Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH HAKEKAT MENGAJAR

OLEH RAHMI DIAN FARIDA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-AMIN GERSIK KEDIRI LOMBOK BARAT NTB 2011/2012

A. Pendahuluan Dalam proses belajar mengajar ada beberapa aspek yang harus ada diantaranya: guru, murid, bahan pelajaran.Dengan adanya ketiga aspek proses pembelajaran sudah bisa terjadi namun dengan itu saja belum optimal harus ada, metode pembelajaran, media pengajaran dan penilaian Sering kita mendengar istilah sains atau ilmu pengetahuan yang berasal dari bahasa Inggris science. Ilmu pengetahuan dalam arti luas terdiri atas ilmu pengetahuan sosial (social science) dan ilmu pengetahuan alam (natural science). Depdiknas (2004 :3) mengutip pendapat Nash (1963) memandang sains sebagai suatu cara atau metode untuk dapat mengamati sesuatu, dalam hal ini adalah dunia. Cara memandang sains terhadap sesuatu itu berbeda dengan cara memancang biasa. Cara memandang Sains bersifat analisis, ia melihat sesuatu secara lengkap dan cermat serta dihubungkan dengan objek lain sehingga keseluruhannya membentuk perspektif baru tentang obyek yang diamati tersebut. Tetapi dari definisi yang paling mutakhir sains meliputi mengadopsi metode atau keterampilan tertentu untuk menemukan dan menerapkan pengetahuan ilmiah. Sekarang studi dan praktek sains melibatkan tiga elemen utama: sikap, proses atau metode, dan produk. (Depdiknas, 2004:1) Sikap, sains membuat seseorang memiliki sikap positive termasuk mengembangkan rasa ingin tahu, mampu bekerja sama dengan orang lain, toleran, skeptis, perseverans, dan sebagainya. Proses atau Metode, digunakan untuk mengembangkan, menemukan pengetahuan dan menerapkannya. Di dalam melakukan proses sains, seseorang membutuhkan keterampilan tertentu yang disebut keterampilan proses sains. Produk, adalah informasi, ide, fakta, teori, konse, hukum tentang sains yang telah direkam dan dicatat sebagai pengetahuan ilmiah. Keterampilan proses sains sangat penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh setiap orang. Bila seseorang telah menguasai keterampilan proses, maka orang tersebut telah menguasai keterampilan yang diperlukan dalam belajar

tingkat

tinggi,

yaitu

melakukan

penelitian,

memecahkan

masalah.

Kemampuan pemecahan masalah dan penelitian merupakan keterampilan hidup (life skill) dan oleh karena itu merupakan hasil belajar yang paling tinggi. Adanya pembelajaran sains yang dikaitkan dengan nilai-nilai tersebut, diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia yang kritis, produktif serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan kerangka dasar Kurikulum berbasis Kompetensi (KBK) yaitu menghasilkan siswa yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehat, berbudaya, berahlak mulia, beretos kerja, berpengatahuan, dan menguasai teknologi serta cinta tanah air (Depdiknas, 2004 : 3). Lebih lanjut, pembelajaran sains yang baik adalah bila dilakukan seperti bagaimana sains itu ditemukan. Sains adalah karya manusia yang dihasilkan/ditemukan lewat metode ilmiah dan menggunakan keterampilan proses sains. Metode ilmiah adalah metode untuk mendapatkan pengetahuan lewat dua jalur, yaitu jalur akal (nalar) dan jalur pengamatan. Wujud operasional metode ilmiah ialah penyelidikan ilmiah. Penyelidikan ilmiah didefinisikan sebagai usaha sistemik untuk mendapatkan jawaban atas masalah atau pertanyaan. Dengan demikian ciri khas metode ilmiah adalah pemecahan masalah melalui penalaran dan pengamatan. Masalah atau pertanyaan seringkali muncul dari hasil pengamatan atau penyelidikan yang dilakukan sebelumnya. Pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi yang baik dan efektif tentunya memiliki karakteristik-karakteristik yang membedakannya dari kurikulum lainnya, seperti (Depdiknas, 2003 ). a. Materi : spesifik dan diperlukan di dunia kerja/kehidupan seharihari. b. Kegiatan belajar mengajar terpusat pada siswa, pembelajaran individual. c. Satuan pembelajaran yang berbasis kompetensi. d. Sistem penilaian menggunakan PAP (Penilaian Acuan Patokan) seperti kuis, portofolio, ujian blok dan ulangan harian yang berbasis kelas. Namun dalam pelaksanaannya menggunakan kriteria penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Selain 3

itu, keberhasilan siswa diukur dari tiga ranah utama yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik. A. Teori Belajar dan Pembelajaran Cara belajar seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaannya dalam belajar. Sebagian orang, misalnya, akan belajar dengan sangat baik ketika mereka diberi kebebasan memilih cara yang sesuai dengan gayanya sendiri. Sebagian dari mereka akan termotivasi bila mereka mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Sebagian lagi akan merasa bahwa pengaruh dari seorang figur yang berotoritas seperti guru, dosen, orang tua, atau tuan guru membuat mereka bisa belajar lebih nyaman. Sedangkan yang lainnya mungkin bisa belajar lebih baik bila mana ia dalam keheningan sendiri, sementara sebagian siswa yang lain belajar sambil menikmati alunan musik sebagai latar belakang. Dan masih banyak lagi perbedaan cara belajar manusia dalam upayanya memahami sesuatu konsep. Para pembelajar tersebut sukses dalam memahami apa yang sedang ia pelajari dan tentu saja dengan cara-cara mereka yang berbeda. Tetapi ada satu hal yang sama, yaitu --pendekatan aktif terhadap pembelajaran-- Rose dan Nicholl (1997 : 127) mengatakan bahwa pendekatan aktif maksudnya, mereka senantiasa bertanya kepada diri mereka sendiri, serta selalu melakukan sesuatu untuk meyakinkan diri bahwa mereka telah mendapatkan fakta-fakta, informasi, pengetahuan dan sebagainya dengan cara yang paling nyaman bagi mereka. 1. Pengertian Belajar Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (Poerwadaminta, 1980:14). Sedangkan ahli lain berpendapat bahwa belajar adalah proses pencarian dan menemukan pengalaman, kepandaian atau ilmu yang dilakukan secara sadar baik dengan upaya sendiri-sendiri maupun dengan bantuan orang lain (Sudjana, 1998:65).

Pola atau bentuk-bentuk kegiatan belajar murid terdiri dari kegiatan klasikal, kelompok dan individual, secara jelas diuraikan secara singkat di bawah ini : 2. Kegiatan klasikal Kegiatan klasikal adalah suatu bentuk kegiatan belajar dimana secara bersama-sama di dalam satu ruangan seperti di dalam kelas untuk mengikuti pengajaran yang diberikan oleh guru (Sudjana, 1998:70). Kegiatan klasikal kurang memperhatikan perbedaan individu. Semua murid yang ada di kelas dipandang sama, sehingga dihadapi dan dilayani dengan metode yang sama. Kegiatan ini menunjukkan adanya kegiatan murid belajar sekalipun terbatas sifatnya, namun sudah jelas murid tidak pasif. Tujuan kegiatan ini adalah ingin mencapai tujuan sifatnya ingatan atau pengetahuan dan beberapa aspek yang berhubungan dengan pemahaman atau penyerapan daya ingatan. 3. Kegiatan kelompok Kegiatan kelompok adalah berbeda halnya dengan kegiatan klasikal di mana kelas dipandang sebagai satu kelompok, maka kegiatan kelompok kelas dibagi menjadi beberapa kelompok murid (Sudjana, 1998:71). Kegiatan kelompok lebih aktif sifatnya dari kegiatan klasikal. Hal ini disebabkan kapasitas murid dalam kesempatan dalam

mengembangkan fikirannya. Kegiatan kelompok lebih mudah dikontrol oleh guru. Kegiatan kelompok tepat dipergunakan untuk memecahkan masalah, untuk latihan penerangan aplikasi, untuk menganalisa dan mensintesa satu konsep. 4. Kegiatan Individu Kegiatan belajar individu merupakan satu bentuk kegiatan yang sifatnya memberi kesempatan kepada setiap murid melakukan kegiatan sendiri. Murid tidak melakukan kegiatan kelompok, tidak pula melakukan

kegiatan belajar secara klasikal, tetapi murid melakukan kegiatan belajar sendiri-sendiri dengan bimbingan dan pengawasan guru. 5. Pengertian Pembelajaran Pengertian pembelajaran adalah: "Karakteristik abstrak perbuatan guru dan murid rentetan

dalam peristiwa belajar mengajar atau

disebut juga dengan proses belajar mengajar" (Depdiknas, 2003 : 17). Proses belajar mengajar adalah : "Pola umum perbuatan guru dan murid didalam perwujudan kegiatan mencari atau memberi, dan

menemukan atau menerima ilmu pengetahuan" (Azhar, dalam Depdiknas, 2003). Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seorang guru didalam perwujudan kegiatan belajar mengajar,

sehingga memungkinkan timbulnya perbuatan-perbuatan belajar pada diri murid-murid. Dengan rencana yang matang, diharapkan tercapainya tujuan yang dikehendaki secara efektif dan efesien. Sedangkan mengajar merupakan penciptaan sistem lingkungan

yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan yang dimaksud terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi seperti tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi pelajaran yang diajarkan, guru dan murid sebagai subyek yang akan berperan serta berada di dalam jalinan hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang

tersedia. (Azhar, 1993 : 11). Sebagai suatu sistem mengajar mengandung sejumlah komponen, antara lain ; materi pelajaran, bahan serta metode penyajian, alat dan sumber

evaluasi. Kesemuanya itu saling berkaitan antara satu

dengan yang lainnya, sehingga dapat tercapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Dengan kata lain bahwa tujuan pengajaran itu

akan dapat dicapai apabila semua komponen yang diorganisasikan mengembangkan secara suatu harmonis. Oleh karena

ada di dalamnya itu di dalam

sistem pengajaran

tidak boleh hanya

memperhatikan sebahagian komponen saja, namun harus melihat secara keseluruhannya sebgai suatu sistem. Sebuah kegiatan pembelajaran yang efektif dapat dirumuskan dengan jelas bilamana di dalamnya telah tercakup berbagai aspek yang merupakan pengejawantahan dari hasil belajar. Menurut Robert, dalam (Azhar, 1991 : 14), ada lima macam kemampuan yang merupakan hasil belajar manusia sebagai sebagai berikut : a) Kemampuan intelektual, yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem persekolahan. b) Strategi kognitif, mengatur cara belajar dan berfikir seseorang dalam dalam arti yang seluas- luasnya, termasuk kemampuan memcahkan masalah. c) Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta. d) Keterampilan motorik, yang diperoleh di sekolah antara lain keterampilan menulis, membaca, menggunakan jangka, mengetik dan sebagainya. e) Sikap dan nilai, yang berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana dapat disimpulkan dari kecende-rungannya bertingkah laku terhadap orang-orang, barang atau kejadian". Dari tersebut kelima kemampuan hasil pada belajar yang ingin dicapai

di atas, yang

hakekatnya mempersyaratkan sistem

lingkungan belajar tertentu, sehingga dapat dijabarkan strategi belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang ingin dicapai dalam belajar.

B. Guru

Sebagai

Pendidik

dan

Pembimbing

sekaligus

Manager

Komuniklasi dalam belajar Guru sebagai pendidik dan pembimbing memiliki makna yang cukup mendasar dalam upaya melihat bagaimana kedudukan guru sebagai tenaga

profesional dibidang kependidikan. Seseorang dikatakan sebagai guru tidak cukup tahu sesuatu materi yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki keperibadian guru dengan segala ciri tingkat kedewasaannya. Dengan kata lain bahwa untuk menjadi pendidik atau guru, seseorang harus mempunyai kepribadian. Masalahnya yang penting mengapa guru itu dikatakan sebagai pendidik. Guru memang seorang pendidik ia tidak hanya mengajar seseorang akan tahu beberapa hal, tetapi guru juga melatih beberapa keterampilan dan terutama sikap mental anak didik. Mendidik sikap mental seseorang tidak cukup mengajarkan sesuatu pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu harus dididikan, dengan guru sebagai idolanya. Dengan mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung pada berbagai pengetahuan yang dibarengi dengan contoh teladan dengan sikap dan tingkah laku gurunya, diharapkan anak didik/siswa dan kemudian menjadikan miliknya, sehingga dapat menimbulkan sikap mental. Jadi tugas seorang guru bukan sekedar menumpahkan semua ilmu pengetahuan tetapi juga mendidik seseorang menjadi warga negara yang baik, menjadi seseorang yang berkpribadian baik dan utuh. Mendidik, berarti mentransfer nilai-nilai kepada siswanya. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. oleh karena itu bahwa pribadi guru itu sendiri merupakan perwujudan dan nilai-nilai yang akan ditransfer. Mendidik adalah mengantarkan anak didik menemukan dirinya, menemukan kemanusiaannya dan juga mendidik adalah memanusiakan manusia. Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pembimbing minimal ada dua fungsi yakni fungsi moral dan fungsi kedinasan, tinjauan secara umum guru dengan segala peranannya akan kelihatan lebih menonjol fungsi moralnya, sebab walaupun dalam situasi kedianasan pun guru tidak dapat melepaskan fungsi moralnya. Oleh karena itu guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pembimbing juga diwarnai oleh fungsi moral itu, yakni dengan wujud bekerja secara sukarela, tanpa pamrih dan semata-

mata demi panggilan hati nurani. Ada tiga alternatif yang perlu diperhatikan oleh para guru dalam menjalankan tugas pengabdiannya, yakni karena: 1. Merasa terpanggil 2. Mencintai dan menyayangi anak didik 3. Mempunyai rasa tanggung jawab secara penuh dan sadar mengenai tugasnya (Sardiman, 2003;139). Ketiga hal itu saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Karena orang itu harus merasa terpanggil hati nuraninya untuk mendidik, maka ia harus mencintai anak didik dan ada panggilan hati nuraninya, karena merasa bertanggung jawab secara penuh atas keberhasilan pendidikan anak asuhnya. Konsep inilah yang harus dipegang teguh guru dalam upaya mendidik dan mebimbing para siswanya. Guru harus dapat memahami dan menempatkan kedewasaannya. Sebagai pemimpin harus mampu menjadikan dirinya sebagai teladan. Guru harus mengenal diri siswanya, bukan saja mengenal sifat dan kebutuhannya secara umum sebagai sebuah katagori, bukan saja mengenal jenis minat dan kemampuannya, serta cara dan gaya belajarnya, tetapi juga mengetahui secara khusus sifat, bakat, minat, kebutuhan pribadi serta aspirasi masing-masing anak didiknya. Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan, didalam mengajar akan lebih berhasil kalau disertai dengan kagiatan bimbingan yang banyak berpusat pada kemampuan intelektual. Guru harus memilki dasar pengetaghuanyang luas tentang tujuan pendidikan di indonesia pada umumnya sesuai dengan tahap-tahap pembangunan. Guru harus memiliki pengetahuan yang bulat dan baru mengenai ilmu yang diajarkan. (Sardiman, 2003;141).

C. Peranan Guru dalam Pengajaran Peranan guru akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru maupun dengan staf yang lain. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang sebagai sentral belajar bagi peranannya, sebab baik disadari atau tidak, bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dalam berinteraksi dengan siswanya. Adapun peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut : 1. Informator adalah sebagai pelaksana cara mengajar informative, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum 2. Organisator adalah guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadual pelajaran dan lain-lain 3. Motivator adalah dalam rangka meningkatkan kegairahan dan

pengembangan kegiatan belajar mengajar. 4. Pengarah/Direktor adalah guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. 5. Inisiator adalah guru sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar. 6. Transmitter adalah guru akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan. 7. Fasilitator adalah guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar. 8. Mediator adalah guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. 9. Evaluator adalah guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akdemis maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak. (Sardiman, 2003 ;144)

10

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kompetensi Guru. Guru sebagai tenaga profesional di bidang kependidikan disamping memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual, harus juga mengetahui dan melaksanakan hal-hal yang bersifat teknik, hal-hal yang bersifat teknik ini terutama kegiatan mengelola dan melaksanakan interaksi belajar mengajar. Dalam kegiatan mengelola interaksi belajar mengajar guru paling tidak harus memiliki dua modal dasar yakni kemampuan mendesain program dan keterampilan mengkomunikasikan program itu kepada anak didik. Dua modal ini telah dirumuskan kedalam sepuluh kompetensi guru dan memang mengelola interaksi belajar mengajar. Adapun sepuluh kompetensi guru tersebut adalah sebagai berikut: Menguasai bahan, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media, menguasai landasan-landasan kependidikan, mengolah interaksi belajar mengajar, menilai prestasi, mengenal fungsi dan program layanan BP, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan (Sardiman, 2003 ; 177) Faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi guru, meski kompetensi guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, namun kompetensi guru itu sendiri tidaklah berdiri sendiri, tetapi ia juga dipengaruhi oleh latar belakang jenjang pendidikan dan pengalaman mengajar. Latar belakang jenjang pendidikan seorang guru dan guru lainnya terkadang tidak sama dengan pengalaman pendidikan yang pernah dimasuki selama jangka waktu tertentu. Perbedaan latar belakang ini akan dilatar belakangi oleh jenis dan perjenjangan dalam pendidikan. Perbedaan latar belakang pendidikan akan mempengaruhi kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan interaksi belajar mengajar. Guru alumnus FKIP atau Fakultas Tarbiyah dan guru alumnus FISIP akan berbeda cara mengajar mereka. Sebab guru alumnus FKIP atau Fakultas Tarbiyah telah

11

memiliki sejumlah pengalaman teoritis dibidang keguruan, sedangkan guru alumnus FISIP tidak pernah menerima pengalaman dibidang keguruan. Sedangkan pengalaman mengajar bagi seorang guru merupakan sesuatu yang sangat berharga. Untuk itu guru sangat memerlukannya, sebab pengalaman mengajar tidak pernah ditemukan dan diterima selama duduk dibangku sekolah lembaga pendidikan formal. Pengalaman teoritis tidak selamanya menjamin keberhasilan seorang guru dalam mengajar bila tidak ditopang dengan pengalaman mengajar. Mengajar sebagai suatu keterampilan merupakan aktualisasi dari ilmu pengetahuan teoritis kedalam interaksi belajar mengajar. Keterampilan mengajar banyak macamnya. Dan hal ini perlu dimiliki dan dikuasi guru agar dapat melaksanakan interaksi belajar mengajar secara efektif dan efesien. Perpaduan kedua pengalaman mengajar itu akan melahirkan pigur guru yang profesional. Propil guru yang ideal adalah guru yang mengabdikan dirinya berdasarkan tuntutan hati nurani dan bekerja sama dengan anak didiknya dalam kebaikan. Guru yang baru pertama kali menerjunkan diri mengajar di depan kelas biasanya menunjukkan sikap yang agak kaku dan terkadang bingung untuk mengeluarkan kata-kata apa yang tepat untuk memulai pembicaraannya, keadaan seperti itu terkadang mendatangkan trauma dalam dirinya.

12