Anda di halaman 1dari 53

Toksisitas Zat Korosif

Risna Agustina 20711006 Tita Nofianti 20710301

PENDAHULUAN
Zat Korosif adalah zat berbahaya yang dapat merusak jaringan melalui proses kimiawi. Dapat menyebabkan iritasi atau terbakar pada kulit. Meliputi asam dan basa/alkali. Bekerja lokal ,menimbulkan nyeri hebat pada daerah yang terkena racun. Semua produk yang menyebabkan korosif dapat merusak jaringan tetapi tempat terjadinya kerusakan dan bentuk spesifiknya tergantung dari tipe zat korosifnya.

CONTOH UMUM ASAM DAN BASA


Asam Asam Asam hidroklorida Pembersih logam, Asam muriatik, Cairan pembersih kolam renang, Cairan pembersih toilet. Asam sulfat Asam dalam baterai Pembersih toilet dan zat yang digunakan untuk dry clean Alkali Natrium atau Kalium hidroksida Tablet klinitest, Detergens, Drano crystals, Pembersih pipa dan pembersih toilet, Lye, Pembersih cat, Serbuk pencuci Lain-lain Larutan ammonia (NH4OH) diantaranya yang digunakan untuk produk rambut, pembersih perhiasan, pembersih rumah tangga. Granul untuk cuci piring elektrik Kalium permanganat Detergen natrium karbonat (non posfat) Natrium hipoklorit (pemutih)

KLASIFIKASI KERACUNAN
1. menurut cara terjadinya keracunan
Self Poisoning
Attempted Suicide Accidental Poisoning Homicidal Poisoning

Meracuni diri sendiri


Usaha bunuh diri Tidak disengaja Akibat pembunuhan

2. menurut mula terjadinya keracunan Keracunan Akut Keracunan Kronis

PREVALENSI TOKSISITAS
1,7 % - 9,6 % terjadi pada anak-anak (tertelan secara tak sengaja) penyimpanan sisa bahan-bahan toksik, tempat penyimpanan bahan tanpa label. Pada orang dewasa toksisitas bahan korosif sering berhubungan dengan usaha bunuh diri.

PEMAPARAN ZAT KOROSIF DAPAT MELALUI :


Saluran pencernaan (tertelan) kulit (kontak dengan kulit) Melalui saluran Pernafasan (terhirup) Okular/ mata

ASAM
Asam kuat adalah senyawa/zat kimia dengan pH dibawah 2. Klasifikasi asam : 1. Asam anorganik (sulfat, hidroksi klorida, nitrat, fosfat) 2. Asam organik (oksalat, tartrat, asetat dan lain-lain). Tidak semua asam menyebabkan keracunan (contohnya asam nitrat dan posfat)

Mekanisme Umum Toksisitas Asam


Kerusakan korosif disebabkan oleh reaksi kimia langsung
dengan jaringan. Asam dapat merusak jaringan dengan cara menguraikan protein. Akibat : lesi sel mati dan ditandai dengan penggumpalan jaringan nekrosis kulit akan menjadi keras, kasar sehingga absorpsi sistemik menurun.

Karakteristik Keracunan

Setelah asam masuk kedalam saluran pencernaan, kerusakan korosif yang intens pada mukosa mulut dan esofagus dapat terjadi tetapi secara signifikan kerusakan terjadi didaerah duapertiga lambung bagian bawah.

Karakteristik Keracunan
Bagian yang terkena asam coklat/hitam coffee grounds) (a

Sifat : tidak dapat diperbaharui tetapi jaringan yang rusak dapat diganti oleh lapisan epitel baru yang tipis. Jika masuk ke dalam saluran pencernaan dapat mengakibatkan perforasi. Kerusakan lambung. dipengaruhi jumlah makanan/ isi

Manifestasi Klinik Keracunan Akut Zat Korosif

Bagan Penanganan Keracunan Zat Korosif Yang Tertelan

Tindakan Penanganan Keracunan Asam Melalui Mulut


Menghindari penggunaan emetikum atau menguras lambung untuk mencegah asam mengenai jaringan lain. Setelah beberapa detik keracunan, korban segera diberi air putih sebanyak-banyaknya atau minum susu. Bila terjadi perforasi lambung/esofagus, jangan diberi apaapa secara oral sebelum di endoskopi. Bila keracunan terjadi melalui inhalasi, kurangi penyempitan esofagus dengan prednisolon 2 mg/kg/hari dalam dosis terbagi selama 10 hari. (Mungkin pula memerlukan dilatasi).

Penanganan Keracunan Asam yang Kontak Melalui Mata atau Kulit


Cuci mata atau kulit dengan air biasa sebanyakbanyaknya, 15 20 menit. Pakaian, perhiasan atau lensa kontak yang terkontaminasi harus segera di lepas. Cuci dengan larutan sabun yang ringan untuk menetralisasi asam. Jangan menggunakan antidot bahan kimia. Atasi rasa sakit dengan obat analgetika dan atasi kerusakan kulit seperti pada luka bakar.

Beberapa Zat Asam Bersifat Korosif


1. Asam

Hidrogen Fluorida (HF) Secara luas digunakan di industri untuk mengetsa gelas, bersifat sangat korosif, tidak berwarna dan berupa cairan yang mudah menguap. Menyebabkan lesi pada jaringan, Afinitasnya terhadap air tinggi dan secara cepat dihidrolisis menjadi asam hidrofluorida. Fluorida yang juga digunakan sebagai salah satu komposisi pasta gigi, Secara cepat diabsorpsi setelah terhirup, terminum, kontak dengan kulit atau terpapar melalui rectal. Absorpsi sistemik menghasilkan keracunan fluorida akut.

1.a.Mekanisme Keracunan Fluorida


Fluorida terikat dengan beberapa kation salah satunya adalah kalsium. Ikatannya dengan kalsium bisa mempengaruhi proses enzimatik selular dan bisa menurunkan proses koagulasi. turun. Fluorida dan kalsium

akan mengendap sehingga kadar kalsium dalam plasma

Gejala keracunan florida akan timbul setelah menelan


sekurangnya 200 mg. letal dosis mendekati 4 gr.

1.b. Karakteristik Keracunan Fluorida


Lokasi Gastrointestinal

Tanda dan Gejala Sakit perut, mual, muntah, diare, salivasi. Selanjutnya badan lemah, tremor, pernafasan dalam dan konvulsi. Kematian terjadi karena pernafasan terhambat, jika tidak terjadi maka akan timbul oliguria dan ikterus.

Sistem saraf

Paresthesia, hiperaktif refleks, konvulsi kloniktonik, Chvosteks positif, nyeri otot dan lemah. Hipokalsemia dan hipoglisemia. Hipotensi, stimulasi pernafasan yang diikuti dengan depresi.

Darah Cardiovaskular/respirasi

1.c. Penanganan Keracunan Fluorida


Keracunan melalui mulut

Penanganan dilakukan seperti penanganan keracunan asam.


Beri larutan kalsium (kalsium glukonat, kalsium laktat atau susu) Antidot : 10 ml larutan kalsium glukonat 10% secara iv perlahan-lahan sampai gejala hilang.

1.d. Penanganan Keracunan Fluorida


Keracunan melalui kulit dan selaput lendir
Segera cuci dengan air mengalir selama 15-30 menit. Tutupi luka, oleskan pasta magnesia oksida-air yang mengandung

20% gliserin.
Jika berpenetrasi ke kuku, hilangkan kuku dengan anastetik lokal dan cuci dengan air. Suntikan 0,5 ml larutan kalsium glukonat 10% dengan anastetika lokal/cm2 dibawah daerah yang terbakar.

1.e. Penanganan Keracunan Fluorida


Kontaminasi mata Cuci dengan air mengalir selama 30-60 menit. Aliri dengan tetes mata calcium glukonat 1%. Jika tidak hilang, tutup dengan kain steril dan bawa ke dokter mata.

2. Asam Borat (H3BO3)


Borat (sodium tetraborat) secara luas digunakan untuk pembersih luka. Asam borat secara keliru telah digunakan sebagai antiseptik untuk persiapan kelahiran bayi dan beberapa diantaranya menyebabkan kematian. Boraks seringkali disalahgunakan sebagai pengawet makanan dan pengenyal dalam jumlah besar.

2. Asam Borat (H3BO3)


Asam borat sangat berbahaya bagi semua jaringan dan
efeknya tergantung pada organ tubuh dan konsentrasi

yang dicapai pada organ tersebut. (kadar tertinggi di


ginjal saat diekskresi). Dosis letal pada orang dewasa : 15-20 g Dosis letal pada anak : 5-6 g, tetapi sejumlah kecil saja misalnya 1 g dapat juga berakibat fatal. Kematian yang cepat diakibatkan depresi susunan syaraf pusat.

2.a. Karakteristik Keracunan Asam Borat


Kulit : eritema, melepuh, desquamasi, ekskoriasi. anuria Demam, Lemah, lesu Depresi SSP, kolaps, koma Kolaps kardiovaskular Gugup, tremor, konvulsi Hiperpireksia Hipotensi Sianosis Jaundice Gagal ginjal

2.b. Penanganan Keracunan Asam Borat


Keracunan Akut Jika korban mengalami gangguang pernafasan, Buat saluran arus udara (bougie) serta perhatikan pernafasan korban. Cuci kulit/selaput lendir yang terkontaminasi dengan air mengalir.

Jika korban mengalami konvulsi beri diazepam 0,1 mg/kg BB iv dengan


hati-hati. Keluarkan asam borat atau senyawa borat dari darah melalui dialisis peritonial atau hemodialisis. Keracunan kronik Hentikan penggunaan asam borat dan turunannya.

3. Fenol
Merupakan desinfektan/penghilang bau tertua yang telah digunakan oleh masyarakat. Sering ditemui disekitar rumah pada cairan pembersih toilet ataupun antiseptik. Fenol berbau, bekerja dengan cara mengendapkan protein sel.

Intoksikasi terjadi setelah absorpsi kontaminasi kulit atau secara inhalasi.


Dosis letal pada orang dewasa : 10-30 g.

sistemik,

3.a. Karakteristik Keracunan Fenol


Mual, muntah, diare darah, kram perut Berkeringat Sianosis Stimulasi SSP, hiperaktivitas, konvulsi yang diikuti dengan depresi SSP. Pingsan Hipotensi Pernafasan meningkat tapi kemudian diikuti dengan depresi pernafasan. Edema pulmonal, pneumonia Penyempitan esofagus Hemolisis, methemoglobinemia,dll

3.b. Penanganan Keracunan Fenol


Pada dasarnya sama seperti penanganan keracunan zat korosif asam yang lain. Atasi gangguan pernafasan, jika perlu buat saluran arus udara. Pemberian putih telur, susu, larutan gelatin yang diharapkan berinteraksi dengan fenol di lambung Jika terkena kulit atau selaput lendir, siram dan cuci dengan air minimal 15 menit, kemudian oles dengan minyak kastroli.

ALKALI
Merupakan Senyawa kimia dengan pH 11.5 Sangat mudah berpenetrasi ke jaringan Derajat luka karena terpapar alkali tergantung pada : Jumlah/kuantitas, Konsentrasi, Lama kontak/waktu terpapar, Tipe alkali Jumlah yang keracunan alkali (di USA) lebih banyak dibanding keracunan asam berhubungan dengan produk rumah tangga yang disimpan dengan ceroboh dan mudah dijangkau anak-anak.

Kerusakan karena terminum terutama terjadi di esofagus dan lambung (20 %). 75% dari semua kasus kerusakan esofagus terjadi pada anak < 5 th, 83% korban dari semua kasus < 3 th.

Mekanisme Toksisitas Alkali


Senyawa alkali dengan protein akan membentuk proteinat dan dengan lemak akan membentuk sabun (saponification). Dengan demikian, bila senyawa alkali kontak dengan jaringan jaringan menjadi lunak, nekrosis (liquevactive necrosis) yang terjadi tidak saja pada permukaan epitel tetapi juga berpenetrasi ke dinding mukosa dibawahnya.

Karakteristik Keracunan Alkali


A. Tahap awal, Fase akut 1. Manifestasi kurang dari 3-5 hari 2. Kerusakan intramukosal atau transmular melibatkan jaringan periesofageal dan struktur mediastinum. 3. Inflamasi, edema, dan kongesti yang terjadi diseluruh dinding esofagus. 4. Pada kasus parah, esofagus mengalami perforasi. B. Tahap kedua 1. Terjadi sesudah lebih dari 5 hari-12 hari dan ditandai dengan liquevactive necrosis karena inflamasi dan edema. 2. Jika pada saluran cerna tahap ini bisa saja korban mengalami ulkus, perdarahan dan perforasi dinding esofagus.

C. Setelah tahap akut selesai, proses penyembuhan dan mulai membentuk bekas luka. Setelah 3-4 minggu, kontraksi dan penyempitan luka mulai terlihat.

Manifestasi Klinik Keracunan Alkali


Mulut : Rasa sakit, muntah, diare, kolaps. Gejala ikutan : rasa sangat sakit, rasa kaku pada lambung, hipotensi, penyempitan pangkal tenggorokan dan kanker. Keracunan oleh senyawa alkali lain seperti heksametofosoat, tripolifosfat, senyawa fosfat lain sebagai detergen/pencahar yang masuk melalui mulut : syok, hipotensi, pulsa lemah, sianosis, koma, gejala tetanus (kadang-kadang). Mata : kerusakan kornea, edema konjungtiva. Kulit : terjadi penetrasi secara perlahan. Kulit terbakar, korosi, iritasi tergantung pada lamanya kontak. Keracunan alkali kronik yang kontak dengan kulit dapat menyebabkan dermatitis kronik.

Penanganan Keracunan Alkali Melalui Mulut


Encerkan senyawa alkali yang tertelan dengan
air atau susu dan biarkan muntah secara alami

Jangan dilakukan usaha untuk muntah atau


menguras lambung karena akan meningkatkan resiko perforasi. Bila diduga terjadi korosi esofaguskopi

Penanganan Keracunan Alkali yang Kontak dengan Mata atau Kulit


Cuci mata atau kulit dengan air biasa sebanyak-banyaknya, 15 20 menit, bila parah bisa sampai 8-24 jam.
Bila kontaminasi pada mata parah tutup mata dengan kain kasa steril tanpa diberi pengobatan dan segera bawa ke dokter mata. Pakaian, perhiasan atau lensa kontak yang terkontaminasi harus segera di lepas. Sabun/basa kuat sebaiknya tidak digunakan selama atau setelah proses pembilasan/pencucian

Beberapa contoh Alkali Korosif

1. Baterai
Berbentuk cakram, terdiri atas bagian katoda dan anoda. Kandungan : garam oksida dari merkuri, senyawa mangan alkali, sel perak, zink, cadmium, litium hidroksida. Jika kontak dengan lingkungan akan segera melepaskan kandungannya, sehingga sering tertelan oleh anak-anak. Sel baterai dapat masuk melalui esofagus dan ditemukan kembali dalam feces setelah 48-72 jam. Jika terus melekat dapat menimbulkan obstruksi

Seringkali lempeng baterai dapat lewat saluran gastrointestinal tanpa menyebabkan luka. Walaupun demikian, baterai yang diketahui telah menempel di saluran cerna dapat menyebabkan keracunan korosif parah dan kadang-kadang kematian. Jika terus melekat dapat juga menimbulkan obstruksi.

Penanganan Keracunan Baterai


1.Baterai yang menempel pada esofagus harus dikeluarkan, jika perlu dengan tindakan pembedahan.

2.Katartik dapat diberikan untuk mempercepat keluarnya baterai yang akan mencapai lambung.
3.Metoklopramid dapat juga diberikan untuk mempercepat keluarnya baterai

2a. Sabun, Detergen, Shampo


Secara relatif tidak toksik dan memiliki aksi emetik yang sama efektifnya seperti sirup ipecac. Tabel dibawah ini merupakan tabel aksi emetikum produk pembersih rumah tangga pada anjing
Produk Granul detergen laundry Detergen cair Cairan pembersih rumah Cairan pemutih (natrium hipoklorat) Sabun toilet Sirup ipecac Dosis rata-rata emetik (g/kg) 0.02-0.05 0.3-1.5 0.1-1.0 0.25 5.0 0.1 T rata-rata untuk emesis (menit) 1-4 15-45 0.5-10 1-2 30-60 30-50

2b. Sabun, Detergen, Shampo


Meskipun sabun bisa bekerja emetikum tapi

sabun/detergen yang masuk ke mulut dapat


menyebabkan reaksi yang bervariasi tergantung pada spesifikasi produk (anionok,kationik atau nonionik). Secara umum dapat menyebabkan iritasi lokal, selain itu detergen kationik dapat memicu iritasi parah dan

mungkin berpengaruh sistemik.

2c. Sabun, Detergen, Shampo


Granul sabun dan detergen secara umum toksisitasnya rendah demikian pula dengan shampo. Tanda : mual, muntah dan diare. Penanganan keracunan sabun, detergen atau shampo : 1. Encerkan dengan air atau susu. 2. Emesis spontan 3. Jika mual atau muntah menjadi parah terapi simptomtik dan penggantian cairan mungkin diperlukan. Penanganan keracunan alkali karena kontak dengan mata atau kulit sama seperti penanganan umum zat korosif.

3. Ammonia dan Larutan Ammonium


Merupakan Alkali yang sangat korosif Keberadaan : dilingkungan rumah (5-10%), di industri (50%). Digunakan pada berbagai varietas produk dan korosi terhadap semua sel. Keracunan : Melalui mulut : di terapi seperti menangani keracunan kaena zat kaustik lainnya. Inhalasi : menyebabkan iritasi saluran nafas akut, batuk, dyspnea, dan edema pulmonal. Kontaminasi kulit/mata : nyeri, korosif. Penanganan : seperti menangani keracunan alkali secara umum.

4a. Pemutih
Sebagian besar pemutih merupakan larutan 3-6% natrium hipoklorat (NaOCl) dalam air. pH kira-kira 11. Terminum : iritasi parah, korosi membran mukosa, rasa sakit, inflamasi. Biasanya jumlah yang terminum kecil dan langsung dimuntahkan. Penanganan : pengenceran dengan air atau demulsen

seperti susu atau antasida. Jangan dirangsang muntah.

4b. Pemutih
Jika bereaksi dengan asam atau alkali lain akan melepaskan gas klorin atau kloramin. Keduanya menyebabkan lakrimasi dan iritasi membran mukosa dan saluran nafas jika terhirup. Pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan asphyxiation (=sesak nafas karena kurang asam di darah).
Asam kuat Cl2 + NaOH NH2Cl + NaOH

Natrium hipoklorit
(NaOCl)

(H+)
Alkali kuat (NH4+)

Saat ini, senyawa klorin seringkali disalahgunakan untuk memutihkan makanan seperti tepung dan beras. Keberadaannya akan mengurangi nilai gizi produk yang diputihkan tersebut.

5. Iodin
Iodin korosif terhadap membran mukosa dengan mengendapkan protein langsung. Dalam lambung dapat diubah menjadi bentuk yang

kurang toksik dan dengan cepat di deaktivasi oleh


makanan di saluran GI merangsang reflek muntah. Inhalasi menyebabkan mual, muntah, diare, gastroenteritis, hipotensi, takhikardi, sianosis.

5a.Penanganan Keracunan Iodin


Melalui mulut - Encerkan dengan air atau susu - Beri larutan amilum 1-10% agar iodin terabsorpsi - Pengurasan lambung, jika perlu dengan amilum larut air. - Tambah larutan natrium tiosulfat 1-5% agar iodin berubah menjadi iodida. - Beri glukokortikoid untuk menurunkan resiko fibrosis esofagus.

Kematian karena terhirup biasanya terjadi kurang dari 48 jam sejak mengalami kolaps sirkulasi, karena syok selama emesis yang menyebabkan edema pulmonal.

6. Senyawa Ammonium Quarterner


Adalah surfaktan kationik yang digunakan pada berbagai macam produk seperti desinfektan, bakterisid, deodoran, sanitizers. Berpotensi menyebabkan keracunan tergantung pada jenis senyawa, konsentrasi produk, dosis, jalur pemberian. Konsentrasi < 1% : nekrosis membran mukosa, erosi saluran GI, ulcer dan perdarahan. Kadang-kadang mengalami edema glotis, otak. Pencegahan : dengan sabun karena akan di inaktifkan. Penanganan keracunan zat ini dengan konsentrasi lebih dari 510% sama seperti penanganan keracunan alkali secara umum.

Bagan Penanganan Keracunan Produk Rumah Tangga

KESIMPULAN
Zat korosif pada umumnya bersifat lokal (asam/basa), menimbulkan nyeri hebat pada daerah yang terkena zat korosif tersebut. Penanganan bersifat supportive agents dan pada penanganannya tidak dipaksa untuk muntah karena dapat memperluas kerusakan jaringan sehingga perlu pengenceran saja. Basa bersifat emetikum (mual, muntah) sehingga perlu diencerkan saja. proses pengenceran masih merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecelakaan zat korosif yang terminum. Oleh karena itu, jumlah air atau susu yang digunakan harus beberapa kali lipat lebih banyak dibanding dengan jumlah asam atau alkali yang terminum. Terjadi akumulasi akan berdampak sistemik

Pada kasus pasta gigi anak, kadar fluoride pada pasta gigi anak-anak terlalu tinggi. Fluorida dapat menyebabkan keracunan pada anak. Kalsium akan mengendap sehingga kadar kalsium dalam plasma turun sehingga tidak dibenarkan anak-anak menggunakan pasta gigi untuk dewasa. Fluoride pun jika masuk kedalam tubuh akan berikatan dengan kalsium sehingga dapat menyebabkan osteoporosis. Pada baterai , disaluran cerna akan terurai Penggunaan pembersih lantai sebaiknya tidak mencampurkan zat yang bersifat asam dan yang bersifat basa karena gugus cl akan terlepas , hal ini yang akan mengakibatkan sesak nafas.

Studi Kasus

Studi Kasus (keracunan pemutih)


Seorang wanita 83 tahun membersihkan bathtube dgn clorox (5,2%) tanpa diencerkan. Karena noda sulit dihilangkan baik walaupun dengan sabun maka dia menambahkan sani-flush (80% Nabisulfat). Dengan cepat dia merasa terbakar pada mulut,hidung,tenggorokan dan mata. Pada akhirnya dia kesulitan bernafas. Dia masuk UGD dengan gejala pulmonari edema. Mendapatkan treatmen oxigen, prednison, morfin. Dia sembuh setelah 10 hari

Apa yang terjadi ketika pemutih dicampur dengan sani-flush (80% Na-bisulfat)?
Pemutih jika bereaksi dengan basa (Na-bisulfat ) akan melepaskan gas klorin atau kloramin menyebabkan lakrimasi dan iritasi membran mukosa dan saluran nafas jika terhirup. Pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan asphyxiation (=sesak nafas karena kurang asam di darah).

DAFTAR PUSTAKA
Gossel, Thomas A and Bricker, J. Douglas., 2001, Principles of Clinical Toxicology, 3rd ed., Taylor and Francis, 215 239 Sartono, drs., 2001, Racun dan Keracunan, Widya Medika, Jakarta, 224 235

Terima Kasih