BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Krisis Ekonomi Krisis ekonomi adalah lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Biasanya krisis ekonomi ditandai dengan krisis moneter.

2.2 Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia 1 . Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Lihat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis moneter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan ini masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam.

1

World Bank: Bab 2 dan Hollinger
Page 1

Krisis Ekonomi

000 awal Mei 1999.352 13.495 2.207 1.96 -6.661 9.352 4.216 1.964 -3.60 2.611 12.194 1.901 1.419 12.0 4.777 2.022 8.308 2. Indonesia in Crisis.451 10.743 741 806 1. 1998 Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini.907 5.674 19.46 6.122 -2. Krisis Ekonomi Page 2 .4 5.021 2.158 14. (Rp/US$) APBN* (Rp. Dengan demikian Bank Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar rupiah. dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sistem managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978.948 12. Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia. milyar) *Tahun anggaran 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 7.092 1.96 6.833 8.54 8. sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Tidak mudah menentukan apa faktor-faktor utama penyebab krisis ekonomi di Indonesia.298 -2.93 9.845 633 1.746 5.589 10.76 -7.383 1.0 31.513 akhir Januari 1998.65 456 Sumber : BPS.392 4. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.125 17.4 30. Indikator Ekonomi.928 3.95 6. Bank Indonesia. July 2.8 5.0 33.972 4. karena setiap gejolak ekonomi dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang langsung (drect factors) dan faktor-faktor yang tidak langsung (indirect factors) yang mempengaruhinya.829 18.003 2.7 33.24 6.98 4.66 8.593 5.5 4.868 11.9 32.22 7.24 -3.582 3.008 10.427 4. World Bank.93 5.0 2.2 2.752 12.103 4.099 1.102 3.852 5.108 4.04 10.18 9.INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 .8 1.516 4.482 1.6 33. baik yang bersifat ekonomi maupun yang bersifat noneknomis.11 3.3 5.992 2.533 5. namun kemudian berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp 8.801 7.901 6.2 30.7 4. Bank Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing. Selain itu dapat pula dibedakan adanya faktor-faktor internal dan faktorfaktor eksternal.65 9.231 7.1997 Pertumbuhan ekonomi (%) Tingkat inflasi (%) Neraca pembayaran (US$ juta) Neraca perdagangan Neraca berjalan Neraca modal Pemerintah (neto) Swasta (neto) PMA (neto) Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) (bulan impor nonmigas c&f) Debt-service ratio (%) Nilai tukar Des.989 -4.63 11.753 307 336 -522 4.346 6.203 433 -551 -1.317 -10.111 17.78 1.50 7.021 5.062 2.450 per dollar AS Juni 1997 menjadi Rp 13.807 818 4. khususnya dollar AS. yang mempengaruhi terjadinya krisis ekonomis.801 -2.

ada tiga teori alternatif yang dapat juga dipakai sebagai basic framework untuk menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya krisis ekonomi di Asia2 a.  Indonesia akhirnya juga digoncang oleh “pelarian” dollar AS. Ini mencerminkan bahwa ekonomi Indonesia sangat tergantung pada modal jangka pendek dari luar negeri (short-term capital inflow). 2) Perubahan cadangan valas sangat sensitif terhadap perubahan sektor riil (perdagangan luar negeri) dan salah satu penyebab depresiasi nilai tukar rupiah yang menciptakan krisis ekonomi di Indonesia adalah karena terbatasnya cadangan valas di Bank Indonesia. melainkan dari arus modal masuk jangka pendek (surplus neraca kapital)3. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI. b.  Dilihaat dari fundamental ekonomi makro. bukan hanya sektor moneter tapi juga sektor riil mempunyai kontribusi yang besaar terhadap terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Dana sangat 2 3 Tambunan. Krisis Ekonomi dan Masa Depan Reformasi. 1998 Tambunan. Faktor-faktor eksternal  Jepang dan Eropa Barat mengalami kelesuan pertumbuhan ekonomi sejak awal dekade 90-an dan tingkat suku bunga sangat rendah. bukan dari hasil ekspor neto. 4) jumlah uang beredar. Tulus. Sumber utama pertumbuhan jumlah cadangan devisa Indonesia. 3) tingkat inflasi. Tulus. 8) cadangan devisa dan 9) tingkat suku bunga. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI. karena uang (valas) sudah menjadi komoditas yang diperdagangkan seperti produk-produk dari sektor riil. 2) pendapatan nasional. Faktor-faktor Internal  Fundamental ekonomi nasional yang merupakan penyebab krisis ekonomi di Indonesia adalah fundamental makro misalnya: 1) pertumbuhan ekonomi. Krisis Ekonomi dan Masa Depan Reformasi. karena dua alasan: 1) Perkembangann sektor moneter sebenarnya sangat tergantung dari perkembangan sektor riil. 5) jumlah pengangguran.Selain faktor-faktor internal dan eksternal. 6) jumlah investasi. 7) keseimbangan neraca pembayaran. 1998 Krisis Ekonomi Page 3 .

Faktor-faktor non-ekonomi 1) Dampak psikologis dari krisis di Indonesia adalah merebaknya penomena kepanikan. sehingga sekelompok orang (spekulan) berusaha meraih keuntungan dengan cara menukar sejumlah besar rupiah terhadap dollar AS. khususnya Amerika. Krisis Ekonomi Page 4 .  Daya saing Indonesia di Asia yang lemah. tetapi terutama karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. karena proses ekonomi berdasarkan mekanisme pasar (ekonomi kapitalis) selalu menunjukkan gelombang pasang surut dalam bentuk naik turunnya variabel-variabel makro. akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar 4 Dalam teori. khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya4. 3) Teori business cycle (konjungtur). sehingga para pemilik modal internasional memindahkan modal mereka dari Indonesia secara tiba-tiba. nilai overshooting adalah sangat besar dan sudah berlangsungsejak akhir tahun 1997. 2) Teori contagion. overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudian mencari keseimbangan jangka panjang baru. melainkan sektor luar negeri. krisis ekonomi sengaja ditimbulkan oleh negara-negara maju tertentu. karena tidak menyukai sikap arogansi ASEAN selama ini. hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas. Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah. Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam. 2) Kepanikan ini kemudian diikuti oleh warga negara di Indonesia. sedang nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terlalu kuat (overvalued). disebabkan investor asing merasa ketakutan.melimpah sehingga sebagian besar arus modal swasta mengalir ke negaranegara Asia Tenggara dan Timur. Teori-teori Alternatif 1) Teori konspirasi. menularnya amat cepat dari satu negar ake negara lain. yaitu karena adanya contagion effect. Yang jebol bukanlah sektor rupiah dalam negeri. d. yang akhirnya membuat krisis. Tetapi selama krisis ini berlangsung. c.

Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri. Analisis dari faktor-faktor penyebab ini penting. termasuk kemampuan pemerintah menangani dan mengatasi krisis. tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah. dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. 1.3 Terjadinya Kontraksi Ekonomi sejak 1998 Krisis yang terjadi di Indonesia tidak saja telah memaksa rupiah terdepresiasi sangat tajam tapi juga menimbulkan kontraksi ekonomi yang sangat dalam. Sebab yang kedua adalah kelemahan pada sistim perbankan. karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menahan gempuran ini.11). 1. pp. 1998. ekonomi Indonesia tidak akan mengalami krisis. Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank. Dengan lain perkataan. walaupun distorsi pada tingkat ekonomi mikro ini diperbaiki. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sektor swasta ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor penyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat.negeri dalam jumlah besar. meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro. maka krisis akan terjadi juga. Yang pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dollar AS ini.  Pada saat yang sama. Yang keempat adalah ketidakpastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan Presiden Soeharto pada waktu itu. sehingga l. Ketiga adalah masalah governance.k. 2.7 -1. ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). kenaikan laju inflasi yang tinggi dan penurunan penghasilan masyarakat menyebabkan merosotnya daya beli sehingga Krisis Ekonomi Page 5 . karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. Proses terjadinya kontraksi ekonomi  Penurunan nilai tukar rupiah yang tajam disertai dengan terputusnya akses ke sumer dana luar negeri menyebabkan turunnya produksi secara drastis dan berkurangnya kesempatan kerja.

3 -18. 3. memburuknya kondisi perbankan. 2.4 2. Pada tahun 1998 PDB Riil menyusut 13.5 Rincian Produk domestik bruto riil (Tahun dasar 1993) Pengeluaran konsumsi Inflasi IHK Suku bunga PUAB Nilai tukar (Rp$) Perubahan % -12.7 82. Indikator kontraksi ekonomi Indikator Makroekonomi Tahun 1998 Triwulan I -4. (3) Pergantian kepemimpinan nasional dan proses konsolidasi pemerintahan baru turut memperlambat pemulihan stabilitas ekonomi. sosial dan politik.700 -13.7 64.2 8.5 77 33.8 56.900 4.6 10.0 Triwulan II Triwulan III Triwulan IV 19.7% yang terutama disebabkan oleh kegiatan investasi dan konsumsi swastaa yang merosot tajam. Penurunan kegiatan investasi berkaitan dengan makin memburuknya ketidakseimbangan neraca dunia usaha. rendahnya kepercayaan investor dari luar negeri. Krisis Ekonomi Page 6 .4 8.685 Berbagai permasalahan nonekonomi muncul dalam waktu yang relatif bersamaan: (1) Kerusuhan sosial yang menyebabkan berbagai kerusakan di sektor produksi maupun distribusi (2) Jaringan distribusi yang tidak berfungsi sepenuhnya disertai panis buying.025 -9.1 51.4 66.4 39.8 14.kesejahteraan masyarakat menurun drastis dan kantong-kantong kemiskinan semakin meluas.

padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. utang luar negeri dalam rupiah melonjak. Dampak lain adalah laju inflasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. Krisis Ekonomi Page 7 . meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dalam rupiah mendadak melonjak drastis. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. tarif angkutan naik. toko sepi. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. 3 Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas.2. perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. PHK di mana-mana. Masalah ini hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor rendah meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berbasis pertanian. harga BBM/tarif listrik naik. biaya sekolah di luar negeri melonjak. 5 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-barang di negara pengekspornya naik. kecuali sebagian sektor pertanian dan ekspor. yang melambung tinggi jika dihadapkan dengan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. dan ini tidak terjadi. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya nilai tukar rupiah. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. harga telur/ayam naik. gula. yang bukan disebabkan karena imported inflation5. tidak terjadi. kopi dan sebagainya ikut naik. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. khususnya dollar AS.

Krisis Ekonomi pendapatan per kapita anjolok secara drastis laju pertumbuhan PDB menjadi negatif. ternyata biaya krisis yang harus dibayar masyarakat Indonesia lebih besar dibandingkan di Thailand.bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. Setelah setahun krisis berkalngsung. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berkurang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena tingkat inflasi yang tinggi. pada Oktober 1998 ini jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. sehingga perlu dilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi secara drastis.5 juta. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rupiah yang tajam. 3. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. tetapi penerimaan ekspor dalam valas umumnya tidak berubah. Korea Selatan atau Malaysia. dan negara-negara produsen lain juga mengalami depresiasi dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi valas. jumlah pengangguran dan kemiskinan meningkat Page 8 . hanya di sini ada kesulitan lain untuk meningkatkan ekspor. Meskipun penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. 2. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur.  Biaya-biaya sosial: 1) 2) 3) 4) kerusuhan di mana-mana sejak May 1998 banyak orang kekurangan gizi anak putus sekolah kriminalitas makin tinggi. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya. Yang menjadi persoalan penting sekarang ini bagi Indonesia adalah menyangkut biaya krisis atau besarnya “pengorbanan” yang harus dibayar akibat krisis dan lamanya pengorbanan itu harus dipikul.  Biaya-biaya ekonomi: 1. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan keadaan sosialpolitik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pesanan barangnya ke negara lain.

6. pemerintah telah menetapkan tempat tahapan strategis : 1) Tahap penyelematan (1 – 2 tahun sejak 1998/1999) 2) Tahap pemulihan yang sifatnya tumpang tindih dengan tahap sebelumnya (2 tahun) 3) Tahap pemantapan (1-2 tahun) setelah selelsai tahap penyelamatan. diterima bulan Nopember 1997. Program Pemulihan dan Kebijaksanaan Ekonomi Setelah menyadari bahwa merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak dapat dibendung lagi dan cadangan dollar AS di BI sudah menipisi. 2. (Tulus Tambunan. (Kompas.4. Rencana: menurut Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas. 7) Bulan Maret 1998 dilakukan perundingan baru lagi dan bulan April 1998 ditanda tangani memorandum tambahan atau letter of inten (II) Ada lima memorandum tambahan yang disepakati : 1. 18 September 1998) b. 1998) : 5) Pinjaman tahap pertama 3 mioliar dollar AS untuk memperkuat dan menstabilkan nilai rupiah.4 Rencana dan Program Pemulihan Ekonomi a. Boediono. 4) Tahap pembangunan yang dapat dimulai kembali apabila saluran krisis dapat ditanggulangi. Program stabilisasi pasar uang dan mencegah hiperinflasi. maka bulan Nopember 1997 Indonesia minta bantunan IMF untuk mendapat bantuan dana (Tulus Tambunan. 5. Krisis Ekonomi Page 9 . 6) Bulan Januari 1998 ditanda tangani nota kesepakatan atau letter of inten (I) yang memuat 50 point/ ketentuan: kebijaksanaan ekonomi makro (fiskal-moneter) restrukturisassi keuangan dan reformasi struktural. 1998). bencana kelaparan ini banyak lokasi hiperinflasi defisitnya anggaran pemerintah dan neraca pembayaran membengkak.

Reformasi struktur yang mencakup upaya-upaya dan sasaran yang telah disepakati (letter of inten-II) 4. pada triwulan pertama 1999 memperlihatkan kenaikan untuk yang pertama kalinya dalam empat triwulan terakhir meskipun secara tahunan masih mencatat kontraksi. Beberapa langkah penting. Restrukturisasi perbankann dalam rangka penyehatan sistem perbankan nasional. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) meliputi : 1) Program Ketahanan Pangan 2) Program padat karya 3) Program perlindungan sosial 4) Program pemberdayaan ekonomi rakyat (Kompas.2. 5. Produk Domestik Bruto (PDB). sesuai kesepakatan IMF : 1) Kebijaksanaan moneter 2) Kebijaksanaan perbankan 3) Program kesempatan kerja 4) Reformasi dan privatisasi BUMN 5) Restrukturisasi ULN swasta (Tulus Tambunan. 18 September 1998) 2. yang selama tahun 1998 mengalami kontraksi yang sangat dalam. Strategi yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi krisis dan memulihkan kegiatan ekonomi tidak hanya mengandalkan kepada kebijakan makroekonomi akan tetapi juga Krisis Ekonomi Page 10 . Perkembangan berbagai indikator ekonomi utama menunjukkan bahwa kinerja perekonomian telah mulai melewati titik dasar. d. 5 Perekonomian Tahun 1999 – 2005 (Pemulihan Ekonomi) Tahun 1999 Menjelang akhir tahun laporan 1998/99 telah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Penyelesaian utang luar negeri swasta (corporate debt). 1998). 3. Bantuan untuk rakyat kecil (kelompok ekonomi lemah) c.

lebih tinggi dari yang diprakirakan pada awal tahun yakni berkisar 3. Berbagai perkembangan yang menggembirakan tersebut telah memungkinkan terjadinya penurunan suku bunga lebih lanjut hingga akhir tahun 1999 dan menggairahkan pasar modal sehingga proses pemulihan ekonomi mendapatkan momentumnya kembali. khususnya utang perbankan dan utang pemerintah. selain menerapkan kombinasi kebijakan moneter ketat dan fiskal ekspansif. Kondisi sosial-politik dan keamanan pada waktu itu sudah membaik. Berbagai perkembangan terakhir mengisyaratkan bahwa perkembangan terburuk telah dapat dilampaui. sebagaimana tercermin dari pencapaian tingkat inflasi yang rendah dan nilai tukar yang menguat hingga akhir tahun 1999. Tahun 2000 Memasuki awal tahun 2000. Seluruh sektor/ kegiatan memberikan sumbangan yang positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Kemajuan yang cukup berarti juga dicapai dalam langkah restrukturisasi perbankan dan utang luar negeri. perekonomian Indonesia menunjukkan proses pemulihan yang semakin mantap dengan sumber pertumbuhan yang semakin seimbang.diimbangi oleh kebijakan mikroekonomi yang tepat dan perbaikan kelembagaan termasuk sistem hukum. pemerintah telah mengambil langkahlangkah kebijakan mikroekonomi yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Stabilitas moneter juga terkendali.8%. Tanda-tanda awal dari proses pemulihan ekonomi telah mulai nampak sejak triwulan III tahun 1999. Kemajuan tersebut ikut berperan penting dalam menstabilkan situasi dan kondisi moneter dan perbankan yang sempat terganggu oleh krisis nilai tukar dan perbankan. Laju inflasi sejak Oktober 1998 terus menurun dan nilai tukar rupiah cenderung semakin menguat sehingga ruang gerak bagi penurunan suku bunga menjadi semakin terbuka. Selama tahun 2000. Dalam kaitan inilah. dengan proses pelaksanaan pemilihan pimpinan nasional yang dinilai berjalan lancar dan demokratis. yang memadai.0%. perekonomian Indonesia diwarnai oleh nuansa optimisme yang cukup tinggi. Sejalan dengan perkembangan yang semakin positif ini. Krisis Ekonomi Page 11 . PDB pada tahun laporan tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 4.0%–4. kinerja pasar modal kembali meningkat sebagai indikasi awal dari mulai membaiknya keyakinan investor atas prospek perekonomian Indonesia.

perkembangan perekonomian dunia yang cenderung melambat sejak triwulan I-2001 dan kemudian menjadi lebih buruk pasca tragedi World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001 telah menyebabkan perekonomian negara-negara maju terganggu. Perekonomian masih bertumpu pada konsumsi sementara investasi dan ekspor masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sementara itu. Produk Domestik Bruto (PDB) 2002 dengan harga berlaku mencapai Rp1. Dari luar negeri. Angka pertumbuhan ini juga di bawah proyeksi awal tahun Bank Indonesia sebesar 4. perlambatan ini terutama disebabkan oleh lambatnya restrukturisasi utang dan sector korporasi.4%. masih tingginya risiko dan ketidakpastian sehubungan dengan meningkatnya ketegangan sosial dan politik. Dari dalam negeri. Dengan Krisis Ekonomi Page 12 . masih berlangsungnya konsolidasi internal perbankan. meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Bersamaan dengan membaiknya indikator makro moneter seperti inflasi.3%. Produk Domestik Bruto (PDB) 2001 tumbuh sebesar 3. nilai tukar.610.7%.9%. Perlambatan kegiatan perekonomian tersebut tidak terlepas dari perkembangan kondisi di dalam dan luar negeri yang kurang menguntungkan. meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3.5%–5.5%. pertumbuhan PDB 2002 dengan harga konstan mencapai 3. serta lemahnya penegakan hukum menyebabkan menurunnya kepercayaan dunia usaha untuk melakukan kegiatan produksi dan investasi yang pada akhirnya menghambat ekspansi ekonomi lebih lanjut. Sementara itu. serta beratnya beban keuangan pemerintah.Tahun 2001 Pertumbuhan perekonomian Indonesia dalam tahun 2001 mengalami perlambatan meskipun masih relatif lebih baik dari pertumbuhan yang dialami oleh negara-negara di kawasan ASEAN. diantaranya adalah negaranegara yang menjadi investor dan mitra dagang penting bagi Indonesia. lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 4. dan suku bunga.0 triliun. Tahun 2002 Perekonomian tahun 2002 tumbuh 3.7%. perekonomian Indonesia sepanjang 2002 secara umum masih mengindikasikan proses pemulihan ekonomi. namun masih belum didukung oleh struktur yang seimbang.

Perekonomian pada 2003 tumbuh 4.2 triliun. Dari sisi penawaran. Tahun 2003 Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang membaik dan lebih stabil selama 2003 sebagaimana tercermin pada pertumbuhan ekonomi yang meningkat. tingkat kesejahteraan masyarakat. Tahun 2004 Kondisi makroekonomi Indonesia pada 2004 menunjukkan perkembangan yang semakin mantap. sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan.7 triliun. yang tercermin dari pendapatan per kapita. meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. terutama pada semester satu 2003. laju inflasi dan suku bunga yang menurun tajam.3% dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan ini menandakan perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih dari krisis yang berlangsung sejak lima tahun silam. sementara kegiatan investasi dan ekspor masih tumbuh secara terbatas. Sementara. angka pengangguran meningkat 11. dengan kontribusi investasi dan ekspor yang semakin besar. Dengan pertumbuhan tersebut. Kenaikan sisi permintaan tersebut memperoleh respons positif dari dunia usaha . PDB 2002 dengan harga konstan baru mencapai Rp426. dan nilai tukar rupiah yang menguat dengan pergerakan yang lebih stabil. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh masih banyaknya permasalahan struktural yang belum terselesaikan.pertumbuhan tersebut. Krisis Ekonomi Page 13 .1%. walaupun pertumbuhannya masih tetap rendah. belum mencapai level sebelum krisis. pertumbuhan tersebut masih didorong oleh kegiatan konsumsi. Walaupun demikian. dan perekonomian dunia yang masih lesu. dampak negatif tragedi bom di Bali.1%. pertumbuhan ekonomi yang terjadi masih belum memadai untuk menyerap tambahan angkatan kerja sehingga jumlah pengangguran masih mengalami kenaikan. di tengah munculnya risiko dan tantangan yang cukup berat baik dari dalam maupun luar negeri. masih lebih rendah dari PDB 1997 senilai Rp433. Dengan didukung oleh kebijakan makroekonomi yang cukup akomodatif dan ditopang oleh ekspektasi positif pelaku ekonomi yang semakin kuat. Pertumbuhan tersebut diikuti oleh sumber pendorong pertumbuhan yang lebih berimbang. perekonomian Indonesia mampu tumbuh sebesar 5. Dari sisi permintaan.

Tahun 2005 Secara keseluruhan. suffered from drought. corruption. yang ditandai oleh lack of demand. Keadaan ekonomi Negara Indonesia lebih stabil setelah bertahun-tahun terkena dampak dari krisis ekonomi . 6 Perbandingan Situasi 1998 dengan 2008 Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 merupakan efek dari krisis yang terjadi di Asia. 2. vulnerabilities tiga hal ini menghantam Indonesia dan membuat terjadinya perubahan kepemimpinan. Seiring dengan peningkatan pertumbuhan tersebut. Krisis di Indonesia menjadi sangat ”severe” karena faktor-faktor lain ikut memperburuk situasi. Sementara itu budget deficit pada tahun 1998 mencapai 8. drastic decline in private investment. dan The breakdown in the public order and communal effect.6%. Situasi perekonomian Indonesia waktu itu lebih buruk lagi. public investment expenditures were reduced significantly. political transition. Namun demikian.sebagaimana tercermin pada peningkatan laju pertumbuhan pada sejumlah sector ekonomi. Krisis tersebut disebabkan oleh tiga hal utama. tingkat pengangguran relatif tetap karena peningkatan kegiatan ekonomi masih belum dapat sepenuhnya menyerap pertambahan angkatan kerja. fundamental.5 % dari GDP. pendapatan per kapita masyarakat mengalami kenaikan dan tingkat kemiskinan mengalami penurunan. Tidak seperti yang dianjurkan Keynes mengenai ekspansi fiskal . kinerja perekonomian Indonesia di 2005 tumbuh sebesar 5. 2. drastic fall in output. dan drastic fall in real income. the fall of oil price. insecurity of the ethnic chinese. terutama ditopang oleh pertumbuhan permintaan domestik yang relatif tinggi di paro pertama 2005. yakni : 1. market panic . seperti misgovernment. pada Krisis Ekonomi Page 14 . dan 3.yakni anggaran diperuntukkan bagi stimulasi pertumbuhan-.

size perekonomian meningkat lebih dari dua kali yang diiringi dengan pendapatan per kapita.kenyataannya anggaran lebih banyak digunakan untuk food and othes subsidies for the poor atau social safety net. the efficient cleaning up of the banking system. Berbagai macam perbaikan pada semua sektor mulai dilakukan. proses recovery atas kondisi krisis disandarkan pada 4 (empat) langkah kebijakan. Sampai dengan tahun 2008. Berbagai macam capaian dan kemajuan dalam perekonomian. dan persiapan menghadapi krisis yang lebih baik. merupakan modal tersendiri bagi Indonesia untuk menghadapi krisis keuangan 2008 dengan optimis dan percaya diri sehingga diharapkan tidak lagi menjadi krisis ekonomi serius seperti tahun 1998. Situasi tersebut antara lain. the restoration of confidence. sehingga menyebabkan situasi yang ada pada tahun 2008 berbeda dengan situasi pada tahun 1998 pada saat menghadapi krisis. sumber pertumbuhan makin bertumpu pada sumber dalam negeri. and the corporate debt resolution. pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jalur di atas 6 %. perbankan yang jauh lebih sehat. Krisis Ekonomi Page 15 . yakni the restoration of private demands. Pada tahun 1999. risiko ekonomi makro makin menurun. telah banyak kemajuan yang dicapai oleh pemerintahan di era reformasi.

pdf http://www.go.DAFTAR PUSTAKA http://www.setneg.bi.php?Itemid=29&id=2890&option=com_content&task=vie w Krisis Ekonomi Page 16 .id/index.go.id/NR/rdonlyres/427EA160-F9C2-4EB0-9604C55B96FC07C6/3015/bempvol1no4mar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful