Anda di halaman 1dari 5

Laporan kasus

ASMA BRONKIAL

Oleh : MERNA NOVIARNI NIM. 0708120295

Pembimbing : dr. INDRA YOVI, SP.P

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM SUB-BAGIAN ILMU PENYAKIT PARU FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU 2012

PENDAHULUAN Asma merupakan inflamasi kronik saluran nafas yang dihubungkan dengan hiper-responsif, keterbatasan aliran udara yang reversibel dan gejala pernafasan.1 Berbagai sel inflamasi berperan terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel.2 Asma termasuk 10 besar penyakit penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia. Penelitian di Indonesia (2006) prevalensi asma meningkat dari 4,2% menjadi 5,4%.2,3 Faktor lingkungan dan berbagai faktor lain berperan sebagai pencetus inflamasi saluran nafas pada penderita asma. Inflamasi terdapat pada berbagai derajat asma, baik pada asma intermiten maupun asma persisten. Resiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu dan faktor lingkungan.1,4 Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa batuk, sesak nafas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan dengan cuaca (tabel 1). Pada pemeriksaan fisik yang paling sering dijumpai adalah wheezing pada auskultasi.1,5

Penatalaksanaan asma terdiri atas terapi non-medikamentosa dan medika mentosa.1,5 Non-medikamentosa Medikamentosa

Peyuluhan, hindari faktor pencetus , pengendalian emosi , pemakaian oksigen

Antiinflamasi (pengontrol) : Kortikosteroid, Metilxantin , Agonis 2 kerja lama

Bronkodilator : Agonis 2 kerja singkat (Salbutamol, terbutalin, fenoterol dan rokaterol), Metilxantin, antikolinergik

ILUSTRASI KASUS Pasien Ny.S (46 tahun) datang melalui instalasi gawat darurat (IGD) RSUD AA dengan keluhan utama sesak nafas yang semakin berat sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Sejak 2 hari SMRS, pasien mengeluh demam yang tidak tinggi disertai flu, esoknya pasien merasa nafasnya menjadi sesak dan menciut, sesak saat berbicara dan batuk dengan dahak sulit keluar, Menurut pasien hal ini karena pasien kecapekan dan banyak kegiatan. Serangan dirasa setiap bulan terutama malam hari. Pasien memiliki riwayat alergi. Pasien memiliki riwayat asma sejak usia 10 tahun. Riwayat asma dalam keluarga (+). Pada pemeriksaan umum didapatkan tanda-tanda vital berupa kesadaran komposmentis, keadaan umum sedang, tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 100 x/menit, dengan frekuensi nafas 30 x/menit, suhu 37,20C, gizi sedang. Pemeriksaan fisik mata dan leher tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan thorax paru didapatkan pada inspeksi bentuk dada normal ka=ki, gerak pernapasan simetris, retraksi iga (+) dan penggunaan otot tambahan (+). Palpasi didapatkan fremitus sama kanan dan kiri. Perkusi didapatkan hipersonor pada lapangan paru. Auskultasi ditemukan wheezing (+/+). Pemeriksaan jantung, abdomen, dan ekstremitas didapatkan dalam batas normal. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil laboratorim darah rutin (tanggal 18/4/2012) Hb:15,7 gr%, Ht: 43,6 vol%, leukosit: 11.300/uL, trombosit: 180.000/ul, GDS 93 mg/dL. Penatalaksanaan Non Farmakologi istirahat, hindari faktor pencetus dan penatalaksanaan farmakologis berupa IVFD Ringer Laktat+drip aminofilin 24 mg 20 gtt/menit, O2 3 L/menit, nebulizer combivent glukokortikosteroid inhalasi/8 jam, dan Paracetamol 500 mg 3x1.

KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien maka

diagnosis asma bronchial dapat ditegakkan. Agar lebih memastikan diagnosis sebaiknya di IGD dilakukan tes faal paru atau spirometri. Kasus pasien termasuk dalam klasifikasi asma persisten ringan derajat serangan sedang.
2. Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien berupa pemberian oksigen

3L/menit disertai terapi medikamentosa berupa antiinflamasi dan bronkodlator. DAFTAR PUSTAKA 1. Riyanto BS, Hisyam B. Obstruksi saluran pernafasan akut. Dalam : Buku ajar ilmu penyakit dalam, jilid 2. Jakarta : Pusat penerbitan ilmu penyakit dalam FKUI, 2006. 981-4.
2. GINA (Global Initiative for Asthma); Pocket Guide for Asthma

Management

and

Prevension

In

Children.

http://www.

Ginaasthma.org.2006. [diakses 18 April 2012]


3. Departemen kesehatan. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. 2008

http://www.depkes.go.id [diakses 17 April 2012].


4. Asma. Yayasan asma indonesia. 2004. http://www.infoasma.org/ [diakses

18 April 2012]. 5. Amin M, Alsgaff H, Saleh T. Pengantar ilmu penyakit paru. Surabaya : Airlangga university press. 1989. 1-11