Anda di halaman 1dari 7

Alel Ganda

Tujuan Mengenal beberapa sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alae ganda. Mencoba menetapkan genotip dirinya sendiri. Untuk mengetahui persentase gen alel ganda yang mempengaruhi penampakan rambut pada jari. Untuk mengetahui persentase gen alel ganda yang mempengaruhi golongan darah. Memahami tentang aglitii dan aglutinogen.

Landasan Teori Suatu gen memiliki lebih dari sebuah alel. Alel adalah gen yang menjadi anggota dari sepasang gen yang sama. Masing-masing alel memiliki pengaruh terhadap suatu karakter khusus yang berbeda dengan alel yang lain. Organisme diploid memiliki pasangan-pasangan gen yang masing-masing terdiri dari 2 alel. Misalnya pada lokus X terdapat alel X1, X2, X3, X4, X5. Maka genotype individu diploid yang mungkin muncul antara lain X1X1, X1X2, X1X3 dan seterusnya. Secara matematis hubungan antara banyaknya anggota alel ganda dan jumlah macam genotype individu diploid dapat di formulasikan: X = 2n Dimana X adalah banyakna anggota alel dan n jumlah macam genotip. Gen ganda adalah suatu seri gen yang menentukan pewarisan sifat secara kuantitatif. Beberapa sifat pada manusia, hewan, maupun tumbuhan

seringkali ditentukan oleh adanya gen ganda. Misalnya tinggi badan manusia, pigmentasi kulit, panjang tongkol jagung dan sebagainya. Berasal dari pentingnya mengetahui alel yang merupakan unit struktur utama dapat membentuk individu baru dari hasil persilangan. Pada individu heterozigot, yang fenotipnya tidak dapat dibedakan dari homozigot, maka hubungan antar alelnya dibedakan menjadi:

a. Complete dominance Alel yang bertanggung jawab atas fenotip yang muncul pada individu heterozigot, disebut memiliki hubungan complete dominance atas alel yang sifatnya tidak muncul pada individu tersebut. b. Complete recessive Alel yang sifatnya tidak muncul pada individu heterozigot, disebut memiliki hubungan complete recessive terhadap alel yang sifatnya tampak pada fenotip individu tersebut. Misalnya pada percobaan Mendel, kacang polong homozigot berfenotip biji bulat disilangkan dengan kacang polong homozigot berbiji keriput. Dihasilkan F1 heterozigot dengan fenotip biji bulat. Hal ini berarti alel yang membawa sifat biji bulat complete dominant terhadap alel biji keriput. Demikian sebaliknya, alel biji keriput complete recessive terhadap alel biji bulat. Pada individu dengan fenotip yang tidak serupa seperti individu homozigot, hubungan dominasi antar alel-alelnya dibedakan menjadi: a. Incomplete dominance Alel memiliki hubungan ini, jika fenotip yang dihasilkan memiliki sifat intermediet atau sifat antara dari kedua parental yang homozigot. Misal pada Mirabilis jalapa, apabila disilangkan homozigot bunga merah dengan homozigot bunga putih, maka F1 yang dihasilkan adalah bunga pink (merah muda), yang merupakan sifat intermediet dari kedua individu parental. b. Over dominance Pada alel yang memiliki hubungan ini, F1 yang dihasilkan dari persilangan dua individu homozigot, memiliki sifat yang lebih ekstrem atau lebih signifikan, jika dibandingkan dengan individu homozigot. Pada Arabidopsis thaliana, alel mutan pada gen An, dapat menyebabkan perubahan pada morfologi daunnya. Individu heterozigot untuk alel ini (An an) memiliki daun yang lebih besar dan memiliki berat total tanaman yang lebih, jika dibandingkan dengan tanaman homozigot untuk kedua alel.

c. Codomiance Pada alel yang memiliki hubungan ini, F1 yang dihasilkan dari persilangan dua individu homozigot, memiliki kedua sifat fenotip dari kedua alel. Pada golongan darah, apabila induknya homozigot dari golongan darah A dan dari golongan darah B, maka F1 yang dihasilkan akan memiliki golongan darah.

Tabel perbedaan dominasi antar alel Dominasi antar Alel Complete Dominance Fenotip Heterozigot Sama seperti individu homozigot salah satu alel Incomplete Dominance Sifat intermediet dari kedua individu homozigot Over Dominance Lebih signifikan jika dibandingkan dengan individu homozigot kedua alel Codominance Menunjukkan kedua fenotip dari kedua individu homozigot

Contoh alel ganda misalnya pada lalat Drosophila sp. lokus w pada drosophila melanogaster mempunyai sederetan alel dengan perbedaan tingkat aktivitas dalam produksi pigmen mata dapat diukur menggunakan

spektrofotometer. Hal itu menunjukkan konsentrasi relative pigmen mata yang dihasilkan oleh berbagai macam genotip homozigot pada lokus w. Pada tahun 1900 K. Landsteiner menemukan lokus ABO pada manusia terdiri dari 3 buah alel yaitu IA, IB, dan i. dalam keadaan heterozigot IA dan IB bersifat doninan, sedangkan I merupakan alel resesif. Lokus ABO mengatur tipe glikolipid pada permukaan eritrosit dengan cara memberikan spesifikasi jenis enzim yang mengkatalisis pembentukan polisakarida dalam eritrosit tersebut. Glikolipid yang dihasilkan akan menjadi penentu karakteristik reaksi antigenic terhadap antibody yang terdapat dalam serum darah. Antibody adalah zat penangkal terhadap berbagai zat asing (antigen) yang masuk ke dalam tubuh. Dalam tubuh seseorang tidak mungkin terjadi reaksi antara

antigen dan antibody yang dimilikinya. Namun pada transfuse darah kemungkinan terjadinya reaksi antigen-antibodi yang menyebabkan terjadinya aglutinasi atau penggumpalan eritrosit sangat perlu diperhatikan untuk menghindari

kompatibilitas golongan darah sistem ABO pada transfuse darah. Tabel 1. Sistem Golongan darah ABO Bila diuji dengan Serum anti A saja Serum anti B saja Anti A dan Anti B Anti A dan Anti B Anti Rh (D)+ Aglutinasi Ada Ada Ada Tidak Ada Ada Golongan Darah A B AB O Rh+

Selain tipe ABO, K. Landsteiner bersama dengan P. Levine pada tahun 1927 berhasil mengklasifikasikan golongan darah manusia dengan sistem MN. Sama halnya dengan sistem ABO, pengelompokan sistem MN dilakukan berdasarkan reaksi antigen dan antibody. Namun control gen pada golongan darah sistem MN tidak berupa alel ganda, namun hanya sepasang alel, IM dan IN yang bersifat kodominan. Dengan demikian 3 pasang genotip masing-masing golongan darah M (IMIM), gologan darah MN (IMIN), dan golongan darah N (ININ). Tabel 2. Golongan darah sistem MN Genotip IMIM IMIN ININ fenotip M MN N Anti M + + Anti N + +

Selain pada golongan darah, alel ganda pada manusia juga dapat ditunjukkan dari letak rambut pada ruas tengah jari tangan. Namun, tidak seluruh jari tangan yang dapat ditumbuhi rambut tersebut. Hanya ibu jari saja yang tidak mungkin ditumbuhi rambut. Jika rambut tumbuh pada semua jari, yaitu jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari kelingking, maka sifat ini ditentukan oleh seri alel ganda H1. Sedangkan jika hanya jari telunjuk yang tidak ditumbuhi rambut, dalam hal ini adalah kelingking, jari manis dan jari tengah, sifat ini

ditentukan oleh seri alel ganda H2. Namun, jika rambut ini hanya tumbuh di jari manis dan jari tengah, maka hal ini menunjukkan pengaruh dari seri alel ganda H3. Jika rambut hanya tumbuh pada jari manis, sifat ini diatur oleh seri alel ganda H4. Dan terakhir, jika tidak satu jaripun yang ditumbuhi oleh rambut itu, maka fenotip ini diatur oleh seri alel ganda 5. Dominan dari alel-alel itu ialah : H1, H2, H3, H4, H5.

H1: rambut terdapat pada semua jari. Ibu jari tidak termasuk H2: rambut pada jari kelingking, manis dan tengah H3: rambut pada jari manis dan tengah H4: rambut pada jari manis saja H5: tidak terdapat rambut pada keempat jari Dominan dari alel-alel itu ialah: H1 H2 H3 H4 H5

Alat dan Bahan 1. Jari tangan dan darah sendiri 2. Loop 3. Object glass 4. Serum anti-A 5. Serum anti-B 6. Serum anti-Rh+

Cara kerja Percobaan 1 1. Praktikan mengamati sisi atas dari jari-jari tangannya sendiri dengan menggunakan loop. 2. Memperhatikan dengan seksama pada segmen digitalis tengah dari jari-jari tangan tampak jelas tumbuh rambut atau tidak. 3. Mencatat hasil pengamatan berdasarkan suatu seri alel ganda. Percobaan 2 1. Mengambil darah dari masing-masing praktikan. 2. Menguji golongan darah tersebut dengan menggunakan berbagai macam antiserum. 3. Menetapkan golongan darah berdasarkan aglutinasi yang terjadi. 4. Mencatat hasil pengamatan berupa frekuensi dari tipe golongan darah para praktikan.

Hasil Pengamatan

Percobaan 1 Rambut di ruas tengah jari tangan Tanggal:

Alel Ganda H1 H2 H3 H4 H5

Hasil Individu

Hasil kelas Jumlah Persentase

Percobaan 2 Menetapkan Golongan darah Jenis Pengujian Gol. Darah A Gol. Darah B Gol. Darah AB Gol. Darah O Rh Positif Rh Negatif Hasil Individu (X) Jumlah Tanggal: Hasil Kelas Persentase