Anda di halaman 1dari 9

-

Tetes Mata Presentation Transcript


- 1. TETES MATA
- 2. Definisi sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara
meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. (FI III
hal 10) larutan steril, bebas partikel asing , merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas
sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. (FI IV , 13) Sediaan mata
merupakan produk steril, tidak mengandung partikel asing, dalam campuran dan wadah
yang cocok untuk digunakan pada mata Suspensi obat mata adalah sediaan cair steril
yang mengandung partikel-partikel yg terdispersi dalam cairan pembawa untuk
pemakaian pada obat mata seperti yg tertera pada Suspensiones .(FI IV hal 14) Larutan
optalmik adalah larutan steril basis lemak atau air dari alkaloid, garam alkaloid,
antibiotik, atau zat lain yang dimasukkan ke dalam mata. Sediaan mata adalah larutan
atau suspensi dengan pembawa air atau minyak steril yang mengandung satu atau lebih
zat aktif yang dibutuhkan untuk digunakan pada mata.
- 3. KEUNTUNGAN DAN KEKURANGAN Keuntungan : Larutan mata memiliki
kelebihan dalam hal kehomogenan, bioavailabilitas dan kemudahan penangananan.
Suspensi mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat memperpanjang
waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu terdisolusinya oleh air mata,
sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas dan efek terapinya. Kekurangan : Volume
larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas ( 7 L) maka larutan yang
berlebih dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur GI menghasilkan absorpsi
sistemik yang tidak diinginkan. Mis. | -bloker untuk perawatan glaukoma dapat menjadi
masalah bagi pasien gangguan jantung atau asma bronkhial.( Codex, 162) Kornea dan
rongga mata sangat kurang tervaskularisasi , selain itu kapiler pada retina dan iris relatif
non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk mata adalah efeknya lokal/topikal.
(Codex, 161)
- 4. PENGGUNAAN OBAT TETES MATA Obat-obat yang digunakan pada produk
optalmik dapat dikategorikan menjadi : miotik, midriatik, siklopegik, anti-inflamatory
agent, anti infeksi, anti galukoma, senyawa diagnostik dan anestetik lokal.
- 5. Syarat sediaan tetes mata : Steril Isotonis dengan air mata, bila mungkin isohidris
dengan pH air mata. Isotonis = 0,9% b/v NaCl, rentang yang diterima = 0,7 1,4 % b/v
atau 0,7 1,5 % b/v pH air mata = 7,4 Larutan jernih, bebas partikel asing dan serat
halus. Tidak iritan terhadap mata (untuk basis salep mata)
- 6. Suspensi Mata Suspensi dapat dipakai untuk meningkatkan waktu kontak zat aktif
dengan kornea sehingga memberi kerja lepas lambat yang lebih lama . P emilihan bentuk
suspensi ( mis. Sediaan kortikosteroid) disebabkan : Rendahnya bioavailabilitas zat aktif
dalam bentuk larutannya. Toksisitas atau stabilitas zat aktif dalam bentuk larutan Karena
mata adalah organ yang sangat sensitif, maka partikel-partikel dalam suspensi dapat
mengiritasi dan meningkatkan laju lakrimasi dan kedipan Maka solusinya, digunakan
partikel yang sangat kecil yaitu dengan memakai zat aktif yang dimikronisasi (
micronized ). Masalah utama suspensi optalmik adalah kemungkinan terjadinya
perubahan ukuran partikel menjadi lebih besar selama penyimpanan. Untuk sediaan
suspensi, surfaktan diperlukan untuk membasahi zat aktif hidrofob dan untuk
memperlambat pengkristalan. Pensuspensi yang biasa digunakan biasanya sama dengan
bahan peningkat viskositas
- 7. Bahan tambahan 1. PENGAWET Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah
takaran ganda bila digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat
kerusakan pada permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan
disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Sedangkan untuk penggunaan
pembedahan, disamping steril, larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri
karena dapat mengiritasi jaringan mata. (FI IV hal 13 & 14) Kontaminasi pada sediaan
mata dapat menyebabkan kerusakan yang serius, misalnya menyebabkan radang kornea
mata. Kontaminan yang terbesar adalah Pseudomonas aeruginosa . Pertumbuhan bakteri
bacillus Gram negatif ini terjadi dengan cepat pada beberapa medium dan menghasilkan
zat toksin dan anti bakteri. Sumber bakteri terbesar adalah air destilasi yang disimpan
secara tidak tepat yang digunakan dalam pencampuran
- 8. Organisme lain yang bisa menghasilkan infeksi kornea seperti golongan proteus yang
telah diketahui sebagai kontaminan dalam larutan metil selulosa. Selain bakteri, fungi
juga merupakan kontaminan misalnya Aspergillus fumigatus . Virus juga merupakan
kontaminan seperti herpes simplex, vaksin, dan moluscum contagiosum. Umumnya
pengawet tidak cocok dengan virus . Mikroorganisme lain yang dapat mengkontaminasi
sediaan optalmik adalah Hemophillus influenza, Hemophillus conjunctividis, Neisseria
gonorrhoeae, Neisseria meningitidis, dll Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan
membunuh pertumbuhan mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai
untuk larutan obat tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut : Bersifat
bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama terhadap Pseudomonas
aeruginosa. Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan konjungtiva).
Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai. Tidak memiliki
sifat alergen dan mensensitisasi. Dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi
normal penggunaan sediaan
- 9. Kombinasi pengawet yang biasanya digunakan adalah : Benzalkonium klorida +
EDTA Benzalkonium klorida + Klorobutanol/feniletilalkohol/ fenilmerkuri nitrat
Klorobutanol + EDTA/ paraben Tiomerasol + EDTA Feniletilakohol + paraben Contoh
pengawet : (1) Benzalkonium Klorida (2) Klorobutanol (3) Feniletil alcohol (4)
Thimerosal (5) Fenilmerkuri Nitrat (6) Propil paraben (7) Metil paraben Catatanc :
Garam merkuri dan thimerosal merupakan pengawet alternatif untuk mengganti
benzalkonium klorida jika benzalkonium klorida tidak bisa dipakai. Garam fenil merkuri
digunakan sebagai pengawet untuk salisilat dan nitrat dan larutan garam
CatatanMfisostigmine dan efinefrin yang mengandung 0,1% Na-sulfit. : Zink sulfat OTT
dengan semua pengawet kecuali asam borat, tapi asam borat dilarang penggunaannnya
oleh POM.
- 10. 2. PENGISOTONIS Pengisotonis yang dapat digunakan adalah NaCl, KCl, glukosa,
gliserol dan dapar . Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata : FI IV : 0,6
2,0% RPS dan RPP : 0,5 1,8% AOC : 0,9 1,4% Codex dan Husa : 0,7 1,5% Tapi
usahakan berada pada rentang 0,6 1,5% 3. PENDAPAR Secara ideal, larutan obat mata
mempunyai pH dan isotonisitas yang sama dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat
dilakukan karena pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup larut dalam air. sebagian
besar garam alkaloid mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak
obat tidak stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4 (FI III, 13). Tetapi larutan tanpa
dapar antara pH 3,5 10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang nyaman. Di
luar rentang pH ini dapat terjadi iritasi sehingga mengakibatkan peningkatan lakrimasi .
Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata menurut beberapa pustaka : 4,5 9,0
menurut AOC ; 3,5 8,5 menurut FI IV Syarat dapar : Dapat menstabilkan pH selama
penyimpanan Konsentrasinya tidak cukup tinggi sehingga secara signifikan daqpat
mengubah pH air mata. Menurut Codex, dapar yang dapat dipakai adalah dapar borat,
fosfat dan sitrat. Tapi berdasarkan Suarat Edaran Dirjen POM, asam borat tidak boleh
digunakan untuk pemakaian topikal/lokal karena resiko toksisitasnya lebih besar
dibandingkan khasiatnya untuk penggunaan topikal. Jadi, dapar yang boleh digunakan
untuk sediaan optalmik hanya dapar fosfat dan sitrat. Dapar yang digunakan sebaiknya
adalah dapar yang telah dimodifikasi dengan penambahan NaCl yang berfungsi untuk
menurunkan kapasitas daparnya. Untuk dapar fosfat dapat digunakan dapar yang terdapat
di FI III.
- 11. 4. PENINGKAT VISKOSITAS Beberapa hal yang harus diperhatikan pada
pemilihan bahan peningkat viskositas untuk sediaan optalmik adalah Sifat bahan
peningkat viskositas itu sendiri. Mis. Polimer mukoadhesif ( asam hyaluronat dan
turunannya; carbomer) secara signifikan lebih efektif daripada polimer non mukoadhesif
pada konsentrasi equiviscous. Perubahan pH dapat mempengaruhi aktivitas bahan
peningkat viskositas. Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak
ditoleransi baik oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelopak mata;
sulit bercampur dengan air mata; atau mengganggu difusi obat. Penggunaan peningkat
viskositas dimaksudkan untuk memperpanjang waktu kontak antara sediaan dengan
kornea sehingga jumlah bahan aktif yang berpenetrasi dalam mata akan semakin tinggi
sehingga menambah efektivitas terapinya Viskositas untuk larutan obat mata dipandang
optimal jika berkisar antara 15-25 cps. Peningkat viskositas yang biasa dipakai adalah
metilselulosa 4000 cps sebanyak 0,25% atau 25 cps sebanyak 1%, HPMC, atau polivinil
alkohol ( Ansel, 548-552). Menurut Codex, dapat digunakan turunan metil selulosa,
polivinil alkohol, PVP, dekstran and makrogol.
- 12. Na CMC jarang digunakan karena tidak tahan terhadap elektrolit sehingga kekentalan
menurun; kadang tidak tercampurkan dengan zat aktif Pada umumnya penggunaan
senyawa selulosa dapat meningkatkan penetrasi obat dalam tetes mata, demikian juga
dengan PVP dan dekstran. Jadi, pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata
didasarkan pada : Ketahanan pada saat sterilisasi, Kemungkinan dapat disaring,
Stabilitas, dan Ketidakbercampuran dengan bahan-bahan lain. Contoh peningkat
viskositas : (1) Hidroksipropil metilselulosa = hypromellose (HPMC) , (2) Metilselulosa ,
(3) Polivinil alkohol
- 13. 5 . ANTI OKSIDAN Zat aktif untuk sediaan mata ada yang dapat teroksidasi oleh
udara. Untuk itu kadang dibutuhkan antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan
adalah Na metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%. Vitamin C (asam
askorbat) dan asetilsistein pun dapat dipakai terutama untuk sediaan fenilefrin. Degradasi
oksidatif seringkali dikatalisa oleh adanya logam berat, maka dapat ditambahkan
pengkelat seperti EDTA. Penggunaan wadah plastik yang permeabel terhadap gas dapat
meningkatkan proses oksidatif selama penyimpanan Contoh Anti Oksidan : (1) Natrium
metabisulfit , ( 2) Natrium bisulfit , (3) Natrium sulfit , (4) Asam askorbat
- 14. 6. SURFAKTAN Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhui
berbagai aspek : Sebagai antimikroba (Surfaktan golongan kationik seperti benzalkonium
klorida, setil piridinium klorida, dll). Menurunkan tegangan permukaan antara obat mata
dan kornea sehingga meningkatkan akti terapeutik zat aktif. Meningkatkan
ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal, meningkatkan kontak zat
aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga meningkatkan penembusan dan
penyerapan obat. Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan
merusak kormea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima dibandingkan
dengan surfaktan golongan lainnya. Penggunaan surfaktan dalam sediaan optalmik
terbatas. Surfaktan non ionik, yang paling tidak toksik dibandingkan golongan lain,
digunakan dalam konsentrasi yang rendah dalam suspensi steroid dan sebagai pembantu
untuk membentuk larutan yang jernih. Surfaktan dapat juga digunakan sebagai kosolven
untuk meningkatkan solubilitas (jarang dilakukan). Surfaktan non ionik dapat
mengadsorpsi senyawa pengawet antimikroba dan menginaktifkannya. Menurut Codex,
surfaktan non ionik yang sering dipakai adalah Polisorbat 80 (Tween 80). Sedangkan
menurut Diktat kuliah teknologi steril dapat juga digunakan Tween 20, benzetonium
klorida, miristil-gamma-picolinium klorida, polioxil 40-stearat, alkil-aril-polietil alkohol,
dioktil sodium sulfosuksinat, dll.
- 15. PERHITUNGAN TONISITAS a. Metode Turunnya Titik Beku Turunnya titik beku
serum darah atau cairan lakrimal sebesar -0,52C yang setara dengan 0,9% NaCl. Makin
besar konsentrasi zat terlarut makin besar turunnya titik beku. METODE I : W = Jumlah
(g) bahan pembantu isotoni dalam 100 ml larutan a = Turunnya titik beku air akibat zat
terlarut, dihitung dengan memperbanyak nilai untuk larutan 1% b/v b = Turunnya titik
beku air yang dihasilkan oleh 1% b/v Mbahan pembantu isotoni jika konsentrasi tidak
dinyatakan, a = 0 ( tidak ditambahkan pengisotonis)
- 16. METODE II : Keterangan : Tb = turunnya titik beku larutan terhadap pelarut
murninya K = turunnya titik beku pelarut dalam MOLAR (konstanta Kryoskopik air =
1,86 yang menunjukkan turunnya titik beku 1 mol zat terlarut dalam 1000 g cairan) m =
Zat yang ditimbang (g) n = jumlah ion M = berat molekul zat terlarut L = massa pelarut
(g)
- 17. b. Ekivalensi NaCl Didefinisikan sebagai suatu faktor yang dikonversikan terhadap
sejumlah tertentu zat terlarut terhadap jumlah NaCl yang memberikan efek osmotik yang
sama. Misalnya ekivalensi NaCl asam borat 0,55 berarti 1 g asam borat di dalam larutan
memberikan jumlah partikel yang sama dengan 0,55 g NaCl. METODE WELLS :
Keterangan : L = turunnya titik beku MOLAL I = turunnya titik beku akibat zat terlarut
(oC) C = Konsentrasi molal zat terlarut Oleh karena itu zat aktif dengan tipe ionik yang
sama dapat menyebabkan turunnya titik beku molal yang sama besar, maka Wells
mengatasinya dengan menggolongkan zat-zat tersebut menjadi beberapa kelompok sesuai
dengan jumlah ion yang dihasilkan.
- 18. METODE LAIN : Keterangan : E = ekivalensi NaCl L = turunnya titik beku molal M
= berat molekul zat.
- 19. c. Metode Liso Rumus : Keterangan : TfA = penurunan titik beku Liso = harga
tetapan; non elektrolit =1,86 ; elektrolit lemah =2 ; uni- univalen =3,4 BM = berat
molekul V = volume larutan dlm ml Berat = dalam gram zat terlarut
- 20. CONTOH PERHITUNGAN TONISITAS : a. Cara ekivalensi R / Ranitidin HCl 27,9
mg Na2HPO4 anhidrat 0,98 mg KH2PO4 1,5 mg Aqua pro injection ad 1 ml Ranitidin
HCl 27,9 mg/ml = 2,79 g/100 ml = 2,79 % E 3% = 0,16 (FI Ed. IV Hal. 1255 ) Na2HPO4
anhidrat 0,98 mg/ml ~ (BM Na2HPO4 dihidrat / BM Na2HPO4 anhidrat) x 0,98 = (
159,96 / 141,96 ) x 0,98 = 1,1 mg/ml = 0,11 g/100 ml = 0,11% E 0,5% = 0,44 (FI Ed. IV)
KH2PO4 1,5 mg/ml = 0,15 g/100 ml = 0,15 % E 0,5% = 0,48 ( FI Ed. IV) NaCl yang
ditambahkan agar isotonis : = 0,9 ( 0,4464 + 0,0484 + 0,0720 ) = 0,3332 g/ 100 ml
NaCl yang ditambahkan dalam 1 ml = 3,3 mg/ml 0,0720 0,15 0,48 KH 2 PO 4 0,0484
0,11 0,44 Na 2 HPO 4 dihidrat 0,4464 2,79 0,16 Ranitidin HCl Kesetaraan NaCl Jumlah
zat dalam 100 ml (g) E Zat
- 21. Ab. Cara penurunan titik beku Tf isotonis = 0,52 agar isotonis, A Tf yang
ditambahkan = 0,52 0,34 = 0,18 Setara dengan NaCl : ( 0,18 / 0,52 x 0,9 g/100 ml ) =
0,31 g/100 ml = 3,1 mg/ml Jadi NaCl yang ditambahkan agar larutan isotonis sebanyak
3,1 mg/ml 0.3429 ~ 0.34 Jumlah 0.0375 0.15 0.25 KH 2 PO 4 0.0264 0.11 0.24 Na 2
HPO 4 dihidrat 0.279 2.79 0.1 Ranitidin HCl Kons. Zat X A Tf 1% Konsentrasi Azat (%)
Tf 1% Zat
- 22. d. Metode White Vincent Tonisitas yang diinginkan ditentukan dengan penambahan
air pada sediaan parenteral agar isotonis. Rumus yang dipakai : V = w x E x 111,1
Dengan V= volume dalam ml w = berat dalam gram E = ekivalensi NaCl Contoh : R/
Phenacaine hidroklorida 0,06 gr Asam borat 0,30 gr Aqua bidestilata steril ad 100 ml
Maka : v = ( (0,06 x 0,20)+ (0,3 x 0,50)) x 111,1 ml = 18 ml Jadi obat dicampur dengan
air sampai 18 ml. Lalu tambah pelarut isotonis sampai 100 ml
- 23. KAPASITAS DAPAR Kapasitas dapar adalah kemampuan tidak berubahnya pH
dengan penambahan sedikit asam atau sedikit basa. Rumus : = Bo = 2,303 C
Ka.[H3O+] pHo { Ka + [H3O+] }2 = Bokapasitas dapar = pH =operubahan
konsentrasi asam atau basa perubahan pH C = konsentrasi molar larutan dapar Ka =
konstanta disosiasi larutan dapar Kapasitas dapar dapat dihitung dengan persamaan
Henderson-Hasselbach : pH = pKa + log [ garam ] [ asam ]
- ~24. CONTOH PERHITUNGAN Dapar Dalam 1 ml larutan mengandung Ranitidin
HCl, pH stabilitas = 6,7-7,3 di dapar pada pH = 7 ([H3O+] = 10 -7 ) Dapar pospat pH = 6
8,2 pKa 1 = 2,21 pKa2 = 7,21 pKa3 = 12,67 Dapar yang baik jika pH = pKa kurang
lebih 1, maka dipilih H2PO4 dan HPO4 pKa2 = M7,21 (Ka = 6,3 . 10-8) Catatan :
Kapasitas dapar yg umum digunakan 0,01 = 2,303 C Ka.[H3O+] { Ka + [H3O+] }2
0,01 = 2,303 C 6,3 .10-8 . 10-7 (6,3 .10-8+ 10-7)2 C = 0,018 M pH = pKa + log [ garam ]
[ asam ] 7 = 7,21 + log [ garam ] [ asam ] [ garam] = 0,62 [asam] [asam] + [garam] =
0,018 1,62 [asam] = 0,018 [asam] = 1,1 . 10-2 mol/L = 1,1 . 10-5 mol/ml ( BM asam
KH2PO4 = 141,96 ) Massa asam = 1,1 . 10-5 X 141,96 = 1,5 mg [garam] = 0,62 [asam]
6,89 . 10 -3 mol/L = 6,89 . 10 -6 mol/ml (BM Na2HPO4 anhidrat = 136,09) [garam] =
6,89 . 10-6 X 136,09 = 0,98 mg Jadi dapar yang digunakan adalah KH2PO4 1,5 mg/ml
dan Na2HPO4 0,98 mg/ml
- 25. 2.3. OSMOLARITAS Etiket pada larutan yang diberikan secara intra vena untuk
melengkapi cairan, makanan bergizi, atau elektrolit dan injeksi manitol sebagai diuretika
osmotik, disyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolarnya. Keterangan kadar osmolar
pada etiket suatu larutan parenteral membantu untuk memberikan informasi pada dokter
apakah larutan tersebut hipo-osmotik, iso-osmotik, atau hiper-osmotik. Satuan kadar
osmolar = miliosmol (disingkat mosmol) zat terlarut per liter larutan Kadar osmolar ideal
dapat ditentukan dengan rumus : Kadar osmolar (mosmol/L) = mosM mosM = bobot zat
(g/L) x jumlah ion (n) x 1000 bobot molekul (g)
- ~26. 1. Osmolaritas ideal injeksi natrium klorida 0,9% = 308 miliosmol / L 0,9 % NaCl
= 0,9 g/100 ml = 9 g/L BM NaCl = 58,4 ; n = 2 mosM/L = 9/58,2 x 2 x 1000 = 308 2.
Osmolaritas glukosa anhidrat 5% 5 % glukosa anhidrat = 5 g/100 ml = 50 g/L BM =
180,2 ; n = 1 mosM/L = 50/180,2 x 1 x 1000 = 277,46 Untuk lebih jelasnya dapat
dilihatc( isotonis ) Penandaan0pada TS INFUS!!!!! : Jika keterangan mengenai
osmolaritas diperlukan dalam monografi masing-masing, pada etiket hendaknya
disebutkan kadar osmolar total dalam miliosmol per liter. Jika kandungan kurang dari
100 ml atau jika pada etiket disebutkan bahwa sediaan tidak untuk suntikan langsung,
tetapi larutan harus diencerkan sebelum digunakan, etiket dapat menyebutkan kadar
osmolar total dalam miliosmol per mL.
- 27. METODE PEMBUATAN 1. Cara Sterilisasi Akhir cara sterilisasi umum dan paling
banyak digunakan. Zat aktif harus stabil terhadap molekul air dan pada suhu sterilisasi.
Sediaan disterilkan pada tahap terakhir pembuatan sediaan. Semua alat setelah lubang-
lubangnya ditutup dengan kertas perkamen, disterilkan dengan cara sterilisasi yang
sesuai. 2. Cara Aseptik terbatas pada sediaan yang mengandung zat aktif peka suhu tinggi
dan dapat mengakibatkan penguraian atau penurunan kerja farmakologinya. Antibiotika
dan beberapa hormon tertentu merupakan zat aktif yang sebaiknya diracik secara aseptik.
Cara aseptik bukanlah suatu metode sterilisasi , melainkan suatu cara kerja untuk
memperoleh sediaan steril dengan mencegah kontaminasi jasad renik dalam sediaan.
Dalam FI III hal 18, proses aseptik adalah cara pengurusan bahan steril menggunakan
teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya cemaran kuman hingga
seminimum mungkin. Teknik aseptik dimaksudkan untuk digunakan dalam pembuatan
sediaan steril yang tidak dapat dilakukan proses sterilisasi akhir karena ketidakmantapan
zatnya. Sterilitas hasil akhir hanya dapat disimpulkan jika hasi itu memenuhi syarat Uji
Sterilitas yang tertera pada Uji Keamanan Hayati. Teknik aseptik penting sekali
diperhatikan pada waktu melakukan sterilisasi menggunakan cara sterilisasi C dan D
tepatnya sewaktu memindahkan atau memasukkan bahan steril kedalam wadah akhir
steril. Dalam pembuatan larutan steril menggunakan proses ini, obat steril dilarutkan atau
didispersikan dalam zat pembawa steril, diwadahkan dalam wadah steril, akhirnya ditutup
kedap untuk melindungi terhadap cemaran kuman. Semua alat yang digunakan harus
steril. Ruangan yang digunakan harus disterilkan terpisah dan tekanan udaranya diatur
positif dengan memasukkan udara yang telah dialirkan melalui penyaring bakteri.
Pekerjaan ini harus dilakukan dengan tabir pelindung atau dalam aliran udara steril.
- 28. METODE STERILISASI Metode sterilisasi terutama ditentukan oleh sifat sediaan
tersebut. Jika memungkinkan, penyaringan dengan penyaring membran steril secara
aseptik merupakan metode yang baik. Jika dapat ditunjukkan bahwa pemanasan tidak
mempengaruhi stabilitas sediaan, maka sterilisasi obat dalam wadah akhir dengan otoklaf
juga merupakan pilihan baik. Pendaparan obat tertentu disekitar pH fisiologis dapat
menyebabkan obat tidak stabil pada suhu tinggi. Penyaringan dengan menggunakan
penyaring bakteri adalah suatu cara yang baik untuk menghindari pemanasan, namun
perlu perhatian khusus dalam pemilihan, perakitan dan penggunaan alat-alat. Sedapat
mungkin gunakan penyaring steril 1x pakai. ( FI IV hal 13). Cara-cara Sterilisasi (FI IV
hal 1112, FI III hal 18) Sterilisasi uap Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di
bawah tekanan berlangsung di suatu bejana yang disebut otoklaf. Suatu siklus otoklaf
yang ditetapkan dalam farmakope, untuk media atau pereaksi adalah selama 15 menit,
121oC, kecuali dinyatakan lain. Prinsip dasar kerja alat: udara di dalam bejana diganti
dengan uap jenuh, dan hal ini dicapai dengan menggunakan alat pembuka atau penutup
khusus. Pengerjaan: sediaan yang akan disterilkan diisikan ke dalam wadah yang cocok,
kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100 ml, maka
sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115oC-116oC selama 30 menit. Jika
volume dalam tiap wadah lebih dari 100 ml, maka waktu sterilisasi diperpanjang hingga
seluruh isi tiap wadah berada pada 115oC-116oC selama 30 menit.
- 29. Sterilisasi panas kering Proses sterilisasi termal untuk bahan yang tertera di
farmakope dengan menggunakan panas kering biasanya dilakukan dengan suatu proses
bets dalam suatu oven yang didesain khusus untuk tujuan tersebut. Distribusi panas dapat
berupa sirkulasi atau disalurkan langsung dari suatu nyala terbuka. Suatu proses
berkesinambungan sering digunakan untuk sterilisasi dan depirogenisasi alat kaca sebagai
bagian dari sistem pengisian dan penutupan kedap secara aseptik yang berkesinambungan
dan terpadu. Pengerjaan: sediaan yang akan disterilkan dimasukkan kedalam wadah lalu
ditutup kedap atau penutupan ini bersifat sementara untuk mencegah pencemaran. Jika
volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, maka panaskan pada suhu 150oC
selama 1 jam. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 30 ml, maka waktu 1 jam dihitung
setelah seluruh isi tiap wadah mencapai suhu 150oC. Wadah yang tertutup sementara,
kemudian ditutup kedap menurut Teknik Aseptik.
- 30. Sterilisasi gas Pilihan untuk menggunakan sterilisasi gas sebagai alternatif dari
sterilisasi termal sering dilakukan jika bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap
suhu tinggi pada proses sterilisasi uap atau panas kering. Bahan aktif yang umumnya
digunakan pada sterilisasi gas adalah etilen oksida. Keburukan dari bahan ini adalah
sangat mudah terbakar (walaupun sudah dicampur dengan gas inert yang sesuai), bersifat
mutagenik dan kemungkinan adanya residu toksik dalam bahan yang disterilkan terutama
yang mengandung ion klorida. Proses sterilisasi umumnya berlangsung dalam bejana
yang bertekanan yang didesain sama seperti pada otoklaf tetapi dengan tambahan bagian
khusus yang hanya terdapat pada alat sterilisasi yang menggunakan gas. Keterbatasan
utama dari proses sterilisasi etilen oksida adalah terbatasnya kemampuan gas tersebut
untuk berdifusi sampai ke daerah yang paling dalam dari bahan yang disterilkan. Gas
yang lain yang dapat dipakai yaitu formaldehid. Sterilisasi dengan radiasi ion
Keunggulan sterilisasi iradiasi meliputi reaktivitas kimia rendah, residu rendah yang
dapat diukur dan kenyataan yang membuktikan bahwa variabel yang dikendalikan lebih
sedikit. Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu disintegrasi radioaktif dari
radioisotop (radiasi ) dan radiasi berkas elektron. Iradiasi hanya menimbulkan sedikit
kenaikan suhu tetapi dapat mempengaruhi kualitas dan jenis plastik/kaca tertentu.
- 31. Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas . D
ilakukan dengan penyaringan menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba,
sehingga mikroba yang dikandung dapat dipisahkan secara fisika. Perangkat penyaring
umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau dirangkaikan pada wadah
yang tidak permeabel. Efektivitas suatu penyaring media atau penyaring substrat
tergantung pada ukuran pori bahan dan dapat tergantung pada daya absorbsi bakteri pada
atau dalam matriks penyaring atau bergantung pada mekanisme pengayakan. Penyaringan
untuk tujuan sterilisasi umumnya dilaksanakan menggunakan rakitan yang memiliki
membran dengan porositas nominal 0,2 m atau kurang.
- 32. Pengerjaan: larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke dalam wadah
akhir yang steril, kemudian ditutup kedap menurut Teknik Aspetik. Menurut FI III
kecuali dinyatakan lain, tetes mata dibuat dengan salah satu cara berikut : Obat dilarutkan
ke dalam cairan pembawa yang mengandung salah satu zat pengawet tersebut atau zat
pengawet lain yang cocok dan larutan dijernihkan dengan penyaringan, masukkan ke
dalam wadah. Tutup wadah dan sterilkan dengan autoklaf pada suhu 115-116oC selama
minimal 30 menit, tergantung volume cairan yang akan disterilkan (cara sterilisasi A).
Obat dilarutkan ke dalam pembawa berair yang mengandung salah satu zat pengawet
tersebut atau zat pengawet lain yang cocok dan larutan disterilkan dengan cara filtrasi
(cara sterilisasi C) ke dalam wadah yang sudah steril secara aseptik dan tutup rapat. Obat
dilarutkan ke dalam cairan pembawa berair yang mengandung salah satu zat pengawet
tersebut atau zat pengawet lain yang cocok dan larutan dijernihkan dengan penyaringan,
masukkan ke dalam wadah, tutup rapat, sterilkan dengan uap air mengalir pada suhu 98-
100oC selama minimal 30 menit tergantung volume cairan yang akan disterilkan (cara
sterilisasi B).
- 33. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN Zat aktif selalu ditimbang dalam jumlah
5% berlebih untuk mencegah kemungkinan berkurangnya kadar dalam sediaan akibat
proses pembuatan atau dalam penyimpanan. Akan dibuat sediaan tetes mata dengan
kekuatan sediaan % dengan volume mL/botol Jumlah yang akan dibuat : Untuk
hasil = Untuk evaluasi = 60 wadah Evaluasi fisika : uji kejernihan (3); penetapan
bahan partikulat (2); penentuan bobot jenis dan pH (4); penentuan volume terpindahkan
(30); penentuan viskositas dan aliran (10); volume sedimentasi (10); penampilan,
kemampuan redispersi, penentuan homogenitas dan penentuan distribusi ukuran partikel
(1). Evaluasi kimia : identifikasi dan penetapan kadar (5) Evaluasi biologi : uji sterilitas
(20); uji efektivitas pengawet (5). Jadi jumlah sediaan yang dibuat = . Botol
- 34. EVALUASI SEDIAAN Evaluasi Fisik (FI IV) Uji kejernihan Penentuan bobot jenis
Penentuan pH Penentuan bahan partikulat Penentuan volume terpindahkan Penentuan
viskositas dan aliran Volume sedimentasi (Lihat sediaan suspensi) Kemampuan
redispersi (Lihat sediaan suspensi) Penentuan homogenitas (Lihat sediaan suspensi)
Penentuan distribusi cukuran partikel (Lihat sediaan suspensi) Catatan : evaluasi no 6-10
untuk OTM Suspensi! Evaluasi Kimia Identifikasi Penetapan kadar Evaluasi Biologi Uji
sterilitas (Lihat sediaan injeksi) Uji efektivitas pengawet Penentuan potensi (untuk
antibiotik)
- 35. WADAH DAN PENYIMPANAN Saat ini wadah untuk larutan mata yang berupa
gelas telah digantikan oleh wadah plastik feksibel terbuat dari polietilen atau polipropilen
dengan built-in dropper. Keuntungan wadah plastik : Murah, ringan, relatif tidak mudah
pecah Mudah digunakan dan lebih tahan kontaminasi karena menggunakan built-in
dropper. Wadah polietilen tidak tahan autoklaf sehingga disterilkan dengan iradiasi atau
etilen oksida sebelum dimasukkan produk secara aseptik. Kekurangan wadah plastik :
Dapat menyerap pengawet dan mungkin permeabel terhadap senyawa volatil, uap air dan
oksigen. Jika disimpan dalam waktu lama, dapat terjadi hilangnya pengawet, produk
menjadi kering (terutama wadah dosis tunggal) dan produk teroksidasi.
- 36. Persyaratan kompendial : Farmakope Eropa dan BP mensyaratkan wadah untuk tetes
mata terbuat dari bahan yang tidak menguraikan/merusak sediaan akibat difusi obat ke
dalam bahan wadah atau karena wadah melepaskan zat asing ke dalam sediaan. Wadah
terbuat dari bahan gelas atau bahan lain yang cocok. Wadah sediaan dosis tunggal harus
mampu menjaga sterilitas sediaan dan aplikator sampai waktu penggunaan. Wadah untuk
tetes mata dosis ganda harus dilengkapi dengan penetes langsung atau dengan penetes
dengan penutup berulir yang steril yang dilengkapi pipet karet/plastic Penyimpanan,
dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap, volume 10 ml, dilengkapi dengan penetes (
FI III, hal 10). Penyimpanan Tetes mata disimpan dalam wadah tamper-evident.
Kompatibilitas dari komponen plastik atau karet harus dicek sebelum digunakan. Wadah
untuk tetes mata dosis ganda dilengkapi dengan dropper yang bersatu dengan wadah.
Atau dengan suatu tutup yang dibuat dan disterilisasi secara terpisah.
- 37. PENANDAAN Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi pengawet
antimikroba atau senyawa lain yang ditambahkan dalam pembuatan. Untuk wadah dosis
ganda harus mencantumkan batas waktu sediaan tersebut tidak boleh digunakan lagi
terhitung mulai wadah pertama kali dibuka (waktu yang menyatakan sediaan masih dapat
digunakan setelah wadah dibuka). K ecuali dinyatakan lain lama waktunya tidak boleh
lebih dari 4 minggu Wadah dosis tunggal karena ukurannya kecil tidak dapat memuat
indikasi dan konsentrasi bahan aktif. Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi
zat aktif, kadaluarsa dan kondisi penyimpanan Untuk wadah dosis tunggal, karena
ukurannya kecil hanya memuat satu indikasi bahan aktif dan kekuatan/potensi sediaan
dengan menggunakan kode yang dianjurkan, bersama dengan persentasenya. Jika
digunakan kode pada wadah, maka pada kemasan juga harus diberi kode Untuk wadah
sediaan dosis ganda, label harus menyatakan perlakuan yang harus dilakukan untuk
menghindari kontaminasi isi selama penggunaan
- 38. Labelling Label harus mencantumkan : Nama dan persentase zat aktif. Tanggal
dimana sediaan tetes mata tidak layak untuk digunakan lagi (ED) Kondisi penyimpanan
sediaan tetes mata. Untuk wadah dosis ganda, label harus menyatakan bahwa harus
dilakukan perawatan tertentu untuk mencegah kontaminasi isi sediaan selama
penggunaan
- BIOFARMASETIKA
- OBAT YANG DIBERIKANMELALUI MATA
- olehDewa Ayu Swastini
- Pendahuluan
- Studi Biofarmasetika obat melalui mata :
-
- Penyerapan kurang baik - arah air mata, pengenceran- struktur khas kornea
-
- Kontak singkat- kapasitas menahan dan menyimpanterbatas
-