Anda di halaman 1dari 13

PSIKOLOGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA

NOTICING, ANXIETY DAN LUPA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

OLEH KELOMPOK 5 : ADREVIA RAMADONA DINI WIDIYASTUTI FADHILA EL HUSNA HARYANI HASIBUAN RAHMAT JUNAIRI

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2010

A. Noticing dalam Pembelajaran Matematika 1. Sistem Penyimpanan Informasi Sistem penyimpanan informasi tersusun atas satuan-satuan struktural berikut: a. Reseptor Subjek menerima rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan ditampung oleh alat-alat indera (reseptor) dan mengolah rangsangan-rangsangan itu untuk kemudian disalurkan ke sistem syaraf melalui daftar sensori. b. Register Penginderaan Register penginderaan ini berfungsi untuk menampung sejumlah informasi dari indera seperti penglihatan, pendengaran, peraba, pembau, dan pengecap dan mengadakan seleksi terhadap informasi yang masuk sehingga terbentuk suatu kebulatan konseptual. Informasi yang ditampung mempunyai kapasitas yang besar dan disimpan dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Sebagian kecil informasi diteruskan ke ingatan jangka pendek untuk diolah lebih lanjut sedangkan sisanya hilang dan tidak diolah karena terjadi seleksi dalam persepsi. Dalam waktu singkat tersebut jika tidak mendapatkan suatu proses terhadap informasi yang ditampung maka informasi tersebut biasanya akan hilang. Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi yang penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran. Misalnya apabila siswa dijejali dengan terlalu banyak informasi pada suatu waktu dan tidak diberi tahu aspek informasi mana yang harus diperhatikan, maka mereka akan mengalami kesulitan dalam mempelajari semua informasi tersebut. c. Memori Jangka Pendek Informasi yang telah diseleksi masuk ke dalam ingatan jangka pendek dan tinggal disitu selama 20 detik kecuali bila informasi yang masuk itu ditahan lebih lama melalui suatu rehearsal (menghafal atau mengulang-ulang), yaitu suatu proses penyimpanan informasi dengan cara mengingat-ingat kembali atau mengolah informasi untuk diambil maknanya. Daya tampung short term memory terbatas baik dari segi jumlah informasi yang dapat ditampung maupun dari segi waktu yang tersedia untuk mengolah informasi. Informasi yang tidak segera diolah dengan baik, akan terdesak keluar dari short term memory karena ada informasi baru yang masuk ke dalam short term memory. d. Memori Jangka Panjang Informasi yang berhasil diolah di memori jangka pendek masuk ke dalam memori jangka panjang untuk disimpan sebagai informasi yang siap dipakai pada saat dibutuhkan. Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode waktu yang panjang. Memori jangka panjang memiliki kapasitas yang sangat besar (tidak terbatas). Informasi yang tersusun rapi dan cara penggalian informasi tersebut tepat akan mudah ditemukan di memori jangka panjang. Informasi dari memori jangka panjang bisa dikembalikan ke memori jangka pendek untuk digabungkan dengan informasi baru dan diolah di memori jangka pendek atau langsung diteruskan ke pusat perencanaan reaksi atau jawaban. Banyak ahli yakin bahwa informasi yang terdapat

dalam memori jangka panjang tidak pernah dilupakan, kemungkinan hanya sekedar kehilangan kemampuan untuk menemukan kembali informasi yang tersimpan di dalam memori kita.
Memori Episodik Memori Semantik

Memori Jangka Panjang

Deklaratif (Eksplisit) Prosedural (Implisit)

Para ahli membagi memori jangka panjang menjadi dua bagian yaitu: 1. Memori deklaratif adalah pengingatan kembali informasi secara sadar. a. Memori episodik adalah pengetahuan faktual yang didasarkan pada pengalaman pribadi dalam waktu dan tempat tertentu. b. Memori semantik adalah memori jangka panjang yang barisi fakta-fakta dan generalisasi informasi yang diketahui misalnya konsep, prinsip, atau aturan dan bagaimana menggunakannya dan keterampilan pemecahan masalah dan strategi belajar yang teoritis, abstrak, dan tidak tergantung pada waktu dan tempat. 2. Memori prosedural adalah pengetahuan nondeklaratif dalam bentuk keterampilan dan operasi kognitif berupa mengingat bagaimana melakukan sesuatu. e. Pusat perencanaan reaksi atau jawaban (response generator). Pusat perencanaan reaksi atau jawaban menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi rencana reaksi yang kemudian disalurkan ke pusat pelaksanaan (efektor). Pada dasarnya pusat perencanaan reaksi atau jawaban menentukan bentuk dan pola dari reaksi atau jawaban yang diberikan, yang kemudian dituangkan dalam suatu tindakan atau perbuatan. f. Pusat-pusat pelaksanaan (efektor). Pusat-pusat atau pelaksanaan (efektor) menampung hasil perencanaan dan melaksanakan rencana dalam bentuk tindakan atau perbuatan. Efektor meliputi semua otot dan kelenjar yang mewujudkan jawaban atau reaksi terhadap lingkungan sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh pusat perencanaan. g. Umpan balik (Feedback) Umpan balik adalah akhir dari sistem penyimpanan informasi dimana subjek mendapatkan umpan balik dari lingkungan berupa komentar dari orang lain terhadap tindakan tersebut yang artinya subjek mendapatkan konfirmasi bahwa keseluruhan proses belajar telah berjalan dengan tepat. 2. Penyimpanan Informasi dalam Belajar a. Tahap-tahap Ingatan

Sebelum seseorang mengingat suatu informasi atau sebuah kejadian dimasa lalu, ternyata ada beberapa tahapan yang harus dilalui ingatan tersebut untuk bias muncul kembali. Tahspan-tahapan tersebut adalah: a. Masukan (learning) Cara memperoleh ingatan pada dasarnya dibagi menjadi dua,yaitu: 1. Secara sengaja, bahwa seseorang dengan sengaja memasukkan informasi, pengetahuan, pengalaman-pengalamannya kedalam ingatannya. 2. Secara tidak sengaja, bahwa seseorang tidak sengaja memasukkan pengetahuan, pengalaman dan informasi ke dalam ingatannya. b. Menyimpan Apa yang telah dipelajari biasanya akan tersimpan dalam bentuk jejak-jejak dan bias menimbulkan kembali. Walaupun jejak-jejak tersebut disimpan namun tidak sering digunakan maka memori tersebut bias sulit untuk ditimbulkan kembali bahkan juga hilang, dan ini yang disebut dengan kelupaan. c. Menimbulkan kembali Menimbulkan kembali ingatan yang sudah disimpan dapat ditempuh dengan mengingat kembali dan mengenal kembali informasi-informasi dalam memori. b. Ingatan Jangka Panjang dalam Belajar Ada beberapa pengolahan ketika anak mendapatkan informasi materi tertentu. Pengolahan inilah yang menentukan posisi informasi atau materi tersebut dalam otaknya. Dalam memori jangka panjang inilah berbagai informasi disimpan dan dihubungkan dalam bentuk gambaran dan skema, suatu pola struktur data yang membuat kita bias menggabungkan informasi kompleks yang sangat besar, membuat kesimpulan dan memahami informasi baru. Beberapa proses mengingat dalam belajar yaitu: 1. Mengingat makna Pada saat anak didik menerima informasi atau materi baru, maka anak akan mengolah informasi atau materi tersebut dan berusaha memberikan arti pada infotmasi tersebut berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh anak. Ketika pengetahuan yang dicoba dihubungkan tidak ketemu, maka anak akan membuat skema atau hubungan tertentu untuk memahami informasi atau materi tersebut. Disinilah anak akan berusaha memahami informasi atau materi baru tersebut. Dengan kondisi seperti inilah, maka mengikat makna bias menjadi proses olah yang baik untuk mengikat informasi atau materi dalam long term memory. Mengingat makna pertama-tama dengan menghubungkan materi tersebut dengan materi yang sudah ada sebelumnya dan harus terkait. Dalam pembelajaran, kita mengenal apersepsi. Makin banyak informasi dihubungkan dengan hal lainnya, makin banyak peta jalan tersedia untuk diikuti delam mencari sumber pengetahuan aslinya. Melalui mengikat makna, kita menciptakan kondisi dimana anak mampu menuliskan materi dengan bahasa mereka sendiri. 2. Mengingat guna

Mengingat guna berarti memperkuat dalam diri setiap anak akan manfaat materi tersebut. Manfaat dan guna itu tentu diarahkan bagi kehidupan sehari-hari. Sebisa mungkin, hindari manfaat untuk memperoleh nilai bagus dan menjawab soal ujian. Karena, kalau demikian manfaatnya bagi anak, maka setelah ujian anak akan lupa dan merasa tanggungjawab mengingatnya setelah selesai. Semakin tahu manfaat bagi kehidupan, akan semakin tinggi keinginan anak ntuk mengetahui dan mengingat informasi baru. 3. Mengingat rasa Mengingat rasa yaitu mengolah pengetahuan atau informasi baru melalui pengalaman langsung yang melibatkan panca indera. Berilah pengalaman terhadap anak untuk memproses dan mengolah pengetahuan baru mereka. Apabila pengetahuan tersebut prosedural (cara menggunakan sesuatu), maka seringlah mengulang agar anak terus mengingatnya. Dengan mengingat rasa dan memberikan pengalaman langsung, maka akan terbentuk jaringan baru yang kuat dalam otak untuk membentuk pengetahuan yang lebih kompleks. Namun dalam belajar tidak dapat kita pungkiri adanya faktor lupa yang mengakibatkan kita kesulitan dalam memanggil kembali informasi atau materi yang telah dipelajari. Lupa terjadi ketika adanya kesulitan untuk menggali (dari ingatan) apa yang telah diperhatikan, diolah dan dimasukkan kedalam ingatan jangka panjang. Pandangan para ahli mengenai sebab-sebab lupa, sebagai berikut: a. Menurut pandangan Woodworth, gejala lupa disebabkan bekas-bekas ingatan yang tidak digunakan, lama kelamaan terhapus, dengan berlangsungnya waktu, terjadi proses penghapusan yang mengakibatkan bekas-bekas ingatan menjadi kabur dan lama kelamaan hilang sendiri. b. Sebab terjadinya lupa dalam interferensi, yaitu gangguan dari informasi yang baru masuk ke dalam ingatan terhadap informasi yang telah tersimpan disitu. c. Adanya motof-motif tertentu yang menyebabkan seseorang sedikit banyaknya mau melupakan sesuatu, misalnya kejadian atau peristiwa yang tidak menyenangkan lebih mudah terlupakan dari pada peristiwa yang menyenangkan. Mungkin pula salah satu penyebab lupa adalah para siswa tidak mendapatkan kunci yang tepat untuk membuka ingatannya. Untuk mencegah faktor lupa ini, dapat dihindari dengan beberapa usaha seperti: a. Motivasi belajar yang kuat di pihak siswa, lebih-lebih motivasi instrinsik, dan kesadaran akan tujuan yang harus dicapai, mendorong siswa untuk melibatkan diri. b. Siswa harus memberikan perhatian khusus pada unsur-unsur yang relevan (meningkatkan konsentrasi). c. Siswa perlu mengolah materi dengan baik dan segera. d. Memperbaharui informasi-informasi yang tersimpan dalam long term memory. e. Mengadakan transfer atau pengalihan dari hasil belajar dalam lingkup bidang studi tertentu ke lingkup bidang studi lain atau kehidupan sehari-hari. c. Transfer Belajar

Di tinjau dari segi bahasa, transfer diartikan sebagai pemindahan. Dalam psikologi istilah itu dipadukan dengan kata belajar, terjadilah transfer belajar. Jadi transfer belajar adalah menunjukkan adanya pemindahan dalam arti penggunaan hasil belajar (misalnya di sekolah) untuk menghadapi situasi, kejadian-kejadian, masalah-masalah dan sebagainya di lingkungan lain (misalnya masyarakat). Pengertian transfer belajar pada umumnya dimaksudkan sebagai transfer yang positif, yaitu dengan adanya prose situ situasi baru yang dihadapi menjadi lebih efektif dan efisien. Jadi, transfer positif memungkinkan seseorang dalam menghadapi sitiasi baru memperoleh perbaikan-perbaikan, bahkan dalam menghadapi itu dapat lebih efektif dan efisien. Akan tetapi transfer belajar dapat pula bersifat negatif, yaitu dalam penggunaan hasil belajar untuk menghadapi situasi baru itu mengalami hambatan, kesulitan, kerusakan dan sebagainya. Beberapa pemikiran mengenai transfer belajar atau teori transfer belajar yaitu: a. Teori transfer belajar menurut Psikologi Daya Menyatakan bahwa baiknya setiap fungsi sebagai akibat mempelajari bahan tertentu (yang telah menjadi ketentuan) akan tertransfer dalam mempelajari bahan apapun juga tidak ada hubungannya dengan bahan latihan itu. b. Teori transfer belajar berdasar konsep Identical Elements dan Identical Components Transfer terjadi jika antara situasi yang lalu atau hasil belajar yang lalu dengan situasi yang atau bahan pelajaran yang dihadapi terdapat aspek-aspek yang sama. Sebagai contoh seorang siswa yang dihadapkan pada keadaan yang memerlukan pemecahan, umpama ada sebuah kotak kayu terbuka mirip samoan akan ditaruh di atas air. Ia dapat menentukan tentang berat benda yang akan diletakkan di atas kotak kayu sampai batas tertinggi menjelang tenggelam. Untuk menentukannya ia menggunakan pengetahuan yang telah dipelajari. Ternyata hal itu dimungkinkan karena telah mempelajari hokum Archimedes. Maka terjadilah transfer belajar. c. Teori transfer belajar menurut konsep Generalisasi Generalisasi adalah prinsip-prinsip umum yang mununjukkan pola kesamaan yang universal, merupakan ide umum, yang terbentuk melalui proses mental. Menurut teori ini transfer belajar akan terjadi apabila seseorang siswa mempelajari sesuatu prinsip atau ide dalam suatu situasi belajar dan kemudian dapat menggunakannya dalam situasi lain yang dihadapi. d. Teori transfer belajar menurut Psikologi Gestalt Teori belajar menurut psikologi ini mengutamakan pola-pola pengalaman sebagai media transfer. Pada garis besar teori ini adalah: 1. Orang atau siswa yang belajar memberikan respons secara keseluruhan, sebagaimana ia merupakan individu yang merupakan kesatuan dan keseluruhan. 2. Orang atau siswa yang belajar itu melatih diri untuk mengenal lebih lanjut elemenelemen dari pola yang semula dikenal sebagai kesatuan dan keseluruhan yang berarti. 3. Orang atau siswa yang belajar, manakala ia telah mengenal elemen-elemen dari keseluruhan pola pengalamannya segera terjadilah proses transfer atau transposition itu.

B. Anxiety dalam pembelajaran Matematika Kecemasan merupakan salah satu emosi yang paling menimbulkan stress yang dirasakan oleh banyak orang. Kadang-kadang kecemasan juga disebut dengan ketakutan atau perasaan gugup. Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan pada saat-saat tertentu, dan dengan tingkat yang berbeda-beda. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena individu marasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hal yang mungkin menimpanya dikemudian hari. Kecemasan dalam belajar matematika sangat nyata dan terjadi di antara ribuan orang. Banyak dari kecemasan ini terjadi di kelas karena kurangnya pertimbangan gaya belajar yang berbeda dari siswa. Saat ini, kebutuhan masyarakat memerlukan kebutuhan yang lebih besar untuk matematika. Matematika harus dipandang secara positif untuk mengurangi kecemasan dalam belajar matematika. Oleh karena itu, guru harus memeriksa kembali metode pengajaran tradisional yang sering tidak cocok gaya belajar siswa dan keterampilan yang diperlukan dalam masyarakat. Misalnya, sebuah konsep baru dapat diajarkan melalui bermain akting, kelompok koperasi, alat bantu visual, tangan kegiatan dan teknologi. Sebagai hasil sekali anak-anak melihat matematika sebagai menyenangkan, mereka akan menikmatinya, dan sukacita dalam belajar matematika. 1. Penyebab Kecemasan dalam Belajar Matematika Matematika biasanya diajarkan sebagai subyek dan seolah-olah mendapatkan jawaban yang benar itu penting. Berbeda dengan sebagian besar mata pelajaran, pemecahan masalah dalam matematika hampir selalu memiliki jawaban yang tepat. Selain itu, subjek sering diajarkan seolah-olah ada cara yang benar untuk memecahkan masalah dan setiap pendekatan lain akan salah, bahkan jika siswa mendapat jawaban yang tepat. Sehingga siswa terpaku pada cara yang diajarkan saja, ini dapat menimbulkan kecemasan bagi siswa disaat siswa tersebut tidak mengerti dengan cara yang diajarkan sekalipun siswa tersebut memiliki cara lain untuk menyelesaikan masalah itu. Guru bagi anak-anak kebanyakan ketika guru mendorong mereka untuk berbagi proses berpikir bukan hanya membenarkan jawaban mereka dengan keras atau secara tertulis terhadap operasi matematika yang mereka lakukan. Dengan kurangnya penekanan pada benar atau salah dan lebih menekankan pada proses, guru dapat membantu meringankan kecemasan siswa tentang matematika. Teori konstruktivisme mengatakan pembelajaran dan pengetahuan adalah kreasi siswa, ini mengartikan bahwa belajar hafalan adalah pendekatan yang salah untuk mengajar matematika. Selain itu guru yang benar-benar mengerti apa yang mereka ajarkan cenderung mendorong pertanyaan dari para siswa. Guru-guru yang tidak mengerti banyak tentang subjek mereka, di sisi lain memaksakan ketakutan pada siswa untuk mencegah mereka mengajukan pertanyaan yang mungkin mengekspos ketidaktahuan guru.

2. Solusi Menurut Dewan Nasional Guru Matematika (NCTM), cara untuk menghilangkan kecemasan siswa dalan belajar metematika adalah: 1. Mengakomodasi untuk gaya belajar yang berbeda 2. Menciptakan berbagai pengujian lingkungan 3. Merancang positif pengalaman di kelas matematika 4. Menekankan bahwa jangan takut salah dalam menjawab atau menyelesaikan masalah matematika. 5. Membiarkan siswa memiliki beberapa masukan dalam evaluasi mereka sendiri. 6. Memungkinkan untuk pendekatan sosial yang berbeda untuk belajar matematika. 7. Menekankan pentingnya asli berpikir kualitas daripada manipulasi hafalan rumus. Peserta didik aktif mengajukan pertanyaan kritis, seperti: Mengapa kita melakukannya dengan cara ini, dan bukan seperti itu?. Beberapa guru mungkin menemukan pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu atau sulit untuk menjawab dan memang mungkin telah dilatih untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan permusuhan dan kebencian, yang dirancang untuk menanamkan rasa takut. Lebih baik guru penuh semangat menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini dan menggunakannya untuk membantu siswa memperdalam mereka memahami dengan memeriksa metode alternatif sehingga siswa dapat memilih sendiri metode mana yang mereka suka. Masih ada sebagian besar matematika diajar di sekolah yang terdiri dari menghafal, pengulangan, dan secara mekanis dilakukan operasi. Times tabel adalah salah satu contoh, dimana belajar menghafal adalah sangat penting untuk kinerja matematika. Bila mahasiswa gagal untuk mempelajari tabel kali pada usia muda, ia dapat mengalami kecemasan matematika kemudian, ketika semua teman sekelas para siswa dapat mengingat tabel tetapi dia tidak bisa. Anak-anak belajar paling baik jika matematika diajarkan dengan cara yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak menikmati bereksperimen. Untuk belajar matematika secara mendalam apapun, siswa harus bergerak di bidang eksplorasi dan berpikir serta belajar hafalan aturan dan prosedur. C. Lupa dalam Pembelajaran Matematika 1. Pengertian Lupa Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apaapa yang sebelumnya telah kita pelajari. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Jadi lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita. Beberapa teori yang menjelaskan tentang lupa yaitu: a. Decay Theory Teori ini menjelaskan bahwa lupa disebabkan karena memori menjadi semakin aus dengan berlalunya waktu. Selain itu memori juga bisa aus bila tidak digunakan (tidak diulang kembali).

b. Interfence Theory Informasi yang telah disimpan di dalam long term memory terganggu oleh informasi lain sehingga kita mengalami kesulitan untuk memanggil kembali informasi tersebut. c. Retrieal Failure Kegagalan untuk mengingat, mungkin terjadi karena tidak adanya petunjuk yang memadai. d. Motivated Forgetting Theory Manusia memang cenderung melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Hal ini berkaitan dengan penjelasan defensif mechanism manusia yang dipaparkan oleh Sigmund Freud. e. Gangguan Fisiologis Setiap penyimpanan informasi selalu disertai dengan berbagai perubahan fisik otak yang disebut dengan enggram. Gangguan pada enggram akan mengakibatkan lupa pada manusia. 2. Kapan Terjadinya Lupa 3. Bentuk-bentuk Lupa Ada beberapa macam bentuk lupa yaitu: a. Mudah lupa (forgetfulness) Mudah lupa terjadi bila informasi yang diterima berhasil melalui proses normal dan akhirnya tersimpan di dalam memori jangka panjang. Mudah lupa terkait dengan penambahan usia yang sering dihubungkan dengan inefisiensi proses memori, seperti proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang baik, kesulitan memusatkan perhatian dan mengabaikan distraktor, membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu yang baru, dan lebih banyak membutuhkan isyarat untuk mengingat kembali informasi yang telah tersimpan. Mudah lupa akan semakin berat jika menyerang manula dan disebut sebagai Age-Associated Memory Impairment (AAMI). b. Amnesia Pada amnesia, informasi hanya sampai di memori jangka pendek. Dengan kata lain, terjadi kegagalan atau kesulitan belajar yang berarti sudah bersifat patologis. Namun, perhatian terhadap informasi yang masuk, mengingat kembali informasi yang sudah lama, fungsi kognisi, bahasa, dan kepribadian masih berjalan dengan normal. Hanya proses penerusan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang yang gagal sehingga informasi baru tersebut tidak dapat diingat kembali. c. Demensia Demensia adalah gangguan yang paling berat. Informasi sama sekali tidak dapat masuk dalam proses memori yang disebabkan oleh berbagai kelainan di otak seperti gangguan vaskuler (stroke) dan degeneratif (sindrom Alzheimer). 4. Faktor Penyebab Lupa Beberapa penyebab lupa yaitu: a. Minat dan motivasi Seseorang yang mengingat segala sesuatu tentang hal yang disukainya jauh lebih baik dari pada hal yang tidak disukainya. Minat sangat meningkatkan motivasi dan pada gilirannya akan meningkatkan daya ingat. Menurut Kurt Lewin (1890-1947), seorang psikolog jerman, minat dan motivasi berarti konsentrasi energi pada sektor tertentu

b.

c.

d.

e.

dalam kesadaran. Konsentrasi energi inilah yang menyebabkan suatu hal tidak begitu saja dilupakan. Jejak ingatan Manusia tidak bisa memusatkan seluruh energinya kepada semua hal. Wilhelm Wundt (1832-1920), mengatakan bahwa hanya sebagiaan kecil dari persepsi umum yang bisa masuk titik perhatian. Ia juga berpendapat bahwa mental itu aktif dan aktivitas mental itulah yang mengarahkan pusat-pusat perhatian manusia. Hal-hal yang menjadi pusat perhatian akan mudah dilupakan. Sementara itu, manusia juga punya kecenderungan untuk merekonstruksi hal-hal yang dilupakan. Wolfgang Kohler (1887-1967), seorang tokoh psikologi gestalt di Universitas Berlin, berpendapat bahwa ingatan sangat terkait dengan jejak-jejak ingatan karena adanya hubungan-hubungan yang sama antara obyek di luar dan refleksinya di dalam susunan saraf dan otak. Metabolisme otak tidak memungkinkan semua jejak ingatan itu tersimpan terus dengan sempurna, melainkan berangsur-angsur akan menghilang tetapi ketika orang yang bersangkutan diminta untuk mengingat kembali hal yang sudah mulai terlupakan sebagian itu, manusia cenderung untuk menyempurnakan sendiri bagian-bagian yang terlupa tersebut dengan cara mengkreasikan sendiri detil-detil ceritera itu. Akibatnya, sebuah cerita tentang suatu peristiwa yang pernah disaksikan oleh seseorang akan berubah-ubah dari masa ke masa. Makin lama jarak waktu antara kejadian awal dengan saat bercerita, makin banyak perubahannya. Stress dan latihan Lupa juga bisa disebabkan oleh stress. Misalnya orang yang akan ujian walaupun ia sudah belajar tapi ia stress jadi semua apa yang sudah dipelajarinya dengan baik terlupa begitu saja. J.B Watson (1878-1958) seorang behavioristik AS, menganjurkan latihan berulang-ulang. Suatu prilaku yang terus menerus diulang akan diperkuat sedangkan prilaku yang tidak diulang tidak akan mendapat ganjaran sehingga akhirnya akan terjadi penghapusan atau lupa. Faktor fisiologis Misalnya amnesia yang sering terjadi pada penderita trauma kepala (antara lain karena kecelakaan), orang-orang lanjut usia yang mengalami kemunduran fungsi mental karena usia (dementia senilis), sehingga ia banyak melupakan berbagai hal yang biasanya selalu dia ingat. Mengurangi lupa fisiologis ini diperlukan dokter ahli neurologi atau dokter-dokter spesialis lainnya. Namun usaha dari segi psikologi sendiri juga diperlukan, antara lain dengan cara terus menerus merangsang ingatan pasien, mengulang-ulang nama tiap-tiap anggota keluarga dan sebagainya, sehingga mental pasien tetap terangsang, terlatih, dan termotivasi. Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara informasi-informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Gangguan konflik ini terbagi menjadi dua yaitu: i. Gangguan proaktif (Proactive interference) yaitu apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Ini terjadi jika siswa mempelajari materi yang mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang waktu yang pendek. (Psychology Education, 2002) ii. Ganguan retroaktif (retroactive interference) yaitu apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa. Jadi materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali, sehingga siswa tersebut lupa. (Psychology Education, 2002)

f. Lupa dapat terjadi pada seseorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak. Penekanan ini dapat terjadi karena item informasi yang berupa pengetahuan tanggapan atau kesan dan sebagainya yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya sehingga ke alam ketidaksadaran. g. Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Andreson 1990). Jika siswa belajar hanya dengan mengenal melalui keterangan atau gambar saja, maka jika siswa menemui yang telah dipelajarinya, mereka akan lupa. h. Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu. Jadi, jika siswa telah mengikuti proses belajar-mengajar dengan tekun dan serius, karena hanya tidak suka dengan gurunya maka materi pelajarannya akan terlupakan. i. Lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa (Hilgard & Bower 1975) j. Lupa tentu saja dapat tejadi karena perubahan urat syaraf otak. 5. Upaya untuk Mengurangi Lupa Beberapa upaya untuk mengurangi lupa yaitu: a. Perhatikan asupan makanan Pikun bisa disebabkan oleh pola makan yang salah. Terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak dan minyak bisa memicu terjadinya penebalan pembuluh darah yang mengakibatkan peredaran darah ke seluruh tubuh melambat. Akhirnya otak kita kekurangan persediaan darah, sehingga tidak dapat bekerja secara optimal (yang kemudian kita artikan sebagai sering lupa). Menurut dr Waluyo Soerjodibroto, MSc, SpGK(K), spesialis gizi klinis dari Departemen Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang kita perlu lakukan adalah menganut prinsip menu makan 4 sehat dan 5 sempurna dalam porsi yang cukup. Kita juga bisa menambahkan asupan vitamin B dan C, atau kombinasi keduanya. Untuk hasil yang optimal, usaha kita tersebut harus selalu didukung dengan latihan otak, seperti latihan mengingat. b. Jangan terlalu fokus perhatian dan pikiran Ternyata kesibukan dan rasa cemas juga mampu membuat kita mudah lupa. Jika kita terlampau fokus pada ketakutan dan pemikiran negatif secara terus-menerus, maka semakin sedikit pula energi otak kita yang dialokasikan untuk mencari informasi di otak.Jadi, jika kita sedang dalam keadaan stres atau tertekan, cobalah untuk bisa menenangkan diri dan atur napas sambil terus berpikir positif, saran Ivan Sujana, psikolog bidang klinis. c. Oahraga Rutin melakukan olahraga tidak hanya baik untuk jantung, melainkan juga untuk memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh, terutama otak. Agar kerja otak bisa maksimal, maka kita perlu asupan oksigen yang banyak dari pompa arteri yang sehat. Menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990), kiat untuk mengurangi lupa yaitu: a. Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Ini terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan

b. Extra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktivitas belajar. c. Mnemonic device (muslihat memori) berarti kiat khusus yang diterjadikan alat pengait mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa. d. Clustering (pengelompokan) ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompokkelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip. Misalnya daftar I mengelompokkan daftar nama-nama negara, daftar II singkatan lembaga negara, dan daftar III singkatan nama-nama lembaga internasional. e. Distributed practive (latihan terbagi) adalah latihan terkumpul yang sudah dianggap tidak efektif karena mendorong siswa melakukan cramming, yakni belajar banyak meteri secara tergesa-gesa dalam waktu yan singkat. f. The serial position effect (pengaruh letak bersambung) untuk memperoleh efek yang positif siswa dianjurkan menyusun daftar kata-kata (nama, istilah dsb) yang diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat.

KEPUSTAKAAN Djiwandono,Sri Esti Wuryani.1989.Psikologi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Winkel,WS.1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo http://www.masbow.com/2009/11/recall-memory-dalam-psikologi.html. Diakses pada 5 Desember 2010, pukul 15.00 WIB. http://sejutaguru.blogspot.com. Diakses pada 5 Desember 2010, pukul 15.00 WIB. http://www.mathgoodies.com/articles/math_anxiety.html. Diakses pada 7 Desember 2010, pukul 15.00 WIB. http://en.wikipedia.org/wiki/Mathematical Anxiety. Diakses pada 7 Desember 2010, pukul 15.00 WIB. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2566987. Diakses pada Rabu, 22 Desember 2010, pukul 15.00 WIB. http://www.infoskripsi.com/Article/Psychology-Education.html. Diakses pada Rabu, 22 Desember 2010, pukul 15.08 WIB. http://ippamaradhi.multiply.com/journal/item/89/Penyebab_Lupa. Diakses pada Rabu, 22 Desember 2010, pukul 15.20 WIB.

Anda mungkin juga menyukai