P. 1
MAKALAH perikatan

MAKALAH perikatan

|Views: 439|Likes:
Dipublikasikan oleh Wahid Abdulrahman

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: Wahid Abdulrahman on May 13, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $4.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

06/05/2013

$4.99

USD

pdf

text

original

A. PERJANJIAN HIBAH 1. Pengertian Hibah Perjanjian hibah diatur dalam Pasal 1666 s.d. Pasal 1693 KUH Perdata.

Di dalam KUHPerdata Buku II Bab X, bagian pertama, Pasal 1666 terdapat pengertian hibah (schenking) yang didefenisikan sebagai berikut : “bahwa hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, di waktu hidupnya dengan Cuma-Cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali untuk menyerahkan suatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan. Perkataan di waktu hidupnya mempunyai arti bagi penghibah, adalah untuk membedakan penghibahan ini dari pemberian-pemberian yang dilakukan dalam suatu surat wasiat (testament) yang baru akan mempunyai kekuatan dan berlaku sesudah pemberi hibah meninggal dan setiap waktu selama penerima itu masih hidup, dapat diubah dan ditarik kembali olehnya. Pemberian dalam testament dalam KUHPerdata dinamakan Legaat (Hibah wasiat) yang diatur dalam hukum waris, maka dengan sendirinya ia tidak dapat menarik kembali secara sepihak oleh penghibah Pada dasarnya perjanjian hibah merupakan perjanjian sepihak, karena yang paling aktif untuk melakukan perbuatan hukum tersebut adalah si penghibah, sedangkan penerima hibah adalah pihak yang pasif. Artinya penerima hibah tidak perlu melakukan kewajiban yang timbal balik. Penerima hibah tinggal menerima barang yang dihibahkan.

pemberian dengan cuma-cuma. Karena lazimnya bahwa orang yang menyanggupi untuk melakukan suatu prestasi karena ia ingin menerima kontra prsetasi. jika dalam jual beli penjual harus melindungi pihak pembeli. dan 4. 2. pemberi hibah menyerahkan barang kepada penerima hibah. apabila ternyata barang yang dihibahkan bukan milik yang sebenarnya dari penghibah maka penghibah tidak wajib untuk melindungi penerima hibah. Penghibahan hanya dapat meliputi barang-barang yang sudah ada. sedangkan pihak lainnya tidak usah memberikan kontra prestisnya sebagai imbalannya. pemberian itu tidak dapat ditarik kembali. yaitu 1. Dalam hal ini hibah berbeda dengan perjanjian jual beli. maka perjanjian yang demikian dikatakan perjanjian sepihak. Penghibahan digolongkan dalam perjanjian Cuma-Cuma (bahasa belanda OM niet) dalam perkataan dengan Cuma-Cuma itu ditunjukkan adanya prestis dari satu pihak saja.Unsur-unsur yang tercantum dalam perjanjian hibah. . Hal ini dapat dimengerti karena perjanjian hibah merupakan perjanjian Cuma-Cuma yang penerima hibah tidak akan dirugikan dengan pembatalan suatu penghibahan atau barang yang ternyata bukan milik yang sebenarnya. penghibahan dari barang-barang yang belum menjadi milik penghibah adalah batal (Pasal 1667 KUHPerdata). 3. maka dalam penghibahan penghibah tidak hatus melindungi penerima hibah. adanya pemberi dan penerima hibah.

Dari ketentuan ini dapat dilihat bahwa diperbolehkan untuk menjanjikan penerima hibah akan melunasi hutang si penghibah. Suatu hibah adalah batal jika dibuat dengan syarat bahwa penerima hibah akan melunasi hutang-hutang atau beban-beban lain.Penghibah tidak boleh memperjanjikan bahwa akan tetap berkuasa untuk menjual dan memberikan kepada orang lain suatu barang yang termasuk dalam penghibahan. apabila disebutkan dengan jelas maka janji seperti itu tidak akan membuat batal penghibahannya. yang bertentangn dengan sifat dan hakekat penghibahan. Dalam KUHPerdata mengenal dua macam penghibahan yaitu: a. . selainnya yang dinyatakan dengan tegas di dalam akte hibah sendiri atau di dalam suatu daftar yang ditempelkan kepadanya (Pasal 1670 KUHPerdata). Sudah jelas bahwa janji seperti ini membuat penghibahan batal. apa yang terjadi sebenarnya hanya suatu pemberian hak untuk menikmati hasil saja. berarti bahwa hak milik atas barang tersebut tetap ada padanya. dimana pemberian misalnya syarat Cuma-Cuma. karena perbuatan yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang disebutkan pada Pasal 1666 KUHPerdata saja. Penghibahan semacam ini. Penghibahan formal (formale schenking) yaitu hibah dalam arti kata yang sempit. Janji yang diminta oleh penghibah bahwa tetap berkuasa untuk menjual dan memberikan barang kepada orang lain. sekedar mengenai barang tersebut yang dianggap sebagai batal (Pasal 1668 KUHPerdata). karena hanya seorang pemilik dapat menjual atau memberikan barang kepada orang lain.

Perjanjian hibah ini tidak ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak dan karena alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Untuk itu. Rukun Hibah  Ada ijab dan kabul yang menunjukkan ada pemindahan hak milik seseorang (yang menghibahkan) kepada orang lain (yang menerima hibah). dengan syarat harta itu milik penghibah secara sempurna (tidak bercampur dengan milik orang lain) dan merupakan harta yang bermanfaat serta diakui agama. Menurut Pasal 1666 KUHPerdata penghibahan seperti itu tidak termasuk pemberian.b. misalnya seseorang yang menjual rumahnya dengan harga yang murah. 2.  Ada orang yang menghibahkan dan yang akan menerima hibah. disyaratkan bahwa yang diserahkan itu benar-benar milik penghibah secara sempurnadan penghibah harus orang yang cakap untuk bertindak menurut hukum  Ada harta yang akan dihibahkan. . tetapi menurut pengertian yang luas hal di atas dapat dikatakan sebagai pemberian. Penghibahan Materil (Materiele schenking) yaitu pemberian menurut hakekatnya. Tidak ada kemungkinan untuk ditarik kembali artinya hibah merupakan suatu perjanjian dan menurut Pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

jika harta yang akan dihibahkan tidak ada.  Penghibah tidak dipaksa untuk memberikan hibah. dewasa. kurang akal.  Penghibah adalah orang yang cakap bertindak menurut hukum (dewasa dan tidak kurang akal). Syarat-syarat Hibah 1. Syarat-syarat bagi benda yang dihibahkan a) Benda tersebut benar-benar ada. 2. dengan demikian tidaklah sah menghibahkan barang milik orang lain. Adapun yang dimaksudkan dengan benar-benar ada ialah orang tersebut (penerima hibah) sudah lahir.Dengan demikian. Dalam hal ini berarti setiap orang dapat menerima hibah. Syarat-syarat bagi penghibah  Barang yang dihibahkan adalah milik si penghibah. 3.  Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya disebabkan oleh sesuatu alasan. Dan tidak dipersoalkan apakah dia anak-anak. harta tersebut masih dalam khayalan atau harta yang dihibahkan itu adalah benda-benda yang materinya diharamkan agama. . maka hibah tersebut tidak sah. Syarat-syarat bagi penerima hibah Bahwa penerima hibah haruslah orang yang benar-benar ada pada waktu hibah dilakukan. Dengan demikian memberi hibah kepada bayi yang masih ada dalam kandungan adalah tidak sah. 4. walau bagaimana pun kondisi fisik dan keadaan mentalnya.

jika pemberi hibah jatuh miskin. 3. yaitu 1. Subjek dan Objek Hibah Pihak yang terikat dalam perjanjian hibah adalah penghibah (pemberi hibah) dan yang menerima hibah (penerima hibah). . Pada perinsipnya perjanjian hibah tidak dapat dicabut dan dibatalkan oleh pemberi hibah. 3. diterima peredarannya dan pemilikannya dapat dialihkan. 2. 5. jika syarat-syarat penghibaan itu tidak dipenuhi oleh penerima hibah. namun ada tiga pengecualiannya. Syarat adanya perjanjian hibah. sedangkan penerima hibah menolak untuk memberi nafkah kepadanya (Pasal 1688 KUH Perdata). c) Benda tersebut dapat dimiliki zatnya. d) Benda yang dihibahkan itu dapat dipisahkan dan diserahkan kepada penerima hibah. jika orang yang diberi hibah bersalah dengan melakukan atau ikut melakukan usaha pembunuhan atau suatu kejahatan lain atas diri penghibah (pemberi hibah). 2.b) Benda tersebut mempunyai nilai. perjanjian hibah harus dilakukan dengan akta notaris (Pasal 1682 KUH Perdata). perjanjian hibah hanya dibolehkan terhadap barang-barang yang sudah ada pada saat penghibaan teriadi (Pasal 1667 KUH Perdata). perjanjian hibah hanya dapat dilakukan antara orang yang masih hidup (Pasal 1666 ayat (2) KUH Perdata). yaitu 1.

kecuali kalau gugatan untuk membatalkan penghibahan itu susah diajukan kepada dan didaftarkan di Pengadilan dan dimasukkan dalam pengumuman tersebut dalam Pasal 616 KUHPerdata.6. bebas dari semua beban dan hipotek yang mungkin diletakkan atas barang itu oleh penerima hibah serta hasil dan buah yang telah dinikmati oleh penerima hibah sejak ia alpa dalam memenuhi syarat-syarat penghibahan itu. Adapun hibah yang boleh ditarik hanyalah hibah yang dilakukan atau diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Dalam hal demikian penghibah boleh menjalankan hak-haknya terhadap pihak ketiga yang memegang barang tak bergerak yang telah dihibahkan sebagaimana terhadap penerima hibah sendiri. Semua . dihipotekkan atau dibebani dengan hak kebendaan lain oleh penerima hibah. Penarikan Kembali Hibah Penarikan kembali atas hibah adalah merupakan perbuatan yang diharamkan meskipun hibah itu terjadi antara dua orang yang bersaudara atau suami isteri. Suatu penghibahan tidak dapat dicabut dan karena itu tidak dapat pula dibatalkan. atau ia boleh meminta kembali barang itu. Dalam hal ini barang yang telah dihibahkan tidak boleh diganggu gugat jika barang itu hendak atau telah dipindahtangankan. kecuali dalam hal-hal berikut:  Jika syarat-syarat penghibahan itu tidak dipenuhi oleh penerima hibah Dalam hal yang ini barang yang dihibahkan tetap tinggal pada penghibah.  Jika orang yang diberi hibah bersalah dengan melakukan atau ikut melakukan suatu usaha pembunuhan atau suatu kejahatan lain atas diri penghibah.

. Artinya bahwa perjanjian yang tidak perlu dibuat dengan akta Notaris adalah seperti pemberian benda bergerak yang bertubuh atau Surat-Surat penagihan utang kepada si penunjuk dari tangan satu ke tangan lainnya. bila gugatan itu kemudian dimenangkan. Bentuk Perjanjian Hibah Bentuk perjanjian hibah diatur dalam Pasal 1682 sampai dengan Pasal 1687 KUH Perdata.pemindahtanganan.  Jika penghibah jatuh miskin sedang yang diberi hibah menolak untuk memberi nafkah kepadanya. sehingga hibah yang telah diberikan dapat dicabut atau ditarik kembali karena tidak dilakukannya pemberian nafkah 7. Ketentuan itu ada pengecualiannya. yang sah disimpan oleh Notaris. Dalam hal ini barang yang telah diserahkan kepada penghibah akan tetapi penerima hibah tidak memberikan nafkah. penghipotekan atau pembebanan lain yang dilakukan oleh penerima hibah sesudah pendaftaran tersebut adalah batal. Di dalam Pasal 1682 KUH Perdata ditentukan bahwa suatu perjanjian hibah dikatakan sah apabila dilakukan dengan akta notaris. Penyerahan dengan tanpa akta tetap dikatakan sah (Pasal 1687 KUH Perdata).

Peminjam wajib memakai benda menurut tujuan bend itu. maka ongkos-ongkos yang telah dikeluarkan tidak boleh ditagihkan kepada orang yang meminjamkan benda/barang tersebut. PINJAM-PAKAI (Bruiklening)-Pasal 1740-1753 KUH Perdata 1. beralih kepada ahli waris orang yang meminjamkan dan ahli waris peminjam. dalam mana pihak yang satu menyerahkan suatu barang untuk dipakai dengan cuma-cuma kepada pihak lain. setelah memakainya atau setelah lewat waktu yang ditentukan. Akan tetapi jika pemberian pinjaman dilakukan hanya kepada orang yang menerimanya dan khusus kepada orang itu sendiri. 3. akan mengembalikan barang itu. Peminjam wajib memelihara benda pinjaman tersebut. . dengan syarat. dapat menjadi pokok perjanjian ini. 2. Pengertian Pinjam Pakai Pinjam-pakai adalah suatu perjanjian. 4. Apabila barang yang dipinjam itu diperbaiki oleh peminjam. Semua perjanjian yang lahir dari perjanjian pinjam-pakai. bahwa pihak yang menerima barang itu.B. seolah-olah ia pemilik benda yang sebenarnya. Segala sesuatu yang dipergunakan orang dan tidak dapat musnah karena pemakaiannya. Peminjam wjib menjaga keselamatan atas benda yang dipinjam. Orang yang meminjamkan itu tetap menjadi pemilik mutlak barang yang dipinjamkannya itu. jadi pemakaian tidak boleh bertentangan dengan tujuannya. Kewajiban-kewajiban peminjam: 1. 2. maka semua ahli waris peminjam tidak dapat tetap menikmati barang pinjaman itu.

peminjam hanya memiliki hak pakai. 3) Kecuali jika yang meminjamkan mempunyai alasan yang cukup. Sipemilik barang meminjamkan barangnya kepada peminjam secara Cuma-Cuma ini sesuai dengan definisinya berdasarkan pasal 1740 pinjam pakai adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan suatu barang kepada pihak yang lainnya untuk dipakai dengan Cuma-Cuma. akan mengembalikannya. jika . maka ia dapat minta pertolongan hakim untuk memaksa peminjam mengembalikan barang tersebut. Dalam pinjam pakai hak kepemilikan barang tetap berada pada yang meminjamkan barang. 2) Yang meminjamkan tidak boleh meminta kembali barang yang dipinjamkan itu sebelum waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. dengan syarat bahwa yang menerima barang ini.barang yang dipinjamkan tidak habis atau musnah karena pemakaian. Namun. Dalam perjanjian pijam pakai. atau jiak tidak ada dijanjikan tentang waktu kapan barang itu harus dikembalikan. Kewajiban-kewajiban pihak yang meminjamkan barang: 1) Yang meminjamkan barang itu tetap menjadi pemilik ats barang yang dipinjamkan tersebut. maka yang meminjamkan boleh meminta barang itu setelah barang tersebut telah dianggap selesai digunakan untuk tujuan yang dimaksud.3. Perikatan-perikatan yang terbit dari perjanjian pinjam pakai berpindah kepada ahli waris pihak yang meminjamkan dan pada ahli waris yang meminjam. setelah memakainya atau setelah lewatnya suatu waktu tertentu.

peminjaman itu dilakukan karena mengingat orangnya dan diberikan khusus kepada si meninggal secara pribadi. Begitu pula bagian kedua dari pasl tersebut diatas. Apabila jabatan mereka berakhir maka mereka wajib mengembalikan mobil tersebut kepada instansi pejabat tersebut menjabat. sedangkan pihak yang meminjam hanya menggunakan tanpa ada balas prestasi kepada yang meminjamkan. Dapat dijadikan contoh. Sifatnya sepihak itu dinyatakan dengan rumusan “dipakai dengan Cuma-Cuma”. maka perjanjian pinjam pakai berakhir dan para ahli waris wajib mengembalikan barangnya. Perjanjian pinjam pakai ini merupakan contoh dari suatu perjanjian sepihak atau unilateral (dimana perkataan “sepihak” ditujukan pada hanya adanya prestasi dari satu pihak saja). dapat digunakan oleh mereka hanya selama menjabat. mobil dinas yang digunakan oleh pejabat selama menjabat.suatu peminjaman dilakukan karena mengingat orangnya yang menerima pinjaman dan telah diberikan khusus kepada orang tersebut secara pribadi. Sehingga didalam perjanjian pinjam pakai ini tidak . Namun jika pejabat yang dipinjamkan mobil tsebut meninggal maka perjanjian seketika itu juga berakhir dan para ahli waris diwajibkan mengembalikan mobil yang dipinjamkan tersebut. hak dan kewajiban itu tidak beralih kepada para ahli warisnya. maka para ahli waris orang ini tidak dapat tetap menikmati barang pinjaman itu hal ini berdasarkan pasal 1743. artinya hanya pihak yang meminjamkan yang berprestasi. Hal pertama yang tercantum dalam pasal tersebut sejalan dengan asas umum dari hukum pewarisan. Namun apabila hal tersebut (hak dan kewajiban) ada hubungannya yang sangat erat dengan pribadi si meninggal.

Penitipan barang dengan sukarela terjadi karena ada perjanjian timbal-balik antara pemberi titipan dan penerima titipan. Akan tetapi jika orang yang cakap untuk mengadakan perjanjian menerima titipan barang dari seseorang yang tidak cakap untuk itu. yaitu: 1. Penitipan murni dianggap dilakukan dengan cuma-cuma. maka ia harus memenuhi semua kewajiban seorang penerima titipan murni. bila tidak diperjanjikan sebaliknya. a) Penitipan murni. Namun begitu. penitipan murni (sejati) 2. C. Jika penitipan . bila orang menerima barang orang lain dengan janji untuk menyimpannya dan kemudian mengembalikannya dalam keadaan yang sama. Pengertian Penitipan Barang Penitipan barang terjadi. Jenis-Jenis Penitipan Barang Ada dua jenis penitipan barang. terdapat kewajiban-kewajiban bagi si peminjam dan yang meminjamkan.terdapat kontra prestasi. Penitipan barang dengan sukarela hanya dapat dilakukan antara orang orang yang cakap untuk mengadakan perjanjian. Penitipan demikian hanya mengenai barang-barang bergerak. PENITIPAN BARANG [Pasal 1694-1739 KUH Perdata 1. Perjanjian penitipan belum terlaksana sebelum barang yang bersangkutan diserahkan betul-betul atau dianggap sudah diserahkan. Penitipan barang terjadi secara sukarela atau secara terpaksa. sekuestrasi (penitipan dalam perselisihan). 2.

Si penerima titipan yang ditugaskan melakukan sekuestrasi tidak dapat dibebaskan dari kewajiban menyimpan barang titipan itu sebelum sengketa . Penitipan demikian terjadi karena perjanjian atau karena perintah hakim. diatur menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi penitipan dengan sukarela. Sekuestrasi terjadi karena suatu perjanjian. maka pemberi titipan dapat menuntut ganti rugi. bila barang yang dipersengketakan itu diserahkan kepada orang lain oleh seseorang atau lebih dengan sukarela. seperti kebakaran. Penitipan karena terpaksa ialah penitipan yang terpaksa dilakukan oleh karena terjadinya suatu malapetaka. karamnya kapal. kecuali mengenai hal-hal di bawah ini : Sekuestrasi dapat mengenai barang-barang tak bergerak dan barang-barang bergerak. b) Sekuestrasi Sekuestrasi ialah penitipan barang yang berada dalam persengketaan kepada orang lain yang mengikatkan diri untuk mengembalikan barang itu dengan semua hasilnya kepada yang berhak atasnya setelah perselisihan diputus oleh pengadilan. sejauh penerima titipan mendapat manfaat dari barang titipan tersebut. perampokan. banjir atau peristiwa lain yang tak terduga datangnya. Sekuestrasi tunduk pada semua aturan yang berlaku bagi penitipan murni. dapat menuntut pengembalian barang itu. Penitipan karena terpaksa. maka pemberi titipan. Tidak diharuskan bahwa sekuestrasi berlaku dengan cuma-cuma.. selama barang itu masih di tangan penerima titipan.barang dilakukan oleh seorang yang berhak kepada seorang yang belum cakap untuk membuat perjanjian. runtuhnya bangunan. tetapi jika barang itu tidak ada lagi di tangan penerima titipan.

dengan menunjukkan barangbarang yang dipercayakan kepadanya. seorang yang ditunjuk atas mupakat kedua belah pihak yang berperkara. Pengadilan dapat memerintahkan supaya dilakukan sekuestrasi: 1. 2. penyimpan tidak dapat menyanggah dengan mengatakan. Sekuestrasi atas perintah pengadilan terjadi bila pengadilan memerintahkan supaya suatu barang dititipkan kepada orang lain selama sengketa tentang barang itu belum dapat diselesaikan. atas barang-barang bergerak yang telah disita dari tangan seorang debitur. yang hak milik mutlak (eigendom) atau besit atas barang itu menjadi sengketa antara dua orang atau lebih. bahwa perhitungan itu sudah disetujui oleh pengadilan. . orang yang telah diserahi urusan itu harus memenuhi semua kewajiban yang ditetapkan dalam perjanjian tentang sekuestrasi itu. kecuali bila orang-orang yang berkepentingan telah memberi izin untuk itu. dan atas tuntutan kejaksaan. atas suatu barang bergerak atau barang tak bergerak. ia wajib menyerahkan suatu perhitungan ringkas setiap tahun kepada hakim tentang urusan penitipan barang itu. tetapi jika perhitungan itu kemudian tidak disetujui oleh orang-orang yang berkepentingan. atau bila ada alasan yang sah. Dalam kedua hal tersebut. atau kepada orang lain yang Sekuestrasi dari pengadilan ditugaskan kepada diangkat oleh pengadilan karena jabatan.diselesaikan.

maupun untuk dikembalikan kepada orang yang barangnya kena sita. 3.3. . atas barang-barang yang ditawarkan oleh seorang debitur untuk membayar utangnya. Penyimpanan tidak berhak menyelidiki barang yang dititipkan jika barang tersebut berada dalam peti atau disegel. Barang yang dititipkan harus dikembalikan kepada yang menitipkan jika yang menitipkan menghendakinya. 2. bila kekurangankekurangan itu tidak terjadi karena kesalahan si penyimpan. Penyimpanan hanya wajib mengembalikan titipan dalam keadaan seperti adanya ketika pengembaliannya itu berlaku. Kewajiban penyitaialah membayar upah penyimpan yang ditentukan dalam undang-undang 3. Pengangkatan seorang penyimpan oleh pengadilan. Penyimpan wajib memelihara barang yang disita itu sebagai seorang kepala rumah tangga yang baik. menimbulkan kewajibankewajiban timbal-balik antara penyita dan penyimpan. sedang kekurangankekurangan yang terdapat pada barang tersebut. jika penyitaan atas barangnya itu telah dicabut. Ia wajib menyerahkan barang itu. Penyimpanan harus menjaga barang yang dititipkan sebagai barangnya sendiri. baik untuk dijual guna melunasi piutang si penyita. kecuali jika barang yang dititipkan tersebut disita. menjadi tanggung jawab pemberi titipan sendiri. walaupun sudah ada persetujuan mengenai waktu pengambilan. 4. Kewajiban penyimpanan: 1.

agar barang tersebut diambil pada waktu yang tertentu. maka ia wajib memberitahukan hal tersebut kepada pemilik yang sebenarnya.4. Hak penyimpanan: Penyimpanan tidak berhak meminta bukti bahwa yang menitipkan barang tersebut adalah betul-betul pemilik dari barang yang akan dititipkan.com/2011/03/perjanjian-pinjam-pakai-dan-perjanjian. Tetapi jika penyimpanan mengetahui bahwa barang yang dititipkan itu adalah barang curian dan ia mengetahui pemilik barang tersebut yang sesungguhnya.html . Tetapi jika pemilik yang sebenarnya itu lupa untuk mengembalikan. http://daralinchavb.blogspot. maka penyimpan bebas untuk menyerahkan kembali titipan kepada orang yang menyimpan itu (dari siapa barang itu diterimanya kepada si pemberi titipan).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->