Anda di halaman 1dari 78

i

PEMBAGIAN HARTA BERSAMA SUAMI ISTERI MENURUT


FIQH DAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
(Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga Tahun 2000 dan 2004)


SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Kewajiban Dan Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Agama Dalam Ilmu Hukum Islam



Oleh :
SITI NAFIAH
NIM. 211 02 005


JURUSAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2007
ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ------------------------------------------------------------------ i
HALAMAN NOTA PEMBIMBING ------------------------------------------------ ii
HALAMAN DEKLARASI ----------------------------------------------------------- iii
HALAMAN PENGESAHAN -------------------------------------------------------- iv
HALAMAN MOTTO ----------------------------------------------------------------- v
HALAMAN PERSEMBAHAN ----------------------------------------------------- vi
KATA PENGANTAR --------------------------------------------------------------- vii
DAFTAR ISI ------------------------------------------------------------------------- viii

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1
B. Pokok Masalah ........................................................................... 4
C. Tujuan dan Kegunaan .................................................................... 4
D. Telaah Pustaka ............................................................................... 5
E. Kerangka Teori .............................................................................. 7
F. Metode Penelitian .......................................................................... 9
G. Sistematika Pembahasan ............................................................... 11

BAB 11 PEMBAGIAN HARTA BERSAMA MENURUT FIQH DAN
PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
A. Pengertian Harta Bersama ............................................................ 13
B. Pembagian Harta Bersama
1. Menurut Fiqh ........................................................................... 18
2. Menurut Perundang-Undangan di Indonesia ........................... 21
BAB 111 KASUS-KASUS PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DI PA.
SALATIGA
A. Sejarah PA. Salatiga ................................................................... 28
B. Kedudukan dan Kewenangan PA. Salatiga ................................ 31
C. Struktur PA. Salatiga ................................................................. 35
iii
D. Putusan Kasus Pembagian Harta Bersama di PA. Salatiga ....... 36
E. Pertimbangan Hakim dalam Memutuskan Perkara Pembagian Harta
Bersama ...................................................................................... 47

BAB 1V ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP PEMBAGIAN HARTA
BERSAMA
A. Analisis Putusan Hakim Terhadap Pembagiam Harta Bersama Ditinjau
dari Fiqh dan Perundang-Undangan di Indonesia ........................ 55
B. Analisis Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Terhadap Pembagian
Harta Bersama di PA. Salatiga .................................................. 62

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................. 68
B. Saran ......................................................................................... 70

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN
















1
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami isteri.
1

Tujuan Perkawinan menurut UUP No. 1 tahun 1974 adalah bahwa
perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
2

Pada prinsipnya suatu perkawinan ditujukan untuk selama hidup dan
kebahagiaan bagi pasangan suami isteri yang bersangkutan. Keluarga yang
kekal dan bahagia, itulah yang dituju. Banyak faktor yang memicu keretakan
bangunan rumah tangga, dan perceraian menjadi jalan terakhir.
Perkawinan mempunyai akibat hukum tidak hanya terhadap diri
pribadi mereka-mereka yang melangsungkan pernikahan, hak dan kewajiban
yang mengikat pribadi suami isteri, tetapi lebih dari itu mempunyai akibat
hukum pula terhadap harta suami isteri tersebut. Hubungan hukum
kekeluargaan dan hubungan hukum kekayaannya terjalin sedemikian eratnya,
sehingga keduanya memang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.
Hubungan hukum kekeluargaan menentukan hubungan hukum kekayaannya

1
Undang-undang Perkawinan Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974, Penerbit Arkola,
Surabaya, hlm. 1
2
Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis UU No. 1 Tahun 1974
dan KHI, Bumi Aksara, Jakarta, Cet. I, 1996, hlm. 28
2
dan hukum harta perkawinan tidak lain merupakan hukum kekayaan
keluarga.
3

Sebagaimana diketahui bahwa setiap perkawinan masing-masing pihak
dari suami atau isteri mempunyai harta yang dibawa dan diperoleh sebelum
melakukan akad perkawinan. Suami atau isteri yang telah melakukan
perkawinan mempunyai harta yang diperoleh selama perkawinan yang disebut
harta bersama. Meskipun harta bersama tersebut hanya suami yang bekerja
dengan berbagai usahanya sedangkan isteri berada di rumah dengan tidak
mencari nafkah melainkan hanya mengurus rumah tangga dan anak-anaknya.
4

Suami maupun isteri mempunyai hak untuk mempergunakan harta
bersama yang telah diperolehnya tersebut selagi untuk kepentingan rumah
tangganya tentunya dengan persetujaun kedua belah pihak. Dan ini berbeda
dengan harta bawaan yang keduanya mempunyai hak untuk
mempergunakannya tanpa harus ada persetujuan dari keduanya atau masing-
masing berhak menguasainya sepanjang para pihak tidak menentukan lain,
sebagaimana yang diatur dalam UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 35.
5

Dalam hukum Islam tentang harta bersama suami isteri terdapat dalam
surat An Nisa ayat 32 yang berbunyi :

3
J. Satrio, Hukum Harta Perkawinan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, Cet. 1, 1991,
hlm. 5
4
Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Cet. II, Bumi Aksara, Jakarta, 1999,
hlm. 231-232
5
Hilma Hadi Kusuma, Hukum Perkawinan Adat,, Aditya Bakti, Bandung, cet. 1V, 1999, hlm. 155
3
#G? $ !# / 3 / ? / %`=9 '= $
#6 K2# $=9 '= $ G.# #=` !# &# ) !#
%2 3/ `_ $=

Artinya : Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan
Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang
lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa
yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian
dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah
sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.

Dalam istilah muamalah harta bersama disebut syirkah inah yaitu join
antara suami dan isteri dalam mengelola harta bersama.
6

Kasus-kasus mengenai harta bersama yang telah diputus di PA.
Salatiga yaitu:
1. Putusan No: 482/Pdt. G/2000/PA. Sal. Dalam kasus ini Penggugat dan
Tergugat mempermasalahkan harta bersama yang berupa rumah yang
belum dibagi. Selain itu harta bawaan milik Penggugat masih ada yang
dikuasai oleh Tergugat dan sebagian harta bawaan Penggugat telah
dijual oleh Tergugat.
2. Putusan No: 326/Pdt. G/2004/PA. Sal. Dalam kasus ini harta pribadi dari
Penggugat dikuasai oleh Tergugat sehingga menyebabkan perselisihan
diantara keduanya. Hal ini yang membuat penelitian ini menjadi
menarik. Dalam KHI pasal 87 disebutkan bahwa harta bawaan dari

6
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Cet. 3,
1998, hlm. 200-201
4
masing-masing pihak tetap menjadi hak suami atau isteri yang
bersangkutan.
Sedang dalam Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974
mengenai harta bersama juga disebutkan harta bawaan dari masing-masing
suami dan isteri sepenuhnya menjadi hak dari masing-masing untuk
mempergunakannya.
Sebagaimana diuraikan di atas maka penyusun tertarik untuk meneliti
permasalahan yang terdapat di PA. Salatiga mengenai pembagian harta
bersama, dengan judul Pembagian Harta Bersama Suami Isteri Menurut Fiqh
dan Perundang-Undangan di Indonesia ( Studi Kasus di PA. Salatiga Tahun
2000 dan 2004 ).
B. Pokok Masalah
Dari uraian di atas, ada beberapa pokok masalah yang menjadi bahasan
utama, yaitu :
1. Bagaimana pengertian harta bersama menurut Fiqh dan Perundang-
undangan di Indonesia?
2. Bagaimana proses pelaksanaan pembagian harta bersama di PA. Salatiga?
3. Apakah pembagian harta bersama dalam kasus perkara yang terjadi di PA.
Salatiga sudah sesuai dengan Fiqh dan Perundang-undangan di Indonesia?
C. Tujuan dan Kegunaan
Sesuai dengan pokok masalah yang telah dirumuskan di depan,
penelitian ini mempunyai tujuan dan kegunaan sebagai berikut :
5
1. Untuk mengetahui pengertian harta bersama suami isteri (gono gini) yang
disebabkan perceraian menurut Fiqh dan Perundang-undangan di
Indonesia.
2. Untuk mengetahui bagaimana Pengadilan Agama Salatiga dalam
memproses perkara gono gini jika terjadi pemutusan perkawinan karena
perceraian.
3. Untuk mengetahui apakah proses pembagian harta bersama yang
dilakukan Pengadilan Agama Salatiga sesuai dengan Fiqh dan Perundang-
undangan di Indonesia.
Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang harta benda dalam
perkawinan khususnya harta bersama terutama dalam berperkara di
Pengadilan Agama Salatiga.
2. Dengan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai kontribusi dalam ilmu
pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan masalah harta bersama
suami isteri dalam perkawinan.
3. Untuk memenuhi tugas dan persyaratan dalam memperoleh gelar
kesarjanaan (S1) dalam bidang ilmu syariah.
D. Telaah Pustaka
Mohd. Idris Ramulyo, dalam bukunya Hukum Perkawinan Islam suatu
Analisis dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum
Islam menuliskan tentang macam-macam harta yang dikenal dalam lembaga
6
hukum, seperti hukum adat, kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW),
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, dan menurut hukum Islam.
7

Ahmad Rofiq, dalam bukunya Hukum Islam di Indonesia menuliskan
tentang harta kekayaan dalam perkawinan. Hal ini sesuai dengan Undang-
undang No. 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Adanya harta bersama
dalam perkawinan tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-
masing suami isteri, seperti yang disebut dalam pasal 85 KHI.
8

Ahmad Azhar Basyir, dalam bukunya Hukum Perkawinan Islam
menyebutkan bahwa hukum Islam memberi hak kepada masing-masing suami
isteri untuk memiliki harta benda secara perseorangan, yang tidak dapat
diganggu oleh pihak lain. Suami atau isteri yang menerima pemberian,
warisan dan sebagainya tanpa ikut sertanya pihak lain berhak menguasai
sepenuhnya harta benda yang diterimanya itu. Harta bawaan yang mereka
miliki sebelum perkawinan juga menjadi hak masing-masing pihak.
9

Dalam Kompilasi Hukum Islam, mengatur tentang harta kekayaan
dalam Islam yang terdiri dari 13 pasal yaitu pasal 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91,
92, 93, 94, 95, 96, 97. Adanya harta bersama dalam perkawinan tidak menutup
kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri. Dalam
pasal-pasal yang lain juga diatur tentang harta bawaan suami atau isteri, harta
bersama bagi seorang yang mempunyai isteri lebih dari 1 orang, pembagian
harta bersama suami isteri bila terjadi perceraian, baik cerai mati atau cerai
hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama.
10


7
Modh. Idris Ramulyo, op, cit., hlm. 235
8
Ahmad Rofiq, op.cit., hlm. 205
9
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Perpustakaan Fakultas Hukum UII,
Yogyakarta, cet. 8, 1996, hlm. 61
10
KHI Seri Perundangan, Pustaka Widyatama, Yogyakarta, cet. 1, Juli, 2004, hlm. 45
7
Undang-undang No. 1 Tahun 1974 dengan penjelasannya PP Nomor 9
tahun 1975 mengatur tentang harta benda dalam perkawinan. UUP No. 1
Tahun 1974 ini menyebutkan harta benda yang diperoleh selama perkawinan
menjadi harta bersama. Suami atau isteri dapat bertindak terhadap harta
bersama sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak. Mengenai harta bawaan
masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan
perbuatan hukum mengenai harta bendanya. Apabila perkawinan putus karena
perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.
11

Siti Kholifah, dalam skripsinya Tinjauan Hukum Islam Terhadap
Pelaksanaan Maritale Beslag di Pengadilan Agama Semarang menuliskan
tentang sita harta perkawinan. Hak mengajukan Maritale beslag ini timbul bila
terjadi sengketa perceraian suami isteri, maka selama pemeriksaan berlangsung
para pihak berhak mengajukan permohonan sita atas harta perkawinan.
12

Bahwa permasalahan mengenai pembagian harta bersama suami isteri
menurut fiqh dan perundang-undangan di Indonesia belum pernah dibahas.
E. Kerangka Teori
Beberapa teori yang digunakan dalam rangka penelitian sebagai
landasan berfikir dan sebagai alat analisis adalah sebagai berikut :
1. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam Bab
XIII tentang harta kekayaan dalam Islam, terutama pasal 85, 86, 87, 88,
89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, serta pasal 97.

11
UUP Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974, Arkola, Surabaya, hlm. 13
12
Siti Kholifah, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Maritale Beslag di PA.
Semarang, Skripsi Guna Memperoleh Gelar Sarjana Dalam Bidang Hukum Islam, STAIN
Salatiga, 2003/2004, hlm. 2
8
2. Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 bab VII tentang harta
benda dalam perkawinan yang terdiri dari 3 pasal yaitu :
Pasal 35 ayat 1 : Harta benda yang diperoleh selama perkawinan
menjadi harta bersama.
Pasal 36 ayat 1 : Mengenai harta bersama suami atau isteri dapat
bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.
Pasal 37 : Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama
diatur menurut hukumnya masing-masing
3. Harta bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan
diluar hadiah atau warisan, maksudnya adalah harta yang didapat atas
usaha mereka sendiri selama masa ikatan perkawinan.
13

4. Firman Allah surat An Nisa ayat 34



Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki)
atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-
laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
14


Menurut Bachtiar Surin maksud dari ayat tersebut yaitu:
Kaum pria itu pelindung kaum wanita. Karena Allah telah
melebihkan golongannya dari golongan perempuan. Lagi pula
kedudukannya sebagai orang yang memberi nafkah dengan hartanya.
Perempuan yang baik adalah perempuan yang patuh, memelihara

13
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. 3,
1998, hlm. 200
14
Departemen Agama RI, Al Qur'an dan Terjemahnya, Jakarta, 1978, hlm. 122
9
kehormatannya, terutama sepeninggal suami. Wanita yang kamu
khawatirkan kedurhakaannya, berilah pengajaran yang baik, hukumlah
dengan berpisah tidur, dan pukullah. Tetapi jika telah mematuhimu,
janganlah kamu cari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Maksud menjaga dan memelihara, karena laki-laki memiliki
kelebihan kekuatan jasmani. Sedangkan maksud diberi pengajaran secara
bertahap yaitu mula-mula diberikan nasihat, kalau tidak menurut
dilakukan berpisah tidur, bila tidak juga menurut barulah dipukul, tetapi
pukulan ini tidak boleh terlalu menyakiti dan melukai.
15


F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian diskriptif.
16

Yaitu dengan memaparkan, menggambarkan data secara sistematik
sehingga data yang berhubungan dengan perkara harta bersama karena
pemutusan perkawinan, dapat dinilai secara objektif.
2. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang berhubungan dengan penelitian ini,
penulis menggunakan sumber data antara lain :
a. Studi pustaka, yaitu penelitian yang mengambil data dari bahan-bahan
tertulis khususnya berupa teori-teori.

15
Bachtiar Surin, Terjemah dan Tafsir Al-Quran, Sumatra, Bandung, hlm. 168-169
16
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Bina Aksara, Jakarta, 1989, hlm. 196
10
b. Dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, buku-buku, surat kabar, majalah dan sebagainya.
17

Dalam metode ini penulis menggunakan, memeriksa dan meneliti
berkas perkara berupa arsip-arsip yang ada di Pengadilan Agama
Salatiga yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti.
c. Wawancara, yaitu suatu proses tanya jawab untuk memperoleh
informasi secara langsung, kepada hakim dan panitera Pengadilan
Agama Salatiga.
3. Metode Analisis Data
Yaitu penanganan terhadap suatu objek ilmiah tertentu dengan
jalan memilah-milah antara pengertian yang satu dengan pengertian yang
lain untuk memperoleh kejelasan mengenai halnya.
18

Adapun metode analisis data dalam penelitian ini adalah :
a. Metode Deduktif
Yaitu metode yang bertitik tolak dari suatu pengamatan
terhadap persoalan yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan
yang bersifat khusus.
b. Metode Induktif
Yaitu berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-
peristiwa yang konkret kemudian dari peristiwa yang khusus itu ditarik
generalisasi yang bersifat umum.
19


17
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Praktek Pendekatan, Rineka Cipta,
Jakarta, 1997, hlm. 135
18
Soerjono Soekamto, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Nur Cahaya, Yogyakarta, 1989,
hlm. 136
19
Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, Yayasan Penerbit Fakultas Psikilogi UGM,
Yogyakarta, 1991, hlm. 42
11
c. Metode Komparasi
Yaitu cara pembahasan dengan mengadakan analisa
perbandingan antara beberapa pendapat, kemudian diambil suatu
pengertian atau kesimpulan yang memiliki faktor-faktor yang ada
hubungannya dengan situasi yang diselidiki dan dibandingkan antara
satu faktor dengan faktor yang lain.
20

G. Sistematika Pembahasan
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Pokok Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan
D. Telaah Pustaka
E. Kerangka Teoritik
F. Metodologi Penelitian
G. Sistematika Pembahasan
BAB II : PEMBAGIAN HARTA BERSAMA MENURUT FIQH DAN
PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA
A. Pengertian Harta Bersama
B. Pembagian Harta Bersama
1. Menurut Fiqih
2. Menurut Perundang-Undangan di Indonesia

20
Winarno Surachman, Dasar-dasar dan Tekhnik Riset, Tarsito, Bandung, 1978,
hlm. 135
12
BAB III : KASUS-KASUS PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DI PA
SALATIGA
A. Sejarah PA. Salatiga
B. Kedudukan dan Kewenangan PA. Salatiga
C. Struktur PA. Salatiga
D. Putusan Terhadap Kasus Pembagian Harta Bersama di PA.
Salatiga
1. Putusan Nomor : 326/Pdt. G/2004/PA Salatiga
2. Putusan Nomor : 482/Pdt. G/2000/PA Salatiga
E. Pertimbangan Hakim dalam Memutuskan Perkara Pembagian
Harta Bersama
BAB IV : ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP PEMBAGIAN
HARTA BERSAMA
A. Analisis Putusan Hakim Terhadap Pembagian Harta Bersama
Ditinjau dari Fiqh dan Perundang-Undangan
B. Analisis Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Terhadap
Pembagian Harta Bersama di PA. Salatiga dengan Putusan:
1. Putusan Nomor : 326/Pdt. G/2004/PA Salatiga
2. Putusan Nomor : 482/Pdt. G/2000/PA Salatiga
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

13
BAB II
PEMBAGIAN HARTA BERSAMA MENURUT FIQH DAN
PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA

A. Pengertian Harta Bersama
Dari segi bahasa harta yaitu barang-barang (uang dan sebagainya)
yang menjadi kekayaan.
21
Sedangkan yang dimaksud harta bersama yaitu
harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan di luar hadiah atau warisan.
Maksudnya adalah harta yang didapat atas usaha mereka atau sendiri-sendiri
selama masa ikatan perkawinan.
22

Dalam harta benda, termasuk di dalamnya apa yang dimaksud harta
benda perkawinan adalah semua harta yang dikuasai suami isteri selama
mereka terikat dalam ikatan perkawinan, baik harta kerabat yang dikuasai,
maupun harta perorangan yang berasal dari harta warisan, harta penghasilan
sendiri, harta hibah, harta pencarian bersama suami isteri dan barang-barang
hadiah.
23

Pencahariaan bersama suami isteri atau yang disebut harta bersama
atau gono gini ialah harta kekayaan yang dihasilkan bersama oleh suami isteri
selama mereka diikat oleh tali perkawinan. Hal ini termuat dalam UU
Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Sebenarnya harta bersama ini berasal dari
hukum adat yang pada pokoknya sama di seluruh wilayah Indonesia, yaitu

21
Depdikbad, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1989, cet.2, hlm 199
22
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hlm.
200
23
Hilma Hadi Kusumo, Hukum Perkawinan Adat, Aditya Bakti, Bandung, cet. IV, 1999,
hlm. 156
14
adanya prinsip bahwa masing-masing suami dan isteri, masih berhak
menguasai harta bendanya sendiri sebagai halnya sebelum mereka menjadi
suami isteri. Mengenai harta bersama dapat dimasukkan dalam istilah syirkah
(perkongsian).

B. Pembagian Harta Bersama Menurut Fiqh dan Perundang-Undangan di
Indonesia
1. Menurut Fiqh
Harta bersama atau gono-gini yaitu harta kekayaan yang dihasilkan
bersama oleh pasangan suami isteri selama terikat oleh tali perkawinan,
atau harta yang dihasilkan dari perkongsian suami isteri.
Untuk mengetahui hukum perkongsian ditinjau dari sudut Hukum
Islam, maka perlu membahas perkongsian yang diperbolehkan dan yang
tidak diperbolehkan menurut pendapat para Imam madzhab. Dalam kitab-
kitab fiqh, perkongsian itu disebut sebagai syirkah atau syarikah yang
berasal dari bahasa Arab. Para ulama berbeda pendapat dalam membagi
macam-macam syirkah. Adapun macam-macam syirkah yaitu :
1. Syirkah Milk ialah perkongsian antar dua orang atau lebih terhadap
sesuatu tanpa adanya sesuatu aqad atau perjanjian.
2. Syirkah Uquud yaitu beberapa orang mengadakan kontrak bersama
untuk mendapat sejumlah uang. Syirkah ini berjumlah 6 (enam )
macam yaitu :
15
a. Syirkah Mufawadlah bil Amwal (perkongsian antara dua orang
atau lebih tentang sesuatu macam perniagaan).
b. Syirkah Inan bil Amwal ialah perkongsian antara dua orang atau
lebih tentang suatu macam perniagaan, atau segala macam
perniagaan .
c. Syirkatul Abdan Mufawadlah yaitu perkongsian yang bermodal
tenaga.
d. Syirkatul Abdan Inan ialah kalau perkongsian tenaga tadi
disyaratkan perbedaan tenaga kerja dan perbedaan tentang upah.
e. Syirkatul Wujuh Mufawadlah yaitu perkongsian yang
bermodalkan kepercayaan saja.
f. Syirkatul Wujuh Inan yaitu perkongsian kepercayaan tanpa
syarat.
Syirkah Inan disepakati oleh ulama tentang bolehnya, sedangkan
syirkah mufawadlah hukumnya boleh menurut mazhab Hanafi, Maliki,
Hambali. Tetapi menurut madzhab Syafii tidak boleh. Abu Hanifah
mensyaratkan sama banyak modal antara masing-masing peserta
perkongsian. Untuk Syirkah Abdan boleh menurut madzhab Hanafi,
Maliki, dan Hambali, dan tidak boleh menurut madzhab Syafii. Bedanya
Imam Malik mensyaratkan pekerjaan yang mereka kerjakan harus sejenis
16
dan setempat. Syirkah wujuh boleh menurut Ulama Hanafiah dan Ulama
Hanabilah dan menurut Imam Maliki dan Syafii tidak boleh.
24

Alasan Imam Syafii tidak membolehkan syirkah mufawadlah
karena nama perkongsian itu percampuran modal. Imam Malik
berpendapat, bahwa dalam syirkah mufawadlah masing-masing kongsi
telah menjualkan sebagian dari hartanya dan juga mewakilkan kepada
kongsinya yang lain. Tetapi Imam Syafii menolak pendapat ini, bahwa
perkongsian bukan jual beli dan bukan pula memberikan kuasa.
Alasan Imam Syafii tidak membolehkan syirkah abdan karena
perkongsian hanya berlaku pada harta, bukan pada tenaga. Alasan Imam
Malik membolehkan perkongsian tenaga karena orang yang berperang
sabil juga berkongsi tentang ghanimah.
25

Dari macam-macam syirkah serta adanya perbedaan pendapat dari
para Imam madzhab dan melihat praktek gono-gini dalam masyarakat
Indonesia dapat disimpulkan bahwa harta gono-gini termasuk dalam
syirkah abdan / mufawadlah.
Praktek gono-gini dikatakan syirkah abdan karena kenyataan
bahwa sebagian besar dari suami isteri dalam masyarakat Indonesia sama-
sama bekerja membanting tulang berusaha mendapatkan nafkah hidup
keluarga sehari-hari dan sekedar harta simpanan untuk masa tua mereka,
kalau keadaan memungkinkan juga untuk meninggalkan kepada anak-anak

24
Abd. Rahman Al-Jaziry, Al-Fiqhu Alal L-Madzaahibil Al-Arbaah Jilid III,
Darul Kutub Al Ilmiah, Beirut, 1990 M / 1410 H, hlm. 71
25
Ibnu Rusyd Al Qurtuby Al andalusy, Bidayatul l-Mujtahid Juz 2, Darul Fikr,Beirut, tt, hlm.
192
17
mereka sesudah mereka meninggal dunia. Suami isteri di Indonesia sama-
sama bekerja mencari nafkah hidup. Hanya saja karena fisik isteri berbeda
dengan fisik suami maka dalam pembagian pekerjaan disesuaikan dengan
keadaan fisik mereka. Selanjutnya dikatakan syirkah mufawadah karena
memang perkongsian suami isteri itu tidak terbatas. Apa saja yang mereka
hasilkan selama dalam masa perkawinan mereka termasuk harta bersama,
kecuali yang mereka terima sebagai warisan atau pemberian khusus untuk
salah seorang diantara mereka berdua.
26

Pada perkongsian gono-gini tidak ada penipuan, meskipun
barangkali pada perkongsian tenaga dan syirkah mufawadlah terdapat
kemungkinan terjadi penipuan. Sebab perkongsian antara suami isteri, jauh
berbeda sifatnya dengan perkongsian lain. Waktu dilakukan ijab qobul
akad nikah, perkawinan itu dimaksudkan untuk selamanya. Perkongsian
suami isteri tidak hanya mengenai kebendaan tetapi juga meliputi jiwa dan
keturunan.
27

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid, menerangkan bahwa alasan Imam
Syafii tidak membolehkan perkongsian tenaga dan perkongsian
kepercayaan ialah karena pengertian syirkah menghendaki percampuran,
dan percampuran itu hanya dapat terjadi pada modal, sedang pada
perkongsian tenaga dan kepercayaan tidak ada modal. Dalam hal ini hanya
madzhab syafii saja yang tidak membolehkan.

26
Ismuha, Pencaharian Bersama Suami Isteri di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta, Cet. 11,
1978, hlm. 78-79
27
Ibid., hlm. 102-103
18
Secara logika perkongsian itu boleh karena merupakan jalan untuk
mendapatkan karunia Allah, seperti dalam firman Allah surat Al-Jumah
ayat 10. Adapun bunyi ayat tersebut yaitu :

"Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebarlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah"
Mengingat perkongsian itu banyak macamnya terjadilah selisih
pendapat tentang kebolehannya. Perkongsian yang menurut ulama tidak
diperbolehkan yaitu yang mengandung penipuan
Dalam kaitannya dengan harta kekayaan disyariatkan peraturan
mengenai muamalat. Karena harta bersama atau gono-gini hanya dikenal
dalam masyarakat yang adatnya mengenal percampuran harta kekayaan
maka untuk menggali hukum mengenai harta bersama digunakan qaidah
kulliyah yang berbunyi :

adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum
28

Dasar hukum dari qaidah di atas yaitu firman Allah surat al
Baqoroh ayat 233 yang berbunyi

Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka
dengan cara yang patut


28
Asjmuni A. Rahman, Qaidah-Qaidah Fiqih ( Qawaidul Fiqhiyyah ), Bulan Bintang,
Jakarta, Cet. 1,1976, hlm. 88
19
Dalam ayat itu Allah menyerahkan kepada urf penentuan jumlah
sandang pangan yang wajib diberikan oleh ayah kepada isteri yang
mempunyai anaknya.
Qaidah Al-Adatu Mukhakkamah dapat digunakan dengan syarat-
syarat tertentu.
1 Adat kebiasaan dapat diterima oleh perasaan sehat dan diakui oleh
pendapat umum.
2 Berulang kali terjadi dan sudah uimum dalam masyarakat.
3 Kebiasaan itu sudah berjalan atau sedang berjalan, tidak boleh adat
yang akan berlaku.
4 Tidak ada persetujuan lain kedua belah pihak, yang berlainan dengan
kebiasaan.
5 Tidak bertentangan dengan nash.
29

Hukum Quran tidak ada memerintahkan dan tidak pula melarang
harta bersama itu dipisahkan atau dipersatukan. Jadi, dalam hal ini hukum
Quran memberi kesempatan kepada masyarakat manusia itu sendiri untuk
mengaturnya. Apakah peraturan itu akan berlaku untuk seluruh masyarakat
atau hanya sebagai perjanjian saja antara dua orang bakal suami isteri
sebelum diadakan perkawinan. Tentu saja isi dan maksud peraturan atau
perjanjian itu tidak boleh bertentangan dengan Quran dan Hadits.
30

Masalah harta bersama ini merupakan masalah Ijtihadiyah karena
belum ada pada saat madzhab-madzhab terbentuk. Berbagai sikap dalam

29
Hasbi Ash. Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, Bulan Bintang, Jakarta, cet. 1, 1975,
hlm. 477
30
Abdoerraoef, Al-Quran dan Ilmu Hukum Sebuah Studi Perbandingan, Jakarta, Bulan
Bintang, Cet. 11, 1986, hlm. 113
20
menghadapi tantangan ini telah dilontarkan. Satu pihak berpegang pada
tradisi dan penafsiran ulama mujtahid terdahulu, sedang pihak lain
perpegang pada penafsiran lama yang tidak cukup untuk menghadapi
perubahan sosial yang ada. Sehingga masalah harta bersama ini perlu
dibahas dalam KHI dan UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 agar umat
Islam di Indonesia mempunyai pedoman fiqh yang seragam dan telah
menjadi hukum positif yang wajib dipatuhi, sehingga terjadi keseragaman
dalam memutuskan perkara di Pengadilan.
Pengadilan Agama dalam menetapkan putusan maupun fatwa
tentang harta bersama mengutip langsung ketentuan hukum yang ada
dalam Al-Quran karena tidak dikenal dalam referensi syafiiyah. Lebih
jauh lagi dalam menetapkan porsi harta bersama untuk suami isteri
digunakan kebiasaan yang berlaku setempat, sehingga terdapat penetapan
yang membagi dua harta bersama di samping terdapat pula penetapan yang
membagi dengan perbandingan dua banding satu. Selain itu di Amuntai
harta bersama dibagi sesuai dengan fungsi harta itu untuk suami atau
untuk isteri.
21
2. Menurut Perundang-undangan di Indonesia
Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 dalam
pasal 1 mengatakan bahwa :
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami isteri, dengan tujuan untuk membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal, berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa.
31

Dalam pasal tersebut tersimpul adanya asas, bahwa antara suami
isteri terdapat ikatan yang erat sekali, yang meliputi tidak hanya ikatan
lahir, ikatan yang nampak dari luar atau ikatan terhadap / atas dasar benda
tertentu yang mempunyai wujud, tetapi meliputi ikatan jiwa, batin atau
ikatan rohani. Jadi menurut asasnya suami isteri bersatu, baik dalam segi
materiil maupun dalam segi spiritual.
32

Mengenai Harta Benda dalam perkawinan diatur dalam pasal 35 Undang-
Undang No. 1 Tahun 1974 menentukan :
a. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta
bersama.
b. Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda
yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah di
bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak
menentukan lain.

31
UUP No. 1 Tahun 1974, Penerbit Arkola Surabaya, hlm. 1
32
J. Satrio, Hukum Harta Perkawinan, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, Cet.
1, 1991, hlm. 185 16
22
Dari pasal tersebut dapat disimpulkan, bahwa menurut Undang-Undang
Perkawinan, di dalam satu keluarga mungkin terdapat lebih dari satu
kelompok harta. Hal ini berlainan sekali dengan sistem yang dianut B.W
yaitu bahwa dalam satu keluarga pada asasnya hanya ada satu kelompok
harta saja yaitu harta persatuan suami isteri. Menurut UU No. 1 / 1974
kelompok harta yang mungkin terbentuk adalah :
a. Harta bersama
Menurtu pasal 35 UU No. 1 tahun 1974, harta bersama suami isteri,
hanyalah meliputi harta-harta yang diperoleh suami isteri sepanjang
perkawinan saja. Artinya harta yang diperoleh selama tenggang waktu,
antara saat peresmian perkawinan, sampai perkawinan tersebut putus,
baik terputus karena kematian salah seorang diantara mereka (cerai
mati), maupun karena perceraian (cerai hidup). Dengan demikian,
harta yang telah dipunyai pada saat di bawa masuk ke dalam
perkawinan terletak di luar harta bersama.
33

Ketentuan tersebut di atas tidak menyebutkan dari mana atau dari siapa
harta tersebut berasal, sehingga boleh kita simpulkan, bahwa termasuk
harta bersama adalah :
1) Hasil dan pendapatan suami.
2) Hasil dan pendapatan isteri.

33
Ibid., hlm. 188 - 189
23
3) Hasil dan pendapatan dari harta pribadi suami maupun isteri,
sekalipun harta pokoknya tidak termasuk dalam harta bersama, asal
kesemuanya diperoleh sepanjang perkawinan.
Dengan demikian suatu perkawinan, (paling tidak bagi mereka yang
tunduk pada Hukum Adat) yang dilangsungkan sesudah berlakunya
UUP tidak mungkin mulai dengan suatu harta bersama dengan saldo
yang negatif, paling-paling, kalau suami isteri tidak membawa apa-apa
dalam perkawinannya, maka harta bersama mulai dengan harta yang
berjumlah nihil.
34

b. Harta pribadi
Harta yang sudah dimiliki suami atau isteri pada saat
perkawinan dilangsungkan tidak masuk ke dalam harta bersama,
kecuali mereka memperjanjikan lain. Harta pribadi suami isteri,
menurut pasal 35 ayat 2 UUP terdiri dari :
1) Harta bawaan suami isteri yang bersangkutan.
2) Harta yang diperoleh suami isteri sebagai hadiah atau warisan.
Apa yang dimaksud dengan harta bawaan, dalam undang-
undang maupun dalam penjelasan atas UU RI nomor 1/1974, tentang
perkawinan, tidak ada penjelasan lebih lanjut, tetapi mengingat,
bahwa apa yang diperoleh sepanjang perkawinan masuk dalam
kelompok harta bersama, maka dapat diartikan bahwa yang dimaksud

34
Ibid., hlm. 192
24
di sini adalah harta yang dibawa oleh suami isteri. Jadi yang sudah ada
pada suami dan atau isteri ke dalam perkawinan.
Adanya pemisahan secara otomatis (demi hukum) antara harta
pribadi dengan harta bersama, tanpa disertai dengan kewajiban untuk
mengadakan pencatatan pada saat perkawinan akan dilangsungkan (atau
sebelumnya) dapat menimbulkan banyak masalah di kemudian hari dalam
segi asal usul harta atau harta-harta tertentu pada waktu pembagian dan
pemecahan baik karena perceraian maupun kematian (perceraian). Adalah
sangat menguntungkan, kalau di kemudian hari dalam peraturan
pelaksanaan diadakan ketentuan yang mewajibkan adanya pencatatan
harta bawaan masing-masing suami isteri.
Walaupun tidak disebutkan dengan tegas dalam pasal 35 ayat 2,
tetapi kalau kita mengingat pada ketentuan pasal 35 ayat 1, maka
ketentuan mengenai harta pribadi hibahan dan warisan, kiranya hanyalah
meliputi hibahan atau warisan suami / isteri yang diperoleh sepanjang
perkawinan saja.
35

Pasal 35 ayat 2 mengandung suatu asas yang berlainan dengan
asas yang dianut dalam B.W, yang menyebutkan bahwa yang suami dan
atau isteri peroleh sepanjang perkawinan dengan Cuma-Cuma baik
hibahan atau warisan masuk ke dalam harta persatuan kecuali nila ada
perjanjian lain.

35
Ibid., hlm. 193 - 194
25
Pasal lain dalam UU No. 1 tahun 1974 yang mengatur harta bersama
yaitu pasal 36 dan 37 yang berbunyi :
Pasal 36
1. Mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas
persetujuan kedua belah pihak.
2. Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai
hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta
bendanya.
Pasal 37
Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur
menurut hukumnya masing-masing.
Dalam Kompilasi Hukum Islam, khususnya mengenai hukum
perkawinan banyak terjadi duplikasi dengan apa yang diatur dalam
Undang-Undang No. 1 tahun 1974. Dalam Kompilasi Hukum Islam
mengenai harta kekayaan dalam perkawinan dibahas dalam Bab XIII.
Menurut pasal 85 adanya harta bersama dalam perkawinan itu
tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami
atau isteri. Tetapi dalam pasal 86 ditegaskan pada dasarnya tidak ada
percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan.
Dalam Bab XIII tidak disebut mengenai terjadinya harta
bersama, sebagaimana yang diatur dalam pasal 35 UU No. 1 tahun 1974.
26
Mengenai harta bersama lebih lanjut diatur dalam pasal 85 sampai
dengan pasal 97.
1. Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta
isteri karena perkawinan.
2. Harta isteri tetap menjadi hak isteri dan dikuasai penuh olehnya,
demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai
penuh olehnya.
















27
BAB 111
KASUS-KASUS PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DI PA. SALATIGA
TAHUN 2000 DAN 2004
A. Sejarah PA. Salatiga
1. Masa Sebelum Penjajahan
Pengadilan Agama Salatiga yang kita kenal sekarang sudah ada sejak
agama Islam masuk ke Indonesia. PA. Salatiga timbul bersama dengan
perkembangan masyarakat yang beragama Islam di Salatiga dan
Kabupaten Semarang. Pada waktu itu apabila terjadi sengketa, masyarakat
menyelesaikan melalui Qodli atau Hakim yang diangkat oleh Sultan atau
Raja. Hakim ini adalah orang yang ahli dalam bidang Agama Islam.
2. Masa Penjajahan Belanda Sampai Dengan Jepang
Ketika Belanda masuk pulau Jawa khususnya di Salatiga, masyarakat
Salatiga telah menjalankan syariat Islam. Dalam bidang Peradilan umat
Islam Salatiga dalam menyelesaikan perkaranya menyerahkan
keputusannya kepada para Hakim sehingga Belanda sulit menghapus
kenyataan ini. Maka kemudian pemerintah Kolonial Belanda menerbitkan
pasal 134 ayat 2 IS ( Indische Staatstegaling ) sebagai landasan formil
untuk mengawasi kehidupan masyarakat Islam di bidang Peradilan yaitu
berdirinya Raad Agama. Pemerintah Kolonial Belanda menginstruksikan
kepada para Bupati yang termuat dalam Staat blad tahun 1820 No. 22 yang
menyatakan bahwa perselisihan mengenai pembagian warisan di kalangan
rakyat hendaknya diserahkan kepada Alim Ulama. Sejarah PA. Salatiga
28
terus berjalan saampai tahun 1940, berkantor di serambi Masjid Kauman
Salatiga dengan ketua dan hakim anggotanya diambil dari alumnus
Pondok Pesantren. Pegawai yang ada waktu itu 4 orang yaitu K. SALIM
sebagai Ketua dan K. ABDUL MUKTI sebagai Hakim Anggota dan
SIDIQ ssebagai Sekretaris merangkap Bendahara dan seorang pesuruh.
Wilayah hukum PA. Salatiga meliputi kota Salatiga dan Kabupaten
Semarang terdiri dari 14 kecamatan. Adapun perkara yang ditangani dan
diselesaikan yaitu perkara waris, perkara gono-gini, gugat nafkah dan cerai
gugat.
Pada masa penjajahan Jepang PA.Salatiga atau Raad Agama Salatiga
masih belum ada perubahan yang berarti yaitu tahun 1942 sampai dengan
1945 karena pemerintahan Jepang hanya sebentar dan Jepang dihadapkan
dengan berbagai pertempuran dan ketua beserta stafnya masih juga sama.
3. Masa Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 PA. Salatiga berjalan
sebagaimana biasa.Pada tahun 1949 Ketua dijabat oleh K. IRSYAM yang
dibantu 7 pegawai. Berkantor di serambi Masjid Al-Atiq Kauman Salatiga,
bersebelahan dengan Kantor Urusan Agama Kecamatan Salatiga. Pegawai
PA. Salatiga berusaha mencari kantor dengan mengajukan permohonan
kepada KODIM Salatiga yang saat itu menguasai bangunan peninggalan
pemerintah kolonial belanda. KODIM memberi ijin, namun harus
mengurus sertifikat ke Kantor Dirjen Agraria di Jakarta. Pada tahun 1951
PA. Salatiga pindah kantor di Jalan Diponegoro nomor 72 Salatiga sampai
29
sekarang. Pada tahun 1952 ketua dijabat oleh K. MOH. MUSLIH, Pada
tahun 1963 Ketua dijabat oleh K.H. MUSYAFA. Pada tahun 1967 Ketua
dijabat oleh K. SADULLAH, semua adalah alumnus Pondok Pesantren.
Pada waktu Ketua dijabat oleh Drs. IMRON TAHUN 1975 dengan dibantu
oleh staf dan sebagai Panitera yaitu M. BILAL, tanah kantor pemberian hak
dari pemerintah kepada Departemen Agama RI. Kemudian sertifikat Kantor
PA. Salatiga diurus kembali ke Jakarta akhirnya berhasil dan terbitlah
sertifikat Kantor PA. Salatiga dengan status hukum hak pakai dengan
sertifikat No. 4485507 tanggal 8 Maret 1979 dengan ganti rugi sebesar Rp.
777.665.00.
4. Masa Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
Sejak kehadiran dan berlakunya UU Nomor 14 tahun 1970 pada tanggal 17
Desember 1970 kedudukan PA. Salatiga semakin jelas dan mandiri. Umat
Islam Indonesia masih harus berjuang untuk membuat UU yang mengatur
tentang keluarga muslim. Setelah melalui proses, kehadirannya pada tahun
1973 membawa suhu politik naik, maka terbitlah UU Nomor 1 tahun 1974
yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 1974.
Setelah terbit Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 UU Perkawinan
berlaku secara efektif. Di PA. Salatiga banyak perkara masuk yang menjadi
kewenangannya. Volum perkara yang mengalami kenaikan yaitu perkara
Cerai Talak, Cerai Gugat, dan juga perkara Isbat Nikah ( Pengesahan Nikah )
sehingga PA. Salatiga kekurangan personil. Untuk penyelesaian perkara di
PA. Salatiga yang wilayahnya sangat luas, meliputi daerah Kota Salatiga dan
30
Kabupaten Semarang, maka melalui SK Menteri Agama Nomor 95 tahun
1982 tanggal 2 Oktober 1982 Jo. KMA Nomor 76 tahun 1983 tanggal 10
Nopember 1982 berdirilah PA. Ambarawa di Ungaran. Penyerahan wilayah
dilakukan pada tanggal 27 April 1984 dari Ketua PA. Salatiga Drs. A.M.
SAMSUDIN ANWAR kepada Ketua PA. Ambarawa yaitu sebagian wilayah
Kabupaten Semarang. Wilayah hukum PA. Salatiga yang ada sekarang tinggal
13 Kecamatan. Sarana dan prasarana yang digunakan untuk menangani dan
menyelesaikan perkara yang masuk masih sangat sederhana.
B. Kekuasaan PA. Salatiga
Kata kekuasaan biasa disebut dengan kompetensi yang berasal
dari bahasa Belanda competentie yang kadang-kadang diterjemahkan juga
kewenangan sehingga ketiga kata tersebut dianggap semakna.
36

1. Kekuasaan Relatif
Kekuasaan relatif diartikan sebagai kekuasaan pengadilan yang
satu jenis dan satu tingkatan dalam perbedaannya dengan kekuasaan
pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatan pula. Atau lebih dikenal
dengan wilayah hukumnya ( distributie van Rechtsmacht ) . Hal ini diatur
secara umum pasal 118 HIR/142 R.Bg. Wilayah hukum PA. Salatiga
berdasarkan keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor PTA.
K/P/HKO.3.4.2/284/2004 TANGGAL 29 Januari 2004 meliputi Kota
Salatiga dan sebagian wilayah Kabupaten Semarang yaitu:
1. Kecamatan Argomulyo

36
Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, Raja Gramindo Persada, Jakarta, Cet. V1,
Oktober, 1998, hlm. 25
31
2. Kecamatan Tingkir
3. Kecamatan Sidomukti
4. Kecamatan Sidorejo
5. Kecamatan Getasan
6. Kecamatan Tuntang
7. Kecamatan Tengaran
8. Kecamatan Bringin
9. Kecamatan Bancak
10. Kecamatan Susukan
11. Kecamatan Kaliwungu
12. Kecamatan Pabelan
13. Suruh
Secara keseluruhan di wilayah kota Salatiga dan sebagian wilayah
Kabupaten Semarang terdapat 19 Kelurahan dan 143 desa.
37

2. Kekuasaan Absolut
Kekuasaan absolut artinya kekuasaan PA yang berhubungan
dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkatan pengadilan.
Adapun kekuasaan absolut PA. Salatiga disebut dalam pasal 49 dan
50 UU Nomor 7 tahun 1989.
38
Adapun bunyi pasal tersebut adalah:
a. Pasal 49 ayat 1
PA bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan
menyelesaikan perkara-perkara ditingkat pertama antara orang-orang
yang beragama Islam dibidang:

37
Memori Serah Terima Jabatan Ketua PA. Salatiga, Januari, 2004, hlm. 9-10
38
Roihan A. Rasyid, op. cit, hlm. 28-29
32
a. Perkawinan
b. Kewarisan, wasiat dan hibah, yang dilakukan berdasarkan hukum
Islam.
c. Wakaf dan shodaqoh
Pasal 49 ayat 2
Bidang perkawinan sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 huruf
b ialah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai
harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris dan
melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.
Pasal 50
Dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik atau keperdataan
lain dalam perkara-perkara sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 49,
maka khusus mengenai obyek yang menjadi sengketa tersebut harus
diputuskan lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan
umum.

Yang dimaksud dengan bidang perkawinan yang diatur dalam UU Nomor
1 Tahun 1974 adalah :
1. Izin beristeri lebih dari satu orang.
2. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21
tahun, dalam hal orang tua atau wali atau keluarga dalam garis lurus
ada perbedaan pendapat.
3. Dispensasi Nikah.
4. Pencegahan perkawinan.
5. Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah.
6. Pembatalan perkawinan.
7. Gugatan kelalaian atas kewajiban suami atau isteri.
8. Perceraian karena talak.
9. Gugatan perceraian.
33
10. Penyelesaian harta bersama.
11. Mengenai penguasan anak-anak.
12. Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak
bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak
memenuhinya.
13. Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami
kepada bekas isteri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas isteri.
14. Putusan tentang sah atau tidaknya seorang anak.
15. Putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua.
16. Pencabutan kekuasaan wali.
17. Penunjukan orang lain sebagai wali oleh Pengadilan dalam hal
kekuasaan seorang wali dicabut.
18. Menunjuk seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup
umur 18 tahun yang ditinggal kedua orang tuanya padahal tidak ada
penunjukan wali oleh orang tuanya.
19. Pembebanan kewajiban ganti kerugian terhadap wali yang telah
menyebabkan kerugian atas harta benda anak yang ada di bawah
kekuasaannya.
20. Penetapan asal usul seorang anak.
21. Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk
melakukan perkawinan campuran.
22. Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum UU No.
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dijalankan menurut peraturan
yang lain.
39






39
Lihat Penjelasan pasal 49 ayat (2) UU Nomor 7 tahun 1989. Juga lihat UU Nomor 1 tahun 1974
dan PP Nomor 9 tahun 1975.
34
C. Stuktur Organisasi PA. Salatiga


Pntr.Muda
Permohonan
Dra.Widad
Ketua
Drs.H. A.Ahrory
Wakil Ketua
Drs. Ali Masrkuri
Panitera / Sekretaris
Sukartun, SH
Hakim
H. Syaifudin Alwi
Abdullah Said
Amron Zaedan
Munjid Loghowi
Panitera Pengganti
Achmadi, SH
Munin, SH
Wasilatun, SH
Handayani, SH
Fadlan H. S.Ag
Miftah J, SH
Imam Yasykurba
Juru Sita
Mubarokah
Wakil Sekretaris
Mn. Agus A, SH
Wakil Panitera
Robikah M,
Kaur
Pntr.Muda
Gugatan
Mamnukhin
Pntr.Muda
Hukum
Haryanto
Kaur
Kepegawaian
Pujiyati
Kaur
Umum
Wakirudi
n
Kaur
Keuangan
Hindunyati
35
D. Putusan Terhadap Kasus Pembagian Harta Bersama di PA. Salatiga
Berdasarkan kewenangannya untuk memeriksa dan menyelesaikan
suatu perkara yang diajukan kepada Pengadilan Agama Salatiga telah berhasil
mengadili dan menjatuhkan putusan terhadap surat gugatan yang terdaftar di
kepaniteraan Pengadilan Agama Salatiga dengan Register Perkara Nomor :
482/Pdt.G/2000/PA. Sal dan Nomor : 326/Pdt.G/2004/PA. Sal tentang
pembagian harta bersama yang dikarenakan perceraian.
Adapun pihak-pihak yang berperkara dalam masalah Harta Bersama
ini adalah
RBS (disamarkan ) umur 37 tahun, agama Islam, pekerjaan swasta,
bertempat tinggal di Blandongan Rt 03/111 Desa Sraten, Kecamatan
Karanggede, Kabupaten Boyolali. Dalam hal ini memberikan kuasa khusus
kepada Sasmita, SH. Dan Djaenal, SH. Pengacara dan Konsultan Hukum
beralamat di Jl. Taman Candi Tembaga 925 Semarang, dengan surat Kuasa
Khusus tanggal 5 Desember 2000, selanjutnya disebut sebagai
PENGGUGAT;
Melawan
RBN ( dasamarkan ), umur 34 tahun, agama Islam, pekerjaan swasta,
bertempat tinggal di Perum Argomas Timur No. 190 Rt. 01/1X, kelurahan
Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kodia Salatiga. Dalam hal ini memberikan
Kuasa Khusus kepada Dwi Heru Wismanto, SH. Dkk. Pengacara beralamat di
Jl. Pemotongan No. 88 Salatiga, dengan surat Kuasa Khusus tanggal 3 Januari
2001, selanjutnya disebut sebagai TERGUGAT;
36
Pengadilan Agama tersebut;
Telah membaca berkas perkara;
Telah mendengar keterangan Penggugat, Tergugat dan keterangan lain yang
diperlukan dalam persidangan;
Telah memeriksa dengan seksama alat-alat bukti yang diajukan dalam
persidangan;
TENTANG DUDUK PERKARANYA
Menimbang, bahwa Penggugat berdasarkan gugatannya tertanggal
Oktober 2000 yang telah terdaftar di Kepaniteraan PA. Salatiga dengan
Nomor : 482/Pdt.G 2000/PA. Sal, tanggal 26 Oktober 2000 serta perubahan
surat gugatan tertanggal 7 Desember 2000, telah mengajukan hal-hal sebagai
berikut :
1. Bahwa Penggugat dengan Tergugat adalah suami isteri yang
telah bercerai di PA. Salatiga dengan putusan Nomor :
222/Pdt.G/2000/PA. Sal, tanggal 20 Juli 2000 dan telah
berkekuatan hukum tetap;
2. Bahwa dalam perkawinan antara Penggugat dan Tergugat,
Penggugat telah membawa harta bawaan berupa ;
2 ( dua ) buah tempat tidur kayu jati;
2 (dua ) buah kasur;
2 ( dua ) buah almari kayu jati;
1 (satu ) buah bifet kayu jati;
1 (satu ) stel meja kursi;
37
1 (satu ) buah radio tape merk politron;
1 (satu ) buah radio kecil merk philip;
3. Bahwa selama perkawinan tersebut, Pengugat dan Tergugat
mendapat harta bersama yang sampai saat ini belum dibagi
yaitu :
3.1. 2 (dua ) buah rumah type 21 yang terletak diatas tanah ukuran
5 x 10 meter persegi. Tempat tersebut dikenal dengan nama
Perum Argomas Timur Nomor 190 dan 191 Rt. 01 Rw. 1X,
Kelurahan Ledok, Kecamataan Argomulyo, Kodia Salatiga,
dinilai seharga Rp. 40.000.000. ( empat puluh juta rupiah );
3.2. Perkakas / perabot rumah tangga ;
4. Bahwa dalam masa perkawinan antara Penggugat dan Tergugat
kedua rumah tersebut direnovasi dan dijadikan satu, dimana
keuangannya dari keduanya serta dibantu oleh orang tua
Penggugat;
5. Bahwa harta bersama dan harta bawaan Penggugat sampai saat
ini masih dikuasai atau merasa dihaki sepenuhnya
olehTergugat;
6. Bahwa demi keamanan dan terpenuhinya hak Penggugat dengan
Tergugat atas harta bersama maka perlu segera diadakan
pembagian sesuai hukum yang berlaku;
Berdasarkan pada hal-hal tersebut di atas mohon kiranya PA. Salatiga
dapat menjatuhkan putusan sebagai berikut :
38
PRIMER
1. Mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya;
2. Menetapkan menurut hukum harta bawaan Penggugat yang sampai saat
ini berada dalam penguasaan Tergugat dikembalikan pada Penggugat;
3. Menetapkan menurut hukum harta benda yang diperoleh selama
perkawinan adalah harta pendapatan bersama;
4. Menetapkan jumlah harta bersama Penggugat dan Tergugat senilai Rp.
42.700.000, dengan pembagian masing-masing Rp. 21.350.000;
5. Menghukum Tergugat untuk menyerahkan bagian harta bersama kepada
Penggugat senilai Rp. 21.350.000;
6. Menghukum Tergugat untuk tunduk dan patuh pada putusan ini;
7. Menyatakan putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun ada
bantahan dan upaya hukum lainnya;
8. Menetapkan biaya perkara menurut hukum;

SUBSIDER
Mohon putusan yang seadil-adilnya
Menimbang, bahwa Penggugat dan Tergugat telah hadir dalam
persidangan dan Majlis Hakim telah berusaha mendamaikan tetapi tidak
berhasil dan Penggugat tetap pada gugatannya, kemudian dibacakan gugatan
Penggugat yang isinya tetap dipertahankan oleh Penggugat;
Menimbang, bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut, Tergugat
mengajukan jawaban tertanggal 15 februari 2001 yang isinya sebagai berikut;
39
1. Umum
2. 1. Bahwa setelah perceraian Tergugat harus berjuang seorang diri
untuk mencukupi semua kebutuhan hidup Tergugat dan kedua
orang anak yang lahir dari perkawinan antara Tergugat dan
Penggugat, yaitu Bayu (nama samaran ) dan Aji ( nama samaran
);
2. 2. Bahwa kedua anak tersebut ikut dan menjadi beban serta
tanggung jawab Tergugat, sedang Penggugat telah kawin lagi
dan tidak bertanggung jawab terhadap penghidupan sehari-hari
dari anak;
2. 3. Bahwa karena itu mohon kebijakan hakim untuk melindungi
Tergugat sampai sekarang yang belum mendapatkan pekerjaan
dan harus menghidupi kedua anaknya;
2. Dalam Eksepsi
2. 1. Bahwa PA. Salatiga tidak berwenang memeriksa perkara ini
karena obyek sengketa dalam perkara ini bukan harta bersama
antara Penggugat dan Tergugat namun milik orang tua, hal
tersebut sesuai dengan pasal 50 Undang-Undang No. 7 Tahun
1989;
2. 2. Gugatan Penggugat tidak lengkap subyeknya bahwa Penggugat
mendalilkan terdapat harta bersama berupa 2 buah rumah type 21
ukuran 5 X 10 meter yang terletak di Perum Argomas Timur No.
190 dan 191 Rt. 1 Rw. 1X;
40
2. 3. Bahwa 2 rumah tersebut sampai sekarang dijadikan agunan di
Bank Tabungan Negara Semarang. Dengan tidak
diikutsertakannya BTN Semarang maka gugatan Penggugat
menjadi kabur karena subyeknya tidak lengkap;
3. Dalam Pokok Perkara
3. 1. Bahwa dalil gugatan Penggugat pada point 2 adalah tidak benar
karena Penggugat tidak pernah membawa harta bawaan
sebagaimana yang didalilkan;
3. 2. Bahwa dalil gugatan point 3 adalah tidak benar dan Tergugat
menolak serta Penggugat dimohon untuk membuktikannya;
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas sudilah kiranya PA. Salatiga
berkenan menjatuhkan putusan sebagai berikut :
1. Dalam Eksepsi
1. Menerima dan mengabulkan Eksepsi Tergugat untuk seluruhnya ;
2. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima ;
3. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara ;
1. 1. Dalam Pokok Perkara
1. Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya ;
2. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara ;
ATAU
Menjatuhkan putusan lain yang seadil-adilnya ;
41
Menimbang, bahwa terhadap jawaban Tergugat , Penggugat telah
mengajulan replik tertanggal 22 Pebruari 2001 dan Tergugat telah
mengajukan dupliknya tertanggal 1 maret 2001 ;
Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalil gugatannya di depan
persidangan Penggugat telah mengajukan alat bukti berupa bukti surat
beserta bukti saksi.
Sedangkan dalam putusan yang lain yaitu Nomor : 326/Pdt.G/2004/PA.
Sal. Pihak-pihak yang berperkara yaitu:
RBSS ( disamarkan ), umur 26 tahun, agama Islam, pekerjaan buruh,
Pendidikan SD, alamat Krajan 11 RT 17/1V Desa Beji Lor, Kecamatan
Suruh, Kabupaten Semarang, selanjutnya disebut sebagai PENGGUGAT ;
BERHADAPAN DENGAN
RBNN (disamarkan ), umur 34 tahun, agama Islam, Pekerjaan tani,
pendidikan SD, alamat sama dengan Penggugat, selanjutnya disebut sebagai
TERGUGAT;
Pengadilan Agama tersebut;
Telah membaca dan memeriksa surat-surat;
Telah mendengar keterangan para pihak serta memperhatikan alat-alat bukti
dalam persidangan;
TENTANG DUDUKNYA PERKARA
Menimbang, bahwa Penggugat dengan suratnya tanggal 22
Juli 2004 terdaftar sebagai perkara pada kepaniteraan PA. Salatiga tanggal
42
22 Juli 2004 Nomor 326/Pdt. G/2004/PA. Sal. telah mengajukan gugat cerai
dari Tergugat dengan mengajukan dalil-dalil antara lain sebagai berikut ;
1. Bahwa Penggugat menikah sah dengan Tergugat pada tanggal 14 April 1998
sesuai kutipan Akte Nikah KUA Kec. Suruh No. 065/065/1V/1998 tgl. 14-
4-98 setelah akad nikah Tergugat mengucapkan sighot taklik talak,
kemudian keduanya bertempat tinggal di rumah Tergugat 2 tahun 9 bulan,
sudah rukun bada dukhul dan telah dikaruniai seorang anak nama Deni (
nama samaran ) umur 5 tahun;
2. Bahwa pada tanggal 27 maret 2001 Penggugat atas ijin Tergugat pergi ke
Taiwan menjadi TKW selama 3 tahun;
3. Bahwa Penggugat pada tanggal 27 Maret 2004 pulang dari Taiwan ke rumah
bersama selama 4 hari, namun kemudian Penggugat pulang ke rumah orang
tua karena suasana rumah sudah tidak harmonis lagi sering terjadi
percekcokan dan pertengkaran;
4. Bahwa pada tanggal 1 Juni 2004 terjadi pemukulan yang dilakukan Tergugat
terhadap Penggugat sehingga Penggugat menjadi trauma dan akhirnya
Penggugat menjadi tidak betah di rumah dan tinggal di rumah famili;
5. Bahwa selama Penggugat tinggal di rumah famili, Tergugat tidak pernah
berusaha mencari atau mengajak rukun kembali dan tidak memperdulikan
Penggugat;
6. Bahwa atas perbuatan Tergugat tersebut, Penggugat merasa diterlantarkan
untuk itu Penggugat tidak rela, dan telah cukup alasan bagi Penggugat untuk
mengajukan cerai gugat ke PA. Salatiga;
43
Babwa atas dasar hal tersebut Penggugat mohon kepada Majlis Hakim
menjatuhkan putusan :
1. Mengabulkan gugatan Penggugat;
2. Menetapkan perkawinan antara Penggugat dan Tergugat putus karena
cerai;
3. Menetapkan biaya perkara menurut hukum;
Atau apabila Majlis Hakim berpendapat lain mohon putusan yang seadil-
adilnya;
Bahwa pada hari persidangan Penggugat dan Tergugat hadir dan Hakim
memberi nasehat agar damai rukun kembali namun selalu gagal, kemudian
dibacakan gugatan Penggugat yang isinya tetap dipertahankan Penggugat;
Bahwa dalam persidangan Penggugat menambah gugatannya sebagai
berikut;
1. Bahwa penggugat waktu melihat TV, perut penggugat diinjak dengan kaki
oleh Tergugat 2 kali, kemudian Penggugat dijambak rambutnya, muka
penggugat dipukul dan penggugat akan ditusuk dengan drei oleh Tergugat;
2. Bahwa penggugat menuntut agar tergugat mengembalikan kepada
Penggugat harta bawaan Penggugat yang dikuasai oleh Tergugat berupa:
2.1. Sebuah sepeda motor Kawasaki tahun 1996;
2.2. Tanah sawah 2 kotak terletak di Sidawung Desa Beji Lor dengan
batas barat : milik Marto Kastin; Utara : milik Hasanah; Selatan dan
Timur Penggugat kurang tahu pemiliknya;
2.3. Kerbau 1 ekor;
44
2.4. Semua perabot isi rumah 4 almari dan pecah belah;
3. Bahwa Penggugat merelakan bangunan rumah belakang maupun listriknya
untuk seorang anak yang disekutui penggugat dan tergugat;
4. Bahwa pengugat terakhir merelakan beberapa bidang tanah sawah gadai dari
uang kiriman penggugat sebesar Rp. 25 juta dimiliki oleh Tergugat;
Menimbang bahwa tergugat telah menjawab tertulis maupun lisan sbb:
1. Bahwa penggugat minta ijin ke luar negeri itu sambil menangis agar
nantinya lebih bahagia;
2. Bahwa ahkirnya Penggugat kerja betul, anaknya ditinggal 2 tahun ke
Taiwan 18 bulan kirim uang 3 kali yaitu 4 juta, 8 juta, dan 25 juta, yang 8
juta diminta orang tuanya almarhum ayahnya, sejak itu Penggugat susah
dihubungi, kalau dia telpon marah-marah terus, tidak menanyakan anaknya
dan juga tidak berkirim kabar / surat. Padahal Tergugat seorang diri bersama
anak harus kerja, malah Penggugat bilang kalau di sana punya anak dan mau
nikah lagi;
3. Bahwa Tergugat mendengar berita tadi hancur pikiran Tergugat, sebab
merasa dipermainkan.
4. Bahwa Tergugat berpendapat semua yang berupa apa saja menjadi milik
anak. Tergugat tidak berhak, begitu juga dengan Penggugat, sehingga bila
Penggugat minta hal-hal tersebut di atas Tergugat tidak memperbolehkan;
Bahwa kemudian terjadi jawab menjawab pihak-pihak yang intinya penggugat
tetap pada gugatannya dan Tergugat tetap pada jawabannya dan tidak mau cerai;
45
Menimbang bahwa Penggugat lalu mengajukan bukti Surat
Kutipan Akte Nikah KUA Kec. Suruh No. 065/065/1V/1998 tertanggal 14
April 1998, P1 dan mengajukan saksi MZ (samaran) bin AD (samaran)i, umur
60 tahun, agama Islam, pekerjaan swasta, alamat Cembungsari Cabean Kec.
Tengaran Kab. Semarang, di bawah sumpah menerangkan antara lain bahwa
penggugat adalah cucunya dan Tergugat adalah suami cucunya, menikah 1998
dikaruniai 1 orang anak, sempat rukun 2 tahun 9 bulan, suatu ketika
Penggugat lapor rumah tangganya goyah karena Tergugat memukul
Penggugat, bahkan diusir oleh Tergugat dari rumah dan Penggugat akan
dibabat sabit oleh Tergugat, keduanya kini sudah pisah rumah 3 bulan. Saksi
sebagai anggota keluarga sudah berusaha menasehati namun selalu gagal.
Menimbang bahwa Penggugat membenarkan keterangan saksi,
adapun Tergugat manerangkan bahwa saksi Penggugat tidak mengetahui
sendiri waktu Tergugat memukul Pengugat sebab kejadiannya ada di tempat
Tergugat;
Menimbang bahwa Tergugat mengajukan saksi nama AM (nama samaram
), umur 54 tahun, agama Islam, pekerjaan swasta, alamat Krekesan Beji Lor
Kec. Suruh Kab. Semarang, menerangkan di bawah sumpah bahwa saksi
adalah Paman Tergugat, keduanya menikah tahun 1998 tinggal di rumah
Tergugat selama 2 tahun 9 bulan, telah dikaruniai 1 orang anak, kemudian
rumah tanggganya goyah karena waktu Penggugat pulang dari Taiwan tidak
langsung pulang ke rumah Tergugat, sampai saat ini telah pisah selama 3
bulan. Saksi telah berusaha menasehati namun tidak berhasil;
46
Menimbang bahwa Tergugat maupun Penggugat membenarkannya;
Menimbang bahwa terakhir Penggugat tetap berkesimpulan untuk cerai
dan tetap pada tuntutannya semula tetapi bersedia mengikhlaskan sawah-
sawah gadaian seharga 25 juta menjadi hak Tergugat, sementara Tergugat
tetap tidak bersedia cerai dari Penggugat, Penggugat bersedia membayar
iwadl uang Rp. 10.000,- dan mengaku dalam keadaan suci 12 hari;
E. Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Pembagian Harta Bersama
Dari hasil wawancara penulis dengan hakim, pertimbangan dan dasar
putusan hakim terhadap pembagian harta bersama akibat perceraian adalah
sebagai berikut :
40

Pertimbangan hakim terhadap perkara pembagian harta bersama akibat
perceraian dimulai dari tahap-tahap pemeriksaan yang meliputi : gugatan
penggugat, jawaban tergugat, replik penggugat, duplik tergugat, dan
pembuktian adalah sebagai duduk perkaranya yaitu segala sesuatu yang terjadi
di persidangan.
Pertimbangan hakim dalam putusannya adalah berdasarkan pada
pembuktian yaitu berdasarkan keterangan-keterangan dari saksi dan bukti
surat. Putusan hakim berdasarkan pada gugatan yang berdasarkan hukum,
dengan pembuktian hubungan hukum Penggugat dan Tergugat sebagai
suami isteri atau bukan? Alasan-alasan Penggugat benar atau tidak harus
dibuktikan dengan bukti surat dan saksi. Sehingga hakim yakin kalau alasan
Penggugat benar dan perkara tersebut dapat diputus.

40
Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Salatiga pada tanggal 4 September 2006
47
Jadi pembuktian adalah sebagai bahan pertimbangan hakim dalam
memutuskan perkara pembagian harta bersama yang diakibatkan perceraian.
Dasar hukum menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 97, Penggugat dan
Tergugat masing-masing berhak atas ( seperdua ) dari harta bersama.
Sedangkan untuk menilai kebenaran dalil dan bukti hakim menggunakan
dasar hukum materiil yaitu rangkaian peraturan yang memuat cara
bagaimana seseorang bertindak dan berbuat dengan hukum yang berlaku
dalam suatu negara.
Adapun dasar dan pertimbangan hukum yang dipakai oleh Pengadilan
Agama Salatiga dalam menyelesaikan perkara pembagian harta bersama
adalah:
I. Pertimbangan Hakim dalam Putusan No : 482/Pdt.G/2000/PA. Sal.
yaitu :
Dalam Eksepsi :
Bahwa yang menjadi sengketa dalam perkara ini adalah pembagian
harta bersama suami isteri sebagaimana ditentukan dalam pasal 49 ayat
2 UU Nomor 7 Tahun 1989 dan penjelasannya jo. Pasal 88 KHI, maka
Majlis Hakim mempertimbangkan bahwa eksepsi Tergugat termasuk
dalam wilayah pembuktian dan masih menjadi wewenang PA.
Salatiga, sehingga eksepsi Tergugat tidak beralasan dan harus
dinyatakan ditolak ;
Dalam Pokok Perkara :
48
Bahwa antara Penggugat dan Tergugat benar-benar pernah terjadi
perkawinan dan telah resmi bercerai di PA. Salatiga, sehingga
Penggugat mengajukan gugatan Pembagian Harta Bersama terhadap
Tergugat ;
Bahwa gugatan itu masuk wilayah hukum PA. Salatiga, maka gugatan
Penggugat pantas diterima dan diperiksa sesuai hukum yang berlaku ;
Bahwa Penggugat dan Tergugat telah hadir di persidangan dan Majlis
Hakim telah mendamaikan dan tidak berhasil kemudian dibacakan
gugatan yang isinya tetap dipertahankan Penggugat ;
Bahwa atas gugatan Penggugat, Tergugat telah mengajukan jawaban
yang pokoknya mengakui pernah terjadi perkawinan dan telah
bercerai, sedangkan yang lainnya dibantah seluruhnya ;
Bahwa dalil-dalil yang dibantah Tergugat menjadi kewajiban
Penggugat untuk membuktikan dan meneguhkan dalil-dalil tersebut ;
Bahwa terhadap harta bawaan dari Karanggede oleh Penggugat telah
dibantah oleh Tergugat bahwa tidak ada harta bawaan yang dikuasai
Tergugat, Penggugat telah meneguhkan dalilnya dengan menghadirkan
saksi yang dapat dipertimbangkan ;
Bahwa saksi selaku ayah Penggugat menerangkan adanya harta
bawaan dari Karanggede tersebut, demikian juga dengan saksi kedua
yang menerangkan menyaksikan adanya barang-barabg tersebut.
Dengan demikian keterangan saksi dapat meneguhkan dalil Penggugat
;
49
Bahwa dari pemeriksaan di tempat oleh Majlis Hakim menemukan
barang bawaan Penggugat dari Karanggede masih ada, namun tidak
seluruhnya ;
Bahwa terhadap barang bawaan Penggugat, Tergugat tidak dapat
membuktikan yang sebaliknya sedangkan barang tersebut ada
wujudnya, sehinggga Majlis Hakim mempertimbangkan bahwa 2 buah
tempat tidur kayu jati, 2 buah kasur dan 2 buah almari kayu jati
tersebut layak sebagai barang bawaan Penggugat ;
Bahwa barang bawaan Penggugat kini dalam penguasaan Tergugat,
maka Majlis Hakim memerintahkan kepada Tergugat untuk
menyerahkan barang tersebut kepada Penggugat ;
Bahwa obyek terperkara berupa tanah dan rumah di Argomas Timur
Nomor 190 dan 191 yang telah direnovasi yang oleh Penggugat
didalilkan sebagai harta bersama, telah dibuktikan penggugat dengan
bukti P. 3 dan saksi-saksi. Saksi 1 maupun saksi 2 dan saksi 4 hanya
menerangkan rumah tersebut dibeli oleh Tergugat dan Penggugat dari
Ibu Susi dan saksi tersebut tidak mengetahui saat pembeliannya,
harganya maupun tempat transaksinya. Bukti tersebut tidak cukup
untuk membuktikan adanya peralihan hak dari seseorang kepada
Penggugat dan Tergugat, mengingat objek peralihan adalah tanah dan
rumah ;
Bahwa bukti balik Tergugat berupa T. 1, T. 2, T. 3, T.4, dan saksi
pertama dan kedua dapat menguatkan dalil bantahannya dan dapat
50
lebih memperkuat keyakinan Majlis Hakim bahwa tanah dan rumah
terperkara bukan sebagai harta bersama antara Penggugat dan Tergugat
;
Bahwa karena Penggugat dinilai tidak dapat membuktikan dalilnya,
maka Majlis Hakim harus menyatakan menolak untuk menetapkan
tanah dan rumah tersebut sebagai harta bersama ;
Bahwa objek terperkara berupa perabot rumah tangga yang terdiri dari
sebuah kulkas, sebuah kompor gas dan tabungnya, dua lembar karpet,
sebuah TV berwarna 14 inch dan satu stel meja kursi tamu, oleh
Tergugat tidak secara tegas diakui maupun dibantah sedangkan
Penggugat telah pula membuktikannya dengan saksi-saksi, kesaksian
tersebut memperkuat dalil gugatan Penggugat dan dalam pemeriksaan
setempat Majlis Hakim telah menemukan fakta bahwa harta
sebagaimana didalilkan oleh Penggugat sepanjang barang tersebut ada
keberadaannya dalam penguasaan Tergugat, dapat ditetapkan sebagai
harta bersama antara Penggugat dan Tergugat ;
Bahwa berdasarkan pemeriksaaan setempat harta bersama yang ada
berupa sebuah TV berwarna 14 inch, satu set meja kursi tamu, dan
kesaksian saksi-saksi Penggugat telah dapat menguatkan
keberadaannya, maka kedua harta tersebut layak ditetapkan sebagai
harta bersama antara Penggugat dan Tergugat ;
Bahwa objek yang lain berupa sebuah kulkas, sebuah kompor gas, dan
tabungnya serta dua buah lembar karpet, berdasarkan pemeriksaan
51
setempat sudah tidak ada lagi keberadaannya, maka objek tersebut
harus dinyatakan ditolak untuk ditetapkan sebagai harta bersama ;
Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut , maka yang
termasuk harta bersama antara Penggugat dan Tergugat adalah sebagai
berikut :
a. Sebuah pesawat TV berwarna 14 inch merk Nasional ;
b. Satu stel meja kursi tamu / kursi sudut ( busa ) ;
Bahwa karena Penggugat dan Tergugat telah melakukan perceraian
maka sesuai dengn pasal 97 KHI, Penggugat dan Tergugat masing-
masing berhak dari harta bersama.
Hal ini sejalan dengan firman Allah surat An-Nisa ayat 32 yang
berbunyi :
Artinya : Bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka
usahakan dan bagi para wanita(pun) ada bahagian dari apa yang
mereka usahakan.
Bahwa harta bersama tersebut berada dalam penguasaan Tergugat,
maka harus dihukum untuk menyerahkan kepada Penggugat bagian
dari harta bersama diatas ;
Bahwa terhadap tuntutan Penggugat agar putusan dapat dijalankan
terlebih dulu meski ada upaya hukum maka Majlis Hakim dapat
mempertimbangkan tuntutan putusan serta merta tidak memenuhi
persyaratan sebagaimana ditentukan dalam Surat Edaran MA. Nomor 3
Tahun 2000 tanggal 21 Juli 2000, sebab itu harus dinyatakan ditolak ;
52
Bahwa berdasarkan hal-hal sebagaimana dipertimbangkan di atas,
maka gugatan Penggugat harus dinyatakan dapat dikabulkan sebagian
dan menolak untuk selebihnya ;
Bahwa perkara ini masuk dalam perkara perkawinan, sehinggga sesuai
dengan ketentuan pasal 89 ayat 1 UU Nomor 7 Tahun 1989, seluruh
biaya yang timbul dalam perkara ini dibebankan kepada Penggugat;
II. Pertimbangan Hakim dalam Putusan No : 326/Pdt.G/2004/PA. Sal.
Yaitu:
1. bahwa benar-benar telah terjadi pernikahan antara Penggugat dan
Tergugat pada tanggal 14 April 1998 dan telah dikaruniai 1 orang
anak.
2. Bahwa setelah akad nikah Tergugat telah membacakan Sighot
Taklik Talak.
3. Bahwa Tergugat telah menyakiti badan jasmani Penggugat dengan
menginjak perut dua kali, menjambak rambut, menampar muka,
maupun mengancam dengan sabit.
4. Bahwa rumah tangga yang telah diwarnai kekerasan fisik serta
kenyataan pihak-pihak telah pisah rumah selama 3 bulan dinilai
telah retak dan sulit untuk dipertahankan keutuhannya.
5. Bahwa Penggugat dapat merelakan tanah-tanah sawah gadai
seharga 25 juta yang dikirimkannya dari Taiwan untuk Tergugat,
sementara rumah belakang di Beji Lor dan listriknya untuk anak
para pihak, namun harta bawaan berupa sepeda motor, dua kotak
53
sawah, satu ekor kerbau, dan perabot isi rumah tetap diminta oleh
Penggugat, sementara Tergugat berpendapat semua barang untuk
anak saja, bahkan tidak mau bercerai.
6. Bahwa majlis Hakim berpendapat bahwa harta bawaan haruslah
kembali kepada si pembawa yakni Penggugat, sementara harta
gono-gini berupa uang Rp. 25 juta direlakan oleh Penggugat untuk
Tergugat dan rumah belakang beserta listriknya disepakati untuk
anak pihak-pihak.
7. Bahwa Penggugat telah menyerahkan uang iwadl Rp. 10.000.- dan
mengaku dalam keadaan suci 12 hari.
8. Mengingat Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 jls. UU No. 1 Th.
1974 Ps. 38 s/d Ps. 41, PP. 9 Th. 1975 Ps. 19, UU. No.7 Th.1989
Ps. 89 dan KHI Ps.116 huruf d, f dan g.
9. Firman Allah Surat Al-Maidah ayat 1









54
BAB 1V
ANALISIS PUTUSAN HAKIM
TERHADAP KASUS PEMBAGIAN HARTA BERSAMA

A. Analisis Putusan Hakim Terhadap Pembagian Harta Bersama Ditinjau
Dari Fiqh Dan Perundang-Undangan di Indonesia
Harta bersama suami isteri atau yang biasa disebut dengan harta gono-
gini yaitu harta yang di dapat setelah terjadinya akad nikah. Dalam hukum
Islam sendiri harta bersama suami isteri ini tidak dikenal karena dalam hukum
Islam tidak mengenal percampuran harta kekayaan antara suami isteri akibat
terjadinya perkawinan. Harta kekayaan isteri tetap menjadi milik isteri dan
dikuasai sepenuhnya oleh isteri, demikian juga dengan harta kekayaan suami
tetap menjadi milik suami dan dikuasai sepenuhnya oleh suami.
41

Hal ini sejalan dengan firman Allah surat An Nisa : 32



Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah
kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.
(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka
usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang

41
A. Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Perpustakaan Fakultas Hukum UII,
Yogyakarta, cet. 8, 1996, hlm, 29-30
55
mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-
Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
42

Dalam hubungannya dengan harta perkawinan, dari ayat di atas dapat
dipahami bahwa dalam suatu perkawinan ada pemisahan dari harta suami dan
harta isteri. Isyarat dan penegasan dari ayat tersebut dijelaskan dalam
Kompilasi Hukum Islam pasal 85, 86, dan pasal 87. Adapun bunyi pasal
terebut yaitu :
Pasal 85 :
Adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan
adanya harta milik masing-masing suami atau isteri.
Pasal 86 :
1. Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri
karena perkawinan.
2. Harta isteri tetap menjadi hak isteri dan dikuasai penuh olehnya, demikian
juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya.
Pasal 87 :
1. Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta yang
diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah
penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain
dalam perjanjian perkawinan.

42
Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahannya, Toha Putra, Semarang, tt, hlm.
122
56
2. Suami atau isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan
hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah, sodaqoh dan
lainnya.
Dari pasal-pasal tersebut dapat dipahami bahwa adanya harta bersama
dalam suatu perkawinan tidak menutup kemungkinan adanya harta milik
masing-masing suami isteri dan mereka berhak menguasai harta masing-
masing sepenuhnya tanpa campur tangan pihak lain.
Isi pasal-pasal dalam Kompilasi Hukum Islam mengenai Harta
Kekayaan Dalam Islam merupakan penjabaran dari Al Quran surat An Nisa
ayat 34.




Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu,
maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Apabila karena sesuatu hal, suami tidak dapat melaksanakan
kewajibannya sementara suami sesungguhya mampu, maka si isteri
57
dibenarkan mengambil harta suaminya itu untuk memenuhi kebutuhan diri
dan anak-anaknya secara makruf.
43

Di sisi lain, Hukum Islam tidak mengatur secara khusus tentang harta
bersama suami isteri dan harta bawaan dalam perkawinan sebagaimana yang
ada dalam UUP No. 1 Tahun 1974, Kompilasi Hukum Islam, dan BW. Hukum
Islam hanya menerangkan tentang hak milik laki-laki dan perempuan serta hak
atas nafkah dan mahar bagi kaum perempuan. Hak atas mahar dan nafkah
menjadi kewajiban bagi kaum laki-laki untuk menunaikannya. Mengenai besar
kecilnya nafkah tergantung kepada kemampuan suami.
Dari surat An Nisa ayat 32 di atas menjadi dasar diterima dan
dikabulkannya permohonan Penggugat terhadap tuntutan pembagian harta
bersama serta harta bawaan yang masih dikuasai oleh Tergugat setelah
terjadinya perceraian seperti termuat dalam putusan nomor : 482/Pdt.
G/2000/PA. Sal.
Menurut Penulis, masalah harta bersama ini merupakan persoalan
Ijtihadiyah yang belum pernah dibahas oleh ulama-ulama fiqh. Sehingga
untuk menggali hukum mengenai harta bersama diperlukan ijtihad yang
berpedoman pada ayat-ayat Al Quran yang merujuk pada masalah harta
bersama. Selain itu hukum adat yang berlaku dalam masyarakat juga sangat
membantu dalam menggali hukum mengenai harta bersama.
Harta bersama dihasilkan dari perkongsian suami isteri yang disebut
dengan syirkah. Cara terjadinya syirkah yaitu dengan cara tertulis atau ucapan

43
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hlm.
201-203
58
nyata-nyata serta dengan penentuan undang-undang. Syirkah antara suami
isteri dapat pula terjadi dengan kenyataan dalam kehidupan pasangan suami
isteri itu. Cara ini memang hanya khusus untuk harta bersama atau syirkah
pada harta kekayaan yang diperoleh atas usaha selama dalam masa
perkawinan. Diam-diam telah terjadi syirkah itu, apabila kenyataan suami
isteri itu bersatu dalam mencari hidup dan membiayai hidup. Mencari hidup
tidak selalu diartikan mereka yang bergerak keluar rumah berusaha dengan
nyata. Memang hal itu adalah yang pertama dan yang terutama. Tetapi di
samping itu pembagian pekerjaan yang menyebabkan seseorang dapat
bergerak maju, dalam hal ini dalam soal kebendaan dan harta kekayaan,
banyak pula tergantung kepada pembagian pekerjaan yang baik antara suami
dan isteri.
44

Adapula yang menyebut harta bersama itu diasumsikan sebagai
syirkah, dengan ketentuan apabila mereka secara bersama-sama mengelola
ekonomi dari harta mereka berdua atau dari harta salah seorang dari mereka
namun pasangannya memiliki andil tenaga dalam mengembangkan
usahanya.
45

Dari ketentuan di atas, menurut Penulis bila terjadi perceraian maka
pembagian dari harta yang telah disyirkahkan meliputi modal awal dan hasil
dari usaha tersebut. Apabila modal usaha tersebut berasal dari salah satu dari
mereka maka modal tersebut harus dikembalikan kepada si pemilik.

44
Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, UI Press, Jakarta, cet. 5, 1986, hlm. 85
45
Herlini Amran, Fiqih Wanita Harta Istri = Harta Bersama?, Ummi, No. 8/XV,
Januari-Pebruari 2004/1424 H, hlm. 44
59
Sedangkan untuk keuntungan dari hasil usaha mereka berdua dibagi sesuai
dengan usahanya.
Sedangkan menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun
1974, harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama
dan apabila perkawinan putus karena perceraian harta bersama diatur menurut
hukumnya masing-masing.
Dari pengertian di atas, yang masuk dalam harta bersama hanyalah
harta yang didapat atas usaha mereka atau sendiri-sendiri mulai dari akad
nikah sampai selama dalam ikatan perkawinan.
Mengenai harta benda suami isteri selama dalam perkawinan sudah
diberi patokan yang pasti dalam pasal 35 dan pasal 36. Tetapi mengenai harta
bersama pada waktu terjadi perceraian antara suami isteri, pasal 37 tidak
memberi patokan penyelesaian yang pasti. Menurut pendapat Ismuha hal ini
sangat baik mengingat rakyat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika itu
mempunyai hukum adat yang beraneka warna dan masih hidup dalam
masyarakat. Dalam keadaan suami isteri hidup rukun dan damai membina
rumah tangga mereka, tidak ada kesulitannya hukum adat yang berbeda-beda
itu disatukan. Tetapi saat cekcok apalagi kalau sudah terjadi perceraian, hal itu
adalah amat sulit. Jadi jalan penyelesaiannya yang baik dalam hal ini adalah
mempergunakan hukum mereka masing-masing sebagai yang dimaksud oleh
pasal 37 tersebut.
46


46
Ismuha, Pencaharian Bersama Suami Isteri di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta, cet.
11, 1978, hlm. 37-38
60
Mengenai pembagian harta bersama apabila terjadi perceraian antara
suami isteri cara penyelesaiannya berbeda antara satu daerah dengan daerah
lainnya di Indonesia. Ada daerah yang menurut hukum adatnya harta
pencarian bersama ini dibagi sama antara bekas suami dan bekas isteri, di
samping ada daerah yang membagi satu banding dua. Artinya satu bagian
untuk bekas isteri dan dua bagian untuk bekas suami.
47

Di Jawa pada umumnya apabila terjadi perceraian, harta gono-gini itu
dibagi dua antara bekas suami dan bekas isteri. Hal ini tidak menjadi persoalan
karena sama dengan ketentuan yang ada dalam Undang-Undang Perkawinan
maupun Kompilasi Hukum Islam.
Pembagian harta bersama apabila salah satu dari suami isteri
meninggal dunia, maka pihak yang masih hidup tetap menguasai harta gono-
gini itu seperti pada waktu kedua suami isteri itu masih hidup, dan berhak atas
harta peninggalan itu untuk kepentingan nafkahnya. Barulah harta itu dibagi
apabila pihak yang masih hidup itu dapat terjamin nafkahnya, baik dari hasil
pembagian itu, maupun dari harta lain.
48

Bila terjadi cerai mati maka sebelum harta warisan dibagikan kepada
ahli waris yang ada, dibagi dua dulu. Separoh diberikan kepada pasangan yang
masih hidup lebih lama. Seperti diatur dalam pasal 96 KHI ayat 1 : Apabila
terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan yang
hidup lebih lama. Separoh sisanya baru dibagi dengan sistem pembagian
warisan.

47
Ibid., hlm. 45
48
Ibid., hlm. 53
61
Menurut Penulis, baik pembagian harta bersama dengan menggunakan
ketentuan seperti halnya pembagian warisan dan juga pembagiannya seperti
ketentuan dalam syirkah hanya menjadi pertimbangan dalam penetapan
hukum Islamnya. Dalam pembagian harta bersama suami isteri ini yang
terpenting adalah kesepakatan dari pihak-pihak yang berperkara yaitu bekas
suami dan bekas isteri untuk bermusyawarah secara damai sehingga tidak ada
pihak yang merasa dirugikan.
B. Analisis Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Terhadap Kasus
Pembagian Harta Bersama di PA Salatiga
Sengketa pembagian harta bersama sebagai akibat dari perceraian
suami isteri tidak terjadi di setiap negara Islam. Sengketa seperti ini hanya
terjadi dalam masyarakat yang mengenal adanya harta bersama. Adanya apa
yang disebut harta bersama dalam suatu rumah tangga, pada awalnya
didasarkan atas adat istiadat dalam suatu wilayah yang tidak memisahkan
adanya hak milik, yaitu hak milik dari maing-masing pasangan. Dalam
masyarakat Islam yang adat istiadatnya memisahkan antara harta suami dan
harta isteri tidak mengenal adanya harta bersama. Dalam masyarakat Islam
seperti ini harta pencarian suami selama dalam masa perkawinan tetap
dianggap sebagai harta suami, bukan dianggap sebagai harta bersama isteri.
Isteri berkewajiban menjaga serta memelihara harta suami yang berada dalam
rumah. Bila isteri mempunyai penghasilan sendiri maka hasil usahanya tidak
dicampurbaurkan dengan harta suami. Jika suatu saat suami mendapat
kesulitan dalam pembiayaan, maka jika suami menggunakan harta isteri,
62
berarti suami telah berhutang kepada isteri yang wajib dibayar kemudian hari.
Bila salah seorang meninggal dunia, maka tidak ada masalah tentang
pembagian harta bersama karena harta masing-masing telah terpisah sejak
semula. Kelemahannya jika isteri tidak mempunyai penghasilan sendiri maka
isteri tidak mempunyai harta, dan jika suami meninggal dunia, isteri hanya
mendapat pembagian harta warisan dari harta peninggalan suami. Demikian
juga jika terjadi perceraian, masalah yang berhubungan dengan harta yang
menjadi masalah adalah apakah isteri berhak menerima nafkah selama dalam
masa iddah.
Berbeda dengan masyarakat Islam yang adatnya tidak mengenal
pemisahan harta suami dengan harta isteri dalam rumah tangga. Dalam
masyarakat yang adatnya seperti ini, setelah terjadi perkawinan otomatis harta
yang dihasilkan baik dari suami ataupun dari isteri menjadi satu dan biasa
dikenal dengan nama harta bersama. Dalam rumah tangga seperti ini, rasa
kebersamaan lebih terasa dan menganggap akad nikah mengandung
persetujuan kongsi dalam membina kehidupan rumah tangga. Dalam
kehidupan rumah tangga seperti ini, tanpa mengecilkan arti suami sebagai
seorang kepala rumah tangga, masalah perbelanjaan juga tidak
dipermasalahkan siapa yang harus mengeluarkan dana untuk memenuhi
kebutuhan. Jika salah satu meninggal dunia, maka masalah pertama yang
harus diselesaikan dalam harta warisan adalah penyelesaian pembagian harta
bersama. Setelah itu baru yang lain seperti wasiat, utang dan ongkos
pemakamannya. Demikian pula jika terjadi perceraian, maka muncullah
63
persoalan pembagian harta bersama. Seperti yang terjadi di negara Indonesia
dan telah dituangkan dalam pasal 35 ayat 1 UUP No. 1 Tahun 1974.
49

Dalam masyarakat Islam Indonesia, sengketa pembagian harta bersama
biasa terjadi seperti kasus yang sedang dibahas. Penulis akan menganalisa
kasus ini dengan kacamata Fiqh dan Perundang-undangan di Indonesia.
Setelah membaca dua kasus yang telah terurai dalam bab sebelumnya
dapat dipahami bahwa persoalan yang disengketakan antara pihak Penggugat
dan pihak Tergugat adalah tentang pembagian harta bersama yang belum
dibagi serta adanya harta bawaan yang masih dikuasai oleh Tergugat.
Putusan Nomor: 326/Pdt. G/2004/PA. Sal, dalam putusan ini, masing-
masing Penggugat dan Tergugat telah mengemukakan alasannya di depan
Majlis Hakim. Dari pihak Penggugat untuk memperkuat gugatannya tentang
harta bersama dan harta bawaan yang masih dikuasai oleh Tergugat telah
mengajukan bukti-bukti, diantaranya kesaksian dari saksi-saksi baik
Penggugat maupun Tergugat dan telah memberikan kesaksiannya di bawah
sumpah.
Dalam kasus No: 482/Pdt. G/2000/PA. Sal, masing-masimg dari
Penggugat dan Tergugat telah mengemukakan alasannya di muka Majlis
Hakim. Dari pihak Penggugat untuk memperkuat gugatannya tentang harta
bersama yang belum dibagi serta harta bawaan dari Penggugat yang masih
dihaki oleh Tergugat. Penggugat telah mengajukan bukti-bukti, diantaranya
kesaksian satu orang saksi yang tidak bersumpah yaitu ayah dari Penggugat,

49
Satria Effendi M. Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer Analisis
Yurisprodensi dengan Pendekatan Ushuliyah, Prenada Media, Jakarta, cet. 1, 2004, hlm. 59-61
64
serta tiga orang saksi yang memberikan kesaksian di bawah sumpah yaitu
saksi 2, 3 dan 4. Dari keterangan saksi 1 dan 2 menerangkan adanya barang-
barang bawaan dari Penggugat. Hal ini meneguhkan dalil-dalil dari Penggugat.
Tampilnya orang tua Penggugat sebagai saksi meskipun tanpa
bersumpah yang menguntungkan Penggugat menunjukkan adanya pengakuan
Majlis Hakim terhadap kesaksian saksi tersebut. Hal seperti ini mendapat
perhatian serius dalam kajian hukum acara peradilan Agama, karena
objektivitas keputusan hakim dalam sebuah perkara banyak bergantung
kepada keakuratan keterangan saksi.
Dari dua kasus di Pengadilan Agama Salatiga tersebut, sesuai dengan
kewenangannya, perkara perceraian yang diikuti dengan sengketa pembagian
harta bersama, sebagian besar diterima dan dikabulkan oleh Majlis Hakim
yang menerima, memeriksa dan mengadili perkara tersebut.
Seperti dalam putusan No: 482/Pdt. G/2000/PA. Sal, bahwa yang
menjadi sengketa dalam perkara ini adalah pembagian harta bersama suami
isteri sebagaimana ditentukan dalam pasal 49 ayat 2 UU No. 7 Tahun 1989
dan penjelasannya Jo. Pasal 88 KHI, maka Majlis Hakim mempertimbangkan
bahwa eksepsi Tergugat termasuk dalam wilayah pembuktian dan masih
menjadi wewenang PA. Salatiga, sehingga eksepsi Tergugat tidak beralasan
dan harus dinyatakan ditolak.
Dalil bantahan seperti itu, termasuk dalam ruang lingkup upaya
pembuktian. Penyelesaiannya sepenuhnya tetap menjadi kewenangan
Pengadilan Agama, dan penyelesaian pemeriksaannya terbuka pada saat
65
pemeriksaan tahap pembuktian. Apabila Penggugat dapat membuktikan
bahwa benar harta yang digugat adalah harta bersama, gugatan dapat
dikabulkan. Sebaliknya, apabila Tergugat dapat membuktikan bahwa harta
yang digugat seluruhnya atau sebagian adalah benar-benar milik pihak ketiga
atau milik pribadi Tergugat sendiri, terhadap barang tersebut gugatan
dinyatakan ditolak.
50

Dalam kasus di atas harta atau barang-barang bawaan dari Penggugat
yang masih dikuasai oleh Tergugat sebagian telah dijual oleh Tergugat. Untuk
membuktikan kebenarannya Hakim melakukan pemeriksaan di tempat
(descente) yaitu pemeriksaan mengenai perkara, oleh Hakim karena
jabatannya, yang di lakukan di luar gedung atau tempat kedudukan
Pengadilan, agar Hakim dengan melihat sendiri memperoleh gambaran atau
keterangan yang memberi kepastian tentang peristiwa yang menjadi
sengketa.
51

Dalam kaitannya dengan harta bersama yang disengketakan dalam
kasus-kasus di depan, kecermatan dalam memahami dan membedakan antara
harta bersama dan harta bawaan sangat diperlukan. Maka sesuai dengan
ketentuan pasal 37 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974
disebutkan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama
diatur menurut hukumnya masing-masing.


50
M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan Dan Acara Peradilan Agama UU No. 7
Tahun 1989, Sinar Grafika, Jakarta, cet. 2, Juli, 2003, hlm. 269
51
A. Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, cet. 2, Agustus, 1998, hlm. 196-197
66

Dari bunyi pasal tersebut, menurut pendapat Penulis dalam
menetapkan suatu keputusan terutama mengenai sengketa harta bersama
akibat terjadinya perceraian, sudah sepantasnya hakim memberikan
pertimbangan hukum, baik hukum agama, hukum adat, ataupun hukum
lainnya yang sesuai dengan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi
masalah. Dalam hal ini sesuai dengan awal dikenalnya harta bersama itu
disebabkan adanya adat atau kebiasaan atau dalam istilah Ushul Fiqh biasa di
kenal dengan urf. Hal ini sejalan dengan qaidah kulliyah yang berbunyi Al-
Adatu Muhakkamah, yaitu adat kebiasaan itu dapat menjadi hukum.
52
Syarat
suatu adat dapat dijadikan hukum yaitu :
1 Adat kebiasaan itu dapat diterima perasaan yang sehat dan diakui oleh
pendapat ulama.
2 Sesuatu yang dikatakan adat berulang kali terjadi dan sudah umum.
3 Kebiasaan itu sudah berjalan, tidak boleh adat yang akan berlaku.
4 Tidak ada persetujuan lain antara kedua belah pihak yang berlainan dengan
kebiasaan.
5 Tidak bertentangan dengan nash.
53

Urf yaitu apa yang telah dibiasakan oleh masyarakat dan dijalankan
terus menerus baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Urf merupakan
bagian dari adat, karena adat lebih umum dari urf. Urf bukanlah kebiasaan
alami sebagaimana yang berlaku dalam kebanyakan adat, tetapi muncul dari

52
Asjmuni A. Rahman, Qaidah-Qaidah Fiqih ( Qawaidul Fiqhiyyah ), Bulan Bintang,
Jakarta, cet. 1, 1976, hlm. 88
53
Hasbi Ash. Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, Bulan Bintang, Jakarta,cet. 1, 1975,
hlm. 477
67
suatu pemikiran dan pengalaman. Kelemahan urf sebagai dasar hukum yaitu
urf itu sifatnya lokal hanya berlaku bagi masyarakat tertentu dan tidak semua
urf itu sesuai dengan dalil-dalil syara karena memang pada dasarnya urf itu
ada yang shahih dan ada yang fasid.
54





















54
Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, Logos, Jakarta, cet. 1, 1996, hlm. 138-149
68
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan skripsi yang telah diuraikan dari bab 1 sampai bab
1V, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pada dasarnya tidak semua negara mengenal harta bersama. Negara yang
mengenal harta bersama adalah negara yang memiliki adat istiadat untuk
memisahkan adanya hak milik suami dan hak milik isteri. Sedangkan
Harta bersama itu sendiri memiliki nama yang berbeda-beda di masing-
masing tempat. Harta bersama suami isteri atau harta gono-gini ialah
harta kekayaan yang dihasilkan bersama oleh suami isteri selama dalam
ikatan perkawinan. Dalam kitab-kitab Fiqh, harta yang dihasilkan suami
isteri termasuk dalam perkongsian yang biasa disebut syarikah atau
syirkah.
Dalam Perundang-Undangan di Indonesia seperti Undang-Undang
Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam
menyebutkan harta bersama suami isteri hanyalah meliputi harta-harta
yang diperoleh suami isteri sepanjang perkawinan saja. Ketentuan ini
tidak menyebutkan dari mana atau dari siapa harta tersebut berasal.
Sehingga boleh dikatakan bahwa termasuk harta bersama adalah:
a. harta dan pendapatan suami
b. harta dan pendapatan isteri
69
c. hasil dan pendapatan dari harta pribadi suami maupun isteri,
sekalipun harta pokoknya tidak termasuk dalam harta bersama, asal
kesemuanya diperoleh sepanjang perkawinan.
2. Pertimbangan Hakim dalam putusan perkara harta bersama dimulai dari
tahap-tahap pemeriksaan, yaitu : Gugatan Penggugat, jawaban tergugat,
replik penggugat, duplik tergugat, dan pembuktian. Tahap-tahap
pemeriksaan itu sebagai duduk perkaranya yaitu segala sesuatu yang
terjadi di persidangan. Pertimbangan Hakim dalam putusannya
berdasarkan pada pembuktian. Pembagian harta bersama dilakukan
menurut ketentuan adat yang berlaku dan disesuaikan dengan ketentuan
Undang-Undang yang berlaku.
3. Putusan Hakim terhadap pembagian harta bersama sebagai akibat
terjadinya perceraian adalah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah atau
ketentuan yang berlaku. Ditinjau dari Perundang-undangan yang berlaku
yaitu KHI dan UUP No. 1 Tahun 1974 sudah sesuai yaitu harta bersama
dibagi dua antara Penggugat dan Tergugat sehingga masing-masing
mendapat dari harta bersama. Sedangkan harta bawaan dari masing-
masing harus kembali kepada si pembawa, sehingga Hakim dalam
memutuskan perkara pembagian harta bersama yang diakibatkan dari
terjadinya perceraian tidak memberatkan salah satu pihak, karena sudah
sesuai dengan hukum formil dan materiilnya.


70
B. Saran
1. Dalam permasalahan harta bersama, meskipun dalam produk ulama-
ulam fiqh tidak pernah dibahas, namun ini berperan penting dalam
kaitannya dengan hak-hak seseorang atas harta benda yang dimilikinya.
Oleh karena itu penguasaan harta bersama ataupun harta bawaan dari
salah satu pihak dalam bentuk bagaimanapun apalagi sampai merugikan
pihak lain tidak dapat dibenarkan.
2. Permasalahan mengenai harta bersama hendaknya jangan sampai masuk
pada proses Pengadilan. Masalah harta benda merupakan masalah yang
sangat rawan bagai pisau bermata dua, bisa menyatukan juga bisa
menimbulkan pertikaian dan permusuhan. Masalah seperti ini, sebaiknya
diselesaikan secara kekeluargaan melalui musyawarah keluarga.
3. Bagi para penegak hukum di Pengadilan Agama Salatiga teruslah
berijtihad dengan tulus dan ikhlas agar kebenaran dan keadilan dapat
terus ditegakkan.
4. Bagi Mahasiswa jurusan Syariah STAIN Salatiga teruslah belajar
dengan ilmu-ilmu Allah.
Alhamdulillah atas rahmat dan karunia serta tuntunanNya, maka
pemyusunan skripsi ini bisa terselesaikan. Penulis telah berusaha dan berupaya
semaksimal mungkin untuk dapat menyajikan yang terbaik, namun hasilnya tidak
luput dari kekurangan. Hal ini semata-mata kekurangan dari Penulis yang jauh
dari sifat sempurna. Penulis sadar bahwa karya ini adalah karya terkecil dari
sebuah pembahasan persoalan Islam yang sangat universal.
71
Tidak lupa Penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penyusunan skripsi ini. Terutama kepada dosen pembimbing yang
telah dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, masukan dan koreksi dalam
penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, maka dari
itu kritik dan saran sangat Penulis harapkan guna perbaikan di kemudian hari.
Akhirnya , semoga skripsi ini dapat membawa manfaat dunia dan akhirat.
Amin.















72
DAFTAR PUSTAKA

A. Kelompok al-Quran dan Tafsir
Abdoerraoef, Al-Quran dan Ilmu Hukum, Bulan Bintang, Jakarta, 1986.
Depag, Al-Quran dan Terjemahannya, Toha Putra, Semarang, tt.
Surin, Bachtiar, Terjemah dan Tafsir Al-Quran, Sumatra, Bandung, tt.

B. Kelompok Fiqh dan Ushul Fiqh
Al Andalusy, Ibnu Rusyd Al Qurtuby, Bidayatul l-Mujtahid Juz 2, Darul
Fikr, Beirut, tt.
Al-Jaziry, Abdurrahman, Al-Fiqhu Alal l-Madzaahibil Al-Arbaah Jilid 111,
Darul Kutub Al Ilmiah, Beirut, 1990 M / 1410 H.
Ash. Shiddieqy, Hasbi, Falsafah Hukum Islam, Bulan Bintang, Jakarta, cet. 1,
1975.
Haroen, Nasroen, Ushul Fiqh, Logos, Jakarta, Cet. 1, 1996.
Rahman, Asjmuni A, Qaidah-Qaidah Fiqih ( Qawaidul Fiqhiyyah ), Bulan
Bintang, Jakarta, Cet. 1, 1976.

C. Kelompok Kamus
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Cet. 2, 1989.

D. Kelompok Perundang-Undangan
Kompilasi Hukum Islam Seri Perundangan, Pustaka Widyatama, Yogyakarta,
Cet. 1, Juli 2004.
Soimin, Soedharyo, KUH Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. 1, September,
1996.
Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974, Penerbit
Arkola, Surabaya.
73
E. Kelompok Buku Lain
Amran, Herlini, Fiqih Wanita Harta Istri = Harta Bersama ? Ummi, No.
8/XV, 2004 / 1424 H.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Praktek Pendekatan, Rineka
Cipta, Jakarta, 1997.
______________, Prosedur Penelitian, Bina Aksara, Jakarta, 1989.
Arto, A. Mukti, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, 2004.
Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Perkawinan Islam, Perpustakaan Fakultas
Hukum UII, Yogyakarta, Cet. 8, 1996.
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research 1, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi
UGM, Yogyakarta, 1991.
Harahap, M. Yahya, Kedudukan Kewenangan Dan Acara Peradilan Agama
UU No. 7 Tahun 1989, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. 2, Juli, 2003.
Ismuha, Pencaharian Bersama Suami Isteri di Indonesia, Bulan Bintang,
Jakarta, Cet. 2, 1978.
Kusuma, Hilma Hadi, Hukum Perkawinan Adat, Aditya Bakti, Bandung, Cet.
4, 1999.
Ramulyo, M. Idris, Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis UU No. 1 Tahun
1974 dan KHI, Bumi Aksara, Jakarta, Cet. 1, 1996.
Rasyid, Roihan A, Hukum Acara Peradilan Agama, Raja Gramindo Persada,
Jakarta, Cet. V1, Oktober, 1998.
Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, cet. 3, 1999.
Satrio, J. , Hukum Harta Perkawinan, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, Cet. 1, 1991.
Soekamto, Soerjono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Nur Cahaya, Yogyakarta,
1989.
Surachman, Winarno, Dasar-Dasar dan Tekhnik Riset, Tarsito, Bandung,
1978.
74
Thalib, Sayuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, UI Press, Jakarta, Cet. 5,
1986.
Zein, Satria Effendi M, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer
Analisis Yurisprodensi Dengan Pendekatan Ushuliyah, Prenada
Media, Jakarta, Cet. 1, 2004.




















75


DAFTAR RIWAYAT HIDUP






Nama : SITI NAFIAH
Tempat tgl lahir : KAB. SMG, 10 JANUARI 1982
Jenis Kelamin : PEREMPUAN
Agama : ISLAM
Pendidikan :
1. SD Tingkir Lor 1 Lulus Tahun 1994
2. SMP N 6 Salatiga Lulus Tahun 1997
3. SMA N 1 Tengaran Lulus Tahun 2000
4. STAIN Salatiga Lulus Tahun 2007

Demikian riwayat hidup Penulis yang dibuat dengan sesungguhnya.









Salatiga, Desember 2006



SITI NAFIAH
NIM. 21102005

Beri Nilai