Anda di halaman 1dari 23

Case Report Session

PANGGUL SEMPIT

Oleh : META SILFIA 05120071

Preceptor : Dr. H. ZULHANIF Sp.OG (K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS RSUD. PROF. DR. M.A. HANAFIAH BATU SANGKAR 2010

TINJAUAN UMUM

A.

DEFINISI Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas

panggul dapat menyebabkan distosia pada persalinan. Panggul disebut sempit apabila ukurannya kurang 2 cm dari ukuran normal. Kesempitan panggul bisa terjadi pada pintu atas panggul, pintu tengah panggul dan pintu bawah panggul atau kombinasinya. B. ANATOMI PANGGUL Tulang panggul terdiri dari 3 jenis yaitu: 1)os coxae (os ilium, os ischium, os pubis) 2) os sacrum dan 3) os coccigeus. Tulang-tulang tersebut satu sama lain saling berhubungan. Os illium merupakan tulang terbesar dengan permukaan anterior berbentuk konkaf yang disebut fossa iliaka. Bagian atasnya disebut Krista iliaka. Ujung-ujungnya disebut spina iliaka anterior superior dan spina illiaka posterior superior. Os ischium merupakan bagian terendah dari os coxae. Tonjilan di belakang disebut tuber ischii yang menyangga tubuh waktu duduk. Os pubis terdiri dari ramus superior dan inferior. Ramus superior berhubungan dengan os ilium., sedang ramus inferior kanan dan kiri membentuk arkus pubis. Ramus inferior berhubungan dengan os ischium kira-kira 1/3 distal dari foramen obturatorius. Kedua os pubis bertemu dan simetris. Sakrum berbentuk baji, terdiri atas 5 vertebra sakralis. Vertebra pertama paling besar menghadap ke depan. Pinggir atas vertebta ini dikenal sebagai promontorium, merupakan suatu tanda penting dalam penilaian ukuran-ukuran panggul. Permukaan sacrum berbentuk konkaf. Os koksigis merupakan tulang kecil, terdiri atas 4 vertebra koksigis.

Gambar. 1 Tulang Pembentuk Pelvis Secara fungsional panggul terdiri atas 2 bagian yang terdiri dari pelvis mayor dan pelvis minor. Pelvis mayor adalah bagian pelvis diatas linea terminalis yang tidak banyak pentingnya dalam obstetric. Yang lebih penting adalah pelvis minor, dibatasi oleh pintu atas panggul (inlet) dan pintu bawah panggul (outlet). Pelvis minor berbentuk saluran yang mempunyai sumbu lengkung ke depan (sumbu carus).

Gambar. 2. Potongan Sagital Panggul

1. Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul (PAP) merupakan suatu bidang yang dibatasi disebelah posterior oleh promontorium, dilateral oleh linea terminalis dan di anterior oleh pinggir atas simpisis. Pada panggul ginekoid PAP hampir bundar, kecuali di daerah promontorium agak masuk sedikit. Ukuran ukuran pintu atas panggul : 1. Diameter anteroposterior yang diukur dari promontorium sampai ke tengah permukaan posterior simpisis. Disebut juga conjugate obstetrika. 2. Konjugata diagonalis yaitu jarak tepi bawah simfisis sampai ke promontorium, yang dapat diukur dengan memasukan jari tengah dan telunjuk ke dalam vagina dan mencoba meraba promontorium. Pada panggul normal tidak teraba dengan jari yang panjangnya 12 cm. 3. Konjugata vera yaitu jarak tepi atas simfisis dengan promontorium didapat dengan mengurangi konjugata diagonalis dengan 1,5 cm 4. Diameter tranversa adalah jarak terjauh garis lintang PAP, biasanya 12,5-13 cm 5. Diameter oblique adalah garis persilangan konjugata vera dengan diameter tranversa ke artikulasio sakroiliaka.

Gambar. 3. Pintu Atas Panggul

2. Ruang Panggul Ruang panggul merupakan saluran diantara PAP dan Pintu bawah panggul (PBP). Dinding anterior sekitar 4 cm terdiri atas os pubis dengan simpisisnya. Dinding posterior dibentuk oleh ossakrum dan os koksigis, sepanjang 12 cm. Karena itu ruang panggul berbentuk saluran dengan sumbu melengkung ke depan.

Gambar.4. Ruang Panggul 3. Pintu Bawah Panggul Batas pintu bawah panggul adalah setinggi spina ischiadika. Jarak antara kedua spina ini disebut diameter bispinosum adalah sekitar 9,5-10 cm. PBP berbentuk segi empat panjang disebelah anterior dibatasi oleh arkus pubis, dilateral oleh tuber ischii. Dan di posterior oleh os koksigis dan ligamentum sakrotuberosum. Pada panggul normal besar sudut (arkus pubis ) adalah 90 derajat . Jika kurang dari 90 derajat , lahirnya kepala janin lebih sulit karena kepala memerlukan labih banyak tempat ke posterior. Jenis Panggul Menurut Caldwell-Moloy panggul terdiri dari :

1. Jenis

ginekoid:

ditemukan

pada

45%

wanita.

Panjang

diameter

anteroposterior hamper sama dengan transversa 2. Jenis android: Bentuk PAP hamper segitiga. Pada umumnya pada pria. Diameter anteroposterior hamper sama panjangnya dengan diameter tranversa, tetapi diameter tranversa dekat dengan sacrum. Bagian dorsal PAP gepeng, bagian ventral menyempit ke muka. Ditemukan pada 15% wanita 3. Jenis anthropoid: bentuk PAP agak lonjong seperti telur, ditemukan pada 35 % wanita. Jenis panggul ini diameter anteroposterior lebih besar daripada diameter tranversa 4. Jenis platipelloid: ditemukan pada 5 % wanita . diameter transversa lebih besar dapirada diameter anteroposterior. Tipe panggul campuran disebut bila tidak memenuhi criteria 4 macam bentuk pelvis dasar yang dibagi oleh Cadwell. Untuk menentukan kombinasi ini mula mula yang disebut adalah jenis segmen pelvis bagian belakang dahulu kemudian baru bagian segmen depan.

Gambar 5. Pintu atas panggul (klasifikasi Caldwell-Moloy) C. DIAGNOSIS Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan persalinan, tetapi yang tidak kurang penting ialah hubungan antara kepala janin dengan

panggul ibu. Besarnya kepala janin dalam perbandingan dengan luarnya panggul ibu menentukan apakah adanya disproporsi sefalopelvik atau tidak. Indikasi Pemeriksaan Pelvimetri

Pada anamnese terdapat riwayat 1. Kesulitan persalinan 2. Persalinan midforceps 3. Kematian janin yang tidak dapat diterangkan

Palpasi
o

Pintu atas panggul 1. Terabanya promontorium pada toucher vagina 2. Kepala janin diluar simpisis 3. Kegagalan dalam usaha penekanan kepala janin kedalam PAP

Pintu bawah panggul 1. Kepalan tangan yang tidak masuk antara tuberositas ischiadika

Tidak masuknya kepala dalam PAP pada primigravida pada akhir bulan persalinan.

Masih ada faktor- faktor lain yang ikut menentukan apakah persalinan pervaginam akan berlangsung dengan baik atau tidak. Akan tetapi faktor- faktor ini akan dapat diketahui pada waktu persalinan, seperti kekuatan His dan terjadinya moulage kepala janin. Besarnya kepala janin, khususnya diameter biparietalisnya dapat di ukur dengan menggunakan sinar

rontgen. Akan tetapi sefalometri roentgenologi lebih sukar pelaksanaannya dan mengandung bahaya seperti pemeriksaan- pemeriksaan roentgenologik lainnya. Pengukuran diameter biparietalis dengan cara ultrasonic yang sudah mulai banyak dilakukan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Cara ini tidak berbahaya bila dibandingkan dengan pemeriksaan roentgenologik. Pemeriksaan umum kadang- kadang sudah membawa pikiran kearah kemungkinan kesempitan panggul. Pada wanita yang lebih pendek dari pada ukuran normal bagi bangsanya, kemungkinan panggul kecil perlu diperhatikan pula. Akan tetapi tidak bisa diartikan bahwa seseorang wanita dengan bentuk normal tidak dapat memiliki panggul dengan ukuran- ukuran yang kurang dari normal. Anamnesis tentang persalinan- persalinan terdahulu dapat memberikan petunjuk tentang keadaan panggul. Apabila persalinan tersebut berjalan lancar dengan dilahirkannya janin dengan berat badan yang normal, maka kecil kemungkinan bahwa wanita yang bersangkutan menderita kesempitan panggul yang berarti. Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan cara pemeriksaan yang penting untuk mendapatkan keterangan yang lebih banyak tentang keadaan panggul. Pelvimetri luar tidak banyak artinya, kecuali untuk pengukuran pintu bawah panggul. Pelvimetri dalam dengan tangan mempunyai ciri yang penting untuk menilai secara agak kasar pintu atas panggul serta panggul tengah dan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai pintu bawah panggul. Pada hamil tua dengan janin presentasi kepala dapat dinilai agak kasar adanya disproporsi sefalopelvik dan kemungkinan mengatasinya. Untuk hal ini pemeriksaan dengan tangan yang satu menekan kepala janin dari atas ke arah rongga panggul, sedang tangan lain yang diletakkan pada kepala menentukan apakah bagian ini menonjol diatas simfisis atau tidak ( metoda Osborn) Mendorong kepala bayi ke dalam panggul, seperti diuraikan oleh Muller (1880) dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Pada presentasi oksiput, pakar obstetri memegang dahi dan regio suboksiput dengan jari- jarinya melalui dinding perut, melakukan dorongan kebawah sesuai dengan sumbu pintu atas panggul. Pada saat yang bersamaan dilakukan penekanan pada fundus oleh seorang pembantu. Akibat dorongan tersebut terhadap penurunan kepala, dapat dievaluasi

dengan pemeriksaan vaginal dengan memakai sarung tangan steril. Jika ternyata tidak ada disproporsi, kepala dengan mudah masuk kejalan lahir dan dapat diperkirakan terjadi kelahiran pervaginam. Tetapi bila kepala tidak dapat didorong masuk kejalan lahir, tidak selalu berarti bahwa tidak dapat terjadi kelahiran pervaginam. Kenyataan menunjukkan bila kepala janin yang dalam keadaan fleksi tersebut sangat menonjol diatas simfisis menunjukkan adanya disproporsi. Kesempitan panggul bukanlah satu- satunya yang menentukan apakah persalinan pervaginam akan berlangsung dengan aman atau tidak untuk ibu. Walaupun demikian pengetahuan tentang ukuran dan bentuk panggul sangat membantu dalam penilaian jalannya persalinan pada wanita bersangkutan. Kesempitan panggul dapat ditemukan pada satu bidang atau lebih. Kesempitan pada panggul tengah umumnya juga disertai keadaan pintu bawah panggul. Kesempitan pada pintu atas panggul Pada pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Diameter muka belakang pintu atas panggul biasanya diperkirakan dengan pengukuran secara manual conjugata diagonalis yang kurang lebih 1,5 cm lebih panjang. Oleh karena itu kesempitan pintu atas panggul juga dinyatakan bila conjugata diagonalis kurang dari 11,5 cm. Diameter biparietalis kepala janin aterm, dengan pemeriksaan secara sonografi sebelum persalinan rata- rata 9,5 cm sampai 9,8 cm dalam klinik yang berbeda. Oleh karena itu dapat menimbulkan kesukaran dan tidak memungkinkan janin untuk melewati pintu atas panggul yang mempunyai diameter kurang dari 10 cm. Seorang wanita yang bertubuh kecil, hampir pasti mempunyai panggul yang kecil, tetapi dia juga mempunyai bayi yang kecil. Thoms (1937) dalam pengamatannya terhadap 362 primigravida, mendapatkan berat rata- rata lebih rendah (278 gr) pada wanita dengan ukuran sedang atau besar. Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang

mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaan serviks. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli. Kesempitan panggul tengah Ukuran terpenting, yang hanya bisa ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri roentgenologik ialah distansia interspinarum. Apabila ukuran ini kurang dari 9,5 cm, perlu kita waspada kemungkinan kesukaran pada persalinan, apalagi bila diameter segitalis posterior pendek pula. Pada panggul tengah yang sempit, lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap ( tranverse arrest) Kesempitan pintu bawah panggul Pintu bawah panggul tidak merupakan bidang yang datar tetapi terdiri atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama, yakni distansia tuberum. Apabila ukuran yang terakhir ini lebih kecil dari biasa, maka sudut arcus pubis mengecil pula ( kurang dari 800). Dengan distansia teberum bersama dengan diameter segitalis pasterior kurang dari 15 cm, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa. Pelvimetri adalah pengukuran dimensi tulang jalan lahir untuk menentukan apakah bayi dapat dilahirkan pervaginam. Prognosis untuk suksesnya persalinan pervaginam tentu tidak dapat dipastikan berdasarkan pelvimetri roentgenologis saja, karena kapasitas panggul merupakan salah satu factor yang menentukan hasil akhir. Terdapat sekurangnya lima factor yang dihadapi : (1) ukuran dan bentuk panggul tulang, (2) Ukuran kepala janin, (3) Kekuatan kontraksi uterus, (4) kekuatan moulage kepala janin, (5) presentasi dan posisi janin. Dikenal dua macam pelvimetri yaitu pelvimetri klinis dan radiologis. Pelvimetri klinis mempunyai arti penting untuk menilai secara kasar pintu atas panggul,panggul tengah dan memberi gambaran yang jelas mengenai pintu bawah

10

panggul. Dengan pelvimetri roentgenologis akan diberikan gambaran yang jelas tentang bentuk panggul, ketepatan tambahan dalam pengukuran pelvis , serta dapat dilakukan pengukuran diameter penting yang sulit diperoleh secara tepat dengan cara pengukuran manual yaitu diameter tranversa pintu atas dan tengah panggul. D. PROGNOSIS Apabila persalinan dengan disproporsi sefalopelvik dibiarkan berlangsung sendiri tanpa pengambilan tindakan yang tepat, timbul bahaya bagi ibu dan janin. Bahaya pada ibu. a. Partus yang lama seringkali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis, dan infeksi intrapartum. b. Dengan his yang kuat, sedang kamajuan janin dalam jalan lahir tertahan, dapat timbul regangan segmen bawah rahim dan pembentukan lingkaran retraksi patologik (bandl) c. Dengan persalinan tidak maju karena disproporsi sefalopelvik, jalan lahir pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul. Hal itu menimbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat terjadinya iskemiadan kemudian nekrosis pada tempat tersebut. Bahaya pada janin. a. Partus lama dapat mengakibatkan kematian parinatal, apabila jika ditambah dengan infeksi intrapartum b. Prolapsus funikuli, apabila terjadi mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan segera apabila ia masih hidup. c. Apabila ada disproporsi sefalopelvik kepala janin dapat melewati rintangan pada panggul dengan mengadakan moulage. Moulage dapat dialami oleh kepala janin tanpa akibat yang jelek sampai batas- batas tertentu, akan tetapi apabila batas- batas tersebut dilampaui, terjadi sobekan pada tentorium serebelli dan perdarahan intrakarnial.

11

d. Perlukaan pada jaringan diatas tulang kepala janin dan fraktur pada os parietalis oleh tekanan promontorium atau kadang- kadang oleh simfisis pada panggul E. PENANGANAN Dewasa ini 2 cara merupakan tindakan utama untuk menangani persalinan pada disproporsi sefalopelvik yakni seksio sesarea dan partus percobaan. Disamping itu kadang- kadang ada indikasi untuk melakukan simfisiotomi dan kraniotomi, akan tetapi simfisiotomi jarang dilakukan, sedangkan kraniotomia hanya dikerjakan pada janin mati. Seksio sesarea Seksio sesarea dapat dilakukan secara elektif atau primer, yakni sebelum persalinan mulai atau pada awal persalinan dan secara sekunder, yakni sesudah persalinan berlangsung selama beberapa waktu. Seksio sesarea elektif direncanakan lebih dahulu dan dilakukan pada kehamilan cukup bulan karena kesempitan panggul yang cukup berat, atau karena terdapat disproporsi sefalopelvik yang nyata. Selain itu seksio tersebut diselenggarakan pada kesempitan ringan apabila ada fektor- faktor lain yang merupakan komplikasi, seperti primigravida tua, kelainan letak janin yang tidak dapat diperbaiki, kehamilan pada wanita yang mengalami masa infertilitas yang lama, penyakit jantung dan lain- lain. Seksio sesarea sekunder dilakukan karena persalinan percobaan dianggap gagal, atau karena timbul indikasi untuk menyelesaikan persalinan selekas mungkin, sedang syarat- syarat untuk persalinan pervaginam tidak atau belum dipenuhi. Persalinan Percobaan Berdasarkan penilaian tentang bentuk serta ukuran-ukuran padalam semua bidang dan hubungan antara kepala janin dan panggul, dan setelah dicapai kesimpulan

12

bahwa ada harapan persalinan dapat berlansung pervaginam dengan selamat, dapat diambil keputuan untuk melakukan persalinan percobaan. Pemilihan kasus harus dilakukan dengan cermat. Diantaranya : Janin berada dalam presentasi kepala Usia kehamilan tidak lebih dari 42 minggu

Mengenai penanganan khusus pada persalinan percobaan perlu diperhatikan hal-hal berikut : Perlu diadakan pengawasan yang seksama terhadap keadaan ibu dan janin Kualitas dan turunnya kepala janin dalam rongga panggul harus terus diawasi. Karena kesempitan panggul tidak jarang menyebabkan kelainan His dan gangguan pembukaan serviks Sebelum ketuban pecah, kepala janin umumnya tidak dapat masuk kedalam rongga panggul dengan sempurna Masalah yang penting ialah menentukan berapa lama percobaan persalinan dapat dilakukan. Berhubung banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan dalam mengambi keputusan tersebut, maka tiap kasus harus dinilai sendiri-sendiri. Apabila his cukup sempurna maka sebagai indikator berhasil atau tidaknya partus percobaan tersebut adalah hal-hal yang mencakup hal-hal keadaan-keadaan sebagai berikut : o Kemajuan pembukaan serviks o Kemajuan enurunan bagian terendah janin (presentasi kepala) o Tanda-tanda klinis dari ibu maupun janin yang memnunjukkan adanya bahaya bagi ibu dan janin Apabila salah satu dari gangguan diatas, maka menandakan persalinan pervaginam tidak mungkin dilakukan dan harus diselesaikan dengan seksio sesarea.

13

ILUSTRASI KASUS Identitas Pasien Nama Umur : Ny. Y : 25 Tahun

14

MR Anamnesis

: 008664

Seorang pasien wanita berumur 25 tahun datang ke IGD kebidanan RSUD Hanafiah Batu Sangkar sejak tanggal 28 Juli 2010 pukul 16.00 wib dengan Keluhan Utama: nyeri pinggang menjalar ke ari-ari sejak 4 jam yang lalu Riwayat Penyakit sekarang Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari sejak 4 jam yang lalu Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan sejak 4 jam lalu Keluar air-air yang banyak dari kemaluan tidak ada Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada Tidak haid sejak 9 bulan yang lalu HPHT : lupa TP : sulit ditentukan

Gerak anak dirasakan sejak 4 bulan yang lalu RHM : Mual (+), muntah (-), perdarahan (-) ANC : tidak pernah control hamil RHT : mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

Riwayat menstruasi : Menarche 13 tahun, siklus teratur 1 x 28 hari, lamanya 5 7 hari, banyaknya 2 3 x ganti duk/hari, nyeri haid (-).

Riwayat penyakit dahulu : Tidak pernah menderita penyakit jantung, hati, ginjal, paru, DM dan hipertensi Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga menderita penyakit menular, keturunan atau kejiwaan.

15

Riwayat perkawinan : 1 kali, tahun 2009 Riwayat hamil / abortus / persalinan : 1/0/0 1. Sekarang Riwayat KB Tidak ada PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Nafas Suhu Gizi Edema Sianosis Anemis Tinggi badan Kepala Leher THT Dada Paru : : sedang : komposmentif koperatif : 120/ 80 mmHg : 80 kali/ menit : 22 kali / menit : 370 C : sedang : tidak ada : tidak ada : tidak ada : 147 cm : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi wheezing (-) : Simetris kiri : Kanan : Fremitus kiri = Kanan : Sonor : vesikuler normal, rhonkhi (-)

16

Jantung :

Inspeksi Palpasi Auskultasi

: Iktus tidak telihat : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : Irama teratur, murni, bising (-)

Perkusi: Batas jantung (N)

Abdomen Genetalia Ekstremitas

: status obstetrikus : status obstetrikus : edema (-) refleks fisiologis, (+), refleks patologis (-).

STATUS OBSTETRIKUS Muka Mamae Abdomen Inspeksi Palpasi LI L II L III L IV TFU TBA His Perkusi Auskultasi Genetalia Inspeksi VT : : Fundus uteri 1 jari bawah processus xiphoideus, teraba massa lunak, noduler, tidak melenting. : Teraba tahanan terbesar di kiri, Teraba bagian- bagian kecil di kanan : Teraba massa keras, bulat, floating : tidak dilakukan : 34 cm : 3250 cm : 4-5x/25/s : Tympani : BU (+) normal, BJA 152x/menit : : V/U tenang : Pembukaan 2-3 cm : chloasma gravidarum (+) : membesar, A/P Hiperpegmentasi, Colostrum (-) : : Membuncit sesuai usia kehamilan aterm, Linea mediana hiperpigmentasi, striae gravidarum (+)

17

: Portio tebal : 1,5 cm, lunak : Ketuban (+) : Teraba kepala floating UPD : Promotorium teraba : linea inominata teraba 2/3 -2/3 : OS sakrum cekung : DSP lurus : Spina iskiadika menonjol : Os koksigeus mudah digerakkan : Arkus pubis < 90 0 CV = 7,5 cm CD = 1,5 cm UPL : DIT tidak dapat dilalui 1 tinju dewasa ( 8 cm) D Sp D Crist Kesan ukuran panggul PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : HB Leukosit Ht CT BT GDR Trombosit : 10,8 gr % : 16. 700 /mm3 : 31,2 % : 41 30 II : 31 00 II : 103 mg/dl : 239.000 / mm3 = 21 cm = 23 cm : sempit

Hasil USG : Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala Aktivitas gerak janin baik

18

Biometri

: BPD FL AC TBA : 95,5 cm : 73 cm : 331,2 : 3200 3300 gr

Plasenta tertanam di korpus depan grade II Kesan : gravid aterm, janin hidup DIAGNOSIS : G1P0AoH0 parturient aterm kala I fase laten + panggul sempit SC primer Anak hidup, tunggal, intrauterine, letak kepala floating SIKAP : Kontrol keadaan umum,vital sign, BJA, His Siapkan darah Siapkan SC Konsul Ok dan anastesi Informed consent

RENCANA Sectio Cesaria Cyto Laporan operasi Tanggal 28 Juli 2010, pukul 17.00 wib Dilakukan SCTPP, Lahir bayi laki-laki dengan : BB PB A/S : 3120 gr : 48 CM : 7/8

Plasenta lahir secara tarikan ringan pada tali pusat, lengkap, 1 buah ukuran 18 x 17 x 3 cm, berat 500 gr, PJTP 50 cm, Insersi parasentral

19

Perdarahan selama tindakan 250 cc Diagnosis : P1A0H1 post SCTPP a.i panggul sempit SC primer Anak dan ibu baik Sikap : awasi KU, VS, PPV

Perawatan pasca operasi : Pasien tidur dengan 1 bantal IVFD RL : D 5% = 1 : 3, 28 tts/menit Drip Syntocinon : metergin = 1:1 Injeksi Alinamin F 2x1 ampul Pronalges suppositoria bila nyeri Cek Hb post operasi, jika Hb < 10 gr/dl, lakukan transfuse Boleh minum sedikit-sedikit bila bising usus (+) normal

DISKUSI

20

Telah dilaporkan seorang pasien wanita umur 25 tahun dengan diagnosa masuk G1P0A0H0 parturien aterm kala I fase aktif + panggul sempit SC primer, anak hidup tunggal intra uteri letak kepala floating. Diagnosis panggul sempit ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan nyeri pinggang menjalar ke ari-ari sejak 4 jam yang lalu serta keluar lender bercampur darah dari kemaluan sejak 4 jam yang lalu. Dari pemeriksaan fisik didapatkan pada pemeriksaan ukuran panggul dalam dimana conjugata diagonalis = 1,5 cm, dan conjugata vera = 7,5 cm, ukuran panggul luar didapatkan DIT tidak dapat dilalui 1 tinju dewasa (8cm) Karena adanya kesan panggul sempit pada pemeriksaan fisik maka pasien ini direncanakan sectio secarea, kemudian lahir seorang bayi laki- laki dengan BB = 3120 gr, PB = 48 cm, AS = 7/8 . Yang perlu diawasi pada pasien ini pasca persalinan adalah KU, US, PPV, Hb post tindakan dan didapatkan hasil yang bagus. Penderita boleh pulang pada hari nifas ketujuh setelah aff hecting dan keadaan ibu baik. Untuk kehamilan yang akan datang sebaiknya pasien diberikan penjelasan tentang pentingnya mengetahui HPHT dan untuk selalu rutin memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit dan apabila kehamilan sudah cukup bulan harus segera ke rumah sakit untuk lebih mendapatkan penanganan yang terencana.

21

DAFTAR PUSTAKA 1. Mochtar R. Sinopsis obstetric. 2nd ed, Jakarta :EGC 1992; 81-86, 359-364 2. Wiknjosastro H. Ilmu Bedah Kebidanan. 2nd ed, Jakarta Yayasan Bina Pustaka Sarwono prawiroharjo 1991; 1-14 3. Wiknjosastro H. Anatomi jalan lahir. Dalam: Wiknjosastro H. Saifuddin AB, Rachimhadi T Ilmu Kebidanan 3rd ed. Jakarta : yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 1992; 102-112 4. Cunningham FG, Mac Donald PC, Gant NF. The Normal Pelvis. In: William Obstetrics, 19th ed. Appleton and Lange, 1993; 283-294 5. Oxorn H. Panggul Obstetrik.In: Hakimi M. Human labor And Birth ed. Bahasa Indonesia: Yayasan Esentia Medica,1990 21-37 6. Aflah Nur. Ukuran Panggul pada Psien Paska Sectio Sesarea Atas Indikasi Panggul Sempit. Tesis. Fakultas Kedokteran USU. Medan. 2009 Forouzan I, 2004, Dystocia, www.emerdicine.com Poppy K dkk, 1998, Kamus Saku Kedokteran Dorland, edisi 25, EGC, Jakarta. Pritchard, 1991, Obstetric Williams, Edisi ke 17, Airlangga University Press. Rustam, M, 1995, synopsis obstetric, EGC, Jakarta Wiknjisastro H, 1994, Ilmu Kebidanan, Edisi Ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, Jakarta

22

Presentasi kasus

CEPHALO PELVIC DISPROPORTION Oleh : HUMAIRA 971111807

Pembimbing : Dr. H. K. SUHAEMI,SpOG (K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PERJAN RS.DR. M. DJAMIL PADANG PADANG 2005

23

Beri Nilai