Anda di halaman 1dari 2

Tugas Praktikum ke-10 Mata Kuliah Sosiologi Umum

Hari, Tanggal : Rabu, 16 Mei 2012 Ruang Kuliah : RCCR 1.04

TERJADINYA PEMUSATAN KEKUASAAN Catatan untuk Bachrun Martosukarto Oleh : Sulardi PENGGULINGAN KEKUASAAN : ANTARA ORLA DAN ORBA Oleh : Panji Semirang SAMPANG DAN TRADISI PERLAWANAN Oleh : Anwar Hudijono Disusun oleh: Shindy Haquesta E34110078 Kelompok 4 Asisten: Teguh Jati Prasetyo I14090019

Ikhtisar Bacaan 1 Pada harian Republika , tulisan saudara Bachrum Martosukarto (SBM) berjudul Upaya Menghindari Pemusatan Kekuasaan yang menyatakan bahwa perjalanan Negara bangsa ini mengarah pada suatu Negara otoriter dengan pemusatan kekuasaan pada presiden. Pada bagian akhir SBM memberikan jalan keluar dari pemusatan kekuasaan yang kini terjadi dengan menganjurkan agar lembaga-lembaga tertinggi dan tinggi negara harus diletakkan dalam proporsi yang sebenarnya.. Setelah 53 tahun negara Indonesia merdeka bangsa ini masih terengah-engah untuk menciptakan bangunan hukum yang kokoh dan demokratis. Awal mula terjadinya pemusatan kekuasaan berpangkal pada demokratisasi yang tidak berjalan. Terlihat jelas adanya peraturan perundangan yang mengarah semakin besarnya kekuasaan presiden, terbukti munculnya ketentuan ketatanegaraan yang secara yuridis menyimpang dari ketentuan konstitusi. DPR dan Presiden yang merupakan Lembaga pembentuk undang-undang belum mencerminkan demokrasi karena belum bisa berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Dengan demikian, muncullah doktrin apapun yang dikatakan pemerintah adalah sesuatu yang benar. Adanya penafsiran secara tidak benar pada kata mandataris yang terdapat

dalam penjelasan UUD, yaitu Presiden adalah mandataris MPR, menyebabkan wewenang MPR sebagai pelaksana kedaulatan rakyat, menjadi kekuasaan Presiden yang diterjemahkan yaitu Presiden sebagai pemegang kedaulatan rakyat, yang menjadikan seolah-olah Presiden sah menveto undang-undang. Ikhtisar Bacaan 2 Orde Lama adalah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa Presiden Soekarno, dilanjutkan dengan Orde Baru, kemudian dikoreksi dengan Orde Baru yang lebih Baru (Orbaba). Setiap ada pergantian orde maka selalu terjadi pertumpahan darah, baik langsung maupun tidak langsung. Pertumpahan darah pergantian Orla dilakukan PKI. Pertumpahan darah pergantian Orba dilakukan oleh orang-orang bersenjata terhadap pendemo di Universitas Trisakti. Jatuhnya korban di Universitas Trisakti memicu percepatan aksi reformasi. Mahasiswa bergerak atas nama moral. Mereka meminta adanya perbaikan hal-hal yang tidak baik sebelumnya. Kampus Universitas Indonesia di Salemba harus dipecah kemudian dipisah karena mahasiswanya masih suka mengkritik pemerintahan Soeharto dan Golkarnya. Agar mereka tidak selalu membuat ribut, maka mereka di masa depan harus dijauhkan dari tempat kekuasaan. Para demonstran berdemo di DPR karena dapat bertemu langsung dengan wakil rakyat. Mereka ternyata cukup aspiratif untuk menekan Presiden Soeharto mundur. Beliau diturunkan setelah mahasiswa dam pimpinan DPR mengultimatum agar wakilwakil segera mengadakan siding. Soeharto telah angkat tangan atas masalah yang terjadi dan menyerahkan kekuasaannya kepada Wapres BJ Habibie. Ikhtisar Bacaan 3 Daerah Sampang (Madura), sosok masyarakat yang sifatnya kaku dan keras. Meski begitu mereka memiliki sifat heroik terhadap kezaliman penguasa. Seperti tragedi Nipah yang terjadi pada tahun 1993. Nipah merupakan ilham bagi perlawana agrarian terhadap kekuasaan dan modal atas tanah. Pada tahun 1997 masyarakat bergolak menentang hasil pemilihan umum karena dinilai tidak jujur dan tidak adil, penuh kecurangan dan rekayasa untuk memenangkan partainya penguasa, Golkar. Pada pemilu 1992, pemerintah, militer, dan Golkar berpadu untuk menjalankan program Golkarkan Sampang. Sementara PPP melawan dengan jargon Pertahankan Sampang Hidup Atau Mati. Untuk pertama kalinya Golkar menang telak dengan 23 kursi, PPP tinggal tersisa 14. Namun Sampang masih tetap merupakan daerah yang sulit ditaklukkan meskipun rezim Orde Baru telah runtuh. Masyarakat Sampang masih terus berjuang dengan stamina tinggi memperjuangkan demokrasi. Melalui perjalanan sejarah yang panjang terbentuklah tradisi perlawanan di masyarakat Sampang. 2