu dibuat penilaian.

E. Analisis dan Validasi Pada penilaian ini data yang dianalisa adalah data primer (hasil belajar siswa) dan data sekunder (observasi pengamatan langsung). Analisis data primer yaitu analisis hasil belajar mata pelajaran Matematika dengan kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang.

19

Dalam pelaksanaan penelitian menggunakan analisis

deskritif

komparatif yaitu membandingkan nilai awal, hasil yang dicapai dengan target. Sedang data sekunder dianalisis dengan mengamati perubahan-peruhahan yang terjadi pada setiap siklus. Validasi data pada penelitian ini menggunakan deskripsi kuantitatif yang dimaksudkan untuk menganalisa perkembangan pembelajaran dengan membandingkan kondisi awal dengan hasil yang dicapai.

F. Indikator Kinerja 1. Kemampuan pemahaman siswa tentang mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang Dibagi menjadi empat skala dengan kategori sebagai berikut : a) Sangat Tinggi (ST) apabila siswa memperoleh nilai 86 s/d 100 b) Tinggi (T) apabila siswa memperoleh nilai 70 s/d 85 c) Cukup (C) apabila siswa memperoleh nilai 50 s/d 69 d) Kurang (K) apabila siswa memperoleh nilai 0 s/d 49 2. Ketuntasan individu dengan KKM 70 3. Ketuntasan klasikal, apabila siswa yang memperoleh nilai sama atau lebih dari KKM = 70 sudah mencapai = 75 %

20

G. Prosedur Penelitian Alur penelitian tindakan kelas terdiri atas rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada siklus, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Permasalah an Perencanaan tindakan I Pelaksanaan tindakan I

Refleksi I Permasalah an baru hasil refleksi

Pengamatan / Pengumpula nn data I Pelaksanaan tindakan II

Perencanaan tindakan II

Refleksi II

Pengamatan / Pengumpula n data I

Apabila permasalahan telah selesai Apabila permasalahan telah selesai

Hasil akhir

Dilanjutkan ke siklus berikutnya

Gambar 2 Tahapan Siklus Penelihan (Suharjono, 2005)

21

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Awal Kemampuan pemahaman siswa tentang mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dan aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran rendah.

Siswa yang memperoleh nilai sama atau lebih tinggi dari KKM = 70 baru mencapai 40 % atau 8 siswa dari sejumlah 20 siswa di kelas V SD Negeri

02 Pagenteran. Sedangkan batas tuntasnya adalah apabila siswa yang sudah

memperoleh nilai sama atau lebih tinggi dari KKM 70 sudah mencapai 75 % atau 15 siswa dari sejumlah 20 siswa di kelas V SD Negeri 02 Pagenteran Hal tersebut diatas disebabkan keadaan spesifik pembelajaran guru masih bersifat : 1) Teacher Centre Oriented, yaitu belajar terpusat pada guru yang mengacu pada ketuntasan materi semata, yaitu dimana pembelajaran belum menggunakan metode yang tepat. 2) Book Oriented, yaitu belajar berdasar pada buku dan lebih dipersiapkan untuk menjawab soal tes atau ujian semata, yaitu dimana pembelajaran belum mengaktifkan siswa. 3) Minimnya media alat peraga sebagai sumber belajar, yaitu dimana pembelajaran belum partisipatif.

22

Sedangkan keadaan spesifik belajar siswa masih bersifat : 1) Kesulitan membaca bahan tek, gambar, bagan dan sejenisnya yaitu dimana siswa kurang bisa memahami isi dari buku tek, gambar maupun bagan. 2) Siswa terbiasa menghafal fakta daripada menemukan fakta, dimana siswa menghafal, menghafal serta menghafal tanpa diajak menemukan fakta tersebut. 3) Siswa terbiasa menghafal konsep dari pada menemukan menemukan konsep dimana siswa hanya bisa menghafal belaka tanpa didasari penemuan konsep yang nyata sehingga hanya meniru saja apa yang diberikan guru tidak dapat mengembangkan berbagai kemampuan siswa.

B. Deskripsi Siklus I Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada tanggal bulan14 Maret tahun 2012 dengan materi kompetensi dasar bangun ruang. Deskripsi siklus I kegiatannya meliputi : 1. Perencanaan siklus I. Perencanaan siklus I antara lain : a) Menyusun jadwal kegiatan penelitian b) Menyiapkan Instrumen penelitian mengidentifikasi sifat-sifat

23

c) Menginvertarisir sumber-sumber pembelajaran media pembelajaran alat-alat, bahan-bahan dan peraga d) Menskenario pelaksanaan tindakan e) Membuat rencana tindakan siklus I, yaitu : Dari kegagalan pembelajaran sebelumnya mengubah dari metode lama menjadi metode yang baru yaitu dengan metode Inquiry dan Dascavery. Mengubah dari mentransfer ilmu menjadi fasilitatot dimana siswa dapat dioptimalkan keaktifannya dalam pembelajaran. Kebiasan hanya menghafal fakta dan kosep ditingkatkan menjadi menemukan fakta dan konsep. Mengubah dari sifat hanya meniru menjadi eksploratif dimana siswa diberi kesempatan untuk bisa menemukan konsep maupun fakta.

24

2. Pelaksanaan siklus I Pelaksanaan tindakan siklus I dapat dilihat pada tabel dibawah ini Tabel 1 Skenario pelaksanaan tindakan kelas siklus I melalalui metode Inquiry dan Discovery.. NO. 1. KEGIATAN AWAL Guru membagi siswa dalam 4 kelompok yang anggotanya siswa memilih sendiri sebanyak 5 anak. 2. Guru mengadakan Tanya jawab tentang bangun ruang yang 15 menit ada disekitar siswa TEMPO

NO. 1. 2. 3.

KEGIATAN INTI Guru menjelaskan macam-macam bangun ruang Guru memberikan lembar kerja siswa dan model bangun ruang

TEMPO

Guru membimbing siswa dalam diskusi agar siswa 45 menit 4. 5. menemukan sendiri sifat-sifat bangun ruang. Guru membahas hasil diskusi Guru membimbing siswa menyimpulkan materi pelajaran

NO.

KEGIATAN AKHIR

TEMPO

1.

Guru memberi konvermasi pada siswa

10 enit

3. Observasi Siklus I Observasi dimaksudkan adalah observasi hasil pantauan pelaksanaan tindakan siklus I yang dapat dilihat pada gambar Histogram nilai siklus I

Kategori

ST

Gambar 01 Histogram nilai siklus I Berdasarkan gambar Histogram nilai siklus I kemampuan meningkat Dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Siswa yang mendapat nilai kategori Sangat Tinggi (ST) sebanyak 0 siswa atau 0 % b. Siswa yang mendapat nilai kategori Tinggi (T) sebanyak 11 siswa atau 55% c. Siswa yang mendapat nilai kategori Sangat Cukup (C) sebanyak 5 siswaatau 25% d. Siswa yang mendapat nilai kategori Kurang (K) sebanyak 4 siswa atau 20% Jadi pelaksanaan tindakan siklus I telah mencapai 55%. Pencapaian tersebut diperoleh dari penjumlahan dan kategori Sangat Tinggi (ST) = 0% dan kategori tnggi (T) = 11% Hasil 55% menunjukkan bahwa pelaksanaan tidakan siklus I tidak tuntas. Ketentuan yang ditetapkan adalah 75% berarti masih kurang 20%

Tidak

tercapainya

ketuntasan

kemampuan

dasar

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Dapat diobservasi melalui pengamatan langsung terhadap indicator. Indikator keberhasilan pembelajaran dan dapat dilihat pada tabet berikut ini.

Table obsevasi pengamatan pada indikator-indikator keberhasilan pembelajaran. Masalah baru NO Yang di obsevasi Hasil observasi dan Solusi 1 1. 2 Siswa dapat menyebutkan lima macam bangun ruang dengan benar. 2. Siswa dapat menggambar lima macam bangun ruang 3. dengan benar 3 Proses pembelajaran belum berjalan secara efektif. Kurang efektifnya proses pembelajaran disebabkan karena guru belum menggunakan metode yang tepat, belum menggunakan media pembelajaran yang sesuai, masih kurang dalam pengelolahan kelas, kurang 4 Bagaimana upaya yang ditempuh guru pada pembelajaran matematika konsep bangun ruang sub konsep sifat-sifat bangun

jelas dalam penyampaian Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat bangun ruang dengan benar materi dan kurang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran

ruang agar hasil evaluasi belajar meningkat.

4. Refleksi siklus I Tidak tercapainya ketentuan kemampuan dasar mengidentifikasi sifatsifat bangun ruang Pada siklus I direfleksi apa yang terjadi pada setiap tahapan pembelajaran metode Inquiry dan Descovery Tahapan NO pembelajaran Metode 1 2 3 Mengkondisikan siswa agar siap 1 Kegiatan awal mengikuti pembelajaran Secara kelompok 5 orang, siswa mengambil lembar kerja siswa dan 2 Kegiatan Inti model bangun ruang. Secara kelompok 6 orang, siswa 4 Refleksi/kilas balik Tindak lanjut

mengerjakan lembar kerja siswa secara diskusi untuk menemukan sifat-sifat bangun ruang. Secara kelompok, siswa melaporkan hasil diskusi dengan tanggapan dari kelompok lain. Secara klasikal, siswa memperhatikan penjelasan guru tentang sifat-sifat bangun datar. Secara individual, siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan guru tentang sifat-sifat bangun ruang hasil diskusi. Secara klasikal, siswa menyimpulkan materi tentang sifat-sifat bangun ruang Secara individual, siswa

mengerjakan evaluasi. 3 Kegiatan Akhir Guru memberikan PR untuk siswa. Guru mengoreksi pekerjaan siswa. Guru menganalisis hasil pekerjaan

siswa.

Berdasarkan hasil observasi siklus I dan refleksi siklus I diyantakan bahwa pelaksanaan tindakan siklus I tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan bahkan timbul masalah baru maka perlu ditindak lanjuti dengan rancangan siklus II.

C. Deskripsi Siklus II Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada tanggal 16,18 bulan Mei tahun 2012 dengan materi kompetensi bangun ruang. Deskripsi siklus II kegiatannya meliputi : 1. Perencanaan siklus II Perencanakan siklus II pada dasarnya sama dengan dasar mengidentifikasi sifat-sifat

perencanaan siklus I perbedaanya terletak pada bagian poin e) yaitu membuat rencana tindakan siklus II diantaranya : 2. Pelaksanaan Siklus II Pelaksanaan tindakan siklus dapat dilihat pada table dibawah ini. Table .. scenario psalaksanaan tindakan siklus II melalui metode Inqury dan Descovery

Yang disumplemen / disempurnakan NO KEGIATAN AWAL TEMPO

NO

KEGIATA N INTI

TEMPO

NO

KEGIATAN AKHIR

TEMPO

3. Obsevasi Siklus II Observasi dimaksud adalah observasi hasil pantauan pelaksanaan tindakan siklus II yang dapat dilihat pada gambar histogram nilai siklus II

Kategori K

ST

Gamabar Histogram nilai siklus II

Berdasarkan gambar Histogram nilai siklus II kemampuan dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Siswa yang mendapat nilai kategori Sangat Tinggi (ST) Sebanyak 4 siswa atau 20% b. Siswa yang mendapat nilai kategori Tinggi (T)Sebanyak 12 siswa atau 60% c. Siswa yang mendapat nilai kategori Cukup (C) Sebanyak 4 siswa atau 20% d. Siswa yang mendapat nilai kategori Kurang (K) Sebanyak 0 siswa atau 0%

Jadi pada pelaksanaan tindakan siklus II telah mencapai 80%. Pencapaian tersebut diperoleh dari penjumlahan dan kategori Sangat Tinggi(ST)= 20% dan kategori Tinggi (T)= 60% Hasil 80% menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan siklus II telah tuntas. Ketuntasan yang ditetapkan adalah 75% berarti lebih tinggi 5% dari batas tuntasnya. Tercapainya ketuntasan kemampuan dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Dapat di obsevasi melalui pengamatan langsung terhadap indicator. Indikator keberhasilan pembelajaran dan dapat dilihat pada table berikut ini.

Table Observasi pengamatan pada indikator-indikator keberhasilan pembelajaran. Masalah baru dan NO Yang di observasi Hasil observasi Solusi 1 2 3 4

4. Refleksi siklus II Tercapainya ketuntasan kemampuan dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang.Pada siklus II direfleksi apa yang terjadi pada setiap tahapan pembelajaran metode Inqury dan Descovery. NO Tahapan pembelajaran Metode Refleksi/kilas balik Tindak lanjut

D. Pembahasan Antar Siklus Pembahasan antar siklus dimaksudkan untuk mengetahui

perbedaan pelaksanaan tindakan antar siklus dengan memaparkan perkembangan yang terjadi dan membandingkan hasilnya. Tabel Perbedaan Pelaksanaan Tindakan Kompetensi dasar

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. Melalui metode Inquiry dan Descovery

NO. 1

Kondisi Awal 2

Siklus I 3

Siklus II 4

Dengan adanya perbedaan pelaksanaan antar siklus, teryata berpengaruh pula terhadap hasil yang diperoleh. Hasil perolehan itu dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel Perbandingan Hasil Pelaksanaan Tindakan Pada Kompetensi dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. melalui metode Inquiry dan Descovery NO. 1 Kondisi Awal 2 Siklus I 3 Siklus II 4

E. Rekap Hasil Pelaksanaan Tindakan Anatar Siklus Rekap hasil pelaksanaan tindakan antar siklus dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini Gambar Histogram hasil pelaksanaan tindakan antar siklus Pada kondisi awal ketuntasan mencapai 40%, dengan nilai rata-rata kelas 58.50. Pada pelaksanaan tindakan siklus I ketuntasannya mencapai 55% , dengan nilai rata-rata kelas 65.75. Sedangkan pada pelaksanaan tindakan siklus II ketuntasannya mencapai 80 % dengan nilai rata-rata kelas 74.50, Berarti lebih tinggi 5% dari ketentuan batas tuntasnya yaitu 75%.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Pembelajaran dengan Metode Inquiry dan Descovery dapat

meningkatkan kemampuan dasar mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang. 1. Yang ditengarahi dengan siswa yang mendapat nilai sama atau lebih tinggi dari KKM= 70 pada kondisi awal mencapai 40%. Setelah dan dilanjutkan

dilaksanakan tindakan pada siklus I mencapai 55%

dengan pelaksanaan siklus II mencapai 80%, berarti lebih tinggi 5% dari ketentuan batas tuntasnya yaitu 75%.

2. Pembelajaran dengan metode Inquiry dan Descovery

dapat berjalan

efektif bila dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan alur/kaidahkaidah metode yaitu.. B. Saran-saran 1.