Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hadist Untuk Anak Dosen Pengampu : Nasrun Supardi M.A

Disusun Oleh :

Nanda Amalia Nabawi Sakdiyah


Jurusan/Prodi : Tarbiyah/PGRA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG 2010/2011

KEBERSIHAN SEBAGIAN DARI IMAN


Kebersihan merupakan suatu yang amat fitri bagi makhluk hidup, utamanya makhluk bernyawa. Dalam ajaran Islam kebersihan saja belum cukup, tetapi harus disertai kesucian, Dalam kebrsihan yang ada kalanya menggunakan istilah thaharah atau tazkiyah semuanya berkaitan dengan kebersihan dan kecusian, baik hissiyah maupun manawwiyah, bahkan digunakan lafal fitrah. Konsep kebersihan yang amat jami (konprehensif) dalam Islam, belum dimaknasi secara kontekstual dalam rangkan membangun kebersihan dalam raga dan jiwanya. Maka dalam upaya membangun keseimbangan ini agaknya konseptualisasikebersihan dan kesucian harus digalakkan.

Adalah naf jika hanya sebelah antara kebersihan dan kesucian. Ini barangkali yang mengakibatkan mengaapa orang Islam sering bersuci tetapi tidak bersih atau yang lain nonMuslim mereka tak suci tetapi bersih. Yang jelas Rasul adalah Tokoh Kebersihan, Kesucian, dan Pelestarian Lingkungan. Islam mewajibkan kebersihan yaitu bersih lahir dan batin. Di dalam Al Quran dan Hadis banyak dibicarakan tentang kebersihan atau bersuci ini. Allah berfirman dalam Al Quran yang bermaksud:

Artinya: Kebersihan itu sebagian dari iman Allah berfirman, maksudnya: "Sesungguhnya berbahagialah (mendapat kejayaanlah) orang yang mensucikan hatinya dan berdukacitalah orang yang mengotorkan hatinya." (As Syams: 9-10) Di sini menunjukkan betapa pentingnya bersuci atau kebersihan menurut kacamata Islam. Sebagian dari pada iman kita sudah dapat. Kalaulah diumpakan

iman itu 100% artinya kita sudah dapat 50% dari pada iman itu tinggal 50% lagi untuk kita genapkan. Maksudnya kalau kita sudah bersuci atau bersih lahir dan batin kita hanya perlu menambah amalan kita lain tak cuma sadar 50%, kita itu pun sudah banyak dapat menyelamatkan bersusah kita. payah,

Kadang-kadang

beramal

dengan

bertungkus-lumus, contohnya puasa banyak, sembahyang sunat banyak, wirid zikir banyak, mengaji banyak dan macam-macam amalan sunat lagi tapi perkara yang wajib tentang bersuci, kita tidak tahu atau tidak arif. Akhirnya seluruh amalan kita samapai kelangit ditolak. Allah suruh malaikat lemparkan turun ke bawah. Tidak dapat pahala walaupun sebesar debu, ataupun bagaikan debu-debu berterbangan. Letih saja kita berbuat tapi tidak dapat pahala ganjaran daripada Allah. Bahkan Allah jadi murka. Jadi kalau begitu mari kita lihat bersuci atau kebersihan yang dituntut dalam Islam supaya ibadah kita tidak tertolak. Bersuci terbahagi kepada dua yaitu Suci lahir dan Suci batin. 1. Suci Lahir: a. Suci dari najis berat, sederhana atau ringan. b. Suci dari hadas besar dan kecil. c. Suci dari fudhul (kotoran). 2. Suci Batin: a. Suci akal dari syirik dan dari segala isme-isme dan ideologi ciptaan manusia. b. Suci hati daripada sifat-sifat mazmumah.( sifat buruk ) c. Suci nafsu dari kehendak-kehendak yang negatif. Mari kita uraikan satu-persatu supaya kita dapat beramal dengan tepat dan hayati sungguh-sungguh dalam hidup kita. SUCI LAHIR a. Suci daripada najis. Najis terbahagi kepada tiga: I. Najis mughallazah (berat)

Contohnya

najis

anjing

dan

babi

serta

yang

berkaitan

dengan

keduanya,

misalnya keturunannya. Cara mencucinya: Hendaklah dibasuh tujuh kali. Air pertama hendaknya

dicampur dengan tanah. (Riwayat Muslim)

II. Najis mutawassitah (pertengahan) a. Najis tahi, kencing, muntah, nanah, mazi, wadi dan air liur basi. b. Bangkai binatang dan lain-lain. Cara mencucinya: 1. Najis hukmiah iaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya, baunya, rasanya dan warnanya seperti kencing yang sudah lama kering sehingga sifat-sifatnya sudah hilang. Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air di atas benda yang kena najis itu. 2. Najis 'ainah iaitu yang masih ada zat warna, rasa atau baunya, terkecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya. Sifat ini dimaafkan. Cara mencucikan najis ini hendaknya dengan menghilangkan zat, rasa, warna dan baunya. III. Najis mukhaffafah (ringan) Najis air kencing bayi lelaki yang belum berumur dua tahun dan tidak makan apa-apa selain susu ibunya saja. Cara mencucinya: Cukup dengan memercikkan air ke atas benda yang kena najis itu walaupun tidak mengalir. Air kencing anak perempuan yang belum cukup umur dua tahun yang belum makan selain susu ibunya saja mestilah dibasuh hingga mengalir air di atas benda yang kena najis itu dan hilang zat serta sifat-sifatnya sebagaimana mencuci kencing orang dewasa.

SUCI DARIPADA HADAS 1. HADAS BESAR Junub, nifas, haid, wiladah dan keluar air mani. Ini semua mewajibkan mandi. Rukun Mandi 1. Niat. Orang Perempuan yang yang junub baru hendaklah haid, berniat hendaklah menghilangkan berniat hadas junubnya. hadas

selesai

menghilangkan

kotorannya dan seterusnya. 2. Meratakan air ke seluruh badan. Sunat-sunat Mandi 1. Membaca "Bismillah" pada permulaan mandi. 2. Berwudhuk sebelum mandi. 3. Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan . 4. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri. 5. Berturut-turut. 2. HADAS KECIL Kencing, mazi, wadi (keletihan ) dan lain-lain. Hanya perlu dibasuh sahaja tanpa mandi wajib. Cara Mencucinya: Apabila keluar kotoran dari salah satu dari kedua pintu maka wajib istinjak dengan air atau tiga buah batu; yang lebih baik mula-mula dengan batu atau sebagainya, kemudian diikuti

dengan air. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: Pada waktu Beliau telah melalui dua buah kubur, ketika itu beliau berkata: "Kedua orang yang ada di dalam kubur ini disiksa. Yang seorang disiksa karena mengadu domba, yang seorang lagi karena tidak beristinjak kencingnya." (Sepakat ahli Hadis) Sabda Rasulullah SAW bermaksud: "Apabila seseorang itu beristinjak dengan batu hendaklah ganjil." (Riwayat Bukhari dan Muslim.) Berkata Salman: "Rasulullah melarang kita beristinjak dari batu karang yang tiga." (Riwayat Muslim). Dalam Hadis ini disebutkan tiga batu berarti tiga buah batu atau satu batu tiga persegi. Yang dimaksudkan dengan batu ialah tiap-tiap benda yang keras, suci dan kesat seperti kayu, tembikar dan sebagainya. Benda yang licin seperti kaca tidak sah buat istinjak kerana tidak dapat menghilangkan najis. Begitu juga benda yang dihormati seperti makanan dan sebagainya karena membazir. Syarat beristinjak dengan batu dan sebagainya hendaklah sebelum kotoran itu kering dan tidak mengenai tempat lain selain dari tempat keluarnya. Jika telah mengenai tempat lain maka tidak sah lagi istinjak dengan batu tetapi wajib istinjak dengan air. SUCI DARIPADA FUDHUL (KOTORAN) DIa merupakan kotoran seperti hingus, tahi mata, tahi telinga, ketombe, tahi hidung, kahak, lebihan kuku, bulu ketiak dan ari-ari, daki, kutu dan lain-lain. Ini semua pada badan. Kotoran yang ada di persekitaran seperti debu-debu, jelapa, sarang labah-labah, serpihan kertas, kain buruk dan lain-lain. Dia bukan najis tapi terlihat tidak indah,

tidak bersih, tidak rapi, tidak kemas, tidak menarik bahkan seperti berserabut dan menyakitkan mata yang memandang. Dalam Hadis Rasulullah SAW bersabda maksudnya: "Sesungguhnya Allah itu cantik dan sukakan kecantikan." Kita mesti suci dari kotoran-kotoran lahir ini supaya lahirlah orang-orang yang bersih. Kalau kita tidak sensitif dengan kotoran-kotoran lahir ini artinya kita ini kasar, yakni tidak berjiwa halus. Jika kita tidak merasa jijik dengan benda-benda lahir ini, artinya dengan kotoran batin kita lebih lagi kita tidak merasa jijik.

Mungkin ada orang berkata, "Saya ini orang seni, sebab itu saya simpan sarang labah-labah ini." Tentu tidak. Fitrah hati menolak dan akan merasa sarang labah -labah atau yang lain-lain tadi tidak layak disimpan dan menyakitkan mata. SUCI BATIN Suci Batin terbagi dari tiga, yaitu : a. Akal. b. Nafsu. c. Hati. a. Suci akal Suci akal dari syirik atau isme-isme ciptaan manusia. Bila akal masih syirik atau menduakan atau yakin dengan lain-lain isme-isme ciptaan manusia artinya akal kita masih bernajis. Sebab itu akal haruslah dibersihkan dengan diisi ilmu wahyu yakni Al Quran dan Hadis Rasulullah. Karena ilmu wahyu itu tepat. Ia mampu menyuluh () apakah ilmu itu betul atau salah. b. Suci Hati Suci hati dar sifat-sifat mazmumah. Bila ada sifat-sifat mazmumah artinya hati kita masih bernajis. Najis hati namanya. Sebab itu sifat-sifat mazmumah ini harus dibersihkan seperti benci, marah, besar diri, megah, dendam, hasad, tamak bakhil, lalai, takut, sedih, kecewa dan lain-lain. Cara Membersihkan Hati: 1. Setiap sifat mahmudah hendaknya disuburkan. Seperti rasa simpati, pemurah, malu, rendah hati, hormat, rasa terima kasih, taat, redha, puas hati, sabar dan lain-lain.Yang mazmumah hendaknya dibuang melalui proses Tahalli, Takhalli, Tajalli.

2. Cara menyuburkan mahmudah dan membuang mazmumah hendaknya mengetahui sifatsifat hati terlebih dahulu. 3. Kenal mengetahui apa yang ada di dalam hati kita. 4. Hendaknya membuat latihan secara mujahadah dan riadah. 5. Mujahadah dan riadah itu hendaknya dilakukan dengan istiqamah. 6. Ada guru untuk tempat merujuk. C. Suci Nafsu Suci nafsu dari kehendak-kehendak yang jahat. Nafsu juga ada najisnya iaitu kehendakkehendak yang jahat atau negatif seperti makan, minum, pakaian yang haram, inginkan tempat tinggal yang haram, inginkan kendaraan yang haram, inginkan kepada pergaulan yang haram dan lain-lain. Ini semua hendaknya dibersihkan dengan menggantikannya dengan keinginan yang halal seperti ilmu, makan, minum, isteri, tempat tinggal, ajaran, kenderaan, kekayaan yang halal, ingin memperjuangkan kebenaran, ingin beribadah , ingin ke masjid berjemaah dan lain-lain kehendak yang baik.

Anda mungkin juga menyukai