Anda di halaman 1dari 10

Identifikasi Hama dan Penyakit Tanaman Murbei Dan Cara Pengendaliannya

Oleh : Pasetriyani E.T, dan Y.W. Wangsaatmadja Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni s.d. Oktober 2005 di Training Centre Pamoyanan Bandung bertujuan untuk mengidentifikasi hama dan penyakit apa saja yang menyerang tanaman murbei di lapangan serta untuk menentukan cara pengendalian yang efektif dan tidak meninggalkan residu pestisida pada daun murbei sehingga akan menimbulkan kematian bagi ulat sutera (Bombyx mori). Identifikasi hama tanaman murbei dilakukan dengan mengambil contoh hama yang ditemukan di lapangan dan dipelihara sampai menjadi menjadi imago. Sedangkan identifikasi penyakit tanaman murbei dilakukan pembiakan di laboratorium dengan menggunakan media Potato Dextrose Agar. Pengendalian hama tanaman murbei dilakukan di lapangan dan di laboratorium, di lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan enam perlakuan, empat kali ulangan. Di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam perlakuan dan empat kali ulangan. Hasil penelitian menujukkan bahwa : 1) pada bulan Juni dan Juli 2005 hama yang banyak ditemukan di lokasi adalah ulat pemakan pucuk daun (Glyphodes pilverulentalis), dan pada bulan Agustus dan September 2005 hama yang muncul di lapangan adalah hama breng (Memisia myriace). Ditemukan penyakit tanaman murbei seperti Phyllactinia moricola dan Septobasidium bogoriensi tetapi sangat rendah, 2) Insektisida yang efektif menekan serangan hama breng dan ulat pemakan pucuk daun murbei adalah insektisida kimia Confidor konsentrasi 2 cc/lt dan insektisida Succes konsentrasi 1 cc/lt. Insektisida ini aman digunakan 15 hari sebelum daun digunakan sebagai makanan ulat sutera (Bombyx mori).

Pendahuluan 1. Latar Belakang Daun tanaman murbei (Morus sp) merupakan pakan alami ulat sutera (Bombyx mori). Tersedianya daun murbei yang cukup dengan mutu yang baik merupakan salah satu persyaratan utama untuk menghasilkan kokon berkualitas baik. Serangan oleh hama dan penyakit pada tanaman murbei dapat merusak tanaman sehingga hasil produksi daun untuk pakan ulat sutera sangat merosot. Di Indonesia terdapat sekitar 5 jenis hama yang merusak tanaman murbei yaitu : hama pucuk (G. pulverulentalis), kutu daun (Maconellicoccus hirsutus), hama penggerek batang (pectes plarator), kutu batang (Pseudaulacapsis pentagona) dan rayap (Macrotermes sp.), (Susanto, 1997). Menjelang musim kemarau hama yang banyak menyerang adalah hama breng/kutu kebul atau (B. myricae) (F.A.O. 1988). Beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman murbei adalah : penyakit powdery mildew (Phyllactini sp), penyakit bintik dan (Sirosporium mori), penyakit bercak dan dan penyakit plasta. Penggunaan pestisida untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang tanaman murbei harus mempunyai seridu yang singkat agar daun murbei yang dimakan ulat sutera tidak menimbulkan kematian bagi ulat tersebut. Untuk itu dalam penelitian ini akan dicoba pestisida yang ramah lingkungan yaitu pestisida botani (campuran daun nimba: daun serai wangi:

lengkuas) dan pestisida kimia yang direkomendasikan penggunaannya untuk program Pengendalian Hama Penyakit Terpadu yaitu Succes karena bahan aktifnya cendawan. Dampak pestisida yang berasal dari tanaman lebih aman terhadap lingkungan bila dibandingkan dengan kimia karena disamping sifatnya spesifik dalam menanggulangi serangan hama juga sifatnya mudah terurai (Sosromarsono, 1990).

2. Identifikasi Masalah 1. Hama dan penyakit apa saja yang menyerang tanaman murbei di Training Centre Pamoyanan Bandung ? 2. Pestisida apa saja yang efektif dapat menekan hama penyakit tanaman murbei tetapi tidak menimbulkan kematian bagi ulat sutera yang memakan daun murbei ? 3. Tujuan Penelitian Untuk mengidentifikasi hama dan penyakit apa saja yang menyerang tanaman murbei serta untuk menentukan cara pengendalian yang efektif terhadap hama penyakit tersebut tetapi tidak menimbulkan kematian bagi ulat sutera yang makan daun murbei. 4. Kegunaan Penelitian Dengan didapatkannya pestisida yang efektif terhadap hama penyakit tanaman murbei dan aman bagi ulat sutera akan meningkatkan produksi bukon sutera di petani.

Tinjauan Pustaka 1. Hama Penyakit Tanaman Murbei Tanaman murbei yang banyak ditanam di Jawa Barat adalah Morus multicaulis, M.cathayana dan M. Nigra. Daun tanaman murbei merupakan makanan pokok ulat sutera (Bombyx mori). Hama yang banyak menyerang pucuk daun murbei adalah : a. Glyphodes pulverulentalis Serangga ini termasuk ordo Lepidoptera. Ulatnya lebih menyukai daun tanaman murbei M. multicaulis karena daunnya lebih lembut dibandingkan dengan varietas yang lain. Kerusakan terjadi pada tanaman murbei di persemaian dan di lapangan terutama 1 2 bulan setelah pangkas. Siklus hama ini kurang lebih 25 hari, larva berwarna hijau bening, kepala coklat dan setelah dewasa menjadi coklat kemerah-merahan. Umur larva 8 10 hari, ulat yang baru menetas akan memakan daun yang masih lunak sedangkan ulat instar IV memakan jaringan daun akibatnya daun berubah menjadi coklat transparan dan meninggalkan kotoran hitam. Kerusakan terjadi diantara musim hujan dan awal musim kemarau. Sebelum menjadi pupa, ulat menggulung daun yang dimakannya dengan mengeluarkan serat dan membuat kokon didalamnya. Umur pupa 7 hari kemudian berubah menjadi ngengat, panjang badan 10 mm, sayap berwarna coklat dengan bintik-bintik kelabu (Sunanto, 1997). b. Kutu daun, Mealy Bug (Meconellicoccus hirsutus) Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, mengalami metamorfosa tidak sempurna, badannya ditutupi oleh tepung putih. Siklus hidup kira-kira 35 hari, nimpha dan dewasa mengeluarkan embun madu yang menyebabkan semut berdatangan atau embun tersebut dapat menjadi media tumbuh cendawan Septobasidium dan diikuti dengan cendawan (Corticidium) yang berwarna

hitam. Kutu ini merusak daun, kuncup dan tunas muda dengan menghisap cairan, sehingga pertumbuhan pucuk terhalang atau terhenti. Daun mengkerut, keriting dan berubah bentuk. Pertumbuhan tunas terhenti, kuncup daun membengkak, ruas antara pucuk daun menjadi pendek yang mengakibatkan cabang membengkak tidak dapat berkembang serta mudah patah Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan, 1996). c. Kutu batang (Psedaulacapsis pentagona) Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, menyerang tanaman murbei yang terlindungi oleh pohon-pohon besar atau karena kondisi lembab. Bentuk nimpha dan dewasa terdapat pada cabang atau batang, menghisap cairan tanaman menyebabkan kulit cabang atau batang menjadi putih keabu-abuan. Jika serangan cukup berat akan menyebabkan kematian tanaman (Sunanto, 1997). d. Hama breng/Kutu kebul (Bemisia myricae) Serangga ini termasuk ordo Hemiptera, family : Aleurodidae, banyak ditemukan di bawah permukaan daun. Serangan serangga ini banyak terjadi pada bulan Mei dan Juni. Bentuk nimpha dan dewasa menusuk cairan daun dan meninggalkan sekresi berupa embun madu yang menyebabkan daun berwarna hitam karena pada embun tersebut tumbuh cendawan jelaga (F.A.O., 1988). Daun murbei yang telah diisap cairannya baik oleh kutu daun dan kutu kebul tidak dapat digunakan sebagai pakan ulat sutera karena bila termakan akan mengakibatkan ulat sutera sakit dan mati. Berbagai jenis penyakit yang menyerang tanaman murbei adalah : a. Penyakit Tepung disebabkan oleh dendawan (Phylllactinia moricola) Penyakit ini menyerang daun dengan muculnya bintik-bintik putih atau keputih-putihan pada bagian bawah daun kemudian menyebar pada permukaan daun seperti tepung putih. Biasanya menyerang daun yang telah dewasa (Balai Persuteraan Alam Sulsel, 1996). b. Penyakit Bintik Daun oleh cendawan ( Sirosporium mori) Penyakit ini menyerang permukaan bawah daun ditandai dengan munculnya bintik-bintik kecil berwarna hitam, menyebar dan akhirnya seluruh bagian bawah daun menjadi hitam. c. Penyakit Plasta (Septobasidium bogoriensi) Pada cabang muncul bintik-bintik kecil yang lama-kelamaan meluas melingkari cabang. Bintik penyakit ini berwarna kelabu, muncul pada cabang dan batang terlihat seperti plester yang ditempel, permukaannya licin. Selanjutnya bagian tengah berubah menjadi warna coklat tua dan retak. Serangan penyakit ini bersimbiose dengan serangan kutu batang terutama berkembang pada jelaga yang dikeluarkan oleh kutu tersebut (Balai Persuteraan Alam Sulsel, 1996). 2. a. b. c. d. Teknik Pengendalian Hama Tanaman Murbei Pengendalian secara mekanis, cabang-cabang kecil dan daun yang terserang dipangkas. Pengendalian secara biologis, menggunakan musuh-musuh alami seperti parasit dan predator. Pengendalian secara kultur teknis, jarak tanam diperlebar. Pengendalian secara kimia, menggunakan insektisida dengan konsentrasi formulasi 1-2 cc/lt dengan volume semprot 1000 1500 lt / ha.

3. Teknik Pengendalian Penyakit Tanaman a. Pengendalian secara mekanis, cabang, batang dan daun yang terserang dipangkas dan dibakar. b. Pengendalian secara kimia, menggunakan fungisida Benlate konst. Form. 0,5 grm/lt dengan volume semprot 1000 1500 lt / ha. 4. Insektisida yang Digunakan 1. Insektisida Botani atau Biorasional. Insektisida botani adalah campuran dari daun nimba (Azadirachta indica), daun serai wangi (Cymbopogon nardus) dan rimpang lengkuas (Alpinia galangal). Daun nimba mengandung senyawa yang berfungsi sebagai antifeedant, repellent dan racun kontak. Kandungan minyak yang terdapat dalam daun serai wangi berfungsi sebagai pewangi detergent dan juga sebagai penghalau serangga. Rimpang lengkuas banyak digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Hill dan Waller (1988) menyatakan respon serangga yang terkena ekstrak nimba dapat langsung mati dan ada juga yang menjadi cacat tubuhnya akibat terganggunya proses ganti kulit, Ekstrak daun serai wangi yang mengandung minyak atsiri, senyawa aldehid diduga mempunyai sifat menolak terhadap serangga. Sedangkan rimpang lengkuas mempunyai difat mengurangi nafsu makan terhadap serangga. Campuran daun nimba : daun serai wangi : rimpang lengkuas dengan ratio 8 kg : 6 kg : 6 kg per ha mampu menekan hama yang bentuk dewasa dan terbang, berpindah-pindah, lincah seperti hama breng (kutu kebul) (Kardinan, 2002 dan Pasetriyani, 1996). 2. Insektisida kimia, Confidor 200 SL. Bahan aktif insektisida ini adalah imidokloporid 200 gr/liter. Insektisida ini bersifat sistemik, kontak dan lambung. Insektisida ini sangat efektif untuk hama-hama yang berterbangan dan lincah seperti hama bring pada tanaman murbei (Bayer). Hasil penelitian di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang ternyata insektisida ini sangat efektif mengendalikan hama kutu kebul (bemisia tabaci) pada tanaman kentang dengan konsentrasi formulasi 2 cc/lt). 3. Insektisida Succes 25 EC Bahan aktif insektisida ini adalah spinosad 25 gr/lt. Insektisida ini merupakan insektisida alami karena bahan aktifnya menyerupai cendawan, bersifat racun kontak dan lambung sangat efektif untuk ulat-ulat daun. Interval penggunaan insektisida ini 30 40 hari sekali dan hanya digunakan apabila populasi hama sudah mencapai ambang ekonomi (Dow Agro Sciences). Bahan dan Metode Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni s.d. Oktober 2005 di Training Centre Pamoyanan Bandung. Untuk mengidentifikasi hama tanaman murbei, diambil sample tanaman yang rusak berikut hamanya (10% dari populasi tanaman di lapangan). Disiapkan 6 buah kurungan serangga ukuran 50 x 50 x 50 cm, kemudian sample tanaman tadi dimasukkan kurungan. Perkembangan hama di dalam kurungan diamati sampai menjadi imago. Setelah itu baru diidentifikasi jenis hamanya dengan mengikuti petunjuk buku determinasi serangga. Untuk mengidentifikasi penyakit digunakan media Potato Dextrose Agar (PDA) dengan cara mengambil sample tanaman sakit. Jaringan tanaman tersebut diambil sedikit dan

ditanamkan di media tumbuh PDA. Setelah 4 hari jaringan yang tumbuh diambil dan dilihat dibawah mikroskop. Identifikasi jenis patogennya mengikuti petunjuk buku determinasi penyakit tanaman. Untuk pengendalian hama tanaman murbei di lapangan menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok terdiri atas empat perlakuan dan enam ulangan yaitu : A) insektisida botani (daun nimba: daun serai wangi: lengkuas), B) insektisida Confidor, C) insektisida botani dan kimia penggunaannya selang seling sekali seminggu, dan D) kontrol. Interval penyemprotan seminggu sekali dan pengamatan populasi hama 3 hari setelah semprot. Untuk pengendalian hama ulat pucuk daun berhubung ditemukan populasinya sedikit (penyebaran tidak merata) maka dilakukan di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas empat perlakuan dan enam ulangan yaitu : A) insektisida botani, B) insektisida Confidor, C) insektisida Seccses, dan D) control. Percobaan menggunakan metode pencelupan (dipping method). Jumlah ulat yang mati dihitung pada 1, 2, dan 3 hari setelah perlakuan. Pengamatan penunjang dilakukan dengan menghitung jumlah ulat sutera yang mati setelah memakan daunmurbei yang sudah disemprot pestisida di lapangan (tes residu). Percobaan di laboratorium caranya, diambil beberapa daun pada petak perlakuan di lapangan 3 hari, 10 hari dan 15 hari sesudah semprot, sesudah itu pada daun-daun tersebut diinfestasikan 10 ulat sutera instar 4 yang sebelumnya sudah dipuasakan selama 24 jam. Dihitung jumlah ulat yang mati pada 6 dan 18 jam setelah infestasi. Hasil dan Pembahasan 1. Identifikasi Hama Tanaman Murbei Dari hasil pengamatan di lapangan dan di laboratorium (menggunakan kurungan serangga) selama bulan Juni dan Juli 2005, populasi hama yang banyak ditemukan ditanaman murbei adalah ulat pucuk daun G. pulverentalis. Ulat ini termasuk ordo Lepidoptera, family : Pyralidae. Bentuk dewasanya berupa ngengat, sayap berwarna coklat dengan bercak kelabu, panjang badan kurang lebih 10 mm, sedangkan ulatnya berwarna hijau, kepala coklat. Ulat yang tua berwarna coklat kemarah-merahan. Kerusakan terjadi pada pucuk daun yang terpotong-potong dan bila akan masuk stadia pupa ulat tersebut menggulung daun murbei. Siklus hidup hama ini selama pengamatan di kurungan serangga dari telur menjadi dewasa kurang lebih 27 hari. Hama lain yang juga ditemukan di lapangan tetapi populasinya tidak banyak dan tidak merata penyebarannya adalah kutu daun (Meconellicoccus hirsutus). Hama ini termasuk ordo: Hemiptera, nimpha dan dewasanya berwarna putih, merusak kuncup daun, daun mengkerut, keriting, bengkak, ruas pucuk daun menjadi pendek dan berwarna hitam. Pada bulan AGustus sampai dengan September 2005, populasi hama yang banyak muncul dan penyebarannya merata di kebun murbei adalah hama breng/kutu kebul atau (Bemisia myriace). Hama ini termasuk ordo: Homoptera, family : Aleurodidae, ukuran dewasa kurang lebih 3 mm, terdapat di bawah daun. Nimpha mengisap cairan daun dan meninggalkan sekresi berupa embun madu yang dapat menyebabkan penyakit Sooty mould berwarna hitam. Hasil pengamatan pada bulan Oktober 2005, beberapa tanaman murbei ada yang terserang hama kutu batang (Psedaulacapsis pentagona). Hama ini termasuk ordo: Homoptera, gejalanya batang tertutup oleh nimpha dan dewasa berwarna putih seperti kapas. Hama ini menghisap cairan batang. Populasi hama banyak ditemukan pada tanaman murbei yang rimbun atau ternaungi. Kondisi serangan oleh hama-hama di atas juga ditemukan di lokasi tanaman murbei di

Perkebunan murbei Sabilulungan Tasikmalaya, Perkebunan murbei di Goalpara Sukabumi dan di Wanaraja Garut. Khusus di perkebunan murbei Wanaraja Garut, tidak ditemukan serangan oleh ulat pucuk daun tetapi mulai tampak terserang hama breng (hasil survey lapangan). 2. Identifikasi Penyakit Tanaman Murbei Dari hasil pengamatan di lapangan selama bulan Juni sampai dengan September 2005 tidak banyak ditemukan tanaman murbei yang terserang penyakit. Hal ini disebabkan cuaca panas yang menyebabkan serangan penyakit berkurang. Pada bulan Juni 2005 ditemukan beberapa daun yang terserang cendawan (Phyllactinia moricola), tetapi bentuk pathogen biakan di PDA tidak sempurna akibatnya identifikasi hanya melalui gejala yang tampak pada daun. Mula-mula bagian bawah daun muncul bintik-bintik putih keabu-abuan dan lama-lama menyebar keseluruh bagian daun sehingga permukaan daun seperti ada tepung putih. Daun yang terserang adalah daun dewasa. Menjelang bulan Oktober 2005, beberapa tanaman murbei terserang oleh penyakit Plasta (Septobasidium bogoriensi). Serangan terutama pada cabang-cabang dan batang. Gejalanya batang berwarna putih keabu-abuan seperti terikat oleh plester. Penyakit ini terjadi dan hidup pada jelaga yang dikeluarkan oleh kutu batang. Tanaman murbei umumnya yang terserang adalah tanaman-tanaman yang ternaungi. Hasil survey di kebun murbei yang lain, ternyata penyakit Plasta yang paling banyak ditemukan dan menyerang tanaman murbei di perkebunan murbei Sabilulungan Tasikmalaya. Tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan memangkas tanaman murbei. 3. Pengujian Efikasi Insektisida Terhadap Serangan Hama Breng (Bemisia myriace) pada Tanaman Murbei di Lapangan. Kerusakan daun murbei oleh serangan hama breng diamati enam kali pengamatan setelah aplikasi insektisida (perlakuan) dengan interval sekali seminggu. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Tabel 1. Nilai Rataan Intensitas Serangan Hama Breng (%) Perlakuan Rataan Intensitas Serangan Hama Breng pada Pengamatan ke (%) I II III IV V VI A 33.87 a 27.85 a 21.07 a 16.44 ab 19.00 a 16.08 ab B 34.26 a 30.56 a 22.91 a 19.23 a 19.17 a 24.80 a C 26.74 a 18.89 a 11.02 a 13.02 ab 12.32 a 11.31 ab D 24.65 a 14.63 a 9.55 a 5.05 b 8.63 a 6.25 b

No. 1 2 3 4

Keterangan : A = insektisida botani (daun nimba : serai wangi: lengkuas), B = insektisida Confidor. C = insektisida Confidor dan botani aplikasi selang seling sekali seminggu. D = Kontrol (air).

Angka rata-rata dalam kolom yang sama yang ditandai dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5%. Dari Tabel 3. Tampak bahwa mulai pengamatan 1 sampai dengan pengamatan ke 6, justru pada petak perlakuan D (kontrol) intensitas serangan hama breng lebih ringan dibandingkan dengan petak perlakuan insektisida. Pada kenyataannya, populasi hama breng di lapangan pada waktu penelitian tinggi, hanya pada petak perlakuan D (kontrol) tunas baru yang muncul/terbentuk sangat sedikit jadi yang dominan pada petak tersebut daun-daun tua. Hama

breng menyukai atau menyerang tunas baru atau pucuk daun muda, oleh sebab itu dengan perhitungan menggunakan rumus intensitas serangan mengakibatkan nilai serangan hama breng di petak D rendah dibandingkan dengan petak yang lain. Akan tetapi untuk melihat efikasi insektisida yang digunakan dalam mengendalikan hama breng dapat dilihat pada petak A, B, dan C. Tampak mulai pengamatan ke 1 sampai dengan ke 6, intensitas hama bring sangat rendah rata-rata di bawah 25%. Walau pada kenyataannya populasi hama breng tinggi sekali tetapi ternyata populasi tersebut dapat dikendalikan dengan pemberian insektisida baik kimia maupun botani. Dari hasil uji statistic, sampai pengamatan ke 6 penggunaan insektisida botani (A) dalam menekan serangan hama breng, hasilnya setara dengan penggunaan insektisida kimia/Confidor (B) dan penggunaan insektisida Confidor yang aplikasinya selang seling dengan botani (C). Hanya secara visual, intensitas serangan hama breng terendah pada petak (C). Hal ini disebabkan pada waktu aplikasi insektisida botani saja, memang populasi hama breng tampak sementara menghilang karena hama breng menghindar dari aroma insektisida tersebut selain itu hamapun menjadi tidak mau makan daun murbei. Seperti kita ketahui bahwa insektisida botani yang digunakan bersifat antifeedant (nimba), repellent (serat wangi) dan mematikan (Lengkuas), (Sunanto, 1997). Kemudian setelah 3-6 hari insektisida botani tersebut sudah terurai di udara, populasi hama breng datang lagi akan tetapi sebelum sempat menyerang daun tanaman murbei, hama kembali disemprot tetapi menggunakan insektisida kimia (confidor) yang sifatnya kontak dan langsung mematikan. 4. Pengaruh Insektisida Botani dan Kimia terhadap Tingkat Kematian Ulat Pucuk Daun Murbei (G. pulverentalis) di Laboratorium Percobaan ini dilakukan di laboratorium menggunakan metode dipping (pencelupan), pengamatan kematian ulat dilakukan pada satu hari, dua hari, dan tiga hari sesudah perlakuan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Table 4 di bawah ini. Tabel 2. Nilai Rataan Mortalitas (Kematian) Ulat G. pulverentalis Perlakuan Rataan Mortalitas Larva Pada .. Hari Setelah Perlakuan (%) 1 2 3 A 26.67 b 53.33 a 76.67 b B 56.67 b 91.67 b 100 c C 100 c 100 b 100 c D 16.,67 a 38.33 a 48.33 a

No. 1. 2. 3. 4.

Keterangan : Angka rata-rata dalam kolom yang sama yang ditandai dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%. A = insektisida botani, B = insektisida Confidor, C = insektisida Succes, D = Kontrol (air)

Dari Tabel 4 di atas tampak bahwa pada satu hari sesudah ulat makan daun murbei yang sudah dicelup insektisida sesuai perlakuan, pada perlakuan A (insektisida botani), B (insektisida Confidor), C (insektisida Succes), tingkat kematian (moralitas) ulat pucuk daun murbei mulai terlihat di atas 25%. Tingkat kematian yang tinggi terjadi pada daun yang dicelup insektisida Success = 100%. Kematian ulat semakin banyak pada dua hari setelah perlakuan dan kematian pada perlakuan A, B, dan C berbeda nyata dengan kontrol (D). Setelah tiha hari, kematian ulat sampai dengan 100 % juga terjadi pada daun murbei yang dicelupkan insektisida Confidor, kematian pada

perlakuan insektisida kimia (B dan C) berbeda nyata dengan kematian ulat pada perlakuan insektisida botani (A). Jadi dari data ini terbukti bahwa insektisida Succes sangat efektif mematikan ulat pucuk daun murbei dan hasilnya setara dengan insektisida Confidor karena memang kedua insektisida ini bersifat kontak dan lambung (langsung mematikan). Berbeda dengan insektisida botani yang tingkat kematian ulat nya perlahan, hal ini menujukkan bahwa insektisida botani memang lebih efektif untuk serangga dewasa yang aktif terbang dan bukan untuk stadia larva (Kardinan, 2000). 5. Pengamatan Efek Residu Insektisida terhadap Ulat Sutera (Bombyx mori). Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan daun tanaman murbei di lapangan yang sudah disemprot insektisida yaitu pada 3 hari sesudah semprot (3 hst), 10 hst, dan 15 hst. Daun-daun tersebut diberi untuk makanan ulat sutera yang sebelumnya dipuasakan 24 jam. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Tabel 3. Efek Residu Insektisida Terhadap Ulat Sutera (Bombyx mori) Perlakuan Jumlah Ulat Mati ( % ) 3 HST 10 HST 15 HST 6 Jam 18 Jam 6 Jam 18 Jam 6 Jam 18 Jam A B 90 100 70 C 60 80 30 50 D -

No.

1 2 3 4

Keterangan : A = insektisida botani, B = insektisida confidor, C = insektisida selang seling sekali seminggu dengan insektisida confidor, D = control (air).

Dari Tabel 3 tersebut tampak bahwa daun murbei yang 3 hari sesudah semprot dan diberi sebagai makanan untuk ulat sutera ternyata 6 jam sampai 18 jam sesudah ulat tersebut makan menimbulkan kematian paling tinggi (100%) adalah pada perlakuan B (insektisida Confidor) diikuti dengan perlakuan C (penggunaan insektisida kimia dan botani selang seling) sebanyak 80% sedangkan pada perlakuan A (insektisida botani) dan control, ulat sutera tidak ada yang mati. Jadi disini terlihat bahwa daun murbei yang baru 3 hari disemprot insektisida kimia masih mengandung bahan aktif yang dapat mematikan ulat sutera sedangkan pada insektisida botani, residu sudah tidak ada karena sudah terurai di udara jadi aman untuk ulat sutera. Keadaan masih sama terlihat pada daun murbei 10 hari sesudah semprot dan diberi sebagai makanan ulat sutera ternyata sampai 18 jam makan, pada perlakuan B (confidor) juga menimbulkan kematian yang paling tinggi (70%) diikuti dengan perlakuan C, kematian sampai 50%. Jadi hal ini menunjukkan bahwa sampai 10 hari sesudah semprot, masih ada residu insektisida kimia yang dapat mematikan ulat sutera. Pada perlakuan A (botani) tidak ada ulat sutera yang mati. Sampai 15 hari sesudah semprot, daun murbei yang diberi sebagai makanan bagi ulat sutera ternyata tidak menimbulkan kematian pada ulat sutera. Hal ini berarti bahwa daun-daun tersebut sudah tidak mengandung residu insektisida dan aman diberikan sebagai makanan ulat sutera. Hal ini memang sesuai dengan pendapat Sunanto (1997) yang menyatakan pengendalian menggunakan insektisida kimia dilakukan 15 hari sebelum daun murbei dipetik untuk makanan ulat sutera.

Kesimpulan Berdasarkan percobaan identifikasi hama tanaman murbei maka pada bulan Juni dan Juli 2005 hama yang banyak ditemukan di lokasi penelitian Training Centre Pamoyanan adalah ulat pucuk daun murbei (Glyphodes pulveruntalis) dengan gejala kerusakan daun muda terpotong-potong dan tampak tergulung. Pada bulan Agustus sampai dengan September 2005 hama yang muncul di lokasi percobaan adalah hama breng (Bemisia myriace) dengan gejala kerusakan daun muda berubah warna menjadi kuning keruh kehitam-hitaman. Berdasarkan percobaan Identifikasi Penyakit ditemukan beberapa jenis penyakit tanaman murbei seperti Phyllactiria moricola dan Septobasidium bogoriensi tetapi serangan oleh penyakit sangat rendah. Insektisida yang efektif untuk menekan hama breng dan ulat pemakan pucuk adalah Confidor kons. form. 2 cc/l dan Succes kons. form. 1 cc/l dan aman digunakan 15 hari sebelum daun digunakan sebagai pakan ulat sutera. Saran Untuk menghindari terjadinya resistensi hama tanaman murbei terhadap insektisida yang digunakan dianjurkan penggunaan insektisida kimia selang seling sekali seminggu dengan insektisida botani (campuran daun nimba; daun serai wangi; lengkuas) dan khusus untuk penggunaan insektisida Succes dianjurkan interval penggunaannya 30 hari sekali. Daftar Pustaka Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan. 1996. Hama Penyakit Murbei dan Pengendaliannya. Departemen Kehutanan Ditjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Maros. F.A.O., 1988. Mulberry Cultivation. Agriculture Service. Bulletin 73 (1). Hill, A.D. and Waller. 1988. Basic Characteristic of Botanical. The Suistanable Agriculture. Ney Letters Vol. I (4). Kardinan, A, 2002. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasinya. Penerbit Swadaya, Jakarta. Pasetriyani E.T., B,K. Udiarto, dan S. Supriyanto. 1996. Efikasi Insektisida Iorasional Terhadap Hama (Thrips palmi) pada Tanaman Kentang Laporan Penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang. Lembang. Soemartono S, 1990. Peranan Sumber Hayati dalam Pengelolaan Serangga dan Tungau, Makalah Utama dan Abstrak Seminar Pengelolaan. Serangga Hama dan Tungau. PAU Hayati ITB. Bandung.

Riwayat Penulis Pasetriyani E.T., Ir., MP, Dosen Kopertis Wil. IV dpk Fakultas Pertanian UNBAR. Y. Wahyu Wangsaatmadja, Ir., Drs, Dosen Fakultas Pertanian UNBAR.