Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan kebudayaan yang multikultural. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku mempunyai kebudayaan khas yang tidak dimiliki suku lain. Hal ini merupakan salah satu daya tarik bagi para wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sebagai warga negara Indonesia, tentunya kita sangat bangga memiliki warisan budaya nenek moyang yang telah dilestarikan secara turun-temurun dari zaman dahulu. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman posisi kebudayaan Indonesi mulai tergeser oleh budaya barat. Untuk melestarikan budaya Indonesia, kita harus lebih mengenal kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia agar tercipta rasa toleransi antar suku dan agar kebudayaan-kebudayaan di Indonesia tidak punah. Salah satu kebudayaan di Indonesia adalah kebudayaan batak. Orang batak dewasa ini, untuk bagian terbesar mendiami daerah pegunungan Sumatera Utara, mulai dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh di utara samai ke perbatasan dengan Riaudan Sumatera Barat di sebelah selatan. Selain daripada itu, orang batak juga mendiami tanah datar yang berada di antara daerah pegunungan dengan pantai Timur Sumatera Utara dan pantai Barat Sumatera Utara. Dengan demikian, maka orang batak mendiami: dataran tinggi karo, langkat hulu, deli hulu, serdang hulu, simalungun, dairi, toba, humbang, silindung, angkola, dan mandailing, dan Kabupaten Tapanuli Tengah (Koencaraningrat, 1970: 94) Untuk melestarikan budaya batak, kita harus memahami kebudayaan batak itu sendiri. Setelah itu, perkenalkan pada generasi yang akan datang agar budaya batak tetap lestari.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan di bahas berupa : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Bagaimana sejarah suku batak? Bagaimana etos kerja suku batak? Bagaimana sistem pengetahuan suku batak? Bagaimana sistem religi suku batak? Bagaimana sistem kekerabatan suku batak? Apa saja sistem matapencaharian suku batak? Bagaimana sistem teknologi suku batak? Bagaimana sistem kesenian suku batak? Bagaimana bahasa dan aksara suku batak?

10. Bagaimana karakteristik suku batak?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan makalah ini adalah untuk : 1. Mengetahui sejarah suku batak. 2. Mengetahui etos kerja suku batak. 3. Mengetahui sistem pengetahuan suku batak. 4. Mengetahui sistem religi suku batak. 5. Mengetahui sistem kekerabatan suku batak. 6. Mengetahui matapencaharian suku batak. 7. Mengetahui sistem teknologi suku batak. 8. Mengetahui sistem kesenian suku batak. 9. Mengetahui bahasa dan aksara suku batak. 10. Mengetahui karakteristik suku batak.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Suku Batak Dalam situs (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak) Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan buktibukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayahFilipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu di zaman batu muda (Neolitikum). Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatra Utara di zaman logam. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera[3]. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal. 2.2 Etos suku batak Meminjam istilah Guru Etos Indonesia Jansen Sinamo menyebutkan, Etos Habatahon berasal dari unsur Unok ni partondian, Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali, Pamoru Somarumbang, Parmahan So Marbatahi. Etos Habatahon di berbagai Puak / Sub Etnis Batak dalam situs

(http://hojotmarluga.wordpress.com/dalihan-na-tolu-dan-budaya-kerja/)

1. Etos Habatahon dalam Batak Toba bisa dilihat dari motto 'Anakhonhi Do Hamoraon di Ahu'. Etos yang mendorong Toba identik sebagai pekerja keras. Ditambah dengan budaya 3H : Hamoraan, Hagabeon, Hasangapon. Demi kekayaan, status sosial mereka dipacu menjadi sedikit ambisius dari sub-etnis lainnya. 2. Etos kerja Simalungun terlihat dari nilai-nilai sehari-hari semboyan "Habonaron Do Bona". Yang berarti segala tindakan dilandasi dengan kebenaran. Filosofi tersebut mendorong orang Simalungun bertindak benar berlandaskan azas yang benar pula. Hal itu terpancar dari sifat penuh kehatihatian dalam pekerjaan. 3. Filosofi kerja Pakpak; "Ulang Telpus Bulung". Bisa diartikan daun jangan sampai terkoyak atau bocor. Daun yang dimaksud daun pisang yang dipakai sebagai alas makanan pengganti piring (pinggan pasu). Ulang Telpus Bulung menekankan berani berkorban. Dalam budaya kerja sifat ini perlu ada. 4. Etos kerja orang Mandailing/Angkola terlihat dari sisitim "Marsialap Ari" adalah etos kerja yang selalu didukung dengan team work. Masyarakat Mandailing/Angkola terlihat pekerja telaten, sabar, dan pekerja keras. 5. Filosofi Karo adalah "Sada Gia Manukta Gellah Takuak". Artinya walaupun seseorang hanya memiliki seekor ayam, yang terpenting berkokok. Ayam berkokok simbol membangunkan orang untuk bagun pagi hari. Filosofi ini memotivasi masyarakat Karo gigih bekerja. Sifat ringan hati untuk berusaha. Etos Habatahon didasari dari semangat kerja, yang diadopsi dari sistim nilai-budaya. Budaya yang berakar pada Dalihan Na Tolu tersebut berproses mejadi sebuah sistim nilai kerja. Etos Habatahon bisa dirasakan lewat alunan gondang. Gondang dengan paduan suaranya akan membawa suara yang indah, tetapi jika hanya dibunyikan satu alat musik saja tentu suaranya sumbang. Artinya

ada etos team work. Dipaduan gondang itu, Ia indah takkala ada perpaduan suara gendang yang lain. Etos Habatahon jika tinjau dari sisi budaya kerja sekuler berarti, mengerti posisi. Ada waktunya menjadi bos (Hulahula), ada saatnya menjadi mitra kerja (Dongansabutuha), ada saatnya menjadi pesuruh, karyawan, karier terbawah (Boru). Namun, sesungguhnya ketiga sistem tadi tidak bisa berdiri sendiri, harus kait mengkait. - Hulahula (pemimpin) harus mengayomi, memperhatikan boru (karyawan-nya). - Dongansabutuha atau rekan kerja, sesama selevel harus saling menghargai, di depan bos. - Boru (karyawan) harus menghargai pimpinan sebagai pemilik perusahaan. Artinya ada moral kerja tertanam di filosofi Dalihan Na Tolu. Pakar Manajemen Rhenald Kasali mengatakan, dalam pekerjaan memang perlu ada moral (morale). Sebab, moral kerja itu adalah spirit yang mesti dimiliki setiap orang untuk hidup atau bekerja. Dengan moral kerja yang tinggi seorang percaya diri terhadap masa depan. Bekerja dengan etos kerja yang tinggi berarti pula membantu diri menemukan tujuan hidup. Terpacu karena mengerti posisi. Karena itu, diperlukan semacam dekonstruksi identitas budaya bagi pemahaman filosofi budaya kerja. Agar pesan moral Dalihan Na Tolu menjadi watak, karakter, sifat budaya. Yang bisa menjelma menjadi etos kerja menunjang karier. Etos kerja budaya berarti berfikir menggunakan akal (karsa) dari kearifan budaya. Spirit kerja mendorong seseorang produktif, karena ada karsa menjelma menjadi sistim nilai. Kearifan budaya tersusun atas pikiran sadar dan bawah sadar kemudian menjadi filosofi. Kearifan Budaya mengajarkan kita saling menghargai, mengetahui posisi, porsi, dan kapasitas diri. Kearifan budaya berkembang karena perkembangan paradigma masyarakat-nya. Jadi, mengapa malu memakai etos budaya dalam bekerja, sebab nilai-nilai budaya tidak kalah baik dari semangat kapitalisme Barat. Jadi, filosofi Dalihan Na Tolu jika dihubungkan dengan budaya kerja akan menghasilkan etos (spirit) Habataho.
5

2.3 Sistem Pengetahuan Suku Batak Sistem penegetahuan batak terbagi menjadi tiga yaitu alam sekitar manusia,alam flora,dan alam fauna. Yang pertama Alam sekitar manusia pengetahuan tentang alam sekitar manusia adalah berupa pengetahuan tentang musim-musim tentang sifat-sifat gejala alam,tentang binatang-binatang, pencipta alam, asal mula gerhana,dongengdongeng, mythos-mythos,folklore(cerita rakyat) kesustraan dan sebagainya. Pengetahaun tentang alam sekitar manusia ini banyak diketahui masyarakat batak pada zaman sebelum abad ke-20 ini. Mereka mengetahui musim hujan dan kemarau , sifat-sifat alam dan ilmu bintang. (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 18) Yang kedua adalah alam flora. Disebabkan masyarakat batak umumnya masyarakat petani tetap juga hidup dari berternak, menangkap ikan,dan berburu,tetapi mereka tidak dapat mengabdikan pengetahuan tentang alam flora di sekitarnya. Sebagai hasil pulungan diambil dari sana sini untuk obat menyembuhkan bermacam-macam penyakit di samping sebagai rempah-rempah. Alam flora ini penting sekali untuk ilmu hadatuon (ilmu dukun) dan upacaraupacara adat yang mempergunakan daun beringin, daun pohon enau, sirih,pohon pinang, tebu, batang padi, pisang dan sebagainya. (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 18). Yang terakhir adalah alam fauna. Di samping daging binatang merupakan unsur penting dalam makanan masyarakat petani,berburu dan perikanan, masyarakat batak juga banyak mengetahui tentang kelakuan binatang dan suara-suara binatang untuk bisa menjaga tumbuhtumbuhan di ladang dan di sawah terhadap gangguan-gangguan binatang itu. Demikian pula tentang menangkap ikan dan berburu, mereka mengetahui kapan saat yang baik untuk melaksanakanya , sebab ada musim ikan turun ke tepi pantai dan ada dua musim binatang buruan berkumpul dan beristirahat. (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 19).

2.4 Sistem Religi Batak Agam tertua di tanah batak ialah agama Si Raja Batak yang disebut permalim atau parbaringin. Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan yang disebarkan oleh sebagian orang minangkabau seperti orang mandailing dan angkola . Agama kristen masuk sekitar tahun 1861 dan penyebaranya meliputi batak utara.demikian sekarang agama kristen protestan dianut oleh sebagian dari batak utara. Walaupun demikian banyak sekali masyarakat batak didaerah pedesaan yang masih mempertahankan konsep asli religi penduduk batak. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya yaitu: 1. Debeta Mula Jadi Na Balon : bertempat tinggal dilangit dan merupakan maha pencipta; 2. Siloan Na Balom: berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus. Menurut kepercayaan orang batak toba,langit yang kita lihat itu terdiri dari tujuh lapis yang masing-masing lapisan mempunyai penghuni (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 17). Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa orang batak mengenal tiga konsep yaitu : a) b) c) Tondi: jiwa atau roh Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang Begu : Tondinya orang yang sudah mati.

Disamping pembagian langit tersebut masyarakat batak toba membagi alam semesta ini atas tiga benua yaitu : Benua bawah, Benua tengah, dan Benua atas masing masing di pegang tiga dewa yang di sebut batara guru , batara sori, dan mangala bulan disebut Mulajadi Na Balon atau Tri Tunggal Dewa (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 17). Selain dari pada Mulajadi
7

Na Balon , Masyarakat batak toba masih percaya bahwa masih ada tiga lagi dewadewa kecil seperti : a) Boras Pati Ni tano sebagai dewa penjaga tanah yang dilambangkan dengan biawak. b) c) Soniang Naga , sebagai penjaga laut dan danau Depata Idup, sebagai penjaga kebahagiaan rumah tangga.

Sejak tahun 1861 agama kristen telah masuk di daerah batak dan mayoritas orang batak beragama kristen. (Adat dan upacara perkawinan daerah sumatra utara,1997 : 18) 2.5 Sistem Kekerabatan dan Kemasyarakatan Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sudah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya, Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat prinsip yaitu : (a) perbedaan tigkat umur, (b) perbedaan pangkat dan jabatan, (c) perbedaan sifat keaslian dan (d) status kawin. Perkawinan yang dianggap ideal dalam masyarakat Batak adalah perkawinan antara orang-orang rimpal (marpariban dalam bahasa toba) ialah antara seorang laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya. Namun zaman sekarang sudah banyak pemuda yang tidak lagi menuruti adat kuno ini. Namun Dengan demikian seorang laki-laki Batak sangat pantang kawin dengan wanita dari marganya sendiri dan juga dengan anak perempuan dari saudara perempuan ayah.

Sebagian

besar

dari

rumah

tangga

orang

Batak

bersifat

monogami,walaupun hukum adat Batak yang berlaku di Pengadilan Negeri, tidak melarang poligami. Norma-norma agama Kristen menghambat orang untuk melakukan poligami. Kemandulan dari istri adalah alasan yang lazim dipakai untuk melakukan poligami. (Koencaraningrat, (2004). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan) Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yaitu Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na tolu, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal. Dalam Bahasa Batak Angkola Dalihan na Tolu terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anak Boru. Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua subsuku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula). Dongan Tubu/Kahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu. Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

10

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifak kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual. Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raji no Dongan Tubu dan Raja ni Boru. (http://dekill.blogspot.com/2009/04/budaya-suku-batak.html) 2.6 Mata Pencaharian Pada sumber (http://ragambudayanusantara.blogspot.com/2008/08/budayasuku-batak.html) mengatakan bahwa pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap kelurga mandapat tanah tadi tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan. Perternakan juga salah satu mata pencaharian suku batak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba. Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitanya dengan pariwisata. 2.7 Sistem Teknologi Masyarakat Batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana yang digunakan untuk bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo), Sabit (sabi-sabi) atau dapat disebut juga aniani. Masyarakat Batak juga memiliki senjata tradisional, seperti piso surit (sejenis belati), piso gajah dompak (sebilah keris yang panjang), hujur (sejenis tombak), podang (sejenis pedang panjang). Tenggala berfungsi untuk membajak sawah agar tanah disawah menjadi gembur. Tenggala ini ditarik oleh seekor lembu jika lembu tersebut jantan, dan

dua

ekor

lembu

jika

lembu

tersebut

betina.

(http://manlaksam.blogspot.com/2008/12/kisah-ambo-tanam-padi.html). Tongkat Tunggal Panaluan oleh semua sub suku Batak diyakini memiliki kekuatan gaib untuk : meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, Wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dll. Ada beberapa versi mengenai kisah terjadinya tongkat Tongkat Tunggal Panaluan yang memiliki persamaan dan perbedaan, sehingga motif yang terdapat pada tongkat Tongkat Tunggal Panaluan juga bervariasi. (http://habatakon01.blogspot.com/2006/11/tunggal-panaluan.html). Ani-ani adalah nama alat tradisional dari nenek moyang kita pada bidang pertanian, fungsi dari ani-ani ini adalah untuk memetik padi secara manual dengan tangan, padi pada masa lalu (varietas tertentu) batangnya panjang-panjang sehingga alat ini yang membantu nenek moyang kita sebagai alat potong, dimasa kini ani-ani sudah sangat dilupakan karena dianggap sangat kuno dan ketinggalan, mesin-mesin canggih pemotong padi yang telah menggantikannya.

(http://lapakbarangjadoel.blogspot.com/2009/03/ani-ani.html).

2.8 Sistem Kesenian Kesenian yang terdapat di suku Batak salah satunya yaitu seni tari. Seni tari di suku Batak yaitu tari tor-tor yang bersifat magis dan tari serampanng dua belas yang bersifat hiburan. Adapaun alat musik tradisional yaitu gong dan sagasaga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Tari tor-tor merupakan tari tradisional Suku Batak. Gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alatalat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain. Menurut sejarah, tari tor-tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur). Patung-patung tersebut tersebut kemudian

11

12

bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan. Jenis tari tor-tor beragam. Ada yang dinamakan tor-tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya. Selanjutnya ada tari tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung). Terakhir, ada tor-tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah. Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Pada masa kini, tari tor-tor biasanya hanya digunakan untuk menyambut turis yang datang berkunjung ke Batak. Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu tarian yang berkembang di bawah Kesultanan serdang di Kabupaten serdang Bedagai. Tari ini merupakan jenis tari tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesan tentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan. Inilah salah satu cara masyarkat Melayu Deli dalam mengajarkan tata cara pencarian jodoh kepada generasi muda. Sehingga Tari Serampang Dua Belas menjadi kegemaran bagi generasi muda untuk mempelajari proses yang akan dilalui nantinya jika ingin membangun mahligai rumah tangga. Nama Tari Serampang Dua Belas dahulu lebih dikenal dengan nama Tari Pulau Sari. Hal ini mengacu pada judul lagu yang mengiringi tarian tersebut, yaitu lagu Pulau Sari. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada era 1940-an dan diubah antara tahun 1950- 1960. Sauti yang lahir tahun 1903 di Pantai Cermin,

Kabupaten Serdang Bedagai ketika menciptakan Tari Serampang Dua Belas sedang bertugas di Dinas PP&K Provinsi Sumatra Utara. Atas inisiatif dari Dinas yang menaunginya, Sauti diperbantukan menjadi guru di Perwakilan Jawatan Kebudayaan Sumatera Utara di Medan. Pada masa itulah sauti menciptakan beberapa kreasi tari yang terkenal hingga sekarang termasuk Tari Serampang Dua Belas.(http://asalehudin.wordpress.com/2009/04/25/serampang-duabelas-taritradisional-melayu-kesultanan-serdang-sumatra-utara/) Setiap kain ulos mempunyai fungsi tersendiri bagi masyarakat Batak menurut (forum Toba : http://bersamatoba.com/tobasa/serba-serbi/ulos-batakdikenal-sebagai-jati-diri-orang-batak-sesuai-budaya-dan-adatnya.html ) jenis dan fungsi kain ulos yaitu: 1. Ulos Antak-Antak, dipakai selendang orang tua melayat orang meninggal, dan dipakai sebagai kain dililit/ hohop hohop waktu acara manortor. 2. Ulos Bintang Maratur, Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya didalam acara-acara yakni: Diberikan kepada anak yang memasuki rumah baru oleh orang tua, kalau diadat Toba Ulos ini diberikan waktu selamatan Hamil 7 Bulan oleh orang tua, tetapi lain halnya kalau di Tarutung Ulos ini yang diberikan waktu acara suka cita (gembira), Ulos ini juga diberikan kepada Pahompu yang baru lahir, parompa walaupun kebanyakan kasih mangiring apalagi yang maksudnya agar anak yang baru lahir diiringi anak selanjutnya, kemudian ulos ini dipakai untuk pahompu yang dibabtis dan juga dipakai untuk sebagai selendang. 3. Ulos Bolean, Ulos ini dipakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan 4. Ulos Mangiring, Ulos ini dipakai selendang, Tali-tali, juga Ulos ini diberikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang dimaksud sebagai Simbol keinginan agar sianak diiringi anak yang seterusnya, bahkan Ulos ini dapat dipakai sebagai Parompa. 5. Ulos Padang Ursa, dipakai sebagai Tali-tali dan Selendang. 6. Ulos Pinan Lobu-Lobu, dipakai sebagai Selendang. 7. Ulos Pinuncaan, Ulos ini sebenarnya terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk

13

14

satu Ulos yang kegunaannya antara lain: Ulos ini dapat dipakai berbagai keperluan acara-acara duka cita atau suka cita, dalam acara adat ulos ini dipakai/ disandang oleh Raja-Raja Adat maupun oleh Rakyat Biasa selama memenuhi pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat suhut sihabolonon/ Hasuhutonlah (tuan rumah) yang memakai ulos ini, kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran, ulos ini juga dipakai/ dililit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton, dan Ulos ini sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan. 8. Ulos Ragi Hotang, Ulos ini biasa diberi kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai Ulos Hela. 9. Ragi Huting, Ulos ini sekarang sudah Jarang dipakai, konon jaman orang tua dulu sebelum merdeka, anak-anak perempuan pakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari dililit didada (Hoba-hoba), dan kemudian dipakai orang tua sebagai selendang apabila bepergian. 10. Ulos Sibolang Rasta Pamontari, Ulos ini kalau jaman dulu dipakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang ini sibolang bisa dikatakan symbol duka cita, dipakai juga sebagai Ulos Saput (yang meninggal orang dewasa yang belum punya cucu), dan dipakai sebagai Ulos Tujung (Janda/Duda yang belum punya cucu), dan kemudian pada peristiwa duka cita Ulos ini paling banyak dipergunakan oleh keluarga dekat. 11. Ulos Sibunga Umbasang dan Ulos Simpar, dipakai sebagai Selendang. 12. Ulos Sitolu Tuho, Ulos ini dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita, 13. Ulos Suri-suri Ganjang, dipakai sebagai Hande-hande pada waktu margondang, dan dipergunakan sebagai oleh pihak Hula-hula untuk manggabe i borunya karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe. 14. Ulos Ragi Harangan, pemakaiannya sama dengan Ragi Pakko. 15. Ulos Simarinjam sisi, dipakai sebagai kain, dan juga dilengkapi dengan Ulos Pinuncaan disandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani yang memakai ini satu orang paling depan. 16. Ulos Ragi Pakko, dipakai sebagai selimut pada jaman dahulu dan pengantar wanita yang dari keluarga kaya bawa dua ragi untuk selimut yang

dipergunakan sehari-hari, dan itu jugalah apabila nanti setelah tua meninggal akan disaput pakai Ragi ditambah Ulos lainnya yang disebit Ragi Pakko lantaran memang warnanya hitam seperti Pakko. 17. Ulos Tumtuman, dipakai sebagai tali-tali yang bermotif dan dipakai anak yang pertama dari hasuhutan. 18. Ulos Tutur-Tutur, dipakai sebagai tali-tali dan sebagai Hande-hande yang sering diberikan oleh orang tua sebagai Parompa kepada cucunya.

2.9 Bahasa dan Aksara Batak Menurut sumber lain (http://wacananusantara.org/bahasa-dan-aksara-

batak/) menyatakan Suku Batak memiliki bahasa yang satu sama lain mempunyai banyak persamaan. Namun demikian, para ahli bahasa membedakan sedikitnya dua cabang bahasa-bahasa Batak yang perbedaannya begitu besar sehingga tidak memungkinkan adanya komunikasi antara kedua kelompok tersebut: Batak Karo (di utara) dan Batak Toba (di selatan). Selaian Batak Karo, bahasa yang dipakai oleh masyarakat di utara ini adalah dialek Alas (kelompok non-Batak), dialek Batak Pakpak-Dairi, serta pelbagai dialek turunannya. Ada pun kelompok selatan meliputi Batak-Toba dan Angkola-Mandailing. Sementara itu, dialek Batak Simalungun berbeda dengan dialek utara maupun selatan; dan kemungkinan

besar usianya lebih tua dari cabang wilayah selatan. Di dalam Bahasa Batak mandailing terdapat bunyi-bunyi c, ny, dan y, yang hal ini tidak terdapat pada Bahasa Batak Toba. Demikian pula pada permulaan kata dalam bahasa Batak Toba tidak terdapat bunyi k, sebaliknya terdapat pada bahasa Batak Mandailing misalnya: Bahasa Batak Toba menyebut Abang-Adik dengan haha anggi sedang Bahasa Batak Mandailing menyebut dengan kaha-anggi (tn, 1977/1978: 23) Antara Bahasa Batak Toba dengan Bahasa Batak Mandailing terdapat bahasa berbeda sehingga dialek batak Angkola berada diatara dialek bahasa Batak Toba dengan bahasa batak Mandailing. Jika ditelaah lebih jauh, bahasa Angkola

15

16

dan Mandaling merupakan dua bahasa yang mempunyai sedemikian banyak persamaan sehingga pada umunya disebut bahasa Angkola-Mandaling saja. Namun demikian di dalam percakapan sehari-hari hanya bahasa Batak Mandailing yang lebih halus dari bahasa Batak Toba. Menurut sumber lain (http://wacananusantara.org/bahasa-dan-aksara-

batak/) menyatakan Dengan adanya kesinambungan linguistic antara suku-suku Batak, tidak mengherankan bahwa tiada juga perbedaan-perbedaan yang jelas antara varian-varian surat Batak. Secara umum dapat dikatakan bahwa ada lima varian surat Batak. Secara umum dapat dikatakan bahwa ada lima varian surat Batak, ialah Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, dan Angkola-Mandaling. Namun, kita harus mengingat bahwa baik dari segi bahasa, budaya maupun tulisan tidak selalu ada garis pemisah yang jelas antara kelima suku Batak tersebut karena kelima suku Batak itu mempunyai induk yang sama. Dalam beberapa hasil penelitian disebutkan bahwa bahasa maupun tulisan aksara Batak banyak mendapat pengaruh dari India yaitu bahasa Sanskerta (hampir 10%). Pengaruh tersebut diyakini masuk melalui kebudayaan Hindu Jawa atau Hindu Sumatera. Setiap subsuku batak mempunyai aksaranya masingmasing, akan tetapi kemiripan masing-masing huruf tersebut masih dapat

dimengerti oleh masing-masing sub suku lainnya. Sumber lain (http://shuanatzong.blogspot.com/2008/11/pandangan-umumtentang-orang- batak.html) menyatakan Aksara Batak Toba terbagi atas dua bagian besar yaitu suku kata dasar yang dibentuk oleh penggalan suku-suku kata yang diakhiri dengan huruf vokal a, misalnya ha, ka, ba, pa, dll. Kelompok huruf seperti ini dikenal sebagai ina ni surat atau indung surat. Kelompok huruf lainya disebut sebagai anak ni surat yaitu imbuhan yang membentuk penggalan suku kata gabungan yang tidak terdapat pada suku kata dasar seperti e, i, u, o, eng, ing, ang, ung, ong,dll. Dalam penulisan aksara Batak Toba terdapat aturan-aturan yang menggabungkan antara ina ni surat dan anak ni surat sehingga membentuk sebuah kata dan kalimat yang memiliki arti.

Menurut

sumber

lain

(http://id.wikipedia.org/wiki/Suku

Batak

Karo#Aksara) menyatakan

Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang

dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.guna melengkapi cara penulisan perlu dilengkapi dengan anak huruf seperti o= ketolongen, x= sikurun, ketelengen dan pemantek.

2.10 Karakteristik Suku Batak Menurut sumber lain (http://aero-7.blogspot.com/2011/11/penduduk-

masyarakat-dan-kebudayaan.html) menyatakan kebudayaan batak di kota medan. Kota Medan adalah Ibukota Privinsi Sumatera Utara, Indonesia. Medan terkenal dengan Mottonya, yaitu Bekerja sama dan sama- sama bekerja untuk kemajuan dan kemakmuran Kota. ,penduduk dan masyarakat di kota medan terkenal dengan bahasa batak nya yang fasih dan lancar. tidak hanya itu masyarakat Medan juga di kenal sebagai orang yang memiliki sikap dan karakter yang keras dan konsisten. Konsisten dalam tujuan mempertahankan harga diri atau martabatnya di hadapan siapapun. Sementara itu, orang Batak terbiasa bersuara keras, karena faktor lingkungan yang membentuknya. Seperti diketahui tanah asal orang Batak memang tidak memungkinkan mereka untuk berleha-leha dalam hidup, selain daerahnya berbukit-bukit, tanahnyapun kurang begitu subur untuk bercocok tanam. Selain itu Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain agak berjauhan sehingga diperlukan berteriak untuk berkomunikasi. ciri khas orang Batak, orangnya ceplas-ceplos, tidak mau memendam perasaan, kalau tidak senang langsung diutarakan. Menurut sumber lain (http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/mengapaorang-batak-temperamental/) meyatakan Nada tinggi belum bisa dijadikan
17

18

patokan bahwa orang Medan atau orang Batak temperamental, kata sosiolog sekaligus antropolog dari Universitas Negeri Medan, Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak. Nada tinggi yang biasa keluar dari mulut orang Medan biasa dijumpai pada orang Batak dari pegunungan, seperti daerah Samosir. Karena di sana wilayah perkampungannya jauh-jauh, di daerah pegunungan pula. Sehingga mereka harus berteriak-teriak untuk memanggil. Tapi hatinya belum tentu keras, sehingga tidak terpancing emosinya. Apalagi yang sudah terdidik, tutur Prof. Bungaran. Atas dasar itulah hipotesa yang mengatakan orang Medan atau orang Batak itu temperamental baginya tidak benar. Hal senada juga dikatakan Dra. Mustika Tarigan. Dosen Psikologi Perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area. Nada tinggi memang menjadi karakter orang Medan, tapi nada tinggi tidak otomatis menjadi indikasi temperamental. Karakter mereka memang ekspresif. Dan cara mengekspresikannya sendiri lebih ekstrem, jadi terkesan emosional. Tapi tidak semuanya temperamental, katanya.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN 1. Nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatra Utara di zaman logam. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. 2. Suku Batak memakai etos Habatahon sebagai penyemangat dalam bekerja, sehingga orang batak dikenal sebagai pekerja keras. 3. Sistem penegetahuan batak terbagi menjadi tiga yaitu alam sekitar manusia,alam flora,dan alam fauna. 4. Agam tertua di tanah batak ialah agama Si Raja Batak yang disebut permalim atau parbaringin kemudian diikuti oleh agama Islam dan Kristen. 5. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya. 6. Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yaitu Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na tolu, yaitu Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal. 7. Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi di sawah, berladang, perternakan, nelayan, dan sektor kerajinan. 8. Kesenian yang terdapat di suku Batak salah satunya yaitu seni tari, diantaranya tari tor-tor. Gerakan tarian ini diiringi dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain. Batak juga mempunyai seni membuat kain ulos yang mempunyai fungsi tersendiri bagi masyarakat Batak.

19

20

9. Suku Batak diantaranya menggunakan dialek batak karo, dialek batak toba, dialek batak pak-pak dairi, dialek batak angkola- maindailing dan dialek batak simalungun. 10. Karakteristik orang batak diantaranya sifatnya yang keras, konsisten, bersuara keras/bernada tinggi, pekerja keras, orangnya ceplas-ceplos jika tidak suka terhadap seseorang langsung diutarakan. 3.2 SARAN Sebagai warga negara Indonesia kita wajib melestarikan kebudayaan Indonesia sendiri. Sebagai calon guru kita harus mengetahui kebudayaan apasaja yang ada di Indonesia, sehingga kita dapat mengajarkan kepada siswa tentang kebudayaan di Indonesia yang beraneka ragam. Dengan mengajarkan kebudayaan ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Semakin banyak tahu tentang keanekaragaman kebudayaan Indonesia, kita semakin mencintai budaya Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2008.

Budaya

Suku

Batak.

[Online].

Tersedia:

http://ragambudayanusantara.blogspot.com/2008/08/budaya-sukubatak.html. [29 April 2012] Fella. 2008. Budaya Batak Yang Kaya. [Online]. Tersedia:

http://shuanatzong.blogspot.com/2008/11/pandangan-umum-tentang-orangbatak.html. [8 April 2012] Hidayah, Zuliyani. 2009. Budaya Suku Batak. [Online]. Tersedia: http://dekill.blogspot.com/2009/04/budaya-suku-batak.html. [3 Mei 2012] Koencaraningrat, (2004). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan. Marluga Hojot. 2012. Dalihan Na Tolu dan Budaya Kerja.[Online]. Tersedia: http://hojotmarluga.wordpress.com/dalihan-na-tolu-dan-budaya-kerja/. [29 April 2012] Moline. 2010. Mengapa Orang Batak Temperamental?. [Online]. Tersedia: http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/mengapa-orang-bataktemperamental/. [14 April 2012] Siahaan. Dll. (1978). Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Utara. Jakarta: Balai Pustaka. Winston Richard. 2011. Penduduk, Masyarakat, dan kebudayaan. [online]. Tersedia: http://aero-7.blogspot.com/2011/11/penduduk-masyarakat-dan-

kebudayaan.html. [14 April 2012] . 2008. Serba Serbi Ulos Batak. [online]. Tersedia :

http://bersamatoba.com/tobasa/serba-serbi/ulos-batak-dikenal-sebagai-jati-diriorang-batak-sesuai-budaya-dan-adatnya.html. [3 Mei 2012]

21

22

2011.

Bahasa

dan

Aksara

Batak.

[online].

Tersedia:

http://wacananusantara.org/bahasa-dan-aksara-batak/. [8 April 2012] . 2011. Suku Batak. [online]. Tersedia:

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak_Karo#Aksara. [14 April 2012] .2012. Suku Batak. [Online]. Tersedia:

http://id.wikipedia.org/wiki/suku_Batak. [29 April 2012]