Anda di halaman 1dari 11

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

PERIFITON SEBAGAI INDIKATOR BIOLOGI PADA PENCEMARAN LIMBAH DOMESTIK DI SUNGAI CIKUDA SUMEDANG Ida Indrawati, Sunardi, Ita Fitriyyah
Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Padjadjaran Email: ida.indrawati81@yahoo.co.id itafitriyah@ymail.com

ABSTRAK
Keberadaan spesies perifiton dipengaruhi oleh parameter kualitas air secara fisik dan kimia, parameter tersebut di pengaruhi oleh tata guna lahan dan intensitas kegiatan manusia di sekitarnya. Penelitian spesies-spesies perifiton potensial sebagai indikator biologi perairan tercemar limbah domestik telah dilakukan di Sungai Cikuda Sumedang. Pengambilan contoh dilakukan pada bulan Juli 2008 - Agustus 2008, dengan menggunakan media artifisial dari keramik dengan luas 10 cm x 10 cm x 10 cm. Parameter biologi yang dihitung meliputi kelimpahan, indeks keanekaan, kepadatan, kesamaan antar lokasi, dan profil ekologi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan hasil analisis profil ekologi, indikator biologi pada lokasi 1 yaitu Tolypothrix sp. dan Anabaena sp. dengan kualitas air belum tercemar, sedangkan indikator biologi pada lokasi 2 yaitu Ulothrix sp. dengan kualitas air tercemar sedang dan indikator biologi pada lokasi 3 yaitu Gyrosigma sp., Tabellaria sp. dan Oscillatoria sp. dengan kriteria kualitas air tercemar berat. Kata Kunci: Sungai, limbah domestik, perifiton, indikator biologi

ABSTRACT
The existence of periphyton species is physico-chemical influenced by water quality parameter, land cultivation as well as the intensity of the people activities around sway parameter. The probe concerning what periphyton species having a potency to be the bioloogical indicator of domestic waste-polluted waters has been held at the river Cikuda, Sumedang. Sampling is performed in July August 2008 in wich used periphyton media are 10x10x10 cm size ceramic artificial. The biological parameters counted comprise abudance, variety index, density, interlocation similarity, and ecological profil. Based on the result of the reseach it shows that from the analysis of ecological profil with biological indicator on location 1 was Tolypothrix sp. and Anabaena sp. with unpolluted water grade, while the biological indicator on location 2 was Ulothrix sp. with lightly polluted, and the biological indicator on location 3 was Gyrosigma sp., Tabellaria sp. and Oscillatoria sp. with heavily polluted condition. Keyword: river, domestic waste, periphyton, biological indicator

PENDAHULUAN Sungai Cikuda merupakan salah satu sungai di Jawa Barat yang di kelilingi oleh pemukiman penduduk, mempunyai panjang 10 km, bermata air sungai di kaki Gunung Manglayang di Kabupaten Bandung dan bermuara di Cikeruh. Sungai Cikuda dewasa ini dijadikan sebagai tumpuan masyarakat sekitar untuk pembuangan limbah domestik. Pencemaran sungai terjadi akibat dari adanya pemasukan bahan organik maupun anorganik, dari substansi lingkungan yang kemudian dapat menimbulkan

76

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

berbagai macam dampak. Sumber pencemaran dapat berupa logam berat, bahan beracun/kimia, pestisida, tumpahan minyak, sampah, dan lain-lain. Demikian pula halnya dengan organisme perairan yang ada akan mengalami perubahan jumlah. Jika lingkungan berada di bawah suatu tekanan maka keanekaan jenis akan menurun pada komunitas yang ada. Pencemaran kualitas air dapat diketahui dari kondisi komunitas biota akuatik di dalam badan perairan tersebut. Hal ini berarti biota akuatik dapat dijadikan sebagai indikator biologi, karena memiliki sifat sensitif terhadap keadaan pencemaran tertentu sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisis pencemaran air. Keuntungan yang didapat dari indikator biologi adalah dapat

merefleksikan keseluruhan kualitas ekologi dan mengintegrasikan berbagai akibat yang berbeda, memberikan pengukuran yang akurat mengenai pengaruh komunitas biologi dan pengukuran fluktuasi lingkungan (Devi, 2002). Salah satu biota yang memiliki peranan penting di dalam perairan dan dapat dijadikan sebagai indikator biologi adalah perifiton. Perifiton merupakan organisme yang tumbuh atau menempel pada substrat tetapi tidak melakukan penetrasi ke dalam substrat tersebut (Weitzel, 1979). Secara alami perifiton bersifat tetap dan menempel pada akar tumbuhan, bebatuan, kayu, dan benda-benda dalam air lainnya, sehingga memiliki kecenderungan lebih banyak menerima polutan dari area tersebut dibandingkan dengan hidrobiota yang lain. Organisme yang terdapat pada air yang telah tercemar berbeda dengan yang terdapat pada air yang belum tercemar (Georgudaki et al., 2003). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis perifiton yang potensial dijadikan sebagai indikator pencemaran limbah domestik di Sungai Cikuda Sumedang. Sehingga dapat diketahui kondisi badan perairan sungai berdasarkan jenis perifiton yang ditemukan di Sungai Cikuda.

BAHAN DAN METODE Alat-alat yang digunakan untuk pengkuran kualitas air meliputi SCT (salinity, conductivity, therma) meter, DO-meter, Secchi disk, mikroskop cahaya, counting chamber Sedgewick Rafter, BOD incubator dan spektrofotometer. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah akuades, formalin 4%,

77

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

HCL 0,1 N, MnSO4, O2-Reagen, Na-thiosulfat 0,01N, larutan amilum 1%, H2SO4 pekat, NaOH 0,1 N, indikator fenoftalein 0,05%, indikator feroin, (NH 4)FeSO4, metil orange 0,23%, larutan standarNO2-N, Na-acetatnaftilamine, NO3-N, NH4OH, PO4-P, SnCl2, NH4-molibdat. Penelitian ini dilakukan di Sungai Cikuda dengan menggunakan metode survey meliputi pengukuran parameter kimia, fisik, dan biologi. Pengukuran parameter kimia dan fisik air dilakukan di lapangan dan di laboratorium. Parameter biologi yang digunakan adalah organisme perifiton. Pengambilan contoh perifiton dilakukan satu kali pengambilan, yang dilakukan di tiga lokasi yang berbeda. Pada tiap lokasinya meliputi lima stasiun sehingga total stasiun terdapat lima belas stasiun. Contoh perifiton diambil pada substrat buatan berbentuk balok keramik dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm (Pandi, 2008) yang di simpan di dalam sungai selama 1 bulan, dan diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi mengenai plankton air tawar (Edmonson, 1959; Presscot, 1970), Analisis yang dilakukan meliputi indeks diversitas Shannon-Wiener, kerapatan perifiton, kelimpahan perifiton dan koefisien kesamaan Bray-Curtis. Dalam penelitian ini data-data dianalisis menggunakan metode profil ekologi karena dapat menerangkan hubungan antara spesies indikator dengan spesies bukan indikator.

HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis perifiton yang di temukan di Sungai Cikuda ada 33 jenis spesies (Tabel 1). Spesies indikator adalah spesies yang dapat memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan suatu tempat. Berdasarkan hasil pengujian profil ekologi diperoleh spesies indikator untuk lokasi 1 yaitu Tolypothrix sp. dan Anabaena sp.. Tolypothrix sp. merupakan mikroalgae dari kelas Chlorophyceae dan Anabaena sp. merupakan mikroalgae dari kelas Cyanophyceae. Kedua spesies ini dapat dikatakan sebagai indikator biologi karena keberadaannya yang intoleran. Spesies yang intoleran adalah spesies yang mempunyai kisaran toleransi yang sempit, tidak tahan terhadap tekanan lingkungan sehingga hanya tumbuh dan berkembang di perairan yang belum atau sedikit tercemar (Rondo, 1982). Sesuai dengan karakteristik lingkungan yang ada pada lokasi 1, dimana nilai DO pada

78

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

lokasi ini berkisar antara 6,50-6,69 mg/L dengan kandungan BOD berkisar antara 2,57-3,00 mg/L dan COD berkisar antara 14,00-29,09 mg/L yang mencirikan suatu keadaan perairan yang masih tergolong baik berdasarkan Lee et al. (1978), sehingga mendukung untuk pertumbuhan Tolypothrix sp. dan Anabaena sp..
Tabel 1. Spesies dan kelimpahan (%) perifiton yang ditemukan di Sungai Cikuda
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. Spesies Anabaena sp. Ankistrodesmus sp. Chaetophora sp. Closterium sp. Closteriopsis longissima Cosmarium sp. Cymbella sp. Euglena sp. Fragillaria sp. Gyrosigma sp. Lemanea sp. Lyngbia sp. Microthanmion sp. Navicula sp. Neidium sp. Nostoc sp. Oscillatoria sp. Peranema sp. Phormidium sp. Pleurotaenium trabecula Rhopalodia gibba Schizogonium murale Sirogonium sp. Spirogyra sp. Surirella sp. Synedra sp. Tabellaria sp. Tolypothrix sp. Ulothrix sp. Ulothrix cylindricum Ulothrix zonata Wollea sp. Zygnema sp. TOTAL Lokasi 1 10,4 0,09 0.07 0,11 0,06 0,008 8,79 0,07 0,18 0,11 0,17 0,02 0,008 0,7 0,007 0,02 62,41 0,03 0,01 0,55 0,04 0,07 0,03 15,8 100 % Lokasi 2 0,95 0,88 1,22 0,36 0,05 0,61 0,19 11,58 0,87 0,06 62,40 0,58 1,37 14,51 4,27 100 % Lokasi 3 0,38 0,30 1,86 0,83 0,81 26,65 0,56 1,74 6,33 0,31 11,56 0,25 11,24 2,56 0,19 1,76 6,90 1,31 24,12 0,22 0,01 100 %

79

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

Tabel 2. Nilai kerapatan (m) perifiton di Sungai Cikuda Stasiun 1 2 3 4 5 Rata-rata Lokasi 1 93.366 74.366 58.766 40.333 82.366 69.839 Lokasi 2 12.566 21.500 9.766 6.866 10.400 12.219 Lokasi 3 10.900 2.133 800 3.500 55.066 14.479

Tabel 3. Indeks kesamaan spesies (%) antar lokasi Lokasi 1 2 3 1 2 65,04 3 22,72 12,24 -

Tabel 4. Parameter fisik Sungai Cikuda

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Parameter (Satuan) Temperatur ( C) Kedalaman/transparansi (cm/m) Salinitas () Konduktivitas (mhos/cm) Kecepatan Arus (m/dtk)

Lokasi 1 19 - 21 15cm - 2m jernih 0 100 - 140 0,5 - 1

Lokasi 2 22 - 25 25cm - 30cm jernih 0 115 - 130 0,2 - 1

Lokasi 3 25 - 26 25cm - 50cm Coklat 0 130 - 220 0,5 - 2

Meskipun nilai nitrat (NO3) yang berkisar antara 0,18-0,30 mg/L, nilai nitrit (NO2) berkisar antara 0,02-0,03 mg/L, dan kandungan fosfat (PO4) berkisar antara 0,05-0,14 mg/L menunjukkan nilai yang paling rendah dibandingkan lokasi 2 dan 3, namun dengan kadar yang rendah ini masih mendukung pertumbuhan Tolypothrix sp. dan Anabaena sp.. Selain faktor kimia, faktor fisik pun

mendukung untuk pertumbuhan perifiton seperti penetrasi cahaya yang memadai ke dalam kolom air akan sangat membantu pertumbuhan perifiton melalui proses fotosintesis. Nilai-nilai parameter fisik-kimia air pada lokasi 1 mendukung

pertumbuhan kelimpahan spesies-spesies perifiton. Kelimpahan tertinggi dimiliki oleh Spirogyra sp. yaitu 62,41%, sehingga menyebabkan nilai indeks keanekaan jenisnya rendah karena Spirogyra sp. mendominasi di lokasi ini. Maka sesuai dengan pernyataan Barus, (2002) bahwa keanekaan jenis merupakan karakteristik struktur suatu komunitas. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaan jenis

80

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

yang tinggi apabila terdapat banyak jenis perifiton dengan jumlah individu dari masing-masing spesies yang relatif merata. Sebaliknya jika suatu komunitas hanya terdiri dari beberapa jenis dengan jumlah yang tidak merata maka keanekaan jenisnya rendah. Indeks keanekaan jenis pada lokasi 1 berbanding terbalik dengan nilai kepadatan. Artinya jika indeks keanekaan jenisnya rendah maka umumnya nilai kepadatannya tinggi di karenakan kondisi perairan yang masih baik.
Tabel 5. Parameter kimia Sungai Cikuda

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Parameter (Satuan) pH ( unit) DO (mg/l) BOD (mg/l) COD (mg/l) Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Fosfat (mg/l)

Lokasi 1 7,02 - 8,00 6,50 - 6,69 2,57 - 3,00 14,00 - 29,09 0,18 - 0,30 0,02 - 0,03 0,05 - 0,14

Lokasi 2 6,07 - 7,09 4,71 - 5,20 12,45-14,55 29,00 - 43,64 0,29 1,42 0,05 - 0,092 0,01 - 0,19

Lokasi 3 7,08 - 8,03 3,90 - 4,22 28,57-57,46 37,82 - 52,73 1,83 2,92 0,47 - 0,77 0,31 - 0,41

Sedangkan Gyrosigma sp., Ulothrix sp., dan Oscillatoria sp. berdasarkan hasil proporsi observasi kemungkinan dapat menjadi spesies indikator, karena sifatnya yang intoleran terhadap suatu keadaan lingkungan tertentu, seperti kelimpahannya rendah di bandingkan dengan Tolypothrix sp. dan Anabaena sp. yang memiliki kelimpahan yang cukup tinggi sehingga berpeluang menjadi spesies indikator. Berdasarkan hasil pengujian profil ekologi diperoleh spesies indikator untuk lokasi 2 yaitu Ulothrix sp.. Ulothrix sp. merupakan salah satu spesies ganggang hijau yang berbentuk filamen. Tubuh Ulothrix sp. terdiri atas sel-sel yang berbentuk silindris dan tersusun memanjang seperti benang dan hidup di air tawar (Anonimus, 2007). Sesuai dengan keadaan lokasi 2 bila ditinjau dari lokasi fisik lingkungannya, mungkin spesies Ulothrix sp. ini merupakan spesies yang hidup dengan baik pada kondisi antara lokasi 1 dan 2 dimana lokasi 2 merupakan daerah pertanian, yang memungkinkan konsentrasi pestisida dapat masuk ke lokasi ini sehingga mungkin hanya Ulothrix sp. yang lebih mampu beradaptasi dengan baik pada lokasi ini.

81

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

Tabel 6. Frekuensi terkoreksi dari semua spesies

No

Spesies

Profil Bersama Fk dalam lokasi dari faktor lingkungan 15 15 15 % Proporsi Observasi yang hadir/tidak hadir

1 2 3 4 5 6

Tolypothrix sp. Anabaena sp. Gyrosigma sp. Ulothrix sp. Tabellaria sp. Oscillatoria sp.

1 +++ ++ -- --

2 -- --++ -----

3 -- +++ --++ +++

Indeks keanekaan jenis pada lokasi 2 ini tinggi, disebabkan meratanya jumlah spesies perifiton namun rendahnya nilai kepadatan perifiton. Tingginya konsentrasi nitrit (NO2) yang berkisar antara 0,05-0,92 mg/L mengindikasikan tingginya kandungan bahan-bahan organik yang terlarut didalamnya. Karena kadar nitrit yang lebih dari 0.06 mg/L adalah bersifat toksik bagi organisme perairan (Anonimus, 2006c). Hal ini dapat dicirikan oleh tingginya nilai parameter BOD yang berkisar antara 17,45-30,55 mg/L. Dibandingkan dengan lokasi 1 yang memiliki kualitas air baik berdasarkan parameter kimia fisiknya, lokasi 2 masuk dalam kategori kualitas air tercemar sedang. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya indeks keanekaan jenis perifiton tidak selalu menunjukkan bahwa kualitas perairan tersebut baik, ini merupakan salah satu kelemahan indeks keane. Spesies yang mungkin menjadi spesies indikator untuk lokasi 2 berdasarkan hasil proporsi observasi yaitu Tolypothrix sp., Gyrosigma sp., Tabellaria sp., dan Oscillatoria sp.. Keempat spesies ini mungkin dapat menjadi spesies indikator, namun keberadaan populasinya yang sedikit sehingga tidak mencukupi untuk menjadi spesies indikator. Berdasarkan hasil perhitungan profil ekologi, hasil proporsi observasi Oscillatoria sp., Tabellaria sp., dan Gyrosigma sp. merupakan spesies indikator untuk lokasi 3. Oscillatoria sp., Tabellaria sp., dan Gyrosigma sp. merupakan
82

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

spesies yang toleran terhadap keadaan kualitas air dengan kadar DO yang rendah berkisar antara 3,90-4,22 mg/L. Terjadinya penurunan kandungan DO dari lokasi 1 sampai dengan lokasi 3 disebabkan karena makin ke arah bawah makin banyak sampah dan limbah domestik yang masuk ke dalam sungai dan mengalami pembusukkan. Karena pembusukkan bahan organik dapat menghabiskan O2terlarut di Sungai Cikuda. Tingginya nilai BOD yang berkisar antara 28,57-57,46 mg/L dan COD yang berkisar antara 37,82-52,73 mg/L, merupakan salah satu sebab terjadinya perbedaan komposisi dan penurunan keanekaragaman perifiton di lokasi 3. Nilai BOD yang tinggi di lokasi 3 merupakan akibat dari banyaknya sampah dan limbah domestik yang di buang ke lokasi ini. Karena nilai BOD merupakan parameter yang menunjukkan besarnya oksigen yang di butuhkan bahan organik dalam proses dekomposisi secara biokimia oleh mikroorganisme air (Trisnawula, 2007). Tingginya kadar unsur hara dengan nilai nitrit (NO2) berkisar antara 0,470,77 mg/L, nitrat (NO3) berkisar antara 1,83-2,92 mg/L, dan fosfat (PO4) kaan jenis Shannon-Wienner. berkisar antara 0,31-0,41 mg/L dengan kecepatan arus yang relatif tinggi berkisar antara 0,5-2 m/detik, menyebabkan Oscillatoria sp., Tabellaria sp., dan Gyrosigma sp. mampu tumbuh dengan baik. Sehingga sesuai dengan pernyataan Welch (1992) bahwa alga hijau biru seperti Oscillatoria sp. sering ditemukan pada lingkungan dengan kandungan nutrisi organik yang tinggi. Maka sesuai dengan data parameter fisik dan kimia air pada lokasi 3 yang menunjukkan kadar unsur hara mengalami kenaikan yang tinggi di bandingkan dengan lokasi 1 dan lokasi 2. Lokasi 3 merupakan kawasan padat penduduk sehingga adanya masukan limbah domestik dengan kadar yang cukup tinggi ke dalam badan sungai seperti limbah deterjen, minyak, shampo, sabun, dan limbah yang berasal dari kakus. Hal ini mengindikasikan kualitas perairan pada lokasi 3 tercemar sedang di lihat dari nilai parameter fisik dan kimia air pada lokasi 3. Setiap spesies perifiton memiliki kisaran optimum untuk setiap faktor lingkungan dan gangguannya. Apabila kisaran tersebut terlampaui dan spesies tersebut tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan tersebut maka akan terjadi kematian. Sehingga dapat terlihat dari ketiga spesies ini Oscillatoria sp.,

83

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

Tabellaria sp., dan Gyrosigma sp. menunjukkan kuatnya adaptasi spesies-spesies ini terhadap kondisi perairan tercemar, maka potensial untuk dijadikan sebagai indikator biologi untuk perairan yang tercemar limbah domestik. Spesies yang mungkin dapat menjadi spesies indikator pada lokasi 3 yaitu Tolypothrix sp. dan Ulothrix sp. Menurut Odum (1971), dalam ekosistem yang tercemar akan terjadi interaksi antara prinsip batas toleransi. Hidrobiota yang memiliki daya toleransi tinggi akan dapat bertahan hidup di ekosistem tercemar, sedangkan yang memiliki daya toleransi rendah akan tersisih dan akhirnya mati.

KESIMPULAN Spesies indikator biologi untuk lokasi satu adalah Tolypothrix sp. dan Anabaena sp., Spesies indikator biologi untuk lokasi dua adalah Ulothrix sp. sedangkan spesies yang potensial di jadikan sebagai indikator biologi adanya pencemaran limbah domestik di Sungai Cikuda adalah Oscillatoria sp., Tabellaria sp., dan Gyrosigma sp.

DAFTAR PUSTAKA Anonimus. 2007. Pertumbuahn dan daya serap nutrien dari Mikroalgae Dunalilella Tertiolecta yang dipelihara pada Limbah Domestik. Diakses dari www.google.com. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Barus, T.A. 2002. Pengantar Limmnologi. Depdiknas. Medan. Cahyani, F.U.D., Mulyanto., & Diana, A. 2005. Kelimpahan dan Komposisi Fitoplankton dan Hubungannya dengan Komposisi Makanan Tiram (Crassostrea iredalei Faustino) di Curah Sawo. Jurnal Penelitian Perikanan. Vol 8. No 1. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya : Malang. Hal. 41-47 Connel, D.W. & G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Penerjemah: Tanti Koestoer. UI Press. Jakarta. Devi, I.A. 2002. Perifiton sebagai Indikator Biologi Kualitas Air di Sungai Citarum Hulu. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas MIPA Unpad. Jatinangor. Edmonson, W.T. 1959. Fresh Water Biology. John Wiley and Sons, Inc. New York.

84

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Bagi pengelolaan sumber daya dan lingkungan perairan. Kanisius, Yogyakarta. Georgudaki, J.H., V. Kantzaris, P. Katharios, P. Kaspiris, Th. Georgiadis, & B. Mo.tesantou. 2003. An Application of Different Bioindicators for Assesing Water Quality: A case Study in The Rivers Alfeios and Pineios ( Peloponnisos, Greece). Ecological Indicators 2. Elsevier. Guillerm dalam Mumu Sutisna, J. L. 1971. Calcul de Iinformation Fournie Par Un Profil Icologique et Valeur Indicatrice des Especes. Oecol. Plant., 6. Paris. Hodkinson, I.D. & J.K. Jackson. 2005. Terrestrial and Aquatic Invertebrates As Bioindicators for Environmental Monitoring, with Particular Reference to Mountain Acosystems. Environmental Management Vol. 35. Springer Science + Business Media, Inc. Kovacs, M. 1992. Biological Indicators of Environmental Pollution. In: Biological Indicators In Environmental Protection. Ad: M. Kovacs. Ellis Horwood. London. Lowe, R.L. & G.D. Laliberte. 1996. Benthic Stream Algae: Distribution and Structure. In: Methods In Stream Ecology. Ed: F.R. Hauer dan G.A Lamberti. Academic Press. California. Michael, P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan laboratorium. UI. Press. Jakarta. Odum, E. P. 1995. Dasar-Dasar Ekologi. Cetakan ke-3 Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Presscot, G.W.1970. How To Know The Fresh Water algae. WM.C. Brown Company Publishers. Iowa. Priyadi, D.S. 1999. Distribusi Jenis Ikan di Sungai Citarum Hulu dan Hubungannya Dengan Kualitas Air. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas MIPA Unpad. Jatinangor. Rondo, Marten. 1982. Hubungan Benthos Sebagai Indikator Ekologi di Sungai Cikapundung. Tesis Jurusan Biologi Institut Teknologi, Bandung. Soemarwoto, O. 2004. Ekologi Lingkungan Hidup dan pembangunan. Ed., ke-10. Djambatan, Jakarta. Trisnawulan, I.A.M., I Wayan, B.S., & I Ketut, S. 2007. Analisis Kualitas Air Sumur Gali di Kawasan Pariwisata Sanur. Program Pascasarjana Universitas Udayana, Bali. Welch, E. B. 1992. Ecological Effects of Wastewear-Applied Limnology and Pollutant Effects. E & Spon. London.

85

Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun 2010

Weitzel, R.L. 1979. Periphyton Measurement and Application. In: Methods and Measurement of Periphyton Communities: A Review. American Society For Testing And Materials. Philadelphia.

DISKUSI Penanya Pertanyaan : Simon Brahmana (Puslitbang Sumberdaya Air, Kementerian PU) : Apakah perifiton melekat pada keramik sebagai media perlekatan perifiton? Plankton bersifat dinamis, apakah melekat pada media keramik tersebut, apalagi jika arusnya kuat? : Perifiton adalah organisme yang menempel, disimulasikan pada keramik kemudian dibiarkan di badan air selama satu jam.

Jawaban

Penanya : Tugiyono (Universitas Lampung) Pertanyaan : 1. Air apa yang digunakan untuk membilas plankton yang melekat pada media keramik? 2. Mengapa subtrat tambak yang digunakan salinitasnya 2 ppt? Jawaban : 1. Air yang digunakan adalah air bilasan dari Sungai Cikuda 2. Karena salinitasnya 20%. Tanggapan : Tugiyono (catatan dari moderator) 1. Penyaringan perifiton menggunakan pelarut air sungai yang diteliti adalah kurang tepat, karena akan terkontaminasi oleh plankton dari air sungai. 2. Bakteri fotosintetik anoksigenik ini tidak bisa berdiri sendiri untuk mengatasi masalah eutrofikasi, diperlukan konsorsium bakteri seperti bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi. 3. Isola IR-9 bersifat fotosintetik anoksigenik, tidak memproduksi H 2S tapi menggunakan H2S sebagai sumber electron dalam fotosintesis.

CATATAN 1. Metode analisis parameter kualitas air perlu dicantumkan dalam Metode Penelitian. 2. Perlu dijelaskan mengenai kriteria pemilihan lokasi pengambilan contoh. 3. Pengambilan kesimpulan sebaiknya lebih lugas. 4. Terdapat pustaka yang dirujuk dalam isi makalah yang tidak tercantum di daftar pustaka. Pustaka yang tercantum tetapi tidak dirujuk dalam isi makalah sebaiknya dihilangkan.

86

Anda mungkin juga menyukai