Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan
Mempelajari perilaku (response) rangkaian terhadap sinyal elektrik; response
alami rangkaian atau natural response, respon dengan sinyal atau forced
response, dan respon rangkaian secara menyeluruh atau complete response.
Mengadakan pengukuran arus serta tegangan pada saat transient (peralihan,
perubahan, transien, transisi) pada rangkaian RC, RL.
1.2 Dasar Teori
Gejala transien ini di klasifikasikan menjadi 2 jenis, impulsive transient dan
oscillatory transient.
Impulsive transient merupakan gejala transien yang disebabkan oleh petir.




2

Oscillatory Transient
Merupakan gejala transient yang disebabkan oleh perubahan yang terjadi
secara tiba-tiba dari tegangan, arus atau keduanya dalam keadaan steady state
dengan polaritas positif dan negatif.

Karakteristiknya ditentukan oleh spectral content , durasi, dan magnitude. (
Spectral Content : High, Medium and Low Frequency ). Contoh dari medium
frequency adalah ketika Back-To-Back cpacitor Energization dan Cable
Switching.

Low frequency oscillatory transient seringkali terjadi bagian subtransmisi dan
sistim distribusi, ini sering terjadi pada capacitor bank energization yang
menghasilkan oscillatory voltage transient dengan frekuensi antara 300-900
Hz. harga puncaknya bisa mencapai 2,0 PU, tapi pada umunya 1.3-1.5 PU
dengan durasi 0.5-0.3 cycles.

2. Short Duration Voltage Variations

Fenomena yang satu ini dapat kita klasifikasikan menjadi 3 antaralain :
instantenous, momentary, dan temporary, (tergantung pada durasinya).
Fenomena ini disebabkan oleh Fault, Energization of large load, dengan arus
start tinggi, atau intermittent lose connection pada sistem tenaga .
Fault bisa mengakibatkan :
- Temporary voltage drops (SAGS)
- Voltage rise ( Swells)
- Complete Loss Of Voltage (INTERRUPTION)
Sags
Sags disebabkan oleh sisten fault, juga bisa disebabkan oleh energization of
heavy load atau starting dari motor-motor besar. Gambar dibawah
menunjukan voltage sag pada suatu feeder yang disebabkan oleh single line to
ground fault pada feeder yang lain dalam satu gardu induk. gambar berikutnya
menunjukan efek dari starting motor besar.



3



Swells
Biasanya disebabkan oleh Fault (tapi dalam kesehariannya falut lebih sering
mengakibatkan SAG). Temporary voltage rise (swells) bisa terjadi pada
unfaulted phase selama selang fault terjadi, , switching dari beban besar, atau
energize dari capacitor bank yang besar. karakteristik swells ditentukan oleh
magnitude (RMS Value) dan durasinya.

"PENGARUH VOLTAGE SWELL SELAMA FAULT TERGANTUNG
PADA FAULT LOCATION, SYSTEM IMPEDANCE, DAN GROUNDING"

Pada sistem yang tidak diketanahkan, dengan impedansi urutan nol tak
terhingga, selama SLG terjadi tegangan fasa (line to ground) dari fasa yang
tidak diketanahkan mempunyai nilai 1.73 pu. Didekat GI pada sistem yang
tidak diketanahkan, tidak akan terjadi kenaikan tegangan (kecil) pada fasa-fasa
yang tidak terganggu karena trafo pada GI biasanya dihubungkan delta-
bintang yang mengakibatkan mengalirnya arus fault dengan adanya impedansi
urutan nol yang kecil.

Interruption
4


Interruption disebkan oleh power system fault, equipment failure dan control
malfunction. Ditentukan berdasar dari durasinya, yaitu waktu operasi
pengaman. instanteous reclosing mengakibatkan interruption kurang dari 30
cycles (non permanent fault). delayed reclosing bisa mengakibatkan
momentary atau temporary interruption.

Gejala transien terjadi pada rangkaian-rangkaian yang mengandung komponen
penyimpan energi seperti inductor dan/atau kapasitor. Gejala ini timbul karena
energi yang diterima atau dilepaskan oleh komponen tersebut tidak dapat
berubah seketika (arus pada induktor dan tegangan pada kapasitor).




5



Perhatikan gambar 1. pada rangkaian tersebut terdapat dua kapasitor C1 dan
C2. Kapasitor C1 berfungsi untuk menyimpan muatan yang pada awalnya
didapat dari power supply, yang lalu akan disimpannya dan dibuang ke C2
(saklar S2 on) ketika sudah tidak lagi tersambung dengan power-supply
(saklar S1 off). Saklar S1 dan S2 menggunakan rangkaian terintegrasi
analog switch 4066 yang memiliki resistansi kontak (on) sekitar 80 ohm.
Elemen penyimpan energi merupakan elemen yang menyimpan muatan listrik
dalam elemen-elemennya.
a. Kapasitor (C)
Kapasitor merupakan elemen yang memerlukan arus sebanding dengan
turunan waktu tegangan diantara kutub kutubnya.
Secara fisis, terdapat dua lempeng sejajar, yang satu bermuatan positif
dan yang lain bermuatan negatif seperti pada gambar
6



dimana :
d
A
C
c
= . (1)
d = jarak antar lempengan
= konstanta dielektrik
A = luas lempengan
Konstanta dielektrik () untuk beberapa jenis bahan sebagai berikut :


Nilai konstanta diatas merupakan permitivitas relatif,
r
, yang diperoleh
dari
o
r
c
c
c = dimana
o
adalah permitivitas ruang hampa (=8,85 x 10
-1
).
Satuan dari kapasitor/kapasitansi disebut : Farad
Volt
Coulomb
= , atau dapat
dituliskan sebagai berikut : V C q - = . Bentuk dari kapasitor sendiri dapat
bermacam-macam.



Gambar Model kapasitor dengan dua lempeng sejajar
Tabel 1.1 Konstanta dielektrik beberapa jenis bahan
Gambar Model fisik kapasitor
7

Pada saat diberi tegangan V, maka ada arus i yang mengalir sehingga
muatan q berpindah, jika muatan positif (q
+
) dianggap searah dengan arah
arus positif maka :
dt
dq
i = . (2)
Kalau muatan tersebut dinyatakan sebagai arah arus positif dari arah
pergerakan sumber positif :
dt
C
dV
dt
dV
C i
1
= = (3)
} } }
= = dt i
C
V dt i
C
dV
1 1
.(4)
dan simbol untuk kapasitor adalah :


dengan
V
q
C = .
i. Energi yang tersimpan dalam kapasitor
Untuk menghitung energi yang tersimpan dalam kapasitor dapat
menggunakan persamaan berikut :

}

=
t
c
dt i V W dimana
dt
dV
C i =

}

- =
t
dt
dt
dV
C V

}

- =
t
dV C V

) (
) (
2
2
1
t V
V
t
CV dV V C


= =
}
. (5)
pada saat t = t, V(t) = V
o
karena kapasitor sudah diisi, sedangkan pada
saat t = -, V(-) = 0 karena kapasitor belum diisi.
ii. Kapasitor hubungan seri-paralel
Gambar Simbol untuk kapasitor
8

Hubungan seri
Dapat dilihat pada gambar berikut ini :


menurut aturan Kirchhoffs Voltage Law (KVL) :
n
V V V V V + + + + = ...
3 2 1
(6)
}
= dt i
C
V
1
1
1
1
,
}
= dt i
C
V
2
2
2
1
, ,
}
= dt i
C
V
n
n
n
1
. (7)
karena
n
i i i = = = ...
2 1
, maka
} |
|
.
|

\
|
+ + + =
t
t n
o
dt i
C C C
V
1
...
1 1
2 1
(8)
Apabila i adalah variabel peubah terhadap
dt
dV
, maka
}
+ =
o
V dt i
C
V
1
, dimana V
o
= harga awal dari kapasitor.
Jadi,

}
+
|
|
.
|

\
|
+ + + =
t
t
o
n
o
V dt i
C C C
V
1
...
1 1
2 1
..... (9)
bila hanya diwakili satu kapasitor maka


}
+ =
o
s
V dt i
C
V
1
(10)
dimana
n s
C C C C
1
...
1 1 1
2 1
+ + + = ... (11)
Gambar Hubungan seri kapasitor
Gambar Rangkaian ekivalen dari hubungan seri kapasitor
9

Hubungan paralel
Dapat dilihat pada gambar 1.6 berikut ini :


menurut aturan Kirchhoffs Current Law (KCL) :
n
I I I I I + + + + = ...
3 2 1
... (12)
dt
dV
C I
1
1 1
= ,
dt
dV
C I
2
2 2
= , ,
dt
dV
C I
n
n n
= .. (13)
karena
n
V V V = = = ...
2 1
, maka
dt
dV
C
dt
dV
C
dt
dV
C I
n
+ + + = ...
2 1

( )
dt
dV
C C C
n
+ + + = ...
2 1
.. (14)
bila hanya diwakili satu kapasitor maka


dt
dV
C I
p
= .... (15)
dimana
n p
C C C C + + + = ...
2 1
..... (16)
b. Induktor (L)
Gambar Hubungan paralel kapasitor
Gambar Rangkaian ekivalen dari hubungan paralel kapasitor

10

Induktor merupakan elemen yang membutuhkan tegangan sebanding
dengan turunan waktu atau kecepatan perubahan arus yang mengalir
didalamnya.
Bentuk fisis dari induktor berupa lilitan kawat seperti gambar 1.8 :


dalam bentuk persamaan dapat dituliskan :
dt
di
L V = , dengan satuan Henry
(H), dimana arus i yang melewati L berubah terhadap waktu t. Persamaan
dari L sebagai berikut :
d
A N
L
o
45 , 0
2
+
=

... (17)
dimana : N = jumlah lilitan,
A = luas penampang
= panjang lilitan
d = diameter kawat

o
= 4x10
-7

Menurut hukum Faraday : perubahan fluks menyebabkan perubahan
tegangan induksi pada setiap lilitan yang sebanding dengan turunan fluks.
Hal ini dapat dilihat pada gambar 1.9 :
N
+ V -
i

Gambar Model untuk induktor

Gambar Model induktor menurut hukum Faraday

11


dimana
dt
d
N V
|
= .
Fluks (t) berhubungan dengan arus i dalam kumparan yang mengandung
N lilitan. Jadi, N() mendekati L.i, berikut persamaannya :
i L N - ~ | , sehingga
dt
di
L V =
} }
= = Vdt
L
di Vdt
L
di
1 1

o
I Vdt
L
i + =
}
1
dengan I
o
= harga awal dari induktor.
i. Hubungan seri induktor
Hubungan seri induktor dapat dilihat pada gambar berikut :


menurut KVL :

n
V V V V V + + + + = ...
3 2 1


dt
di
L
dt
di
L
dt
di
L
n
n
+ + + = ...
2
2
1
1

dimana
n
I I I I ...
2 1
= = =

sehingga :
( )
dt
di
L L L V
n
+ + + = ...
2 1
.... (18)
atau dapat diwakili dengan rangkaian ekivalen seperti gambar berikut :
Gambar Hubungan seri untuk induktor

12



dimana
dt
di
L V
s
= ... (19)
dengan
n s
L L L L + + + = ...
2 1
.... (20)


ii. Hubungan paralel induktor
Hubungan paralel induktor dapat dilihat pada gambar 1.12 :


menurut KCL :
n
I I I I I + + + + = ...
3 2 1


n
V V V = = = ...
2 1

o
I dt V
L
I + =
}
1
1
1
1

.
.
.
o n
n
n
I dt V
L
I + =
}
1
, sehingga
}
+
|
|
.
|

\
|
+ + + =
t
t
o
n
o
I dt V
L L L
I
1
...
1 1
2 1
. (21)
atau dapat diwakili dengan rangkaian ekivalen sebagai berikut :


Gambar Rangkaian ekivalen untuk hubungan seri induktor

Gambar Hubungan paralel untuk induktor

Gambar Rangkaian ekivalen untuk hubungan paralel induktor

13


dimana
o
p
I Vdt
L
I + =
}
1
.... (22)
dengan
n p
L L L L
1
...
1 1 1
2 1
+ + + = .. (23)
c. Hubungan antara tegangan V dan arus I pada elemen R, L dan C
1. Resistor (R)
Simbol rangkaian dari resistor seperti gambar 1.14 :
+ V -
i


dimana R i V - = dan
R
V
i =
2. Induktor (L)
Simbol rangkaian dari induktor seperti gambar berikut :
+ V -
i


dimana
dt
di
L V = dan
o
t
t
V dt V
L
i
o
+ =
}
1

3. Kapasitor (C)
Simbol rangkaian dari induktor seperti gambar berikut :
+ V -
i


dimana
o
t
t
I dt i
C
V
o
+ =
}
1
dan
dt
dV
C i = .

Gambar Simbol rangkaian induktor

Gambar Simbol rangkaian resistor

Gambar Simbol rangkaian kapasitor

14

1.3 Alat-alat Praktikum

- Kit praktikum Gejala Transien
- Pencatat atau recorder X-Y
- Sumber daya searah (DC)
- Multimeter
- Kabel Penghubung

1.4 Prosedur Percobaan
a. Percobaan 1
Membuat rangkaian seperti diatas sebagai berikut:
V= 5V; R= 10k; C= 1000F
Keadaan mula, saklar S1 terbuka, C tidak bermuatan (bagaimana caranya agar
dapat diperoleh keadaan ini). Pada t = 0, saklar S1 kemudian ditutup dan
selanjutnya dibiarkan tertutup.
b. Percobaan 2
Keadaan mula, saklar S1 terbuka, kapasitor C mula-mula tidak bermuatan
deng Vc (0) = 2 V. cara member tegangan mula-mula pada C adalah dengan
memasang Rs = 100 dan V=2V. Saklar S2 kemudian ditutup untuk beberapa
saat (30 detik) kemudian dibuka kembali.
c. Percobaan 3
V=5V; R1=R2=20k; R3=10k; C=2200F
Keadaan mula, saklar S1terbuka, kapasitor C mula-mula tidak bermuatan.
Pada t=0, saklar S1 ditutup selanjutnya dibiarkan tertutup.
d. Percobaan 4
Keadaan mula S2 terbuka, tegangan mula pada C1=V0 dan C2=0 (tidak
mempunyai tegangan mula-mula). Rangkaian V-S1-R1 digunakan untuk
memberikan tegangan mulai pada C1 dengan cara menutup S1 sebentar (30
detik). Pada t=0, S2 ditutup dan selanjutnya dibiarkan tertutup. Mencari i(t)
VR dan Vc2(t) setelah ditutup.